MARI KITA ADU: MITSUBISHI DESTINATOR VS TOYOTA INNOVA ZENIX HYBRID! (YouTube Video)
Kalau kalian cari mobil seven seater beneran di bawah R00 juta, itu pilihannya banyak banget ya. Bayangin Toyota aja ada tiga. Ada Avanza, ada Velos, ada Rus, Deatsu, ada Senia, ada Terios. Terus Mitsubishi ada Xander, Xander Cross. Hyundai ada Stargazer, Stargazer X Kartens ya. Terus Suzuki ada R3, ada XL7, Honda ada BRV, Wooling juga ada dua, ada Convero, ada Cortes dan Livina juga ada. Jadi kalian ada 15 pilihan dan pasti bingung ya. Nah, tapi kalau kalian punya duit lebih dari Rp00 juta under Rp600 juta mau cari ser seater yang proper, pilihannya cuma satu, cuma ada Zenix atau Reborn. Tapi sekarang enggak lagi. Karena sekarang Mitsubishi itu ngeluarin namanya Mitsubishi Destinator. Ini mobil SUV tapi seven seater yang proper, bukan 5+2 atau SUV yang ditambahin kursi belakangnya tapi agak sempit gitu ya. Ini enggak. Ini leganya kayak seriter yang proper. Nah, sekarang kita punya pilihan dengan harga segitu mendingan Destinator atau Zenx Hybrid. Mari kita adu di Barkidu. Nah, kita lagi di kali ini kita pakai. Tapi gini, kita biasanya kalau [musik] mobil semakin disponsori oleh mesin HL. Jadi di Marku kali ini kita akan mengadu Mitsubishi Destinator dengan Toyota Innova Zenix. Untuk Destinator kita menggunakan tipe tertinggi yaitu Destinator tipe Ultimate Premium. di mana harganya di Jakarta itu Rp495 juta. Mobil ini akan kita adu dengan Toyota Kijang Innova Zenix. Di mana Zenix yang kita adu itu merupakan mobil sewaan dan tipenya kita pilih yang mendekati dengan Destinator yaitu tipe V hybrid modelista. Kalau di Jakarta harganya Rp547 juta. Tapi kalau kalian pengen beli yang warna putih, kalian harus menambahkan Rp2,9 juta dari yang harga biasa. Jadi antara kedua mobil ini sebenarnya perbedaan harganya cukup [musik] jauh yaitu Rp52 juta. Tapi masih sama-sama di atas R00 dan di bawah Rp600 juta. Kalau kita adu dengan tipe Q itu kemahalan dan harusnya kita adu dengan versi bensin bukan yang versi hybrid. Tapi karena kita enggak dapat pinjaman atau enggak dapat sewaan yang tipe V bensin biasa, jadi kita adu dengan yang hybrid saja. Mitsubishi itu pintar ya. Dibandingkan dengan bikin MPV 7 seater, mendingan langsung aja SUV 7 seater. Cuma masalahnya SUV 7 seater itu identik dengan 5 plus2. Kayak misalkan Cerit 38, Nissan X-Trail, Honda CRV yang seven seater itu bangku baris belakangnya itu kayak darurat aja. Nah, mereka bikin destinator tapi bangku belakangnya itu kayak MPV beneran. Jadi pas kita dari mobil under R00 juta kayak Expander atau XAnder Cross punya budget lebih karena kita udah lebih baik ekonominya. Nah, ini bisa jadi pilihan. Tapi sebenarnya Toyota juga pintar. Waktu mereka bikin Zenix, mereka tahu tren ke depan itu bakal crossover atau SUV. Makanya Xenix itu pendekatannya beda sama si Innova Reborn. Dia itu lebih kayak SUV, lebih kayak crossover. Nih lihat di bagian sini kita ada overfender sampai ke bagian samping ke belakang dan lekuk-lekuk bodinya itu ala-ala SUV atau crossover banget. Kalau Mitsubishi itu kan terkenal dengan Lancer Evolution, Pajero Dakar ikut rally zaman dulu kan ya. Terkenal dengan jiwa kompetitifnya, Spirit of Competition. Makanya mereka enggak masukin mesin hybrid. Mereka masukin mesin 1500 cc turbo yang kencang dan responsif. Jadi sebenarnya meskipun mereka ini ada di harga yang sama, sebenarnya dua mobil ini pendekatannya sangat berbeda meskipun ada kemiripan. Jadi enggak ada salahnya kita akan aduk kedua mobil ini. Ya gua tahu pasti kalian akan berdebat. Wah enggak selevel dong. Enggak ini dong. Enggak. Kita ke sampingan itu dulu. Kita bahas. Kalau punya duit segitu, butuh seven seater, mau pilih mana nih yang lebih baik? Let's go. Kita adu dari eksteriornya. Mari kita adu eksteriornya. Kedua mobil ini kalau kita lihat tuh kayaknya sama besar ya. Tapi sebenarnya secara angka-angka beda. Kayak misalkan memang kelihatan destinator lebih tinggi, padahal dia lebih pendek dibandingkan dengan Innova Zenix. Mitsubish Destinator punya panjang 4,68 m, lebar 1,84 m, dan tingginya 1,78 m. Sedangkan Zenix Hybrid punya panjang 4,755 m, lebar 1,8 m, dan tinggi 1,795 m. Jadi secara dimensi Zenix Hybrid itu lebih panjang 7,5 cm, lebih lebar 1 cm, dan lebih tinggi 1,5 cm. Dan yang paling berpengaruh terhadap dimensi interiornya itu ada di wheel base, jarak sumbu roda. Destinator punya jarak sumbu roda itu 2,815 mm. panjang. Tapi dibandingkan dengan Zenix, dia panjangnya 2,85 mm atau lebih panjang sekitar 3,5 cent. Nah, yang menarik dari Destinator karena dia form faktornya sebuah SUV yang dibuat selega MPV, maka dia punya ground clearance yang super tinggi, yaitu 244 mm jika tanpa undercover. Kalau pakai undercover itu 214 mm. Nah, gimana dengan Zenix? Zenix ada di 185 mm. Even dia lebih pendek dibandingkan dengan Reborn. Ini mobil ketolong warna hitam ya. Kalau dia warna putih, silver apalagi yang non modelista itu rasanya murah banget. Emang kalau misalkan kita mau beli Zenix sebaiknya langsung yang tipe Q aja. Karena tipe V-nya itu kelihatan murah. Kayak misalkan di sininya enggak ada LED-nya lampunya. Ini juga enggak ada projektornya. LED doang reflektor. Sama untuk lampu sein-nya dia masih pakai bohlam. Kalau yang bukan modelista, dia gak dikasih frame di sini sama di atasnya itu gak dibikin warna hitam. Tapi karena ini warnanya hitam jadi gak kelihatan. Dan yang gua paling gak suka itu bagian ban belakangnya dia mendelep. Udah gitu yang tipe V itu velegnya yah begitulah desainnya. Kalau Q baru bagus, tapi tap aja masih agak mendelap. Harusnya dibikin spacer dikit agak keluar atau itinya digantilah buat next modelnya. Kalau Destinator desainnya sih enggak ada obat ya. Gua suka depannya, sampingnya. belakangnya paling yang agak kurang proporsional itu di bagian sininya aja. Sisanya gua enggak ada komplain. Udah gitu yang gua suka dari Destinator kalau misalkan Zenx itu tipe Q, tipe V sama tipe G itu kelihatannya kayak lebih murah jauh banget gitu kayak trondolan banget. Nah, kalau Destinator antara yang varian ultimate terus di bawahnya ada exit itu bedanya di bagian sini doang ya. Jadi kalau yang exit itu dia sewarna body bagian bumper bawahnya sini sama sampingnya enggak ada roof rail juga. Dan untuk yang GLS bagian sininya dibikin hitam aja enggak diwarnain. Jadi kalau misalkan kalian beli yang GLS yang paling murah ya, pengen dibikin ala-ala tipe ultimate, tinggal beli fog lamp diwarnain bawahnya ya. Bagian sini juga sama pelegnya dibikin silver polish begini. Karena yang GLS itu dia cuma hitam doang desainnya sama sama tambah ruil jadi langsung tipe tertinggi. Itu bagus ya. Jadi gengsi itu dari luar itu enggak dimiliki sama tipe tertinggi aja. Tipe terendah pun juga bisa dapat dengan modifikasi yang tipis-tipis doang. Sama satu lagi yang kelupaan. Gua suka sama Detail Destinator. Karena enggak cuma dia itu detailnya bagus, tapi dia juga memperhatikan selera orang zaman sekarang yang enggak terlalu suka banyak chrome. Chromenya cuma di samping doang sama di logo Mitsubishi-nya aja. Karena emblem logo Mitsubishi ini kan ikutin global ya. Nah, kayak misalkan tulisan Destinator Sun Ultimate-nya itu dikasih warna abu-abu dan abu-abunya kalau kita detail itu kayak abu-abu batu gitu loh. Kayak Silverstone ya. kayak kayak dibuat dari batu dipahat cakep gitu sama ini belakangnya kotor banget ya kita cuci dulu kali ya pakai mesin HL let's go kita cuci mobil ini pakai mesin HL QL2350 ini adalah mesin heavy duty dengan longer life span jadi sekali beli bisa untuk seterusnya karena dia enggak cuma awet spare part-nya juga lengkap servisnya mudah dan tersebar di seluruh Indonesia dia punya daya semprot 150 bar dan kita dapat l buah nozle yang gampang diganti-gantinya tinggal ditaruh di sini. Set kita pasang lagi. Terus kita juga dapat form lens kalau misalkan kita mau bikin jadi bersalju. Nah, yang hebatnya lagi kalian tahu kan musuh utama dari komponen-komponen listrik kayak gini adalah listrik yang naik turun voltasenya. Dia bisa beroperasi di tegangan rendah sampai 107 volt. Masih bisa berfungsi dengan baik. Dan kita juga dapat selang itu dari serat baja 20 m. Nah, jadi kalau misalkan kalian punya cucian terus keinjak-injak mobil enggak sengaja enggak perlu takut dia rusak. Dia benar-benar durable. Dia juga tahan banting dengan berasis motor dan udah dilengkapi dengan coating housing ya. Jadi dia anti karat juga. Kalau misalkan kita semprot-semprot itu dia mesinnya aman banget. Nah, daripada berlama-lama langsung aja kita cuci mobilnya. Kita ganti dulu pakai yang enggak terlalu kencang. Mantap ya kalau kita pakai industrial gini tekanannya mantap. das gitu kan. Dan buat teman-teman yang pengen buka cucian enggak usah ragu. Kenapa? Karena dia bisa bekerja nonstop ditekan terus selama 6 jam tanpa rusak. Dan kalau misalkan kalian butuh service maintenance itu spare part-nya sama service center-nya itu ada di mana-mana. Jadi masuk besok langsung bisa dipakai kerja. Jadi buat teman-teman jangan lupa beli mesin HL Premiere QL2350 untuk mendukung usaha kalian. Sekarang kita balik lagi ke desain. Ada satu hal juga yang kelupaan. Destinator punya flow design pada lampu belakangnya karena lampu rem dan lampu sein belakangnya itu terlalu kecil. Beberapa orang sulit untuk ngelihatnya. Secara kesimpulan, desain eksterior destinator memang lebih fresh dan modern. Untuk Zenx memang tipe V ini dari eksteriornya agak kurang ya. Kalau mau bagus memang harusnya langsung ambil TPQ sekalian atau dimodif jadi TPEQ. Overall skore Destinator 8,5 dan Zenix 7. Mari kita adu interiornya. Kita mulai dari destinator dulu. Mobil ini punya desain interior ala CAS SUV yang modern dengan layar besar dan dipadu dengan beel black piano. Sebenarnya frame speedometer atas ini agak sedikit mengganggu sih, cuma karena dia pakai black piano jadinya sih bagus-bagus aja. Masuk ke dalam Destinator. Wah, ini sih emang terasa lebih modern, lebih mewah ya. penggunaan bahan-bahannya, desainnya ini juga lebih bagus dibandingkan dengan Zenix. Apalagi kita tuh dengan budget 495 dapat destinator tipe tertinggi. Sedangkan Zenix yang V hybrid itu tipe tengah, bukan tipe yang paling tingginya. Ya meskipun secara tipe paling tingginya pun juga enggak sesigfikan itu sih. Dan bisa kita lihat ya, dia punya layar besar, speedometernya juga besar, tombol-tombolnya juga lebih modern, padu padannya pas. Memang sih pasti beberapa orang akan membandingkan dengan ah ini mirip banget sama XForce. Kalau bagus ya kenapa? Dan pas kita duduk kita megang setir gitu ya ini juga posisinya buat gua lebih enak ya. Pertama dia kulitnya udah bawaan dari sananya ya kan. Jadi enggak perlu kita tambah-tambah lagi. Joknya juga tebal, empuk. Sama untuk yang tipe premium dia dapat electric seat. Dan enggak cuma bisa diatur ketinggiannya, tapi tilting depannya itu juga bisa kita atur. Jadi bisa disesuaikan sama posisi duduk kita gimana. Konsol tengahnya juga tinggi ya. Paling yang kurang menurut gua adalah dia punya electronic parking brake itu di sebelah kiri ya. Jadi pas kita pakai di D gini ya itu agak sedikit ketutupan. kita enggak bisa ngelihat langsung eh apa ini baru bisa kelihat parking brake. Terus juga dia power window-nya belum all auto. Jadi baru yang sebelah kanan depan aja yang bisa seperti ini. Tapi sisanya overall ya dibandingkan dengan Zenix masuk ke dalam Mitsubishi Destinator ini jelas lebih mewah ke mana-mana. Terutama di malam hari sih ada ambiience lightnya tuh yang bikin beda sama si Zenix tipe V. Sekarang kita masuk ke Innova Zenix tipe V. Ya memang gua biasa naik yang tipe Q, tapi sebenarnya tipe V ini gak jauh beda sih. Hah, akhirnya masuk dalam interior juga. Panas banget di luar. [tertawa] Oke, sekarang kita dalam Zenix ya. Ini adalah penerusnya Innova Reborn. Dan kalau kita lihat interiornya memang secara modern dan secara kecanggihan ini lebih canggih dibandingkan dengan reborn. Tapi secara kemewahan menurut gua lebih mewah reborn ya. Seriusan ini kita belum bandingin sama Destinator. Terus juga dia punya material-material empuk kayak misalkan di bagian sini ya, dikasih kulit. Cuma bahan kulitnya itu pun juga menurut gua agak kurang untuk sebuah mobil yang R00 jutaan. Ini bahan kulitnya menurut gua kurang banget ya. Tapi kalau kita lihat joknya ini emang udah dikulitin aslinya enggak gini. Aslinya dia pakai fabrik. Nah, cuman sama yang punya mobil ini kebetulan kita mobilnya rental dari Jogja ya. Ini ah diganti sama kulit jadi lebih bagus. aslinya dia fabric dan e to say dibandingkan dengan Zenix e Reborn ya. Fabriknya tuh bagusan Reborn dia lebih lembut, lebih halus ya. Yang ini tuh lebih kasar kalau kalian e lihat aslinya dan juga build quality-nya juga ini ya goyang-goyang gitu ya. Terus ini kalau dipegang juga ee finishingnya masih agak kasar ya. Ya begitulah. Jadi Zenx ini sebenarnya kalau dibandingkan dengan Reborn dia emang lebih canggih, lebih mutakhir, lebih modern tapi secara kualitas e agak turun ya. Udah gitu ya ketika dipakai agak lama suka ada retel terutama di bagian RSI sini nih. Itu kalau dipakai jalan kena jalan jelek itu bunyi-bunyi ya. Sama di depan dashboard sebelah kiri tuh suka ada bunyi-bunyi dikit tapi enggak semua zenix kayak gitu ya. Cuma mobil dari pakai 2 3 tahun udah mulai kelihatan apa kurangnya. Sedangkan Destinator dia masih baru lebih fresh belum. Nah yang gua suka dari Zenix dibandingkan dengan Reborn posisi duduknya jauh lebih enak, kursinya jauh lebih enak. Pedal-pedalnya juga pas. Jadi, pas kita nyetir itu enggak ada komplain. Paling kadang-kadang kita suka nempel di sini ya e kakinya kalau kita lagi malas. Dan untuk tipe V bisa kelihatan bedanya dengan tipe Q. Tombol di sebelah kanan sini kosong. Di sini juga banyak kosongnya. Untungnya kita dapat all power window sampai ke belakang. Dan ada head unit yang cukup besar sama speedometer besar ya. Bagian display tengahnya kanan kirinya dia baru pakai dial. Kesimpulannya kalau bicara interior destinator lebih baik dari desainnya. Pemilihan bahan dan build quality-nya. Zenix unggul diletak posisi tombol yang lebih mudah dijangkau bagi pengemudi. Overall skore untuk interior Destinator 8,5 dan Zenix 6. Mari kita adu kelegaan dan kepraktisannya. Nah, sekarang kita masuk ke Destinator. Lega sih, leg room-nya gede, headroom-nya juga gede. Ya, meskipun dia ada sedikit buat ininya nih, buat panoramic sunroof-nya, tapi tetap kalau kita adu lega-legaan dibandingkan dengan Zenix itu enggak ada apa-apanya ya. Cuman di sini tuh rasanya lebih mewah. Kayak misalkan kursinya ini konturnya lebih enak ya. Terus juga kita dapat meja dan menurut gua ini lebih kepakai dibandingkan dengan RSE-nya Zenix yang kalau malam terlalu silau. Kalau siang juga gambarnya ya begitulah. Cuman kalau misalkan kita ngundurin ke belakang buat nyender gitu ya, buat tiduran, dia cuma bisa rebah segini aja. Enggak bisa dibikin rebah banget kayak si Zenix. Nah, sekarang bagaimana dengan Innova Zenix? Kalau untuk legan sih udah enggak ada lawan lah Zenix. Meskipun secara dimensi eksterior itu gak jauh berbeda dibandingkan dengan Destinator, tapi di dalamnya itu berbeda ya. Kursi depan seperti gua bilang rasanya tuh kayak agak sempit karena dia tuh emang dimajuin banget biar di tengah itu kita dapat space yang gede. Ini lihat dong leg room segede gini dan masih bisa kita majuin. Even ah dan maju banget pun ini masih mentok. Nah, terus kalau misalkan kita pengen tiduran, nah dia tuh rebahnya bisa sampai full ke belakang. Dan untuk yang tipe dia sudah punya captain seat. Tapi kalau soal kemewahan ya itulah. Nah, AMRES-nya turun seperti ini. Terus juga kursi depannya itu kayak dia tuh kalau misalkan kita mau tegakin itu mesti ditarik dulu. Kalau enggak dia enggak bisa tegak sendiri. Kayak pegasnya tuh agak lemah. Dan untuk AC belakang ini kayaknya agak kurang mundur deh. Karena kalau misalkan kita mundurin lagi seperti ini ya, nah itu tuh pas banget kena kepala bisa bikin pusing. Nah, sekarang gimana dengan destinator? Berbeda sama Zenix yang digeser ke depan dia itu dilipatnya seperti ini. Eh, kuno tapi gampang karena ada pegasnya. Jadi, enggak perlu effort banyak-banyak. Dan kalau kursi depannya dibikin tegak banget, kita punya leg room yang cukup lega ya. Tapi ketika tengahnya dimundurin, nah barulah berasa agak sempit di bagian sini. Nah, jadi tengahnya harus kita majuin sedikit. Nah, kalau dimajuin seperti ini baru kita dapat leg room yang lega sama kita bisa masukin kaki ke bagian bawah. Nah, pengen lebih lega lagi gampang. Tinggal kita mundurin ke belakang seperti ini ya. Kita bisa dapat posisi yang lebih rebah kayak gini. Cuman kalau dibandingkan dengan Zenix, rebahnya gak serebah itu dan ketika direbahin kepala jadi agak sedikit mentok untuk gue tinggi 170 cm. Tapi yang gua suka dari destinator kita dapat double blower itu di bagian tengah sini bukan di samping. Di mana kalau di samping tuh yang tadi gua bilang di kursi tengahnya ini suka ngeriung ngeriung, ngeriung, kena dinginnya AC. Sama kita dapat chargeran ada USBA, USBC, bukan colokan 12 volt doang. Sama sebelah kanan sini bisa dipakai buat naruh tangan sama ada cup holdernya. Jadi emang di belakang sini kita dimanjain sama hal-hal tersebut meskipun secara dimensi itu enggak segede Zenix. Jadi di belakang sini tuh kita tuh rasanya lebih dimanjakan meskipun enggak selega Zenix. Ini mungkin kayak kita di Expander lebih gede dikit. Tapi kalau dibandingkan dengan Fortuner atau Pajero Sport sendiri yang di atasnya, gua lebih baik di belakang si Destinator ini karena ini lebih manusiawi. Yang gua bilang tadi SUV biasanya itu 5+2, yang ini tuh seven seater beneran di mana bangku belakang bisa dipakai. Cuma memang kalau dibandingkan dengan Zenix enggak segede itu. Nah, sekarang bagaimana dengan Innova Zenix? Begitu pula dengan di belakangnya. Ini versi yang agak mundur aja. Kita masih dapat leg room yang cukup sama kaki kita bisa masuk ke kolong bawahnya. Nah, yang gua suka lagi kalau kita butuh sandaran lebih, tinggal kita seperti ini. Nah, dia bisa dibikin mundur banget ya. Meskipun kepala kita agak sedikit mentok kalau dibundurin seperti ini ya. Tapi intinya dia lebih fleksibel dan kursi bar ketiganya ini dia bisa diisi sama tiga orang karena dia sudah dilengkapi dengan seat belt tengah dan ada headr yang bisa dipakai ya meskipun kalau kita bertiga di belakang sini jadinya ya agak sedikit sempit sih enggak lega-lega amat emang kayaknya tuh belakang sini tuh harusnya buat dua orang aja bukan buat tiga orang. Soal kelegaan bagasi sebenarnya kedua mobil ini itu tergantung dari mana si bangku baris belakang. Kalau misalkan enggak terlalu tegak-tegak amat kayak gini ya, itu masih bisa diisi buat bagasi yang lumayan lega. Tapi kalau dia sampai paling belakang banget ini sama sekali enggak bisa sih. Even kalau kita beginiin pun juga enggak bisa. Jadi benar-benar kita harus kompromi dengan bagian belakangnya biar kita bisa masukin barang di belakang dengan pas. Tapi secara volume Toyota tuh enggak ada sumber resminya ya kalau misalnya kita buka spesifikasinya. Ada beberapa dari website gua cek kok beda-beda semua. Tapi so far memang gua lihat ini cukup lega. Apalagi kalau misalkan kita lipat bangku tengahnya. Ini langsung lega banget dan dia bisa dilipat rata lantai. Sayangnya mode pelipatan ini enggak berlangsung ke baris kedua. Jadi kalau baris dua mau dilipat cuma bisa begitu doang. Enggak bisa rata lantai seperti si Destinator. Terus kita juga dapat under storage ya. Tapi enggak terlalu lega, cuma segini aja. Dan dia tuh enggak dipisah-pisah. kiri kanannya itu masih sama dari ujung ke ujung itu benar-benar kebuka. Terus untuk tipe V dia belum ada power back door, masih manualan. Mitsubishi Destinator meskipun dia bagasinya itu lebih kecil ya harusnya ya, tapi seperti yang gua bilang tadi, dia itu bangku belakangnya enggak bisa serba Zenix. Jadi paling rebahnya cuma segini aja. Kita bisa masukin dua koper kayak gini langsung tanpa harus dimaju-majuin lagi. Kalau misalkan kita majuin sampai paling tegak, tentunya dia akan lebih lega lagi dibanding tadi. Sama di bagian bawahnya dia ada ruang bagasi yang cukup gede dipisah jadi tiga. Tapi secara overall lebar dia memang enggak selebar si Zenix. Jadi secara volume harusnya dia lebih kecil sedikit. Nah, kalau misalkan kita lipat rata lantai seperti ini, yang gua suka adalah dia bisa dilipat rata lantai sampai ke bangku baris dua. Jadi, kalau misalkan kita bawa barang yang panjang, lemari, kasur, atau semacamnya, mau pindahan kos-kosan gitu ya, dia lebih gede. Udah gitu udah pakai power back door. Jadi memang Destinator ini kalah di lega, tapi menang di fitur, di kemewahan dibandingkan dengan si Zenix. Kalau ngomongin akomodasi dan bagasi, jelas Zenix menang telak. Meskipun secara dimensi eksterior bedanya terlihat tipis, tapi karena form factor MPV, Zenix unggul di semua lini. Kursi baris 3, kursi baris dua, mode pelipatan untuk akses baris ketiga, sampai sandaran yang bisa rebah di kursi baris dua. Dan bagasi jelas Zenix jauh lebih unggul. Destinator cuma unggul diletak posisi AC baris ketiga yang ada di tengah dan kursi baris dua yang bisa dilipat rata lantai sampai ke belakang. Skornya Destinator 7 poin dan Zenix di 9 poin. Sekarang kita bahas mesinnya. Destinator itu punya mesin 1500 cc dengan kode 4B40. Dia dewa HC dan pakai water two air intercooler. Tenaganya 163 PS di 5000 rpm dan torsinya 250 Nmul Mulai dari 2000 rpm hingga 4.000 rpm. khas mesin-mesin turbo zaman sekarang yang punya torsi maksimum itu linear dari bawah sampai ke RPM tinggi. Jadi, Mitsubishi itu emang agak beda ya. Dia pakai mesin turbo dan turbonya pun juga dikasih water to air intercooler. Nah, hasilnya apa? Kencang mobilnya. Mulai dari putaran bawah, putaran atas itu berasalah larinya. Dan yang gua suka dari mobil ini adalah oke, dia pakai transmisi CVT tapi transmisi CVT-nya sigap. Jadi ini kita lagi ada di namanya mode Tarmak ya. Jadi kalau Bitsu itu bilangnya bukan sport mode tapi tarmac. Dia tuh drive modenya lucu, ada mat, tarmac, gravel wet sama normal. Gua biasanya pakainya sih di normal ya. Jadi biasanya kan mobil tuh driving modenya echo normal, sport. Dia ada mode wet, ada mode gravel padahal dia FWD. Tapi ya di luar dari itu mode Tarmaknya itu dibilang kayak mode sport. Dan gua suka karena ketika kita gas cepat ininya respons. Jadi transmisi CVT-nya itu eh orang banyak enggak suka sama CVT, tapi di destinator ini gua suka. Jadi kalau kita butuh tenaga langsung set dia langsung nyaut. Dan ketika di RPM 5.000 ke atas suara mesinnya merdunya pas gitu. Enak enggak berisik tapi oke gitu ya. Dan kalau misalkan mesinnya jalan di bawah 2000, 3000 rpm itu tuh suara mesinnya juga hening banget gitu. Hampir enggak kedengaran. Sekarang kita bahas Innova Zenix V hybrid. Dia menggunakan mesin 2000 cc M20A FXS yang sudah menggunakan teknologi dynamic force engine. Plus dia juga punya motor listrik. Jadi enggak cuma mesin bensin aja, tapi motor listriknya juga ikut membantu tenaganya. Mungkin teman-teman ada yang bertanya, "Kenapa kok tenaga maksimalnya kalau digabung cuma 186?" Harusnya kan 152 + 113 jadinya kan 265. Karena ngitungnya dia harus di atas do. Jadi mesin listrik sama mesin bensinnya ketika bekerja bersamaan berapa sih tenaga puncaknya? Bukan berarti mesin dan motor harus disatukan. Dan untuk torsinya untuk mesin bensinnya itu 187 Nm dan motor listriknya gede 206 Nm. Dia tuh enggak pakai CVT biasa, tapi namanya ECVT karena dia ada motor listriknya ya. Nah, meskipun dia CVT tapi rasanya lebih kayak mobil listrik terutama di putaran-putaran bawah. Jadi kalau misalkan kita masuk mode sport terus kita butuh akurasi instan gitu ya, dia enggak perlu nunggu dia turun gigi dulu baru ngegas dari bawah motor listriknya udah nyaut. Kita gas nih ya. Set baru motor listriknya nyaut. Jadi kalau kita semakin pelan kita di 40 20 km/h terus kita ngegas mau suruntulan itu rasanya tuh kayak panci banget dan dia enggak perlu nunggu transmisinya buat turun gigi. Nah, itu bedanya hybrid sama biasa. Ketika kita akselerasi dari 100 ke 140 itu rasanya mulai loyo. Karena mesin bensin 2000 cc disuruh gotong body mobil segede gini. Jadi ketika di atas 100, ternyata 1500 cc turbo itu lebih nampol dibandingkan 2000 cc. Jadi intinya kalau kalian butuh tenaga di putaran bawah ya, kecepatan rendah ini tuh rasanya kayak mobil listrik. Tapi ketika 60 km/h ke atas kita langsung nge-flor dia tunggu mesinnya nyaut baru dia berasa. Tapi kalau untuk di bawah 100 km/h tenaganya oke banget. Sekarang seberapa kencang [musik] 0 ke 100-nya? Gragi udah siap matiin stability control. Oke, 10,04 detik. Hampir di bawah 10 detik ya. 10,04 detik. Let's go. Sekarang kita tes 0 ke 100. Depannya agak sedikit nahan ya. Uh, kencang. Udah cepek aja. Apakah di bawah 10 detik? 9,1 detik. Kencang. Kalau performa sebenarnya beda karakter. Buat yang suka akselerasi instan, Zenix adalah pilihannya. Kalau pengen enak cruising di tol, jelas mesin turbo lebih bertenaga. Untuk performa, gua kasih skor Destator 8 dan Zenix di 7,5. Tipis, ya. Mari kita adu kenyamanannya. Keduanya menggunakan sasis monocok. Suspensi depan MC person Stro dan belakangnya sama-sama torsion beam. Meskipun sama, gua yakin rasanya berbeda. Jadi, langsung aja kita bahas. Kalau ngomongin comfort, gua pilih ini dibandingkan dengan Zenix. Suspensinya lebih empuk, travelnya lebih panjang. Udah gitu perdaman kabinnya juga lebih bagus ya. Suara kolong, suara angin, suara mesin itu juga bisa terdam dengan baik. Even kemarin gua perjalanan jarak jauh, gua tanya yang di belakang anak-anak gua ya, ada mbaknya juga di belakang. Di belakang sama di tengah itu mereka bisa happy, mereka main di belakang gitu ya, itu enggak ngerasa kayak aduh di belakang biasanya mental-mentul enggak enak ya. Itu mereka happy di belakang. Artinya Mitsubishi itu nge-tuning mobil ini sebagai sebuah SUV yang emang sudah dirancang dari awal buat seven seater yang proper. Yang gua bilang tadi, SUV tapi rasanya kayak MPV. Sekarang gimana dengan Zenix tipe V? Soal kenyamanan, Zenix ini kalau secara ergonomi itu jauh lebih baik dibandingkan dengan model sebelumnya ya. Jadi, gua lebih suka Zenix itu ketika nyetir kakinya, tangannya pas. Cuma kalau kenyamanan kursi dia tuh enggak sesuportif itu. Dan buat jarak jauh kayaknya sih lebih enak gua pakai destinator kemarin ya. Ini tuh kayak masih ada rasa kakunya gitu. Ketika kita pakai jarak jauh tuh pas sudah beberapa jam kita pakai ya begitulah. Tapi so far so good bukan yang jelek. Dan suspensinya kalau reborn itu tuh rasanya kayak mentul-mentul anteng gitu ya. Yang ini tuh lebih keras seperti mobil-mobil modern dan guncangan-guncangan mikro itu lebih terasa di mobil ini ya. Jadi sepanjang gua nyobain Zenix tipe V sama tipe Q itu lebih enak tipe V dibandingkan dengan tipe Q meskipun setup kaki-kakinya sama karena perbedaan di ukuran ban sama veleg. Apalagi tipe itu dia pakai eh bannya potenza ya. Jadi ban eh bukan bukan Potenza Dunlop yang Sport Max. Jadi dia tuh pakai ban yang emang buat sport di mana ban sport itu dia pasti sidewall-nya keras. Jadi kalau misalkan dia belok bannya tuh enggak enggak flexing, enggak ikut begini gitu. Nah, alhasil bantingannya pun juga jadi keras. Dan untuk yang tipe V itu bannya lebih lembut. Jadi pas kita pakai jarak jauh, kita pakai lewat jalan jelek, ini lebih nyaman dibanding dengan Zenix tipe Q. Tapi tetap kalau gua lebih pilih suspensinya Destinator. Dia lebih empuk, lebih nyaman, travelnya juga panjang. Dan kalau kita ngomongin sebagai pengemudi yang nyaman ya gua rasa setelah gua cobain Destinator jarak jauh sama Zenix jarak jauh, gua lebih suka Destinator buat jarak jauh. Belum lagi kalau Zenix kita coba di kecepatan tinggi kayaknya tuh talang airnya tuh emang agak berisik ya. Jadi kayak dia ngasih hambatan angin dan suaranya jadi kurang begitu enak. Begitu pula dengan kursi baris dua, kursi baris kalau kita ngomongin nyaman ya gua ngerasa juga desinator lebih nyaman dan lebih kedap suaranya dibandingkan dengan Kalau untuk kenyamanan ya Destinator unggul, bantingannya lebih empuk dan kabin lebih senyap. Meskipun Zenx tipe V ini menurut gua lebih nyaman dari tipe Q ya, karena profil bannya lebih tebal, tapi tetap sih lebih nyaman Destinator untuk skor kenyamanan buat gua Destinator di 8,5 dan Zenix ada di 7. Mari kita adu driving dynamics-nya di mana ini sangat dipengaruhi oleh platform yang digunakan. Toyota Kijang Innova Zenic sendiri itu menggunakan TNGA Toyota New Global Arsitektur yang menggunakan TNGA tipe C. Sasis ini juga digunakan oleh Corolla, Corolla Cross, CHR, Toyota Noah, Prius, dan Lexus UX. Sedangkan Mitsubishi Destinator menurut klaimnya Mitsubishi, dia menggunakan platform baru yang digunakan oleh Mitsubishi khusus untuk family Focus Seven seater SUV. Dia bukan XForce dipanjangin, dilebarin, atau Xander yang digedein. Dia adalah platform baru yang nantinya akan digunakan di Mitsubishi Mitsubishi lainnya. Lalu bagaimana dengan rasanya Mitsubishi Destinator? Kalau Driving Dynamics tentu saja enggak sebagus Zenix ya. Ya, bisa dilihat dari form faktornya yang SUV. Meskipun dia punya setup kaki-kaki yang sama ya dan sama-sama punya sasis yang modern, tapi eh suspensi empuk tuh enggak bisa bohong. Body roll-nya masih berasa tapi dalam taraf yang aman dan handling-nya bobot setirnya itu juga bagus pas tapi dibandingkan dengan Zenix ini menurut gua kalah ya. Jadi kalau misalkan kita cari fun to drive di Destinator ya oke sih, cuma enggak bisa seenak Zenix ya karena emang dibuat lebih nyaman otomatis handling-nya juga ikut terkoreksi. Nah, cuma buat kalian yang suka buat bawa jarak jauh dia kan udah punya ADAS dan dia sudah dilengkapi dengan adaptive cruise control. Memang belum ada l keeping assist sih, tapi ini sudah sangat membantu. Jadi kita tinggal nyetir kanan kirinya aja. Nanti untuk ngerem sama ngegasnya udah dilakukan sendiri oleh komputernya si Mitsubishi ini dan dia cukup halus ya itu sih jadi sebenarnya 111 ya. Driving dynamics menurut gua enggak beda-beda jauh ya cuma memang Zenix lebih unggul. Sekarang gimana dengan Zenix tipe V? Secara driving dynamics Zenix itu lebih bagus dibandingkan dengan Destinator. Handling-nya lebih bagus, terus juga body rollnya lebih minim. Dan kalau kita ngomongin stabilitas di kecepatan tinggi, ini juga lebih baik dibandingkan dengan Destinator yang punya platform tinggi ya. Ini kan dia lebih pendek, terus juga ada baterai di bawah yang berat gitu. Jadi ketika kita pakai kecepatan tinggi dia lebih stabil. Memang kalau soal nyaman kalah deh. Tapi kalau untuk handling, untuk driving dynamics gua lebih suka Zenix ke mana-mana dibandingkan dengan Destinator. Untuk Driving Dynamics, TNGA memang unggul pada Zenix. Untuk ukuran MPV, Zenix tergolong bagus tapi tetap rasa MPV ya. Kali ini Zenix unggul dengan skor 7 dan Destinator di 6. Mari kita adu keamanannya. Soal fitur safety, keduanya punya persamaan. Dia punya ABS, ABD, BA, Electronic Stability Program. Dan untuk pengeremannya keempat buah rodanya sudah menggunakan rem cakram. Untuk parking brake, mereka juga sudah menggunakan electronic parking brake dengan auto hold. Kalau ngomongin safety, mobil ini jelas better ya. Airbags-nya ada en, ADAS-nya juga ada. Meskipun dia harganya masih under Rp500 juta ya. Kalau Zenx kan harus 600 juta itu baru dapat yang maksimal gitu ya. Memang dia gakalin keeping assist tapi menurut gua it's ok lah. Yang penting udah ada adapti cruise controlnya. Dan bedanya Zenix sama ini, Zenix itu udah dites di ASEAN Cap di UNCP dapat bintang lima. Mobil ini belum karena masih baru. Tapi gua berharap ini dapat bintang lima juga sih. Nanti kalau misalkan udah keluar hasil uncup-nya gua update di bawah di kolom komentar. Kalau untuk urusan safety, gua gak tahu ya. Zenix tipe V ini tuh kayak kurang banget gitu. Enggak usah kita ngomongin soal ADAS ya. Tentunya ADAS enggak ada. Ini loh airbag-nya cuma dua. Jadi cuma depan kiri kanan. Kursi enggak ada, curtain juga enggak ada. Jadi sesederhana itu untungnya kayak ABS, ABD, stability control itu dia tetap ada sih, tapi yang menurut gua eh agak kurang ya untuk mobil yang sudah seharga segini tapi airbag aja tuh masih dua kalau menurut gua kurang banget gitu. Sayangnya Zenix tipe V ini agak trondolan ya. Seandainya fitur safety selengkap TPQ pasti gua kasih skor 9. Namun di tipe V ini menurut gua 6 udah cukup lah ya. Oh iya, satu lagi. Destinator juga sudah dapat bintang 5 di NCAP sama seperti Zenix. Jadi kalau misalkan uji tabrak, dua-duanya sama-sama dapat bintang lima di ASEAN NCA. Mari kita adu keiritannya. Nah, sekarang gimana soal keiritan bahan bakarnya? Tapi sebelumnya kita bahas dulu kapasitas tangki bahan bakarnya. Untuk Mitsubishi Destinator dia menggunakan tangki bahan bakar berukuran 45 L. Sedangkan Zenix meskipun dia hybrid ternyata tangkinya besar juga 52 L. Kalau mesin 1500 cc turbo berarti boros dong. Enggak juga ya. Kalau kalian biasa bawa mobil sebelah tuh Expander masuk ke Destinator itu enggak jauh beda sih buat keluar kota. Gua kemarin sekeluarga penuh ya ee dari Jakarta Kelaten gua dapat 115 ya. Dan waktu hari sebelumnya gua sama Koveri muter-muter Cibubur kena macet dan kawan-kawan di dalam perkotaan gua dapat 11an. Mungkin kalau misalkan lebih macet lagi bisa turun ke 1 banding 10. Tapi ya itu wajar banget buat mobil 1500 cc turbo lagi. Cuma gua suka sama usaha Mitsubishi meskipun dia tahu ini mobil ee bawa body segede gini gitu kan. Enggak mungkin dikasih mesin 156 biasa biar irit kayak LCGC. Kayak LCGC kayak LMPv lainnya ya. Tapi mereka tuh berusaha kayak misalkan ngasih auto start stop biar pas lagi berhenti dia ikut mati. Tapi enggak kayak hybrid. Jadi kalau misalkan mesinnya mati, otomatis kompresor Hnya juga mati juga kan. Jadi dia enggak bisa mati lama-lama mesinnya kayak mesin hybrid. Udah gitu juga dia pakai water 2 air intercooler biar udara yang masuk ke dalam intake itu tetap dingin walaupun di kecepatan rendah. Soalnya kalau pakai yang Air to ya dia harus kencang dulu baru dapat angin baru jadi adem itu si udara yang masuk. Mesin turbo itu biasanya lebih boros karena udara yang masuk ke dalam int itu lebih panas karena diputar sama turbo ya. Alhasil thermal efisiensinya enggak jadi bagus tapi karena ada busnya tenaganya jadi lebih kencang. Nah, di mobil ini gua ngerasa eh kalau dibanding sama Innova bensin yang reborn ya 2000 cc na, ah ini lebih irit sih dibanding itu. Tapi kalau dibanding sama Zenix ya enggak bisalah lawan hybrid. Hybrid udah paling pol lah. Kalau misalkan mau ngomongin irit-iritan bahan bakar. Sebenarnya mobil ini sama Zenix itu kan bedanya Rp52 juta ya. Menurut gua kalau misalkan Mitsubishi ngasih opsi mesin 1500 cc turbo ditambah hybrid harganya nambah jadi 20 atau 30 juta, menurut gua masih oke, masih masuk hitungan. Mobil hybrid tuh konsumsi bahan bakarnya enggak bisa bohong. Irit banget ya untuk mobil segede gini. Bayangin kita kalau keluar kota itu 120 tuh gampang gitu. Apalagi waktu masih baru-baru dan kalau kita semacet-macetnya macet, gua dulu punya Zenix selama gua pernah pakai macet semacet-macetnya macet, gua pernah pakai seirit-iritnya irit ya rata-rata tuh kalau kita pakai normal itu kita dapat konsumsi bahan bakar tuh 1 banding 16. 1 banding 15 1 banding 16 lah. Tapi kalau misalkan keluar kota bisa 118 bahkan kalau masih baru itu 120 itu gampang banget didapetinnya. Kalau lagi macetnya gimana? Seboros-borosnya boros itu 1 banding 12. Tapi biasanya 1 banding 14 lah kalau kita pakai dalam kota pas macet macet. Jadi memang mobil irit. Jadi memang mobil hybrid kalau untuk konsumsi bahan bakar enggak mungkin bisa dikalahin lah sama mobil biasa. Soal irit, Toyota hybrid memang enggak ada lawan. Bayangin mobil segede gini bisa irit banget karena teknologi hybridnya. Destinator sebenarnya untuk mobil sebesar ini dan mesin turbo juga udah tergolong irit sih, namun tetap saja jauh kalau kita banding sama hybrid. Apalagi kalau kita pakai ngebut dan macet parah, bisa auto boros pastinya. Untuk efisiensi buat gua, Destinator itu dapat tujuh dan Zenix dapat. Mari kita adu fiturnya. Sekarang saatnya kita ngomongin fitur. Mobil ini keduanya punya banyak fitur. Misalkan ada fitur yang ada di destinator, tapi ada juga di Innova Zenix Hybrid. Misalnya panoramic sunroof, speedo digital, AC digital, head unit dengan layar besar dengan Android Auto dan Apple CarPlay yang sudah wireless. Terus dia juga punya electronic parking brake dengan brake hold ada ambient light yang letaknya berbeda ya. Kalau destinator itu ada di dalam dashboard dan door trim. Kalau di Xenix ambiience light-nya itu ada di kiri kanannya sunroof. Keduanya juga punya aplikasi HP kunci keyless plus put start stop engine, ada pengaturan ketinggian lampu, ada auto lamp, auto retrack mirror, dan auto diming mirror serta setir dengan tilt dan telescopic steering. Namun ada juga fitur yang dimiliki Zenix tapi enggak dimiliki destinator. Kayak misalkan dia punya EV mode, all power window, rear seat entertainment dan dia juga punya ion untuk membersihkan interior mobil. Sedangkan apa yang dimiliki destinator tapi enggak dimiliki oleh Zenic? Yang pertama adalah power back door plus kick sensor. Kemudian ada electric seat, ada leather seat, ada Yamaha audio AC dengan dual zone. Dia juga punya paket ADAS dengan nama Diamond Sense plus adaptive cruise control. Dia juga ada auto high beam, auto wiper, round view camera, ada fog lamp juga. Sebenarnya sayang sekali ya, banyak fitur yang dimiliki oleh Zenix tipe Q yang ada di destinator Ultimate Premium, tapi enggak ada di tipe V hybrid ini. Tapi kalau kita adu sama yang Q, harganya sudah kejauhan. Skor untuk Destinator 8 dan Zenx V hybrid 6,5. Saatnya kesimpulan. Kesimpulannya untuk overall skore di Markidu Destinator versus Zenix V hybrid, Destinator mendapatkan total skor 695 poin dengan rata-rata 77 poin dan Xenix V hybrid mendapatkan total 655 poin dengan rata-rata 73 poin. Kesimpulannya di Mari Kita Adu episode Destinator dan Zenix, Clear winner menurut gua ada di Destinator. Zen Hybrid itu unggul di dua hal, kelegaan dan keiritan bahan bakar. Sisanya gua sih pegang Destinator. Tapi ya menurut gua kedua mobil ini juga punya segmen yang berbeda gitu. Kalau dulu mungkin enggak ada pilihan, pasti belinya Zenix. Sekarang buat kalian yang emang butuh mobil keluarga, dibawa nyetir sendiri dan kalau misalkan kalian buat tiap hari ngantor dan kawan-kawannya menurut gua desator itu pilihan terbaik sih. Tapi kalau kalian jarang nyetir sendiri, kalian pakai spir tiap hari duduknya di belakang atau keluarga kalian memang banyak benar jadi butuh mobil yang buat an orang penumpang, maka Zenix adalah pilihannya. Ya udah, itu aja mungkin video kita kali ini. Buat teman-teman yang punya komentar dan apa pilihan kalian bisa langsung komen aja di bawah. Ya, Sardanif. Kira-kira di Marku episode berikutnya kita adu mobil apa lawan apa? Langsung aja taruh di kolom komentar. Bye bye. Dia gak mundur. [musik] Nah, [musik] masih di kali ini kita pakai. Tapi gini, kita biasanya kalau mobil makin bagus
