Jungkat

Masih (BUKAN) Flagship Killer - Review POCO F7 (YouTube Video)

  • 28/07/2025

Halo sob! Di video ini saya cuma mau cerita aja pengalaman saya menggunakan hape baru dari Poco, yaitu Poco F7. Yang mana sangat terasa berbeza dibandingkan hape Poco sebelumnya. Nanti saya akan cerita satu-satu kenapa saya bilang hape ini itu berbeda. Yang pertama yang mau saya bahas adalah desainnya. Dimana menurut saya desain hape ini tuh terasa sangat heboh sekali ya. Saya bilang heboh karena memang bagian belakang ini terlihat punya desain yang duotone gitu, yaitu penggunaan 2 warna. Di bagian atas hitam dan di bagian bawahnya tuh silver. Di bagian hitamnya juga terlihat banyak sekali ornamen yang memperlihatkan kehebohan desain dari hape ini. Ornamen-ornamen yang didesain sedemikian rupa hingga membentuk motif yang terlihat modern, walaupun jujur menurut saya sedikit agak norak. Pertama ada logo Poco yang diletakkan miring, tidak lurus seperti biasanya. Lalu di bagian hitamnya ada juga tulisan Limited Edition. Yang kalau kalian sadar hape-hape Poco biasanya memang selalu limited edition ya. Maksudnya limited edition goib gitu. Selalu habis stoknya. Nggak tau habis laku atau memang habis sama tukulak. Dan selalu limit ketersediaannya di kamar. Terus di bagian atasnya juga ada logo Snapdragon yang dibuat seolah-olah bercahaya. Dan di atasnya lagi ada tulisan 50MP OIS Camera. Selain itu hanya beberapa ornamen yang jurlih. Ada yang keren, terutama bagian modul kamera ya. Dimana antar modul kamera terpisah oleh sebuah garis yang diberi aksen warna hijau. Yang menurut saya ini cantik banget. Seandainya ornamen-ornamen lain seperti tulisan 50MP, logo Snapdragon, tulisan Limited Edition, atau bahkan logo Poco ditiadakan. Hape ini menurut saya akan jauh lebih cantik lagi dan lebih elegan lagi. Dan terlihat lebih mahal lagi dibandingkan desain norak seperti ini. Build quality-nya juga mirip kayak iPhone. Karena jujur hape ini terasa sangat-sangat-sangat-sangat iPhone sekali. Percaya atau nggak, feel saya mega hape ini tuh padas acem rem. Ini tuh mirip banget kayak lagi pegang iPhone saya. Pertama, karena memang frame-nya terbuat dari metal dengan finishing doff. Terasa solid banget. Terus bagian belakangnya juga terbuat dari kaca. Dan satu hal yang semakin membuat dia terasa seperti iPhone, banget adar. Ukurannya yang sedikit lebih lebar dibandingkan hape-hape Poco lainnya. Ini dikarenakan layar hape ini punya rasio yang tidak lazim dan tidak seperti kebanyakan hape Android pada umumnya. Rasio layar di hape ini sama persis dengan rasio layar yang ada di iPhone 16 Pro Max saya. Nah ngomongin soal layar, layar di hape ini juga spesifikasinya lumayan tinggi. Selain punya rasio yang mirip dengan iPhone, ukuran layarnya juga nyaman, besar yaitu 6.83 inch dengan resolusi 1.5K yang mana ini equivalent dengan resolusi 2772 x 1280px. Layarnya berjenis AMOLED dengan refresh rate 120Hz. Secara kasat mata, layarnya menurut saya bagus. Kinclong, enak dilihat, tajem, responsif juga. Terus dia juga support HDR tentunya. HDR-nya juga nggak cuma HDR10+, tapi juga ada Dolby Vision. Untuk durabilitasnya, dia juga sudah berlebih kaca corning Gorilla Glass 7i dan sudah punya sertifikasi TUV Rheinland. Sejauh ini nggak ada keluhan buat layarnya. Bahkan saya sangat apresiasi pemilihan rasio layar seperti ini. Karena layarnya terasa lebih lebar daripada layar Android kebanyakan dan sangat nyaman saat saya gunakan. Karena memang saya sangat terbiasa dengan rasio layar dari iPhone yang mana memang saya gunakan setiap hari gitu. Jadi saat pertama kali saya gunakan hape ini bener-bener terasa kayak pakai iPhone. Pokoknya 2 jempol lah buat layarnya. Saya suka. Nah juga performa untuk spesifikasi hardware, SoC yang digunakan sama dengan SoC yang dipakai oleh iQOO Neo10. Yaitu Snapdragon 8s Gen 4, yang nota bandnya adalah SoC baru dan dibuat dengan aplikasi 4nm. Untuk RAM berukuran 16GB besar dengan storage 512GB. RAMnya berjenis LPDDR5X dan storage-nya juga menggunakan storage berjenis UFS 4.1. Dengan kecepatan baca yang menurut saya cukup cepat. Yaitu ada di 1GB per second untuk kecepatan bacanya dan 734MB per second untuk kecepatan tulisnya. Dan menurut saya kecepatan segini tuh udah sangat flagship sekali loh. Untuk performa secara keseluruhan, hape ini tuh lumayan oke. Angka yang dapet dari Antutu juga cukup tinggi. Ada di angka hampir 2 juta. Tepatnya 1,9 jutaan. Nah saya mau bahas sedikit soal performa di Poco F7 ya. Dimana menurut saya, dari sekian banyak hape Poco yang saya coba, entah kenapa, saya merasa hape-hape mereka itu selalu underperform ya. Artinya begini, di sebuah produk mereka, dengan SoC yang sama dengan produk lain, performa smartphone mereka itu biasanya lebih lambat dibandingkan hape lain dengan SoC yang sama. Dan ini sudah bukan rasio umum lagi. Karena semua orang itu kayak udah tau gitu. Kalau performa Poco itu kayak selalu apa ya? Tanduk kutip di limit gitu. Nggak usah jauh-jauh lah kita ambil contoh yang lain. Kita ambil aja contoh hape ini deh. Snapdragon 8s Gen 4 ini, lazimnya hasil angka yang dapat dari aplikasi benchmark AnTuTu itu biasanya ada di atas 2 jutaan. Tapi di hape ini, saya sudah coba berkali-kali, ternyata sulit sekali untuk tembus di angka 2 jutaan. Jadi saya nggak tau apa yang terjadi sama hape-hape Poco, terutama soal performa hardware mereka. Oke lah, mereka selalu menjadi yang pertama kalau soal implementasi SoC terbaru buatan Qualcomm. Mereka juga selalu ngeklaim kalau hape mereka adalah hape paling terjangkau dan paling murah untuk sebuah smartphone berSoC flagship. Tapi masalahnya itu, performanya selalu underperform dan saya merasa selalu dibawa kompetitornya. Selain itu, saya juga merasa kalau sistem pendinginan pada SoC ini tuh kurang optimal, bahasa halusnya tuh nggak bagus-bagus amat gitu. Karena kalau kita lihat dari hasil pengujian, terlihat sekali gejala throttlingnya itu cukup parah ya. Performanya itu bisa turun sampai 80%. Dan ini sekali lagi jadi bukti tidak tertulis kalau SoC mereka atau SoC yang ada di hape-hape Poco, kebanyakan selalu underperform. Dan percaya atau nggak, setiap saya melakukan pengujian soal throttling test, hape ini kepanasan. Dan muncul peringatan kalau hape ini jadi terlalu panas. Aneh banget dah. Tiba-tiba jadi kangen saya sama Asus. Tapi apakah underperform dari SoC ini sangat terasa di penggunaan sehari-hari? Jawabannya adalah tidak. Selama saya pakai hape ini, hape ini masih terasa sangat ngebut banget dan smooth banget. Kita hanya akan sadar kalau hape ini terasa underperform saat kita menjalankan aplikasi benchmark dan kita bandingkan angkanya dengan smartphone lain yang menggunakan SoC yang sama. Karena selain itu, hape ini sama sekali jauh dari kata lemot dan menurut saya masih terasa sangat nyaman waktu digunakan. Bahkan untuk bermain game dalam jangka waktu yang lama, saya tidak merasakan adanya gejala throttling yang mengganggu. Sekali lagi, gejala throttling hanya terlihat pada saat saya melakukan pengujian dengan aplikasi benchmark. Jadi saya berkesimpulan, overall untuk user experience-nya, performa hape ini sangat ngebut menurut saya, sangat smooth dan saya suka. Habis di roasting, terus kita buji. Ya emang harus begitu dong, fair dong. Untuk fitur-fitur, hape ini sangat lengkap ya. Layaknya sebuah flagship lah. Untuk konektivitas, dia support 5G, dia juga punya Huawei 7, dia punya NFC, terus dia punya dual SIM nano yang sayangnya nggak ada slot memory-nya. Terus hape ini juga punya stabel speaker suaranya cukup bagus. Ditambah lagi, adanya sertifikasi Hi-Res yang artinya memang hape ini mampu menghasilkan kualitas suara yang bagus. Hi-Res dan mendekati suara aslinya. Untuk sensor-sensor, dia lengkap, bahkan dia punya IR blaster yang percaya atau nggak, sampai detik ini, kadang saya masih suka pakai. Terutama buat ngontrol AC di kantor. Terus vibrasi dari hape ini juga lumayan halus, walaupun masih tetap terasa. Belum ada di level flagship gitu. Untuk kemana, dia juga punya 2 protokol biometrik yang bisa digunakan. Pertama ada face unlock, kedua-dua ada sensor sidik jari yang menyatu dengan layar. Performa dari sidik jarinya sendiri menurut saya cukup lumayan. Lumayan cepat dan lumayan akurat. Untuk software, dia menggunakan Android 15 yang dibalut dengan muka HyperOS 2.0. Pengalaman menggunakan software ini sejauh ini nyaman-nyaman aja, walaupun beberapa kali saya nemu ada bug yang cukup mengganggu, tapi saya lupa ngerekam. Yaudah lah, pokoknya banyak bug pokoknya intinya. Jujur, secara fitur atau fungsi, saya suka banget sama HyperOS 2.0. Kecuali iklannya yang sampai detik ini masih belum hilang ya. Terus dia juga hobi banget bikin atau munculin notifikasi-notifikasi yang kadang luput dari pantauan kita. Misalnya aplikasi video mereka yang tiba-tiba munculin notifikasi gitu, dan banyak lagi yang tidak kita inginkan, tiba-tiba muncul. Tapi harusnya, seiring berjalannya waktu menggunakan sistem operasi ini, harusnya kita juga semakin paham dan tau bagaimana cara mengatasi hal-hal yang tidak menyenangkan seperti itu. Jadi kayaknya nggak valid gitu, udah pake berbulan-bulan tapi masih ngeluh soal beginian gitu. Aneh, emang lu nggak suka aja kan? Gila bro, pokok fans semangat nih gua. Untuk baterai, hape ini punya baterai yang lumayan besar, yaitu 6500 mAh. Nggak lumayan sih, bisa dibilang ini gede banget ya. Dan baterainya sudah berjenis silikon karbon. Itulah alasan kenapa baterai sebesar itu bisa masuk ke bodi setipis ini. Sebagai informasi aja, hape ini punya ketipisan atau ketebalan hanya 8,2mm aja. Menurut saya, ini udah tergolong tipis dengan baterai 6500 mAh. Dan tahan baterai di hape ini juga lumayan banget. Saya suka banget. Pemakaian sehari 2 hari itu masih aman harusnya. Dalam pengujian, dia bisa bertahan sampai 17 jam. Tergolong awet, walaupun masih ada di bawah hape-hape vivo. Terus dia juga sudah mendukung 90 watt hypercharge. Jadi ngisi baterai dari 0 sampai 100% itu nggak sampai 1 jam. Terakhir kita bahas soal kameranya. Total ada 2 kamera di bagian belakang. Kamera pertama beresolusi 50MP yang menggunakan sensor Sony IMX882, sedangkan kamera keduanya berjenis ultrawide berukuran 8MP sensor kekuatan omnivision yaitu OV08F. Belakangan, saya suka banget sama hape-hape Poco ya. Terutama seri-seri tinggi mereka ya. Menggunakan setup kamera yang terasa sangat low profile gitu. Nggak ada lagi kamera-kamera gimmick ala-ala yang nyaris tidak pernah kita sentuh selama kita menggunakan hapenya. Seperti lensa makro, lensa depth, lensa apalah itu. Jadi kesederhanaan mereka adalah membuat sebuah smartphone dengan kamera yang hanya 2 buah atau 2 biji. Sangat saya apresiasi. Kamera depannya nggak terlalu besar, berukuran 20MP dengan sensor omnivision OV20B ya. Sekarang kita bahas soal bagaimana kualitas kamera dari hape ini. Dalam kondisi terang, kamera utama di hape ini bisa menangkap gambar yang tajam, cukup detail menurut saya. Gambarnya kelihatan bersih, reproduksi warnanya juga lumayan oke, HDR-nya juga pas, nggak terlalu harsh, nggak terlalu keras, tapi cukup aja gitu. Secara umum di kondisi terang, fotonya oke, tajam, warnanya relatif akurat, masuk kategori bagus menurut saya. Kurangnya cuma satu, saturasinya yang terlalu rendah. Jadi beberapa kali foto terlihat agak pucat dibandingkan untuk aslinya. Untuk kondisi low light, performance juga lumayan, night mode-nya cukup membantu, karena bisa menghilangkan noise. Terus exposure-nya juga oke. Overall untuk kondisi low light, masih sangat instagramable dan layak buat memamerkan. Nah ngomongin soal night mode, sebenernya kita nggak bisa nemu mode ini secara manual, karena pada saat kita ngarahkan si kamera ke kondisi gelap, dia akan otomatis munculin night mode yang otomatis aktif dan ikonnya ada di sebelah kiri bawah layar. Untuk matiin kita tinggal klik aja, dan di situ kita bisa matikan si night mode-nya. Jadi buat kalian yang pake handphone ini dan bingung nyari dimana night mode-nya, dia akan hidup secara otomatis. Terus untuk mode portrait, hape ini juga bisa menangkap foto portrait yang cukup bagus. Separasi antara background dan foreground juga cukup halus, nggak keliatan kasar atau murah gitu. Walaupun saya bilang cukup bagus, tapi kualitas foto portrait-nya masih jauh dari sempurna. Masih belum bisa mengejar kualitas portrait dari beberapa flagship yang sudah lebih dulu liris di Indonesia. Di mode portrait ini ada 2 focal length yang bisa kita pilih, yaitu 26mm dan 52mm. Untuk lensa ultrawide, menurut saya juga sudah lumayan. Detilnya lumayan oke, warnanya juga lumayan, walaupun masih jauh kalau dibandingkan dengan kamera utamanya. Terus warnanya juga nggak sama dengan kamera utamanya, karena menurut saya di kamera ultrawidenya itu fotonya agak keliatan lebih pucet lagi ya. Dan detilnya itu agak minim sih, ya dibandingkan dengan kamera utama tentunya. Tapi itu wajar, mengingat resolusinya hanya 8MP. Kalau untuk sekedar ngambil foto ultrawide aja, menurut saya sudah lebih dari cukup ya. Tapi kalau untuk mencari detil dari lensa ultrawidenya, menurut saya lensa ultrawidenya kurang bisa diandalkan. Terus selanjut ke kamera depan, kamera beresolusi 25MP ini sudah cukup memuaskan untuk keurusan foto selfie, terutama di kondisi terang ya. Karena menurut saya kameranya bagus, fotonya tajem, hanya saja saya kurang suka sama skin tone yang ditangkap oleh kamera depannya, muka saya jadi agak terlihat sedikit merahan gitu, kayak lagi malu-maluan. Pokoknya kameranya agak sedikit terlihat palsu lah. Padahal saya sudah merasa mematikan filter dan enhancementsnya, tapi saya merasa muka saya masih terlalu ganteng gitu. Ya walaupun saya tau aslinya saya emang ganteng gitu, tapi saya merasa ini seperti dipoles gitu. Emang bodi mobil dipoles? Saya yakin di brand lain ada yang sanggup menangkap foto selfie dengan lebih detil dibandingkan 20MP di hape ini. Tapi overall, foto selfie-nya tidak mengecewakan, dari level flagshipnya. Ini adalah sampel dari kamera depan Poco F7. Dan ini adalah sampel dari kamera belakang ultra-wide. Sedangkan ini adalah sampel dari kamera belakang yang main kameranya. Stabil ya? Kedua hape ini mampu merekam video di resolusi 4K, 60fps, Kualitas lowlight-nya seperti yang kalian lihat sekarang, biasanya pada saat kondisi cahaya minim, si kamera otomatis akan naikin shutter speed-nya alih-alih naikin ISO-nya demi memaintain gambar supaya tetap bersih, walaupun pada akhirnya gambarnya akan jadi jitering. Untuk kualitas perekaman videonya di kondisi lowlight ini benar-benar gelap. Cahayanya cuma cahaya remang-remang dari pertokoan. Kesimpulannya, hape ini menurut saya bagus banget. Cakep banget. Selain punya sertifikasi yang tinggi, dia juga dibanderol dengan harga yang sangat-sangat murah. Bahkan untuk harga, dia lebih murah dibandingkan iQOO Neo 10. Walaupun kalau kita lihat, perbandingannya nggak Apple to Apple ya, karena dengan harga yang mirip, opsi storage-nya itu berbeda gitu. Tapi ini nggak penting, karena market Indonesia itu biasanya hanya mempertimbangkan sebuah smartphone dari segi harga aja. Kalau cuma beda tipis, tapi harganya bisa signifikan, mereka lebih prefer beli yang lebih murah. Dan ini bukan rahasia umum lagi. Artinya memang, menurut saya hape ini sama-sama worth it dengan iQOO Neo 10. Walaupun dengan segala macam kekurangan dan kelebihannya. Nah, soal kekurangan dan kelebihan hape ini dibandingkan iQOO Neo 10, mungkin akan saya buatkan sebuah video khusus terpisah ya. Khusus untuk membandingkan kedua smartphone ini, karena memang notabene-nya kedua hape ini tuh berada di segmen yang sama dan kebetulan sama-sama menggunakan SoC yang sama. Yaitu Snapdragon 8s Gen 4. Beberapa trade-off yang harus dipikirkan juga adalah performa dari hape ini agak underperformed dibandingkan kompetitornya dengan spesifikasi yang sama ya. Terus UI-nya yang mungkin akan sedikit nggak nyaman karena adanya iklan dan notifikasinya sedikit mengganggu. Lalu saya merasa kualitas kameranya juga nggak yang wow banget gitu loh. Masih sangat terasa midrange sekali. Dan terakhir adalah rasio layarnya yang mungkin sebagian orang butuh penyesuaian untuk biasakannya. Karena memang hape ini terasa lebih lebar dibandingkan hape Android pada umumnya. Selain itu, saya sangat suka sama hape ini dan hape ini menurut saya sangat layak buat dibeli. Jadi kalau kalian punya duitnya, silahkan dibeli. Saya jamin tidak akan menyesal. Good job Poco F7. Good job.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Episode Terakhir.....
Oleh DKID Media
10m 24s

Kabar mengejutkan datang dari jagat media teknologi tanah air seiring keputusan DKID Media untuk menyudahi KOTEK (Komedi Teknologi) tepat di episode kesepuluhnya....

Brand Terkait

Poco F7

POCO F7 adalah smartphone yang sudah dipasarkan resmi di Indonesia dan ditempatkan sebagai model yang menonjolkan performa tinggi. Perangkat ini memakai platform Snapdragon 8s Gen 4 dengan proses manufaktur TSMC 4 nm. Konfigurasi CPU-nya octa-core dengan kecepatan hingga 3.21 GHz, dan GPU yang digunakan adalah Adreno 825. Untuk kebutuhan AI,...

iPhone

iPhone adalah smartphone premium dengan kamera pro dan performa tercepat berkat chip Apple Silicon. iPhone menghadirkan desain elegan, keamanan tinggi, dan ekosistem Apple terintegrasi untuk pengalaman terbaik.