Jungkat

Masih "COSPLAY" Jadi Flagship? - Review iTel S25 Ultra (YouTube Video)

  • 19/12/2024

Setiap Itel ngeluarin hape baru, di otak saya tuh secara nggak sadar ngomong hape ajaib apalagi yang akan mereka buat. Dan perkataan saya terbukti. Karena hape ajaib mereka selanjutnya bernama Itel S25 Ultra. Keajaiban pertama tentu aja adalah namanya. Tanpa ada brand Itel di depannya, orang pasti akan berpikir kalau hape ini buatan Samsung. Saya nggak tau ya apa alasan mereka menggunakan penampakan yang sama dengan Samsung. Aji mumpung kah? Atau memang kebetulan aja? Untuk alasannya kedua, saya pribadi nggak percaya. Tapi nggak ada salahnya untuk kita lebih berpositif thinking sama Itel. Pasti aji mumpung ya? Keajaiban kedua tentu aja tampilan visual dari hape ini. Yang tidak terlihat seperti sebuah hape dengan harga 2 jutaan. Desainnya cantik, bodinya tipis banget, bagian pinggirnya melengkung, terus dia enteng banget sob. Saya yakin kalau dilakukan blind test terhadap beberapa orang, mereka pasti akan berpikir kalau hape ini ada di harga 5 jutaan lebih. Karena saya akui, feel megang hape ini mirip kayak pegang flagship gitu lho. Sayangnya ada 2 hal yang bikin hape ini gagal sepenuhnya mirip flagship. Pertama adalah material plastik di bagian framenya, yang desain glossy, dan sangat mudah meninggalkan sidik jari. Alasan kedua adalah desain beberapa bagian dari hape ini kelihatan tidak simetris ya. Kalau kalian perhatikan bagaimana mereka desain tombol-tombol di bagian kanan dan lubang-lubang di bagian bawah, terlihat sangat tidak simetris gitu. Karena cenderung lebih ke bawah. Bisa simetris itu terdengar simple ya, tapi percayalah dibutuhkan cost yang lebih besar untuk membuat desain yang simetris. Seperti yang brand besar lakukan pada flagship mereka. Saya juga nggak suka sama desain kameranya ya, karena menurut saya modul kameranya terlalu ke tengah gitu, dan terlihat aneh aja, kayak nggak lazim gitu. Mungkin bukan aneh ya, lebih kepada nggak terbiasa aja melihat posisi kamera yang seperti ini. Keanehan kamera itu nggak cuma di posisinya aja. Kalau kita lihat, di hape ini seperti punya 2 buah LED Flash-nya. Yang satu mirip LED Flash pada umumnya, dan satu lagi mirip aura light portrait-nya Vivo. Mungkin mereka menerapkan prinsip amati tiru plak-keti-plak. [Mouldie]: Gimana sih bang? Coba lihat. Iya lagi... Sebenernya mungkin harusnya kamera, tapi kan kalau kasih kamera lagi mahal. Udah kasih lampu aja deh. [Irwan]: Terus 2 buat apa? [Mouldie]: Iya, itu yang ini. Kasih lampunya udah kan? [Irwan]: Ini aura light portrait on budget guys. Keajaiban berikutnya tentu aja ada di layarnya. Hape 2 jutaan ini punya layar AMOLED dengan refresh rate 120Hz dan sudah curved alias melengkung. Hape ini bukan yang pertama pakai layar melengkung di harga 2 jutaan, karena sebelumnya kita tau ada Tecno Spark 20 Pro, terus ada Infinix Hot 50 Pro Plus yang juga punya layar serupa. Tapi saya tetap bilang ini ajaib, karena mereka mengkombinasikannya antara bodi yang sangat tipis dengan layar yang melengkung. Kombinasi begini menurut saya akan ngasih disadvantage atau ketidakuntungan, terutama untuk urusan durability. Saya punya keyakinan dan kepercayaan diri yang cukup untuk bisa mematahkan hape tipis ini hanya dengan tangan saya. Karena jujur selain feel mewah yang saya rasakan saat pertama kali pegang hape ini, saya juga merasa kalau hape ini tuh ringkih sob. [Mouldie]: Kalau yang ini mah abang aja yang punya masalahnya bang. [Irwan]: Gak gitu bang. Responsibilitas layar di hape ini lumayan oke, walaupun saya merasa akurasi sentuhan di layar ini sedikit aneh. Beberapa kali sentuhan saya pada layar tidak di respon oleh si hape, terutama saat kita sentuh menggunakan bagian samping dari jempol saya. Saya pikir si hape nge-hang atau memang lemot, tapi saat saya mencoba menyentuh kembali dengan telunjuk, sentuhan saya baru di respon oleh si hape. Terdengar aneh dan sepele ya, tapi itulah yang terjadi dan saya rasakan saat menggunakan hape ini. Selain beberapa hal ajaib yang saya sebutkan di awal tadi, saya merasa tidak ada yang spesial untuk spesifikasi lainnya. Misalnya SoC yang digunakan di hape ini adalah SoC yang… nggak ngebut. Dia pake Unisoc T620 yang masih pake proses fabrikasi 12nm. Semakin besar proses fabrikasi yang digunakan, semakin besar pola konsumsi baterainya. Ini terbukti, baterai 5000mAh yang ada di hape ini punya durabilitas yang nggak bagus-bagus amat. Dari hasil pengujian, ia hanya bisa bertahan selama 12 jam kurang aja. Angka-angka yang didapat dari aplikasi benchmark sintetis juga terasa habis aja. Untuk Antutu, dia mendapat angka di 324.760, lalu performa single core di aplikasi Geekbench ada di 496, sedangkan untuk multi core-nya ada di 1572. RAM hape ini berukuran 8GB yang tentu aja bisa kita extend sampai 16GB menggunakan virtual RAM. Hape ini udah pake UFS 2.2 dengan kecepatan baca 583MBps dan kecepatan tulis di 340MBps. Dan dalam pengujian, SoC buatan Unisoc ini mengalami throttling yang cukup parah sob. Terjadi penurunan performa hingga 68% saat digunakan dalam load yang tinggi. Desain hape tipis ini ternyata tidak diikuti dengan desain pendingin yang optimal. Itulah kenapa throttling tidak bisa dihindari. Buat yang belum tau apa sih dampak dari performa yang mengalami throttling itu, saat kita bermain game di awal, kita akan merasakan performa gamenya cukup lancar. Tapi seiring dengan naiknya suhu pada smartphone, performanya akan semakin menurun yang bikin si hape jadi nggak lancar. Oh iya, hape mid-range ini ternyata juga berusaha pura-pura jadi flagship dengan menghilangkan jack audio. Hehehe… Eh nggak ding, kayaknya hape mid-range juga sekarang udah pada ngilangin jack audio ya? Samsung misalnya? Kelengkapan-kelengkapan di hape ini tergolong standar, dan bisa dengan mudah kita temukan di hape-hape murah untuk sekarang. Misalnya NFC, terus setup single speaker yang cukup jempreng, dan vibrasi atau getaran yang terasa kasar bikin jari semutan. Lalu dia juga udah punya sertifikasi IP64 yang diklaim tahan terhadap debu dan percekan air. Hape ini juga punya sensor fingerprint yang tertanam di dalam layar, yang mana menurut saya ini cukup jarang kita temukan di hape dengan harga 2 jutaan. Untuk software, masih terasa sama menggunakan Android versi 14 dengan sistem antara muka yang… Saya nggak tau apa nama UI mereka ya, apakah namanya ItelOS? Mungkin ItelOS? Nggak, entahlah. Tapi yang pasti, rasa menggunakan UI mereka 11-12 dengan hape-hape Infinix atau Tecno, ya wajar sih, mengingat mereka punya orang tua yang sama. Tapi ada satu keluhan yang saya rasakan di hape ini yaitu waktu booting yang menurut saya sangat lama lho. Entah karena memang performa dari hardwarenya yang terasa biasa aja atau memang si softwarenya yang tidak optimal. Terakhir untuk kamera, hape ini punya setup 3 kamera di bagian belakang dan 1 kamera di bagian depan. Tapi saya akan tetap menganggap bahwa kamera mereka hanya satu. Karena 2 kamera lainnya terlihat sangat gimmick sekali ya. Bahkan di website resmi mereka, Itel hanya menyebutkan spesifikasi dari 1 kamera aja, yaitu yang beresolusi 50MP. Kualitas foto dari kamera belakangnya menurut saya lumayan oke. Detil bisa ditangkap dengan baik. Warnanya juga cukup oke, dengan white balance yang lumayan akurat. Tapi ada satu hal yang saya nggak begitu suka, yaitu dynamic range-nya yang menurut saya sangat sempit. Foto yang saya tangkap dalam kondisi langit berawan, HDR di hape ini sama sekali tidak membantu untuk meng-highlight bagian-bagian yang gelap. Tapi dalam kondisi yang cukup cahaya dengan komposisi pengambilan foto yang tepat, foto terlihat cukup bagus menurut saya. Foto lowlight-nya juga terasa biasa aja. Kalau kita lihat, foto-fotonya terlihat cukup banyak noise ya. Mode support night-nya cuma bikin sih foto jadi terlihat lebih terang aja. Tapi kita masih bisa lihat noise-nya masih banyak gitu. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk proses saat mengambil foto dengan mode super night cukup lama lho. Saya pikir fotonya akan lebih bagus gitu. Ternyata terlihat cukup biasa aja gitu. Yang cukup memuaskan justru kamera depannya. Karena kamera beresolusi 32MP ini bisa menangkap foto selfie yang cukup bagus menurut saya, dengan detil yang lumayan banyak. Foto portrait juga lumayan oke, karena pemisahan antara background dan foreground bisa dilakukan dengan cukup rapi. Walaupun di beberapa bagian yang rumit seperti rambut, si kamera terlihat tidak cukup pintar untuk bisa memisahkan bagian ini. Ini adalah sampel video dari kamera depan. Yang mana dia bisa merekam di resolusi maksimal 2K. Sekarang saya ada di kondisi berangin, jadi anginnya sangat kencang sekali. Kualitas suaranya, kalian bisa dengar bagaimana dia menangkap suara angin di sekitar. Tapi yang pasti menurut saya videonya ya so-so. Karena kalau kita lihat backlit-nya, nggak bisa di-highlight dengan baik oleh si kamera artinya. Dynamic range-nya nggak begitu bagus. Tapi bisa merekam video depan 2K, di luar apakah 2K-nya beneran 2K atau memang interpolasi, tapi yang pasti kamera depannya lumayan dengan kualitas perekaman suara seperti yang kalian dengarkan sekarang. Jadi kesimpulannya, satu-satunya alasan saya beli hape ini karena saya merasa hape ini memang lagi hype ya. Lagi diomongin dimana-mana. Sebuah hal yang wajar mengingat betapa banyaknya hal-hal yang menggiurkan yang ditawarkan oleh Itel di hape ini. Mulai dari desain yang cantik, terus dia juga enteng dan tipis, lalu dia punya layar yang melengkung seperti flagship, punya panel AMOLED 120Hz, dan lain-lain. Tapi kelebihannya memang sebatas itu aja, karena kalau kita lihat dari spesifikasi yang lain, menurut saya hape ini tetap terasa biasa aja, dan tetap terasa seperti hape mid-range pada umumnya. Kalau memang kalian ngejar performa dari sebuah hape 2 jutaan, saya pastikan hape ini sebaiknya kalian coret dari pilihan. Tapi kalau memang kalian mencari hape yang terasa seperti flagship, nggak ada salahnya buat beli hape ini. Gimana menurut kalian? [Mouldie]: Tipis tapi sadis? Eh nggak, itu yang saudaranya ya? Tipis saudaranya. Mirip kan, tapi... [Irwan]: Tapi sebenernya ada tulisan kecil yang nggak kelihatan bang. [Mouldie]: Apa tuh? [Irwan]: Tipis tapi nggak sadis-sadis amat gitu. [Mouldie]: Tipis mah bener, tipis? [Irwan]: Eee... Bener! Bener. Sadisnya eee... [Mouldie]: Gimana ya? [Irwan]: Sadis dibudgeting iklannya bang. JKT48, ada Mbak Gracia terus itu tuh, mahal pasti kan? Sadis tuh budgetnya.

Lihat di YouTube