Jungkat

Masih Worth it ? | Samsung Galaxy A56 1 Bulan Kemudian (YouTube Video)

  • 23/05/2025

Hai Andika, guys di sini. Kenalin ini adalah Samsung Galaxy A56 yang kita udah pacaran sekitar 1 bulan dan saya bakal ceritain hubungan saya bakal berlanjut atau enggak sama dia atau udah ditahap ya biar dia tidur di sofa aja. Jujur ada beberapa momen yang bikin saya kayak agak gimana gitu sama si Samsung Galaxy A56. Ada beberapa momen juga yang bikin saya tambah sayang. mixed feeling lah. Apalagi di kelas midrange, wah rumput tetangga itu banyak yang lebih hijau. Kita akan bahas gimana rasanya hidup bareng sama Galaxy A56 selama 30 hari dipakai beneran ya, bukan cuma dibahas di meja review aja. Jadi udah siap Lego pinjam intya Om [Musik] Dia. Kalau untuk feel pemakaian selama 1 bulan ini saya enggak ada komplain sih, enggak ada masalah sama sekali. Bobotnya yang enggak sampai 200 gr dengan tebal enggak sampai 8 mm enak banget dipakai. Emang bukan yang paling ringan dan paling tipis di kelasnya, tapi pas gitu di tangan. IP67-nya juga bikin PD kalau tiba-tiba cuaca enggak kondusif terus tiba-tiba hujan. Dibandingin sama generasi sebelumnya, si Samsung Galaxy A56 juga kerasa jauh lebih ringan. Lebih nyaman juga digenggam dengan satu tangan. Frame aluminium sama kaca Gorilla Glass Victus Plus depan belakang juga kerasa flexip di tangan. Dan udah beberapa kali kepentok meja, kegesek kunci di kantong sampai hampir nyemplung bak mandi juga pernah. Dan saya selama 1 bulan pacaran ini gak pakai casing. Dan hasilnya lumayan tahan banting sih. Cuman saran saya jangan ditiru di rumah ya, pakai casing aja biar harga jualnya lagi tuh lebih aman. Dibanding generasi sebelumnya, saya juga lebih suka yang sekarang ya. Dia lebih terlihat flagship. Tampak depan juga beelnya lebih tipis dibandingkan A54 dan juga A55. Dimensi layarnya juga lebih gede di Samsung Galaxy A56. Ngomongin layar, ini sektor yang paling penting buat kaum iklim tropis kayak kita. Performa outdoor layarnya. Samsung klaim pick brightness-nya sampai 1900 nits atau HBM-nya di 1200 nits. Bedanya apa? Jadi si HBM itu bakalan aktif kalau kita benar-benar di bawah terik matahari langsung. Tapi kalau pick brightness itu biasanya muncul ketika konten XDR dan di beberapa titik aja. Jadi enggak semua dibandingin sama A54 dan A55, performa layar pas odoor emang kelihatan lebih terang A56 ya. Jadi gak perlu jadi ninja buat nutupin layarnya biar kelihatan. Kalor gamut dibanding sebelumnya mirip-mirip sih yang kalau kita ngomongin layarnya Samsung ya enggak perlu diraguin lagi sih soal urusan layar. Karena ya hampir semua panel bagus buatan brand lain pun yang bikin juga Samsung. Untuk urusan performa si Samsung Galaxy A5X series ini konsisten pakai chipset Samsung sendiri si Exyos 1000 series. Jadi mulai dari A54 itu Exyos 1380, A54 Exinos 1480 dan lanjut ke A56 dengan Exyinos 1580. Peningkatan performanya dibanding dua generasi sebelumnya A54 dan A55, skor Anutunya kalian bisa lihat di sini ya. Dan kalau kita hitung peningkatan secara persentase ya, skor Anutu dari Samsung Galaxy A55 ke A56 itu peningkatannya sekitar 24%. Kalau dari A54 ke A56 itu 57%. Geig bench-nya juga meningkat 18% dari Samsung Galaxy A55 ke A56. Yang menarik performa GPU-nya sih. Performa GPU-nya ini naiknya lumayan pesat dari Samsung Galaxy A55 ke A56 dari skor 3.000 ke 6.000. Jadi 100% peningkatannya selama 1 bulan pacaran ini. Jujur saya jarang nge-game sih. Paling mentok ya Mobile Legends. Gensin saya jarang main karena bosan ya kayak kurang kompetitif gitu. Tapi kalau mau main Gensin pun di Samsung Galaxy A56 juga udah mumpuni walaupun agak ngos-ngosan ini di settingan lowest ya. Karena ya memang kelasnya dia midrange. Kalau misalkan pengen main game Gin Impact dengan smooth ya ambilnya sih seri S ya. Atau kalau mau lebih playable lagi bisa diakalin pakai cooling. Kayak saya kemarin nyoba pakai cooling. Coolingnya itu harganya Rp100.000an aja kok saya beli di e-commerce. Dan dia bisa nahan buat drop FPS-nya di 44-an. Angka yang masih sangat playable untuk dimainkan walaupun ini settingan lowest ya. Buat baterai selama saya pakai dengan yang skenario nge-game jarang-jarang tadi dia bisa tahan sekitar 1 hari 16 jam lah dan masih sisa sekitar 24%. Kalau saya lihat di GSM Arena, rata-rata active use skornya itu di 12 jam 8 menit dipakai web gaming, dan juga streaming. Terus saya lihat di tech radar klaimnya video playback itu dia bisa tahan sampai 29 jam. Dan kata teh radar dan juga GSM Arena, baterainya ini emang super awet. Padahal secara kapasitas masih sama loh, 5000 mAh. Dan akhirnya Samsung berhasil nurunin egonya ya. Karena Samsung dan juga Apple pokoknya yang bukan HP Cina itu soal fast charging mereka itu kayak bertahan di area 20 watt. Tapi Samsung di seri midrange-nya sekarang udah naik dari 25 watt ke 45 watt. Walaupun memang 45 watt-nya ini di dalam paket pembeliannya enggak ada charger. Jadi kita harus beli sendiri. Ngecas dari 0 ke 100% butuh waktu sekitar 1 jam 5 menit. Dan saya ini pakai charger third terparty dari Kibs yang udah support PPS ya. yang artinya berarti support sama protokol charging-nya Samsung. Bukan di-endorse sama kip ya, tapi karena memang yang ada itu di studio. Yang paling menyenangkan selama saya pacaran sama si Samsung Galaxy A56 ini selama 1 bulan, jelas One UI-nya sih software-nya, UI-nya. Dan ini banyak yang bilang setiap saya ng-review Samsung apapun pasti bilangnya wah Samsung cuma jualan software dan enggak bisa dipungkiri karena software-nya memang seyaman itu. OneUI7 buat Android menurut saya masih yang paling best lah. Coba ya kalau misalkan tetangga bisa bikin UI yang smooth kayak gini mungkin ya bisa terlihat lebih hijau. UI-nya ini kerasa lebih bersih, modern dan di A56 juga kerasa lebih smooth. Karena kan saya juga pakai S25 Ultra buat daily. Ya, saya sih enggak perlu penyesuaian yang gimana-gimana karena sekarang upd-nya kan vertikal ya, panel notifikasi sama togelnya sekarang juga terpisah. Agak mirip sama tetangga sebelah atau inisialnya iOS sih. Tapi ya enggak apa-apa karena walaupun mirip ya, yang penting dipakai nyaman dan kalau misalkan tetangga sebelah mau pindah juga lebih mudah. Search bar-nya sekarang dipindah ke bawah. Jadi jempol enggak perlu stretching jauh-jauh. Overall sebulan saya pakai OneUI 7 di A56 kerasa lebih segar, intuitif, lebih quid, transisi antar aplikasi, scrolling, semuanya berasa lebih enteng dibanding One UI sebelumnya di kelas yang sama. Selama sebulan fitur AI jelas kepakai banget. Yang kepakai banget jelas circle to search. Kalau muncul di FYP barang menarik buat dibahas di YouTube, saya tinggal circle aja buat cari tahu belinya di mana. Lagu sama transir juga bisa dicari sekarang. ada sampah plastik pas foto sama anak tinggal di objek eracer aja atau kalau mau pasaran saya itu tetap ada ya tinggal di circle yang sebelah saya aja ya biar saya kelihatan enggak punya pasang tapi itu janganak jangan ditiru mau foto bareng-bareng dan ada yang merem tinggal di best fin aja dan boom hasilnya jadi semua muka itu on point tapi saya udah coba berapa maksimal orang satu frame untuk pakai base fist dan yang saya coba sih maksimal lima ya karena kalau lebih dari itu enggak ketracking terus ada auto trim yang bisa bikin highlight reel secara otomatis. Saya coba buat masukin video-video saya ke sini, tapi hasilnya hmm unik sih ya. Mungkin AI-nya ini punya selera seni yang berbeda dengan saya. Jadi kalau saya pribadi sih lebih prefer kalau ngedit manual. Tapi kalau kalian butuh ngedit cepat biar AI aja boleh dicoba. L dari sisi kamera kalau kita lihat spesifikasinya di atas kertas enggak ada perubahan yang berakti dari A54 sampai ke A56. Cuman A56 ini selfie kameranya sekarang lebih rendah dengan 12 megap. Tapi faktor penentu biar kualitas kamera bagus itu bukan resolusinya. Walaupun turun megapel-nya dari A54 dan A55, selfie kameranya lebih detail. Warnanya juga lebih natural, ada HDR juga buat video selfie-nya. Jadi pas lagi nge-vlog di tempat terang atau backl muka jadi enggak siluet. Main kameranya buat foto siang-siang hasilnya khas Samsung ya dengan warnanya cenderung ngejreng. saturasinya dibost dikit buat di-upload ke Instagram tanpa edit. Masih oke. Detailnya bagus dynamic ris-nya juga lumayan. Kadang oversarpening dikit tapi enggak ganggu dibanding A54, A55, dan A56. A56 ini detailnya lebih dapat. Muka juga enggak terlalu terlihat pixelated atau soft. Buat foto malam, Samsung ini punya fitur yang namanya nightraphy yang katanya kemampuan sensornya ditingkatkan. Hasilnya ya lumayan lah ya buat HP seharga motor matic second. Noise-nya masih ada, tapi detail di area gelap jadi lebih kelihatan dibanding mode biasa. Kamera ultrawide-nya oke buat pemandangan atau foto ramei-rame biar semua masuk frame, distorsinya minim. Kamera 5 megapel-nya ini kamera bonus lah, bukan kamera tele nih. Jadi kalau misalkan kita foto ya lala di daun atau kita foto objek yang benar-benar dekat masih okelah ya. Bukan yang stunning banget kelasnya oke aja. Buat video belakang, dia bisa rekam 4K 30 fps. Hasilnya stabil berkat O di kamera utama dan VDIS atau video digital image stabilization cukup buat bikin konten TikTok atau Instagram reels yang enggak goyang-goyang amat dibanding A54 dan juga A55. A56 memang sedikit lebih stabil dan sekarang kalau mau pindah kamera depan ke kamera belakang enggak kepotong lagi kayak di A54 ataupun A55. Yang itu kayaknya bug. Tapi entah kenapa bugnya itu enggak dibenerin sampai A56 dibenerin. Oke, sekarang masuk ke bagian yang saya A56 ini. Bagian curhatnya lah. Yang pertama dan utama jelas ini slot micr SD-nya ke mana? Yap, jadi si A56 ini resmi jadi anak durhaka yang ninggalin tradisi slot micro SD di keluarga A5 series. Jadi ya pastiin storage internal udah cukup di awal. Audio jack sih absen, tapi kalau ini awal-awal sih saya juga keganggu, tapi sekarang udah terbias lah karena penggantinya banyak. Banyak TWS yang bagus-bagus sekarang. Nah, masalah micro SD mungkin ke depan yang bakalan rame itu ya jasa storage ya, kayak misalkan cloud dan juga flash disk yang langsung colok ke HP itu kayaknya bakal rame juga. Dan Samsung Galaxy A55 saya itu dipakai sama mama saya dan kemarin ketika saya tanya kendalanya apa kata beliau fingerprint-nya sih fingerprint-nya itu kadang kayak kurang akurat gitu. Nah, di A56 apakah sama? Hah? Enggak sama sih di A56 ini lebih akurat dan lebih cepat dibanding A55. Walaupun sama-sama pakai sensor optikal, tapi ya jangan disamain sama Samsung Galaxy S25 Ultra ya. Karena kan dia pakai ultrasonic kalau ini optical. Jadi dipencetnya harus agak lama dulu baru mau kebuka. Jadi sebulan penuh tawa, drama, dan juga sedikit air mata. Wah, pemilihan diksinya lebai banget ya. Kesimpulannya selama saya pacaran 1 bulan sama si Samsung Galaxy A56, dia udah jadi teman saya yang desainnya keren. Terus punya combo maut antara OneU I7 dan Exyos 1580. Otaknya jadi agak encer. Terus punya banyak trik sulap di AI dan staminanya walaupun masih 5000 mAh masih oke. Dan sekarang kalau saya lihat di e-commerce harga rata-ratanya itu dijual di bawah Rp juta kok 5,8 ada yang 5,7. Nanti link pembeliannya akan saya taruh di kolom deskripsi. Dan kalau di website-nya Samsung sendiri harganya itu R,1 juta, tapi saya lihat stoknya udah habis. Dan dengan harga R jutaan besar, apakah masih worth item meminang Samsung Galaxy A56? Karena sekarang banyak rumput tetangga atau kompetitornya yang lebih hijau? Ya, kalau enggak masalah dengan absennya micro SD terus enggak butuh kamera tele, ultra wide lul-nya ya bakalan jarang dipakai. Worthed it aja sih. Apalagi kalau kalian punya A54 untuk di-upgrade ke A56. Beh, itu kerasa banget upgrade-nya. Kalau dari A55 kerasanya di GPU sama feel di depangnya lebih kerasa flagship, look-nya juga lebih fresh. Sekarang kalau dari saya sih sebulan ini saya udah cukup bahagia ya sama si Samsung Galaxy A56. Coba deh buat kalian yang mungkin punya Samsung Galaxy A56 juga, tulis pengalaman kalian di kolom komentar. Apa kelebihan dan kekurangannya, minusnya apa, yang kalian suka apa, yang kalian enggak suka apa? Coba tulis di kolom komentar ya. Kita coba sharing bareng-bareng. Saya Andika Budi and see you on the next video.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

HP Android 32 Juta...
Oleh GadgetIn
15m 11s

Pasar ponsel flagship premium baru saja diguncang oleh perangkat Android seharga 32 juta rupiah yang digadang-gadang sebagai daily driver mutakhir. OPPO Find X9...

Brand Terkait

Samsung

Samsung menghadirkan smartphone Galaxy, tablet, wearable, TV, dan perangkat rumah tangga dalam satu ekosistem terintegrasi. Samsung dikenal dengan teknologi layar terbaik, performa tinggi, dan inovasi global untuk kebutuhan modern.

Samsung Galaxy A56 5G

Samsung Galaxy A56 5G merupakan smartphone kelas menengah atas yang secara resmi hadir di pasar Indonesia dengan perombakan desain, performa, layar premium, dan kemampuan kamera yang komprehensif. Ponsel ini cocok bagi pengguna yang menginginkan perangkat modern untuk kebutuhan sehari-hari, produktivitas, serta konten multimedia.Dari segi desain, Galaxy A56 5G hadir dengan...