Membingungkan ❓❓ - Gamesir G7 Pro (YouTube Video)
Kemarin kita udah ngebahas sebuah controller yang harganya cuma R68.000, tapi analog dan juga triggernya itu udah hal effect. Nah, sekarang kita ngebahas dari brand yang sama lagi tapi harganya R1,5 juta. Kira-kira apa yang bikin controller ini semahal itu? [musik] Seperti biasa kalau review periferal kita mulai dari unboxing-nya dulu. Packaging-nya ini yang sekarang mirip ya sama packaging-nya controller Xbox One atau Xbox Series X dengan feeling yang juga cukup premium. Mungkin karena lisensinya adalah lisensi Xbox dan memang design for Xbox cuma bisa dipakai di PC juga. Kelengkapannya cukup banyak ya. Kita dikasih controllernya itu sendiri dengan pelindung analog disertakan dengan charging doc dongle kabel yang udah braided beberapa spare dipad yang nanti kita akan bahas lebih lanjut buku petunjuk yang kayak koran dan ada bonus game pass Ultimate buat 1 bulan. Oke kita masuk ke desain controllernya. Desain dari controllernya ini mirip banget dengan Xbox controller. Mulai dari layout logo Xbox-nya jadi enggak pakai logo Gamer. Sampai-sampai gripnya pun mirip. Hanya aja grip dari Gamsar G7 Pro ini lebih kecil dan lebih nyaman di tangan kalau menurut gua. Di mana ini enggak kegedean dan enggak kekecilan pula. Pas sih buat di tangan gua. Di bagian kiri dan kanan controller ini juga ada textured grip-nya di mana yang atasnya itu berbahan plastik. Sementara bawahnya itu berbahan rubber. Jadi lebih solid saat kita megang controllernya. Cuman gua gak tahu nih bagian rubbernya apakah tahan lama atau enggak pas dipakai pemakaian jangka panjang nanti. Nah, buat SKU-nya sendiri sebenarnya ada dua pilihan warna untuk G7 Pro biasa ini. Ada Grey dan Amber yang review unit kita. Ada juga yang Wucang dan juga Zeneless Zone Zero version. Cuman gua enggak tahu apakah bakal masuk ke Indo atau enggak. Gua pilih yang Amber ini karena keren aja warna merah hitamnya. Ketimbang yang white kayaknya B aja. Nah, buat pilihan button-nya ada banyak banget ekstra button di sini. Ada L4R4 di belakang yang bahkan bisa di-enable dan disable. Dan ada juga L5R5 yang nyempil antara bumper dan trigger. Ini pun posisinya menurut gua bagus banget, enggak gampang ketekan, tapi pas pengen ditekan itu juga gampang. Total ekstra button-nya ini ada banyak. Kita juga bisa replace button di keyboard atau mouse. Namun sayang banget controller ini belum support sama makro. Jadi cuma bisa replace button aja. Lalu buat face button-nya itu sendiri, dia YXBA-nya hampir enggak kelihatan ya dan enggak ada backlit juga di sini. Jadi berkurang ya kesan premiumnya. Tapi mungkin controller ini didesain buat pro user yang udah enggak perlu lihat-lihat lagi legend-nya. Sementara buat switch-nya hampir semua button yang ada di controller ini menggunakan mechanical clicky switch. Mulai dari face button, deppad, empat ekstra button mereka sampai ke penahan triggernya itu juga mekanical. Paling hanya left bumper dan right bumper aja yang enggak mechanical. Feeling nekan bumpernya ini stabil banget. Dia bisa ditekan dari semua sisi tanpa problem sama sekali. Di bagian bawah ada audio jack dengan microfone on and off dan pairing button di mana kita bisa kneektin audio juga ke sini. Namun ini cuma buat Xbox aja, enggak bisa buat PC ataupun Android. Ini bagus sih buat Xbox user, tapi ya sebagai PC user ini jadi terkesan mubazir. Analog dari sticknya sendiri udah TMR Hal Effect alias ini udah flagship-nya analog dengan tidak adanya circularity error sama sekali. Ketinggiannya standar dan SAM grip-nya juga enak banget. S grip atasnya ini bisa dicopot pasang sebenarnya dan seharusnya bisa diganti-ganti juga tapi gua belum tahu spare-nya bisa dibeli di mana. Dan sama seperti analog, triggernya juga udah effect, travelnya dalam pula. Bahkan ada mesin getarnya di trigger. Jadi mesin getarnya itu ada dua. Yang satu ada di bagian grip dan satu lagi ada di bagian trigger. Hanya aja trigger button ini enggak bisa diganti-ganti. Total berat dari Gamser G7 Pro ini ada di sekitar 271 gr. Memang enggak terlalu berat kalau dibanding sama Xbox One controller, tapi masih bakal pegal kalau kalian pakai lama-lama. Lalu controller ini punya salah satu nilai jual yang menurut gua cukup unik, yaitu dia punya face plate yang bisa dicopot pasang dan bisa diganti-ganti. Grip kiri kanannya ini juga bisa diganti-ganti. Bahkan di tockpad udah banyak dijual juga face plate-fate lain dari G7 ini. Walaupun belum yang pro, tapi bisa kompatibel juga sama Pro. Ini lucu-lucu juga kalau kita lihat opsinya, tapi kayaknya lebih lucu kalau bisa dibikin sendiri secara custom. Nah, selain dari face plate-nya ini sebenarnya yang bisa dimodif itu ada di dpad juga. Di sini ada tiga style dpad. Yang default itu flat dengan titik-titik aja. Dan dua lagi ada logo-logonya gitu. Logo ini maksudnya tuh kalau lagi dikoneksiin ke Xbox dia bisa adjust volume pakai up and down, ngatur voice chat pakai kanan kiri. Walaupun ini hanya berlaku kalau kalian pakai mikrofon yang connect ke audio jack yang di bawah ini. Alias ya cuma Xbox doang lah yang bisa, bukan buat PC user. Nah, sayangnya di controller semahal ini dipad-nya itu wobli banget mau pakai yang opsi manapun. Sampai-sampai kerasa kayak ini adalah dipad yang murahan gitu. Bahkan di pad yang ada di Nova 2 Lite aja enggak wobli seperti ini. Untungnya kita nemuin ada fix kecilnya di YouTube di mana kita bisa masukin O-ring berukuran 6 mm sebanyak 2 biji ke masing-masing arah. Dan hasilnya di pad ini enggak akan sewobli sebelumnya lagi walaupun ya masih ada kerasa dikit sih. Konektivitas dari controller ini ada tiga macam. bisa ditebak dari TH mode-nya itu bisa 2,4 GHz dongle, Bluetooth, dan juga wir. Sayangnya walaupun controller ini memang build for Xbox tapi connect ke series S atau Series X itu masih pakai kabel dan buat PC dia juga cuma bisa pakai dongle ataupun wired. Jadi, Bluetooth-nya cuma bisa buat Android. Kok enggak fleksibel banget ya? Bahkan Nova 2 Lite-nya mereka aja itu bisa sampai ke Switch gitu. Jadi, gua agak bingung kenapa controller ini direstrict konektivitasnya sampai-sampai ya seperti ini gitu. Tapi ya kalau ditanya soal response time-nya ataupun delay-nya itu hampir enggak ada delay di dongle. Jadi kalau kita cek 2,4 GHz-nya ini udah benar-benar mantap lah. Oh iya, kalau kita langsung colokin docking-nya ke dalam komputer, kita bisa ngumpetin dongle-nya itu di bawah docking loh. Jadi enggak makan banyak USBA port. Kalau dari pengalaman mainnya, jujur controller ini enak banget sih. Sebagai orang yang enggak pernah main pakai stik mahal, rasanya pakai stik ini tuh beda bangetlah di game bola, feeling lari dan juga presisi saat ngoper bolanya tuh kerasa banget. Belum lagi pas nendangnya itu renyah banget mechanical button-nya. Cuma sayangnya gua gak bisa remap macro action ke dalam stranya. Di game racing pun sama. Triggernya ini punya travel yang lumayan panjang. Jadi travelnya itu udah pas kalau buat gua. Apalagi adanya mesin getar tambahan di trigger tuh enak banget. Vibration-nya jadi lebih immersif tapi enggak lebay. Dan belokan ke kiri kanan itu juga presisi. Asik sih ini dipakai balapan. Terutama kalau main akrobatik pesawat di Flight Simulator yang presisinya itu dibutuhin banget. Kalau di game Souls macam Wang juga seharusnya ini oke ya. Walaupun gua enggak banyak main game Souls tapi seharusnya sih yang memang butuh reaction time cepat ya Gamester G7 Pro ini udah capable banget. Dan controllernya ini juga di harga R,5 juta tentunya ada Gyro di sumbu X dan Y-nya di mana kalian bisa aktifin gyronya itu either dari Steam input, natif dari game-nya, ataupun software-nya dia. Cuman ini masih raw input banget jadi jangan berharap feelingnya itu enak. Dan anehnya gua baru pakai controller ini sekitar 2 bulan, tapi bagian penahan right triggernya itu udah lost. Jadi ada jarak sebelum kita nekan triggernya. Agak aneh sih, hanya dalam pemakaian 2 bulan penahan triggernya udah rusak. Jadi kita kirim aja ke teknisi Ner reviews. Ini kan ada problem. Jadi kalau lu keseringan pakai nih trigger ini tuh ada karet dan dia itu cuma di double tip doang. Nah ini bisa kegeser dan kalau kegeser tuh bakalan kelihatan lebih keluar. Hmm. Makanya tadi tuh pas gua udah pakai penahan trigger dia itu tetap mesti agak dalam. Iya, tetap nekannya lu harus lebih Nah, itu enggak enak banget. Jadi ketika ketika gua bongkar nih kelihatan nih ternyata mereka ada semacam dampener atau gasket apa karet gitu buat nahan di sininya nih tinggal digeser doang udah ini fix. Tapi kayak kenapa mereka enggak bisa mikirin solusi lain sih selain double tape gitu loh? Kenapa enggak lem gitu ya? Iya. Atau yang lebih permanen gitu. Buat software berbeda dari gamer kelas entry level. Jadi controller ini pakai gamser Nexus software. UI-nya sih kurang lebih sama dengan gamser connect. Tapi kalian di sini bisa ngatur polling rate dari controllernya. Lalu dead zone analog dan trigger ngatur vibration sampai ke mapping extra button-nya juga ada. kurang lebih ya software-nya okelah, tapi suka dc-DC kalau lagi di minimize. Dan terakhir baterainya ini bisa tahan cukup lama. Gua main game itu sekitar 2 sampai 3 jam sehari dan pakai dongle 2,4 GHz-nya itu bisa tahan sampai 8 hari. Tapi itu memakai poling rate 500 Hz ya, bukan 1000 Hz. Jadi kesimpulannya jujur buat gua yang biasanya pakai controller murah buat main, pakai controller yang harganya R,5 juta dan udah TMR Hall effect Ef ini bikin gua tuh kerasa kayak baru kebuka gitu matanya. Dan feeling build quality-nya juga enak banget. Gripnya dan triggernya itu benar-benar enak. Full mechanical button pas lagi main bola tuh juga kerasa enak banget ya. Hampir enggak ada yang bisa dikomplain dari controller ini kecuali di padnya yang tadi itu wobli-wobli banget. Nah, cuman buat di harga R,5 juta menurut gua approach dari Games Serar G7 Pro ini agak membingungkan. Yang pertama kalau misalnya kita mainnya di Xbox [musik] yang katanya dia design for Xbox banget, aduh ini e dia enggak bisa wireless. Jadi trimode-nya itu bullshot gitu. Dia cuman bisa pakai kabel doang. Dan kalau misalnya mau yang wireless ya mesti beli yang versi Wucang atau yang Zenless Zone Zero. Dan kalau misalnya mau dipakai di PC memang dia bisa wireless pakai dongle ataupun pakai kabel juga tapi function-nya jadi B aja. Dan kalaupun kita mau pakai Bluetooth cuman bisa di Android, di iOS belum bisa. Dan untuk sebuah controller flagship jujur aja ya Gamsar G7 Pro ini agak kureng ya karena ya walaupun bisa diganti-ganti face plate-nya tapi fitur itu kayak B aja gitu. Kalau dibanding sama controller ODM yang bahkan bisa hot swap modul analognya dan harganya cuma Rp600.000. Daxsa itu kalau enggak salah kemarin harganya cuma Rp600.000-an, tapi fitur-fiturnya kurang lebih sama. Udah full mechanical, udah TMR joystick juga, dan udah polling rate 1000 Hz juga gitu. Jadi ya kurang lebih sama lah sama controller ini dengan harga setengahnya. Tapi ya balik lagi kalau misalnya kalian mau sebuah controller yang build quality-nya memang bagus dan juga feelingnya enak dan mungkin memang punya spare R,5 juta buat controller ini adalah salah satu pilihan yang bagus. Jadi paling itu aja sih sebenarnya e menurut kita kalau kalian sendiri budget buat beli controller ada di R,5 jutaan atau R00.000-an sih? [musik] H
