MENDING INI DARIPADA INFINIX, WHY?!š¤ - Netizen Bertanya (YouTube Video)
[Musik] Ini dia Poco M7 Pro. Apa arti huruf M ini? Mantap, murah, menakjubkan? Mungkin aja karena kalau soal murah, smartphone ini memang punya bandrol harga yang tergolong masih murah R jutaan doang. Tapi apakah smartphone ini layak untuk dibeli? Yang punya pertanyaan ini enggak cuman saya doang. Naufal, MHNF juga punya pertanyaan yang sama. Selamat datang di Nanya netizen bertanya di mana kami akan mer-review sebuah produk berdasarkan pertanyaan dari kalian buat Noval. Pertanyaannya akan kami jawab di akhir video ya. Sekarang kita mulai dari si Papayo dulu. Sejujurnya saya kurang ngerti sama pertanyaannya. Jadi nanya ada iklannya apa enggak tapi masalah pinjol bikin kepengen maksudnya apa ya? hidup Anda kurang tantangan, ingin punya masalah sama pinjol. Ini mungkin maksudnya nanya soal ada iklan apa enggak kali ya, terutama iklan pinjol. Karena memang salah satu paint beli smartphone Poco atau Xiaomi yang terjangkau itu tuh khawatir sama kehadiran iklan. Yang cukup sering nongol di notifikasi tentu notifikasi dari aplikasi Get Apps. Itu aja sih dan bisa dibilang enggak terlalu mengganggu. Yang menurut saya ganggu itu justru dari aplikasi yang namanya. Setiap swipe ke atas itu tuh selalu otomatis buka. Padahal kan saya mau buka tray aplikasi doang. Biar enggak kebuka tray aplikasinya. Jadi kudu pencet tanda panah ini. Bukan diwipe gitu. Jujur ini nyebelin ya. Tapi dengan ubek-ubek setting delete datanya, uninstall update-nya si Apptay ini jadi bisa dihilangin deh aplikasinya. Repot sih, tapi ya udahlah ya. Ya, itulah kalian harus mempertimbangkan hal itu. Selanjutnya, Ferdi Utama 09 nanya soal AnTu. Nah, jadi chipset yang digunakan oleh Poco M7 Pro ini adalah Mediatic Dimensity 725 Ultra. Nilai Antutunya segini R00.000-an. Sebuah nilai yang bisa diterima mengingat bandrol harganya ya. Enggak begitu jauh nilainya kayak Mediatek G99. Sekalian aja nilai Geekbench-nya juga segini ya. Nilai benchmark segini masih cukup buat dipakai main game casual. Contohnya Mobile Legends atau Smash Legends. Game tuh berjalan cukup mulus tanpa kendala yang berarti. Untuk main game yang cukup berat, contohnya kayak Garena Delta Force, performanya masih bisa lancar tapi dengan sedikit penyesuaian di settingan grafis. Untuk penggunaan casual sehari-hari seperti sekedar pakai WhatsApp dan main Instagram atau TikTok, HP ini tuh cukup lancar tanpa kendala. Untuk swipe-swipe timeline TikTok yang tanpa ujung juga enggak ada dampak negatifnya ya. Selain ngabisin kuota sama ngabisin waktu parah lu kalau swipe-swap TikTok tahu-tahu 30 menit sejam. Hah parah dah. Selanjutnya mengenai update software, Poco sendiri ngejamin HP ini tuh akan mendapatkan update OS selama 2 tahun atau dua kali versi OS ya akan naik dan 4 tahun security update. Memang sebuah angka yang enggak besar sih, tapi setidaknya mereka tuh memberikan jaminan dan kejelasan akan masa depan update software di HP ini. Berbeda sama beberapa brand Tiongkok yang hobi bikin HP murah tapi sama sekali enggak ngasih kejelasan soal update software-nya. Jadi untuk ini saya sangat apresiasi. Nice, Poco. Nah, sekarang kita bahas kameranya. Poco memang bukan brand yang ngasih perhatian lebih ke sektor kamera. Poco M7 Pro ini hanya punya dua kamera di bagian belakangnya, yaitu kamera utamanya beresolusi 50 megapel dan kamera keduanya adalah kamera dep beresolusi 2 megap. Untuk kualitas fotonya sendiri dalam kondisi cukup cahaya atau daylight, foto-foto yang ditangkap itu tuh terlihat cukup oke. Warnanya masih akurat. Dynamic range-nya juga lumayan oke, detailnya juga lumayan banyak ya. Kalaupun kerasa kurang, kalian tuh bisa mengaktifkan mode 50 megapelnya untuk bisa mendapatkan detail yang lebih banyak. Lalu untuk kondisi low light-nya, saya tidak merasa foto yang ditangkapnya ini tuh terlihat impresif ya. Fotonya itu kelihatan biasa aja. Secara kasat mata masih terlihat noise-nya. Tapi fotonya tuh bisa lebih maksimal kalau kita tuh mengambil foto menggunakan mode malam atau night mode. Dengan mode ini, foto tuh jadi terlihat sedikit lebih bersih dan lebih layak untuk dipamerkan di media sosial. Untuk foto potretnya, fotonya lumayan oke, cukup bagus dalam memisahkan foreground dan background. Walaupun di beberapa kondisi yang rumit, dia tuh masih kesulitan seperti bagian-bagian rambut ataupun bagian-bagian tubuh lain yang bias-nya. Kamera di HP ini juga punya kemampuan untuk melakukan two times in sensor zoom yang diklaim punya kualitas yang oke. Terbukti ya beberapa foto yang saya ambil menggunakan two times digital zoom-nya ini tuh masih terlihat cukup tajam. Sedangkan untuk kamera depannya sendiri beresolusi 20 megapel dan foto-foto yang ditangkap oleh kamera depannya menurut saya sih lumayan oke ya. Detail tuh masih bisa tertangkap dengan baik. Ton warna bagian kulit juga masih bisa dijaga walaupun di bagian matanya Omir ini tuh warnanya tetap sedikit warm ya alias agak terlalu kuning. Tapi ini tuh masalah preferensi aja sih. Jadi untuk kamera secara keseluruhan menurut saya cukup oke. Karena banyak yang nanya soal video di kamera depan spesifik gitu ya, mending langsung kita bahas aja. Nah, seperti yang teman-teman lihat hasil video perekaman kamera depannya seperti ini. Ditanya stabil apa enggak. Mm sebenarnya bisa nilai sendiri sih. Ini saya pakai sambil jalan ya. Dan eh dibilang stabil sih. Dia tuh enggak ada OIS-nya jelas kamera depannya tapi kayak kelihatannya kayak ada sedikit eh-nya gitu. Gairo EIS yang yang artinya sih sebenarnya kamera depannya ini jadi bisa kepakai gitu dah. Bagus apa enggak sih? Mmm bagus is bagus is apa itu? Ah. dibilang bagus enggak, tapi jelas ini adalah sebuah improvement karena biasanya kamera depannya Xiaomi ataupun Poco itu enggak enggak oke-oke amat. Tapi kalau sekarang ini teman-teman bisa lihat ya hasil video kamera depannya masih masuk dalam kategori bisa kepakai buat vlogging seperti ini. Dan kalian bisa lihat ya beberapa detail di awan pun tuh masih sedikit ee kelihatan. Jadi ya ini bisa kepakai. Nah, untuk resolusinya dia mentok di ee 1080p 30 fps. Itu aja sih. Kura. Apakah itu bisa dibilang kekurangan? Eng enggak sih, karena du jutaan segini tuh ya udah oke. Walaupun enggak bisa 60 fps ya. Karena biasanya 60 fps tuh akan kepakai buat e Instagram. Nah, kebetulan juga ada yang lagi nanya nih soal dipakai Instagram story kayak gimana? Nah, kayak begini nih. Halo, Soop. Ini adalah hasil Instagram story menggunakan Poco M7 Pro tapi langsung dari aplikasi Instagram-nya langsung. Nanti bandingin sama yang satu lagi video satu lagi Instagram story dengan cara merekam dari aplikasi kamera langsung baru di-upload ke aplikasi Instagram. Nah, sekarang kalian bisa lihat bedanya dan kalian bisa menilai sendiri bagusan yang mana. Habis kamera depan sekalian aja ya ke kamera belakang walaupun kagak ada yang nanya ya. Untuk kamera belakangnya. Nah, kamera Poco M7 Pro ini ada kelebihannya itu dia sekarang pakai OIS ya. Jadi kalian bisa lihat untuk hasil videonya tuh jelas terlihat lebih stabil daripada smartphone yang enggak pakai OIS. Dan untuk detailnya kalian bisa lihat seperti ini. Dan sedikit dapat dep off field di bagian belakang kalau misalnya video dari e jarak dekat dan kalau misalnya pakai jalan lagi, Teman-teman bisa lihat kalau hasilnya ini ee cukup bisa dibilang stabil lah buat smartphone yang dijual kurang dari Rp3 juta. Dan satu hal lagi yang pengin saya mention adalah sebenarnya kalau ngomongin warna, warna dari daun-daun eh rumput ini tuh terlihat lebih hijau ya di video ketimbang e aslinya. Jadi saturasi warnanya tuh ditinggiin sama Poco M7 Pro seperti itu. Oh ya untuk resolusinya maksimal di 1080p aja dan sekali lagi eh cuman bisa merekam di 30 fps. Disayangkan tapi ya udah harga segini mah terima aja ya. Ada anjing lagi balik gua. Nah, pertanyaan selanjutnya ini agak mematikan ini sebenarnya. Bisa bersaing enggak sih Poco M7 Pro ini sama HP dari brand King Phoenix? Wah, spesifik banget ya ini ya. Oke, ini pendapat saya ya. Smartphone 2 jutaan dari Infinix contohnya Note 54G kali ya yang harganya tuh enggak jauh beda. Di sisi desain mungkin kalah ya si Poco ini. Infinix Note 50 4G tuh pakai desain yang lebih industrial dan frame-nya tuh aluminium. Solid banget rasanya. Beda sama Poco M7 Pro yang pakai frame polyarikarbonat alias e plastik. Mungkin itu juga kali ya. Enggak ada netizen yang nanya soal desain dari Poco M7 Pro karena tahu sektor desain ini nih bukanlah hal yang jadi perhatian utama. Desain Poco M7 Pro sendiri menurut saya masih terlihat cakep. Poco itu enggak ngasih bagian belakang yang polos doang, warna hijau dan motif 2 ton dengan aksen seperti pasir pantai yang berkilau kalau kena cahaya. ini tuh buat saya tuh masih terlihat keren gitu nih. Kalian bisa lihat kan? Ah, cakep dah. Kalau pertanyaannya bisa bersaing apa enggak, iya jelas bisa. Mungkin kalah di material desain, tapi speknya nih lebih bagus. Chipsetnya lebih kencang. Layar juga sama ya masih e sama-sama AMOLED dan udah 5G lagi. Jelas HP ini bisa bersaing. Tapi kalau pertanyaannya kayak nafile seperti ini, nih jelas akan lebih kompleks lagi situasinya. Di smartphone 2 jutaan saingannya nih memang sulit sekali. Ada Techno Common 40 yang kamera itu buset kenapa bisa bagus itu fotonya ya? Atau Motorola G45 yang punya desain cakep. Hasil videonya juga stabil walaupun enggak ada OIS dan dukungan software-nya juga oke. Terus juga ada Vivo Y29 yang baterainya gede. Realme C75 yang tahan banting juga ada. Sumpah ganas-ganas banget saingannya. Cuman Poco M7 Pro ini masih punya kelebihan di sisi chipset. CPU-nya paling ngebut jika dibandingkan sama smartphone 2 jutaan lain. Jadi kalau nyari smartphone paling enggak nge-lag dan paling responsif di harga R jutaan, ya Poco M7 Pro ini yang terbaik. Tapi kalau nyari sektor lain selain performa, nah itu mungkin ceritanya lain lagi. Kami juga melihat ya kejanggalan lain dari chipset Mediatch Density 725 Ultra yang dipakai Poco M7 Pro ini. GPU-nya tuh juga somehow agak lebih underperform ketimbang contohnya Motorola G45. Tapi karena CPU-nya ini ngebut jadi buat dipakai main game moba itu tuh masih ngangkat. Agak unik aja ini chipsetnya. Mungkin memang didesain buat ngasih experience yang lebih baik pas dipakai kegiatan harian ya, kayak WhatsApp, sosial media, dan browsing. Kesimpulannya, Poco M7 Pro ini adalah smartphone yang layak buat jadi pilihan di harga R jutaan. Csetnya ngebut, baterainya awet, dan kameranya masih kepakai. Iklan juga enggak seintrusif dulu. Sekarang tuh kayak lebih kalem gitu. Mungkin ini karen kalian juga sih pada ngeluh kali ya. Jadi didengar sama Xiaomi jadi dikurangin juga. So, itu dia nanya Poco M7, Bro. E, jadi kalau udah mau beli, ya klik aja icon di bawah aja ya. Di bagian mana ya? Sini apa sini ya? Lupa gua. Keren banget zaman sekarang ada YouTube shopping dah. Yeah.
Video Lainnya
Pasar ponsel pintar kelas pemula sedang berada dalam fase yang mengkhawatirkan, di mana lonjakan harga akibat inflasi global sering kali tidak sebanding dengan...
Langkah ekstrem POCO dalam merombak lini terbarunya melalui POCO M8 Pro memicu perbincangan hangat di kalangan pencinta gadget karena membawa peningkatan...
Persaingan ponsel di kelas harga dua jutaan kini semakin memanas dengan hadirnya tiga penantang kuat yang membawa keunggulannya masing-masing. Pertarungan antara...
Berburu ponsel baru di rentang harga Rp 1 hingga 5 jutaan kini terasa seperti menjelajahi medan perang spesifikasi yang sangat sengit. Menariknya, pergeseran tren...
Desain estetik yang memikat mata rupanya menjadi senjata baru lini teranyar POCO untuk mengguncang pasar kelas menengah. Penampilan fisiknya yang menawan seketika...













