Mending Rakit PC ? RAM Mahal! Mending Beli Laptop ini ! AMD Ryzen 5 Copilot+ PC (YouTube Video)
Niat mau upgrade RAM biar laptop kencengan. Eh, tapi harganya makin ke sini makin keterlaluan. Semua ini gara-gara dunia per AI ya. Tapi memang AI itu enggak perlu dilawan. Kita kalau bisa harus hidup berdampingan. Fenomena RAM ini jadi bukti kalau tren AI itu bukan cuma ilusi, bahkan makin ke sini makin diakselerasi. Ya udah daripada jadi oposisi selamat menonton yang selalu kemakan janji petinggi negeri. Hai Andika, guys di sini gila ya kalau kita ngomongin RAM, RAM untuk 16 GB itu sekarang pas saya cek harganya itu di Rp3.700 udah setara sama laptop seleron. Gila naiknya lima kali lipat. Kenapa bisa kayak gitu? Ya, karena AI sih banyak perusahaan AI itu yang langsung ngambil RAM dari pabriknya sehingga pabrik-pabrik yang bikin RAM ya kayak enggak mau ke consumer karena di AI aja udah cukup cuan. Karena AI itu butuh memori besar ya, terutama buat server AI yang lagi booming di industri dan itu ngerebut jatah RAM yang seharusnya buat kita. Enggak percaya? Coba deh kita jalankan AI on device pakai amuse AI saat kita generate text to image, RAM usage-nya bisa langsung tembus di 14 GB. Sementara RAM default awalnya cuma 4 GB-an. Nah, makanya salah satu standar laptop EI itu kuncinya ada di RAM 16 GB itu minimal ya. Kalau misalkan enggak 16 GB sih ya bisa. Tapi laptopnya bakal lumayan ngos-ngosan. Tadi kita udah sepakat ya kalau AI itu enggak usah dilawan, kita hidup berdampingan aja. Karena memang ya harus diakui dengan adanya AI semua kerjaan itu kebantu. Contohnya kayak saya pribadi, misalkan saya bikin script, saya bisa langsung bikin script dengan cepat karena saya enggak perlu research artikel satu persatu, tinggal tanya aja ke AI. Terus kalau mau nyari file, beresin ide sampai ngebantu meeting biar lebih rapi bisa pakai AI. Kayak punya asisten kecil yang standby 24 jam, tapi dia tinggal di dalam laptop ya, bukan di grup WA. Dan pas juga nih sekarang di depan saya udah ada laptop dengan Windows Copilot Plus PC yang prosesornya itu base-nya pakai AMD Ryzen 5 AI 330 yang bisa dibilang anak paling bontot alias SKU paling entry di kelas AMD Ryzen AI 300 series. Tapi meskipun dia yang paling entry, paling terjangkau dia punya 50 tops 50 trillion operation per second. Nah, prosesor untuk kelas entry level yang lain setahu saya belum ada yang punya 50 tops deh. Nah, dengan NPU-nya ini kalau kita generate text to image, kalau kalian butuh generate gambar yang lebih detail dengan prome yang cukup kompleks, Jager Note akan lebih cocok tapi ya agak nunggu lebih lama. Tapi kalau kalian pengin buat yang lebih simpel dengan prom sederhana bisa pakai stable diffusion XL Turbo dengan waktu yang lebih cepat juga. Pengujian kita di Jager Note itu 2 menit 21 detik. Di stable diffusion itu XL turbo di 7 detik. Kenapa kencang ya semua ini? karena NPU-nya 50 tops. Dan untuk prosesor entry level dari AMD ini juga dimasukkan sama Asus D class yang kalau dibilang entry level banget enggak. Ini adalah Asus Vivubook M1407KA yang tadi prosesornya udah kita spill ya. Jadi dia pakai Ron AI 5330 yang punya 4AT core CPU di mana ada satu core Zen5 yang bisa boost sampai 4,5 GHz dan 3 core Zen 5C yang sedikit lebih lambat di 3,4 GHz. Tapi poinnya memang di situ karena tiga prosesor Zen 5C tadi bikin prosesornya lebih irit dan efisien. Jadi bisa kayak saya bisa tahan berjam-jam. tahan berjam-jamnya bukan di area situ ya, tapi di area kalau misalkan saya habis kerja bisa langsung pedle futsal lagi tuh saya tahan tuh berjam-jam di situ. Laptop Asus ini punya kapasitas baterai yang sebenarnya enggak gede cuma 42 wat hour padahal idealnya ya seharusnya 50 watt hour. Tapi karena prosesornya yang efisien tadi di pengujian kita di PC M dengan simulasi kantoran kita dapat waktu lebih dari 10,5 jam. 42 watt hour doang dapat 10 jam lebih. Berarti memang efisien prosesornya. RAM bawaan laptop ini di 16 GB dengan 5600 megfer. Tapi kalau masuk kelas AI CPU entry level, support speed RAM-nya bisa sampai 8.000 mefer per. Tapi kalian pilih mana kalau misalkan LP bisa 8.000 mefer per second atau yang bisa di-upgrade tapi speed-nya turun ya karena ini udah 16 GB. Kalau saya pribadi sih pilih yang LP enggak masalah ya. Untuk storage-nya di 512 GB nvmi G4 yang speed-nya kencang di read-nya itu 6600 Mbps. W-nya ada di 3600-an Mbs. Nah, yang menarik di laptop ini di sini nih pas kita tes pakai benchmarx sintetis di Signus Bench R23. Kita coba dulu dengan kondisi laptopnya dicas atau mode adapter. Dan average-nya dia nunjukin dapat skornya itu di R8.000-an. Sedangkan pas kita coba di mode baterai only alias enggak pakai charger turun sih, tapi enggak banyak di 7.700-an 700-an poin. Nurunnya cuma sekitar 2,9%. Padahal biasanya laptop Windows kalau misalkan enggak pakai charger, wah turunnya itu bisa dua kali lipat. Tapi beneran deh, saya sudah pernah coba beberapa prosessorizen AI dan semuanya itu punya performa yang stabil mau dicas atau tanpa dicas. Kalau untuk temperaturnya ketika di CineBZ R23 kondisi plugin tadi SP spek-nya di 90 derajat Celcius. Tapi kalau kita lihat power-nya dia butuh cuma sekitar 40-an watt. Sama ketika mode baterai only spek-speknya di 90 derajat celcius dengan power juga sekitar 40-an watt. Jadi memang tidak ada penunan performa dari package power-nya. Karena prosesornya ini efisien pas kita tes di 3DMA dengan time space test yang berarti di loop sebanyak 20 kali, hasilnya dia lolos dengan skor yang hampir sempurna loh ya 99,2%. Terus kalau untuk skor spy fire strike solar B-nya kalian bisa langsung lihat di sini aja. Dan dengan skor itu tadi, jelas sebenarnya ini bukan skor yang cocok untuk game berat ya. Jangankan Cyberpunk atau Black Meid Wukong, di aja dia agak ngos-ngosan. Tapi untungnya AMD ini ngasih fitur yang bakal bagus untuk nge-bost performanya. Pertama ada namanya VGM atau variable graphics memory. Jadi kita bisa set nih V RAM-nya untuk pinjam dari memori RAM itu 1 sampai 2 GB atau 512 MB sampai ke 8 GB atau setengah dari RAM kalian. Tapi perhatikan juga karakter game-nya ya. Kalau misalkan game-nya itu kayak Valoran atau Dota 2 yang memang dia CPU bonet, mending share RAM-nya itu dibuat kecil aja. Contohnya kayak pengujian kita di Valoran dengan 51 MB, kita bisa dapat rata-rata itu di 137 FPS dengan maksimalnya bisa tembus 182 FPS. Tapi saat kita ganti ke vira maksimal kita cuma dapat rata-rata di 88 FPS dan maksimal 124 FPS aja. Karena Valoran memang sebenarnya dia enggak butuh grafik. Kalau Dota 2 gak terlalu berdampak banyak. Rata-rata di 70-an FPS dengan resolusi full HD dan grafik fastest. Minimum dan maksimumnya juga mirip-mirip. Yang lumayan di game WA ya seperti yang saya omong sebelumnya secara skor sintetis memang bukan untuk game triple A bahkan untuk WOA. Tapi dengan VAM 8 GB FPS-nya lumayan naik sekitar 30-an%. Kasusnya mirip seperti di gameing wave di Cyberpunk kalau cuma naikin VAM walaupun FPS-nya naik tapi tetap aja enggak playable. Tapi AMD ini punya solusi dengan AMD Fluit Motion Frame atau AFMF 2.1. teknologi yang membuat tampilan game atau video lebih halus dengan cara menambahkan frame tambahan otomatis di antara frame yang ada. Hasilnya bisa dongkrak FPS sampai dua kali lipat. Jadi, salah satu implementasi AI itu bakal kayak gini. Kalau kalian ngikuti teknologi IGP sekarang itu perkembangannya udah gokil banget. Kalau untuk su permukaan pas kita main game juga relatif aman. Untuk valoran itu suhunya cuma di kisaran 68 derajat Celcius dengan power sekitar cuma 30 watt. Terus di Dota 2 juga wah malah lebih rendah ya 56 derajat celcius dengan powernya cuma butuh sekitar 16 watt. Dan dengan suhu pengujian game tadi, suhu permukaannya juga enggak kepanasan kayak kita dengerin ya omong-ngomongnya pejabat di negeri Konoha. Suhu tertingginya cuma ada di 41 derajat Celcius, sedangkan WASD itu cuma di 37 derajat celcius aja. Hasil real rendering-nya juga kencang pas kita coba Adobe P Pro dengan template yang memang bisnis kita pakai. Xort 4K dia selesai dalam waktu 7 menit 19 detik. Full HD 4 menit 55 detik. Kalau untuk blender CPU rendernya di 5 menit 41 detik. GPU rendernya di lebih kencang malahan ya 4 menit 3 detik. Dan kalau kita ngomongin kerjaan kantoran aja, wah ini sih udah overkill ya kayak PowerPoint. Kita coba 150 slide kita eksport ke PDF. Dia selesai cuma dalam waktu 11 detik. Kalau untuk Excel random base data yang large itu di 34 detik. Oh ya, ngomongin soal Office, laptop ini udah include preinstal Windows 11 dan juga Office Home 2024 ya. Jadi tinggal pakai aja. Kalau masih pakai Windows 10 ke bawah, mending update segera ke Windows 11. Kenapa? Karena Windows 10 per tanggal 14 Oktober kemarin itu supportnya udah habis. Dan sekalian di Windows 11 kalian bisa nyobain banyak fitur EAI yang disediain Microsoft dan dengan prosesor yang punya 50 tops, RAM 16 GB dan storage 512 GB kayak di Vivobook ini, kalian sudah bisa pakai laptop dengan kategori laptop copilot plus PC. Emang gunanya apa sih copilot plus PC ini? Banyak ya. Contohnya kalau di tim DKID itu hampir tiap minggu kita akan ada meeting sama brand Windows Studio Effect ini bakal kepakai banget mulai dari background blur, auto frame sampai iye contact. Dan Windows Studio Effect ini jalan pakai NPU. Jadi kerja prosesornya akan lebih ringan dan NPU-nya cuma jalan gak sampai setengah watt. Dan kalau beban ini dihandle CPU bakal makan daya yang lebih gede. Nih kita coba lihat untuk NPU-nya pas pakai Windows Studio Effect di 30-an% dan yang sangat-sangat kepakai sama tim DKID ada yang namanya Windows Recall. Entah kenapa sampai sekarang itu statusnya beta padahal udah lumayan matang ya menurut saya ya. Dia akan ng-record semua aktivitas kita. Enggak cuma record, kita juga bisa cari file cuman buy kata kunci yang kemarin kita pakai. Bahkan by. Lalu ada cocreation di PIN. Ini udah sering kita bahas. Intinya dengan AI enggak perlu gambar, cuma perlu pintar buat prom dan otomatis menghasilkan gambar yang berkualitas. Live caption juga bakalan sering kepakai kalau misalkan kalian meeting dengan kayak di KID itu kadang meeting sama orang Cina. Saya enggak tahu bahasanya. Dengan live caption saya bisa ya dikit-dikit tahulah ya artinya karena di bawahnya ada trade slate-nya. Lanjut ada copilot click to do. Ini fitur yang praktis banget. Kalau kalian lagi lihat gambar atau browsing dan ada yang menarik, cukup tekan Windows plus Q dan langsung copy text dari gambar tersebut. Bisa juga buat iris objek yang enggak perlu background bisa atau bahkan remove background. Enggak perlu aplikasi tambahan. Semua bisa langsung dikerjain di laptop ini. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dikerjakan dengan copilot plus PC. Itu tadi kalau dari perspektif di KID ya. Atau mungkin kalian pernah pakai copilet plus PC untuk kerjaan kalian. Coba deh tulis di kolom komentar karena saya juga penasaran bisa buat apa aja. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video kita kali ini. Dan kesimpulannya si Ryzen 5 AI 330 di laptop vivobook ini memang bukan buat mesin ngegas game triple A, tapi performanya udah cukup gokil lah buat otak laptop AI apalagi di kelas entry level dan bisa gaming tipis dengan MPU-nya 50 tops, RAM-nya 16 GB, SSD ngebut dan baterainya walaupun secara kapasitas kecil ternyata tahan lama 10 jam lebih. Kalau kalian ada rencana untuk pinang laptop, mending perhatikan yang ada sertifikasinya Cilot Plus PC kayak di Asus sama AMD ini. Dan harganya mirip-mirip sama dayan baterainya di PC Max 10 tadi ya, Rp10 juta. Dan untuk RAM 16 GB ketika video ini dibuat ya Rp10 juta ya. Kalau misalkan tahun depan naik karena gosipnya memang tahun depan naik ya jangan salahin saya. Intinya di era sekarang hidup berdampingan dengan AI bukan lagi pilihan ya, tapi kebetulan laptop AI seperti ini jadi bukti nyata kerjaan harian mulai dari meeting, editing sampai bikin konten bisa dibantu langsung. lewat fitur-fitur AI bawaan di Windows 11. Tapi memang untuk ngelakuin AI AI ini dibutuhin spesifikasi yang lumayan tinggi. Yang minimal laptop inilah Ryzen AI5 dengan RAM 16 GB itu udah okelah. Kalau RAM-nya cuma 4 GB atau 8 GB bisa sih, tapi bakalan lebih lama kalau misalkan kita dikerja kreatif terus kelamaan idenya keburu hilang. Overall laptop ini udah siaplah. Laptop dengan Ryzen 5 AI330 plus cilot plus PC udah siap untuk kita hidup berdampingan dengan AI untuk nemenin aktivitas kerjaan kita seharian. Plus bonus kalau misalkan kalian butuh hiburan di sela-sela kerjaan kalian yang mungkin udah kelar. Saya budye.
