Jungkat

Mending Windows atau SteamOS di Legion Go S? (YouTube Video)

  • 27/09/2025

Ini bukan Legend GoS biasa karena yang ini sudah pakai Steam OS ya karena Steam OS sudah resmi mendukung Legend GoS. Video kali ini akan sedikit berbeda dari biasanya karena kali ini kita akan cobain performa Legend Go Steam OS. Setelah itu kita juga akan bandingkan performanya saat pakai Windows. Tapi untuk kali ini saya serahkan langsung ke Rifki ya. Oke, video kali ini mungkin akan sedikit berbeda ya dengan video yang biasa kita bikin di channel ini. Karena seperti yang udah dibilang sama Mas Dedi di awal tadi, kali ini kita akan membandingkan performa gaming di Legend Go saat menggunakan Steam OS dan saat menggunakan Windows. Kalau ada yang nanya, "Kenapa sih kami baru bikin video ini sekarang?" Nah, ini kemarin tuh jadi ceritanya saat kita browsing kami enggak sengaja menemukan tutorial instalasi Steam OS yang resmi dari website Lenovo Indonesia. Jadi ini udah resmi ya. Bahkan dari Lenovo sendiri itu menyediakan tutorial instalasi Steam OS gitu. Karena ada tutorial resmi, kalau misal kalian mau instal Steam OS udah enggak bingung, udah ada cara resminya. Jadi sekarang kita akan sekalian tes perbedaan performanya. Selain itu kami juga sempat menemukan ada BIOS update baru untuk Legend GOS di akhir bulan Juli awal Agustus kemarin ya. Jadi sekalian aja kita tes siapa tahu ada perbedaan performa kan dengan yang sebelumnya. By the way, kita juga udah pernah bikin video review lengkap Legend Go S ya saat barangnya pertama rilis di Indonesia. Buat yang penasaran dan belum pernah nonton, mungkin bisa langsung cek video itu terlebih dahulu. Tapi buat yang udah pernah nonton, mungkin sekarang kita bisa mulai bahas spesifikasi singkat dari Legend GoS ini untuk me-refresh ingatan kita soal perangkat yang satu ini. Untuk prosesornya yang satu ini menggunakan AMD Ryzen Z2 GO. Code name-nya Rem Brand Air Arsitektur Zen 3 plus fabrikasi TSMC 6 nanom Finfet. Total dia punya 4 core 8 trad dengan base clock di 3 GHz dan maksimum boost clock di 4,3 GHz. Configurable TDP di 15 sampai 30 wat dan L3 cas memory ada di 8 MB. Untuk IGP-nya yang satu ini menggunakan AMD Radion Graphics dengan arsitektur RDN2. Yang satu ini punya total 12 compute units dengan total 768 shaders. RAM-nya 16 GB LPDDR 5X 6400 dual channel on board. Jadi enggak bisa di-upgrade ya karena yang satu ini udah onboard. Untuk SSD-nya dia ada 122 TB NVM PCI Gen 4. Yang satu ini menggunakan SSD ukuran 2242. Tapi untuk pengujian kali ini kita ganti SSD-nya untuk memudahkan saat kita ngetes nanti. Di pengujian kali ini kita menggunakan SSD M.2 PCI Gen 4 dengan kapasitas 4 TB ukuran 2280. Dulu pernah kita tes SSD yang satu ini kecepatan read dan rate-nya ada di kisaran 5000 MB/s. Untuk kapasitas baterai yang satu ini ada di 55 wat hour. Dan sistem operasi untuk Windows, kita gunakan Windows 11 versi 24H2. Untuk versi Steam OSOS kita pakai Steam OSOS Holo 3.7. Berikutnya kita akan bahas mengenai penjelasan singkat mode performa dan perbedaan power. Sebelum kita bahas lebih lanjut ke perbandingan performanya, kita akan jelaskan terlebih dahulu mengenai mode profil performa yang ada di Windows dan Steam OS. Di Legend Space pada Windows kita bisa menemukan empat profil performa yaitu quiet, balance, performance, dan custom. Di mode custom kita bisa mengatur power limit yang lebih detail dibandingkan saat menggunakan Steam OS. Di sini kita bisa atur SPL atau sustain power limit, SPPT atau slow package power tracking, dan FPPT atau fast power package tracking secara terpisah. Selain opsi pengaturan power yang lengkap, di sini kita juga bisa menemukan pengaturan kecepatan kipas yang bisa kita set manual. Nah, opsi kipas ini nih yang masih belum ada di Steam OS untuk saat ini. Beralih ke Steam OS-nya, di sini juga ada empat mode profil performa dengan nama yang sedikit berbeda, yaitu low power, balance, performance, dan custom. Untuk mode custom di Steam OS ini lebih simpel ya, karena hanya ada satu slider pengaturan power yang tersedia di sini. Secara default, slider ini ada di posisi maksimum yaitu di 40 watt. Dan untuk pengujian kali ini kita juga akan tes di 40 watt untuk mode custom. Lalu kita masuk ke list game yang akan kita uji di video kali ini. Kali ini ada lima game yang akan kita tes, yaitu yang pertama ada Forza Horizon 4, yang kedua ada Horizon Zero Down Complete Edition. Ini yang versi awal ya, bukan yang versi Remaster. Berikutnya ada Blackmith Wukong, lalu ada Cyberpunk 2077 dan Shadow of the Tomb Rider. Nah, kita akan gunakan fitur internal benchmark dari kelima game tersebut untuk menjaga konsistensi antar. Kita juga akan uji di seluruh empat mode performa yang ada. Setiap mode performa kita akan ulangi sebanyak tiga kali untuk memastikan konsistensi performa saat kita jalankan benchmark. Ketiga hasil ulangan tersebut akan kita buat rata-rata untuk memudahkan saat melakukan pengolahan data. Semua tadi juga akan kita ulang di kondisi tercolok ke charger dan tanpa tercolok ke charger. Jadi 5 game dikali 4 mode performa, tiga ulangan, dan dua kondisi charger. Yang satu pakai charger, yang satu tanpa tercolok ke charger. Dan itu ada dua OS ya. Yang satu pakai Windows, yang satu pakai Steam OS. Jadi total ada 240 kali run benchmark. ini lumayan banyak ya. Oh ya di sini perlu diperhatikan bahwa untuk game Shadow of the Tomb Rider yang kita jalankan di Steam OS adalah versi Native Linux. Jadi untuk game yang satu ini mereka punya versi native Linux-nya. Jadi gameennya bisa jalan di Steam OS tanpa bantuan Proton ya. Ya, sekarang kita langsung masuk ke perbandingan performanya. Game yang pertama ada Forza Horizon 4. Untuk game yang satu ini kita jalankan di resolusi 1200p high tanpa upscaling. Dan pertama kita tes di Windows. Hasilnya saat tercolok ke charger. Di mode custom dia mencapai 56,7 FPS, di mode performance 55 fps, di mode balance 42,7 fps, dan di mode quiet 24 fps. Sedangkan saat tidak tercolok ke charger di mode custom mencapai 55,7 FPS, di performance 53 FPS, di mode balance 36,3 FPS, dan di mode quiet dia ada di 25 fps. Jadi kelihatan ya untuk mode balance penurunan performa saat dicolok ke charger dan tanpa charger itu beda jauh banget. Seperti yang bisa kalian lihat di grafik yang satu ini, penurunannya sekitar 14,9%. Tapi untuk mode yang lain ini masih bisa ditolerir ya. Berikutnya kita tes di Steam OS. Saat dicolok ke charger di mode custom mencapai 74,3 FPS. Ini tinggi banget. Kalau tadi ada di 50-an yang ini 74,3. Di pondo performance dia mencapai 71 fps. Di mode balance dia mencapai 56,3 fps. Dan di mode low power dia ada di 33,3 fps. Kemudian kita juga akan bandingkan saat kondisi tidak tercolok ke charger. Untuk mode custom dan performance ini hasilnya mirip ya saat tidak tercolok ke charger di 73 FPS dan 69,7 FPS. Perbedaan yang signifikan baru terlihat di mode balance dan low power. Di mana untuk mode balance hasilnya hanya mencapai 41,7 FPS atau turun sekitar 25,9% dari kondisi saat dia dicolok ke charger. Sedangkan untuk mode low power dia ada di 28 fps. Ini turun sekitar 15,9%. Lalu bagaimana perbandingannya dengan Windows? Bisa dilihat dari grafik yang satu ini, apapun mode performanya, Steam Oos memberikan average frame rate yang lebih tinggi dibandingkan mode Windows. Hampir di seluruh mode performa perbedaannya itu mencapai 30%. Tapi di mode balance dan low power atau quiet saat tidak tercolok ke charger, perbedaan performanya turun hanya sekitar 10 sampai 15%. Beralih ke game berikutnya ada Horizon Zero Down Complete Edition. Untuk game yang ini kita jalankan di resolusi 1200p dengan setting grafis favor tanpa upscaling. saat dicolok ke charger di mode custom itu dia ada di 33,7 fps. Di mode performance mencapai 33 fps. Di mode balance 28 fps. Dan di mode quiet ada di 14,7 FPS. Saat dia tidak tercolok ke charger. Di mode custom dia ada di 36,7 FPS, di mode performance 36 fps, di mode balance 24,3 fps, dan di mode quiet dia ada di 16 fps. Kalau dilihat dari grafik yang satu ini untuk mode custom, performance dan quiet saat enggak dicolok charger itu malah performanya bisa sedikit lebih tinggi ya dengan perbedaan sekitar 10%. Ini unik ya, menarik nih. Kemudian untuk mode balance perbedaannya ada di sekitar 15%. Berikutnya kita tes di Steam OS. Hasilnya saat dicolok ke charger. Di mode custom dia mencapai 48 fps. Di mode performance dia mencapai 46,3 fps. Di mode balance dia mencapai 30 fps. Dan di mode low power dia ada di 20 fps. Sedangkan saat kita tes tanpa charger di mode custom dia ada di 47 fps. Di mode performance dia ada di 45 fps. Di mode balance dia ada di 28,3 fps. Dan mode low power di 19 fps. Hasilnya ini terlihat masih mirip ya. Perbedaannya enggak terlalu signifikan lah, cukup konsisten untuk yang satu ini. Nah, kalau kita bandingkan dengan Windows, yang ini cukup mengejutkan karena di mode custom dan performance perbedaannya tuh bisa mencapai 40%. Ini udah tinggi banget ya perbedaannya. Sedangkan di mode balance perbedaannya ada di kisaran 5 sampai 10% dan untuk mode low power atau quiet perbedaan performanya kembali terlihat drastis yang mampu mencapai 30% saat dicolok ke charzer. Game berikutnya kita ada Black Myth Wukong. Untuk game yang satu ini kita jalankan di resusi 1200 payow FSR on di 60% dan frame generation-nya kita matikan. Pertama-tama kita tes di Windows hasilnya saat colok ke charger. Di mode custom mencapai 32 fps, di mode performance mencapai 30,3 fps, di mode balance 21 fps, dan di mode low power ada di 10,3 fps. Berikutnya kita tes saat tanpa charga. di mode custom 32,3 fps, di mode performance 31 fps, di mode balance 21 fps, dan di mode quiet 14 fps. Ini menarik ya, karena dari grafik berikut kita bisa lihat bahwa performanya saat tidak tercolok ke charger itu malah sedikit lebih tinggi daripada saat tercolok ke charger ya walaupun bedanya masih tipis banget ya. Berikutnya kita beralih ke Steam OS. Saat dicolok ke charger hasilnya di mode custom mencapai 39 FPS, di mode performance mencapai 36,3 FPS. di mode balance 26,7 FPS dan mode low power ada di 14,7 FPS. Dan saat dijalankan tanpa charger hasilnya di mode custom tuh dia mencapai 38 fps, di mode performa 36 fps, di mode balance 24 fps, dan di mode low power dia ada di 15,7 fps. Saat dibandingkan dengan Windows perbedaannya terlihat sangat signifikan ya, bisa mencapai lebih dari 20% untuk mode custom, performance, dan balance. Game berikutnya ada Cyberpunk 2077. Untuk game yang satu ini kita bukan dari Steam ya, tapi kita dari GOG. Jadi file-nya itu udah Exe gitu, tinggal dicopy paste. Dan meskipun bukan dari Steam, kita tetap bisa jalankan game-nya kok dengan menggunakan fitur add a non Steam game melalui Steam saat ada di desktop mode. Untuk compatibility layer-nya kita gunakan Proton Experimental. Game-nya kita jalankan di 1200 payload dengan FSR 3.0 performance tanpa frame generation saat dijalankan di Windows untuk kondisi tercolok ke charger. Di mode custom, rata-rata frame rate ada di 41,1 fps. Di mode performance di 40,4 fps. Di mode balance ada di 31,3 fps. Dan mode quiet ada di 14,7 FPS. Sedangkan saat tanpa charger di mode custom ada di 41,57 FPS. Di mode performance ada di 39,56 FPS. Di mode balance ada di 25,64 FPS dan di mode quiet ada di 16,87 FPS. Seperti beberapa game sebelumnya, di mode balance terlihat bahwa rata-rata FPS-nya menurun hingga 18%. Tapi untuk tiga mode lainnya, perbedaan performnya masih tidak terlalu signifikan, ya. Berikutnya kita tes di Steam OS untuk kondisi tercolok ke charger. Di mode custom, rata-rata frame rate-nya ada di 57,4 FPS. Di mode performance ada di 54,8 FPS. Di mode balance ada di 39,32 FPS dan mode low power ada di 26,5 FPS. Saat chargernya kita lepas, hasilnya di mode custom rata-rata frame rate ada di 57,3 fps. Di mode performance ada di 53,41 fps. Di mode balance ada di 30,3 fps. Dan di mode low power dia ada di 20,2 fps. Saat dibandingkan dengan Windows untuk kondisi yang kecolok ke charger untuk mode custom peningkatannya terlihat sangat besar ya mencapai 39%. Di mode performance juga cukup besar di 35%. Untuk mode balance dia ada di 26,4% dan mode quiet atau low power saat tercolok ke charger ini juga sangat mengejutkan sih karena peningkatan performanya itu bisa mencapai 80%. Nah, ini agak aneh sebenarnya soalnya perlu diperhatikan saya sendiri ngetes ini diulang tiga kali jadi hasilnya ya segitu aja gitu. Nah, tapi saat dibandingkan dengan kondisi tanpa charger untuk Steam OS lawan Windows, grafik perbandingannya ini masih mirip ya sebenarnya seperti yang tadi. Yang terlihat beda jauh sih di mode quiet atau low power yang kalau tadi itu peningkatannya mencapai 80% sekarang ada di 19,7%. Game terakhir yang kita uji kali ini adalah Shadow of the Tomb Raider. Seperti yang tadi sudah dijelaskan untuk game yang satu ini kita menggunakan versi native Linux-nya di Steam OS. Game-nya kita jalankan di 1200 payow tanpa upsaling. Dan hasilnya saat kita jalankan di Windows dengan charger di mode custom hasilnya ada di 40 fps. Untuk mode performance dia di 39,7 fps. Di mode balance dia ada di 21,7 fps. Dan mode quiet dia ada di 13 fps. Kalau dijalankan tanpa charger, mode custom hasilnya di 40 fps, mode performance di 39 fps, mode balance di 23,7 fps, dan mode quiet dia ada di 16 fps. Nah, jadi bisa dilihat dari grafik yang satu ini untuk mode custom dan performance hasilnya sangat mirip ya. Perbedaan yang cukup signifikan baru terlihat di mode balance dan quiet di mana hasil saat tidak tercolok ke charger itu bisa lebih tinggi sekitar 10 sampai 20-an%. Masuk ke hasil pengujian di steam OS dengan charger. Di mode custom hasilnya mampu mencapai 52,3 FPS. Di mode performance dia ada di 50 fps. Di mode balance 35 fps. Dan mode low power dia di 26,7 FPS. Lalu saat chargernya kita lepas, hasilnya di mode custom itu ada di 49 fps, mode performance di 47 fps, mode balance di 28 fps, dan mode low power dia ada di 19,7 FPS. Nah, kalau dibandingkan dengan performa saat Windows, bisa dilihat dari grafik yang satu ini. Hasil di mode performance dan mode custom saat tercolok ke charzer dia ada di kisaran 28 sampai 30%. Peningkatan juga terlihat di mode balance dan low power mirip seperti game-game yang sudah kita jalankan sebelumnya. Nah, setelah kita sama-sama melihat hasil pengujian tadi, ini ada beberapa kesimpulan yang bisa ditarik. Yang pertama, kalau kita lihat dari segi performa, segi frame rate per second dari game-game yang sudah kita uji, banyak game yang memang mampu berjalan di Steam OS dengan lebih lancar meskipun menggunakan compatibility layer seperti Proton. Dari seluruh game yang kita tes memang terlihat bahwa Steam OS mampu menjalankan game-game tersebut dengan frame rate lebih tinggi, baik saat dicolok ke charger ataupun tanpa charger. Kemudian apa hal yang perlu diperhatikan saat kita ingin menginstal Steam OS di perangkat yang satu ini? Pertama, untuk saat ini Steam OS tuh masih punya banyak limitasi bagi pengguna awam atau average user yang kurang ngerti teknologi gitu ya. Contohnya saat proses instalasi sistem OS yang cukup ribet untuk orang awam. Kita harus download image file-nya dulu, habis itu bikin bootable di USB, lalu masuk ke BIOS untuk mengubah boot menunya. Jadi emang lumayan agak ribet untuk orang awam. Dan berikutnya ini masih banyak game yang belum support jalan di Linux atau Steam OS. Terutama nih game-game dengan anti cheat yang memang tidak support Linux. Contohnya ada EA Sport FC, F1, Apex Legend atau Valoran. Ini semuanya masih belum bisa jalan di Linux. Kemudian saat kita beli Legend GoS itu kita juga dapat gratis berlangganan PC Game Pass selama 3 bulan. Dengan PC Game Pass ini kita udah enggak perlu beli game lagi. Kita bisa download langsung di Microsoft Store dan ini gratis tapi game-nya tetap original ya. Jadi kalian enggak usah beli game lagi. Tapi saat kalian pindah ke Steam OS tentunya kita enggak bisa memanfaatkan benefit-benefit yang kita dapat dari game Pass ini. Kemudian buat yang punya game dari market pihak ketiga seperti Ubisoft Connect atau mungkin kalian sering klaim game gratis yang ada di Epic Game Store. Nah, ini sebenarnya masih bisa jalan ya, tapi caranya lumayan rumit. Balik lagi ke poin di awal tadi, emang masih kurang cocok untuk pengguna awam gitu. Jadi emang ya kalau kalian memang sering menggunakan market selain steam dan malas otak atik gitu atau kurang paham tentang Linux, penggunaan Windows masih jauh lebih menarik. Berikutnya buat kalian yang pakai Legend GoS sambil kerja misal dicolok ke monitor eksternal gitu, dicolok ke lalu dipakai buat ngetik dan sudah terbiasa menggunakan ekosistem Windows atau mungkin memang kalian banyak menggunakan software-software yang ada khusus di Windows, sepertinya akan lebih menarik kalau memang pakai Windows, bukan pakai Steam OS. Tapi tentunya kalau kalian memang gunakan Legend GoS ini hanya murni untuk keperluan gaming. Jadi kalian pengin main game mobile dan game yang kalian mainkan itu memang bisa berjalan di Steam OS tanpa masalah, harusnya pakai Steam OS akan terasa sangat menarik nih. Selain hasil pengujian yang tadi terlihat lebih tinggi, Steam OS tuh punya beberapa kelebihan yang Windows tidak miliki. Seperti di Steam OS dia punya hardware monitor yang sangat lengkap. Bukan hanya bisa cek frame rate, CPU usage, IGP, serta load dari RAM. Kita juga bisa cek total daya yang ditarik dari baterainya. Ini mencakup penggunaan layar dan speaker ya. Di sini kita bisa lihat total daya yang dipakai berapa dan dari situ kita juga bisa lihat ada perkiraan durasi daya tahan baterainya. Contoh kayak gini. Legend GoS ini punya baterai dengan kapasitas 55 watt hour. Saat perangkatnya menarik daya 27,5 watt dari hardware monitornya akan mengkalkulasi dan memperlihatkan bahwa perangkatnya bisa bertahan hingga 2 jam gitu. Jadi ini lumayan akurat ya. Fitur yang satu ini masih belum tersedia secara default di Windows dan kayaknya susah juga sih untuk fitur yang satu ini buat dibikin overlay yang lengkap kayak gini di Windows. Berikutnya, Steam punya fitur slip yang benar-benar keren. Fitur slip ini memakan daya yang super rendah dan bisa diakses dengan menekan tombol power. Ini langsung ke slip ya, mirip seperti smartphone. Tidak seperti Windows yang saat kita nyalakan itu kita perlu menekan tombol power. Lalu kita tekan tombol sign in-nya seperti kalau kalian habis nge-slip laptop. Kemudian kita perlu ngeklik icon game yang entah kenapa secara otomatis ke minimize gitu. Jadi gak langsung diresume di Steam OS dia bisa langsung lanjut ke game-nya. Mirip seperti kondisi slip di gaming konsole modern seperti Nintendo Switch atau PlayStation atau Xbox. Dan yang terakhir, user interface-nya ini asik banget. Benar-benar memang didesain untuk penggunaan konsol bukan seperti Windows yang didesain untuk penggunaan PC dengan keyboard dan touchpad yang lengkap. Pengalaman kita saat pakai Steam OS ini hampir semuanya kecuali menu saat browsing di Steam Store ya itu dia bisa dikendalikan menggunakan joystick dan tombol-tombol yang ada di controller ini. Jadi kita enggak perlu tuh sering-sering nyentuh touch screen kayak kalau di Windows gitu kita hampir enggak menggunakan touch screen-nya saat navigasi menu di Steam OS. Tapi mungkin perlu diperhatikan ya saat kita ubah ke desktop mode di Steam OSOS itu tospad yang kecil ini dia enggak berfungsi. mungkin ada masalah driver di Linux atau di Steam OS-nya, mungkin itu masih perlu diteliti lagi gitu, perlu di-update lagi dari Steam OS-nya. Pertanyaan berikutnya nih, kalau dibandingin dengan Steam Deck gimana? Nah, ini yang menarik. Untuk saat ini harga Steam Deck yang baru itu enggak murah loh. Bahkan saat kami cek di beberapa marketplace online, harganya itu mirip banget saat dibandingkan dengan Legend GoS yang satu ini. Ini untuk varian IPS 512 GB ya, bukan varian OLED. Bahkan ada beberapa yang harganya tuh malah lebih tinggi. Dan untuk varian IPS kebanyakan tuh sudah versi CPO atau certified preown atau kalau menurut nama resminya Valve adalah certified refarbis atau refarbis bersertifikasi. Nah, udah tahulah ya refurbis itu artinya apa. Jadi kita enggak akan bahas di sini nih. Kemudian kalau ngomongin spesifikasi dan performa, Legend Goya performa lebih kencang loh dibandingin dengan Steam Deck. prosesornya dia lebih baru, layarnya lebih gede, resolusi dan refres rate-nya juga lebih tinggi. Selain itu di mode custom-nya Legend GoS ini dia bisa sampai 40 watt. Sedangkan di Steam Deck itu mode customnya secara default dia hanya sampai 15 watt. Berikutnya untuk masalah garansi, SteamD ini garansinya internasional. Nah, internasional artinya tidak resmi di Indonesia. Sedangkan Legend Goya garansi hingga 3 tahun di Indonesia. 3 tahun itu kalau misal kalian beli Legend GoS waktu kelas 1 SMA setelah lulus garansinya baru habis nih. Kalau misal kalian beli perangkatnya pas awal kuliah garansinya habis saat kalian skripsian. Jadi lumayan lama ya ini garansinya. Jadi rasanya untuk kelas harga R jutaan kecil, Legend Go jadi opsi yang jauh-jauh lebih menarik dibandingkan Steam Deck yang tidak resmi itu. Dan kalau memang pengen nyobain Steam OS, kalian bisa instal Steam OS di Legend GoS ini. Udah di-support resmi sama Lenovo, udah ada tutorial resminya juga. Ya, intinya seberapa mau kalian buat ngotak-atik hal itu, gitu ya. Kemudian pertanyaan terakhir nih yang pasti kalian bakal tanyakan di komen. Dual boot aman enggak, Bang? Nah, untuk dual boot ini enggak ada tutorial resmi dari Lenovo ya. Tentunya kalau mau dibikin dual boot itu bisa. Kami juga udah cobain kok dan ini bisa. Tapi kalau kalian mau instal Dual Boot, segala resiko itu kalian tanggung sendiri ya. Do it at your own risk gitu. Nah, jadi itu tadi ya video iseng yang ya ini lumayan panjang ya hampir 30 menit atau malah 30 menit gitu dan semoga kalian enggak bosan dengarnya ya. Kalau kalian suka dengan video iseng yang satu ini atau mungkin punya ide lain, coba tulis di kolom komen di bawah deh. Sekian video iseng yang satu ini. Saya Rifki dari Jagat Review. [Musik]

Lihat di YouTube