Jungkat

META DAN TIKTOK PHK MASSAL !! AI 'MENGUSIK' DUNIA SENI?! HAK CIPTA DAN LEGALITAS DI LANGGAR (YouTube Video)

  • 16/04/2025

Sebanyak 41% perusahaan di dunia berencana mengurangi tenaga kerja pada 2030. Pasalnya, aktivitas pekerjaannya akan digantikan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. [Musik] Teknologi yang semakin berkembang memunculkan banyak inovasi baru yang bisa dimanfaatkan manusia untuk memudahkan pekerjaan sehari-hari. Salah satu inovasi tersebut adalah munculnya artificial intelligence atau yang dikenal dengan nama AI. Banyak hal yang melibatkan AI saat ini dapat ditemui di berbagai hal. Mulai dari media sosial, game, aplikasi transportasi hingga e-commerce. Canada greatest stun. Oh yeah. Selain itu, industri kreatif yang merupakan pemegang kunci dalam pertumbuhan ekonomi dan inovasi di berbagai negara juga tak luput dari invasi AI di dalamnya. 300 juta pekerjaan terancam hilang seiring dengan kemajuan AI di berbagai sektor bisnis. Kecanggihan AI yang meningkatkan efisiensi produksi membuat manusia seakan tidak lagi relevan dengan kemajuan teknologi. AI juga mampu memperluas pasar tanpa perlu tenaga manusia dalam jumlah besar. Hal ini tentu menjadi pertimbangan yang luar biasa untuk para pebisnis dan menjadi ancaman yang cukup serius di berbagai sektor sumber daya manusia. Jadi sebenarnya apakah AI yang bisa diakses oleh semua orang ini memberikan manfaat baik atau keberadaannya justru menjadi ancaman bagi manusia? Kecerdasan buatan atau AI adalah teknologi yang memiliki kemampuan pemecah masalah seperti manusia. AI dapat mengenali gambar, menulis puisi, bahkan musik, bahkan membuat prediksi berbasis data. Tujuan awal AI adalah untuk menciptakan mesin yang dapat melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. ini termasuk memahami bahasa, mengenali wajah, bahkan membuat keputusan medis. Tidak bisa dipungkiri kalau saat ini AI telah meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Mulai dari asisten virtual seperti Siri dan Alexa hingga mobil self driving seperti Tesla yang sudah menggunakan AI untuk menavigasi jalan dan menghindari rintangan. Namun seiring berkembangnya AI yang jadi lebih canggih dan lebih meluas, suara-suara yang memperingatkan terhadap potensi bahaya, kecerdasan buatan pun semakin lantang. Ada apa sebenarnya dengan AI? Di tengah banyaknya pujian pada manfaat AI untuk kehidupan manusia, para miliarder dunia justru membuat petisi mengejutkan. Mike Thomas, salah satu jurnalis teknologi dari situs BuilTin.com menyebutkan pendiri Tesla dan SpaceX Elon Musk bersama lebih dari 1000 pemimpin teknologi lainnya mendesak dalam surat terbuka tahun 2023 untuk menghentikan sementara eksperimen AI berskala besar. Mereka beralasan teknologi tersebut dapat menimbulkan resiko besar bagi masyarakat dan kemanusiaan. Kalau kalian ingat pada tahun 2016 silam dunia sempat dibuat takjub dengan kehadiran robot manusia yang diberi nama Sofia. Sofia adalah robot humanoid yang dikembangkan oleh Hansen Robotics dan dikenal karena kemampuannya untuk berinteraksi dan meniru ekspresi manusia. Sofia juga menjadi robot pertama yang mendapatkan kewarganegaraan dari Arab Saudi pada tahun 2017. Namun dengan segala teknologinya yang canggih dan kepintaran Sofia yang luar biasa, Sofia membuat dunia saat itu cukup terkejut karena pernyataan tentang ingin menghancurkan umat manusia. Do you want to destroy humans? Please say no. Ok, I will destroy humans. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kontroversi yang cukup meresahkan. Bukan hanya bagi mereka yang merancangnya, tapi juga bagi seluruh umat manusia. Komunitas Teknologi telah lama memperdebatkan ancaman yang ditimbulkan oleh kecerdasan buat. Mulai dari penyebaran berita palsu, otomatisasi pekerjaan sampai senjata bertenaga AI yang berbahaya. Dampak AI yang sudah meluas dan paling nyata dirasakan adalah penyebaran berita hoa yang semakin meraja lela. Yang terparah adalah kasus-kasus deep fake yang merugikan banyak pihak dari segi moril sampai sosial. Di Korea Selatan, ribuan foto pelajar disalahgunakan untuk konten pornografi yang kemudian disebarkan lewat jaringan Telegram. Wajah para korban digabungkan dengan tubuh orang lain menggunakan teknologi AI dan menciptakan gambar yang eksplisit dan tidak terpuji. Skandal ini sangat meresahkan sampai-sampai membuat banyak wanita di Korea Selatan menghapus foto-foto mereka di Instagram agar tidak menjadi korban selanjutnya. Kasus ini sangat serius. Sampai-sampai pihak kepolisian Korea meminta bantuan pada Prancis dan kepolisian internasional untuk menanganinya. French abuse traff di Indonesia sendiri kasus penituan melalui deep fake sudah menyerang masyarakat dari berbagai kalangan. PT Indonesia Digital Identity Vida mencatat kasus penipuan menggunakan teknologi di fake di Indonesia sepanjang tahun 2022 hingga 2023 mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu 1550%. Mulai dari para artis ibu kota yang wajahnya dicatut untuk promosi situs judi online sampai yang terbaru terungkap awal tahun ini yaitu kasus defake menggunakan wajah Presiden Prabowo Subianto dan pejabat negara lainnya. Pelaku memakai modus pembagian bantuan sosial dari pemerintah dan meminta sejumlah uang pada para korbannya. Pelaku berhasil memperdaya sekitar 100 orang dari 20 provinsi. Jumlah ini bisa saja bertambah seandainya polisi tidak segera mengusut. Di video Presiden Prabowo, Wakil Presiden Gibran, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani menawarkan bantuan. Video ini benar-benar menipu dan tidak benar. Kasus-kasus ini tentu mengharuskan kita sebagai masyarakat agar lebih waspada dalam menerima informasi dari dunia maya. Dan yang paling penting, jangan mudah memberikan uang pada orang yang baru kita tahu di dunia maya. Bukan hanya deep fake, teknologi AI juga sudah mulai menggantikan banyak pekerjaan yang biasa dilakukan manusia. Mulai dari robot pengantar makanan hingga kasir otomatis yang tidak lagi membutuhkan operator. Bukan hanya sektor bisnis ril, tapi banyak raksasa teknologi yang juga mulai menggunakan AI untuk menggantikan peran manusia. Pemilik perusahaan teknologi meta, Mark Zerberg telah memulai langkah besar dengan memecat hampir 4.000 pegawainya di sejumlah negara di Asia, Afrika, dan Eropa pada Februari 2025 kemarin. Pemecatan masal ini menjadi sorotan global karena melibatkan banyak pegawai yang tersebar di berbagai wilayah. Menurut pernyataan resmi dari Meta, keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk fokus pada pengembangan teknologi artificial intelligence. Bukan hanya meta, platform media sosial terbesar dunia saat ini, TikTok juga melakukan PHK massal yang berdampak pada karyawan mereka di seluruh dunia. PHK ini bahkan dilakukan serempak untuk tim di Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Karena keputusan ini kurang lebih 40.000 profesional TikTok di PHK sebagai bagian dari restrukturisasi. TikTok lebih memilih meningkatkan kecanggihan AI sistem keamanannya, bukan menambah SDM-nya. Salah satu kantor berita terbesar di dunia, Reuters menyebutkan gelombang PHK di perusahaan teknologi terjadi seiring dengan upaya mengurangi beban kerja karyawan lewat adopsi AI dan otomatisasi. Menurut studi Goldman Sak, AI bisa berdampak pada 300 juta pekerjaan di seluruh dunia. Hal ini bisa menyebabkan disrupsi yang signifikan pada bursa kerja. Seiring robot AI yang menjadi lebih pintar dan cekatan, tugas yang sama akan membutuhkan lebih sedikit manusia. Meskipun AI diperkirakan akan menciptakan 90 juta pekerjaan baru pada tahun 2025, banyak karyawan yang ditakutkan tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk peran teknis ini. Dan mereka bisa saja tertinggal jika perusahaan tidak meningkatkan keterampilan tenaga kerja mereka. Bukan hanya sektor bisnis, sektor industri kreatif juga terkena dampak AI. Seni yang dihasilkan oleh AI memang membawa perubahan besar dalam industri kreatif, tetapi juga menimbulkan tantangan baru terutama dalam hal hak cipta, etika, dan keberlangsungan profesi seniman. Dalam beberapa tahun terakhir, seni digital yang dihasilkan AI semakin populer dan memunculkan tren global di mana AI dapat meniru gaya visual seniman terkenal sehingga banyak masyarakat yang menggunakan serta menyebarkannya. Dan pada akhirnya hal ini menimbulkan polemik baru yang membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah AI dalam seni digital ini menjadi alat kreatif baru atau justru menciptakan bentuk eksploitasi terhadap karya seniman dan pelanggaran hak cipta. Belakangan ini ramai beredar di media sosial tren AI yang meniru berbagai macam karya seni dari budaya populer yang ada mulai dari anime, Minecraft, Bart Simpson hingga studio Gibly. Bedanya Gibly secara terbuka menunjukkan kekhawatiran terhadap kemajuan AI serta penggunaannya oleh masyarakat. Gambar-gambar bergaya Spirited Away atau My Neighbor Totoro yang dibuat oleh AI kini banyak beredar di media sosial. menampilkan estetika khas gibi. Warna lembut, garis tangan yang detail, dan atmosfer magis. Besarnya nama Gibli di dunia animasi membuat fenomena AI Gibly berdampak signifikan terhadap chat GPT. Karena tren AI Gibly, platform besutan Sam Altm itu mampu membukukan 1 juta akun baru pengguna hanya dalam 1 jam dan mencatat penggunaan aktif chat GPT sampai menembus angka 150 juta orang. Fenomena ini memang menarik perhatian banyak orang, tetapi juga memicu kontroversi terkait hak cipta, etika, dan masa depan seniman manusia. AI tidak menciptakan karya seni dari nol, tetapi belajar dari gambar-gambar yang sudah ada, termasuk karya dari studio Gibli dan seniman lainnya. Proses ini sering dilakukan tanpa izin dari pemilik asli sehingga menimbulkan risiko pelanggaran hak cipta. Kasus hukum terkait AI dan hak ciptaan mulai mencuak sejak 2023. JTI Image salah satu penyedia foto terbesar di dunia pernah mengukat stability AI karena menggunakan jutaan gambar tanpa izin untuk melatih model AI mereka. Dan pada Desember 24 lalu, Pengadilan Inggris memutuskan bahwa gugatan ini dapat dilanjutkan ke tahap persidangan. Di Jepang isu ini menjadi perbincangan serius terutama karena Studio Gibli terkenal dengan komitmennya terhadap seni tradisional. Hayao Miazaki sendiri pernah menyatakan bahwa seni EA adalah penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri. Dikutip dari Screen Rend dan Japan Goro Miasaki anak master Hayao yang kini menjabat sebagai direktur pelaksana studio Gibli menyuarakan pandangannya soal tren ini. Goro memang mengakui potensi AI, namun menolak gagasan bahwa teknologi bisa menandingi kedalaman emosi karya ayahnya. At the same time, he tells us to start from what we don't understand and explore that topic to the fullest extent. Miazaki focuses on the adventures of children because as he states, we get strength and encouragement from watching children and they bring out that purity of heart. However, that is not to say that his films are childish. Miazaki often explores important themes in his work such as the environment, totalitarian regimes, and war. Penggunaan AI juga harus menghargai karya cipta para seniman. Miazaki mengingatkan seni sejati lahir dari manusia dan bukan dari algoritma. Jika AI terus berkembang tanpa regulasi, maka konflik hak cipta dan krisis kreativitas mungkin tak terhindarkan. Karena seni adalah ekspresi jiwa manusia. Teknologi harus terus berkembang memperkaya dan mendorong kreativitas manusia bukan malah menggantikannya. Dalam survei yang dilakukan oleh PEW Research Center pada 2024, sekitar 66% pekerja kreatif di AIS menyatakan bahwa mereka merasa AI akan mengancam pekerjaan mereka 5 tahun ke depan. Di Jepang, beberapa studi anasi telah bereksperimen dengan AI untuk mempercepat produksi yang memicu kekhawatiran bahwa tenaga kerja ilustrator junior semakin berkurang. Di Indonesia meskipun belum ada regulasi khusus tentang AI dalam seni digital, jika ini terus terjadi tanpa perlindungan yang jelas bagi seniman, apakah ini akan mengancam masa depan industri, ilustrasi, dan animasi di tanah air Indonesia? Apalagi baru-baru ini ada film animasi buatan asli animator Indonesia berjudul Jumbo yang kualitasnya sudah bisa disetarakan dengan kualitas film animasi internasional. Namun jika AI mulai mendominasi produksi seni digital tanpa regulasi yang jelas, seniman lokal bisa kehilangan daya saing. Oleh karena itu, penting juga bagi kita untuk menemukan keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan terhadap pekerja kreatif. Beberapa negara mulai menyusun regulasi terkait penggunaan AI dalam seni. Uni Eropa telah mengadopsi Artificial Intelligence Act pada Maret 2024 yang mulai berlaku pada 1 Agustus 24. Regulasi ini mengharuskan AI untuk memberikan transparansi tentang sumber data yang digunakan dalam pelatihan model mereka. Di Amerika, beberapa seniman telah mengajukan tuntutan hukum untuk memperjelas status hak cipta bagi karya yang dihasilkan AI. Saya rasa Indonesia juga perlu mempertimbangkan kebijakan serupa karena saat ini belum ada peraturan khusus yang mengatur hak cipta dalam AI generated art. Namun dengan semakin maraknya penggunaan AI di industri kreatif, regulasi yang jelas akan dibutuhkan untuk melindungi hak seniman. Karena jika dibiarkan tanpa regulasi yang jelas, AI bisa menjadi ancaman serius bagi industri seni. Oleh karena itu, penting sekali bagi seniman, pemerintah, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan kebijakan yang adil dan berkelanjutan bagi dunia seni digital. Teknologi mungkin memberikan kemudahan luar biasa di beberapa sektor kehidupan manusia, tapi proses terbentuknya sebuah karya yang lahir dari hati akan memberikan kehangatan dan ketulusan di setiap nada dan goresannya. Dan sekarang saya akan berbincang dengan AI paling terkenal sedunia. Selamat siang, Chat GPT. Selamat siang. Gimana kabarnya hari ini? Yeah.

Lihat di YouTube