Midrange dengan TELEPHOTO! vivo V60 Resmi Indonesia (YouTube Video)
Bismillah. Alhamdulillahiabbil alamin. Wasalatu wassalam ala rasulillah. Ini dia Vivo V60, satu buah handphone terbarunya Vivo yang didu as your festival companion. Jadi ya untuk yang doyan nonton festival musik katanya. Tapi gimana kalau misalnya penggunanya alas saya orang yang emang enggak doyan ke festival permusikan? Yuk kita bahas Vivo V60 dari sisi kamera dan juga lain-lainnya untuk penggunaan ala-ala kita yang emang bukan anak musik. Nobech Reviewang Nobotch Review dan Vivo V6 ini udah saya pakai sebenarnya beberapa minggu terakhir. Dan selama beberapa minggu terakhir itu pula ada nih rasa rasa pas lagi makai gitu ya, momen-momen hmm menarik. Nah, itulah momen-momen menarik itu sebenarnya yang pengin kita bahas di handphone ini. Kita mulai dari yang paling simpel banget yaitu adalah masalah fisik atau desain handphone-nya. Vivo V60 yang saya pegang ini bukan hero color-nya ya, tapi tetap ganteng. Warnanya yang saya pegang ini disebut spot light grey. Secara fisik masih ada benang merahnya dengan Vivo V series seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi memang beda ya. Kali ini hadir dengan desain kamera bump dan juga aura light portrait yang udah baru. Desain seperti ini sih kalau untuk saya pribadi memberikan kesan mewah. Menurut kamu gimana? Tulis di kolom komentar kita diskusi. Dan seperti yang saya bilang, garis desainnya Hasifo V series itu masih hadir di sini seperti rounded design dengan tingkat ketipisan 7,5 mili dan juga layarnya 6,77 inci. Panelnya tetap AMOLED dengan refresh rate 120 Hz. Ini bukan HP gaming, tapi tujuan 120 Hz di sini sebenarnya simpel untuk memberikan kita kesan dan juga rasa smooth pas kita lagi pai handphone-nya gitu kan. Dan itu yang emang bisa dibilang dirasain lah penggunaan sehari-hari ya rasanya smoot-smooth aja. Animasinya pun juga masih oke, berpadu dengan Vantage OS15 yang sebenarnya semakin ke sini makin lebih baik walaupun ada beberapa orang yang ngerasa masih perlu peningkatan lebih banyak lagi. Ya enggak apa-apalah room for improvement tetap masih hadir. Kalau untuk saya pribadi secara desain yang harus jadi catatan sebenarnya adalah masalah ketipisannya 7,53 mili tapi baterainya meningkat kapasitasnya dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Dari yang tadinya 6.000 sekarang jadi 6.500 00 mAh dan tetap hadir pula dengan kecepatan nge-charge-nya itu 90 watt flash charge. Ini menarik sih karena baterainya susah banget dihabisin secara terus-terusan ya. Total standby time yang saya punya di handphone ini itu bermain di area 1 hari lebih. 1 hari lebih 10 jam, 1 hari lebih 11 jam gitu ya. Dengan total screen on time bahkan bisa menyentuh 13 jam. Kebayang enggak uji baterainya itu kalau kita coba habisin seperti apa? Ya, ribet dan juga lama pasti ya. Kalau misalnya penggunaannya lagi enggak aktif nih kayak saya beberapa hari terakhir handphone-nya ini lagi lebih banyak ditaruh, wah itu sih 2 hari aja bisa tembus. Nih kalau enggak percaya udah nyala selama 1 hari 10 jam dengan total screen on time masih bermain di 1 jaman aja tapi sisa baterainya 70%. Masih bisa dipakai sampai 2 hari ke depan. Dan ini bisa dibilang ya sebenarnya adalah salah satu keunggulan Vivo V60 yang udah ditunggu sama banyak pengguna handphone zaman sekarang gitu ya. Secara fitur rich tapi juga secara daya tahan baterai itu bisa panjang nge-charge-nya fairly cepat ya. Vivo V60 ternyata memenuhi itu di bagian itu. Untuk benchmarking button-nya sendiri menggunakan metode yang saya biasa lakukan YouTubean 30 menit dengan full brightness 100%. Baterainya ini berkurang 2% aja. Untuk tiktokan 30 menit dengan brightness 100% pun juga sama, hanya berkurang 2% aja. Sementara untuk CODM 15 menit yang digunakan hanya 4%. Untuk nge-charge-nya sendiri isi daya dari 0 ke 100% handphone ini hanya memerlukan waktu 1 jam aja. Nah, desain dan juga baterai itu baru dua bagian pertama yang menarik dari Vivo V60. Selanjutnya ya kita langsung aja pindah ke bagian kameranya. Pendekatan Vivo V60 dibandingkan dengan generasi sebelumnya itu berbeda. Kalau V50 itu banyak banget bermain-main dengan main kamera dan juga ultra wide angle. Kali ini Vivo V60 bermain-main dengan telekamera tanpa tentu melupakan si ultra wide angle-nya. Ya, tidak sekuat generasi sebelumnya, tapi enggak apa-apa. setidaknya dia masih hadir. Untuk settingan kameranya sendiri, Vivo V60 ini menggunakan 50 megap size OIS main camera, 50 megap Ziz OIS telefoto kamera, 8 megap ZIZ ultra wide camera, dan juga 50 megap Ziz front kamera. Kalau kita ngelihat dari hasil-hasil fotonya, ah kita udah ngerti gimana Vivo V series dengan size-nya. Secara hasil ini looks good. Detail-detail bahkan di bagian gelap itu masih bisa kelihatan di saat saya coba mengambil foto yang jatuhnya itu kontras. Jadi secara dynamic range bisa dibilang handphone ini memang terlihat cukup luas kamera telenya. Ini yang menarik. Beberapa kali saya coba bandingin antara hasil foto main kamera dan juga tele kamera Vivo V60. Tapi ternyata hasilnya ini masih bisa dibilang keduanya memiliki detail yang baik. Ingat ini adalah midrange phone belum jadi flagship. Kebayang enggak flagship-nya bakal kayak gimana tahun ini? Untuk yang senang ngambil foto-foto portrait menggunakan handphone, Vivo V60 masih tetap hadir dengan Ziz multiocal portraits. Tapi karena handphone ini punya modul telekamera, jadi ada extra focal length yang bisa didapatkan di mode portraet yaitu 85 dan juga 100 mm. Mode portraet ini lebih enak dibandingin 35 dan juga 50 karena secara background-nya ini terlihat jadi lebih punya kompresi gitu ya. Enggak terlalu noisy, enggak terlalu banyak background atau latar-latar yang mengganggu. Contohnya adalah mungkin tiga foto ini. Yang pertama menggunakan 23 mili, habis itu menggunakan 85 dan menggunakan 100. Tiga-tiganya ini sebenarnya secara framing orang mirip-mirip tapi bagian background-nya. Lihat. Nah, ya yang 85 dan juga 100 lebih menarik. Kenapa? Karena bagian belakangnya tidak terlalu banyak gangguan atau distraksi. Ini yang disebut dengan kompresi. Dan ini yang menarik dari fokal lengga 100 sebenarnya. Tapi sebenarnya ini balik lagi tergantung konteks kali ya. Kalau emang misalnya lagi traveling tetap pengen pakai mode-mode portrait ya mungkin yang 23 atau 35 lebih digemari. Tapi kalau misalnya emang pengen shot-shat model jatuhnya ya jangan sampai mengganggu si background-nya. Pakailah 85 atau 100 mm. Nah, pertanyaannya Vivo V60 ini kan katanya pas banget untuk jadi companion music festival. Kalau misalnya kayak antum nih fix gitu kan kagak doyan nonton festival-festival gimana gitu ya. Sebenarnya sih banyak fungsinya ya kayak datang ke acara launch itu tentu ini jadi berfungsi banget ya bisa ngambil detail-detail, foto-foto tapi dari jarak jauh. Terus semisal foto-foto anak, nah ini kan pengin dapatin momen-momen candid. belajar foto bisa pakai handphone ini karena saya aware banget harus mengasah kemampuan fotografi gitu ya. Dan yang terakhir tentu adalah dokumentasi pribadi gitu. Contohnya datang ke kajian enggak pengin foto-foto terus di-publish sebenarnya tapi pengin punya foto untuk ya dokumentasi pribadi aja gitu kan kadang suka pengin gitu ya. Nah, handphone ini dengan telek kameranya masih bisa ngedapatin 10 time zoom dengan hasil foto yang masih baik dengan kondisi cahaya dalam ruangan yang sebenarnya enggak top-top amat tapi masih oke secara hasil. Jadi, ya, Vivo V60 itu berfungsi di saya untuk hal-hal seperti itu. Silakan diterapkan ke kehidupan masing-masing ya, masuk apa enggak sama kalian. Sementara untuk perekaman videonya sendiri, Vivo V60 ini bisa mentok di 4K 30 fps di main kameranya, teleamera, dan juga front kamera, tidak di ultra wide angle kameranya. Satu hal yang mungkin cukup saya pertanyakan adalah keputusan Vivo untuk tidak bisa memindah-mindahkan lensa atau modul kamera saat kita sambil merekam menggunakan mode 4K 30 fps. Cukup yakin ini sebenarnya adalah satu buah kendala yang tidak berkaitan dengan hardware. Semoga Vivo akan bisa melakukan update-an untuk memungkin kita melakukan perpindahan modul kamera dari main kamera ke tele kamera saat sedang merekam di 4K30. Contoh hasil videonya sendiri seperti ini. Nah, ini dia contoh perekaman video menggunakan Vivo V60 di mode kemampuan paling tingginya 4K 30 fps. Dan untuk stabilisasinya memang diaktifkan, tapi ini yang mode standar ya, bukan yang mode ultranya. Kalau dilihat di layar handphone yang saya pegang saat ini sih rasa-rasanya masih berjalan dengan stabil-stabil aja ya. Tapi silakan dinilai menurut teman-teman sendiri ini gimana. Nah, yang pasti adalah dalam mode ini kita enggak bisa nih pindah-pindah dari ee kamera utama itu ke kamera tele. Entah kenapa, tapi modelnya seperti itu, gitu ya. Pindah ke kamera depan juga enggak bisa di mode 4K 30 fps. Ini hasilnya kalau kita rekam pakai kamera depan ya. Wah, ini padahal rumit ya di belakang matahari lagi cerah banget tapi ee kelihatan muka saya nih sekarang masih oke ya. Jadi menarik sebenarnya karena dia masih bisa menangani ee algoritmanya dengan baik. Nah, ini kalau misalnya matahari di sebelah sana jadi kelihatan sekarang lebih pleasezing. Skin tone juga kayaknya enak ya. Dan ini kalau di bawah jalan yang menarik sebenarnya adalah fakta bahwa kamera depannya ini cukup lebar ya. Ukurannya itu 0,8 terus bisa dizoom-zoom juga jadi dua jadi satu. Jadi kalau misalnya emang teman-teman yang makai e perlu kondisi lebih oke atau perlu lebih fleksibel dengan kamera depannya itu bisa. Keunggulan sih dari Vivo V60 adalah kamera depannya emang bisa dimainin pakai slide seperti ini tuh. Jadi kalau misalnya pengin mengempasize ke satu buah kalimat, sah. Asik itu dia ya. E sedikit sampel dari Vivo V60. Penasaran sama autofokusnya. Udah ok lah ya. E natural bokehnya juga udah lumayan. Sementara kalau pakai kamera telenya three times tuh stabil juga dan autofokusnya juga main. Jadi tinggal disesuaikan aja lagi perlu pakai kamera yang seperti apa. Nah, tapi tentu di tahun 2025 foto itu enggak cuman terkait masalah hardware kameranya aja. Software juga penting ya kan. Makanya Vivo V60 kali ini hadir dengan fitur seperti film camera mode yang ngasih efek-efek nostalgia dengan three film inspired filternya. Ada AI four season yang definitely fun to play with. E apalagi kalau misalnya lagi ketemu area foto yang banyak pohon. Wah ini works really really well. Terus enggak ketinggalan juga ada AI magic Move, ada AI Image Expander, AI Eace 3.0 dan juga AI photo Enhance. Nah, tentu untuk bisa menangani kerja atau power processing, terus juga AI dari bagian kamera, Vivo V60 harus punya chipset yang mumpuni. Nah, kali ini Vivo Indonesia memutuskan menggunakan Snapdragon 7 Gen 4 di Vivo V60. Secara benchmarkingnya sih sebenarnya bisa dibilang menarik ya. Lagi-lagi kata menarik keluar di sini. Secara skor AnTuTu benchmark-nya dia punya skor Rp1.9.000-an. Geekbch-nya untuk single core ada di angka 1240 dan multiore score-nya di 3.550. Open CL-nya sendiri 4.616 dan full car-nya 6.711. Dan untuk 3D mark-nya dia punya tingkat stabilitas 99%. Catat tuh 99%. Nanti kita akan coba bahas lebih lanjut ya. Tentu dengan benchmarking seperti ini kalau Vivo V60 cuma dibawa untuk tes sehari-harian kayak misalnya e main WhatsApp, sosial media alah udah itu mah berjalan dengan aman ya, enggak ada masalah di sana. Ee berpadu juga dengan 120 Hz dari ee layarnya dia rasa-rasanya animasinya berjalan smooth-soooth aja gitu kan. Pertanyaannya adalah gimana kalau handphone ini kita gunakan aplikasi-aplikasi yang emang makan resource atau menggunakan power besar seperti ngedit video CapCut. Nah, di sini saya bisa bilang kalau misalnya videonya direkam pakai Vivo V60, diedit pakai Vivo V60 dirender, itu berjalan dengan aman. Cuman kalau misalnya beberapa case kita pakai benchmarking file seperti yang saya punya gitu ya, file 4K 422 untuk playback dan juga scrolling-nya emang berasa agak chopy ya. Render-nya pun memakan waktu lumayan lama. file 1 menit di-render ke 1080 itu memerlukan waktu 1 menit 24 detik. Sementara kalau saya coba editing file yang saya rekam pakai kamera mirrorless ini 1080. Untuk playback dan juga scrolling ini bisa dibilang cenderung lebih aman ya. Sementara untuk render time-nya sendiri file 1080 dirender ke 1080 dengan durasi 1 menit 58 detik. Dia hanya memerlukan waktu 1 menit 30 detik aja. Catat benchmarking menggunakan caput ini jatuhnya adalah stress test. Tapi dari sini kita ngerti akan lebih digemari kalau kita ngedit file 1080 dibanding 4K di handphone yang satu ini. Dari sisi gamingnya sendiri, kalau kita coba main game kompetitif seperti Call of Duty Mobile, Vivo 60 ini bisa mendapatkan FPS up to 90 FPS dengan average per game-nya itu ada di angka 89 FPS. Jadi bisa dibilang emang stabil ya. sama seperti hasil dari 3D mark-nya. Tapi ada catatan utama di sini sebenarnya untuk yang emang doyan gaming terus maksa pengen beli Vivo V60. Bukan handphone gaming loh ini. Cuman kalau misalnya pengen beli ya udah enggak apa-apa. Toh Vivo V60 adalah V series pertama yang udah punya fitur bypass charging. Nah, you'lll be happy karena artinya kita bisa sambil main game push rank sambil nyolok tanpa perlu takut yang namanya baterai handphone ini jadi terganggu performanya. Oh ya, ngomongin sedikit soal Snapdragon 7 Gen 4. Sebenarnya ada alasan ya kenapa Vivo membawa chipset itu ke Vivo V60 dan ini di luar alasan pertama-pertamaan aja. Ya udahlah kalau jadi yang pertama oke ada prestasi. Tapi terus gitu kan selidik punya selidik. Ternyata emang si Snapdragon 7 Gen 4 ini punya peningkatan 65% untuk masalah NPU-nya. Jadi emang peningkatan untuk bekerja si AI di handphone ini jadi akan lebih maksimal. Dan tentu peningkatan NPU selain untuk penggunaan imaging di Vivo V60, ada juga nih AI-AI lain yang digunakan ya seperti AI Smart Call Assistant, AI translation dan juga AI efficiency tools seperti CTS, AI Live Text dan juga AI transcript assist. Nah, dari sisi software Vivo V60 itu mengandalkan tetap masih Fun Touch OS. Kali ini di F Touch OS 15 dengan base-nya itu adalah Android 15. Untuk support OS-nya sendiri ini udah support 4 OS ke depan dan juga 6 tahun untuk security update. Jadi bisa dibilang in a way Vivo itu ngasih jaminan selama 4 tahun ke depan handphone ini masih bisa dipakai dan update-annya bakal terus bergulir 6 tahun bahkan ya, bukan 4 tahun. Dan enggak berhenti di situ aja, enggak di OS saja. Karena handphone ini juga dilengkapi dengan IP rating IP68 dan IP69 plus jaminan 4 tahun kesehatan baterai atau 4 years battery health. Nah, jadi dilihat dari berbagai macam sisi si Vivo V60 ini emang adal satu buah handphone yang sebenarnya menarik gitu ya untuk tech entusias rasa mengulik atau penasarannya pasti hadir. Sementara untuk Normies atau emang e teman-teman yang pengguna handphone pada umumnya aja gitu ya, kehadiran kamera tele terus juga performanya, AI-nya dan segala macam harusnya cukup menunjang ya untuk teman-teman yang pengin bermain-main dengan handphone, punya sertifikasi dari Ziz tapi budgetnya cukup terbatas. Sayangnya pas bikin video ini saya belum dibisikin harganya. Tapi cukup yakinlah jatuhnya itu masih di kelasan midrange. Belum sampai yang harganya di atas R juta juga gitu kan. So there you go. Vivo V60 satu bagian handphone yang sebenarnya menarik untuk dijajal-jajal menurut saya ya. Menurut Anda gimana? Tulis di kolom komentar. Yuk kita diskusi. Untuk sekarang Taufik nobond diri. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. by
Video Lainnya
Mendobrak smartphone kelas menengah, vivo Y500 tampil memukau dengan baterai monster 8100mAh. Visual AMOLED simetris dipadukan algoritma foto ala X300 juga...
Bursa ponsel 2026 memanas oleh inovasi brutal. Persaingan kini berpusat pada pesona lensa periskop, monster baterai ekstrem, dan cip pendingin cair. Panduan taktis...
Langkah tidak biasa diambil oleh Jagat Review saat mendadak menunda ulasan mendalam untuk vivo X300 Ultra, kasta tertinggi ponsel flagship di tahun 2026. Di balik...
Pertarungan sengit di lini kamera smartphone flagship kembali memanas lewat adu mekanik tiga raksasa ultra yang membawa inovasi pemrosesan gambar paling ambisius...
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sederet perangkat antimainstream yang siap mengubah total kenyamanan setup harian Anda. Mulai dari inovasi TWS dengan konsep...
Pasar ponsel kelas 9 jutaan sedang memanas, dan Bestindotech turun tangan untuk menguji tuntas tiga kontestan yang paling banyak diperbincangkan: Xiaomi 17T, Vivo...
Tren ponsel pintar berdimensi ringkas kembali mencuri perhatian lewat kehadiran vivo X300 FE, sebuah perangkat kompak yang digadang-gadang menjadi idaman baru para...
Pertarungan supremasi fotografi seluler tahun 2026 akhirnya mencapai klimaks melalui benturan dua raksasa: OPPO Find X9 Ultra dan vivo X300 Ultra. Lebih dari...
Di tengah sengitnya kompetisi adu tajam lensa smartphone, kemunculan sebuah ponsel pintar yang sepenuhnya menanggalkan kamera justru memicu rasa penasaran yang...
Persaingan vivo X300 Ultra dan OPPO Find X9 Ultra melampaui sekadar adu spesifikasi di atas kertas. Melalui pengujian ekstrem dari stabilitas suhu, efisiensi daya,...
Pasar smartphone kelas menengah kembali diguncang oleh inovasi radikal yang menjawab keresahan terbesar setiap pengguna gawai: daya tahan baterai. Kehadiran lini...
iQOO kembali menggebrak pasar smartphone tanah air lewat lini terbarunya yang membawa spesifikasi baterai di luar nalar. Melalui impresi pertamanya, David GadgetIn...
Bagi seorang tech enthusiast yang dikenal setia pada satu brand, berpaling ke perangkat lain bukanlah perkara mudah. Namun, kehadiran OPPO Find X9 Ultra tampaknya...
Bagi para gamer yang sering frustrasi karena baterai smartphone mendadak sekarat di tengah-tengah push rank, iQOO Z11 5G hadir membawa dobrakan teknologi yang sulit...
Perdebatan panjang mengenai takhta kamera smartphone terbaik tampaknya telah mencapai titik balik yang mengejutkan. Di tengah dominasi raksasa seperti iPhone,...


















