Jungkat

Millennials and the Trend: The Largest Market for Your Property Investment #PropertyInsight (YouTube Video)

  • 30/04/2023

Hai Property People, selamat datang di Property Insight! Saya Karina Basrewan, mewakili kru Rumah123 mengucapkan selamat hari Raya Idul Fitri untuk Anda yang merayakan. Semoga Tuhan memberkati kita dengan kebahagiaan yang melimpah, kesehatan dan juga kemakmuran di tahun ini. Property People, kita akan memulai episode kali ini dengan fakta yang amat menarik, dari data Badan Pusat Statistik Indonesia yang menyatakan bahwa di tahun 2022 populasi di Indonesia telah mencapai lebih dari 275 juta jiwa. Menurut data di tahun 2022, populasi di Indonesia paling banyak merupakan mereka yang termasuk ke dalam usia produktif, yaitu Millennial, dan Gen X dengan total populasinya berkontribusi sebanyak 49%, lalu diikuti oleh Gen Z dan Alpha sebanyak 32%, dan Generasi Boomers dengan 10,8%. Dengan adanya fakta ini juga berarti bahwa generasi-generasi ini bisa berpotensi sebagai pasar terbesar untuk sektor properti, karena mereka masih berada di usia produktif dan sebagian besar sedang menempuh perjalanan hidup yang baru. Meskipun begitu, data juga menunjukkan bahwa sebagian besar populasi berasal dari kelas pekerja, sementara mereka yang berada di usia muda masih belum memiliki kemampuan finansial yang kuat. Maka dari itu, mereka yang memungkinkan untuk beli properti nampaknya tertarik mencari rumah dengan harga terjangkau. Property People, 99 Group memperoleh data mengenai total backlog perumahan di Indonesia, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Dikarenakan data tahun 2022 belum diterbitkan, kami tunjukkan data dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2021. Seperti yang dapat dilihat dari grafik ini, total backlog perumahan di Indonesia mencapai lebih dari 12 juta rumah tangga dari tahun 2018 sampai dengan 2021. Di tahun 2020 sempat terjadi penurunan sebesar 0,27% yang mengindikasikan berhasilnya usaha pemerintah untuk mengurangi backlog. Walaupun begitu, total rumah tangga yang tidak memiliki properti masih sangat tinggi. Berdasarkan laporan dari Sistem Informasi Perumahan dan Real Estate PUPR (HREIS), ada lebih dari 10 juta rumah tangga yang dikategorikan sebagai potential demand, yang berarti bahwa mereka bisa membeli rumah tergantung dari penghasilan dan pengeluaran mereka. Oleh sebab itu HREIS telah mengklasifikasikan potential demand ke dalam tiga kategori, sebagai berikut : Pertama, rumah tangga yang mempunyai penghasilan paling rendah atau disebut Pra-MBR, dengan total penghasilan antara dua hingga empat juta rupiah. Kedua, rumah tangga dengan penghasilan rendah atau disebut MBR, dengan total penghasilan empat hingga delapan juta rupiah. Yang terakhir yaitu rumah tangga non-MBR, yang memiliki penghasilan lebih dari delapan juta rupiah per bulan. Dengan fakta bahwa Millennial dan Gen X mendominasi populasi, proporsi mereka pun serupa dalam hal potential demand. Maka dari itu, sebagian besar backlog berasal dari generasi-generasi ini tepatnya sebanyak 8,5 juta rumah tangga dengan penghasilan yang cukup namun belum memiliki properti. Dari bahasan tadi terdapat beberapa kesimpulan yang menjadi gambaran untuk para investor berdasarkan informasi backlog, yaitu : First-time home buyer (pembeli rumah pertama) pasarnya sangat besar dan kebanyakan berasal dari Generasi Millennial dan Gen X. Dengan terus meningkatnya permintaan terhadap perumahan dari tahun ke tahun, ini merupakan kesempatan besar bagi para investor untuk menargetkan Generasi Millennial dan Gen X. Property People, mari fokus dengan data lebih lanjut mengenai generasi muda. Data 99 Group mencatatkan enquiries untuk rumah tapak dan apartemen di tahun 2022. Hasilnya menunjukkan bahwa total enquiries dari rumah tapak mendominasi sebanyak 90,6%. Jika kita melihat sesuai tipe dari perumahan diantara setiap generasi, Millennial dan Gen Z ternyata cenderung memilih apartemen, sementara itu generasi Boomers dan Gen X lebih memilih rumah tapak. Ini menunjukkan bahwa generasi muda lebih tertarik pada rumah tinggal bertingkat tinggi (apartemen) dibandingkan dengan generasi lanjut, yang mungkin disebabkan oleh banyak faktor dan pertimbangan seperti aksesibilitas, pilihan transportasi, selain itu juga apartemen yang menawarkan kenyamanan tinggal dengan fasilitas lebih lengkap. Dengan begitu, ini adalah peluang yang luar biasa baik untuk menargetkan generasi muda, karena mereka sangat berpotensi untuk investasi properti Anda. Property People, guna mendalami preferensi generasi muda dan generasi lanjut, kami berupaya untuk mengidentifikasi enquiries berdasarkan ukuran bangunan, ukuran unit, dan juga dari harga properti dalam grafik berikut ini. terlepas dari kemampuan membeli, Gen Z terlihat paling tertarik pada bangunan dengan ukuran luas, berkisar antara 120 hingga 200 meter persegi. Sementara itu, Millennial lebih memilih bangunan berukuran lebih kecil, yang berkisar antara 30 hingga 80 meter persegi dan juga 120 hingga 200 meter persegi. Selain itu, generasi lanjut lebih memilih bangunan luas yang berkisar dari 120 hingga 200 meter persegi, dan bangunan dengan luas lebih dari 250 meter persegi. Untuk preferensi harga, kami telah mengumpulkan beberapa pilihan dari harga properti dan berdasarkan generasinya. Kita lihat bahwa pilihan paling banyak oleh Gen Z dan Millennial yakni properti dengan kisaran harga 1 hingga 2 milyar rupiah per unit, ini sama dengan proporsi dari generasi lanjut. Untuk pilihan keduanya yaitu di harga 5 hingga 10 milyar rupiah per unitnya, sementara itu generasi lanjut memilih properti dengan kisaran harga 2 hingga 3 milyar rupiah per unit. Selanjutnya, untuk memahami lebih dalam mengenai perubahan preferensi dari Millennial seiring waktu, mari fokus terhadap trend lima tahun Millennial berikut ini, dalam hal ukuran bangunan dan harga properti berdasarkan data kami. Pada grafik ini, kita dapat memahami bahwa dari tahun 2018 hingga 2022, pergeseran preferensi Millennial terhadap ukuran bangunan terjadi dari bangunan kecil ke bangunan berukuran lebih luas. Contohnya, dari 2018 hingga 2019, Millennial lebih memilih bangunan berukuran 30 hingga 80 meter persegi, dan ini mengalami perubahan dari 35% ke 45% dari proporsi keseluruhan. Sementara itu dari 2021 hingga 2022, proporsi bangunan lebih luas yang berkisar antara 120 hingga 200 meter persegi, yaitu sebanyak 16% di tahun 2018 dan meningkat secara signifikan hingga 27% di tahun 2022. Trend pergeseran ini bisa disebabkan oleh adanya kemampuan finansial yang lebih kuat dan perkembangan stabil yang terjadi terhadap Millennial, ini menjadikan peluang besar bagi investor yang memiliki bangunan luas untuk menargetkan Millennial, karena mereka akan memiliki finansial lebih kuat di waktu mendatang, dan masih bisa menjadi pasar target yang besar serta berpotensi untuk investasi properti Anda. Selanjutnya, kita akan melihat trend perubahan preferensi terhadap harga properti selama lima tahun, dari 2018 hingga 2022. Ternyata tidak hanya preferensi terhadap ukuran bangunan, namun tren yang meningkat juga terjadi terhadap preferensi harga properti. Grafik ini menunjukkan tren keseluruhan selama lima tahun terakhir yang juga menjelaskan kenaikan signifikan terhadap properti dengan harga lebih tinggi dengan kisaran harga 1 hingga 3 milyar. Ini dapat kita lihat dari grafik ini, bahwa di 2018 hanya tercatatkan sebanyak 28,2% dari total pasar, dibandingkan di tahun 2022 telah meningkat hingga 40,2%. Secara keseluruhan, properti dengan harga lebih rendah masih memiliki proporsi signifikan dalam lima tahun ini, yang mana properti dengan harga 400 hingga 850 juta berkontribusi sebanyak 57,4% di tahun 2018. Walaupun terjadi penurunan secara signifikan di tahun 2022 dengan persentase 22,6%. Property People, dari topik episode kali ini kami menyimpulkan ada beberapa poin yang bisa menjadi wawasan yang bermanfaat untuk para investor, antara lain: Generasi muda lebih memilih untuk memiliki rumah bertingkat tinggi, seperti apartemen yang dapat mendukung mobilitas mereka, aksesibilitas dan juga gaya hidup. Generasi muda juga memiliki preferensi rumah ideal mereka untuk rumah yang lebih luas. Dan menyorot Millennial, terlihat adanya pergeseran tren preferensi yakni menjadi rumah dengan ukuran luas dan harga yang lebih tinggi. Ini bisa disebabkan oleh kemampuan finansial dan stabilitas hidup mereka secara keseluruhan Seiring dengan masih bertumbuhnya Millennial dan dominasi mereka terhadap pasar, mereka bisa menjadi target sempurna bagi para investor properti. Meskipun begitu, sebaiknya tetap mempertimbangkan fakta sebagian besar dari mereka masih berasal dari kelas pekerja dengan penghasilan rendah dan kemampuan membelinya. Property People, riset dan wawasan yang bermanfaat merupakan hal yang sangat penting untuk meraih keuntungan yang maksimal dari investasi properti Anda. Oleh karena itu, kami menghadirkan riset mendalam dan wawasan tepercaya mengenai bisnis properti. Hanya untuk kamu, karena Rumah123 Selalu #AdaBuatKamu. Saya Karina Basrewan, inilah Property Insight, sampai jumpa di episode selanjutnya!

Lihat di YouTube