MINIMAL BISA NYETIR, ITU SALAH SATU SKILL‼️ | Podcast Motomobi #Mobcast Eps.7 Duo Bahlul (YouTube Video)
sampai akhirnya dia punya personal branding yang kuat tapi disuruh ngonten enggak mau dia. Siapa ya? Di mata lu beda levelnya dan maksudnya kok bisa-bisanya gitu loh. Gimana kamu caramu menjadi ee sebaiknya emang hostnya saya, Om. Aduh enggak bakalan Abang. Podcast ini akan kita eh translate ke dalam bahasa Inggris sekarang. Jadi kita akan interviewnya dalam bahasa Inggris. Oh, that's right, baby. Kita kedatangan si the king of FYP, Arif Brata. Ye, di mana lagi kalau bukan di mopcast karena kami suka podcast di mana di podcast ini dua hostnya memang tidak ngerti otomotif. Jadi, buat para komentar-komentar yang mengharapkan ini host ngerti otomotif, nontonnya Om Mobi aja. [tertawa] Ngapain di channel yang sama? Ada tiga host yang ngerti otomotif. Ngapain? [tertawa] Ngapain ini buat yang e ringan-ringan yang awam-awam baru mau masuk ke otomotif nontonnya ini dulu. Betul. Kalau udah advance baru nontonnya Om Mobi ngapain tiga-tiganya advance ngapain [tertawa] gitu loh. Marah marah marah ya gitu ya. Dislaimer aja saya Arif Brata. Yes. Tapi sebelum sebelum dimulai nih saya yang kita obrolkan sebelumnya yang mana ya? Oh iya. Jadi, e gimana ceritanya saya tuh di kamu kan diundang untuk acara ini. Diundang. Iya. Eh, Om Mobi mau ngajakin nih di YouTube-nya dia. Oh, saya tamatin semua tentang otomotif. [tertawa] Saya nonton semua karena YouTube-nya Om Mobi ngomongnya gitu kan. Iya. Jadi, harus pokoknya saya sih sebenarnya sukanya m instan, tapi harus saya suka turbo nih kalau [tertawa] Iya. Eh, ternyata ngobrolnya sama ah abang-abang tensian berdua ini. Dulu kalau ngomong kayak gitu merendahkan kita dong. Bukan merendahkan ekspektasi saya aja yang meleset gitu enggak? Oke. Ekspektasi lu pertama kali ketika diundang sama Om Mobi ke Mopcast ini apa? Saya belum tahu mod cas ini kan baru berapa episode ini ya? Baru dikit lah. Sombong banget lu. Mentang-mentang punya podcast banyak diundang brand banyak banget. Orang jumwa ternyata sekarang udah tajir gitu ya. [tertawa] Banyak brand yang nempel sama dia. Gila nih orang ya. Enggak begitu. Saya kan patokannya klipernya kalian belum FYP gitu. Asoy as mana dibilang podcast walaupun channelnya lama tapi e segmennya baru. Aduh belum FP kita lagian kita emang belum ada yang ngurusin kliper-kliper itu. [tertawa] Kita cuma kita posting juga kagak. Emang ini masih benar-benar. Oke, sekarang lu ajarin nih kita semua tim MOPC di sini biar kita bisa FYP terus bisa ee mopcast ini meledak gimana. Oke, kan pertama kan di ee Om Mobi mencari nih siapa host yang terbaik untuk segmen saya yang terbaru. Oke. Nah, kalau misalkan dicari dan misalkan abang nih Hah e siapa namanya? Siapa dia? Kamal bukan Kemal. Oh, iya. Kamal bukan Kemal ya. Oke. Tahu saya. Iya. Kita sering ketemu tapi enggak pernah ngobrol. [tertawa] Baru satu kali. Baru satu kali. Cuma-ininya aja abangku. Iya abangku. Hai di acara-acara komik. Iya. [tertawa] Hai. Pasok kemarin itu pun saya mau ke toilet. [tertawa] Saya juga. Iya. Nah, kalau misalkan ee minta diajak nih untuk menjadi host sama Omobi bilangnya apa? Misal saya mau kerjaan dong menjadi host. Gimana biar FP? Minta diajak sama Om Mobi. Om Mobi saya dong mau jadi host gitu biar FP. Mau ini. Eh, gimana kamu caramu menjadi? Aduh, enggak bakalan napi ya, Abang? Gak bakalan napi kalau begitu. Iya. Eh, aku dipat, Guys. Naik PP lu kalau gitu terlalu direct banget, terlalu banyak pekerjaan banget. Caranya gini, gimana, Om, El? Kalau gua lihat potensial banget channel lu untuk bikin mopcast. Wis. Jadi nanti kita akan bikin satu episode yang kita akan ngundang tamu. [tertawa] Oh, mobilnya tidur. Om tidur. Tadi dia pakai bas pakai kacamata kan udah ngobrol dari tadi. Ngerti kan Om? Cuman terlalu panjang. Terlalu panjang ngantuk. Oke. Gimana? Langsung aja kalau misalkan nyari kerja langsung aja omah bagi loker. [tertawa] Ada ada sekarang cewek gitu ekspektasi yang leset tu gua ya. Om [tertawa] omobi kan dia kan sukanya yang romantis-romantis Om. Iya sih betul betul. Cuman dia enggak laki-laki dah tahu gua Om Bobi enggak suka yang romantis, suka yang nakal. Nakal. [tertawa] Tapi kan kalau nakal laki kan takutnya kriminal ya dia [tertawa] itu happy gitu. Tapi setidaknya tren-trennya tahulah karena itu ee menjadi bahan untuk distis para contonent kreator di luar sana. Oh gitu. Jadi pertamaah bagi loker diis sama dia enggak ada loker sayang. Tapi adanya ini nih produk kami. Wow harus update tentang oh ini di minggu ini ini lagi yang update nih di minggu ini. Bang lu tahu enggak kemarin kita ngundang Lavina? Iya tahu Lavina yang BBJ. Yes. H BJJ ya? Brasilia Brazilian jujitsu. Eh bei. Bei bei. Bursanya efek dong goblok yang pokoknya begini kan. Iya iya gitu. Pertanyaan gua, lu udah pernah masuk selangkangannya belum? Belum. Eh, pernah sekali [tertawa] diginiin. Pernah sekali jangan, jangan, jangan. Dia kemarin masuk selangkangannya. Nah, itu potensial FYP enggak? Itu potensial dosa kayaknya. [tertawa] Salah lagi. Harusnya FFP. Gua malah berharap itu enggak FYF [tertawa] karena gua belum izin bini gua itu main dimasuk-masukin aja dibek-bek. Tadinya mau gua yang digituin, Brad. Tapi terus gua bilang, "Jangan dah daripada gua berantem lagi sama bini gua kan. panjang urusannya. Tapi kalau masalah tidak berantemnya mau mau [tertawa] siapa yang enggak mau lu masih punya ilmu perevp-an walaupun sekarang konten lu random ya. Betul random aja [tertawa] random aja kita di Oke. Pertanyaannya adalah kenapa lu akhirnya swifting konten oke dari konten lu yang tadinya akademi FP dan segala macam enggak ada dia hampir enggak ada. Kenapa? Karena konten lu itu udah enggak laku lagi. Benar. Enggak laku lagi. Yang benar lu. Karena kan orang pasti ada bosannya juga maksudnya nonton ini. Ditambah saya sama si timnya saya Adi dan Aldi. Mereka sudah cabut ke kampung ke Makassar lagi. Wah saya bingung dong gimana dong. Oh enggak cocok sama lu bukan enggak cocok dianya udah berkeluarga punya anak. Enggak cocok sama gubernur saat ini yang di Jakarta. Mulutnya [tertawa] mulutnya kenapa dia kembali ke Makassar gue? Kenapa sih? Emang ada indikasi apa dia sama partainya? Si gubernur engak ada pakai partai. Allahu Akbar. Tidak ada ini. Ini bahaya podcast ini. Ini bahaya ini. Ya. Habis teman lu balik ke Makassar di saat orang-orang kayak yang sepengetahuan kita kan orang berbentuk ke Jakarta kan. Oh ini malah pulang kampung. Kenapa MBG masalahnya atau apa nih? Kenapa Bang? Udah udah ini PCnya cepat banget. Iya pelan-pelan a [tertawa] kita pelanak. Pelan bisa pelan enggak? Baru-baru tadi makan ini. [tertawa] Iya. Nanti saya kasih goodie bag. Iya. Iya. Iya. Dia sudah tahu saya suka goodie bag. [tertawa] Suka goodback. Iya. Jadi pada saat dia memutuskan pulang kan kita ngobrol tadi soal podcast tuh. Di platform yang kuning. Iya. Yang kuning. Kenapa tuh? Iya. Kami punya tiga. Tiga orang. Ini dia punya podcast di platform yang kuning barengan sama teman-temannya dia itu yang Makassar semua. Mereka belum menikah berdua. Ada gaji dari saya, ada gaji dari platform ini. Ini oke siap. dipakai sama mereka. Astagfirullahalazim. Tidak ada begitu. Tidak ada. Pelan-pelan dulu. Ini agak pelan saja. Jangan terlalu turbo. Iya. I oke. Karena kan kami suka turbo di sini tahu. Tapi pelan. Nah, habis ituus di platform kuning sudah kayaknya kita tidak lanjut nih. Tintung bungkus tak ada lagi pemasukan dari situ ya kan. Habis itu mereka sudah menikah. Jadi sudah ada tanggungan baru malah podcast ini hilang. Habis itu sepertinya aku berkarir di Makassar aja deh. Gitu. Jadi dia memutuskan si Adi untuk menjadi besar di Makassar dan memang besar dia influencer. Oh gitu. Oh di Makassar. Iya. Nah si tinggal si Aldi. Aldi karena orangnya juga temannya cuman si Adi. Heeh. Dikontrakan. Bingung dia. Sendiri. Bingung kan. Ngapain saya nih? Saya pulang. Saya juga pulang ya. Ya Allah. Saya bagaimana ini? Bagaimana ini? Dulu tinggal sendirian. Sendiri. Udah akademi VIP mau dilanjut juga bagaimana karena dua racunnya hilang juga berarti Mal kalau kayak gini jatuhnya dia egois karena kenapa egois? Karena dia membiarkan teman-temannya yang lain pulang sedangkan dia meniti karirnya di sini dan mulai beranjak naik kan? Betul. Harusnya dia punya budget buat bayarin BPJS kesehatan temannya gaji bulanan. Nah, itu yang saya suka itu. Itu itu yang saya mau. Tapi kalau misalkan saya gaji full ke dia, anak saya bagaimana? Loh, tapi kan seenggaknya gini, lu bisa ngajak teman lu untuk lu katrol gitu loh. Kenapa mikirin diri lu sendiri? Mikirin diri sendiri kalau minum gini deh. Kamu [tertawa] kamu rela teman kamu dua-duanya itu pulang kampung karena di sini kayak merasa rezekinya seret dan kamu foya-foya beli mobil ya kan modifmif. Nah, obrolan beli mobil ini apa? Belum sampailah di situ saya maksudnya keuangan atau apa karena buktinya mobil udah bagus-bagus walaupun di second semua tapi kan sekarang dibangun sekarang gitu tapi sebelum yang masa transisi akademi FP ini yang pas dia pulang itu belum ada mobil-mobil itu kita juga kurang iya belum ada mobil-mobil itu juga jadinya bagaimana ini terus keputusannya dia untuk bilang ya sudah saya di Makassar aja ya sudah terserah kaum itu yang akhirnya membuat lu beralih profesi menjadi mata elan kok mata elan Elang. Hah? Eh, tapi justru itu yang ada ceritanya orang asal random [tertawa] komen asal ngetuk ada ceritanya belum bahas krip sama sekali loh. Enggak ngak bukan bukan bukan masalah bukan masalahnya tapi justru itu yang membuat saya bukan jadi masalang jadi memikirkan konten IP apaagi yang saya harus hadirkan untuk sebesar akademi FYP. Iya. Artinya apa ya? Biar sendiri. Kalau misalkan tim sudah enggak ada, udah habis itu ah kayaknya otomotif juga saya suka nih. Ah, udah kayaknya review-review deh. Karena rata-rata teman-teman komiga kayaknya belum ada nih. yang di situ. Sementara saya setiap malam juga sering nonton otomotif. Oh, suka lu ya? Suka buka-buka Facebook bukan buka-buka Facebook. Oh, ini masih segini harganya. Oh, ini udah turun udah tutup lagi gitu. Jadi cuman ngelihatin doang kan sering kita bahas itu hiburan bapak-bapak banget. Betul Bapak-bapak harga-harga mobil, harga rumah dulu kalau belum punya itu hobinya Bapak-bapak doyan selingkuh tuh emang begitu. Wis kok ada doyan selingk Mas? Mas selain turbo belokannya terlalu tajam. Iya jauh [tertawa] kayak terlalu kek langsung terlalu aneh. Habis itu muncullah si impersonet Om Fitra Eri waktu itu. Oh iya itu room lega headroom yang sangat luas. Nah, dari situ udah mulai brandingannya berubah nih dari akademi FB. Oh, otomotif. Terus kok si Om Fitra itu bisa sampai notis el gitu loh. Om Fitra kan sibuk banget ditekin juga ya sama fan ya kan awal-awal viral. Kurang ajar nih orang ini Om. [tertawa] Maaf Om kurang ajarnya dia ini Om gitu-gitu sampai saya bilang ya karena ya itu karena suka nonton sampai akhirnya detail-detailnya dia nempel gitu. Tapi gua kaget tuh begitu akhirnya dia sampai beneran colab sama Om Fitra I kan yang pertama tuh yang di event ini bukan sih yang event mobil bukan sih? Iya iya kalau enggak salah Gias kalau enggak salah iya benar ya. Tapi lu tahu enggak lu tuh buat diundang ke sini sama tim kreatif itu agak-agak alot pembahasannya karena karena Omobi sebenarnya kan kok lu bisa cuman impersionate Om Fitra doang gitu. Kenapa Om Mobi enggak maksudnya emang di mata lu beda levelnya. Dan maksudnya kok bisa-bisanya gitu loh cuman Om Fitra doang. Tapi Om itu ada ada sakit hatinyaak. Tapi Omobi itu enggak pernah ngambil perasaan. Maksudnya tetap diundang aja walaupun orang ini jahat banget sama. Iya betul. Karena dia cuman impers Om Fitra kan. Omobi enggak. Ridwan Hanif juga enggak. Kenapa dia pilih-pilih jadi Kang parkir nih? Kang parkir nih. Bahaya. Ini kita buat ngundang lu 2 minggu loh ngebujuk Omobi. Omobi ya Allah berlinang air mata segala. Betul-betul ini Kamal ya. [tertawa] Kok dia kok dia kayak Mama Makassar. Jokap kayak gitu ya. Nyokap ya kalau marah ya. Iya kayak betul ini kamu ya. Betulnya belum belum pulang mandi. Dia cuman ngitung nomor saja kita sudah takut. Satu. [tertawa] Belum sampai dua. I belum sampai dua. Satu diulang lagi. Satu. Belum. Lucu banget. Sudah panik kita. Valentin yang lucu sekali. Nah, makanya saya itu sebenarnya ya kalau ketemu dan ngobrol sama Om Mobi, saya agak takut karena dia superior orangnya. Samalah seperti kalian berdua Superior dari mana? Di itu apa itu begitu barusan [tertawa] enggak saja ngelihat manusia superior apa apa gituitu enggak soalnya maksud aku ini kan ide aja. Kalau dari awal kamu impersonate Omobi itu kan lebih effortless cuma modal buff sama ini enggak usah ngomong loh gini aja. [tertawa] Iya kan cuma b sama kacamata. Sebentar ini harus diklarifikasi nih. Nah, maksud lu, lu merendahkan Omobi kalau kayak gini. Oh my God. [tertawa] Ada adegan ininya [tertawa] support banget Anda. Saya enggak dihire lagi di sini [tertawa] baru dapat peluang langsung saya. Lu tahu enggak alotnya gua deal-deilan sama Om Macit di sini buat ngebawa lu? Buat ngebawa gue? Iya. Gila kali lu ya [tertawa] tanya Om Ais. Sampai akhirnya begitu masuk sini, "Om, lu kata-katain yang ngata-ngatain." Ngata-in cuman modal buff katanya. Itu idenya mahal loh. Iya. Iya idenya mahal. Lu pikir dia enggak punya personal branding. Tapi maaf ya [tertawa] bacot hostnya sama bintang tamu. Tapi Om Mabin udah mula seperti Dobuser ya. Kenapa? Kenapa jarang nampil juga sesekali aja. Iya. Ya kan ini ada program terus kalau misalkan merreview mobil dia cuman voice over-nya aja. Benar. Iya benar. Pada tahun sekian mobil ini keluar habis itu kita lanjutuskan sama Mam Oca karena dia pikir yang ngundang dia omong. [tertawa] Dia udah ngulik dia udah ngulik segitunya. Mama K mungkin enggak tahunya pas dia datang Omobinya lagi di luar negeri. Ada lagi di luar negeri. Tidak ada ya? Lagi enggak ada. Ini kan udah episode ke berapa ya? Om Mobi itu baru ketemu sama kita sekali sisanya di keluar negeri. Gua enggak tahu dia otomotif apa. Kayaknya K main Parcraft deh pas [tertawa] kayaknya dia inerney deh. Gua enggak tahu dah. Dia udah mulai bergeser. Hidupnya Om Mobi sekarang 2 hari di Indonesia di luar negeri. Betul. Dia jalan terus gitu. Ya Allah karena dia kan automotiver kan. Iomover Mal. Dia belum tahu istilahnya, Ma. Di dunia otomotif emang yang paling level top levelnya itu tuh disebutnya otomotiver. Oh, di bawah-bawahnya tiernya. Top tiernya itu automotiver. Bawahnya automotiver apa, Mal? Ee pengamat mobil I iya itu aja. Pengamat hukum ya? [tertawa] Pengamat mobil enggak ada otomotifnya lagi. Petrol Petrol Head [tertawa] gitu maksudnya ya kan. Eh tapi ngomongin konten-konten lu yang apa namanya yang akhirnya sekarang sudah jadi juga. Si enggak ngerti otomotif itu. I kan c brandingannya Arif Brata untuk otomotif juga kan. Itu banyak emang karena ee apa namanya? Banyak denda masa kecilnya enggak? Gua pengin tahu deh sama lu. Oh dendam masa kecil juga ya. Maksud kayak Iya kan lu kan lu belum punya mobil mungkin dulu kecilnya. Kalau lu mau tahu bahasa Inggrisnya inner child trauma. W emang enggak ada trauma? Sering. Saya udah sering. Kenapa ada traumanya? Enggak tahu gua. Gua jel [tertawa] asal aja. dulu aja itu sebenarnyau aja keren itu. Iya tapi dendam sih enggak ya tapi memang ada kepenginnya. Waktu kecil lu pengin mengidam-idamkan mobil apa? Mobil waktu kecil ee mobil-mobil besar sih tapi Bapak mobil besar kayak apa? Prima jasa. [tertawa] Mobil besar apa? Mobil besar gimana sih? Segede apa? Land Rover ada PO Harianto loh. Siapa PO Haryanto? Iya iya. [tertawa] itu jarang kita lihat, Pak. B kayak apaover. Iya, kayak gitu-gitu. Terus e apa SUVSV gagak gitu kan. Bapak saya juga sering ngobrolin mobil. Oh, gitu. Iya. Tapi dia belum punya sampai dia meninggal. Tapi dia paham karena dia bilang kau nak ee cuman harus ee butuh skill, bisa bawa mobil kau itu bisa dapat ee istilahnya dapat kerjaan, dapat respectek. Oh, baru kebuktinya sekarang berarti omongan bokap lu nih. Iya. Makanya pada saat ke Jakarta skill yang saya bawa selain bisa bikin materi aja ya sudah bisa bawa mobil karena itu minimal bisa dapat kerjaan. Iya. Awal itu awal-awal di Jakarta tuh saya roadman-nya Bang Aziz, Bang Awe. Lu yang nyetir? Saya yang nyetir. Oh gitu. Maksudnya bokap minimal lu bisa jadi driver kurang lebihnya gitu. Minimal minimal. Jadi kau di mana pun tuh yang penting ada skill mau bawa mobil. Nah pertama kali saya bawa mobil di Jakarta. Bawa mobilnya Bang Ajis sama Bang Awe. Mobilnya apa? Ee Toyota Ras. Toyota Ras. Kalau ee ini Bang Aziz. Nah, waktu itu saya baru pertama bawa matic. Saya diajar Iya, Om. Saya yang mengajarkan itu saya ee naik ee ini gak apa-apa sebut mobil kan? Enggak apa-apa sebut mobil. R3 manual. Oh, R3 manual. Iya. Saya belajarnya bukan di lapangan besar tapi di terminal. Jadi banyak skat-skat parkiran saya sudah langsung apa jadi manuver jago. Iya. Itulah disuruhlah bawa matic sama Bang Aziz. Setiap ngerem gini. Setiap ngerim maju. Kenapa, RI? Kenapa, RIP? Lu sengaja biar Aziz nempel ke badan lu. Motor ada mobil di samping. Dia nempel ke dashboard. [tertawa] Dia kan di samping. Gimana kalau naik motor baru gini soalnya Azis lagi pakai bikini ya. Untuk apa? Kalaupun dia enak gua [tertawa] rem enggak? Jadi pas di bilang, "Kenapa gitu?" Enggak apa-apa, Bang. Terus habis itu dia tanya, "Heh, ee kau tuh nginjak rem pakai kaki apa?" He? Saya bilang kaki kiri. [tertawa] Karena kebiasaan di manual dua kaki ini bekerja. Manual tuh kopl gas, kopleng gas. Terus dia bilang, "Eh, betul kau ee pernah bawa matic sumpah, Bang. Baru ini." Oh, pantes nih saya kasih tahu. Kau kalau bawa eh manual kau ngeremnya pakai kaki apa? Ya, kaki kanan juga sih. Ya udah, enggak usah kerja ini. Kaki kiri diam aja. Diam aja. Kaki kanan yang tek baru pindah lagi gitu kan. Saya bilang, "Oh, iya juga yang pas udah diganti udah nyaman." Udah nyaman karena ini biasa ngopling jadi hik gitu kan. Kasihan juga si Azis itu ya. Yang nyaman el atau Aziznya nih? Udah nyaman? Kayaknya sayanya yang nyaman. Azisnya masih [tertawa] panik. Pelan-pelan. Alhamdulillah. Habis itu e bantuin Bang Awe. Bang Awe juga nih saya ditegur lagi di jalan tol. Saya Makassar juga, Kak. Sesekali kita masuk tol. AB eh AW mobilnya apa? Mobilnya waktu itu masih ee sewa apa gitu? Belum belum ada. Iya. Dia baru kalau enggak salah baru setahun 2 tahun enggak dia punya punya mobil AW. Iya karena AW enggak bisa nyetir. Enggak bisa nyetir. Baru belanja nyetir juga di [tertawa] AW nyetir di awal. Nah saya bawa mobil lah. Betul. RIP jangan di tengah, RI. Ini garis yang putih-putih jangan di tengah. Nah. Eh, enggak apa-apa, Bang. Ini di sela-sela ban ini lebih oke. Bukan begitu, [tertawa] bukan begitu aturannya. Kayak video game. Iya kan? Kalau video game balap kan kita pengin di tengah garis. Jangan begitu. Eh, polisi ini ketahuan singnya nembak nih. [tertawa] Enggak diajarin. Betul. Makanya saya bilang, "Oh, salah." Nah, di situ saya belajar. Oh, ini kita harus di kanan. Kalau kencang, kalau agak pelan kita tahu kondisi mobil kuring di tengah aja gitu. Habis itu udah deh paham. Jadi skill bawa mobil aja yang saya pegang dari Bapak waktu itu. Itu lu belum FYP dan segala macam ya. Oh jauh. Tidak ada. Tapi dari awal lu berarti berkarir menjadi seorang asistennya stand up komedian. I kok lu sampai akhirnya sekarang berusaha untuk menyaingi mereka. Lu kayak enggak ada puas gitu. Ada berusaha berusaha menyaingi. Hidup aja ini kita hidup. Bukan maksud gua kayak lu kan waktu itu dibantu sama dia gitu loh. Kenapa lu kayak lu ngelepeh gitu loh. Astagfirullah mulutnya. Ngelepet tidak ada. Eh, lu kayak jaksa deh. Nyari-nyari kesalahan terdakwa [tertawa] bisa yang positif vi kali. Iya, positif aja. Itu tugas kita. Bagus, bagus. [tertawa] Tidak ada. Kita mah alhamdulillah suka ini ada rezeki beli gitu. Enggak lu diajarin sama Aziz kah untuk ee stand up dan segala macam? Kalau diajarin di komunitas pastinya. Maksudnya belajar-belajar stand up di awal itu di Makassar, habis itu ke Jakarta. Nah, alhamdulillah gabung di komunitas ee Standup Indo Bekasi. Oh, lu Bekasi. Oh, jadi dari Makassar lu sudah stand up dulu? Iya, stand up dulu. Udah ke Merantau Ada keluarga di Jakarta. Eh, di Babelan. Di Bekasi waktu itu keluarga saya. Oh, bukan di Jakarta keluarganya. Di Babelan. Di Babelan. Beda banget sama Panji ya. Kalau Panji kan dari Jakarta terus pindah ke New York kan gitu kan. Kalau lu dari Makassar pindah ke Babelan gitu. Iya. Habis itu Babelan. Habis itu masuklah di komunitas Tenapindo Bekasi. Belajar sama Bang Aji si berarti itu belum suci belum suci? Ee sebenarnya iya belum belum belum belum. Jadi lu gua pikir lu tuh Suca atau Suci dulu baru stay di komunitas. ah Suca dulu deh. Suca dulu tidak dapat juara. Cuma berapa kali nampil ais dulu berat nih nih karir nih berat nih. Saya memutuskan udah deh merantau aja karena udah kadung di sini kan mau nyari duit di sini aja. Di sini aja gabunglah. Oh, barulah. Karena dia gagal itu karena dia belajarnya sama Aziz Gagap ya waktu itu Bukan Aziz [tertawa] Gagap. Aziz bukan Azis Jam Senior. Tapi lu bayangin enggak siil? Maksud gua dia tuh ke Jakarta segala macam berkarir kenal sama semua orang itu kan dari stand up. Sekarang dia malah nyari duit dari konten itu loh. Astagfirullahalazim. Itu pintar menurut gue loh. Kok bisa [tertawa] begini? Kok gini kalau ceritanya sama itu namanya orang yang bisa melihat peluang di manaun dia ambil gitu karena dia sudah tahu kekuatan dirinya. Nice dream. Pintar ini bapak. Nice dream. Mimpi lu. [tertawa] Karena akhirnya begitu dia ngelihat ada peluang, oh ini bisa gua manfaatkan. Gua sekarang punya personal branding yang kuat gitu kan. Enggak kayak teman gua, ada teman gua tolol tolol banget gitu. Jadi dia nih udah udah dinilai lucu sama semua orang gitu kan ya. sampai akhirnya dia punya personal branding yang kuat tapi disuruh ngonten enggak mau dia. Siapa ng itu lebih ke ini tabiatnya kayak tabiat susah memang kalau orang eh enggak tapi gue benaran nanya nih lu sekarang nyari duitnya lebih banyak dari konten atau dari stand up? Kayaknya masih stand up sih kayaknya. Masa? Oh iya, karena konten ee menurut saya ketika influencer sekarang tuh ada masanya yang oh tiap bulan tuh banyak ya. Iya. Brand ni sekarang transisinya kalau ada ada kalau enggak enggak gitu jadi tipis. Tapi sementara stand up bulannya itu sudah jelas dia memang kita ada puasanya. Iya memang ada puasanya bulan getering kantor gitu ya. Itu ada ya biasanya kuarter empat tuh ujung-ujung. Iya. Heeh. Bahkan ada beberapa yang corporate tuh, "Ayo, Mas ee stand up lagi." Kadang saya sudah tiga kali kayak ampun, udah habis materis saya. Ampun. Di kantor yang sama. Iya, di kantor yang sama. Tapi tuh gua salut loh. Masih banyak perusahaan-perusahaan yang bisa membayar komika seharga 15 menit kayak lu itu seharga Rp150 juta. W, wis, wis. Astagfirullahalazim. Amin. Amin. Allah. Tapi tidak ada. [tertawa] Eh, itu dapat dewa 19 akustik loh. Mendingan tu Dewa 19 akustik dah. Daripada dia 15 menit nih [tertawa] bisa nyanyi amul atuh Ariaso itu dapat tapi Bang Ngongol tuh memang harganya tinggi dia. Oh iya dia kan spesialis corporet. Eh enggak tapi gua dengar dari teman-teman komika juga salah satu top tier untuk corporate tu Arif Brata. Oh iya gila. Salah satu ya. [tertawa] Saya dibayar pakai tos. Makasih ya, Rif. Buat apa? Bekas padang lagi. Makasih ya, Rit. Makasih ya. Kuning kuning terlalu kuning. Terlalu kuning. Tapi dengan Bang mau bilang harganya segitu kita komik-komik medioker ini aman segini. Enggak lah. Lu udah enggak masuk medioker tahu. Lu tuh udah lu tuh udah masuk top tier. Enggak enggak. Kalau kore gua pernah dengar cerita biasanya justru yang baru-baru malah ya atau yang yang ee apa namanya mungkin belum pernah corporate segala macam dapat limpahan dari Arif Brata kalau dia enggak bisa. Astagfirull kalau Arif Brata enggak bisa baru dapatnya. Lu tahu enggak kenapa dia bisa begitu? Karena dia ngelihat potensi itu tadi. Bagaimana gua mengembangkan sayap gua lewat konten? Betul dia. Jadi dia berkonten untuk dia membesarkan dipanggil sama corporate-korcorporate. Muah. Jangan bacot. [tertawa] Jangan bacot sih dong gua. MP itu bayaran saya enggak mahal tapi eh ridersnya aja. Rider saya apa? Eh sapi limousin du [tertawa] kurban acaranya. Dia mau jadi Irfan Hakim mau punya. Harga saya cuma R2 juta tapi sampai limusin dua. Eh sekarang gua mau tahu ini siapa? ini siapa lu? Ngek. Iya ini siapa lu sekarang? Oh, dia ngurus e bantu saya merchandise. Saya punya merchandise. Keren, anjay. Merchandise Arif. Iya. Jadi, lu bawa enggak? Lu bawa enggak? Enggak bawa lagi. Apa bentuknya apa? Kaos atau kaos? Kaos gitu. Tulisannya apa? Terserah desain-desainnya saya gitu. Nah, dia yang ngurusin ya. Kalau misalkan dia cabut nih, saya kayaknya cabut ke unic lo nih. Panik sayaak. Kalau dia cabut ke unik lo kok panik. Happy harusnya [tertawa] dia ke brand gede begitu saya e tektokan sama vendor juga jarang dia yang jago [tertawa] gitu sangat support. Oh itu eh lu rencana kecabut kapan? Jangan dulu, jangan dulu. [tertawa] Tapi merch lu, merch lu gua enggak tahu, maaf ya gua enggak tahu ya. Maksud gua merch lu ee works banget terjual lumayan. Alhamdulillah lumayan. Alhamdulillah awal-awal tuh penikmatnya saya aja penikmat stand up. Iya fanbase lah ya. Sekarang sudah mulai melebar. Ih, sekarang sudah mulai melebar karena bikinnya kayak motif-motif gambar mobil juga. Sebenarnya kadang ngelihatnya, "Oh, Bang Goofar bikin ini nih apa yang dia punya tuh dibikin menjadi desain." Oh, saya juga udah berapa katalog, Pak? Berarti kalau untuk kaos berapa itu? Ng 50-an ada Allah serius? 50 dan gua belum tahu ya. Aduh, minta maaf ya. Ini enggak maksud gue. Jahatnya. Ya Allah. [tertawa] Jahatnya jahatnya enggak maksud gue. Kan kita sering ketemu di event-event. Yang paling banyak beredar kan lu tahulah podcast seminggu. Podcast seminggu. Oh itu iya tuh kan banyak tuh. Udah paling oke tuh di mana-man gua belum nyampai 50 katalognya. Mungkin 30 atau 40 dia lebih banyak dia. Masok. Iya lebih banyak dia. Dia tiap bulan kayaknya ada bar. Justru dia ngeluarin banyak itu karena biar tahu mana yang laku. Jadi [tertawa] coba terus aku mau beliah. Beli. Belinya di mana? Enggak usah beli. Masih numpuk di rumah banyak. [tertawa] Enggak usah beli ya. Mau beli justru gimana? Kita support kita support ukuran L. Ukuran L M enggak dia M apaang dia soalnya nge-gym dia pengin pakai yang ketat-ketat kayak Dedi di Kobuzir sampai pentilnya kelihatan dia pengin pakai begitu dia pengin bikin video eh lu tahu dia. Dia mah bisain presiden siapa aja yang viral [tertawa] deh. Terbaik nih orang eh ngomongin masalah ngomong-ngomong tadi. gua kan lihat video lu yang mana ngobrol sama anak nih. Ngobrol sama anak kan. Kenapa anak lu kalau ngobrol sama bini lu bahasa Inggris kalau ngobrol sama lu bahasa Indonesia? Tahu itu enggak tahulah karena ist saya ngomongnya ke dia bahasa Inggris saya ke dia bahasa Indonesia. Kenapa terakhir gua lihat anak lu ngomong sama lu papa [tertawa] Iya saya juga balas wacaran sambil gigitin monyet kan. Sambil gigitin [tertawa] sambil gigitin monyet. Maaf masa begitu yang bahasa sayaak ada. Yang paling penting biar orang ngerti ada gini ya. Iya [tertawa] ternyata Afrika. Kenapa? Kenapa? Ih, kayaknya saya enggak bahasa Inggris ke dia juga gitu jadinya. Enggak enggak maksudnya dia juga kayaknya sering dengar konten saya yang ha saya enggak bisa bahasa Inggris gini-gini. Sehingga dia kayaknya di kepalanya bapak saya memang kosong dia. Oke, ini ini memang El pada saat diundang di sini enggak dikasih tahu sama sekali. Podcast ini akan kita ee translate ke akan interview-nya dalam bahasa Inggris. Oh, that's right, baby. [tertawa] That's right. Let's go. Let's go. Are you ready? I'm ready. Oke, first question. Come on. Gampar lu ya. [tertawa] Per buat yang sama aja ini. Buat yang diam diam. [tertawa] Buat yang dengerin gua sama Sahil siaran semua orang sudah tahu bahasa Inggris kita sama Arif berata sama [tertawa] sotoy banget nih orang. Saya kemarin konten-konten bahasa Inggris. Bahasa Inggris. Saya kemarin masuk tidak sengaja masuk ke live pada saat siaran. Yes. What do you think? What do you think? I think you is very boring. And then kayaknya lagu sementara diputar terus dia gini doang, "Bang, yang pakai baju putih enggak ada kerjaan apa?" Itu yang di samping tuh. Bang, suaranya noise nih. Hah? Gimana gimana? [tertawa] Eh, benar sumpah saya dengar langsung jelek banget audionya. Iya, betul. Ada noise enggak tahu grounding tuh. Itu ada brand tapi jam 0.00. Oh ya. Jadi kita bikin live TikTok proper lah. Dari jam 7 kan brand belum datang. Itu ngapain kita bingung. Iya makanya gini doang gini doang. [tertawa] Terus lagu lagi on air. Saya di kasur juga gini doang ngelihatin kamua. [tertawa] Ya ampun. Jadi itu bahasa Inggrisnya istri sering bahasa Inggrisnya sama anak. Sama anak. Makanya pernah saya baca buku buku ceritanya dia dong yang ada bahasa Inggris. Iya. E one day ini gitu. Tiba-tiba dia tutup begini bukunya. Yang bahasa Indonesia aja. [tertawa] Kena, Pak. Dada Bapak ini kena. Enggak. Maksud gua emang kadang-kadang ee anak tuh bisa menjadi challenge buat orang tuanya. Kayak misalnya kalau mau contoh ya, anak gue misalnya itu kan sekarang ee sejak dia ngaji hafalan suara pendeknya makin banyak. Masyaallah. Gue tuh enggak mau kalah. Oh. Sampai pada akhirnya gua kalah juga. Jadi waktunya, tapi maksudnya ketika gua belum kalah itu ada masanya kayak, "Ah, gua mauy ngfalin juga. Ah, gua mau ngapalin juga. Gua mau ngapalin juga." Pada saat udah kalah ya udahlah enggak apa-apa gitu. Gua udah berhenti ngfalin situ. Tapi kan ada gituannya. Lu ada gituannya juga enggak ke bahasa Inggris? Ada. Akhirnya saya ikut les bahasa Inggris. Eh, di mana? Di online. Oh, ikutan online. Ikutan online. Tapi dua kali ganti ee pengajar karena yang pertama dia enggak sanggup. Bukan enggak sanggup, dia lebih ke ngobrol soal keluarganya. [tertawa] Kok gitu? Enggak tahu nih. Enggak yang ngajarin tuh nisif. Natif orang bule atau orang kita? Orang kita. Iya. Halo, Bang. Ih, ee iya. Kemarin saya dari ini, Bang. Ini oke ngobrol-ngobrol panjang ini. Masuk ke soal-soalnya kapan ya? Di detik-detik terakhir baru 10 menit terakhir baru sisanya dia ngomongin soal keluarganya sama ngomentarin soal el. Iya. Habis itu Oke. Karena lu ngomong detik ini, kebetulan kita sudah buka detik.com. Iya kan? Dan kita akan masuk ke segmen English test. Wis, masa ada English test? Ada. Ada satu cerita dari detik.com yang kita ambil ini tentang Cinderella. Silakan dibaca. Ini bahasa Inggris. Bahasa Inggris. English test. Oke. Siap semuanya menilai ya. Bahasa Inggrisnya Arif Brata gimana ya? Yes. Oke. The story of Cinderella tells of a kind h young woman who was treat crolly. Ya Allah. Gr by by her stepmother. Asik and sister. But [tertawa] but saya tahu banget kalau but mah but neverth theeless. Papa bahasa Indonesia aja. Gua enggak ngerti Bapak ngomong. Ee mungkin generasi-generasi di bawahnya saya yang masih sekolah menurut saya untuk bercanda tentang eh ngapain bahasa Inggris ngapain? Jangan jangan bercandain itu. maksudnya kayak ih sosok bahasa Inggris ya enggak apa-apa mending belajar. Justru bagus bagus. Inilah contohnya yang menyesal di kemudian hari kayak ya Allah kah harusnya kita bisa bisa luas gitu nonton film enggak usah mata ke atas mata ke bawah lagi. Iya kan? Gini gini gini harusnya ini ekspresi sedih malah kita baca itunya terus misalkan diundang review mobil di luar negeri ya kan. Nah itu tujuannya itu lu tuh harus ngembangin itu karena lu SUN tuh akan diajak buat launching Ferrari gitu-gitu Iya. mulai belajar sekarang di kamus besar bahasa Inggris Indonesia cari spuyer bahasa Inggrisnya apa spuyer [tertawa] ya gitu kan langsam apa langsam langsam bahasa Inggrisnya apa langsam ya gitu ngapain otomotif iya tapi model-modelnya aja kali enggak usah spuyer-suyernya juga [tertawa] sangat penting lah intinya adalah belajar bahasa Inggris itu penting sedari dini untuk anak-anak kita ada ilmunya juga loh ternyata karena soalnya saya merasa kayak gitu teman belajar bahasa Inggris saya yang mempengaruhi ya elah ngapain kita cuma Oh, sempat kayak gitu juga sempat ngapain sosok bahasa Inggris kita ketawain lah orang-orang bahasa Inggris itu kalau misalkan guru bahasa Inggris masuk kita kayak yes mam yes mam yes no oh gitu doang gitu gitu doang jadi kayak bercandain padahal itu penting banget karena kita tidak pernah tahu masa depanmu nanti kau bakalan ke mana gitu makanya lu menyekolahkan anak lu di sekolah internasional betulingnya bapak ini bagus itu duit gajinya nya Aldi itu duit gajinya Aldi tuh siapa lagi teman satu lagi Adi itu duit gaji Aldi Adi yang dia tilpag [tertawa] yang dia cut untuk menyekolahkan anaknya di sekolah internasional [tertawa] itulah ternyata the dark side of Aris Brata keren anak lu sekolah di mana sih nama sekolahnya inisialnya adalah enggak usah inisial per bulan berapa Apa? Jangan. Hm. Mahal kan? Enggak, enggak terlalu lah. Oke. Gini lu pernah di enggak eh gini. Per bulan rupiah apa dolar? Apa sembakau apa [tertawa] itu namanya? Upeti, Mas. Itu zaman ya? May dolar ya? May. Dolar kan? Gini, lu pernah ngantterin anak lu sekolah enggak? Hm. Iya, sering. Eh, pernah lah. Iya. Oke. Lu ngantterin anak lu sekolah, lu tahu kan sekolah internasional? Iya. Lu ngantar pakai mobil apa? Mobil istri. Mobil sama seperti Bapak listrik. Oh, yang listrik yang kecil. Kecil. Lu ngantar pakai itu. Iya, ngantar pakai itu. Yang lain mobil-mobil lain di sana apa? Lexus LM. [tertawa] Kia Karnival. [tertawa] yang baru. Yang baru. Terus apa lagi? Ee pokoknya mobil-mobil besarlah. Range Rover. Ada. Range Rover. Race Rover. kayaknya belum ada tapi eza danza danza ada terus Alfard Alfar Bejibun lah ya iya mobil-mobil yang di atas tuh ini orang tidur apa ya kayak gini enak pintu kegeser iya kalau kita kan kitanya yang geser [tertawa] buka pintu baru baru kita ni anaknya itu di belakang di belakang awas dulu n mau keluar teng baru [tertawa] bener lag iya gitu lu pakai Iya. Warna putih ya. Warna putih. Oke. Lu ketika lu ngantar anak lu di sekolah internasional ini cuma nanya doang ya. Ada perasaan minder enggak? Lah minder, Pak. Sumpah mindernya karena mobilnya atau apa? Bukan masalah mobil. Kalau mobil mang ya udahlah itu kan selera masing-masing dan kemampuan keuangan masing-masing. Ya. Mindernya tuh lebih ke saya bingung menempatkan diri ini tuh harus ngobrol apa gimana gitu. Oh. Sama siapa nih? sama orang tua murid yang sudah mengantar dan berdiri di depan sekolah ee di depan pintu. Ketika pintu keluar ee terbuka kan anak sudah mulai berbaris ya. Nah, itu saya tuh kadang bingung habis salam Asalamualaikum. Asalamualaikum berdiri bingung Pak di tempat Iya iya itu lu berdiri di tempat supir bukan? Enggak ya? ada kopi sih sama [tertawa] tapi istri saya alhamdulillah dia pintar berbaur maksudnya sudah kenal sama orang tua yang lain gitu kayak eh udah itu sebenarnya maksud gua lu sebagai orang tua gua pengin tahu kenapa lu ee ya kita kan pasti sebagai orang tua pengin pendidikan yang setinggi-tingginya buat anak-anak kita ya betul sekali cuman kenapa lu memilih untuk sekolah internasional itu karena sebenarnya ketika lu masuk memasukkan anak lu ke sebuah sekolah yang harus lu pikir pikirin adalah grup orang tuanya di WhatsApp. Iya kan? Belum parent teacher meeting. Nice. Iya kan? Nice. Belum lagi f trip. F iya fil trip. Betul kan ke Korea kan fil tripnya kan. Enggak ada. Enggak ada. Enggak ada. Eh enggak mungkin ke Taman Mini itu. [tertawa] Mungkin anak gua ke Taman Mini kemarin sik haji dia drip naik bus bluebird. [tertawa] Naik bus yang besar begitu. Ih ya Allah Pak. Ini saya bisa ngikut dari belakang. Enggak boleh orang tua ikut. Enggak boleh gitu. Karena lu pengin ngerasain busnya itu Kayaknya tidur enak. [tertawa] Enggak pertimbangan lu apa gitu sama istri? Apa kemauan istri aja atau Kemauan istri tapi yang paling besar adalah kemauan saya karena semua berkaitan dari pribadi saya. Mungkin yang kalau misalkan dari dasarnya mungkin saya sudah belajar dengan baik dengan Karena menurut saya ketika manusia itu dasarnya sudah kokoh nih. Heeh. terserah mau nanti SMP-nya ee sekolahnya bukan internasional itu enggak masalah. Yang penting pada saat dia masih lembek nih masih bisa diatur-atur ini lamb kan dia kalau masih kecil itu masih bisa jadi sayur masih apa. Kalau sudah jadi tinggi tinggal makanannya panda itu. keras ya kan. Jadi dari awal tuh yang penting itu kalau kemampuan keuangannya saya habis nih nanti di 6 tahun sekolah dia sudah enggak apa-apa sekolah yang penting dia sudah ditempat sama sekolah internasional yang kualitas pendidikannya oke dia sudah dapat ilmu yang luar biasa dan akhirnya nanti gedenya dia tuh sudah punya pegangan pegangan i yang penting fondasinya sudah bagus banget aja dulu keren cara pikirnya buat pendidikan dibela-belain iya benar belum bisa dengar ngapain nih nanti nih Enggak, enggak ada. Adaak [tertawa] ada bagus itu. Tapi tadi kan ngomongin masalah orang tua tuh ada grupnya segala macam. Ada yang lu taksir enggak? Lah, bener dong. Masa ada ditaksir? Iya. Enggak maksud gua lu kan ketika ketemu ngantar kan ngelihat mamah-mamahnya itu kan bagus semua yang perawatan semua segala macam. Ada bagus. Kalau perawatan pasti gitu banyak. Tapi kok tahu kan perawatan semua orang-orang ada uang. Iya. Kok tahu? Eh, bagus juga pancing-pancingnya ya. [tertawa] Bagusnya. Aku cinta istri bag sayang. Enggak, tapi beneran. Iya kan? Bahkan kadang-kadang guru-gurunya, Pak. Iya. Itu juga orang tuanya dulu deh. Enggak mungkin ada yang ngantar pakai kaos mie sedap. Hasil hadiah [tertawa] gue pernah ngantar anak lu pakai kaos ini mie sedap atau hadiah chat kaos had karena aku bodo amat kan. Itu kayak paut-paud di dekat komplek doang. Mahal hadiah chat apian. yang dapat ember ya kalau enggak iya itu enggak adaak mungkin tapi cantik-cantik ya mama-mamanya teman-teman anak lu cantik-cantik ya iya yang paling lu suka di grup itu siapa namanya siapa ya kenapa bekis itu pertanya yang tadi lu tunjukin sebelum sebelum kita on air engak ada tidak ada yang off air tadi yang lu bilang ini bagus banget ya ih astagfirullahalazim [tertawa] tidak ada off mana kita cuman bilang e rif makan rip saya kenyang diet ya rif udah titik saya keluarok [tertawa] ngerokok ada di CCTV Kok kayak lagi B kronologikal banget. Tapi cantik-cantik ya. Cantik-cantik. Iya. Gue cuma nanya itu doang. Iya cantik-cantik. Tapi lu masuk grup itu atau istri lu doang? Istri aja. Istri aja yang masuk. Kenapa lu enggak masuk? Kayaknya enggak diundang deh. [tertawa] Pokoknya notifikasinya saya cuma megang aplikasi report ketika anak sudah belajar hari ini dijelasin. Iya sih. Kalau sekolah makin bagus makin bagus juga reportnya. Iya. Kayak gitu. ada, harian ada. Eh, penasaran di sekolah international school itu di mana kalau kita pikir-pikir mereka kan kelasnya kan A+ ya, Pak ya. High end ya, ada yang ngenalin lu dan minta foto enggak? Atau justru lu dikira supir di situ? Pernah enggak? Bukan. Pernah enggak? Ini namanya doang, Pak. Terkadang gua aja tuh suka minder loh. Kalau kita datang ke apa sekolah-sekolah yang mahal kayak gitu tuh kita kayak ini mereka nganggap kita enggak ya? Kan suka ada pikiran kayak gitu. disuruh nongkrong di plaza Indonesia ya kayak gua sih masih minder gua nongkrong di plaza Indonesia masa lu ngobrolnya sama gua berarti iya dia kan tadi kan dia di ini kantin karyawannya juga tenang aja lu gak abang minar di Indonesia sama [tertawa] ya kayak belum ngerasa pantes gitu sama ada teman nih di sini [tertawa] maksudnya itu mall kita masuk kayak masuk bandara ya ada ti diperiksa dulu gitu barang ditaruh dulu kan banyak mall-mall yang begitu iya sih tapi pintunya dia muter gitu kalau Kita agak lambat. Iya. Kokas juga muter pintunya. Oh belum sih saya belum masuk. Saya enggak pernah ke Kokas. Eh pernah pernah pernah pernah pernah. Eh ini ini yang tadi pertanyaan tadi pertanyaan tadi. Heeh. Ee dikira supir pernah cuman Pak ya gitu doang. Eh tapi saya aja sih yang pasti kepala. Iya dia mengiranya saya supir kayaknya. Dianya enggak pernah ngomong el sebagai sopir tapi elya pada saat disapa begitu lu ngerasa karena cara nyapanya beda Pak antara driver sama Benar kan? Iya benar. Kalau e kadang-kadang security-nya semakin bagus tempatnya nyapanya kalau mereka ngelihat ngira ini owner, wah duduknya agak terlalu seteng. Terlalu lumba-lumba-lumba, Pak. Itu terlalu lumba-lumba. Kalau dikira driver Kalau naik motor naik dia. Gua lihat, gua lihat, gua lihat, gua lihat gua lihat, gua lihat, gua lihat gua lihat. Tapi alhamdulillahnya ee yang ngenalin juga ada dari pihak sekolah juga. Bang Arif. ee Bang Arif gitu, Pak Arif gitu. Ada yang kenal bahkan awal-awal tuh ada orang tua temannya Sabit juga. Yang DM, "Bang, kalau bisa kaca filmnya yang ini lagi yang agak Oh, jadi nonton konten lu kan situ kan? Iya, tapi yang mobilnya istri tuh katanya kalau bisa kaca filmnya agak gelap karena abang kelihatan ke dalam." Oh, iya. Bilang begitu. Saya bilang, "Enggak apa-apa saya juga bukan rapi amat gitu [tertawa] maksudnya dia kceleran. Takutnya kok kelihatan nih berata gitu. Dia aware baik banget sama lu berarti. Benar. Sampai dijelasin gitu saya jadi mikir, "Ih, waktu saya dilihat itu saya lagi ngapain di mobil ya? [tertawa] Apa gini lagi?" Eh, tapi emang kalau yang sering bawa istri mendingan digelapin. Iya ya. Makanya tuh saya gue juga. Tapi ini pertanyaan ini bukan untuk merendahkan ya. Ini pertanyaan ini emang karena kita juga sering merasakan hal yang sama. Merasakan hal yang sama. Iya. Kalau kita ke suatu tempat kadang kita suka ngerasa minder kan kayak oh ini begini ya kayak kita ngerasa kita enggak sekelas di situ. Pas kita masuk ke yang itu aja tuh yang tas kita di e scanning itu. Iya kan gua selalu kayak gini. H mudah-mudahan dia enggak ngelihat mereknya Asus. [tertawa] Hadiah dong. Kalau pulang kan full black kan full black kan kalau dari jauh enggak kelihatan kayak mewah-mewah aja. Curiga kayak masing-masing enggak kelihatan kok. Ini mereknya Asus ini. Itu akan aman kalau masuknya Ratu Plaza. bisa masih aman langsung diajak Mas Asus di sini. Eh, tapi lu tahu enggak anaknya dia unik Kenapa unik? Miaranya bukan hamster. Miaranya bukan anjing. Kucing. Naga indosiar. Naga indosiar. [tertawa] Miara apa dia? Ya enggak tahu nih kayak Naga ngelin dharma ya. [tertawa] Biar apaanya? Kepompong Pak. Kepompong. Benar. Sebenarnya bukan dipiara. Pada saat itu dia membantu metamorfosis dari kepompong ini gila. Iya. Popong dari mana maksudnya? Di di samping rumah saya itu ada pohon jeruk. Di pohon jeruk itu banyak kepompong-kepompong. Oh, yang kecil-kecil. Yang di lilipat daun biasanya daunipun dilipat daun. Nah, pada saat itu dia ambil tekambil dia taruh di dalam kayak ee taperware. Udah di dikasih lampu atau apa gitu. Oh, kirain dikasih garam terus kasih masukin microwave [tertawa] masa jemilan begini dia. Dia nyasih lampu seniat itu. Iya. Dan dia berhasil satu. berhasil satu. Jadi kepompongnya udah lama udah keluar. Kita lihat prosesnya dia jadi kupu-kupu tuh luar. Jadi di dalam ruang di dalam rumah tuh dia terbang-terbang satu hari mati gitu. Tapi kan umur kupu-kupu juga cepat kan. Tapi jadi. Nah, ada satu yang dia terlalu ngide. Dia ngambilnya belum jadi kop pompong masih ulat. Aduh, masih dong. Iya, jadi masih ulat. Waktu itu dia main dia taruh kenalah double tip si ulat Ulat itu dia mulai panik tuh kayak, "Pak, ayah, kenapa ini ini ulat ini mati ini?" Karena ulatnya sudah nempel di double tip. Enggak. Kenapa ada double tip? Enggak sih? di bukunya dia kadang dikasih ini double tip-dble tip untuk ngasih catatannya dia, gambarnya dia. Kebetulan kena si uletnya kena double tip-nya itu nempel dong. Saya jadi kayak penjinak bom tuh kayak panik saya. Gimana ini? Gimana [tertawa] ini? Sumpah. Tenang, Nak. Tenang, Nak. Tenang, Nak. Karena betul-betul udah nempel kayak begini. Saya udah angkat dikit tek kepalanya copot. [tertawa] Jujur. Mohon maaf ulat. Ampun. Itu drama sejadi-jadinya nangisnya dia. Sayang itu yah. Saya bilang, "Maaf, kita sudah berusaha semaksimal mungkin." [tertawa] Lu kayak kayak dokter keluar dari ruang operasi ya. Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi aduh yang di atas berkehendak lain. Wah nangis dia. Tuhan berikan aku tidur. [tertawa] Tapi cita-cita anak dia emang lucu banget sih anak dia tu. Iya. Jadi dia octopus. Dia suka banget octopus sampai dia tahu tuh ada apa namanya bahasa Indonesianya apa? Gurita. Gurita. Iya. Dia dia cari tahu tuh ada e gurita cincin biru yang beracun. E gurita tuh punya sembilan otak di tentakelnya itu masih saya tahunya dari dia gurita punya se otak di tentakelnya dia. Gurita punya sembilan otak. Indonesia punya sembilan apa? He. Sembilan naga. [tertawa] Naga i siapa tahu ada yang ngenalin terus ada yang mau ngerekord kita satu naga. Ada yang ngelalin kita gitu meng-hihare kita kan lumayan. Ee kayak, "Hai kamu, aku mau kasih buah naga gitu." [tertawa] Empasi bayi dong, mulut kita kotor. Gimana caranya biar minta kerjaan sama sembilan Naga? Oh iya, Bapak-bapak Sembilan Naga bagi loker masa [tertawa] begitu lagi. Janganlah janganlah. Secinta itu ya J cinta itu sampai dia putuskan tidak mau makan gurita. Oh kalau di kalau di sushi itu namanya cuka idaku. Iya. Ada kan kaki-kaki baby-baby gua tah dia mau dia gak mau dia ya karena dia terlalu cinta sama si hewannya itu. Iya kebanyakan orang-orang ee yang apa namanya vegetarian gitu-gitu kan gara-gara itu tuh pada akhirnya tuh jadi cinta dulu dia. Janganlah memang dia tuh makanan jadi anak lu sekarang enggak enggak makan daging-ganjing dia. Lu jadi enggak makan-ganjing [tertawa] i kan enggak maksudnya pada saat itu dia ee saya ajarin enggak apa-apa. Kan memang diciptakan itu untuk manusia juga nanti ee dia berkembang biak kita tetap enggak mau. Pernah waktu itu dia mau cari octopus. Di mana? Ada satu di Jakarta di Menteng tuh jualan ikan hias. Ini ikan hias. Sumenep. Sumenep. Sumenep. Daerah Sumenep. Iya. Bukan daerah Sumenep. Jalan Sumenep. Bukan yang di Jawa yang ini loh. Yang yang ada koper-koper dan segala macam Iya. Iya tapi sampingnya lagi iya itu ke situ. Tapi Oktopus eh apa ada gurang. Hah gurita enggak ada. Wah datang lagi nunggu lagi siangan dikit. Ada gurita gurita enggak ada. Uh dia mulai sakit hati tuh. Iya karena dipikir ada. Iya rata-rata tuh cuman ikan hias aja. Tuh katanya musiman atau apa gimana ya? Saya cari tahulah. Ada di Kebayaran lama. He. Ee gurita akuarium. Ternyata yang saya, ternyata dia cuman namanya aja Garuta akuarium. Di dalamnya ikan hias. Ikanas. Iya. Enggak ada, Nak. Nih gimana nih? Sampai saya cari di pasar baru saya lihat. Oh, kayaknya yang jual ikan laut ada nih. Iya, harusnya. Harusnya kan biasa masih hidup itu ikannya ada di situ satu baskom ee gurita semua Gurita semua. Sus saya bilang, "Bu, ini gurita." Iya, gurita. Ada yang hidup enggak, Bu? Yang hidup di laut. [tertawa] Yang hidup di laut. Dia bilang begitu. Ibu-ibunya gak salah juga. Iya, ya. Gurita di laut. Oh, sakit hati dia. Gak ada nak udah pulang dengan perasaan sedih gitu. Iya, dia juga kan lu sebela-belain itu ya kalau buat si Sabit ya. Karena saya tuh penginnya yang diingat itu loh maksudnya e ingat iya itu menciptakan memori. Kayak bapak saya dulu bela-belain tuh. Pas mungkin dia dewasa baru sadar ngapain ya dulu saya cari gurita ya mungkin begitu tapi ada ada yang diingat kayak tapi kan alhamdulillah sekarang sudah banyak k memorinya kan buat bapaknya kan kayak bapak saya pokoknya gagal nyari [tertawa] bapak saya gagal nyari inak saya enggak bahasa Inggris bapaknya kan berhasil sekarang iya betul udah sukses alhamdulillah udah sampai di titik yang cuma kesuksesan di mata anaknya seputar gurita aja pakik duit karir belum Ada betul gurita. Sekarang gini pertanyaan gua. Anak lu di sekolah makan MBG enggak? Minum dulu, Bang. Iya, silakan. Tapi habis itu dijawab ya. Makan MBG enggak di sekolahan? Emang nyampai ke sekolah internasional MBG? Enggak tahu gua. Makanya gua nanya enggak lah kayaknya mah enggak tidak kayak Bang. Tidak, Bang. Lu larang Maksudnya di sekolah alasannya kenapa di sekolahnya enggak ada. Iya tadi kan itu kan berdasar keputusan orang tua juga kan. Iya. Iya, lu sempat menolak itu. Kenapa? Ini beritanya viral loh. Iya, tapi di sekolahnya aturannya kayaknya catering kan ada kan. Kalau kalau sekolah internasional kan namanya FMN. Apaan tuh? Free meal nutrition. [tertawa] Oh, I kayaknya itu ya makanan bergizi gratis enggak? Kalau misalkan anak lu dapat MBG, lu izinkan dia untuk makan enggak? Alhamdulillah. Kan gratis dan bergizi. Iya. Lu kasih. Hah? lokasi. Kalau enak alhamdulillah gitu pasti enaklah. Iya. Kalau enak alhamdulillah. Dikasih enggak dikasih izin buat makan MBG? Iya dikasih izin lah kan dimakan makanan Benar ya? boleh ya? Boleh. Kalau gua lihat di CCTV yang ngabisin dulu awas ya [tertawa] bela-belain anak. Papa aja makan, Nak. Makan yang kating itu. [tertawa] Aduh, pertanyaannya terlalu absurd. Tapi saya peri saya pernah ke Lombok ya. H. Terus ada anak juga pernah ke Lombok? Iya, waktu itu kemarin. Kemarin lah belum pernah belum Lombok? Halo. Pernah apa emang? Belum. Dia belum pernah kita ledekin dia belum pernah. Udah, lu udah pernah ke jembatan Tapos? Belum [tertawa] pernah jembatan Tapos? Sombong-sombongan belum kan lu jembatan Tapos. Habis cara lu ngomong, "Gua pernah ke Lombok, gua juga pernah." Harusnya kalimatnya saya salah. Eh, salah tuh. Harusnya kalimatnya saya waktu itu saya ke Lombok Nah, ini berarti stand up nih. Dia udah nyiapin bat nih. Kalau mau stand up tu gue tuh bingung Udah [tertawa] enggak itu kenapa lu ke Lombok? Nah, waktu itu lagi makan kita ya kan. Ini cerita asli nih. Makan ada anak kecil yang jual-jualan ee gal ee gelang. Kak, ini Kak uh lucu banget dia e menjelaskan produknya. Saya bilang, "Ya udah deh, beli." Habis dia beli, saya habis saya beli, ada satu temannya lagi datang, "Kak, gelang, gelang, gelang." Saya bilang, "Sudah tadi, Dek, sama temanmu." Ah, jangan, jangan sama itu deh, Kak. Dia habis habis makan MBG. Ih, kenapa kok ketawain? Gak apa-apa. Iya, soalnya kemarin dia keracunan terus dia ketawa. Sumpah ini nih cer ini keracunan tapi maksudnya garacunannya itu sakit perut. Sakit perut. Iya. Nah, cabut yuk. [tertawa] Cabut cabut cabut. Ayo. Terus sekali perbincangan di podcast episodenya Arif berata. Parah parah parah. Ee emang ternyata kita bertiga stipe ya. Pas banget sama-sama cuman segitu ilmunya di otomotif. [tertawa] Terlalu perhatiin obrolan kita otomotifnya dikit. Eh, tapi nyinggung masalah otomotif nih. Kita mulai masuk ke pembahasan otomotif. Oh, keren ini. Bentar. Apa? Anjay. Sabar. Lu kan ee beli mobil X-Trail. Iya, bagus. Terima kasih di parkir di bawah. Ganteng banget. Hasil. Iya, ini Xil yang sama kayak Darto ya? sama persis. X-til XT. Oke. Yang lu modif apa aja sama Gofar? Tuh, kalau ini tuh enggak dimodif. E waktu itu Bang Gofar cuman modifin lampunya jadi bulat. Terus grillnya dari yang logo ee Nissan eh terus diganti cuman tulisan gitu. N dari Nissan jadi Nisin sekarang dong. Aw aw kalau jalan merotol tuh dia. [tertawa] Astagf ada remah-remah. Wah mobilnya siapa sihin [tertawa] pada digigit aja mencatin kalau mau iklan hubungi nomor di bawah sini ya. Kalau ngobrol enggak bisa dong. Engak bisa. Iya betul. Iya betul. Tunggu selesai baru bisa ngobrol. Jadi grillnya lampunya selebihnya enggak udah masih veleg belum? Kenapa lu nunggu di dikasih atau gim? Sebenarnya itu saya melihatnya mobil-mobil kayak pejabat di zaman dulu ya waktu saya kecil ya itu digituin aja udah ganteng. Iya sih ganteng sih mobil. Kenapa lu? Berarti lu suka X-ril gara-gara kegagahannya itu kan dari dulu pengin ee eh pantat-pantat yang kotak-kotaknya itu aku suka pokoknya mobil ya kalau mungkin selera gua sama dia agak-agak sama nih mobil kalau dipakai polisi itu keren Pak sama X-Trail tuh mobil polisi dulu sama setelah X-Trail tuh Vitara Grand Vitara tapi lu tahu kan kalau ingink RV sekarang juga dipakai polisi ada betul ada makanya lu pakai itu juga iya lampunya di atas besar kan iya gedean tuh lampu daripada body mobilnya Karena terlalu emang didesain buat sedan normal. Tapi itu mobil-mobil tapi ini mobil boros kan? Mobil boros itu 18 ya kalau enggak salah Tergantung kalau di tol masih aman kalau lancar. Jadi kalau dalam kota macet dalam kota macet 17 kayaknya. emang buat yang rumah-rumahnya kalau bisa enggak enggak terlalu mobile lah. Tapi buat seorang Arif Bratan mah udah enggak ngomongin bensin, Bro. Tapi akhirnya dia ngambil mobil listrik. Mobil tempur. Memang itu mobil tempur. Kenapa lu ngambil mobil listrik? Istri saya suka waktu itu. Jadi buat nyenengin istri lu, lu kasih mobil listrik. I dia dia mau dan akhirnya ah malah lebih kepakai ke mana-mana karena dia pulang tekal gitu. Dan dia pernah nih di gang di depan macet. Wah parah ini macetnya. Parah ini. Itu Mawiil bisa mutar dari sini [tertawa] langsung begitu. Beneran dah ada dah. kecil itu karena kan dia muka tidak ada, pantat tidak ada. Oh iya sih. I kan oh maksudnya digang. Oh iya bisa sampai ccet-cocet gitu. Oh tapi jangan terlalu cari kenyamanan kalau [tertawa] maksudnya saset irit. Iya tapi kalau ini tetek ah sedikit-dikit berarti boleh jatuh cinta sama mobil Rencananya mau beli yang lebih gede lagi. Lebih gede lagi enggak? Kalau rencana kan pasti ada. Iya penginnya yang mana? Kalau kalau saya tuh penginnya kan mobil listrik tuh kadang cepat turunnya harganya. Yes. Betul. H ee Hyundai Ionic 6 penginnya itu. Modelnya bulat-bulat begini belakang kayak porse. Pen apa motomotif? Ee aku belum sampai Ionic. Belum. aku masih mau beli yang mobil yang kamu pakai. [tertawa] Bener aku bayarin Bang. Ya udah dia bayarin bayarin Bang. Ya udah lu kan belum paham otomotif. Jadi sori gua ngobrolnya sama Arif aja nih berdua nih. Kita ngomongin masalah-masalah mobil Gimana nih, Bang? Gimana nih, Bang? Jadi gimana R? Di manung. [tertawa] Tapi lu nyari peleg lagi enggak buat si Woling lu? Pelek peleg? Enggak. Enggak. Enggak lu ganti? Enggak sih. Karena menurut saya dia tuh udah fendernya aman. Fender apa? Fender masih aman. Karena apa tuh? Fender kalau yang saya saya tidak tahu. Tapi kalau lu enggak tahu kenapa lu bilang aman? Vendernya aman. Masih aman. Apa tuh vender? Saya tidak tahu. Pokoknya aman aja. Gimana sih? Enggak tahu vender. Fender apa? Vender lu enggak tahu. Mal kasih tahu. Kasih tahu. Bang kan gua enggak diajak ngomong tadi. [tertawa] Gua tahu suruh jawab. Ya Allah bagaimana pengetahuannya? Sampai di pintu mobil aja ini. M lu tahu lekukan yang di ban. Iya. Nah, fender tuh itu tuh inner vender. Gua enggak tahu ada inner spark. Diam. Diam diam diam diam diam diam diam. Jangan lu bukan di yang di dalam. Yang di dalam. Dalam apa di luar? Di body kan. Iya. Kan kalau lu ganti vel kadang kan kita jangan sampai keluar dari fendernya. Oh iya. Bornya bor benar starbor. Benar stor. Yang ee apa namanya? Warna-warna di pinggiran body. Iya. Scotland. [tertawa] Scot. I kan Scotland. Ada di Depok e bisa Scotland. Iya. I ya. Yang yang besi di atas apa sih namanya? Lupa saya. Ini tak? Oh. Iya. Yes. Eh, ini roof. Kalau roof toop enggak besi, Mas. Sore. Kalau roof top dia bentuknya enggak enggak enggak besi, Mas. Jadi roof apa nih? Beton. Kalau roof top beton [tertawa] karena harus. Yes. Disebut apakah mobil yang eh empak-empaknya goyang rodanya? Goyanget [tertawa] mobil biduan. Mobil biduan dia itu sebutannya AWD all wheel drive Yang kalau angka yang kalau angka 4WD beda 4WD beda sama all wheel drive. Ada ada empat kali. Iya 4* 4 itu 4WD. Oh begitu. Beda sama all wheel drive. Apa jelasin bedanya? Entar dulu jelasin bedanya apa. Kalau all wheel drive itu dia empat-empatnya bergerak bersama. Oke. 4 * 4 kalau 4 * 4 sama dengan 16. [tertawa] Oh, beda benar ya. Karena bisa diatur itunya. Oh, mau dipakai empat kali. Iya, benar ya. Kalau enggak salah begitu ya. Heh, manusia. Iya, benar ya. I kan kalau 4 * 4 ee enggak sama geraknya. Iya kan itu ada si J. Benar [tertawa] kan ya J kali bisa diatur w drive enggak ya kan. Oh iya benar itu CJ [tertawa] ada Om CJ. Iya betul enak banget asalnya bicara berikut orangnya baik gua nonton YouTube-nya kata kata teman-temannya dia jadi orangnya baik gitu. [tertawa] Emang lu lihat ada muka penjahatnya kan gak ada dia benar gua beda. Oke gua tanya lagi sekarang Kangf? Kerang chef. Iya. Lu bisa makan kerang hijau sih. Kerang lu tahu enggak? Aduh. Aduh. Aduh. Main di mesin dia itu mesin. Iya. Iya. Bagian mesin ya. Sini gak tahu saya. Bagian mesin Kangf. Iya. Gua juga gak tahu ya. Dia juga gak tahu apa, Bang? Krangf. Lu pikir gua tahu [tertawa] itu kan di skrip aja. Krang chef katanya bagian di pokoknya dia adanya di mesin. Oke. Hu. Hu apa? Hah? Hu hu hu apaan di mobil tuh ada hu ya elah head unit nah oh jangan disingkat dong jangan iya biasa aja tdek tdek itu [tertawa] zaman dulu tapd deckingat dong ini kalau misalkan ditambahin itu di depannya ee ini apa namanya body kit n itu body kit body kit kan bisa sampai bawah bisa sampai kanan kiri juga asik asik asik iya body kit itu the the whole body bawahnya Kalau samping doang. Heh. Jengjet dong. [tertawa] Kalau samping dong. Sim. Side skit. Side skirt. Side skirt. Side skirt. Alahi [tertawa] saya. Aduh. Yang di belakang mobil apa ya? Yang di atas di depan. Yang belakang mobil bagasi Pak. [tertawa] Belakang mobil apa? Aduh orang enggak ngerti otomatis. Tiga. Oke, sekarang waktunya kita untuk masuk ke this or that. Pilih antara dua. Pahamlah ya. enggak usah dilihat dulu lah. Biar kejutan. Lu lihat sini aja nih. Nah, lu akan memilih di antara dua statement yang gua kasih atau yang Sahil kasih. Siap. Oke. Pilih Kimi atau orang tua yang ada di sekolahan lu. apa? Orang tuanya sekolahan. Kimi. Kim atau orang tua-orang tua yang ada di sekolah anak? Kim perempuan di sini namanya Kim. Heeh. Ini kan satu-satunya karyawan Om Obobi yang cewek. Cewek nih Kimi nih. Tuh kok pilihnya du jenggot putih [tertawa] kok pilihannya dua ini apa k itu dia saja dia lihat dia. Jangan lihat gue Kimi aja di sini dekat. Halo Kimy udah. Oke. This or that. Stand up di depan massa apa stand up tertutup? Tertutup tuh gimana sih maksudnya? Enggak ada orang. Stand up di tertutup sih. Oh atau di panggung di dalam ruangan gituasi. Oh masih gitu. Karena stand up di depan masa crotnya pasti enggak bisa dikontrol. Saya pernah stand up di acara gerak jalan santai. Iya. Jadi sampai jalan dong. Saya ada panggung orang lagi jalan santai gitu. Gini gini nih. Satu bit belum kelar. ini yang ini nonton premisnya dengar premisnya yang ini dengan pas lainnya. Iya [tertawa] betul begitu begitu kan. Jadi enggak bisa ya bingung. Jadi asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh gitu. Jadi baga iya gitu. Jadi banyak sih teman-teman stand up juga mendapatkan pekerjaan ee stand upnya yang panggungnya juga berbeda-beda. Ada yang dekat lampu merah manggungnya. Jadi lebih enak sih di dalam ruangan aja orang ya. Iya fokus Oke. Modif mobil bekas apa beli mobil baru? Harganya sama ceritanya. Harganya sama. sama-sama R00 juta gitu. Misalnya ee beli mobil baru. Kenapa? Padahal konten lu tuh modif-modifmobil bekas. Iya kan? Buat konten lu. Iya kan kontennya udah ada. Jadi kalau misalkan beli mobil baru yang pasti-pasti aja. Karena misalkan dia kita beli nih, wah murah banget nih. Iya benar murah. Set. Eh ke bengkel. Set ke bengkel. Sama juga har. [tertawa] Tapi kalau misalkan mau dipakai harian ya pasti lebih yang baru lebih baguslah. Sukses di ibu kota apa di kampung halaman? Di ibu kota dulu. Karena di kampung halaman udah nanti udah sukses. Tinggal tinggal kita pulang dan berkebun Emang emang di kampung lu e di tempat dia kampungnya dia [tertawa] dia di apa tadi dia bilang dia di Goa emang goa ya? Iya iya kabupaten goa. Iya itu mostly orang-orangnya ee profesinya Rata-rata udah maju juga sih kita di gua k bilang terbelakang lu enggak usah framing gua ya [tertawa] enggak bilang terbelakang ya udah maju juga sih maksudnya apa kebanyakan apa yang ya apa pegawai pegawai PNS gitu-gitu pegawai maksudnya apakah banyak masih banyak ee yang bertani atau apa gitu bertan iya banyak bertan penghasil padi ya ee bahkan kalau ke atas-atas lagi itu penghasil garam karena dekat-dekat pesisir pantai gitu gitu iya kalau di daerah Jen Ponto gitu Oke. Oke, sekarang nih terakhir nih. Lu kan punya dua IP konten ya. Satu apa? Satu apa? Satu enggak ngerti otomotif itu ya? Iya. Yang otomotif terus sama juga stand up kan. Oh yang stand up. Oke. Lebih pilih stand up atau otomotif? Wah seru juga. Tapi ya kayaknya lebih untuk pertanyaan ini saya lebih pilih stand up karena masih cari uangnya juga di stand up. Padahal ini ada brand mau masuk loh kalau kita saya lebih memilih otomotif. [tertawa] Gampang gampang buat goyangnya bapak-bapak yang penting anak gua tetap sekolah aja bodo amat maendak otomotif. Iya betul. Baik. Oke, sekarang kita akan ee ngelihat cuplikan-cuplikan video dari Dashcam Indonesia yang sudah dikurasi sama Om Mobi. Betul sekali. Lu tinggal komentarin aja video-video yang sudah dikurasi sama Om Mobi ini ya. Tapi harus lucu. Harus lucu komennya. Kok masa harus lucu? Harus lucu banget. Harus ada premisnya, harus ada punchnya. Berat berat banget itu. Jangan biasanya. Jadi lu nonton dulu dan kita tunggu batnya. Oke. W jangan begitu. Ini dia video yang pertama. Saksikan Arif berata pengendara motor micro slip sampai nabrak membatas jalan. Oke. Kasihan. Kasihan. Ya Allah. Ampun. Wah jangan ditiru ya guys. [tertawa] Dia vo guys. Vol setuju dia. Vol 7 on the [tertawa] spot. Wah. Jangan di si Dudung ini lagi ngantuk Lu jago lu impersonate lu. Iya enggak semua orang jago lu tahu. Microslip memang parah sih. Iya benar. Hati-hati apa? Oke. Lucu ya. Lucu ya. Lucu lucu. Tolong tangan. Masih ada tujuh lagi. Wah. Sudah tu aja. Sudah. Video kedua. Lanjut. Ya ampun. Detik-detik motor mengalami crash. Saat menyalip ingin menyalip truk. Lawakannya enggak boleh VO lagi ya. Harus yang lain. Kasihan loh ini harus berat. Ya Allah. Ya Allah kupasrakanlah hidup [tertawa] kepada langit dan bumi untuk aku ikhlas ya Allah. Sejati biasanya dipause dulu tuh. Mudah-mudahan ieserah langsung gambar alam. Iya betul. Tapi bahaya ngeri sih tadi itu. Iya ngeri sih. Semoga e aman ya. Semoga itu enggak ada korban jiwa Ngeri kali ngeri itu. Nger masih ada. Sudah ada. Udah Bang Udah Bang. [tertawa] Ada lagi. Enggak usah enggak usah enggak usah. Lucu enggak usah ini tetap harus lucu ya. Aduh laka di perempatan Desa Joho. aduh apa itu? Kenapa itu dia tadi? Ah langsung tiba-tiba itu ya anak kecil ya. Iya, kayaknya anak sekolah itu. Anak sekolah itu SMP. Iya, masih pakai baju baju biru. Mungkin kesalahannya di pertama ada yang mau belok ya itu ya. Kita putar ulang ya. Enggak cepat tadi. Oh, dia si anak kecil boncengan ini tiba-tiba belok ya kan. Kita enggak tahu tiba-tiba apa dia udah nyalain lesennya atau gimana. Enggak. FYI kita berdua kan bisa ngelihat juga nih. Enggak [tertawa] usah lu ceritain lagi. Emang kita rabun senja lu lagi ngangonaki kan? Enggak. Tapi yang salahnya dua-duanya tidak memakai helm. Iya betul. Eh di gua ee ketaatan terhadap helm gimana? Taat kita harus tapi waktu kayak saya sekolah dulu agak-agak ee rel aja. Saya ribel saya dulu. Dulu kan masih transisi dari helm full face. Eh dari helm yang kecil. Helm kecil sampai. Iya. Cetok namanya di sini ya. Emang di sono apaan? Helm kiwi apa? Kiwi. Hel kiwi. Kiwi. Helwi mereknya Kiwi. Oh mereknya Kiwi. Iya. Oh mitra apa gitu? Terusnya Mitra Kiwi. Bukan dia bentuknya kayak buah kiwi gitu. Kalau kalau dib ada bulu-bulunya dong. [tertawa] Ada bulu-bulunya itu. Enggak ada helm-helm kecil begitu. Oke. Nah. Eh di kabupaten gua ada mobil listrik Udah ada. Udah banyak. Banyak. Jangan terlalu ini. Iya. [tertawa] Justru dia nih. Kan gua cuman nanya skrip lu saya. Kasih tahu mobil listriknya apa yang sudah beredar di gua. Kasih tahu dia biar dia biar dia membumi lagi. Kalau saya balik tuh ee kalau misalkan pulang kampung saya kadang lihat Hindona elektrik. Heeh. Terus yang yang banyak juga woling yang kayak sofa kursinya apa ya? Cloud. Cloud gitu. Betul. Itu ada banyak juga. iya. Udah mulai karena wuling juga jadi apa ya? Mobil mobil daerah dulu di mobil daerah. Mobil daerah itu lintas ke daerah gitu. Kortes. Oh yang kortes. Iya. Jadi kayak Avanza Senia ada Uling Oke. Ini pertanyaan terakhir. Titipan dari Om Mobi. Emang iya kok titipan? Iya. Ini titipan dari Om Mobi. Omobi minta tolong banget ditanyain ke seorang Arif Brata. Jadi intinya lu berkonten otomotif itu benar. Lu mau nyaingin Omobi? Lu mau matiin rezekinya Om Mobi kebongkar nih. [tertawa] Sombong banget kebongkas mana baru-baru mau nyain dengan mobil banyak begitu dibawa. Ya ampun Arif mobil. Terima kasih abang-abang. Terima kasih. Terima kasih Arif Brata. Saksikan spesial show-nya Arif Brata. November 12 November 2025 ada. Belum ada. Oh tahun depan. Tahun depan insyaallah. Insyaallah kita tungguin yaal shownya dan terima kasih sudah mau datang ke MC Terima kasih banyak. Baiklah sampai ketemu di episode Mc berikutnya karena kami suka podcast. Bye bye. Bye bye.
