MOBIL ITU ENDLESS MONEY PIT | REALITA PAHIT CUMA DEMI GAYA? | MOBIL BANYAK HIDDEN COST (YouTube Video)
Ganti mobil juga habit buruk kok, kecuali mobil-mobil tahan depresiasi. Ya, tapi next deh. Koko ngerasain duit ke mana ya? Tahunya gara-gara gonta-ganti mobil. Intinya gaya jangan dibanyakin sih walau udah punya puluhan miliaran. Oke, mari kita bahas komen yang ini. Welcome to IW I wish I knew it earlier episode ketig. Nah, buat komen yang barusan gua ada setuju dan enggak setujunya nih. Pertama-tama kita bahas dari setujunya dulu ya. Gua setuju kalau gonta-ganti mobil itu adalah sebuah habit yang buruk atau habit yang kebiasaan yang kurang baik untuk finansial ya. Karena gini, dengan gonta-ganti mobil terus-menerus, kalian akan mengalami hal-hal negatif seperti satu, depresiasi keuangan. Kemudian yang kedua, kalian tuh bisa mengalami endless manipit atau lingkaran setan yang bikin kita tuh keluarin duit terus-menerus tanpa kita sadarin. Yang pertama kita bahas dari depresiasinya dulu ya. Gua setuju kalau gonta ganti mobil itu adalah habit buruk. Karena dengan mengganti mobil berarti kita akan mengalami depresiasi. Buat yang belum tahu, depresiasi itu adalah penurunan harga atau value uang yang kalian keluarkan dari yang value-nya A jadi A. Contoh, kalian beli mobil Rp300 juta, pada saat nanti kalian jual mobilnya cuman dihargain di Rp100 juta. Berarti kalian akan mengalami depresiasi keuangan kalian itu sekitar R00 jutaan. Di kehidupan ini kan pasti kita maunya uang itu naik ya. Maksudnya nilai uang tuh bertumbuh bukannya malah menurun. Hubungannya depresiasi ini kalian akan alamin kalau mobilnya kalian jual. Tapi kalau mobilnya kalian enggak jual, sebetulnya kalian enggak akan ngalamin yang namanya depresiasi. Karena mobil itu kan kalian pakai terus, nilainya tetap jadi sebuah mobil aja. Terus-terusan kalian pakai dan kalian anggap sebuah mungkin sebuah aset ya. Ya, mobil transportasi gitu. Di saat kalian jual, gonta-ganti kan perlu jual beli ya. Pada saat kalian jual barulah kalian akan mengalami yang namanya depresiasi. Karena kalian mengubah si mobil ini wujudnya ya. Jadi mobil kalian ubah lagi wujudnya ke uang. Yang tadinya uang kalian Rp300 juta jadi cuman Rp100 juta terimanya. Makanya gua setuju kalau memang bonta ganti mobil ini adalah sebuah habit buruk ya depresiasinya. Depresiasinya keuangan tuh cukup-cukup signifikan ya. Apalagi di era yang sekarang ini mobil itu tuh lagi berlomba-lomba ya dari berbagai produsen ya kan dari mobil Eropa, mobil Cina, mobil Jepang lagi lomba-lomba perang harga semua dan menyebabkan tuh gejolak harga jual sama harga beli tuh udah gejolak banget guys. Makanya untuk saat ini kebiasaan gua entah ganti mobil itu kalau bisa dikurangin. Nah, yang kedua tadi gua setujunya karena kita bisa mengalami juga yang namanya endless manone manipit dengan gonta-ganti mobil. Selain depresiasi tadi, Guys, kalian perlu ingat kalau kalian beli mobil itu atau memiliki sebuah mobil, itu biayanya enggak hanya mobil itu sendiri, melainkan banyak biaya-biaya lain di belakangnya yang biasa gua bilang tuh biaya siluman yang tanpa sadar bikin keuangan kita tuh habis terus. Contoh, kalian punya mobil, let's say LCGC deh. Semurah-murahnya mobil itu, kalian tetap perlu yang namanya satu servis rutin, dua isi bensin, tig bayar pajak, empat pergantian spare parts. Nah, ya keempat biaya ini itu yang biasa disebut endless money fit. Jadi biaya-biaya yang kalian terus keluarin tanpa sadar gitu ya untuk bikin si mobil ini tetap bisa dipakai. Dan bahkan sori tadi gua lupa ada empat bahkan sebenarnya ada kurang lebih 5 sampai en ya. Yang kelima ini adalah biasanya kebiasaan untuk memodif mobil. Nah, kebiasaan ini juga bikin uang kita tergerus yang pada akhirnya menjadi barang yang enggak guna. Dan yang keenam ini Angeles Manipit adalah biasanya kejadian di mobil-mobil yang udah berumur dan mobil-mobil yang agak sopisticated atau advance teknologinya kayak mobil-mobil Eropa. Ini sering banget kejadian di mobil Eropa yang keenam ini karena endless manipit itu ya gitu. Misalkan nih mobil ada faktor mesin transmisi kaki-kaki ya. Ini nyambung semua. Pada saat kalian benerin mesin, udah beres nih mesin, tiba-tiba besoknya transmisi rusak. Terus udah benar lagi nih tiba-tiba besoknya minta jajan di kaki-kaki dan akan berulang siklusnya begitu. Terus begitu kaki-kaki udah benar nih, dia mengulang lagi ke siklus pertama. Aduh, ternyata mesin ada lagi nih yang rusak. Apa misalkan komponen mesin kan banyak ya, kayak misalkan ada crank shaft, cams terus kemudian busi bla bla bla gitu banyak bangetlah. Jadi pada saat kalian selesai beresin ini, kalian akan balik lagi ke yang pertama. Makanya ini akan disebut endless manoneit, lingkaran setan. Keluarin uang yang enggak habis-habis yang sebetulnya bisa dialihkan ke yang lain yang lebih berguna gitu. Nah, makanya gua setuju dengan komenan yang tadi. Gonta ganti mobil itu adalah habit yang buruk buat kalian yang masih belum sadari ya. Karena ini berdasarkan pengalaman pribadi gua sendiri. Satu, gua udah mengalami yang namanya resell value sebuah mobil itu drop. Gua beli mobil baru di angka R00 juta, let's say. Tiba-tiba tahun ini cuma sisa R jutaan. Yang mana sebetulnya mobil itu kalau enggak gua beli juga enggak masalah. R00 juta itu bisa gua alihkan ke instrumen investasi lain mungkin atau bisa gua alihkan untuk perkembangan usaha yang sedang gua jalanin dan nilainya jadi bertumbuh bukan malah terdepresiasi kan. Yang kedua, gua juga udah pernah ngalamin yang namanya endless manone pit. Di mana gua ngalamin hobi tuh mobil hobi, mobil berumur itu gak ada habisnya. Ada aja yang dibenerin. Hari ini sensor ABS nyala, dibenerin tiba-tiba besok sensor airbag nyala. Udah dibenerin lagi nih reset. Tiba-tiba besok aki drop, akinya udah diganti. Besok-besok tiba-tiba minta A, minta B, minta C, dan masih banyak lagi. Apa ya? Selain perbaikan yang enggak kunjung selesai, itu juga kalian perlu pikirin ya balik lagi punya mobil itu ada banyak biaya siluman yang kita enggak sadarin. Jangan lupa, ya. Karena punya mobil itu perlu servis rutin, perlu bayar pajak, perlu isi bensin, dan masih banyak lagi. Jadi intinya gua setuju banget dengan komen yang pertama. Kalau gonta ganti mobil itu mau mobil baru kek, mobil bekas itu adalah sebuah habit buruk. Sekarang kita bahas enggak setujunya ya. Kenapa? Di sini kan yang komen dia ngomong, "Intinya gaya jangan dibanyakin walau udah punya puluhan miliaran." Kalau gua baca berarti kan seperti mengjudge gitu ya. Orang yang gonta-ganti mobil itu adalah orang yang kebanyakan gaya atau orang yang mau gaya aja. Padahal sebetulnya kalau kita mau ulik lebih dalam lagi, gonta-ganti mobil itu sebetulnya enggak hanya sekedar untuk bergaya untuk sebagian orang ya. Contohnya seperti pengalaman pribadi gua juga nih. Makanya sekarang gua pengen sharing ya. Mungkin memang yang di bagian enggak setujunya ini akan kontradiktif dengan yang setuju ya. Kalian akan pasti langsung pas dengar lah tadi ngomongnya A sekarang B. Nah, makanya buat yang bingung simak dulu sampai akhir ya. Sekarang gua enggak setuju karena mobil dibilang gonta-ganti mobil itu adalah sebuah gaya gitu ya. Kalau di kehidupan pribadi gua yang sekarang menjadi contonent kreator di dunia otomotif gini, gentifnya dan ada goal tersendirinya. Kalau di hidup gua yang pertama gua entah ganti mobil ini, gua bisa dapetin exposure. Seperti yang kalian notice kemarin itu gua menjadi early adopter mobil willingv yang mana baru setahun keluar gua ambil, gua udah proyeksi dan gua udah punya goal. Dengan gua ngambil si EV ini, gua bisa menaikkan exposure atau nama gua serta gua bisa dapetin konten-konten baru ya, mengekplore konten baru buat si Coco Driver gitu. Yang kedua, gua-ganti mobil itu di kehidupan pribadi gua juga ya itu gua bukan semata-mata gua pengen gua beli, gua pengen mobil A gua beli, enggak peduli deh nanti gimana. Enggak. Jadi gua gua ganti mobil itu juga udah punya planning atau udah punya goal juga. Gol yang kedua ini adalah gua jual beli individu. Gua mendapatkan keuntungan dari harga yang gua beli terus gua jual di harga ke pemakai. Walaupun memang enggak sering ya dari intensitas lima kali ganti mobil ya bisa dibilang dua kalinya itu gua merasakan keuntungan. Tiga kalinya itu hanya break even aja atau balik modal mobilnya aja. Jadi enggak selamanya orang yang gonta-ganti mobil itu hanya demi gaya doang gitu. Ini kita sharing ya, Guys. Gua enggak nge-judge, enggak apa. Diingetin juga gua terima kasih banget karena udah ada reminder juga dari ini. Tapi gua pengen sharing aja opini dari pribadi gua juga. Jadi gua ganti mobil itu enggak hanya sekedar gaya, tapi kalau di kehidupan gua satu, gua berhasil menaikkan exposure Coco driver karena gua ganti mobil. Jadi, gua udah planning tuh oke mobil apa nih yang lagi yang lagi yang mungkin akan viral, yang mungkin bisa menunjang konten gua akan gua beli gitu. Kemudian yang kedua, dari gonta-ganti mobil itu juga gua bisa mendapatkan sedikitlah keuntungan. Misalkan contohnya kalau kalian ngikutin tuh kemarin gua pernah beli yang namanya Volkswagen Golf ya, PW Golf itu. Ini ini contoh ya, contoh gua belinya di Rp100 juta. Setelah gua pakai konten, gua naikin nama lagi, gua dapat exposure, kemudian gua jual lagi. Ternyata gua masih bisa menjual di angka Rp105 sampai Rp110 juta. Nah, gua ada surplus lagi di situ. Makanya balik lagi gua ganti mobil itu enggak selalu melulu sama korelasinya orang mau bergaya atau gengsi. Jadi kesimpulannya, inti dari segala inti kalian pasti bingung nih. Ini si Koko tadi bilangnya A terus tiba-tiba B. Kontradiktif banget kan? Kesimpulan dari yang pengin gua sampaikan di video ini, gua enggak mau ngajarin atau nge-judge kalian kalau gonta-ganti mobil itu jelek atau nge-judge atau menyuruh kalian tuh gonta-ganti mobil, Guys, biar bisa A B C. Enggak. Jadi maksud dari gua sharing ini adalah gua pengin kalian tahu, dapat insight baru. Oke, kalau dengan gonta-ganti mobil ini kalian akan bisa mendapatkan hal positif apa dan ada positif pasti ada negatif kan. Nah, every possibility gua pengin share ke kalian. Kesimpulannya kalau kalian menjadikan mobil itu adalah sebuah sarana transportasi atau hanya kuda harian, gua saranin jangan gua ganti mobil. Cukup beli mobil satu. Jangan sesuai keinginan ya, tapi sesuaikan dengan kebutuhan dan kelas ekonomi kalian. I'm sorry to say tapi di sinilah kalian harus pintar-pintar dan lebih bijak lagi dalam membeli mobil. Karena banyak banget gua ketemu orang kelas ekonominya masih di sini tapi maksain beli mobil yang kelasnya di sini ini. Nah, dengan adanya gap ini, ini akan terjadi yang minus tadi yang gua bilang endless money fit sama kalian akan merasakan depresiasi yang cukup sakit. Makanya kalau kalian memang butuh mobil ya di negara yang car centric ini gua rasa hampir 90% kita udah butuh mobil lah ya untuk sarana harian. Jadi carilah mobil yang sesuai kebutuhan sama sesuai dengan kelas ekonomi kalian. Di mobil kan banyak tuh kelas-kelasnya. Kalian sesuaikan aja sama kemampuan kalian. Tapi gue juga pengin kasih saran kalau kalian bukan menjadikan mobil itu udah harian doang, tapi kalian pengen ulih. Kalian hobi nih sama mobil ya harus kalian harus pintar-pintar cari peluang kalian twick mobil ini yang tadinya liability jadi sebuah aset. Gimana caranya? Ya itu semua kembali lagi ke kalian diri kalian pribadi masing-masing. Gua di sini hanya memberikan contoh. Kalau contoh di gua adalah gua berhasil mentick yang tadinya liability jadi aset ini gua berhasil gua cari peluang untuk jual beli mobil bekas walaupun masih dalam taraf individu ya. jual beli satu jual satu beli satu jual satu kemudian yang kedua gua melihat peluang gua bisa mendapatkan exposure atau menaikkan exposure coco driver dengan mobil makanya gua menganggap ya gonta-ganti mobil ini enggak hanya sekedar gua mau bergaya gua terlihat kaya enggak tapi gua melihat fungsi lainnya di balik itu, di balik apa? Gantai-ganti mobil. Alright. Pokoknya intinya video ini gua enggak mau bikin kalian nge-judge gitu ya. Gonta-ganti mobil itu jelek. buat ganti mobil itu menguntungkan enggak? Intinya gua sharing aja dari segala posibilitas yang bisa terjadi plus minusnya. Oke, guys. Dan posibilitas positif tadi akibat dari gonta-ganti mobil tuh enggak hanya seputaran ke contohnya gua aja ya. Misalkan karena gua bilang gua contontreator gua-ganti mobil jadi naikin exposure terus bisa dapat cuan. Itu possibility-nya enggak enggak terhenti di situ aja. Banyak banget yang bisa terbuka. Satu gua pengen sharing ke kalian juga ini pengalaman teman gua sendiri. Berkat dia gonta-ganti mobil. Dia kan hobi tuh. Terus mobil Motuba lah ya kita sebutnya sekarang Motuba mobil tua bangka. Dia rapiin dia modif rapi. Kemudian dia bawa ke suatu tempat dan tiba-tiba ada yang tertarik sama mobilnya. Tapi tenang bukan dijual, bukan mau ditawar mobilnya bukan mau ditawar tapi posibilitas yang terbuka. Apa kalasaran nih, Guys, teman gua ini si pemilik Motuba jadi mendapatkan sebuah usaha yang franchise gitu ya. Let's say ya gampangnya franchise di harga dan apa ya franchise itu kan harusnya ada Royal TV bla bla bla tapi dia tuh mendapatkan semuanya di suatu yang worthed banget berkat dia hobi mobil. Jadi pada saat dia ke suatu tempat, dia bawa mobilnya itu. Nah, si yang punya franchise ini samperin dia terus ngobrol tertarik sama mobilnya, ngobrol-ngobrol aja, "Widdih, ini velegnya pakai apa?" Bla bla bla. Rapi banget ya, cakep ya. Nah, dari situlah mereka ngobrol tiba-tiba mengerucut ke, "Oke, lu main apa, Bro? Lu main apa, Bro?" Pas ketemu jebret. Oke, gua lagi pengen ini nih. Wah, pas banget nih. Gua lagi nyari orang, nyari buyer untuk usaha gua ketemu. Dan usahanya itu sampai sekarang loh, Guys, berkembang dan sampai punya dua cabang sekarang. Jadi, intinya dari gue cerita ini, posibilitas yang bisa unlock atau terbuka dari gua ganti mobil itu enggak sebatas. Lu beli R juta, lu jual R5 juta, cuan R juta atau lu harus gonta-ganti mobil untuk ngonten gak terbatas sampai situ aja. Masih banyak possibility lain yang bisa kalian ulik. Gonta-ganti mobil juga ya seperti tadi, pedang bermata dua. Kalian juga harus introspeksi diri. Oke, gua kira-kira cocoknya nih bisa enggak nih ya mainin peluang di guanta-ganti mobil. Kalau kalian rasa wah kayaknya jangan dulu deh terlalu riskan atau apa, ya kalian stick to yang poin pertama. Jadikan mobil sarana transportasi aja ya untuk menunjang produktivitas kalian sehari-hari. Kok menurut Koko di titik apa udah saatnya untuk kita perlu ganti mobil? Oke, di titik apa ya? Sebenarnya semua balik lagi ke kebutuhan kita. Ini ada pertanyaan dari kameraman nih. Seru nih dijawabnya. di titik apa kita saatnya ganti mobil. Ya, balik lagi ke latar belakang kalian. Kalau kalian seseorang yang melihat mobil adalah kuda harian doang, sarana transportasi dari A ke B, biasanya gua recomen ya, ini hanya rekomendasi ganti mobil itu saat mobil kalian sudah habis masa garansinya. Gua selalu rekomen kalau kalian ini yang butuh mobil sebagai kuda aja, selalu ambil mobil baru. Kemudian kalau pertanyaannya yang tadi ya, kalian mau ganti pada saat masa garansinya sudah habis. Jadi kalian enggak enggak merasakan puyengnya tiba-tiba mesti jajan A, jajan B, jajan C gitu. Biasanya yang dilakukan yang gua hasil gua ngobrol dari beberapa klien gua di Finance Carcare, orang-orang middle upper class mereka melakukan itu. Gua beli mobil baru gua enggak mau pusing. Setelah 5 tahun masa garansi habis langsung gua jual beli lagi yang baru. Dengan begitu gua menghindari pusingnya ngeladenin mobil ke bengkel menghindari endless manone manipit. Tapi memang drawback-nya atau trade off-nya gua akan mengalami depresiasi yang mana ya sudah di inilah sudah lumrahlah gitu. Makanya tadi balik lagi ke yang pertama gua bilang, belilah mobil sesuai dengan kelas ekonomi kalian. Kalau kalian sudah mencapai di middle upper clash, gua rasa sih depresiasi itu bukan sesuatu hal yang perlu dipikirin banget ya. Nah, kalau kalian yang seperti gua oportunis lah ya mungkin kalau orang bilang saat yang tepat untuk ganti mobil itu adalah ketika mobil ditawar. dan ada cuannya gitu, Jo. Jadi kalau opportunis kayak gua nih, gua tuh beli mobil tuh maunya selalu bekas. Jadi gua beli di Rp100 juta nih, gua pakai ngonten bla bla bla bla sambil gua pasarin. Gua beli di Rp100 juta. Gua posting dulu nih di 105. Tiba-tiba ada yang nawar, "Bro, 103 deh udah ada cuan nih Rp3 juta." Ya udah itulah saatnya gua jual. Akhirnya gua ganti lagi ke yang lain, gua ulik lagi. Kalau gua pribadi sih, gua selalu maunya beli mobil yang bekas karena ya itu gua menghindari yang namanya depresiasi sama gua bisa bermain di kesempatan-kesempatan yang udah gua sebutin tadi gitu, Jo. Menurut Kokoh, selain karena enggak telan, apa yang bikin orang tuh termotivasi untuk ganti mobil sebelum waktunya? Itu dia jawabannya ada di komen tadi, gaya atau gengsi. Maka dari itu gua bikinin video ini supaya untuk saling ngingetin ya, bukan menggurui tapi saling ngingetin bahwa jangan gonta-ganti mobil itu hanya karena gaya atau gengsi. Nah, kalau kalian punya goal lain atau kalian sudah punya rencana lain di balik gantti mobil itu ya itu menurut gua positif ya efeknya. Tapi kalau kalian benar-benar punya goalnya cuman satu to nih, ah gua mau gaya biar dilihat tetangga gua. Tiba-tiba gua hari ini bawa Agya nih ya kan. Besok tiba-tiba bawa Fortuner. Gaya gua, Bos. Dianggap orang kaya. Ya, tapi dengan beli Fortuner itu kalian mengorbankan segala hal, segala cara ya kan kalian mungkin kredit tenor panjang, DP minim, kemudian kalian enggak punya goal lain, mungkin Fortunernya udah pokoknya dijogrokin aja di garasi. Gua rasa itu akan menjadi efek yang negatif atau bumerang yang lumayan sakit ya. Kecuali kalian memang udah maksain beli Fortuner, terus kalian punya goal lain di balik itu. Oke, dengan gua beli Fortuner ini walaupun memang gua motivasi awalnya pengin bergaya nih biar kelihat orang kaya, tapi di balik itu kalian bisa manfaatin si Fortuner ini untuk apa. Mungkin ngangkut barang ya kan, mungkin kalian join Lalamoove atau kalau yang gua lihat tuh di aplikasi sebelah banyak banget yang jadiin Fortuner buat ngangkutin sawit. kan itu menghasilkan produktif jadinya. Atau bahkan mungkin ada beberapa rekan gua juga, rekan driver online sengaja beli Fortuner untuk narik taksi online dengan harapan bisa narikin yang kelas premium yang luxury. Jadi argonya tuh lebih gede-gede. Nah, makanya pertanyaan kameraman gua, apa motivasi selain karena umurnya ya gaya atau gengsi? Akhir kata, gua berterima kasih dengan yang komen Gala Nusantara sudah diingetin bahwa gonta-ganti mobil itu adalah sebuah habit buruk. Dan gua memang sudah mengalami efek negatif dari gonta-ganti mobil itu. Satu, gua mengalami yang namanya depresiasi keuangan. Yang kedua, gua mengalami juga yang namanya endless manone pit. Dulu gua pernah cuman demi gaya, cuman demi gengsi, cuman demi hobi doang gua bela-belain beli mobil Eropa lah ya gitu kayak BMW, kemudian Mercy, dan berakhir bolak-balik bengkel doang gua kerjaannya. Tapi gua juga mau sharing enggak nge-judge, enggak apa ya, gua cuman mau sharing juga kalau gua-ganti mobil itu juga enggak selamanya buruk. Jadi tergantung pintar-pintarnya kita melihat peluang aja. Nah, gua masukin ke series IWake ini. I wish I knew it earlier. Karena gua berasa nih pengalaman ini seandainya gua tahu lebih awal, gua bisa lebih ekonomi gua bisa lebih bertumbuh lagi, bisa lebih pesat tumbuh bertumbuhnya. Ya, makanya gua pengen sharing ke kalian supaya kalian bisa dapat insight baru, efek positif dan efek negatif dari gonta-ganti mobil. Oke, guys. Sekian dulu iwake episode ketiga ini, ya. Semoga bisa menambah wawasan buat kalian yang nonton. Dan kalau kalian punya yang namanya pendapat lain, opini lain, silakan sharing aja di kolom komentar. Dan juga kalau kalian punya ide atau pertanyaan lain yang pengin gua bahas di episode berikutnya, sharing juga atau tulis juga di kolom komentar. Oke, guys. Thank you for watching semuanya. See you in the next video.
