Jungkat

MOBIL MERK INDONESIA: MPV ALETRA L8! (YouTube Video)

  • 11/09/2025

Kalau kalian bingung sama mobil ini tuh mobil apa dan mengira mobil ini adalah Gili, maka kalian enggak salah. Karena di mobil ini itu lebih banyak nama jilinya dibandingkan dengan nama Aletraanya. Serius? Jadi ini adalah Aletra L EV di mana ini adalah mobil dari produsen Indonesia ya. Cuma yang namanya mobil ya lu bikin pertama kali lu enggak mungkin bikin dari nol ya. Pastinya lu akan cari platform yang ada. terus lori batch lah atau semacamnya. Habis itu disesuaikan dengan Indonesia. Kayak contohnya satu hal yang disesuaikan dengan parket Indonesia di mobil ini adalah kita bisa bikin dia jadi netral. Nih kita bisa dorong ya. Ini lagi parkir dari kekunci ya. Tuh kunci kan. Nah jadi kebuka deh. Kita bisa dorong buat parkir paralel. E nah jadi karena orang Indonesia itu kadang suka parkir paralel dan suka didorong-dorong. Nah, mobil ini dibikin bisa diparkir paralel tanpa harus ada rem tangan atau masuk ke P. Dan yang gua bilang tadi, Jili itu banyak banget namanya di sini. Mulai dari lampu depan Jili, terus kita ke kaca-kacanya semuanya Jili, Jili, Jili, Jili. Sampai lampu belakangnya pun ada tulisannya Jili. Nah, aletranya di mana? Aletranya ada di sini. Tipenya LV. Jadi memang si Aletra ini ngambilnya basisnya Gili ya, dirakit di PT Handal Motor Indonesia. Jadi ini buatan lokal ya. Terus jadilah mobil yang seperti ini. Dan mobil itu sebenarnya kalau di Cina sana itu ada dua tipe, ada yang panjang, ada yang pendek. Nah, ini kebetulan yang masukin ini panjang. Makanya mobil ini itu kelihatannya panjang benar. Dari depan ke belakang itu sekitar 4,8 m. Wow. Dan mobil ini juga dia itu seven seater yang proper. Bahkan nih lihat bagasinya dimensi enggak bohong. Gede banget bagasinya. Nah, nih lihat nih bagasinya sebesar ini. Jadi kalau kalian bawa koper dan kawan-kawannya itu bisa dimasukin ke sini ya. Sama biasanya mobil-mobil kayak gini kan seven seater biar bisa nampung orang banyak ya biar lega. Kursinya ditipis-tipisin ya kan. Ini kursi belakangnya ini tebal banget nih segede gini. Ini kayaknya kursi belakang paling tebal di sebuah mobil MPV yang bukan Alpart, bukan denza, bukan semacamnya, tapi MPV biasa. Ini tebalnya segini kursi belakangnya ya. Dan kalau buat ngelipat ini kayaknya depannya harus dimajuin lagi, ya. Nah, pas kita lipat ya saking tebalnya ngelipatnya ternyata enggak bisa sampai rata lantai sih. Dia bisa rata tapi masih agak naik sedikit. Sekarang kita naikin lagi ya. Jadi kayaknya si Aletra ini pengen bikin kursi belakangnya itu sama nyamannya seperti kursi tengah. Dia juga ada pilihan kursi mulai dari yang captain seat seperti ini sampai yang nyambung. Jadi kalau misalkan tengahnya bisa tiga, belakang bisa tiga, kita bisa bawaan orang di mobil ini. Makanya namanya Aetra L kali ya. Y kita tutup sekarang. Nah, ini kalau kita lihat ya, lampunya itu dari ujung ke ujung nyambung sama di sini tuh kayak ada eh equalizer. Tahu enggak? Tuh, merah-merahnya di sini tuh kayak equalizer ya. Ke bagian bawah ya. Ini kita akan nemu ada parking sensor tiga biji, ada fog lamp belakang. Tapi kalau kita buka kolongnya ini tuh sebenarnya masih ada space yang sangat luas loh. Ini tuh mau dikasih ban sereap aja bisa kayaknya cuma sama dia enggak dikasih ya. Aturan dikasih ban serep tuh masih bisa banget. Atau mungkin bisa dibikin lebih ke bawah lagi sasisnya ya kan. Dan dia itu punya baterai yang sama dengan baterai Gili terbaru ya. Cuman harusnya dia bisa lebih gede lagi karena dia ada dua pilihan ya, ada 50 sama 64 kWh ya. Dan yang kita pinjamin 64 kWh range-nya CLTC 530 km. Kalau kita lihat kolongnya, dia tuh baterainya enggak sampai ujung, cuma sampai bagian sini aja. Artinya kayaknya dia masih bisa diisi sama baterai yang sekitar 70-an atau 80-an kWh karena space-nya masih panjang gitu. Dan baterai ini juga dia pakai baterai yang sama dengan baterai Gili lainnya, e generasi terakhir yang keluar di 2025 namanya Jily Short Blade Battery. Kelebihannya apa? Nah, short blade battery-nya Jili itu untuk baterai LFV yang bukan diel mangan cobalt itu dia punya density yang paling gede. Dia tuh sekitar hampir 200 gr/ kW-nya. Di mana rata-rata baterai LFV itu kayak misalkan dipakai BYD itu paling cuma 150 160-an e watt per kg-nya. Nah, ini tuh paling bagus dan Nah, terus kalau BYD yang blade battery itu ditusuk satu paku dia enggak kenapa-napa. Yang ini 8 paku ditusuk sama dia enggak apa-apa juga, aman ya. Emang rata-rata tuh baterai LFP ya, litium fer fosfat itu dia enggak flamable. Bisa kebakar juga sih, tapi ketika di kena deformasi atau semacamnya dia enggak meledak, enggak kebakar. Dari segi kaki-kaki ya, dia dapat veleg 18 inci dan pakai ban Hancook Ion. Ini adalah ban eh mobil EV yang dibuat di Indonesia. Ukurannya 2255 R18. Dan ini ya kalau kita pegang ya ini linernya bagus loh. Biasanya kan kalau untuk depan itu dikasih liner yang dari bahan e plastik ya. Dia tuh dikasih bahan karpet. Jadi kalau misalkan ee kita jalan di tempat yang berisik gitu ya, misalkan di bawahnya beton gitu ya, dia bantu ngeredam. Dan suspensinya sendiri dia pakai depannya itu M. Peron Strut, belakangnya udah pakai multilink. Dan kalau kita lihat ya, ini cakram depannya itu besar. Tumben. Biasanya mobil-mobil kayak gini tuh cakramnya kecil dan cakram belakangnya juga enggak malu-maluin ukurannya. Emang lebih kecil sih, tapi oke loh. Kemudian ini dia desain depannya. Menurut gua desain yang warna hitam ini lebih cakep ya dibandingkan dengan warna lain ya. Sama dia punya versi yang ada aeronya. Kemarin baru launching di GIAs 2025 dan dia punya ini nih. Nah, colokan listrik di depan sudah CCS2 dan untuk dari 30 ke 80% itu hanya membutuhkan sekitar 30 menit saja. Jadi dia sudah fast charging. Nah, sekarang kita buka ke mesinnya yuk. Ini ya kalau kita lihat ya kayaknya tuh masih ada space yang cukup besar buat kita naruh-naruh sesuatu barang. Karena dia punya cup depan itu tuh masih ada sisa space kosong yang banyak banget. Aturan bisa jadi tempat buat naruh-naruh barang. Dan bisa kita lihat dia punya dua buah coolen di sini. Yang satu untuk mesin listriknya, yang satu buat baterainya. Akinya juga ada tulisan GD lagi di sebelah sana. Dan bisa kita lihat dia motor listriknya ada di bawah situ ya. Nah, dia itu punya penggerak front wheel drive bukan penggerak roda belakang. Tenaganya lumayan besar 160 horsepow dan torsinya 240 Nm ya. Kalau dibandingkan dengan mobil bensin ini tuh gede. Ee mungkin setara dengan mobil 2400 cc lah ya. Tapi untuk sebuah mobil listrik ini tuh B aja. Makanya 0 ke 100-nya itu cuma 10 detikan. Klaimnya ATR tuh 10,7 detik ya. Tapi menurut gua sih udah benar ya. Kenapa? Karena mobil itu kan besar, berat ya. Kalau dikasih motor listrik yang gede dengan baterai 64 kW hour, kayaknya untuk nyampai 540 km agak susah kalau dia pakai motor listrik yang besar. Makanya motor listriknya tuh dibikin cukup aja sama si Ara ini. Nah, let's go. Sekarang kita masuk ke dalam. Tapi kita ke belakangnya dulu ya. Ya, sekarang kita ke bagian belakangnya si Aletra L ini ya. Seperti yang kalian lihat ini mobil lega ya. Ini versi yang paling mundur. Kita punya leg room besar dan ini posisi duduk gua di depan ya. Gede banget. Bahkan kalau misalkan kalian pengen ngasih space yang di belakang, kita majuin lumayan banyak itu juga masih oke banget gitu. Jadi kalau misalkan kita pengen ngasih space di belakang lebih itu bisa banget ya sampai kita nih sampai paling mentok aja itu tuh kayak masih dikasih coak gitu ke dalam. Dan seperti yang gua bilang tadi, mobil ini punya bangku itu tebal-tebal ya. Lihat nih bangku depan tebalnya kayak gini. Bangku tengah juga tebalnya kayak gini. Dan dia punya kontur yang bagus. Jadi pas kita duduk di bagian tengah sini ini rasanya kayak kita duduk di bangku baris depan karena kanan kirinya itu lumayan supportif ya. Hanya saja untuk kursi. Hanya saja ya untuk kursi bagian tengahnya ini dia tuh kurang sedikit naik bagian atas ini. Jadi tidak terlalu supportif ya. Mungkin akan lebih pas kalau misalkan mobil ini itu enggak dikasih baterai di bawah. Jadi dia punya floor yang lebih lantai. Eh lantai punya floor yang lebih landai. Iya. Karena pertama kali keluar mobil ini di tahun 2019 itu bukan sebagai EV, tapi sebagai mobil bensin. Ada yang hybrid, ada yang plugin hybrid, dan ada yang versi EV-nya. Jadi memang dari awal rancang bangunnya itu bukan untuk EV. Nah, terus yang menarik adalah seperti yang gua bilang tadi, meskipun dia ngambil platform dari Gili, tapi dia enggak plek ketiplek ngambil Jili terus udah selesai. Si Aletra itu punya Rendy sendiri dan ngebuat dia beda dibandingkan dengan Mappple atau Livan yang dijual di Cina. Contohnya kalau yang versi di Cina itu kita dapat AC di bagian sini sama ada blowernya sendiri jadi enggak ikut sama depan ya. Meskipun kalau untuk temperatur dia masih ikut sama depan. Tapi kita dapat nih AC di bagian plafon juga dan AC-nya juga lumayan kencang loh. Maksudnya di sini kan lumayan kencang ya AC-nya ya. Tapi di sini tuh sama gitu. Jadi enggak cuma sekedar ditambahin doang, tapi direset lagi sama dia biar jadi proper. Jadi kalian enggak akan kepanasan baik di tengah maupun di belakang. Nah, terus kita dapat tempat penyimpanan nih buat naruh handphone dua biji. Ada di sini lagi lebih gede. Colokan USB ada dua, ada yang USB biasa sama USB type C. Door trim ini gua suka. Door trim-nya bagus. Atasnya empuk ya, bawahnya ada empuk-empuknya lagi. Dan kualitas plastiknya pun juga bagus, bukan plastik yang murah. Sama handle pintunya. Ini terasa mahal. Cuman kalau kita mau nutup pegangan yang ini, itu agak sedikit berat ya. Karena encor poinnya di sini bukan di bagian sini. Untungnya kita dikasih pegangan di sini buat tutup pintu biar lebih gampang. Kalau megangnya ini kadang-kadang suka enggak nutupnya tuh suka enggak rapat. Tapi ini tadi rapat deh. Nah, power window-nya juga sudah allo ya. Jadi tinggal pencet sekali sama tombol-tombol power window-nya itu bagus kayak dikasih semacam chrom gitu. Ini biasanya kalau mobil Eropa mahal ya. Even 3 series saja cuma dapat yang plastik hitam gitu doang. Lu harus seari lima ke atas biar dapatin yang e model chrom kayak gini gitu. Ada tempat penyimpanan lagi buat di bawah buat naruh cup holder. Terus kalau kita mau ke belakang, yuk, ada dua cara sebenarnya. Kalau yang captain seat kita bisa lewat tengah sini, ya. Nah, terus cara kedua ini agak sedikit aneh karena gua pikir dia one touch tumble. Jadi kalau kita nah beginiin, dia tuh nge-lock enggak bisa diapa-apain. Jadi caranya adalah kita tegakin dulu, kita majuin dulu baru kita lipat seperti ini. Nah, kita ke belakang baru bisa gitu. Dan di belakang sini gimana rasanya? Duduk di belakang sini dengan tinggi gua 170 ini tuh hampir mentok ya. Mentok sih enggak, hampir aja rambut gua mulai kena-kena dikit. Mungkin kalau tinggi gua 177 gua kena kali ya. Mentok begini ya. Dan leg room lega ya dengan catatan tergantung kursi depannya. Kalau kursi depannya dibentukin ke belakang oh jelas gua enggak dapat la sama sekali. Kalau dipentokin ke belakang ya jelas enggak dapat space sama sekali. Jadi kalau kita ada orang di belakang, jelas yang tengahnya tuh harus kompromi lah. Kita majuin kali ya. Nah, ini di bangku belakang menurut gua yang paling oke lah ya. Kita masih dapat leg room depan itu masih lega banget ya. Jadi kalau misalkan kalian kurang lagi ya tinggal bilang ke depannya, "Wi maju, jangan terlalu sempit belakangnya." Dan sebenarnya masih bisa dibikin lebih e oke lagi dengan cara kursinya ditipisin gitu. Coba perhatiin deh seven seater rata-rata kursi tengahnya, kursi belakangnya itu tipis banget ya. kayak waffer. Tap ini tuh enggak, ini tuh beda gitu. Ini tuh kayak tebal sendiri gitu. Kalau misalkan dibikin lebih tipis, gua rasa ini akan lebih lega lagi. Dan di belakang sendiri ya, ini lebar. Jadi kalau misalkan kita duduknya proper ya, ini bisa buat tiga orang dengan bagus. Dan kita juga dapat ini nih head masing-masing kursi. Jadi kayaknya emang didesain buat tiga orang penumpang. Tapi kalau misalkan kita senderin ke headr dia bakal kena sih. Jadi kalau kita tegak gini baru dia aman. Kursinya juga dia tuh gak bisa dibikin lebih tegak lagi atau lebih mundur lagi. Hanya saja menurut gua ini udah paling pas banget ya. Artinya dia gak terlalu lebah dan juga enggak terlalu tegak. Nah, di sebelah kanan dia ada kabel USB tapi bukan yang type C biasa aja. Ada cup holder kiri kanan sama ada tempat kayak buat naruh handphone tapi enggak ada karetnya ya. Jadi kalau misalkan kita naruh handphone sini bisa jatuh ke depan ke belakang. Dan yang gua suka dia punya kaca itu lumayan besar. Jadi kalau kita duduk di belakang itu enggak klaustrofobik. Apalagi dia punya plafon, dia warnanya terang ya. Jadi di belakang sini tuh enggak rasanya kayak em suramuram buram gitu. Oke, let's go. Sekarang kita ke depan. Oke, sekarang kita masuk ke dalam interiornya si Aletrail 8 ini. Dan kalau kalian lihat di internet juga, ini masih sama seperti interiornya si Maple atau Levan EVV ya. Bentuknya sama persis tapi bagus. Gua enggak ada komplain ya, terutama gua suka lekukan-lekukannya sama build quality-nya dan bahan-bahan yang digunain itu semuanya empuk-empuk nih. Bagian atas ini empuk ya, di sini juga empuk lagi ya. Sampai ke sini masih empuk, empuk lagi, empuk lagi. Dan beberapa detail kayak misalkan kayunya di sini bagus ya. Di sini juga kayunya bagus ya. Kelihatan sih imitasi ya. Tapi paduadan warnanya tuh pas gitu. Karena jarang yang pakai warna kayu hitam-hitam begini dipadu sama silver kayak gini ya. Ini padu padannya pas dan bagus. Sama di Cina itu dijual versi yang tanpa head unit ya. Ini untungnya dapat head unit ya. Head unitnya floating ya. Agak sedikit goyang memang ya. Sama ini juga dipencet tuh agak sedikit bunyi tapi overall sisanya no problem. Terus kalau kita lihat speedometernya speedometer tuh mirip kayak Hyundai Santa Fe. Tahu enggak sih? Yang dulu ada namanya Grand Santafe yang dia pakai speedometer digital. Terus ya kurang lebih kayak punyanya itulah Y Ionic yang generasi pertama bukan yang Ionic 5 ya. Sama tombol-tombolnya ini juga menurut gua bagus ya. Dia dibikin silver-silver ada chrom-chromnya dikit. Sama yang gua suka adalah dia punya touch screen, punya layar besar tapi enggak menghilangkan tombol-tombol yang menurut gua fungsional dan penting. Kayak misalnya ini tombol AC ya. Dia tuh ada lengkap di sini ya, ada defoger segala macamnya. Temperatur sebelah kanan kiri bisa dipencet dari sini ya. Kalau misalkan kita ngerasa aduh kedinginan kepanasan, tinggal pencet di sini aja. Dan dia kanan kiri sudah dual zone ya. Seperti ini. Terus kita juga dapat tombol buat mengatur seberapa kencang blowernya di sini sama beberapa mobil yang punya touch screen besar dan dia itu nyebelinnya tahu enggak apa? Ketika kita buka AC terus kita balik lagi ke AD auto, dia bakal nge-riset lagi mulai lagi dari awal gitu. Jadi kayak butuh waktu beberapa detik lah. Nah, kalau ini tu enggak. Jadi kalau kita pencet AC dia bakal bikin kayak floating gitu ya. Dan bisa kita X gini sama dia ada ionnya ya. Jadi bisa dinyalain ionnya kayak plasma cluster gitu ya. Udah ada di dalam mobil ini. Begitu pula kalau misalkan kita pakai si Android Autonya. Memang sebenarnya dia enggak pakai Android Auto dari bawaannya ya. Dia kayak ada dongle tambahan lagi namanya interconnect. Di sini kita pencet maka dia akan muncul. Nah, cuman sayangnya ketika dia muncul di sebelah kanan sini kan ada menu ya, menu bawaan dari Aletraanya ya. Dia hilang sih sayangnya di situ aja. Tapi tetap kita bisa atur volumenya dari sini ya. Enggak ada tombol volume by the way. Terus di sebelah kanannya ini ada beberapa e tombol shortcut ya. Nah, cuma sayangnya di sebelah kanan sini hilang nih. Kalau kita pencet AC ini baru dia muncul. Kenapa menurut gua penting? Karena kalau misalkan dia ketutup, kita enggak dapat tombol 360 ini. Jadi, ini adalah tombol buat buka kamera 360 di mana kita bisa lihat mobil seperti apa bentuknya dari luar kiri kanan ya. Termasuk kita bisa lihat. Nah, dibikin kayak gini. Ini pintu sebelah kiri lagi kebuka ya. Terus kita bisa atur juga mau dari depan belakang lebih gede ya. Jadi kamera 360 enggak ada masalah. Cuma masalahnya kalau misalkan jadi Android Auto tombolnya hilang. Di sini cuma ada tombol buat drive mode, buat regenerative breaking, sama buat matiin stability control. Terus buat tuas transmisi. P-nya ada di sini, parking brake, sama auto hold. Di sebelah kanan ini ada tombol yang bagus, bentuknya metal gitu ya, sama ada garis-garisnya. Ini buat ngatur kecerahan si speedometer. Sebelah kanannya ini untuk ketinggian lampu dan sebelah kanannya lagi untuk buka power back door. Nah, untuk spion masih ada tombol fisiknya dan kalau kita mau ngelipat itu juga ada tombolnya tinggal diputar aja. Ini bagus nih. Gua e agak sebal sama mobil-mobil zaman sekarang yang semuanya diatur lewat touchsreen dan kalau kita mau ngatur spionnya itu lewat ini dah, tombol inilah. Gua enggak ngerti gara-gara Tesla sih sebenarnya sih semuanya pada ngikut ya. Ada wire charging di sini dan udah 50 watt juga sama ada kipasnya buat biar pendinginnya ya. Sebelah kanannya ini bukan charger cuma buat naruh HP doang. Di bawah ada tempat penyimpanan sama ada kabel USB ya. Dan di atasnya lagi ada cup holder, ada tempat penyimpanan lagi. Dan ini tempat penyimpanan juga bisa ada pendinginnya ya. Jadi kalau kita pegang ini dingin. Tapi sebenarnya dia tuh harusnya enggak ada pendinginnya sih. Jadi tahu enggak dinginnya gara-gara apa? Karena ada saluran AC ke belakang tapi dia enggak ada ventilasinya nih buat bikin pendingin di belakang sini. Harusnya bisa dibikin ya. Oke, sama di sini ada tempat penyimpanan tuh yang cukup besar ya. Ini sebenarnya soft opening cuma karena berat dalamnya ya. Speedometernya ini agak sedikit tricky ya karena untuk baterainya dia modelnya kotak kotak kotak gitu loh. Dia enggak pakai model yang berapa persen lagi. Terus kalau kita lihat lagi itu sebelah kanan itu ada range tinggal sisa berapa lagi yang kirinya itu eh odometernya. Jadi waktu mobilnya kita pinjam pertama kali itu tuh semuanya masih plastikan. Termasuk jok-joknya plastikan. yang tadi putih-putih kalian lihat di belakang itu waktu gua buka bagasi sih. Nah, itulah e isi jok itu seperti itu kurang lebih. Nah, sebelah kanannya untuk power ya. Jadi seberapa besar tenaga mesin dikeluarkan. Terus di sini ada tombol. Jadi kalau misalkan kita pencet tombol yang sebelah kanan sini itu buat volume naik turun sama eh lagunya mau next apa previous. Nah, kalau kita pencet di bawah sekali nanti dia akan berubah jadi pengontrol dari si ee screen di depan itu gitu. Jadi emang agak sedikit-triky tapi butuh penyesuaian aja. Nah, gimana soal tempat duduknya? Dia sudah punya setir tilt dan telescopic. Dan kursinya surprisingly kursinya enak sih. Meskipun kursinya tu agak sedikit offset ke kiri ya, karena sebelah kanan tuh masih sisanya lebar banget ya. Sama kita udah dapat electric seat baik di sebelah kanan maupun di sebelah kiri. Jadi untuk soal ergonomi menurut gua Elekra ini ergonominya e cukup bagus ya. Terus di belakang sini dia ada lampu yang sudah auto. Wiper juga sudah auto. Buka bagian atas ada lampu sama ada kacanya ya. Tinggal kita geser seperti ini. Ini yang lucunya nih. Dia ada tempat buat naruh kartu di sini ya. Sama di bagian sini juga ada tempat buat naruh kartu lagi. Nah, sebelah kiri sini ada lampu semuanya sudah LED. Terus panoram microof di atas ini sayangnya dia enggak bisa dibuka sih. Dia cuma bisa jadi kaca doang gitu kayak Ionic 5. Dan kalau ditutup atau dibuka itu suara motornya agak sedikit berisik ya. gitu, kencang. Kita buka aja L ya. Yuk, sekarang kita jalan-jalan. Let's go. Yes. Sekarang kita udah bawa AT L. Wah, tahu enggak ini mobil udah gua bawa beberapa kali ya. Satu hal yang gua suka sama ini mobil dan menurut gua ya, ini mobil suspensinya enak. Enak banget. Jadi, pertama kali gua pakai ini mobil tuh masih prototype ya. Gua coba tuh suspensinya udah enak. Nah, terus waktu gua pinjam dari Aletra, orang Aetraanya ngomong, "Mas, ini yang versi e production model." Beda nih sama yang kemarin. Apa bedanya? Perasa masih sama aja, ya kan? Bedanya apa? Yang pertama suspensinya ini dibuat lebih nyaman lagi dari yang kemarin. Berarti gua ini udah nyaman perasaan kemarin deh. Apa yang lebih nyaman? Ternyata emang benar lebih nyaman ya. Jadi suspensinya itu gua kan dari kemarin e nginap di Kemang Village ya. di Kemang Village tahu kan? E bawahnya tuh kayak batak-batak gitu. Kalau suspensi kalian rusak itu berasa batuk gitu. Ini suspensinya dia enggak cuma nyaman, tapi juga enggak berisik. Nih kita lewat posisi tidur nih ya. Tuh enak. Mau kita duduk di depan atau duduk di belakang itu sama nyamannya yaar ya. Enak ya? >> Heeh. Enak >> enak enak. Gua kemarin baru nyobain stepwagon gitu ya ketemu Aletra ini ya. Snapwagon menurut gua suspensinya udah nyaman ya kan. Ini lebih nyaman lagi dibandingkan dengan stepwagen. Jadi seperti itulah kurang lebihnya. Jadi untuk suspensi di kecepatan rendah itu menurut gua enggak ada lawan, bagus, enggak ada komplain lah. Nah, terus kalau kita pakai si Aletra ini regenerative breaking-nya sebaiknya pakai L1 aja. Kenapa? Karena regeneratifnya kurang begitu enak. Kalau pakai R3 tuh kita lepas gas itu kayak kayak apa ya? Feelingnya enggak dapat gitu. Kak sama kita ngelepas gasnya. Nah, terus ngomong-ngomong soal gas dia memang tenaganya besar dan biasanya mobil listrik itu tenaganya instan digas tu ke betok kayak wus langsung begitu kan. Ini mobil agak beda loh. Bukan enggak enak ya, pedal F-nya enak banget. Remnya sama gasnya menurut gua enak tapi agak beda enaknya dibandingkan dengan enaknya Ionic lah. Let's say enaknya dia tuh bukan bukan responsif. Enggak. Lu kayak bawa mobil yang masih pakai e mesin bensin, ada transmisinya dan dia pakai drive by wire. Karena ketika kita gas, dia tuh enggak langsung nyaut, kayak ada mikirnya dikit dulu ya, rasanya kayak mobil bensin, enggak kayak mobil listrik. Jadi dia pedal gasnya itu kalau kita gas nih ya, misalkan nih kita tiba-tiba pengen nyodok gitu kan nih lihat pedalpedal gasnya nih. Misalkan ni lagi jalan kita gini de, dia tuh enggak langsung nyaut gitu. Dia harus nunggu tek baru dia nyaut dan nyautnya tuh enak gitu. Set dia kayak kita dikasih waktu sedikit buat maker gitu kayak ada waktu sedikit buat dia turun gigi dulu tek gitu. Rasanya kayak bawa mobil bensin gitu dibandingkan dengan mobil listrik ya. Tapi in a good way, bukan yang jelek gitu. Artinya ketika lu pakai sopir, sopir lu pengen ugal-ugalan itu enggak bisa. Bisa sih, tapi rasanya kayak mobil bensin gitu. Dan handlingnya juga so far so good ya. Ini kita belok body rollnya masih kejaga ya. Suara kolongnya juga bagus, enggak berisik. Nih kita lewatin sambungan ya. Tuh gitu doang. Jegrekrik gitu. Enak gitu mobil ya. Surprisingly sih maksudnya beberapa orang pasti menilai mobil itu kan dari luarnya dulu ya, luar interior. Tapi jarang yang ee nilai itu waktu test drive. Kalau test drive mungkin cuma muter-muter dikit doang itu menurut gua keunggulan dari mobil itu enggak berasa. Tapi pas kita bawa jauh gitu ya, kita jalan naik tol lewat jalan-jalan yang bergelombang, menurut gua itu di mana si Aletra ini bersinar gitu langsung. Oh iya, ini mobil enak. Oh iya, ini mobil nyaman. Dan ini Elra juga tahu betul bagaimana membuat reviewer senang ya. Karena seringki minjam mobil itu enggak dapat kaca film kosong atau enggak kaca filmnya dikasih yang jelek. Ini mobilnya sudah dapat kaca film bawaan Solar Guard Premium yang Black Phantom. Jadi kita minjam ini mobil adem ya. Soalnya kalau enggak gitu ini mobil kacanya gede-gede, kaca depannya gede, kaca sampingnya gede ya kan. Nanti tagihannya kayak Solar Guard tuh kita omongin benar-benar maksudnya enggak harus solar guard ya kaca film apa aja yang penting bagus sih >> pokoknya intinya tuh ini mobil walaupun cuma mobil pinjaman buat test drive orang-orang gitu ya buat media tapi sama Aletra tuh dibikin nyaman juga gitu tapi enggak tahu kalau kalian beli Aletra dapat kaca film Solar Guard ya kalau ada yang udah beli coba komen di bawah deh ini enak sih dan kalau dibawa di jalan tol gitu ya ini kan agak bergelombang ya, dia ngayunnya tuh pas gitu. Emang terasa ngayun tapi ngayunnya pas. Gua di depan sama di belakang ya. Kalau kalian adu deh sama BYD M6 yang sama-sama seven seater lah ya buat mobil harian gitu. Oh jauh. Ini suspensinya jauh. Dan kalau kalian punya M6 terus kalian upgrade ke Aletra itu rasanya benar-benar kayak upgrade sih ke downgrade ya. meskipun ada yang menurut gua sangat kurang di mobil ini, yaitu ADAS. Karena orang biasanya kalau beli mobil-mobil yang udah eh advance, mobil EV kan identik dengan teknologi canggih, ya. Nah, ini tuh belum ada ADAS-nya. Jadi kalau misalkan kita di tol, kita jarak jauh, dia enggak ada crolnya ya kan. Enggak ada lens centering assist-nya. Jadi dia enggak bisa nyetir sendiri dan dia juga enggak ada alert-alert yang aneh-aneh itu enggak ada. Memang ada beberapa orang yang enggak senang sama ADAS karena jadi berisik dan enggak kepakai. Tapi menurut gua harus tetap ada sih. Minimal dikasih pilihan lah. Misalkan yang ada ADASnya lebih mahal Rp10 juta, yang enggak ada ADAS lebih murah Rp10 juta. Bedanya cuma ada-adas aja gitu. Menurut gua itu penting. Kenapa? Karena ngebuat orang tuh punya pilihan dan memberikan kesan bahwa mobil ini bukan mobil yang kuno gitu ya. Meskipun di Cina sana ada yang versi ada ADASnya karena ini kayak bagian atas ini aja udah tebal banget kan udah disediain gitu buat ditaruh ADAS. Even kalau kita lihat di bawahnya tuh ada radarnya udah disiapin kayak buat ADAS gitu gitu loh. Cuma saynya masuk Indonesia mungkin karena eh pricing-nya harus dibikin kompetitif ADASnya enggak dimasukin. Itu aja sih. Padahal kalau misalkan ada ADAS oh udah ini eh way much better lah dibanding BYD M6 kalau menurut gua ya. dari kenyamanannya, perdaman kabinnya, terus juga handling-nya dan kawan-kawannya. Ini enak banget mobil. Serius kerasanya kayak mobil even dibandingkan dengan Honda Stepwagon yang kemarin kita coba ya atau Zenix kalah. Lebih enak ini ke mana-mana dibanding Zenix. Serius. Ini kita lagi di tol tuh ya. Tuh sambungan dan kawan-kawan gitu lewat lagi deng nyaman mobilnya. Mantap ya. Enggak kerasa mobil under Rp00 juta loh. Ini suspensinya loh. Enak. Cuma ada beberapa catatan di mobil ini ya. Ini mobil perdaman kolongnya bagus, perdaman luarnya bagus. Meskipun dia enggak pakai ini ya, enggak pakai double glass ya. Cuma ini kacanya tebal. Tapi yang berasa itu adalah suara anginnya. Jadi sepertinya mobilnya itu enggak terlalu aerodinamis sehingga suara angin wuh gitunya agak lumayan masuk. Tapi tetap lebih kedap dibandingkan dengan mobil kayak macam Zenix atau Honda Stawagon kali yang kemarin kita coba ya. Terus remnya pun juga masih tergolong enak loh. Tuh dia tuh punya pedal F baik dari gas sama rem itu enak meskipun enak pedal gasnya itu enggak seperti yang digas tuh langsung gitu. Dia butuh waktu sedikit dan kalau pengin lebih responsif tinggal ubah ke sport mode di mana kalau kita ubah ke sport mode dia speedometernya juga ikut berubah. Ini kita gas. Wuh. ya. Cuma kalau udah di angka 100 ya kita gas dia tuh lumayan butuh waktu buat naiknya gitu. Jadi enggak secepat itu ya. Terus handling-nya ini surprisingly nih pas kita di tol ini setirnya jadi berat loh. Setirnya jadi bagus, berat dan dipakai tuh firm gitu ya. Ya, meskipun enggak ada hadasnya ya. So far ini mobil pengendaliannya ketika kita duduk ergonominya pas, engineering-nya juga kayak kaki pedal, mesinnya tuh rasanya bagus gitu ya. Paling yang kurang menurut gua adalah pilar A-nya ini terlalu tebal. Jadi kalau kalian lihat sebelah kanan sini meskipun dia punya kaca yang gede ya, gua rasa ini masih ketebalan baik dari kanan maupun kirinya. E rasanya kayak bawa Innova yang generasi barong tapi dia lebih gede aja gitu kaca tengahnya. Dashboard-nya pun juga panjang. Sama untuk audionya eh menurut gua suaranya oke ya, bukan yang bagus, cuma sekedar oke aja. Dan kalau misalkan kalian pengen upgrade audio, menurut gua upgrade yang harus dilakukan pertama adalah prosesor dan yang kedua Twitter-nya. Twitter-nya tuh agak kurang gimana gitu ya. Kalau misalkan diganti sama yang lebih bagus pasti oke. Nah, subwover menurut gua itu kayak opsi yang lebih wahnya aja sih kalau menurut kalian bassnya kurang ya. Enak ini mobilnya. Kayak misalkan kalau kalian pakai spir buat disetirin, duduk di belakang, ini mobil pas. Atau misalkan kalian pakai mobil ini buat nyetir sendiri sama keluarga, ini juga menurut gua e buat disetir-sendiri tuh masih enak gitu. Rasanya enggak kayak sopir banget gitu. Mau dipakai sendiri, kita nyetir itu tuh semuanya masih prediktable dan menyenangkan ya. Cuma kalau untuk lari, untuk sebuah mobil listrik ini larinya B aja. Dan kalau 120 kita incek gas gitu ya, dia ada warningnya nih. Tung tung kekencengan. Pelanin dikit Pak katanya. Ngomong-ngomong sual mobil buatan Indonesia kan ada yang bilang, "Oh, Aletra ini emang mobilnya sih brand Indonesia kayak Polytron gitu kan." Tapi sebenarnya bukan buatan Indonesia, buatan luar dibatch, habis itu dirakit di sini. Betul memang seperti itu. Karena mau bagaimanapun ee mobil itu adalah bisnis ya. Artinya perusahaan itu harus untung dan harus survive. Jangan cuma ada terus langsung hilang gitu kea rugi. Itu kan juga bahaya juga. Jadi harus terukur juga gitu loh. Dan untuk membuat sebuah prototype mobil yang benar-benar dari zero itu kayaknya sangat sulit sekali. Even buat pabrikan yang sudah besar ya menurut gua tuh sulit loh. Itulah mengapa banyak pabrikan-pabrikan besar juga itu melakukan kolaborasi kayak misalkan Dehatsu dengan Toyota itu kan kolaborasi yang buat semuanya Toyota di bating kita jual gitu. Begitu pula dengan yang paling dekat adalah FinFas. Vinfas itu usianya belum 10 tahun kalau enggak salah belum 10 tahun. Ketika dia pertama kali bikin mobil yang dilakukan apa? Mereka enggak punya platform, enggak punya engine. Mereka ambil platform dan engine dari BMW X5 dan BMW 5 series. Makanya mesinnya sama, platformnya sama. Terus desainnya mereka enggak punya desainer. Mereka ambil desainer dari Pinin Farina. Jadilah itu desain eh apa namanya? Lux ya kalau enggak salah yang pertama kali tuh Lux 2000 cc sama Lux SUV FinFast. Terus pabrik. Mereka enggak punya pengalaman bikin pabrik ya kan? mereka enggak punya pengalaman operating pabrik gitu. Mereka minta makna stayer tolong bikinin pabrik dan operating itu sampai akhirnya mereka bisa alih teknologi sampai sekarang. Jadi sekarang mereka bisa running pabrik itu karena mereka diajarin ya ada proses transfer teknologi dari makna stayer kevas dan akhirnya jadi itu dan perusahaannya untung dapat duit untuk bikin mobil di Indonesia pun juga sama enggak gampang. Makanya enggak heran kalau dulu Timur pakai basisnya eh Kia ya, Kia Sevia. Terus eh Bimantara itu pernah bikin basisnya Hyundai Asen ya kan. Kalau enggak salah dulu mesinnya pakai mesin apa ya Ctimore itu ya? Mesin Mitsubishi atau apa? >> Kurang hafal gua >> enggak tahu ya. Dan dulu awal-awal Proton pun juga pakai basisnya Mitsubishi enggak langsung debak debuk debuk tiba-tiba punya mobil nasional enggak gitu. Jadi semua ada tahapannya. ada caranya dan yang pasti bagaimana dengan investasi yang dikeluarkan itu bisa balik dengan penjualan mobil. Karena kalau kita ngomongin mobil nasional, penjualan mobil dan kawan-kawannya itu bukan cuma sekedar kembagaan doang, tapi juga soal bisnis tuh. Nah, jadi untuk pertama kali sekarang itu ngambil basisnya dari eh Jili Jiaji ya. Enggak tahu nanti untuk next modelnya mereka akan ambil dari basis apa mungkin mereka coba buat e mobil dari basis sendiri. Cuma kalau bikin dari sendiri gua rasa sih agak ragu ya karena investasinya kegedean. Nah, dengan investasi yang sebesar itu berapa volume yang akan terjual? Ujung-ujungnya matematika lagi kan akuntansi lagi kan. Jangan sampai udah investasi segitu gedenya buat bikin mobil scratch dari nol. Nah, habis itu enggak bisa dijual. Nah, itu kan jadi disaster juga gitu. Setelah nyobain ATRA ini, sebenarnya mobil ini cuma punya dua sih kekurangan yang fatal. Yang pertama, mobil ini kalah cepat sama BYD M6. Karena waktu itu kalau misalkan dia keluar duluan dibanding BYD M6 ya, ya menurut gua sih menang ini ke mana-mana karena lebih nyaman, lebih lega, kursinya lebih benar ya dan di bawah itu juga lebih terasa mobil dibandingkan dengan DYD M6 yang menurut gua agak kurang. Nah, yang kedua adasnya enggak ada. Itu aja sih. Kalau misalkan dia lebih cepat dari M6 keluarnya atau ADAS-nya ada gitu ya, gua rasa gak ada alasan buat pilih M6 dibanding ini sih. Ini way much better. Ya itu aja mungkin vlog kita kali ini. Buat teman-teman yang udah beli Aletra Loba komen di bawah seperti apa rasanya dan bagaimana ya Sif sampai jumpa di vlog berikutnya. Bye bye.

Lihat di YouTube