“Modal Rumah Setengah Harga, Kok Bisa Punya Banyak Aset?”, Ini cerita Faisal Haris (YouTube Video)
Nah, itu jadi hobi rupanya hobi bersih-bersih mobil karena saya sering bersihin nilai jualnya jadi bagus. Oh, gitu. Dapat dong ee komisinya sedikit. Iya. itu jadi jadi baguslah dapat tambahan dapat uang jajan waktu itu. Terus saya berhenti di otomotif itu itu ada satu doa saya yang Allah kabul di situ. He tolong diberikan pekerjaan selain menjadi pedagang mobil. He he. Saya bayar 50% dulu. He. Dikasih pinjam juga tuh sertifikatnya. Muterin lagi. Karena karena sudah clear kan enggak? Iya, namanya bagus di bank. Saya masukin lagi ke bank. Masukin lagi. He. Sampai akhirnya terus berlipat-berlipat. Rumahnya lunas tapi hutang banknya terus naik, asetnya juga naik. Naik. I I. Nah, itulah saya katakan. Oh, iya. Berarti saya sekarang real pengusaha properti. Halo pot friend Friends, apa kabar semuanya? Ketemu lagi dengan gua Bima di Grand Vida Pot Perty. Wah, kali ini ee dari beda dari episode-episode berikutnya kita kedatangan seorang tokoh nih. Wah, gua bilang tokoh juga karena memang udah pengalaman di dunia properti sebagai developer dan juga pengusaha. Eh, juga sekarang lagi aktif di dunia politik. Wah, kombinasi yang luar biasa. Saya perkenalkan Bapak Faisal Haris. Wah. Terima kasih. Yes, Pak. Terima kasih nih sudah main-main ke sini, sudah meluangkan waktunya di kesibukan, di Senayan. Jadi ee ya karena kita di dunia properti, Pak eh Fasal kan ada background properti juga nih sebelum ke terjun ke Senayan ya. Jadi kita ngulik-ngulik sedikit mungkin bisa menjadi inspirasi juga buat teman-teman Pod Friends. Ah, Pak Wesal e mungkin sedikit dari background. Jadi ee ada bisa ceritain sedikit enggak sih dulu kayak background sekolah ya? Ee apakah memang dulu ada bisnis atau memang ee udah fokus ke apa ada sempat dulu untuk jadi karyawan gitu-gitu, Pak. Hm. Tapi yang pertama saya luruskan dulu nih. Heeh. Tadi terkait benar kalau hari ini saya menjadi politikus. Iya. Hanya saya bukan di Senayannya. Oh, oke. Tapi saya di DPP-nya. Oh, DPP-nya. Oke. DPP-nya membidangi dewan etik namanya. Oke. Dia ada hubungannya juga dengan isinya Senayan. Oke. Jadi antara DPP dengan Senayan berarti yang eh kalau Dewan etik berarti yang ngebenerin kalau yang enggak benar di menegakkan etika lah gitu. Iya. I I ya. Nah, oke Pak ke background sedikit. Dulu sempat mengemban pendidikannya tuh ee memang kuliah untuk senang bisnis apa memang gimana Pak? Saya mengalir seperti anak muda biasanya ya. Oke. Namun saat itu saya lebih kurang beruntung dibanding He ee anak-anak lain gitu ya. Saya tumbuh berkembang dengan kemampuan yang ada di dalam keinginan saya. Heem. Jadi pindah dari satu sekolah ke sekolah yang lain itu pindah dari satu sekolah ke sekolah yang lain bukan keinginan saya tapi keinginan yang membiayai. Oh, oke. I jadi karena dibiayai oleh yang membiayai ya saya harus pindah gitu. Oke. I jadi sampai akhirnya di titik terakhir saya ambil informasi teknologi IT lah. Oh, IT. Oke. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya sekarang apalagi dengan ee turunnya ke kancah politik ya. Heeh. He enggak ada. I. Tapi memang saya suka sesuatu yang ada hubungannya dengan politik. Hmm. Oke. Seak dulu sering baca-baca, beli-beli majalah gitu. Itulah. Jadi memang ee sebenarnya kombinasi yang sekarang bagus juga ya, Pak ya, antara bisnis dan politik sebenarnya. Iya. Mungkin di titik sekarang inilah ya. Karena Iya. Politik itu kan perlu perlu ongkos. Iya iya iya i. Benarbenar. Nah, Pak ee kalau misalnya setelah misalnya dulu setelah mengemban pendidikan Bapak dulu langsung terjun jadi pengusaha kah apa memang pernah kantoran dulu kah gitu loh. Jadi ee ada kan beberapa orang yang gua langsung usaha bisnis dagang apa gitu gua enggak pernah kantoran gitu. Seumur saya sekarang ini saya menjadi orang kantoran ya baru sekarang. Justru kebalikan ya orang ya. Dulu ada yang kantoran dulu baru bisnis. Heeh. Sekarang dulu berarti sekarang bisnis baru kantoran. Sekarang pernah punya kantor sampai sekarang punya kantor tapi tidak pernah menduduki kantor gitu. Oke. Jadi karena sekarang punya kewajiban sebagai ee bagian daripada unsur pimpinan dewan etik yang mana harus juga berkantor gitu. Jadi sejak dulu saya belum pernah menjadi karyawan atau berkantor atau membantu seseorang untuk menjadi karyawannya. Alhamdulillah belum pernah. Oke. Ya, ya, ya, ya. I see. Nah, apakah memang ee sejak sekolah itu ya, Pak, cita-cita Bapak tuh memang langsung jadi pebisnis kah atau ada yang lain? Saya cita-citanya ingin jadi pemimpin. Oke. Oke. Whatever. Itu pemimpin satu perusahaan atau pemimpin apapun ingin jadi pemimpin. Oke. Jadi punya naluri leadership yang kuat dong berarti nih ya penginnya gitu ya, Pak ya. Wah, luar biasa nih. Oke, sekarang ee soal keehobi nih, Pak. Kan kita tahu Bapak kan hobi juga otomotif ya. He. Nah, otomotif tuh ee Bapak juga sempat sempat jadi ee pengurus juga ya, Pak, ya. Iya. I sama. Nah, dalam dunia otomotif yang Bapak ee hobi gitu ya, ini bisa menunjang di karir Bapak enggak sih selama ini gitu loh. Em, sebagai orang yang anak kecil, anak muda yang tidak punya kemampuan untuk memiliki kendaraan. Heeh. Saya kira untuk mengatakan punya hobi otomotif itu mustahil. Oke. Karena mobil aja enggak punya gitu. Iya. Iya. Ini tapi cerita rada jauh ke belakang ya. Iya. Enggak apa-apa, Pak. tahun. Jadi saya kecil itu tinggal Heeh. di rumah bibi saya. Iya. Ee kemudian di rumah nenek saya. Mereka kan punya mobil tuh. Heeh. Ya. Saya namanya orang numpang lah ya. Iya. Nyuciin mobilnya, bersihin mobilnya. He. Kemudian salah satu bukan salah satu di mana tempat saya tinggal bibik saya itu ya orang beradalah. He. Sering gonta-ganti mobil gitu. Oke. Nah, saya suka bersih-bersihin mobilnya. Oke. Supaya harga jualnya bagus gitu. Nah, itu jadi hobi rupanya. Hobi bersih-bersih mobil. Oh, oke. I jadi hobi-hobi bersih-bersih mobil. Nah, ada salah satu mobilnya yang karena saya sering bersihin nilai jualnya jadi bagus. Oh, gitu. Itu jadi baguslah. Dapat dapat tambahan, dapat uang jajan waktu itu. Jajan. Heeh. Sampai akhirnya saya memberanikan diri tuh minjam. Heeh. Punya uang. Saya hanya punya sepeda motor waktu itu. Iya. Ee motor saya jual terus pinjam uang dari tante itu dari bibi itu untuk nambahin. E cobalah jadi jadi jualan mobil satu dua gitu. Oke. Oh. I ya. Lakukan tuh. Jadi mobil yang jelek kita bagusin sambil pakai punya mobil. Oke. Tapi bagi keuntungan kalau laku. Oke. Iya. Iya. Misalnya saya pinjam zaman waktu itu R juta gitu ya. Iya. Untung R3 juta ya. Bagi dua tuh. Oke. Tahun berapa tuh Pak? Kalau boleh tahu. Masih bujangan ya kurang lebih 94 lah ya. Oh '94. Oke. Oke. 94. Jadi ya di situ juga tumbuh naluri bisnisnya ya dari ee dagang mobil bekas sambil kayak gitu terus sambil sekolah tuh. Sambil sekolah. Iya. Iya. Iya. Ambil sekolah terus di ee karena keluarga itu ada juga tante saya itu bibik saya itu suaminya tentara. Heem. Ee dimasukinlah saya untuk menjadi tentara gitu ya. Oh ya. Iya. Sudah ikut tes dan lain-lain segala macam. Tapi karena I terbiasa saya tiap minggu dapat uang gitu ya dari usaha itu. Iya. Iya. Akhirnya saya mengundurkan diri tuh. Jadi tempat sempat sempat tes segala semua sudah semoga lama lulus juga ya. Ya lulus di tengah-tengah jalan ya. Di tengah-tengah jalan hampir lulus lah. Hampir lulus ya dikategorikan ya luluslah dengan bantuan beliau-beliau gitu ya. Iya. Iya. I ee ya itu karena basic-nya ee saya bukan niatnya bukan untuk menjadi anggota TNI atau polisi yang jadi pemimpin di sebuah perusahaan lah ya. Karena sudah merasakan punya uang tuh. Iya. Iya. Jadi setiap minggu dapat uangnya lumayanlah kalau itu di usia itu ya. Jadi ya saya geluti. He punya satu jadi dua. Heeh. Punya dua jadi tiga. Nah ketika punya dua jadi tiga. Si bibik saya tante ini itu sering pindah-pindah rumah. Oke. Nah saya kan jadi ikut tuh pindah-pindah rumah. Iya. E akhirnya saya ikutan bagaimana caranya bisa punya rumah. Oke. Oh, awal mulanya di situ. Iya. I jadi dulu kan ada koran zaman dulu tuh pos kota. Iya, pos. Benar. Nah, saya beli rumah itu rumah yang over kredit. Take over. Take over credit. I kan ada tuh ada ada kolom khusus tuh. He. Rumah kredit tuh ya. Nah, itu saya beli-beliin tuh yang ada uang mukanya cuma 10. Oke. R juta. Tapi tentu di pinggiran Jakarta. Iya iya iya. Saya ingat pertama itu saya beli di daerah Sawangan. Uang mukanya hanya R juta tahun segitu ya, Pak? Iya. Sama di ee Parung uang bukanya R28 juta. Parung. Iya. Nah, itu saya renovasi. Iya. Ee keuntungannya dua kali daripada luang muka itu. He. Jadi saya jualnya pun over kredit juga. Oke. Iya, benar. Benar, benar. Zaman itu kan dibolehkan. Boleh ya? Ya. Ya. Belum ada hak tanggungan ee maksud saya fidusia gitu-gitu ada. Dan tidak semua bank mengacu kepada ketentuan memasang hak tanggungan kan. Iya. He. Jadi itulah over kredit itu saya jual over kredit lagi. He. Terus aja dan ee menjadi hobi gitu. He. Hobinya ee setelah saya isi waktu dengan jualan mobil bekas. Heeh. Setelah nyuci, setelah moles gitu ya. Jam-jam segini nih saya ke toko material. Heh. Panglima polim. Terus Iya. Iya. Blok A gitu ya. E apalagi tuh kenari. Iya. Kenari untuk beli-beli gitu. Itu hiburan buat saya. Hm. Akhirnya jadi rumah itu lebih bagus. Iya. E propertinya dengan mobilnya bersamaan naik. Oke. Nah, terus saya berhenti di di otomotif itu ee mungkin tahun 2000 ya. Oke. 2000 itu ada satu doa saya yang Allah kabul di situ. He, Karena saya pernah satu keadaan ya ini enggak apa-apalah cerita ya. Iyalah. ee ngobrol, "Pak, ini saya di XX1 tuh nonton. Saya sudah punya showroom tujuh kalau enggak salah. Oh, ya. Jakarta semua? Ee Jakarta tujuh atau delapan. Oke. He. Ee penghasilan 1 bulannya kalau itu zaman itu ya. Iya. Enggak kurang dari R00 juta. Wah, cuman itu dari tujuh atau delan show mobil itu. He. Em bulan kalau satu showroom itu laku 20 atau 10 saja. Heeh. 50%-nya saya berbohong gitu. Hmm. Kayak Mas Bima nanya, "Haris, ini mobilnya bagus enggak?" Saya pasti harus bilang bagus. Iya. Iya. Ya, Mas Bima pakai di kemudian hari ada masalah dengan mobil itu. Iya. Iya. Terus ketemu saya nonton tuh saya ingat tuh di XX1 Kindam Mall di sampingnya ada orang yang beli mobil saya. Saya enggak bisa nonton karena saya tahu mobil yang dia beli enggak bagus. Oke. Heeh. Saya pulang. He. Dan itu berkali-kali dan saya harus ceritakan itu kepada anak dan istri saya. Kemudian saya berangkat haji. Heeh. Sepulang haji ee ada tiga showroom mobil saya tuh tiga-tiganya kosong. Heem. Ke mana itu mobilnya? Dijual tanpa surat oleh orang-orang kepercayaan saya kepercayaan. Jadi dijual ke pedagang-pedagang juga tuh. Oh gitu. Saya bilang saya wah ini rupanya doa saya di tanah suci nih diabul nih. Oke. Tapi harus mengalami seper rugian seperti itu dulu ya. Kerugian bukan kerugian. BPKB-nya kan di saya. Oh, oke. Oke. Tapi saya ingatkan ke mereka bahwa mereka membeli mobil hasil kejahatan. He. Dikembaliin kan gitu. Oke. Nah, setelah itu saya berhenti total total saya tekuni properti. He. Kalau properti itu kan ee Mas Bima punya uang R miliar ya dapat yang R miliar. Iya. Iya. Ya. Dirasa. dirasa itu maksudnya lingkungannya terus material enggak ada bohong-bohong gitu. Itulah kenapa ya saya suka usaha properti itu. He. Enggak ada bohong-bohong. Oke. Berarti itu awal mula ya, Pak memilih fokus ke properti gitu ya. Dan dan itu ee as we know ya properti zaman itu sampai dengan 10 tahun terakhir ini kan dunianya properti kan gitu. Iya. Iya. I ya. Nah, pertama kali Bapak ee berarti projek pertama kali flipping itu yang Parung ya? Ee Parung dengan Sawangan. Sawangan ya? Pernah Sawangan di usia berarti sekitar 20 22 tahunan 22 tahun. Wah, 22 tahun. Kita ngapain? Gua lagi mainti main kayaknya. Umur 25 menjelang 25 tahun tuh saya sudah punya rumah Jati Padang Utara 1 nomor 45. Umur berapa, Pak? 25 kan? 24 ke 25 tahun. Oh, JTI Padang itu. Iya. Project itu bukan projek rumah. Rumah. Jadi ee karena saya suka mobil ada Pak Haji tuh Pak Hajinya baik namanya Pak Haji Yakub. Heeh. Ee dia beli Grand Vitara saya tuh dul kan Grand Vitara ya. Grand Vitara sama dua mobil apa itu? Skudo zamannya sama satu lagi Corolla atau apa ya? Oh, Twin Cam. Hmm. Terus ee Haji ini kan tanahnya banyak. Iya. Di depannya ada rumah bagus. Heeh. Ee dengan dialekat dialek Betawinya dia bilang, "Nih beginilah kurang lebih dua mobil lu gua ambil deh gitu. Tiga." He. Lu mobil ambil rumah itu. Rumah itu tahun segitu harganya Rp1.120 juta. Luas berapa, Pak? 320 m. Hah? 300? Wah, ya masih murah banget nih. Rp1.120 juta. Iya. I kemampuan saya bayar hanya setengahnya. He. Nah, itu rumah pertama saya dan itu modal. Oke. Jadi, Pak Haji itu walaupun saya baru bayar setengahnya, enggak nyampai setengahnya cum Rp300 juta saya bayar. Heeh. Sertifikatnya dikasih. Wah, sudah percaya banget. Iya. Orangnya baik sekali nih. Iya. Iya. Terus saya bilang, "Pak, ini saya jadiin modal ya." Heeh. "Saya anggunin ke bank." Oke, dapatlah itu R00 juta dari situ. He. Nah, saya beliin lagi rumah yang lain, lain-lain. 2 tahun tinggal di situ. Saya pindah ke Haji Saidi 4. Oh, Haji Saidi 4. Oke. Beli di situ. Iya. Iya. Ee dan beberapa rumah yang lain. Tapi modalnya pertama dari rumah di JTI Padang. Padang. JTI Padang saya anggunkan ke bank. Iya. situlah. Tapi yang polanya polanya memang seperti itu kan, Pak ya. Jadi ya kan saya enggak punya enggak punya kemampuan lain-lain hanya dari situ dan Iya. Dan itu saya bisa dapat keuntungan dari jualan mobil sekaligus jualan rumah. Heeh. He he. Saat itu. Nah, walaupun rumah mobilnya itu saya akhirnya berhentikan kemudian fokus di rumah. Iya. Tapi kan ya itu sebuah ee sebuah breakthrough hebat untuk ee remaja seusia loh, Pak. Gitu kan sudah mikirin bisnis seperti itu minjam ya kan itu enggak banyak Pak gitu. Saya umur 25 asik nongkrong ya masih main kayaknya belum mikirin apa nyari cuannya yang nge-flipping gitu sebuah properti gitu loh Pak. Ee ya keadaannya beda sih waktu itu kan ya. Tapi ya hebat ya misalnya dari apa ee dari mobil terus ke rumah yang mencari mencari apa petunjuk juga dari dari ee Makkah terus tiba-tiba ke ya udah ke rumah gitu kan. He itu kan suatu pencapaian yang ee apa epik juga ya Pak karirnya dari mulai dari situ dan memang jodohnya juga rezekinya lancarnya ke situ sampai sekarang ya Pak kayak gitu kan. Nah, sejak dari itu ee punya kendala-kendalanya apa, Pak? Bing mungkin mesti cerita pada saat itu ya keluh kesahnya itu waktu itu dari kendala ada. Heeh. Jadi 26 saya menikah. Heeh. Ya. 98 Krismon. Ah. Iya. Rumah itu enggak ketebus tuh TTI Padang. Heeh. Dan itu belum lunas. Oh, gitu. Sama Pak Hajinya belum lunas. harus bayar. Iya. Iya. Itu di salah satu bank swasta yang sudah tutup bank ya. Heeh. Ee mobil harganya naik dua kali lipat waktu itu. Rumah pun harganya naik dua kali lipat karena kurs dolar banyak orang yang menang di dolar kan. Oh. Iya iya iya iya. Heeh. Jadi, iya bukan saya sengaja untuk tidak bayar, tapi memang kalau saya bayar saya enggak punya rumah. Iya. Kalau saya bayar saya enggak bisa usaha lain gitu. Hm. Dengan berjalannya waktu ada kebaikan dari pemerintah. He. Yang bunganya dihilangkan, bahkan pokoknya pun he didiskon. Oke. Wah. Nah, itu lagi-lagi saya merasa mendapatkan keberuntungan tuh. Iya, iya, iya. Jadi yang hutangnya sekian ratus, oh bukan sekian ratus waktu itu sudah udah miliar miliar menjadi sekian ratus. Diskon banyak, potong banyak ya, Pak ya. Banyak tapi prosesnya ya itu di Iya. di somasi dan lain-lain. Tapi kita temui aja bicara baik-baik. Iya. ee kemudian ya itu ada kemudahan membayar 50% hutang pokoknya hilang. Sudah sampai akhirnya rumah itu yang saya belinya R miliar sekian laku waktu itu 3 kom sekian miliar. Woh tahun '99 di situ saya menikah sudah punya anak satu tuh naiknya lumayan banget ya kan Krismon naik semua. Iya Krismon iya semua itu titik titik tolak semua naiknya berkali-kali lipat sih memang Pak Udah enggak ada turun-turun lagi tuh. Iya. Nah, di situ saya punya uang itu saya beli rumah tante saya itu yang tante saya yang saya dulu ninggalin itu. Dia kan suka pindah-pindah rumah. Iya. Dikasih ngutang juga itu. Oh, rumah diidi harganya 4 kom sekian miliar lah ya. Ee saya tebus ke bank sisanya sekian. Saya bayar ke tante saya itu eh enggak empat iya hampir empat. He. Saya bayar 50% dulu. He dikasih pinjam juga tuh sertifikatnya. putterin lagi karena sudah clear kan enggak namanya bagus di bank saya masukin lagi ke bank masukin lagi. He. Sampai akhirnya terus berlipat-berlipat rumahnya lunas tapi hutang banknya terus naik asetnya juga naik. Naik. Iya. I. Nah, itulah saya katakan oh iya berarti saya sekarang real pengusaha properti. Hmm. Di tahun 2000. 2000. Heeh. Jadi sebenarnya ee sebagai pengusaha properti ya ini mungkin di semua bidang juga, tapi kalau terutama di properti nih berarti memang harus ee punya pertama punya keyakinan, punya nyali yang yang berani juga ya, Pak ya, yang kuat juga ya. Karena kan tidak semua orang berani berhutang untuk membuka usekolahkan misalnya ee sertifikat gitu, akhirnya kita berhutang terus muterin lagi, putterin lagi. Itu kan enggak semua orang punya bisa punya mental yang kuat seperti itu kan, Pak. Gitu loh. Ya memang karena saya dari dulu diterpa dengan hidup susah. He. Jadi mental itu ada. Oke. Jadi keberanian itu ada. Peluang itu yang saya enggak akan lepas. Iya. Iya. Selama saya mengendalikan dengan penuh tanggung jawab, he saya kira itu bukan sesuatu hal yang harus ditakuti. Nah, itu dia tuh PO, Friends. Itu dia kuncinya itu mahal itu ilmunya itu ya. Ee, terus kalau misalnya project sampai sekarang Pak ee Bapak sudah punya berapa project sih ee yang sedang berjalan gitu ya? sama. Apakah Bapak lebih senang flipping atau memang ya udah senang bangun primary? Emm, sejujurnya saat ini saya lebih fokus ke dunia politik. Oke. I dan sisa-sisa yang ada Heeh. seperti yang Mas Bima juga pahami kan tidak sebagus beberapa waktu yang lalu ya. Ia namun tidak sehebat yang lalu gitu. Jadi iya iya ee saya menyesuaikan demand. Oke. Kalau ee supply kan sudah over supply sekarang ini. Iya. Iya. I dan sekarang ini juga ee pola-pola daripada cara-cara orang membeli beda dengan waktu beberapa tahun yang lalu. Jadi kalau pertanyaan itu ee project di mana saja Heeh. ee saya menyempurnakan sisa-sisa yang setelah COVID berlangsung gitu. Oh, oke. Oke. Covid berhenti kan. E sekarang pasca COVID ya kita jadiin lah itu. Iya. Oke. Oke. Jadi memang di sisa project yang ada atau ee rumah yang ada itu nunggu itu dihabisin aja gitu Pak ya sampai jadi memang sekarang mau fokus saja ke dunia yang baru ini gitu. Enggak juga apa nunggu nanti lihat. Saya enggak akan tinggalkan bisnis properti ya. Oke. Namun saya menyesuaikan dengan keadaan. Oke. Nah, dalam keadaan yang seperti ini di diberikan amanah dan kepercayaan dari partai yang cukup tempat yang bagus gitu ya. Maka saya fokus di sana tapi tidak menenggalkan juga he ee dunia properti saya. Iya. Karena kos saya berpolitik itu kan dari properti gitu. Iya. Jadi enggak mungkin saya tinggalin. Benar, benar, benar. Nah, ee kan Bapak ada beberapa anak yang sudah remaja ya dan sudah dewasa juga gitu. Ada yang mau nerusin enggak sih? E semuanya mereka yang nerusin. Semua mereka nerusin dan ee pada minat. Berminat karena sejak kecil itu sepulang mereka sekolah tuh saya ajar bukan ajak ya, ajak ajak aja. Saya ajak ke notaris. Oke, saya ajak ke bank sampai menyaksikan bapaknya berhutang tanda tangan di bank itu mereka menyaksikan oke ke toko-toko material gitu ya. Sekarang mereka menjadi pengusaha walaupunnya enggak banyak gitu ya, tapi dia menikmati hal itu. Oke. Jadi mereka sekarang ngerjain itu. Ee dan kalau enggak salah saya pernah lihat-lihat di Instagram tuh Bapak tuh ada ada satu di Bali juga gitu ya, Pak. Dia anak-anak megang situ juga gitu, Pak. Ya, di Bali itu sebenarnya rencana hidup saya berikut. Oke. Sebelum saya terjun ke politik, I see. Iya. Saya pengin tinggal di Bali gitu. Oke. Oke. Ee dengan kesantaiannya gitu. Iya. Ya. Ya. Slow pace ya. Tapi anak saya yang nomor dua tuh udah karena ayahnya dulu mau tinggal di sana, jadi dia sudah tinggal di sana enggak mau balik lagi gitu. Iya. Iya. I nomor dua. Jadi dia di sana tuh tinggal di Bali ya mengerjakan seadanya yang kita punya gitu. He emang kadang kalau udah konon katanya kalau udah tinggal di Bali tuh udah udah malas lagi ke Jakarta katanya ya kan karena udah slow pace santai. Suasana liburan ke Jakarta yang metropolitan high pa lagi udah pada malas gitu enggak masuknya. Iya itu benar sih. Iya kan? Heeh. Jadi memang ya orang buat pensiun, buat ya nikmatin hidup itu di sana memang paling enak sih, Pak. Ya gitu ya, Pak ya. Ya. Tapi saya enggak enggak ingin juga mengisi kekosongan pensiun di sana. Cuma ee di sana itu enggak protokoler lah gitu. He he he. Flow-nya ee semuanya sama gitu. Iya. Iya. Iya. Nah, Pak sekarang kan sejak ee di dewan etik ini ya, berarti teman-teman politiknya juga semakin banyak, circle-nya juga masuk di dalam ser politik yang sekarang gitu ya. ee yang mungkin teman-teman circle Bapak tahu sekarang Bapak kan Bapak sebagai pengusaha properti, ada enggak sih yang kayak let's say eh cariin gua rumah atau misalnya eh bikinin gua rumah dong gitu atau ya let's say minta jasa Pak Haris lah untuk karena punya pengalaman di situ gitu atau jualin kali gitu. Iya. Ini sejujurnya saya mengatakan bahwa memang mereka mengetahui ee latar belakang profesi saya gitu ya. Tapi tadi saya di awal mengatakan begitu saya terjun di politik ini khususnya di dewan etik saya ee enggak enggak lagi mengatasnamakan atau menawarkan jasa untuk itu. Heeh. Oke. Jadi belum pernah ada teman-teman politik saya yang membeli rumah atau minta saya ngebangun dan memang saya ngebangun on and build gitu. Jadi saya memiliki sendiri tanah saya bangun untuk sendiri tidak pernah membangun rumah-rumah milik orangorang lain gitu. He he. Boleh mungkin direkomen ke saya, Pak, kalau ada yang cari rumah. Oh, car rumah nih sama Bimanya nih. Grand I kan apa Instagramnya sudah di mana-mana. Iya ada dilihat orang pasti kan. I. Jadi ee luar biasa ya, Pak ee dari pengalaman hidup Bapak sampai jadi profesi apa dari mobil, nyuci mobil, terus lihat rumah, akhirnya bisnis ke rumah sampai akhir ke titik yang terakhir ini di profesi sebagai apa ee di dewan etik ya, Pak ya. Ee ada cita-cita yang belum kesampaian enggak sih, Pak, dari dulu sampai sekarang ini gitu misalnya? Oke. Kalau untuk urusan dunia Heeh. cita-cita saya sudah 3/4 ya. Oke. Heeh. Ee lalu yang belum tercapai adalah bagaimana ee keberadaan saya yang berdampingan dengan politik bermanfaat untuk masyarakat. Oh, oke. Iya. Ya. Dan sementara ini di dewan etik ini. Oke. Dewan etik ini kan menegakkan etika. Iya. Benar, benar gitu. Oke. Nah, terakhir Pak eh untuk tips-tips dan saran buat pod friends nih. Let's say yang ee baru mulai usaha, baru mulai mau jadi usaha ee dievelop jadi developer properti atau bahkan yang baru terjun-terjun iseng-iseng dagang mobil kali ya kayak gitu. Bapak ada saran atau tips kali buat mereka gitu ya. Ini dari pengalaman saja ya. Iya. Jangan jadikan tantangan itu kendala atau halangan. He. Karena di di situlah tempatnya kita untuk mendalami keadaan. He. Jadi menurut saya apapun itu he usahanya Heeh. bohong kalau enggak ada tantangan. Iya. Tapi dikala tantangan itu sudah dalam penguasaan berarti kita sudah mulai jadi pengusaha tuh. Ah itu ya itu ya. Jadi semua bidang itulah kuncinya. Iya. Siap. Paris. Terima kasih atas bincang-bincangnya sudah menjadikan waktu ee hadir di Grandvivida Poty dari kesibukannya. Ee mudah-mudahan ini bermanfaat buat Pod Friends juga dan mudah-mudahan sukses juga buat Pak Haris. Doa yang sama. Em, sukses terus di Dewan Etik dan juga bermanfaat buat masyarakat dan terima kasih buat friends. Kita ketemu lagi di episode-episode berikutnya. Bye.
