Jungkat

Monitor 3 Jutaan, Spec MENAWAN ! LG 27G610A (YouTube Video)

  • 07/12/2025

Hai Andika, guys. Di sini kemarin kita udah ngebeliin monitor untuk editornya di KID si Mas Fikri yang dia mintanya olet refresh R kencang Rp16 jutaan. Bah. Nah, pas beli itu kemarin saya juga beli monitor dari LG yang harganya menurut saya menarik buat di-review. Jadi, awalnya saya iseng-iseng buat beli review aja tapi ternyata monitornya sangat-sangat menarik di kelas harga enggak sampai Rp3 juta. Dan menurut saya monitor ini punya fitur yang layak untuk kalian pertimbangkan. Apa aja itu? Yuk, kita bahas. Jujur aja cari monitor itu kayak nyari jodoh ya, susah-susah gampang. Awalnya kayaknya 24 inch aja enak deh. Tapi ternyata 24 inch itu di meja saya ini terlihat kebanting, kekecilan. Jadi, y akhirnya saya putusin coba deh kita beli yang 27 inch. Masalahnya kebanyakan di market monitor yang 27 inch itu yang harganya terjangkau ya itu resolusinya masih full HD. Kalau misalkan kita cari yang 4K ada sih, tapi harganya wah bisa 3 sampai 4 jutaan selisihnya mahalnya. Makanya pas saya nemu monitor enggak sampai Rp3 jutaan dari LG ini kayak nemu oase di pasdang pasir. Karena enggak sampai Rp3 juta resolusinya itu di tengah-tengah lah. Ada di 2K dengan refresh rate-nya 200 Hz. Dan yang saya suka jelas harganya ramah di kantong gak sampai Rp3 juta. Link pua belannya di pojok kiri atau di deskripsi ya. Tapi murah bukan berarti murahan kok, karena memang dia belum OLED ya. Ya, Rp3.27 inch. OLED sih kayaknya enggak mungkin kecuali kalian belinya di Begadean mungkin ya. Nah, walaupun di IPS tapi viewing angle-nya saya suka karena dilihat dari sisi manapun ya IPS enggak ada color shifting. Jadi dia support 178 viewing angle. Dan ada satu hal yang bikin saya senyum-senyum sendiri pas saya ngetes monitor ini pakai alat kalibrasi kita. LG ini ternyata tipe yang merendah untuk meroket. Di brosurnya mereka janjiin 99 sRGB, tapi pas kita tes tembus 100% sRGB. Malah dapat bonus DCI IP3-nya itu di 90%. Terus akurasi warnanya atau delta E-nya boh ini gokil sih. Rata-rata errornya di bawah satu. Simpelnya, warna yang kalian lihat dari monitor ini warnanya itu dia jujur banget, enggak melenceng, pas. Biasanya kan monitor gaming itu warnanya suka lebay, tapi yang ini lumayan akurat. Lanjut ke kecerahan monitornya, ya. Keceraan monitornya untuk sebuah monitor yang sebenarnya indoor enggak bakal dibawa outdoor, dia gede banget sih, 500 lit. Jadi, kalau meja kerja kalian itu nempel di jendela dan sering kena matahari di siang bolong, layar LG ini enggak bakal kalah. tetap kelihatan jelas, enggak perlu nutup gorden. Soal kontras, LG juga ngasih kembalian di manual book-nya itu tertulis 1000 bing 1, tapi pas kita tes malah 1100 bing 1. Jadi hitamnya cukup pekat untuk ukuran layar panel IPS. Ingat ya, buat ukuran IPS. Jadi jangan diadu sama OLED yang 16 juta kita review kemarin. Beda kelas ini aja kalau dibeliin. Berarti sekitar kita dapat hampir lima monitor ya kalau dibeliin LG yang Rp16 jutaan kemarin. Terus warna putihnya atau white point-nya juga pas di mata. netral, enggak kekuningan, dan enggak kebiruan. Yang bikin saya geleng-geleng kepala settingan default monitor itu ada namanya gamer 1, tapi tuningan warnanya malah manjain editor. Biasanya monitor label gaming itu kan warnanya gonjreng, berantakan, tapi si LG 27G610A ini malah siap buat kerja profesional langsung dari kotaknya. Oke. Oke, sekarang kita coba bahas dia ke habitat aslinya, ke kodratnya. Kalau digunain untuk gaming kayak gimana. [musik] Kombinasi 27 inch plus resolusi 2K ini menurut saya udah paling benar sih. Hitungannya dia dapat 109 piksel per inch. Artinya kita dapat layar yang luas tapi gambarnya tetap tajam, enggak pecah-pecah. Terus 200 Hz-nya ini dikawinin sama respon time yang 1 ms. Hasilnya gerakan di game apalagi pas mus cepat itu mulus, bersih, enggak ada jejak bayangan atau istilah kerennya ghosting. Enggak kayak mantan kalian ya yang dia udah pergi tapi bayang-bayangnya masih tersimpan di memori. Waduh, berat. Nah, fitur mahalnya untuk harga yang murah itu ada di sini namanya freeing premium. Bedanya apa sama freezing biasa? Kalau freezing biasa dia cuman nyamain FPS game sama layar. Masalahnya kalau PC kalian kentang dan FPS-nya drop parah, gambar bakal patah-patah atau startering. Tapi kalau yang premium, dia punya jaring pengaman namanya itu LFC atau lower frame compensation. Gampangnya gini, pas FPS game kalian anjlog di bawah batas normal, monitor ini bakal otomatis nambal frame yang hilang biar gambar tetap kelihatan mulus. Jadi mau PC kalian batuk-batuk pun nge-lag ya gambarnya tetap aman. Enggak ada screen teiring karena ditumble FPS-nya sama dia. Buat anak Valoran atau CS ada FPS mode. Di mode ini, monitor bakal ngotot naikin ketajaman sharpness dan ngaktifin black stabilizer. Efeknya musuh yang hobi ngendok di pojokan gelap jadi bakal terang benderan. Ini ibaratnya kayak insting istri lah, Guys. Jadi sepintar-pintarnya saya nyimpan duit atau nyimpan chat pasti ketahuan juga. Dan di mode ini 200 Hz-nya benar-benar kepakai buat adu aiming. Apalagi kalau PC kalian spek dewa. Beh kerasanya kayak nge-cheat tapi legal. Lanjut, ada RTS Mood. Sesuai namanya, ini surganya pemain Dota, LOL atau game strategi yang layarnya penuh sesak. Kebayangkan ya kalau kita main game moba ada hero, Crypt, turour, mini map, skill warna-warni, semuanya tumplekble blek jadi satu di situ. Nah, di mode RTS ini monitor bakal boost kontras sama warnanya jadi lebih vivfit atau lebih gonjreng. Tujuannya biar pas lagi war 5 lawan lima mata kalian itu enggak sewer. Jadi, masih bisa bedain mana skill teman, mana musuh, mana yang lagi ulti, mana yang cuman numpang joget doang. Tapi ada tapinya nih. Kalau kalian pakai fitur RTS mode ini jangan dipakai buat ngedit karena warnanya bakal ke mana-mana, enggak akurat, terlalu gonjrek. Selain mode gaming, LG juga nyediain mode buat kaum rebahan. Namanya itu mode vivit. Sesuai namanya, mode ini bikin gambar jadi wah dan warnanya nonjok banget. Ingat ya, ini bukan buat akurasi warna. Jadi, jangan nekad ngedit pakai mode ini. Tapi kalau mau nonton YouTube, film action, atau anime biar ledakannya itu makin dramatis, mode ini sih juaranya bikin mata melek. Terus ada fitur reader mode ya, kalian udah tahulah ya, di mana dia bakal mengurangi efek cahaya biru. Dan yang paling saya suka di LG ya kemarin tuh di 16 jutaannya ada fitur ini tapi ternyata di Rp3 jutaannya juga ada namanya color weakness. Ini didesain khusus buat bantu teman-teman kita yang buta warna parsial, terutama buat yang susah bedain warna merah dan hijau. Tapi jangan coba-coba nyalain fitur ini buat kalian yang matanya enggak parsial ya, karena ujung-ujungnya monitornya kayak kelihatan rusak. Yang menarik lagi ada XDR Ef. Simpelnya ini fitur make up digital dari LG. Dia bakal maksa konten video biasa HDR biar tampil seolah-olah kayak konten XDR yang mewah. Jadi monitor bakal otomatis ngotak-ngatik kontrasnya, naikin highlight dan pertegas shadown-nya. Buat navigasi LG untungnya pakai joystick di tengah bawah simpel, anti salah pencet, enggak bikin jari keriting kayak tombol jadul. Sekali klik langsung nongol shortcut buat ganti-ganti mode. Dan ngomongin soal mode ini sebenarnya modenya banyak tapi yang perlu saya hard lihat kalian kalau pakai mode gamer satunya itu adalah sebenarnya namanya mode gamer 1 tapi entah kenapa color akurasinya itu paling pas kalau buat editing ya paling nyaman. Nah, kalau misalkan mau otak-atik jangan otak-atik gamer satunya, otak-atik aja gamer dunya. Jadi kalau settingannya hancur yang utama itu tetap aman. Di sini juga numpuk fitur cheat legal kayak cross hair buat bantu no scope sniper sama black stabilizer buat nerangin map gelap tadi. Dan terakhir, monitor ini juga punya ijazah atau sertifikat Vesa Display XDR 400 yang artinya ini XDR-nya beneran, bukan stiker doang. Brightness-nya real 400 init. Jadi kalau nonton film atau game XDR efek silonya beneran kerasa hidup. Cuman sayangnya karena ini panelnya IPS dan dia enggak punya local diming, jadi warna hitam itu akan agak sedikit keangkat, enggak hitam pekat. kayak AMOLED. [musik] Lanjut ke build quality-nya. LG ini pakai peribahasa hemat pangkal kaya ya. Karena untuk fiturnya, hardware-nya tadi kan udah cakep. Tapi untuk build quality-nya dia pakai polikarbonat atau kalau bahasa ilmiahnya itu plastik. Tapi jangan samain kayak plastik monitor R jutaan ya. Feel-nya ini lebih padat lah ya, lebih solid lah. Soal tampang LG pintar, depannya itu clean, simpel, enggak norak. Kakinya juga model kotak datar aja, bukan model ceker ayam atau robot transformer yang makan tempat di meja. Cuman ada tulisan kecil aja, Ultra Gear di bawah. Jadi enggak gila branding. Sekali lagi yang saya suka dari monitor LG itu dia monitor kamouflase lah. Sebenarnya dia monitor gaming, tapi kalau dipakai kerja bos itu juga enggak sadar kalau ini monitor gaming. Finishingnya juga sama kayak monitor yang 16 juta kemarin. Jadi dia finishingnya itu dove. Jadi kalau kalian habis makan gorengan terus nyentuh monitornya enggak akan nempel fingerprint. Lanjut ke colokan. Ada dua HDMI, satu display port, sama colokan audio. Catat rumusnya biar enggak rugi ya. Jadi kalau kalian mau pakai 200 Hz-nya, kalian harus pakai kabel display port, jangan kabel HDMI. Karena kalau kalian pakai kabel HDMI, dia bakalan turun ke 144 Hz. Rugilah beli monitor 200 Hz kalau kepakainya di 144 Hz. Buat tim meja rapi udah ada Vesamon bracket 100 mm dan lubang kabel di tiangnya. Terus yang saya suka walaupun dia monitor entry level R jutaan, tapi untuk ergonomicnya juga bisa tilting, panning tuh bisa semua kecuali vertikal ya, belum bisa. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari monitor LG 27 inch ini. Dan kesimpulannya dengan harga yang enggak sampai Rp3 juta, monitor ini bikin geleng-geleng kepala di kelas 27 inch 2K 200 Hz. SKU ini pas videonya dibuat ya itu belum banyak cuma beberapa brand aja yang berani main di konfigurasi ini. Tapi LG ini bisa ngasih value yang monitor lain belum tentu bisa kejar di price range-nya. Kayak dari color akurasi yang di mode default-nya aja udah cakep. Terus ada sertifikasi Vesa display HDR400 yang jaminan layarnya bakal kelihatan lebih hidup buat konten-konten yang support XDR. Plus dari hasil pengujian kita konsumsi dayanya enggak nyentuh 20 watt. Jadi bukan cuma performanya aja yang bagus. hemat daya juga enggak sampai 20 watt loh. Dengan konfigurasi dan tuningan kayak gini, dia sih masih aman banget ya dipakai desain atau editing yang butuh akurasi warna. Buat entertainment mau dipakai nonton Netflix juga bakal manjain mata. Dan ke depan kayaknya konfigurasi kayak gini bakalan ramei deh karena dia 2K 200 Hz itu pas gitu 27 [musik] inch kan. Karena kalau 27 inch full HD itu pecah-pecah. Kalau 4K kemahalan. Jadi 2K 200 Hz menurut saya bakal banyak yang ngisi segmentasi [musik] ini. Kalau kita ngin kekurangan, kekurangannya dia bisu sih ya karena dia enggak punya speaker internal. Tapi kalau buat saya pribadi enggak masalah karena saya tipikal orang yang pasti pakai headset kalau enggak gitu pakai speaker eksternal. Karena semal-mahalnya monitor speakernya pasti kalau dibandingin speaker eksternal Rp100.000-an aja masih enak speaker eksternal. Terus soal XDR400 tadi jangan dibikin kayak dia dewa banget. anggap aja dia pemanis karena dia kan IPS ya dan dia enggak punya lokal diming jadinya warna yang gelap tadi ikut keangkat karena ya LED-nya itu [musik] ikut nyala enggak bisa sepekat panel OLED. Dan ya cuma itu aja sih aib-aibnya yang menurut saya masih bisa ditoleransi karena price range-nya atau harganya gak sampai Rp3 juta. Saya dikasih Abidi and see you on the next video. Bye bye.

Lihat di YouTube