Monitor Penta Tandem QD-OLED 27” 4K 120Hz Kelas Atas - Review Lenovo Yoga Pro 27UD-10 (YouTube Video)
Ini adalah salah satu monitor pertama di Indonesia yang menggunakan penta tandem QD OLED. Lenovo Yoga Pro 27 UD10 risiko burn in berkurang jauh. Quantum dot bikin tampilan monitor jadi mantap. Color gambutnya diklaim 99% dp3. Gaming juga mantap dengan respon time 0,03 ms dan pakai adaptive sink. Konektornya melimpah. Ada USB 4 type C untuk input sekaligus charging laptop bisa sampai 140 watt. Dan dia punya webcam 4K bawaan yang spesial banget. Oke, langsung aja kita bahas monitor keren yang satu ini. [musik] Ya, monitor Lenovo Yoga Pro ini diperkenalkan DCS 2026 dan sekarang sudah masuk resmi ke Indonesia. Mengusung nama Yoga, monitor Lenovo ini harusnya menjanjikan pengalaman pakai fitur dan kelengkapan kelas atas. Salah satunya adalah penta tandem QD OLED-nya. Ini adalah teknologi lanjutan dari tandem OLED yang membagi beban kedua lapisan layar untuk mengurangi kemungkinan burn in. Nah, penta tandem QD OLED ini membagi beban tersebut ke lima lapisan layar. Jadi, kemungkinan berninnya menjadi kian berkurang. Layar harusnya jadi makin awet tahan lama. Tapi tentunya bukan hanya itu aja kelebihannya ya. Oke, langsung kita bahas monitor ini mulai dari paket penjualannya. Di dalamnya tentunya ada unit monitor dengan standpasang. Adapter daya 400 wat. Lalu ada kabel power, ada kabel USB 4 C2C ya, dan ada webcam 4K detachable Vesa mount 100* 100 mm dan ada paket dokumen ya. Menurut ini punya penampilan minimalis dan elegan dengan body berbahan aluminium alloy untuk cover belakang, tiang penyangga, dan base stand-nya. Warnanya ini adalah Thunder Grey ya. Nah, untuk dimensi monitor tanpa stand itu lebarnya 61,1 cm, tinggi 39,7 cm, dan tebal di 2,2 cm. Sementara kalau dengan stand ketinggian paling rendahnya ada di 46,4 cm dan paling tinggi di 57,4 cm. Ketebalan 18,4 cm. Untuk posisi rendah di bagian bawah monitor ini hanya berjarak 6,7 cm dari permukaan meja. Untuk bobot monitor beserta stand itu ada di kisaran 6,7 kg. Desain standnya seperti ini ya, dengan base berbentuk kotak dan sudutnya membulat. Nah, untuk leher stannya terbilang besar dengan desain yang cukup tipis serta ada lubang di bagian tengah untuk cable management. Di sini ada mekanisme pengaturan ketinggian dengan rentang 11 cm. Stan ini mendukung tilt atau pengaturan kemiringan layar ke depan hingga 5 derajat dan ke belakang hingga 22 derajat. Sayangnya enggak ada dukungan untuk swivel atau memiringkan layar ke kiri dan kanan maupun pivot untuk memutar layar ke posisi vertikal. Nah, [berdehem] beralih ke belakang semua konektor itu ada ditempatkan di area tengah bawah. Nah, di sini ada satu port HDMI 2.1, satu display port 1.4 untuk input. Nah, konektor ini juga mendukung HBR3. berarti dia bisa input sampai 4K 120 Hz. Lalu ada satu display port 1.4 untuk output konektor DC in. Ada satu USB 4 yang 40 GBS dengan dukungan display port 1.4 juga. Lalu ada 4AT port USB untuk fitur USB hub. Dua port USBC 3.2 gen 2 10 GBS dan ada dua port USBA 3.2 Gen 2 10 GBS juga. Lanjut lagi di area kiri bawah ini ada joystick 5 arah untuk navigasi menu OSD dan ada tombol power. Beralih ke sisi depan. Terlihat bezel layarnya ini terbilang tipis ya di tempat sisinya ya. Nah, di bawah bezel sisi kanan ada lampu LED yang akan menyala putih saat monitor digunakan dan oranya saat ada di mode standby. Sementara di bagian atas monitor ada konektor USBC. Ini khusus untuk memasang webcam-nya. Oke, untuk spek layarnya diagonalnya ini ukurannya adalah 26,5 inci ya. Dan dia menggunakan panel penta tandem QD OLED. Tentukan dot di sini umumnya akan membuat warna jadi tampil lebih hidup. Untuk resolusinya adalah 4K atau tepatnya 380 * 2160 pikel. Aspek rasio 16 b 9. Refres-nya up to 120 Hz. Respon time-nya 0,03 m. Ini gray to gray. Brightness-nya up to 250 nits untuk keseluruhan layar di mode SDR ya. Sementara untuk peak brightness diklaim bisa mencapai 1000 nits. Nah, untuk cakepan warnanya itu diklaim bisa mencapai 99% d3 dengan kedalaman warna di 10 bit. Untuk viing angle ada di 178 derajat horizontal dan vertikal. Nah, dia juga mendukung AMD Free Premium Pro, Vesa Adaptive Sync, dan Gsyncat. Untuk fitur-fitornya, dia punya OLED Care ya untuk mengurangi resiko burn in ya. Walaupun ini penta tandem, tapi tetap aja ya ada OLED care-nya. Lalu ada auto ambient brightness sensor. Ini akan menyesuaikan kecerahan layar berdasarkan kondisi pencahaan di sekitar kita. Nah, layar monitor ini punya permukaan yang nonlear. Jadi, mini pantulan yang mengganggu ini sangat unik ya, karena permukaannya sebenarnya licin, bukan yang bertekstur mat. Monitornya juga punya sertifikasi Dolby Vision dan display HDR True Black 400. Jadi untuk HDR seharusnya berat STnya bisa mencapai 400 nitz. Kalian 250 tadi kan klaimnya di SDR ya bukan HDR. Oke, karena stand monitor ini sudah terpasang ya, kita cukup keluarkan monitor dari bok aja lalu taruh di atas meja seperti ini. Kalau mau dipasang ke dinding atau bracket itu bisa juga ya dengan detachable Vesa mount yang ada dalam paket penjualannya. Agak jarang ya tersedia di situ ya. Tapi kita perlu ngelepas stand dulu nih kalau kita ma pasang seperti Vesa yang tadi ya. Lanjut. Jangan lupa pasang kabel dari adaptor daya ke monitor ini, lalu pasang kabel input yang akan kita gunakan. Sebetulnya bisa pakai HDM atau DP, tapi sarannya ya pakai USB 4-nya. Nah, saat kami coba ketiga input tadi bisa mendukung sampai 4K 120 Hz. Nah, kalau HDR diaktifkan, monitor tetap bisa berjalan di 4K 120 Hz dengan kedalaman warna 10 bit. Nah, kalau kita menggunakan input dengan USB 4 dari komputer kita ya, mau itu laptop, mau itu desktop, kita otomatis bisa langsung manfaatkan 4AT port USB 3.2 genu di monitor ini sebagai USB hub-nya ya. Jadi keempat port tadi bisa kita gunakan untuk menghubungkan keyboard, mouse, storage, dan berbagai perangkat USB lain ke desktop atau laptop yang terhubung ke monitor ini. Menariknya lagi, port USB 4 di monitor ini juga mendukung charging ya, charging ke arah device yang nempel ke dia ya, dengan daya maksimal sampai 140 wat. Jadi, selain untuk input, port USB 4 ini bisa dipakai untuk ngisi daya laptop selama laptop kita memang mendukung USB PD dengan daya 140 watt atau kurang dari itu. Ini juga bisa bikin setup kita jadi lebih rapi ya, karena jadi kita hanya butuh satu kabel saja untuk menghubungkan laptop atau desktop ke monitor ini. Oke, sekarang mari kita coba pakai monitor ini ya. Ada enam picture mode yang disediakan. Cool, warm, neutral, Adobe RGB, SRGB, dan DCIP3. Di mode cool dan warm keduanya punya gamut coverage dan gamut volume yang mirip. Kurang lebih seperti ini ya hasil pengujian kami ya. Tapi keduanya punya temperatur warna yang berbeda. Cool akan membuat tampilannya jadi agak kebiuran. Sementara warm seperti biasa akan agak kekuningan ya di situ ya. Nah, di mode neutral gambut coverage-nya ada di sekitar 91,4% Adobe RGB dengan gambut volume di 109% Adobe RGB. Ini udah tinggi banget sih nih karena ini Adobe RGB, ini udah bukan DCP3 ya. Nah, untuk setting sRGB dan DCIP3 di mode neutral gamut volumen-nya itu udah di atas 100%. Nah, bagaimana dengan mode sRGB di CP3 dan Adobe RGB sendiri? Nah, untuk mode sRGB gamut coverage-nya ada di 93,8% SRGB dengan gambut volume di 94,2% sRGB. Udah cukup mendekati klaimnya Lenovo. Sementara untuk mode DCI IP3 gambut coverage-nya ada di 96,9% di CP3 dengan rambut volume-nya ada di 99,4% DCI IPT. Lagi-lagi udah dekat dengan Klaim Lenovo. Sementara untuk mode Adobe RGB, gamut coverage-nya ada di 91% Adobe RGB dan gamut volumnya ada di 91,4% Adobe RGB. Nah, untuk akurasi warnanya mode sRGB dan Adobi RGB disebut punya average delta E di bawah 1. Sementara untuk DC IP3 punya average delta E di bawah 1.5. Nah, berdasarkan hasil pengujian kami, klaim tersebut memang cukup benar ya. Jadi, ketiga mode ini terbilang pas untuk dipakai ngedit karena akurasi warnanya. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan atau preferensi masing-masing. Nah, untuk brightness tingkat kecerahan maksimal di SDR emang bisa mencapai 249 nitz. ini sangat mendekati klaimnya Lenovo. Oke, di mode HDR tingkat citrannya bisa mencapai 460 nits sudah sesuai dengan syarat display HDR True Black 400. Oke, untuk speaker monitor ini dilengkapi dengan 6 buah speaker dengan 4 wover 7 watt ya 4 wover masing-masing 7 watt dan ada dua twitter masing-masing 3 wat. Totalnya jadi 34 watt ya. Suaranya terdengar menggelegar dengan karakter suara yang agak mengarah ke bass sebetulnya ya karena wovernya banyak banget ya. Untungnya ini bukan yang sampai terlalu dominan banget ke bass dengan vokal dan trble yang masih terdengar cukup jelas. Jadi untuk pengguna harian kalian kayaknya gak butuh beli speaker lagi deh. Udah cukup bawaannya. Lanjut kita coba lihat webcam bawaannya. Ini adalah webcam modular 8 megapel dengan sensor hmm Sony IMX 678 yang ukurannya cukup besar 1/1,8 inch. Jadi ini bukan sensor murahan. Berekaman videonya up to 4K 30 fps dan ini webcam yang autofokus ya. memperlihatkan produk secara dekat saat live atau saat sedang video call bisa banget di sini. Untuk keamanan, webcam ini punya penutup. Kalau mau digunakan, penutupnya bisa ditempel ke bagian belakang kamera. Webcam ini juga bisa kita putar ke bawah seperti ini ya. Dan tentunya ini akan sangat berguna untuk berbagai kebutuhan ya. Misalnya kalau mau bikin konten unboxing mungkin gitu ya, menunjukkan sesuatu di permukaan meja dan lain sebagainya. Untuk konten sendiri udah kelas atas lah yang satunya gambarnya jernih, detailnya dapat, ketajamannya juga mantap ya. Kemudian monitor ini juga dengan empat mikrofon bawaan. Yes, empat bukan satu bukan dua ya. Dengan kualitas audio yang sangat-sangat baik bahkan punya fitur noise cancelling. Oke, sekarang kita lagi di studio untuk menguji kualitas kamera dari monitor Lenovo Yoga Pro yang satu ini. Untuk resolusi maksimalnya ini sampai 4K 30 FPS ya. Selain itu, ada juga opsi untuk 1080p 60 fps kalau perlu frame rate yang lebih tinggi. Untuk pencayaan di sini kita menggunakan lampu studio ya, jadi pencahayaannya lumayan terang. Dan untuk hasil gambarnya ini juga sudah cukup terang detailnya tinggi terutama di resolusi 4K dan juga ini sudah minim dari noise. Selain itu kameranya juga sudah mendukung autofokus ya. Jadi misalkan kita ingin menunjukkan objek di depan kita seperti ini. Lebih dekat ya, lebih detail. Nah, di sini kamera bisa memfokuskan ke objek tersebut. Lalu kita turunkan objeknya dia bakal fokus kembali ke wajah kita. Selain autofokus, kameranya juga bisa kita putar arahnya, ya. Jadi ini kita putar ke arah bawah. ya. Nah, misalkan ini berguna banget untuk konten yang perlu dipamerkan di bawah. Misalkan kita menunjukkan figur seperti ini ya. Jadi kita lebih mudah menunjukkannya, enggak perlu nunjukin ke depan-depan muka. Lalu misalkan kita juga mau bikin konten unboxing. Nah, misalkan kita punya smartphone baru atau itu unbox-nya unboxing direkam menggunakan webcam ini. Kita cukup rekam di atas meja aja ya. Dan kameranya bisa kita sesuaikan angl-nya. Oke, kalau sudah kita juga bisa balikkan lagi arah kameranya ke muka kita. Oh ya, suara yang kalian dengar dari tadi itu juga direkam menggunakan mikrofon dari kamera si Lenovo Yoga Pro ini. Gimana kuas suaranya? Apakah sudah oke? Oke, selain menguji kuas kameranya, kita juga coba untuk menguji no cancelling dari mikrofon yang ada di kamera Lenovo Yoga Pro ini. Sekarang kita sedang menyambungkan monitor ini ke laptop gaming dengan kecepatan kipas 100%. Dan untuk hasilnya di sini suara saya terdengar dengan jelas dan noise dari kipas laptop bisa diredam dengan baik. Oke, untuk pengalaman pakainya resolusi 4K di motor 27 inci ini terbukti bisa menawarkan ke tampilan yang tajam banget. Ini membuat kita bisa nyaman sekali membuka dan menampilkan beberapa aplikasi sekaligus. Mau motivitas dengan banyak aplikasi juga oke banget ya. Ruangnya lega ya. Kemudian panel penta tandem QD OLED ini ya ternyata bisa menghasilkan kontras yang sangat tinggi. Warna hitam yang ditampilkan itu sangat pekat dan dalam. Viewing angle juga mantap. Bila dari sudut miring sekalipun kami tidak merasakan ada perkesan warna maupun kontras yang mengganggu. Ini khas keluarga dari panel OLED tentunya. Nah, untuk editing baik untuk foto atau video ini sudah sangat madai. Resolusi 4K di layar 27 inci itu ngasih area kerja yang luas untuk menampilkan banyak tools editing dan semuanya detailnya tinggi. Ya, tersedia beberapa mode tampilan warna juga membantu memudahkan kita kalau mau editing ee atau menyesuaikan warna ya, mau nyesuaikan dengan yang mana bisa tuh ya. Tinggal pilih aja preset warna yang pas yang mana. Lanjut lagi kita coba untuk main game. 4K 120 Hz di sini sudah sangat mencukupi ya untuk main game ya. Khususnya untuk game triple A juga ya. Gambar yang tampilkan terlihat tajam kalau main di resolusi 4K. Input lag-nya juga enggak terasa di sini. Lalu untuk [berdehem] HDR gaming di sini bisa berjalan dengan baik ya. Ini bikin tampilan game-nya jadi lebih mantap lagi. Adaptive sc dalam hal ini gsing compatible juga jalan mulus banget. Enggak ada terasa teering atau startering yang mengganggu. Buat esports juga terbilang mencukupilah. respon time rendah dari panel OLED jadi nilai tambah positif untuk gamer kompetitif kan. Jadi secara umum pengalaman gaming di monitor ini sudah sangat mantaplah. Oke, sekarang kita bahas konsumsi dayanya. Panel OLED itu konsumsi dayanya tuh sangat bergantung pada apa yang tampil di layar ya karena dinamis banget. Nah, saat kami coba konsumsi daya tuh ada di rentang 20 sampai 50 watt di mode SDR maupun di mode HDR. Jadi walaupun power adapternya itu 400 watt, daya yang dikonsumsi monitornya ini sendiri itu jauh di bawah itu. Sepertinya daya itu disiapkan untuk ngisi daya laptop dengan dukungan USB PD tadi, ya. Untuk harga Lenovo Yoga Pro 27 UD 10 ini dijual di harga Rp21.999.000. Untuk garansinya, wah mantap. Ini ada garansi 3 tahun ADP Advance Exchange. Apa pula ini ya? Jadi kalau semisal monitornya rusak ya biasanya kan diperbaiki. Enggak. Ini Lenovo bakal langsung kirim unit pengganti ke penggunanya. Apa itu diperbaiki? Ya, proses pengirimannya terbilang cepat dengan estimasi 2 sampai 3 hari kerja saja. Oke, kita langsung aja masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kabel HDMI dan display port tidak disertakan dalam paket penjualan. Tapi fitur maksimal dari monitor ini memang hanya bisa diperoleh dengan kabel USB 4 yang disediakan yang USB C2C tadi, ya. Kemudian tidak ada dukungan swiivel atau pivot ya. Jadi, dia enggak bisa jadi vertikal gitu ya. Lalu hanya ada satu port HDMI dan display [mendengus] port juga cuma satu port ya. Port yang satu lagi itu untuk output untuk konfigurasi DAC chain. Dari segi menariknya kualitas tampilan itu terasa kelas atas banget. Reproduksi warnanya itu mantap, akurat. Penta tandem QD OLED membuat layarnya tuh harus jadi lebih awet dibandingkan layar olet biasa. Resolusi 4K di ukuran 27 inci itu membuat gambar yang tuh terasa tajam berkelas banget gitu ya. Layarnya juga tidak memantulkan banyak cahaya padahal permukaannya licin. Di sini dukungan adaptive sink lengkap banget. Response time yang 0,03 ms ini cocok buat gaming kompetitif ya. Lalu pilihan portnya juga melimpah. Di sini kita bisa ngecas device dengan protokol USB PD sampai 140 wat di sini. Ada USB hub-nya pula ya. Speakernya lantang ya. Webcam 4K bawaannya juga berkualitas tinggi dan bahkan bisa autofokus. Bahkan mikrofon bawaannya pun berkelas dan punya noise cancelling. Lagi-lagi fitur langka di sini. Kemudian dia punya garansi ADP Advance Exchange selama 3 tahun. apapun penyebab rusaknya monitor diganti baru bukan diperbaiki. Jadi Lenovo Yoga Pro 27 UD1 ini cocoknya buat siapa? Nah monitor ini bakal cocok buat siapa saja yang butuh monitor 4K kelas atas dengan ukuran 27 inci. Dia tentunya cocok buat kreator atau desainer yang butuh tampilan warna yang akurat juga. Buat diajak kerja jelas mantap ya. Apalagi karena dilengkapi dengan kamera dan mikrofon yang berkelas banget. Buat nonton juga udah mantap. Buat gaming udah oke banget. Ya harganya mungkin bukan untuk semua orang tapi fiturnya yang berkelas membuat harganya terasa pantas. Jadi, Konicari adalah monitor 27 inci kelas atas yang awet dengan tampilan layar keren dan kamera berkelas. Lenovo Yoga Pro 27 UD10 ini sangat layak untuk dipertimbangkan.
