Jungkat

Ngapain Beli Flagship, Kalau 7 Juta udah kayak gini | Motorola edge 60 pro (YouTube Video)

  • 19/07/2025

Motorola masih gaspol setelah kemarin ngeluarin MotoG45 5G yang dobrak pasar. Ada lagi nih 860 Pro yang bikin mata berbinat. Brightness-nya terang 4.600 init. Baterai dapat gold label dari DX Max. Punya sertifikasi IP69 dan fitur AI-nya sekarang juga ditambah lebih banyak sekarang. Bedanya apa ya sama 60 Fusion? Karena kalau kita lihat eksteriornya kayak sama aja. Yuk, kita bahas ya. Dari segi desain, sekilas kalau kita lihat X60 series punya DNA yang sama dengan bingkai kamera kayak dadu. Warna juga sama-sama punya Panton series. Back cover juga sama-sama dari vagon leader yang kerasa dan terlihat mewah. Sama-sama military standar juga, IP rating pun juga sama. Bedanya ada di bobot dan juga dimensi. 860 Pro lebih berat dan lebih tebal walaupun masih ringan lah ya di kelasnya dengan 186 gr. Tapi kenapa dia lebih tebal dan lebih gede? Karena baterainya lebih gede. Ini punya 6.000 mAz selisih 800 mamp dengan yang Fusion series. Dan bukan cuma baterai aja yang beda ya, layar juga beda. Di Motorola X60 Pro ada fitur tambahan khusus. Spesifikasinya sih sama ya. Cek aja nih table spesifikasinya. Sama-sama Violet 6,7 inch 1,5K 120 Hz, brightness juga super terang di 4.500 nit buat perbandingan ya layarnya S25 Ultra itu di 2.600 nit dan iPhone picknya juga 2000 nit jadi dia dua kali lipat lebih terang. Jadi kalau kalian main ke gurun Sahara pun layarnya juga masih bisa terlihat. Nah, ada fitur tambahan nih di seri Pro-nya ada 720 Hz PWM diming yang bikin mata itu enggak gampang lelah karena flickernya bakal kasat mata. Dan ada water touch juga yang memang pas kita coba untuk mengoperasikan layarnya pas basah termasuk fingerprint-nya di seri pro masih kerasa lebih responsif dan juga akurat. Dan pas kita tes kalau untuk color akurasi sih masih mirip-mirip ya. Skor sRGB-nya sama kayak di seri Fusion. P3-nya juga sama cuman tipical brightness-nya itu lebih gede di Pro dengan 567 Nit. Perbedaan lainnya di Moto H60 Pro di samping kirinya ada tombol yang namanya itu Moto AI yang gunanya buat manggil AI dari Motorola sendiri. AI Gem ini sih masih ada ya yang manggilnya bisa tahan tombol power, tapi moto AI ini beda. Dia bisa terintegrasi dengan HP-nya karena ya bikinan moto sendiri. Sebenarnya di Moto X60 yang Fusion itu ada juga, tapi dia enggak ada dedicated button-nya dan enggak selengkap di seri Pro. Moto EI standar kayak catch Me Up, buat summary notif, image studio, dan transkript audio sambil simpan-simpan catatan itu ada. Tapi jujur yang saya salut sama Motorola ini fitur AI-nya itu banyak dan variatif. Karena sebenarnya kalau dia mau pakai Gemini aja udah beres dan tapi Moto kasih juga AI yang lain kayak AI Perplexity yang udah prebuild di HP, ada coupile juga yang udah terintegrasi. Cara pakainya tinggal pencet aja tombol mutu AI batunya. Terus ketikin aja AX Perplexity kalau mau pakai Perplexity. Kalau mau pakai Copilot tinggal AX copilot dan AI ini terintegrasi dengan HP-nya L. Jadi kalau misalkan kalian contohnya kemarin saya lagi coba resep untuk cari bakmi karet. Nah saya ambil gambar di Google terus saya tanya Perplexity langsung tuh keluar. Apakah kamu pengin tahu cara bikin resepmi karet cuman dari tangkapan layar aja? Tapi buat yang belum tahu ya apa itu AI Perplexity ya sebenarnya sama kayak Gemini, sama kayak James Park, sama kayak Chat GPT, sama kayak Cilot juga, tapi bedanya dia lebih real time. Jadi buat cari jurnal, ngerjain tugas atau bahkan ketika saya bikin script ini itu juga dibantu sama Perplexity untuk cari artikelnya ya gesturnya ke shake. Dan Motorola kasih kita 3 bulan akun proh ya untuk Perplexity ini. Kalau yang copilot dia itu bagus buat coding dan kalau kalian pakai produknya Copilot ya Microsoft Office 365 nah itu lebih bagus karena kan satu ekosistem ya jadi lebih variatif gitu kalau kalian suka pakai produknya Microsoft bisa pakai Copilot karena lebih terintegrasi kalau kalian suka pakai produknya Google bisa pakai Gemini. Kalau kalian mau cari real time Perplexity dan ada dedicated moto AI-nya juga terlalu banyak AI-nya untuk kelas midrange moto action khas mereka juga ada yang tadi saya kepencet. Nah, tuh. Jadi, ini sering banget saya buat pamer sih ya. Jadi, kalau misalkan teman saya tiba-tiba ngajak ngobrol gitu ya, saya langsung biar dia silau. Jadi saya suka banget pamer pakai ini karena kayak sulap gitu. AI gambar juga lumayan banyak. Ada foto enhancement engine, dia bisa nyempurnain detail, ngurangin noise, dan gambar jadi lebih optimal. Bikin gambar hasilnya bisa sama persis sama dunia nyata. Jadi kalau kita lagi foto makanan, makanan yang warna merah enggak jadi orange, jadi enggak terlihat basi gitu. Dan untuk kameranya ini juga udah tersertifikasi sama Paint Validated. Jadi warna realnya ya bakalan apa yang ditampilkan sama layarnya. Ibaratnya kalau ada sutradara gitu ya, dia bakalan duduk samping kita sambil bilang, "Nah, itu warna yang saya mau." Dan pembeda yang paling utama dari 60 Fusion jelas performanya. Probih, kencang dengan Diamond City 8350 ekstreme. RAM-nya udah 12 GB LPDDR X5. Sturage juga udah UFS 4.0. Ibaratnya kalau si Fusion itu pelari maraton ya. Nah, si Pro ini adalah usen bolt. Dia udah melesat dulu lebih kencang sejak awal. Buat buka apps berat kayak Mobile Legends, Gensin, CapCut, Varian Pro ini bisa open duluan berkat si UFS 4.0-nya. Buka banyak app juga lebih smooth tanpa lagset, enggak ada masalah. buat pemakaian harian sih selama 1 minggu saya pakai ini aman-aman aja sih. Untuk skor AnTutunya jelas lebih kencang dibandingkan Fusion denganutunya itu 1,3 juta. Kalau pakai cooling R1,3 juta ya naik sekitar Rp20.000 lah. Untuk GeBch 6 single core di R300, multiore-nya di 4.300 dan dengan skor AnTutu R1 jutaan ini gimana kalau digunakan untuk main game? Buat Mobile Legends dia kebukanya 90 FPS dan aman-aman aja. Ini kita coba main sekitar berapa tuh? 1 jam 6 menit. Kalau kalian lihat ada drop itu ketika game-nya rank-nya udah kelar ya, jadi masuk ke lobi. Tapi setelah masuk ke lobi aman-aman aja 90 fps. Dan kalau kita lihat average power-nya cuma butuh 2,9 wat suhu temperaturnya di 38,9 derajat celcius. PUBG dia kebukanya smooth ekstrem. Jadi average FPS-nya di 60-an FPS ya. Sebenarnya ini kalau misalkan udah kenal PUBG-nya sama chipset barunya Motorola ini, saya yakin bakalan bisa sampai 90 FPS sih. Karena ini kalau kita lihat 60 fps-nya itu kayak mau ke atas terus gitu. Aman-aman aja di sini dengan average power-nya di 3,5 watt, suhunya di 38,9 derajat celcius. Nah, kalau untuk main game G ini Impact awal-awal di 5 menit awal dia itu bisa stabil di 60 FPS tapi setelah itu turun ya di kisaran 50 fps terus turun lagi 40 fps. Tapi kalau kita lihat memang dia enggak pernah turun di bawah 30 fps. Nah, powernya di sini lumayan gede sekitar 5 watt. Temperaturnya juga lumayan gede 42,9 derajat celcius. Lanjut ke game yang kata kalian ini wering wave aja, Bang. Karena Gensin udah ringan. Oke, kita coba woodering wave. Dan hasilnya mirip-mirip kayak Genensin Impact Cuman dropnya bisa sampai lebih bawah ya. kadang bisa nyentuh di bawah 30 FPS. Padahal kalau kita lihat power-nya itu cuma butuh 3,87 wat dan temperaturnya juga enggak sepanas Gensin Impact tadi. Lanjut di game Garena Delta Force ini juga aman-aman aja bisa stabil di kisaran 60 FPS kalau ada drop sampai 30 itu ya kadang kita lagi buka backpack atau lagi loading itu dia memang turun FPS-nya. Untuk suhu permukaan kita ambil suhu permukaan di Gensin Impact karena kan tadi average power-nya di bagian dalam dan suhu bagian dalamnya kencang ya. Nah, untuk suhu permukaannya ketika main sekitar setengah jam, suhu bagian depan itu di sekitar 42,3 derajat Celcius, belakang 43,4 derajat Celcius. Ya, ini masih kalau dibilang dingin banget enggak, panas banget enggak juga. Karena biasanya untuk HP setipis ini ya yang punya baterai gede itu di atas 40 ya 45 derajat lah ini, tapi bisa nahan di 42. [Musik] Baterai. Wah, baterainya ini badak 6000 mamp. Bahkan dia dapat peringkat nomor satu di DX Max untuk HP di kelas harganya. Kalau tesnya DX Max ya, dia bisa tahan 3 hari 11 jam dan 5 menit ngecas aja bisa dipakai 8 jam 23 menit. Gila. Ngecasnya juga kencang 0 ke 80% butuh waktu 32 menit. Kalau 100% butuh waktu 53 menit. Cuman fast charging-nya ini downgrade ya kalau dibandingkan versi sebelumnya. Karena di X60 Pro itu fast charging-nya support di 125 watt dan wireless charging-nya support di 50 watt. Sekarang wireless charging-nya cuma ada di 15 watt dan reverse wireless charging-nya di 5 watt dan fast charging-nya di 90 watt. Tapi sebenarnya 90 watt-nya juga ngecas 0 ke 100% juga masih enggak ada sejam kok. Kalau dipakai main game Gensin Impact 30 menit dia berkurang 9%. Boering wave 30 menit berkurang 11%. Mobile Legends 1 jam atau 4 match rank ya itu sekitar 11 menit. Jadi bisa dibilang untuk main game yang full loot awet juga. Nah, masuk ke bagian kamera nih yang enggak kalah oke di kelas harganya. Kamera utamanya 50 megapel dengan sensor litiah 700C plus ada O bikin foto malam lebih stabil. Dynamic range juga lumayan luas. Warnanya sih khas moto ya yang natural. Memang agak kurang fitfit jadinya. Tapi soal warna sih selera ya. Kalau kalian suka warna-warna yang paint and validated yang natural ya bakalan suka. Ultraw-nya 50 megapel dengan PUV 120 derajat lebar. Detailnya juga cukup oke. Foto landscape atau buat foto ramei-ramei cakep. Kameranya ini kalau kita dekatin dia bakalan otomatis berubah ke makro ya. Framing-nya jadi agak kacau sih. Tapi ya foto makronya lumayan cakep juga kok. Buat foto dia juga ada yang namanya action shot yang ya coba aja langsung kalian lihat item. 1 2 set set. Nah, hasilnya uh rambut-rambutnya juga masih cakep ya. Jadi kalau kalian pengen foto sambil bergerak bisa pakai action shot ini. Terus ada telefoto 10 megapel dengan Oise dan optical zoom tiga kali digital zoom sampai 50 kali. Jarang-jarang loh ya di kelas midrange tele-nya itu ada Wise. Hasil tiga kali optical zoom-nya tajam dan O-nya ngebantu foto tetap stabil, bebas blur. Terus kalau kita pakai 30 kali masih ok lah ya detailnya. Kalau kita pakai 50 kali udah lumayan kerasa kayak lukisan abstrak sih. Sayangnya kalau kita pakai mode putretnya tanpa kita atur ya default point shoot aja kadang itu kayak kerasa masih tempelan gitu bokehnya karena terlalu Jadi saran saya sih turunin dikit dan hasilnya bisa kalian lihat sendiri di sampel ini. Jadi enggak kelihatan tempelan gitu. Kamera depan 50 megapel ini pixel binding 4 ininone. Jadi outputnya sekitar 12 megapel. Hasil selfie-nya tajam dan white cocok buat grup selfie. Video X60 Pro ini baik kamera depan, belakang, tele udah bisa 4K. Walaupun 4K-nya ini mentok di 30 FPS, sayangnya belum bisa 60 fps. Oke, jadi in adalah kualitas kamera depan dari Motorola 860 Pro di resolusi 4K 30 fps. Ya, sayangnya memang dia belum bisa 60 fps ya untuk kamera depannya. Kalau mau 60 bisa resolusi full HD. Nah, ini kualitasnya uh masih cakep ya. Biasanya kalau saya ngreview HP mid range antara tembok dan langit itu kayak jadi satu gitu. Dalam mic ris-nya kurang. Tapi ini masih oke cakep. Terus wajah juga masih ada detailnya. Terus kalau kita ngomongin kestabilan ini saya coba jalan. Saya pegang tangan satu aja. Masih cukup stabil walaupun memang masih ada starter ya karena di 30 fps. Terus kalau misalkan motion blur ini saya coba geser-geser kayak gini. Nah, tuh masih ada starter kan. Coba ya saya jalan di lorong ini sambil jalan agak kencang. Nah, seperti ini. Stabil sih, tapi patah-patah. Kalau patah-patah kita bisa mainan di resolusi full HD 60 fps-nya. Oke, sekarang kita di full HD 60 fps. Tuh, jauh lebih smooth ya. Kelihatan kan? Tadi masih patah-patah, sekarang lebih aman. Dynamic range di resolusi juga masih aman sejahtera. Auto exposure juga aman, enggak yang tiba-tiba gelap, tiba-tiba terang gitu transisinya. Terus kalau saya coba untuk motion blur tuh coba lihat bagian belakangnya lebih smooth ketimbang yang tadi. Kalau mau ngonten lebih aman vlogging sih menurut saya di 60 fps aja ya. Jadi kita bisa masih pakai slowo-nya gitu kalau kita mainin di 60 fps. Tuh masih aman juga. Wih. Sekarang kita coba kamera belakangnya. Oke, sekarang kita coba kamera belakangnya. Ini 4K 30 fps ultrawid-nya kira-kira seperti ini dan kalian bisa lihat. Dan dia juga ada fitur adaptive stabilization. AI-nya bisa dinyalain sih. Ini enggak saya nyalain dulu karena 4K-nya enggak support. Spotnya itu di full HD 30 fps tapi ultra wide. Kira-kira seperti ini nih kalau digunain untuk ng-vlog pakai kamera belakang. Apakah stabil? Coba saya gunain untuk jalan. Dan untuk ultrawide-nya kalau saya coba untuk zoom objek tuh. Wih, rotary shot kayak gini. Walaupun 30 fps tapi masih cakep ya. Warna panton validated-nya ini juga cakep. Jadi ijaunya itu enggak yang vivit banget gitu. Terus kalau untuk dynamic range di ultrawide juga masih cakep. Autofokus. Kita coba autofokus dari sini kita pindah ke sini. Set masih oke juga walaupun memang karena 30 fps jadi starter ya. Tuh. Terus kalau kita gunain untuk jalan kita coba zoom dari sini. Wah masih lumayan stabil juga. Kita coba untuk min kameranya satu kalinya. Wah, jauh lebih stabil sih ya. Tuh, detailnya juga lebih cakep. Set. Kalau warnanya mirip-mirip ya. Nah, starternya juga masih kerasa karena di 30 fps. Tapi ini resolusi 4K set. Nah, seperti ini. Terus kalau kita zoom sama kayak tadi saya gunain untuk jalan jendela. Coba kita fokus ke jendela tuh masih lumayan stabil juga. Kita coba di full HD 60 fps yang kalau kita gunain untuk tilting paing lebih aman sih, lebih smooth. Coba ya ini saya jalan mundur sambil kita coba fokusnya dari sini ke sini. Tuh lihat aja temboknya masih smooth ketimbang 30 fps tadi lebih smooth. Ini fokusnya juga aman. Terus kalau saya gunain untuk jalan di 60 fps full HD kira-kira seperti ini nih. Tanya apakah dia bisa pindah lensa? bisa tapi resolusinya harus diturunin ya di full HD 30 fps dan bakalan bisa satu kali dua kali. Nah, telenya tiga kali dan lihat aja nih detailnya masih lumayan cakep. Coba ya bunga yang itu ya ini tiga kali, dua kali, satu kali, dan 0,5 kali. Dan perpindahan transisinya juga bukan yang tap gitu ya. Walaupun ultrawide dan min-nya serta telen-nya itu ada perubahan warna, tapi enggak yang kayak gimana gitu. Kita coba ini pakai adaptif stabilisasinya on, auto fokus aman jaya enggak ada masalah. Terus kalau digunain untuk jalan, wah ini sih lebih stabil ya dengan adaptive AI stabilization on-nya tuh. Terus kita rotary shot dari sini kita zoom out. Aman aja. Coba sekarang kita jalan ke situ. Jalan agak kencang. Kita rotary shot di daun yang ini ya. 1 2 3 set. Widih, cakep. mulus. Buat yang suka Google Pixel atau suka Android Stok bakalan suka sama Motorola X60 Pro ini. Dia punya UX yang ringan tanpa banyak mengubah tampilan, enggak ada bloodware iklan. Bloodware-nya ada sih ya Perplexity sama copilot tadi, tapi ini kan ya bloodware yang kepakai dan walaupun dia Android stock tapi dia ngasih ekosistem yang canggih juga. Namanya Smart Connect yang udah pernah kita demoin di G45 dan juga 60 Fusion. Dia bisa connect sama PC atau laptop yang bisa drag and drop file dengan mudah. Bisa share screen buat second monitor. Desktop mode juga bisa kayak Samsung Dex. Bisa dioperasikan pakai keyboard dan mouse. Kalau udah connect bisa webcam juga. Dan bukan cuma di PC ya, tapi juga bisa connect ke tablet. Enggak harus tabletnya Motorola lagi kebuka gitu ekosistemnya. Tapi kalau misalnya mau connect ke periperol yang lain kayak Buds dan Smartwatch, nah itu harus pakai produknya Motorola. Dan di sini juga ada AI-nya namanya moto AI disonded. Kita bisa nyambungin semua perangkat dengan smart connect. Terus tinggal ngomong aja untuk ngasih perintah. Contoh kalau kita mau pakai Messenger Facebook di PC, tinggal ketik aja atau ngomong aja open Messenger in PC dan boom langsung tuh di PC buka Messenger. SSimless itu. Oh ya, karena si Motorola ini diakuisisi sama Lenovo, jadi ada sistem security yang canggih banget dari Lenovo yang masuk ke Motorola ini. Namanya itu motosure. Plus ada tingal buat keamanannya. Security kelas Lenovo footing pad dimasukkan ke sini. Ada secure folder, network protection, dan shield-nya buat cegah malware. Software update, dia ada 3 tahun software update dan 4 tahun untuk security update. Ya memang bukan yang paling panjang, tapi 3 tahun pun ya udah cukup siap. Fitur lain kayak NFC jelas ada. Audio udah stereo aman. Dual SIM hybrid, bluetooth-nya versi 5.4, terus Wii-nya pakai WiFi 6e. Fingerprint under display-nya ada. Face ID-nya ada. Giro proximity sensor-sensor lengkap. Haptic feedback-nya juga cukup oke. Memang enggak seenak flagship yang kayak motornya itu banyak. Ini kayak linear aja. Tapi kalau di kelas midrange ya cukup ok lah. Buat harganya di R7 jutaan atau 7399 ya tenang bukan 799. Dan dia ada tiga pilihan warna ada Panton Dezling Blue, shadow dan sparkling grip. Produk ini bisa kalian beli di tanggal 24 Juli ketika launching nanti. Kesimpulannya, apakah si Motorola ini worthed untuk dibeli? Menurut saya sih iya, tapi dengan catatan kita bisa dapat smartphone yang serba bisa dengan desain premium. Layarnya fantastis, performanya kencang, baterainya juga badak, fitur komplit entah itu AI atau ekosistem. Ini contoh midrange yang menurut saya benar-benar allrounder. Tapi kalau memang carinya yang performance, carinya itu yang paling kencang di kelas harganya, ya ada beberapa pilihan lain sih. Tapi pilihan lain tersebut cuman performance aja. Kayak kameranya kurang, fitur EI-nya kurang, ekosistemnya juga kurang. Nah, si H0 Pro ini emang performanya bukan yang paling kencang, tapi dia buat yang allrounder semua sektor tanpa Chrompromi. Kekurangan lain micr SD-nya dia ikut-ikutan midrange lain, jadi ikutan absen. Overall kekurangannya kalau buat saya masih bisa ditoleransi karena mutu benar-benar ngembangin di fitur AI dan software ekosistem yang menurut saya untuk kelas midrin terlalu banyak sih. Karena di brand lain biasanya kalau udah secanggih ini dimasukkan ke flagship. Tapi motor lah di G45 5G aja ya canggih L apalagi di proya ini ditambah saya dik and see you on the next video.

Lihat di YouTube