NGGAK BISA MASAK TAPI SUKSES PUNYA RESTORAN? INI RAHASIANYA! (YouTube Video)
Pak Jimi eh di sekarang ini nih bisnis FMD itu banyak sekali diminati orang ya, Pak ya. >> Betul. >> Nah, Pak Jimi ini kan salah satu penggiat bisnis FNB >> ya. Memulai bisnis itu kan banyak cara nih, Pak. Nah, tadi kita tuh Bapak memulai bisnis dengan sedikit agak kepepet tuh, Pak. Nah, bisa sharing enggak, Pak, ceritanya tuh gimana, Pak? >> Oke. Eh, jadi Telaga seafood itu kita mulai tahun '7. bukan tapi kita mulai di FnB dengan bisnis ee nama yang lain itu dimulai 87. Pada saat itu orang tua saya enggak punya pekerjaan, harus >> nganggur pada saat itu. >> He. >> Nah, sehingga timbul ide mau ngapain nih kita gitu kan. Tahun itu sekitar 85 '86 lagi ramai orang makan seafood di dadap ya kan. Kita coba evaluasi kan orang ke dadap kan malam-malam jalan jauh gelap ya kan jalannya juga rusak. >> Heeh. Nah, kita punya ide kenapa kita enggak buka di Tangerang aja supaya orang lebih gampang untuk makan seafood. He. >> Walaupun kita tidak punya eh background di FnB, tapi karena kepepet karena enggak punya kerjaan, kita coba deh bisnis Fnb gitu loh. >> Dan ternyata perjalanan waktu dalam waktu singkat ya, bahwa restoran yang kita pegang itu berjalan dengan baik. Nah, situlah akhirnya kita orang tua saya, saya langsung bantu orang tua saya pada saat itu tahun '7 usia saya sekitar 20 tahun. Saya sambil kuliah, sambil bantuin orang tua sehingga kuliah saya akhirnya berantakan. Background saya teknik sipil ya. Saya dari teknik teknik sipil tapi karena harus bantu orang tua setiap hari di restoran akhirnya saya baru lulus kuliah tuh 12 tahun Bu. >> Di mana >> nambah nambah 5 tahun ya? kan 6 tahun ya >> tambah 6 tahun Pak Litu pasti boleh dua kali nirem ya dua kali berpanjangan harusnya kan 6 tahun atau 7 tahun selesai tapi pada saat itu saya karena harus bantu di bisnis ee orang tua bantu dia. Jadi saya sempat dua kali cuti resmi 2 tahun 1 tahun sempat cuti tidak resmi. Saya bayar uang kuliah tapi saya enggak kuliah. E terus pada saat mau skripsi saya sempat 3 tahun saya tinggal karena skripsi saya agak cukup dihambat ee terhambatlah karena proses dengan dosennya pada saat itu saya harus asistensi ke UI pagi-pagi saya enggak punya kendaraan, enggak punya motor, enggak punya harus ngeteng dari Tangerang harus ke Depok setiap pagi. Jadi akhirnya karena proses skripsi cukup lama, cukup terhambat, akhirnya saya saya bilang sama dosen pembimbing saya, "Saya stop karena waktu saya harus kerja dan hidup saya juga enggak tergantung dengan gelar saya sebenarnya. Karena suksesnya orang itu enggak tergantung dengan gelar juga ya kan. >> Jadi bagaimana kita coba menganalisa, punya kemampuan analisa yang baik dan kita bisa lihat peluang dalam bisnis apa aja bisa berhasil kok." Saya bilang, >> heeh. >> Seperti itu. [Musik] >> Welcome to RCC podcast, Resto Cafe and Coffee. Ngobrol bareng orang-orang populer di jalur kuliner. Hari ini kita kedatangan Pak Jimmy Susanto, owner dari Flaga seafood. Bu pimping apa? Kepepet ya. Heeh. >> Nah, akhirnya Bapak ee kuliahnya berantakan karena mesti bantu >> keluarga sampai akhirnya Bapak buka sendiri. Ya, >> Ee apa namanya, Pak, yang waktu Bapak buka di awal? >> Yang di awal dulu ada dulu di Tangerang itu sebenarnya ee pada saat orang tua saya agak kepepet dan tidak punya pekerjaan, ada om saya punya tanah di dalam kota kurang lebih 400 m. Kita ajak ee untuk beliau, Om, saya itu yuk kita buka restoran. Jadi dia modalin semua. bangunnya dan kita yang dioperasional >> ya kan. >> Nah, dengan perjalanan waktu bahwa restoran itu cukup ee bagus di Kota Tangerang menjadi salah satu restoran yang cukup terkenal dan cukup besar. Boleh saya spill namanya? >> Enggak apa-apaak. >> Jadi ya seper ini saya juga mau bicara bahwa dulu restoran itu adalah pondok selera. Heeh. punya om saya. Dan ya terima kasih bahwa kita sudah bisa belajar banyak di situ. Dari 87 kita buka dan sampai 2003 akhirnya kita berjalan masing-masing karena om saya juga punya anaknya sudah dewasa-dewasa, orang tua saya punya anaknya sudah dewasa-dewasa. >> Kita coba bikin kapal baruah ya kan. Kalau di satu kapal terlalu banyak orang di dalamnya kan nanti enggak maksimal juga kan. Akhirnya kita berpisah >> baik-baik e pondok selera tetap jalan kita kita set upaga seafood. di Tangerang juga sama. Lokasi yang pertama kita adalah di modern Land Tangerang. Nah, kita pakai nama telaga seafood yang baru ini adalah karena posisi kita persis di pinggir danau. >> Iya. Ada telaga gede kan ya, Pak? Ya, >> besar. Ada situ besar namanya Situ Gede dan kita dikasih tempat di situ oleh ee Modernland dalam hal ini adalah langsung ownernya modern dengan Pak Luntungan. Pada saat itu kita dikasih tempat itu kita dibangunin. Karena pada saat kita mulai itu kita enggak punya modal kan. dulu kita orang kerja, kita enggak punya modal, akhirnya itu bangunan disiapkan semua oleh pihak modern dan kita tinggal ngisi dan kita running kita dengan konsep adalah eh revenue sharing dengan eh model pada saat itu dan berjalan sampai hari ini, Pak. >> Iya. >> Sudah hampir 22 tahun, Pak. November ini 22 tahun kita kerja sama dengan model. yang pertama dan yang ee >> bermula dari ee karena saya yakin ya, Pak Luungan konteks Bapak karena Bapak sukses mengelola >> ee yang pertama itu katanya salah satu yang sangat terkenal ya di Tangerang ya. >> Oh iya. Jadi pada saat itu ee karena beliau juga langganan sering makan di situ, sering makan di situ. Jadi dia komunikasi dia nawarin ke orang tua saya untuk >> mau buka karena pada saat itu modern kan masih kawasan elit baru. >> Belum ramai elit baru. Betul. Nah, masih baru sekali kan masih perusahaan perusahaan mewah pertama lah di Kota Tangerang Modland itu pertama >> dan dibutuhkan juga sebagai fasilitas ada restoran yang cukup baik di dalam itu yang kitalah diajak untuk e coba operate e restoran di daerah Modern Land >> 22 tahun ya >> sampai hari ini sudah hampir 22 tahun kita kerja sama dengan baik >> sebentar lagi silver ya >> oh ya 3 tahun lagi Pak >> 3 tahun lagi ya masih berjal Pak >> i kan jadi ee Bu Pimping mau tanya nih Nih katanya makanannya tuh crispy banget. Apa yang crispy ya? >> Iya. Yang bikin nagih tuh kalau makan di tempat Bapak tuh ya kalau buat anak-anak ya. >> Itu tuh gurame goreng terbangnya Pak. >> Nah i itu populer itu resepnya apa tuh? Iya. Jadi apa >> ee kalau tiap kali pesanan menu itu pasti kayaknya pelanggan mana pun enggak pernah ketinggalan kayaknya Pak ya. >> Iam salah satu ee menu yang paling ee jumlahnya paling tinggi ee dalam per bulan ya kan. Kalau dari sekarang enam cabang ini guram itu mungkin sebulan ya 1,5 ton. >> Berarti punya peternakan sendiri dong. >> Oh enggak kita ambilambil. >> Jadi awal-awal dulu kita gurame itu banyak dari pemain lokal tapi saat ini gurame kita pakai itu ada dari Jawa ya dari Jawa sehingga Jawa >> ee sudah enggak ada bawa tanah ya. >> Kalau gurame itu problemnya satu suka bawa tanah. Betul. >> Iya betul. Jadi kalau dia gurame yang sudah baru diangkat dari kolam langsung dipakai itu pasti rata-rata bawa utama. Dan saya sekarang ee sangat concern dengan kualitas itu. Kalau seandainya makan di telaga ada guram bawa tanah komplain aja. >> Komplain >> ya >> diganti yang baru Pak. >> Kalau barangnya masih yang itu juga Pak ganti baru tetap akan bawa tanah tapi biasanya kita akan hilangkan di bon kalau memang itu bawa tanah. H >> konsepnya seperti itu. Makanya jadi favorit ya >> saya. Saya sebenarnya >> itu ee yang saya pernah makan itu di awal itu di Cibubur kalau enggak salah. >> Oke. >> Itu cabang kedua, Pak. >> Cabang kedua ya. >> Cabang kedua itu buka kita buka 2006. >> Iya. Terus saya lihat waduh guramenya garing banget. Enak. Enggak bau. Saya kan enggak suka amis ya, Pak. >> Jadi itu enggak bawa amis apalagi bawa tanah ya kan. Kalau >> bawa tanah lebih lebih >> enggak bisa dimakan. Sudah enggak bisa dimakan. Udah ya kan? >> Nah itu sampai sekarang itu saya pernah makan juga yang di di mana? Di di yang terbaru tuh di mana? Di >> Sawangan. >> Sawangan ya? Ya. Pokoknya kalau ke sana nyari gurame aja ya. >> Gurame. Iya. >> Tapi sekarang ada menu baru, Pak yang cukup favorit selain gurame. >> Ee habis gurame itu yang cukup laku sekali itu adalah gurame pecak. >> Oh. >> Gurame pecak. Jadi kurang lebih tahun waktu kita baru buka yang Cibubur kan buka 2006 kurang lebih 2008 pernah ya ahli kuliner kita reviewer Pak Bondan. >> Oh Bondan >> pernah makan di kita di Cibubur. >> Konsepnya pada sayaah datang aja makan pas dia habis syuting di mana dia makan di situ. Tiba-tiba dia mau syuting di kita juga. Nah kita keluarkanlah gurame yang sepatu yang beda tempat lain gurame pecak. >> Nah waktu bikin itu dia waktu kita sajikan gurame pecak dia puas sekali. Setelah 1 minggu pas masuk UN ee setelah dia tayang akhirnya Sabtu Minggu itu cukup full semua pesannya gurami pecak Pak >> sehingga di di dapur tuh udah enggak ngomong gurami pecak satu porsi dua porsi enggak bondan satu bondan dua kayak gitu Pak >> ya kan jadi karena menu yang Pak Bondan makan pada saat itu ya gurami pecak itu yang sangat terkenal >> tapi belakang agak perubahan-perubahan menu terus penambahan-penambahan menu baru yang sekarang ini cukup rami adalah ikan kerapu di gulai, Pak. >> Ikan kerapu kerapu diulai gulai. Kerapu ya. Biasanya kita kalau kerapu tuh di tim ya, Pak ya. >> Tim ya. >> Sekarang kerapu gulai. >> Oh, itu favorit >> karena tidak semua orang yang suka di steam. Karena kalau emang enggak bagus sekali kan suka ee bumbunya agak bawa amis juga segala macam ya. Tapi kerapu gula itu cukup lagi naik daun, Pak. >> Lagi naik daun. >> Berarti ini menu baru ya, Pak ya? >> Ya, 2 tahun 3 tahunan inilah. >> Jadi saya tes marketnya itu kenapa jadi naik? Kadang kalau tamu-tamu langganan dia pesan yang biasanya tamu yang sudah langganan itu enggak lihat menu lagi, Pak. Saya pesan ini, ini, ini, ini. >> Sudah langsung nyebut aja, >> nyebut aja karena favorit mereka. Nah, tapi kadang saya coba, saya bilang, "Bentar ya, saya keluarkan menurut baru, saya kasih free, saya keluar kelapa gulai. Cobain komennya apa." >> Pada saat sudah dimakan, selesai makan, selesai makan saya tanya gimana poinnya? Oke, juga. H. >> Nah, setelah itu ya selalu ee kelapa gula itu lagi cukup banyak peminatnya. >> Bagus dong ya. Lalu ada gurame ee garing terbang pecah >> gurame pecah >> kerapu >> sekarang kerapu >> gul >> kerapu gula ya ya berarti nanti ada yang baru lagi Pak ya >> ya kita >> terus mesti upgrade terutama mesti makanan yang disukain anak-anak muda Pak >> nah satu di kita itu telaga itu terkenalnya jadi image-nya seperti family race tuh >> he >> nah ini saya coba lagi coba mau mengangkat bagaimana Gen Z itu bisa masuk ke telaga seafood karena dianggap itu old resto. Jadi segmennya adalah middle e yang bisa masuk yang masuk ke >> jadi genet yang bawah tuh anak-anak kuliahan segala macam itu hampir sedikit sekali yang masuk di kita >> i >> karena dengan atraktif sekarang banyak sekali restor-reson baru yang masuk yang baru buka yang cukup viral dan kondisi yang memang lebih mengena ke anak Genzet. Nah itu mereka ke sana larinya. >> Iya. Iya. Tapi kalau ngomong secara tes ya mereka seperti akuin kalau lagi makan sama family-nya ya oke sebenarnya makanannya oke. >> Cuman kalau kita anak-anak muda aja masuk ke telaga tuh kayaknya tua banget gitu ya kan gitu loh. >> Nah itu mungkin persepsi itu yang mungkin kita harus benahin lagi lebih baik ke depan. >> Iya beberapa tempat yang banyak anak mudanya ya. >> Betul >> yang Bapak upgrade untuk ke anak muda. Karang anak muda kan biasanya senangnya upload Pak. >> Jadi Instagram mungkin yang di JAB BK kali ya. Mungkin Jab ada bikin yang suatu konsep yang mungkin agak beda dengan dengan yang cabang yang enam sudah ada sana. Mungkin saya coba bikin setting yang lebih baik. >> Ini cabang yang ketujuh ya. >> Cabang ketujuh supaya memang ee Genzet banyak bisa masuk >> ya. Harus ada banyak apa ya, Pak? Kalau Genzet tuh ya Wii Bapak harus siapin ruangannya yang akomodir mereka untuk apa Instagramnya. Terus mereka bisa apa ada apa konsep-konsep yang mereka bisa makannya yang porsinya yang enggak family banget, Pak. Mungkin. Nah, itu salah satu ee problem di kita adalah kita lebih banyak menu kita itu kalau makan sendiri atau berdua tuh agak sulit tempat makan tengah seperti itu. Ada sih ya kalau yang personal gitu ya di beberapa cabang kalau yang di Cikupa yang di Lavon itu ada yang personal kayak nasi rawon akhirnya nasi timbel gitu kan. Walaupun kita enggak terlalu suka sebenarnya main seperti itu. Tapi mau enggak mau >> ada orang dari company pabrik makan bareng dia kan ee bayar masing-masing ya. Dia pesan satu satu. Pak Jimi ini kan di dalam perjalanan Bapak ini kan tentunya eh harus ada passion ya. Tapi Bapak bilang kan awalnya kan kepepet ya, Pak. Tapi sekarang kalau sudah 22 tahun itu udah passion dong. Kalau enggak kan enggak bisa besar ya. >> Karena tentu ada handicap-handicap. Saya dengar Bapak ini memimpin sendiri, mentraining sendiri atau gimana ya? Saya dengar seperti itu ya. Saya bukan enggak percaya dengan manajer karena memang kadang ee cabang kedua saya si bubur saya ada pakai manajer. Yang pertama enggak. Yang kedua saya pikir cobalah pakai manajer supaya saya enggak terlalu sibuk. Tapi ternyata enggak begitu maksimal. Karena saya pernah bilang tempari bahwa jadi seorang manajer itu harus pakai dua sepatu yang berbeda. Kaki kiri pakai sepatunya. >> Kaki kanannya dia harus pakai sepatunya >> customer. >> Bukan ke salat bawahan. bawahannya >> ya staf yang lainnya. Jadi seorang manajer itu harus bisa main atas bawah dengan baik. Tapi baik manajer itu hanya cari muka ke atas tapi nekan ke bawah. >> Nekan ke bawah. >> Ya, efektivitasnya saya agak kurang sehingga karena saya punya background sempat di education, saya sempat eh di leadership company, akhirnya saya coba untuk training karyawan saya sendiri. >> Dan akhirnya ya kenikmatan itu ada juga, Pak. >> Ya kan saya menerapkan ilmu saya dan saya bisa komunikasi langsung dengan staf. Jadi saya train mereka langsung eh develop karyawan saya itu >> ya. Dan saya dengar karyawan itu dari nol ya dari enggak bisa apa-apa atau gimana ceritanya itu saya lihat seru banget tuh ceritanya. >> Basically karyawan kita tuh banyak yang hanya lulusan SMP maksimal SMA. Maksimal SMA. Jadi kalau saya ikut karyawan itu saya enggak lihat ijazah mereka. Saya enggak cuman enggak tanya cuman kamu SMP atau SMA dan lain-lain. Saya cuma lihat karakter. Saya enggak lihat ijazah mereka nilai mereka saya enggak lihat. Tapi saya kadang performance langsung, saya ajak ngomong langsung gitu ya. Oke, kamu cocoknya di dapur nih. >> Kamu ini kamu cocoknya di depan nih di di bagian frontliner atau yang di back liner. Jadi saya tentukan itu. Nah, let them try them untuk belajar. Buat saya yang penting adalah satu karakter dan dia mau usaha, mau belajar dan mau ee punya karakter yang bagus ya kan rajin, jujur. Kalau skill hard skill-nya itu mereka bisa belajar by proses, Pak. Kalau mereka orangnya stafnya masuk pintar tapi karakternya enggak bagus itu jadi virus juga di dalam. >> Iya betul. >> Dia merasa angku dan dia enggak bisa kerja sama dengan tim yang rline. Tapi kalau dia mulai dari bawah kita train mereka dengan baik, mereka akan punya lojalitas yang baik. >> Ya kan? >> Saya suka bilang ke karyawan saya, ke staf-staf saya gitu bahwa gaji kalian terima itu enggak seberapa dibanding ilmu yang kalian dapat. Karena ilmu itu membuat kalian jadi punya skill. ke depan kalian bisa mandiri, kalian keluar dari saya pun >> kalian bisa mulai bisnis yang lain gitu. Kamu sudah main di dapur, sudah bisa masak >> ya, Wand, kamu mau keluar dari saya silakan dia buka warung kecil bikin nasi goreng misalnya kan ada masakan-masakan yang dia bisa dia mampu. Saya melatih skill buat mereka, Pak. >> Kayak attitude attitude-nya bagus. >> Attitude-nya paling bagus ya kan. Walaupun memang tidak semua karyawan tuh akhirnya pada saat dia mandiri, dia coba keluar, dia mandiri, dia coba jual kayak ee restoran kecillah, kedai gitu, bikin nasi goreng, mie goreng, dan lain-lain. >> Karena buat bisnis FnB itu enggak hanya masalah skill kita bisa masak. >> Tapi manajemennya yang penting, Pak. >> Kita enggak punya basic untuk ee masak. Saya sudah masak enggak bisa, Pak. >> I kan. Tapi saya bisa manage-nya aja bagaimana memperdayakan para staf karyawan saya ini bisa lebih maksimal gitu kan. >> Saya rubah mindsetnya mereka, Pak. >> Karena sukses itu enggak tergantung orang lain. Sukses itu tergantung diri kita sendiri. >> Enggak ada orang tua dia memaksa dia harus sukses pun enggak bisa. Orang tua memaksa dia untuk jadi baik pun tidak bisa. Kecuali kalau dia sendiri mau berubah untuk jadi lebih baik. >> Itu yang saya coba latih mereka. Paradigmanya itu yang saya rubah. kerja itu bukan hanya untuk ee apa? perusahaan untuk perusahaan. Tapi itu kerja itu juga untuk meningkatkan skill di individu kita sendiri dan ilmu itu enggak akan tinggal di saya >> pada saat dia keluar dari telaga seafood ilmu itu dia akan bawa kan >> enggak mungkin ninggal. >> Nah, skill itu yang kita coba latih Pak ke anak-anak Bu Pimpin mau tanya enggak tuh? Itu agak aneh tuh ya maksudnya >> I saya cukup unik nih. >> Iya pemilik restoran tapi tidak bisa sama sekali. Ya, >> iya kalau ditinggalin sama casnya nangis ya. Tapi nyatanya 22 tahun ya tahan. Makanya saya jauh bingung tadi saya lagi mau ini. Saya ada pertanyaan owner bisnis FNB enggak bisa masak tapi skill-nya bisanya manajing restoran Pak. >> Terus gimana tuh Pak bisa jagain tuh ya >> apa >> 22 tahun telaga seafood until now still success ya Pak ya. Terus masih bisa buka cabang. >> Gimana tuh Pak tesnya? rasanya, pelayanannya, apanya semua masih tetap bisa going smooth itu gimana tuh, Pak? >> Ee konsistensi, Bu. >> Konsistensi. >> Harus konsistensi. Persistance and persence-nya harus jalan. Kalau ngomong masalah SDM, bayangkan tukang masak kita itu dari pertama kali saya buka cabang sampai hari ini mereka masih ada di kita. >> Wow. >> Jadi, ada karyawan saya yang sudah ada yang di atas 22 tahun. Jadi, dari restoran dulu kita kerja >> ya kan pada saat kita pisah dia mau ikut kita. Jadi kalau total sama dia tempat yang lama mungkin sudah 25 tahun dia sama saya. >> Oh >> yang di Cibubur sudah mungkin di Cibubur sudah 19 tahunan. Jadi banyak tukang masak saya itu akhirnya kita develop. Kalau restoran dia takut. Saya enggak pegang bumbu Pak >> di mereka semua. >> Jadi kalau orang takut dengan chef selama ini orang buka restoran pusing dengan tukang masak. Kalau saya enggak pusing, Pak. >> Kalau main saf-nya save utamanya keluar yang kedua, ketiga tuh sudah bisa semua. Oh, oke. >> Jadi memang kalau kita buka cabang banyak itu gampang switch-nya si tukang masak itu akan bisa saling geser. >> Karena skill ke bawahnya saya ngebentuk ngelatih mereka itu dari enggak bisa masak. Misalnya dari tadinya anak bagian bakaran ikan saya bisa pindah. Kalau dia baik dia naik jadi ketukang potong. Sambil pelan-pelan mulai-mulai ikutikut bantu masak-masak yang simpel kegorengan segala macam. Nah, itu ada karir. Jadi, saya buka cabang itu juga bukan setam-ta memang saya mau bisnis jadi besar sekali. Enggak. Tapi karena saya dituntut dari bawah, Bu. >> Di bawah ini kalau saya enggak buka cabang, staf saya di kitchen tuh enggak ada yang bergerak naik, stuck semua. Jadi, pada saat saya buka cabang >> itu terjadi pergeseran >> yang dari nomor tiga bisa jadi nomor dua, yang nomor dua dia pilih cabang baru bisa jadi nomor satu dan seperti itu. Sehingga saya mendevelopde develop ee buka cabang baru itu supaya di bawah pun bergerak. yang sudah misalnya leader-leader di F di waiters atau di bank tender kalau enggak stuck mereka semua begini-begini aja pada saat saya buka cabang baru mereka naik posisi kan jadi leader di tempat yang baru >> semangat lagi dia ya >> semangat pada saat dia naik posisi kan ya pasti kan ee gajinya naik juga kan income naik juga gitu kan iya >> tapi tetap masih saya masih mikir nih Pak enggak bisa masak bumbu enggak tahu Pak Chef masih bisa diganti-gant sama terus Itu yang dari cerita itu enggak enggak mudah itu ya. Iya, makanya >> ya kalau ditinggalin saya langsung collapsnya seperti itu. Apa aman kan? >> Ya, kita coba karena gini saya coba bangun dengan karyawan tuh mereka hanya tidak bukan sebagai pekerja di saya. Kita punya misi di >> telaga itu kita punya visi, kita punya misi, kita punya value di company kita yang harus saya terapkan semua karyawan. Saya enggak pernah bilang bahwa saya enggak bilang kalau meeting di karyawan, Chef itu bukan yang utama di restoran buat saya. Saf kalau dia masaknya bagus, tes-nya bagus, tapi service-nya diators enggak bagus atau di cleaningnya enggak bagus, sama restoran itu enggak akan naik. Saya bilang >> Atau bahkan dari parkiran pun kita harus sudah pikirkan orang nyaman atau tidak ya kan. >> Jadi ee siap itu bukan orang pertama yang paling penting di saya tekankan seperti itu. Tukang cuci piring pun penting. Saya bilang sama pentingnya semua buat semua karyawan. Cuci piring enggak bersih, piringnya bawa amis, makannya enak sama aja. >> Sama juga. Betul. Jadi di restoran tuh A to Z-nya itu harus benar-benar semua timnya harus berjalan dengan baik, >> harusnya, >> harus sulit inw-nya. Dan saya coba bangun komunikasi dengan karyawan. Saya kalau datang ke cabang itu ke outlet saya pasti datang masuk dari masuk pun saya selalu nyapa karyawan bagian depan ya kan saya bercandain atau saya langsung masuk ke dapur. Saya cek hari ini bahan baku yang enggak ada yang kosong apa ya kan. Oke ini nih kosong. Oke. Terus karyawan tinggal masuk siapa? Sini sini sini. Karena saya langsung bisa berpikir kalau kondisinya harinya ramai bagian mana yang akan kurang orang? >> Hm. >> Ya kan? Saya bisa switch tarik siapa bisa bantu ke mana-mana. Saya tuh punya istilah namanya Joker, Pak. Di restoran saya. >> Iya. Apa tuh, Pak? >> Joker itu ada di kitchen ada di depan. Joker itu dia mau masuk bantu di bakaran bisa, dia mau masuk gorengan bisa, mau potong bisa. Jadi jadi joker dia, Pak. dia bisa ke semua bagian >> dan orang-orang itu ya memang jadi leader di saya seperti itu. >> Dan dia kerja enggak hanya terpaku dengan bidang yang dia pegang aja. >> Jadi saya ada joker-jokernya di depan juga ada yang waiter saya yang jadi waiters tapi di other side dia bisa jadi orang maintenance gitu kan. >> Iya. Iya. >> Saya ada problem dengan listrik saya ya. Dia yang turun saya bilang. >> Ada problem gitu. Jadi saya ngelatih mereka tuh multikill. Enggak hanya dia ahli di werwer aja. >> Iya. Tapi mereka harus tahu di multill ee dengan pekerjaan-pekerjaan lain. Nah, itu yang membuat mereka jadi cepat bisa naik. >> Berarti yang di berbeda di telaga ini nih, Pak, sistem manajemennya Pak Jimmy ini ngedidik anak-anaknya dan tanamin anak-anak pekerjanya ini bagus banget ya, Pak ya. Jadi, >> royalitasnya itu loh, Pak. >> Iya. I >> 22 tahun loh, Pak. Kebayang enggak, Pak, bisa ikut sampai saat ini? >> Iya. Saya coba cek kemarin ee pas ada pada saat mau lebaran. Saya pengin tahu sih dari hampir 200 karyawan saya tuh yang kerja di atas 20 tahun tuh berapa banyak antara 15 sampai 20 berapa banyak yang antara 10 sampai 15 tahun berapa banyak >> tahun semua. >> Jadi saya segmen-segmen ini saya ada semua Pak. >> H >> jadi saya yang tahu ya memang ee bagian front of bagian wers itu antara 0 sampai 3 tahun yang paling besar. He. >> Pada saya saya buka cabang kan pasti yang anak lama split semua. Dibagi semua nih. >> Dibagi semua. Anak baru ikut lagi belajar lagi gitu kan. >> Jadi yang di atas 10 tahun itu ya mungkin sudah 20 30% Pak. >> Yang sudah terjadi 15 tahun, ada yang 18 tahun. Jadi yang di atas 10 tahun tuh sudah ada sekitar >> 20%-an sampai 30% >> yang period paling banyak juga antara 5 sampai 10. Telaga itu shell holder-nya bukan hanya kita sebagai owner, Pak. H. >> Shell holder telaga itu adalah satu kita sebagai owner, kedua adalah karyawan, pekerja, mereka shelf holder. >> Jadi, >> ketiga adalah supplier, >> keempat adalah customer. Itu sholdernya telaga, Pak. >> Karena semua shelf holder itu harus terpuaskan. >> Ya, kita terpuaskan secara materi kita invest ya kan harus return. >> Heeh. Karyawan pun dia kerja dapat reward yang bagus, kerja yang bagus ya kan. Semakin besar kita, mereka pasti akan lebih nyaman dengan sistem bonus yang ada, attention kita terhadap mereka, komunikasi yang baik. Supplier pun harus bisa terpuaskan dengan kita karena kita selalu apa ya pembayaran kita itu hampir 100% cash, Pak. Ya, ada berapa supplier tidak mau cash. Malah saya sih cenderung bawa semua cash. Jadi barang kalau masuk ikan timbang bayar, timbang bayar. Saya cash Pak bayaran ke semua supplier. Jadi mereka pun enggak perlu modal besar untuk bisa suplly kita. >> Dan saya dengar Bapak rela apa tokonya apa bukan tokonya restorannya tutup 2 hari ya hanya untuk outbond ya. Itu ruginya berapa banyak gitu. Tapi Bapak rela itu manajemen maksudnya cara berpikir yang seperti apa yang Bapak pikirkan? >> Kita enggak bisa memanipulatif ee karyawan untuk bekerja secara maksimal tanpa kita perhatian ke mereka. Jadi setiap tahun kita punya culture itu adalah >> karyawan itu kita kasih waktu kita outing dengan mereka setiap tahun ya kan. Dan itu ee apa masuknya rekreasi, Pak. >> Ya kan saya 2023 kemarin saya adakan 2 hari malam, Pak training mereka di >> tutup restorannya >> tutup 2 hari Pak. >> Semua cabang? >> Semua cabang. >> Semua cabang tutup 2 hari. I >> ee kita ada yang di Punjak kali pertama saya kita training mereka untuk disiplin dan eh attitude. Saya pakai teman-teman dari TNI untuk mereka kasih ee materi tentang disiplin dan lain-lain. Nah, malamnya ada kontemplasi kita ya ada api unggun kita kontemplasilah tentang diri kita dan tentang bisnis kita yang ada ini. Karena mereka sebagai pemilik di bisnis kita, Pak. >> Iya, betul. >> Tanpa mereka kita enggak bisa apa-apa. Besokannya acara bebas lah yang ada kompetisi apa istilahnya ee antar cabang, ada kompetisi-kompetisi kayak gitu. Just make them happy. Dan mereka boleh bawa keluarga kalau untuk yang sudah menikah. >> di total kemarin sampai 270 orang kali kitaing. >> yang spendnya enggak kecil. >> dan restoran tutup 2 hari. >> Iya. 2 hari atau berapa tuh ruginya? Dan attention kita juga terhadap dengan karyawan enggak hanya itu. Untuk karyawan yang sudah di atas 10 tahun kerja kalau mereka sudah punya anak >> saya kasih bantu beasiswa sedikit buat mereka buat karyawan yang sudah 10 tahun dan punya anak. >> jadi kita ada bantu beasiswa dan kalau yang sudah kata untuk pekerjaan di at 10 tahun setiap tahun saya kirim mereka berangkat umrah setiap tahun dua orang Pak. >> Wah senang karyawan >> terbaik karyawan terbaik. Hanya terbaik, Pak. Pokoknya ada 10 tahun dan saya enggak mau nunggu >> Oh, kerja 10 tahun >> dari masa kerja tiada 10 tahun. >> 10 tahun >> kan loyalitas mereka sudah cukup baik, Pak. Jadi saya harus apresiasi mereka dengan loyalitas yang ada kan. >> Jadi >> ya digilirlah dan saya enggak nentukan, saya enggak poin mereka. Kalau saya yang tunjuk kan takutnya subjektif. >> Jadi antara mereka yang sudah layak untuk berangkat, mereka diskusilah siapa yang lebih layak berangkat um. >> Oh dari mereka yang nentuin. >> Karena kan untuk umrah gitu kan kesersiapan mental juga penting. >> Iya. Iya. dia belum siap kan enggak mau juga dia. >> Nah, itu yang kita lakukan, Pak. Itu bagian-bagian bagaimana saya membuat karyawan saya itu jadi lebih loyal. >> Lebih loyal. I >> ada reward-reward-nya lah ya, Pak. Ya, >> reward-nya ada. Malah punishmentnya sedikit di saya gitu. Karena memang saya anggap kadang karyawan itu ya so far selama ini kan sudah semi autopilot, enggak ada bisnis yang autopilot full, Pak. Jadi tetap kita harus monitor. Tapi saya kadang ke cabang tuh hanya seminggu sekali. >> Karena saya harus keliling kan waktu saya enggak cukup. He. >> Iya. Iya. Ya, 6 hari kalau satu cabang satu kan sudah 6 hari full. Belum nanti yang kafe belum nanti kebutuhan saya sendiri mau ngapa-ngapain kan. >> Enggak agak kejar. >> Nah, di akhir cerita ini ee Bu Pimping mau sampaikan minta statement ya. >> Iya, Pak. Statementnya nih, Pak buat pemirsa Inarko Syergi dengan pengalaman hidup Bapak, pengalaman Bapak punya telaga seafood, Pak. Coba disampaikan mungkin jadi motivasi ya, Pak ya. >> Iya. He, >> buat nanti bukan hanya penggiat FnB, tapi juga mungkin untuk generasi-generasi yang masih muda nih, yang mau memulai bisnis baru. >> Yang pasti dalam segala hal buat saya kesuksesan itu kan sangat tergantung dengan diri kita sendiri, Pak. >> Kita enggak mungkin bisa sukses kalau kita sendiri enggak punya visi, enggak tahu kita mau ngapain. >> Yang satu kita harus punya tujuan dulu. >> And in mind kita tuh mau ke mana gitu kan ya. Apa yang kita bisa lakukan? Apapun yang kita lakukan harus ngikutin proses kita. Kalau 1 jam baru mulai ini 6 bulan, sebulan eh kayaknya enggak jalan nih. Apidah coba bisnis ini enggak jalan dan dia kan selalu enggak jalan terus. >> Iya >> kita harus sebenarnya konsisten persistance. He. >> Paradigma kita harus kita rubah. Kemampuan kita menganalisa sesuatu hal itu harus kita bisa melihat dan proses itu harus dijalan dengan ketat. Kalau kita bilang kayak dulu teman banyak main di multievel. Woh ajak main ini nih. Ya kan >> gua sukses sih di sini. >> Kita enggak bisa menduplikasi suksesnya orang Pak. Iya. >> Saya bisa menduplikasi, Pak. >> Karena kita enggak menduplikasi prosesnya dia. >> Kita hanya lihat suksesnya aja. >> Tapi prosesnya itu kan enggak lihat. Kalau tadi saya bilang, "Saya bisa tengah malam ada masih di pasar, di Muara Angke, Muara Baru ya kan pagi-pagi jam .00 saya bisa ke pasar nyari kepiting, milihin kepiting sendiri gitu >> Saya tuh kadang hampir ngelihat ikan, ini kan 6 ons nih. Oh, ini kan 7 ons nih. Tanpa timbang sudah bisa hafal." Nah, kerja dengan hati dengan dengan serius dan fokus >> harus seperti itu. >> Oke, terima kasih Pak Jimmy sudah hadir di RCC podcast. Semoga cabang ketujuhnya akan sukses seperti cabang-cabang sebelumnya. >> Terima kasih Pak Jimi. >> Makasih, Pak Jimi. >> Pak Jimi. Terima kasih sudah datang hari ini, Pak di RCC Podcast. Ini ada kenang-kenangan dari potres untuk Pak Jimi.
