OLED, Tipis, Enteng, Kenceng, Terjangkau! - Advan Workplus Air (YouTube Video)
Kalau ditanya laptop Ultrabook yang ideal untuk di bawah R juta, orang Indonesia biasanya banyak maunya. Pengen olet, spek bisa main game tipis-tipis tapi tetap enteng. RAM mesti 16 gig, USBC juga mesti banyak. Ya, sebenarnya sekarang ada nih laptop yang centang semua yang kita bilang tadi dengan harga cuma Rp8 jutaan. [Musik] Jujur aja impresi awal kita saat pegang si Worplus Air ini, kitain ini adalah laptop yang cakep banget. Bodinya halus, enteng juga buat laptop ukuran 14 inch. Bahan luarnya juga halus, terbuat dari aluminium semua surface-nya. Kurang lebih ini sama dengan workpl kemarin. Namun logonya udah tidak chrome lagi. Jujur gua lebih suka dengan logo yang ini karena lebih terlihat low profile dan bahkan hingch-nya bisa dibuka mentok sampai 180 derajat. Layarnya ini olet cuk, masih full HD 60 Hz sih, tapi tetap aja udah 100% sb, 100% di IP3, dan 90-an Adobe RGB di harga Rp8 juta. Itu jarang banget. Sayangnya di sini sih enggak ada software buat sRGB mode ataupun DCIP3 mode. Nah, kalau brightness-nya sih terbilang lumayan. Tapi kalau misalnya kalian udah bawa laptopnya ke ruangan yang mungkin terang banget belakangnya, ya siap-siap aja buat reflectif. Resiko pakai OLED lah. Keyboard-nya kelihatan ODM lah ya. Malah mirip sama Axio Hype R3 kemarin. Layout-nya ini standar. Fungsionalnya sih ok lah. Volume button, brightness button ada. Backlit juga dua level. Power button terpisah dengan keyboard, namun tombol slip dekat banget sama escape. Di sini juga ada F lock button, namun sayangnya enggak ada notifikasi light atau onsreen. Nah, kalau biasanya kalian enggak menemukan tombol copilot button di dalam laptop yang ODM, di sini entah kenapa ada. Berarti kemungkinan Advance itu ada kerja sama sama Microsoft juga. Konektivitasnya juga kurang lebih sama dengan Axio Hype R3 OLED. Gua curiga ini ODM-nya benar-benar sama. Di sebelah kanan itu ada USBC 2.0 data only beserta audio combo jack dan USB A 3.2 gen1. Sementara di sebelah kiri ada HDMI 2.1 dan 2 USBC 3.2 gen to full function. Maksud kita full function di sini adalah bisa PD dan DP sekaligus. Jadi enggak usah takut untuk dicolok ke monitor yang bisa charging sekaligus. Masuk ke spesifikasi juga spek yang kita dapatin di harga Rp8 juta termasuk lumayan banget. Laptopnya pakai Ryzen 5 7535 HS. Ini adalah refresh dari Ryzen 5 6600 HS yang pakai arsitektur Zen 3 Plus dan punya IGP Radion 660M. Asik, ini dipakai gaming tipis-tipis. RAM-nya juga udah 16 gig LPDDR5 6400. Walaupun tidak sebanyak 24 gig RAM-nya Axio Hype, tapi udah cukup banget buat kegiatan produktivitas sehari-hari. SSD-nya juga berkapasitas 51 gig PCI genen 3X4 yang sebenarnya speed-nya masih ok lah buat laptop kerehore. Kalau kalian mau ganti SSD-nya ke PCI GN4 juga masih bisa. Lalu enggak usah basa-basi lagi gimana performa dari laptopnya. Jadi Ryzen 5 7535 HS yang ada di laptop ini termasuk lumayan skornya di sinch R23 entah kenapa kalah dari 6600H namun jadi yang teratas ketika dites di Cineb 2024. Performa graphicsnya juga gak kalah dari 6600 HW plus biasa. Jadi menurut kita ya performa graphicsnya ini udah sama lah. Terus performa graphicsnya ini bisa dipakai main enggak, Bang? Bisa dong. Tapi lihat-lihat game-nya ya. Kalau Zeness Zone Zero dia hanya bisa dapat 34 FPS. Honkai Staril sih bisa dapat sampai 49 fps. Delta Force sebenarnya bisa average itu 62 fps. Namun ada startering dan suka FPS drop juga. Game ringan macam Evil Genius 2 itu bisa dapat 90 FPS dan Cyberpunk bahkan bisa juga tapi hanya di 41 FPS aja. Itu pun sudah pakai frame generation. Intinya kalau game kalian hanyalah yang ringan-ringan aja seharusnya sih oke. Masih pakai IGP Radion 660M. Nedit video tipis-tipis juga bisa walaupun render time-nya ya lama banget. Kita saranin sih pakai CC aja yang lebih ringan. Dan tentunya enggak disarankan juga untuk desain 3D di laptop ini. Walaupun lucunya pas kita tes blender BMW 27, Ryzen 5 6600H itu bisa render gambarnya lebih cepat sedikit ketimbang prosesor yang kita pakai sekarang. Dan karena laptop ini juga cukup efisien, coolingnya hanya memakai satu fan dan dua heat pipe aja. Suhu CPU-nya sih sempat spike sekali di 100 derajat, namun stabil di 80 derajat celcius, ya karena power draw-nya juga hanya spike di 38 watt aja. Sementara stabilnya itu hanya di 28 watan saat main game. Ini bukti kalau laptop ini juga belum nge-push Ryzen 57535 HS-nya secara mentok kanan. Tambahan nih buat kalian yang mungkin pakai laptopnya di ruangan yang enggak berac, suhunya kurang lebih naik sedikit lah. Masih mentok di 100 derajatan, tapi stabilnya itu di 84 sampai 85 derajat celcius saat full load-nya. Jadi laptop ini layarnya udah olet, enteng. Speknya bisa main game. Sempurna dong di Rp jutaan. E enggak juga sih, beberapa pengalamannya ada yang enggak terlalu enak. Contoh ngetik di keyboardnya ini terlalu cetek, jadi ngetiknya kurang enak. Tapi yang paling enggak enak itu ada di touchpad. Kliknya terlalu kasar bunyinya dan kliknya itu di bagian tengah enggak berfungsi. Jadi susah kalau mau navigasi window ataupun drag and drop di touchpad ini. Windows yang didapat di Advance ini bebas dari Bloodware. Jadi Windows-nya bersih banget. Tapi sayangnya enggak ada software pengaturan laptop sama sekali. Jadi buat ngatur bat mode, fan profile, dan bahkan OLED C itu enggak ada. Jadi mesti kita sendiri yang jaga OLED-nya biar enggak burn in. E speakernya kualitasnya soso. Aslinya ada empat speaker di sini. Walaupun sama-sama down firing semua. Enak sih di volume 100% dia enggak pecah. Namun ya bassnya masih kurang. Lalu buat USBC-nya sebenarnya sih mungkin ya gua dibilang muluk-muluk kalau minta USBC 4 di harga di bawah Rp10 juta. Tapi ya walaupun belum USBC 4 enaknya dia sudah bisa PD dan DP alias full function. Terakhir baterainya itu ada di 60 watt hour. Ketahanannya ya lumayan berkat efisiensinya Ryzen 5 ini. Kalau bisa brightness-nya itu jangan terang-terang banget karena oletnya itu makin terang makin boros baterainya. Nah, buat kualitas webcam-nya sendiri dia beresolusi 720p 30 fps dengan kualitas yang buluk. Gua bisa bilang ini buluk, beneran buluk karena e kalian bisa lihat ini noise-nya banyak terus gua kayaknya makin dekill gitu dan dan tuh lihat enggak tadi ada white balance tuh berubah-berubah. Emang sih ada webcam shutter-nya gitu, ada privacy shutter tapi agak aneh gitu. Harusnya seperti ini warnanya itu karena ruangannya lagi terang harusnya seperti ini hasil webcam-nya tapi entah kenapa jadi punya noise banyak kayak gini. Jadi MSRP dari laptop ini sendiri ada di sekitar Rp8,4 juta. Harga marketplace-nya mungkin bisa lebih murah daripada itu. Dan jujur ya di harga Rp8 jutaan ini adalah salah satu laptop tipis enteng yang ideal buat dibeli. Bobotnya itu ya seperti kita bilang tadi cuma 1,1 kg. Build quality-nya juga lumayan. Terus juga USBC-nya banyak, e speknya decent, dan juga yang paling penting ya layarnya itu OLED. Dan jujur aja ya di harga segitu yang bisa ngasih kita yang masih ngasih deal yang bagus tuh ya ODMODM aja. Jadi kalau kalian mungkin ada yang mau kor-kor, "Oh, itu ODM Gun, OIM Gun." Si Advannya itu jangan dibeli. Jujur ya, emang ada yang bisa ngasih deal yang lebih bagus daripada ini. Kalau kalian mau nyari yang di harga segini ya, yang dari brand itu juga kemungkinan mereka juga nyari-nyari ODM gitu. Vivobook aja deh yang kemarin itu enggak ODM, itu desain sendiri cuman dia masih pakai Ryzen 3, Zen 2. Atau kalau misalnya kalian nyari yang ODM juga ya sebenarnya ada yang OLED kemarin itu si Axio Hype R3 itu ODM-nya kayaknya sama sih sama ini karena desainnya overall sama. Eh, ada di R jutaan juga, tapi dia pakai Core i3. Jadi, IGP-nya enggak sebagus ini. Terus kalau kalian mungkin enggak terlalu penting ngelihatin OLED, mungkin penginnya IPS aja. Kalau nyari yang speknya sama ini, WordPL biasa itu ada di sekitar R jutaan atau kalau kalian mungkin budgetnya Rp8 jutaan dan enggak begitu mau OLED, kalian bisa dapat yang Ryzen 7 sekalian yang lebih bagus daripada ini. Udah pakai Radeon 680 M. Nah, kalau misalnya kita sendiri yang ngelihatin kekurangannya tadi komprominya itu masih oke lah menurut kita. Kalau keyboard ya dia enggak jelek-jelek banget sih menurut gua masih enaklah. Dan kalau untuk touchpad, touchpad sih jujur jelek banget. Jadi mendingan pakai mouse. Power button dia harus dihold dulu untuk dihidupin. Ya itu ya ok lah. Dan untuk webcam, webcam enggak bisa diperbaikin sih ngelihatin kualitasnya yang tadi ya. Tapi ya kita jarang banget sih pakai webcam. webcam paling cuman sekali sebulan gitu. Jadi okelah untuk dibeli. Nah, menurut kalian kalau kalian nyari laptop di bawah R10 juta, kalian lebih milih OLED atau enggak?
