OWS Premium, Nyaman Dipakai, Audio Mumpuni, Naik Kelas! Review Huawei FreeClip 2 (YouTube Video)
Ini Huawei Free Clip 2. Secara umum desain bassnya mungkin mirip dengan pendahulunya, tapi peningkatannya yang ini sangat signifikan dengan dual difram driver unit menjadikan bass yang lebih bertenaga. Mikrofonnya ditingkatkan kemampuannya, rating ketahanan juga meningkat. Ada IP 57 di sini. Jadi kalau kena air masih aman banget. Bahkan charging case-nya udah ada IP rating-nya juga. Daya tahan baterai pun ditingkatkan jadi lebih awet. Nah, untuk desain bedanya nyata ada di charging case-nya. Jadi mungil banget dan lebih cakep ya. OS ini sempat bikin heboh di negara asalnya nih. Kabarnya 80.000 unit terjual di 1 jam pertama presale dan total 215.000 unit laku di hari pertama. Oke, langsung aja kita bahas Huawei Free Clip 2 ini ya. Huawei Free Clip 2 ini tentunya penerus dari OS mereka yang sebelumnya. Huawei Free Clip yang sudah masuk ke Indonesia di awal tahun 2024. Nah, untuk AWS baru ini, Huawei mempertahankan beberapa hal yang dirasa jadi keunggulan si FreeP, tapi mereka juga membawa banyak peningkatan yang seharusnya membuat free clip 2 ini akan terasa naik kelas. Nah, untuk butnya kami sampai pakai dua unit terpisah. satu dipakai oleh tim pengujian dan satu lagi saya buat traveling. Nah, untuk paket penjualannya ya berdasarkan info dari Huawei, isi paket penjualan OS ini adalah sepasang IRB, charging case, paket dokumen. Udah gitu aja sederhana ya. Nah, sekarang kita lihat desain dan spesifikasinya. Hoi menggunakan Eri Ca Bridge design untuk earbud Ow ini. Ini mirip dengan free clip tapi udah disempurnakan. Bridge disebut terasa lebih lembut dengan skin friendly liquid silicon dan pakai denim light texture. Berbeda ya dari kebanyakan OBS tipe lain. Yang ini kelihatan lebih fashionable aja ya. Nah, untuk durabilitas bridge ada high performance shape memory alloy. Jadi bridge ini bisa kembali ke bentuk asalnya bahkan setelah dibengkokkan sampai 25.000 kali. Nah, untuk bobot setiap earbud itu bobotnya 5 gr. Sementara untuk case bobotnya 38 gr. Jadi total bobot OS ini kalau dibawa semuanya ada di 48 gr. ringan yang satu ini. Untuk opsi warna ada black, white, dan blue. Nah, yang blue ini adalah andalannya Free Clip 2 ya. Untuk penggunaan earbud, free clip 2 ini dipasang di telinga kita dengan dijepitkan ke daun telinga seperti ini. Nah, saat kita banyak gerak, misalnya saat olahraga, earbad ini tetap bisa menempel dengan erat di daun telinga kita. Tapi enggak terasa yang menjepit terlalu kencang, bahkan nyaris enggak terasa. Bobot yang ringan juga membuatnya enggak terasa jadi beban di telinga kita lah gitu, ya. Nah, terkait earbud bagian ini disebut sebagai acoustic ball dan posisinya ada di dekat lubang telinga ini. Jangan terbalik masangnya, ya. Nah, di sini ada powerful dual diaframe driver di dalamnya. Driver baru ini disebut menghasilkan suara yang lebih kencang dengan bas yang lebih baik. Sementara ini adalah comfort bin. Ini adanya diposisikan di belakang daun telinga. Nah, di comfort bean ini ada area yang bisa menerima input gesture swipe. Nah, ini baru ya swipe ini ya. Oke. Lalu earbud ini disebut punya IP rating di IP 57. Jadi aman kalau kena air perhatikan ini bukan berarti kita bisa pakai earbad ini saat berenang atau earbud ini juga jangan dicuci dengan direndam di air juga lebih buat jaga-jaga aja. Oke untuk daya tahan baterainya dijanjikan sampai 9 jam dalam sekali isi ulang. Sedikit meningkat dibandingkan free clip yang pertama nih ya janjinya ya. Nah, kalau kita pakai charging case berarti katanya bisa sampai sekitar 38 jam totalnya. Berarti si case bisa digunakan untuk mengisi ulang kedua earbud sekitar tiga kali. Oh ya. Case ini ringkas ya untuk OS ya, bahkan jauh lebih ringkas dari case free clip versi awal. Lebih ramping dan lebih mungil lah yang satu ini. Ini karena posisi kedua earbudnya itu sengaja dicross seperti ini saat dipasang ke case ya. Ini mengurangi kebutuhan ruang untuk menempatkan kedua earbud. Tentunya case yang lebih ringkas ini membuatnya jadi lebih mudah untuk dibawa-bawa. Lalu kemudian di sini ada satu port USBC di dasar case dan ada juga lampu indikator di bagian depan serta tombol pengoperasian di sisi kanan. Oh ya, dalam kondisi tertutup charging case-nya ini punya IP rating loh di IP54. Ini sepertinya baru pertama kali kami dengar ada charging case punya daya tahan terhadap air. Tapi ya ini sekedar untuk tahan terhadap cipratan atau air hujan aja ya. Oke, kita coba pakai OS Huawei Free Clip 2 ini. Untuk pairing pertama kita bisa lepas earbud dari case dan OS ini akan otomatis masuk ke mode pairing. Sementara untuk pairing-pairing berikutnya untuk masuk ke mode pairing kita bisa menekan tombol di kanan case selama 2 detik. Nah, saat kedua earbud ada dalam case ya tentunya ya. Nah, setelah pairing sukses, OS ini sudah bisa kita gunakan untuk teleponan atau menikmati musik. Terkait konektivitas, OS ini mendukung Bluetooth 6.0 serta kodex SBC, AAC, serta ada juga L2HC atau LHDC, ya. Nah, untuk gesture secara standar ada beberapa yang sudah tersedia untuk pengendalian media. Tap dua kali di earb kiri atau kanan itu untuk play atau pause. Tap tiga kali di earb kiri atau kanan untuk next track. Lalu swipe up di comfort bin kiri atau kanan itu volume up. Kalau kita swipe down di comfort bin yang kiri atau kanan itu volume down. Oh ya untuk tab ini tidak harus di area tertentu ya. Itu bisa di mana saja selama tab kita mengenai bagian earbud. Bahkan kita nge-tap di bridge-nya pun bisa. Sementara untuk pengendalian panggilan itu ada gesture tap dua kali di irbat kiri atau kanan untuk menerima panggilan masuk atau menutup panggilan yang sedang berlangsung. Kalau butuh gesture atau fungsi yang lain, kita bisa atur ya di aplikasi pendukung OS ini termasuk untuk panggil voice assistant juga. Nah, untuk aplikasi pendukungnya ini kita pakai Huawei Audio Connect. Ini memang harus download dari luar Google Play ya. Nah, selain pengaturan gesture ada juga beberapa fungsi lain. Salah satunya adalah mengaktifkan head control. Jadi, kita bisa pakai gester mengangguk untuk menerima panggilan masuk dan menggaleng untuk menolaknya. Fungsi lain ada? Ada. Di sini masih ada pemutan baterai, lalu ada juga sound effect alias pilihan equalizer, serta ada juga custom EQ yang bisa kita atur sendiri. Ini cukup lengkap ya, slidernya bisa untuk 10 band equalizernya ya. Lalu ada juga pengaturan we detection, multict, low audio latency, drop detection, serta fitur find device dan update juga ada. Oh ya, OS ini juga punya fitur auto switch untuk earbud left dan right ya. Jadi enggak perlu cek dulu mana yang irbud kiri atau kanan, langsung pasang aja. OS ini bisa menyelesaikan secara otomatis. Mungkin itu sebabnya penanda kanan dan kirinya enggak ada di sini. Biar gak usah pusing-pusing nyari-nyari juga. Ya, sekarang mari kita coba cek kualitas suara OS ini. Untuk pengujian kita pakai Codex AAC ya yang berlaku untuk tentunya untuk semua smartphone bisa ya. Untuk sound effect kita pakai default aja. Nah, saat kami mencoba mendengarkan beberapa lagu, kami merasa OS ini menghasilkan bass yang e mencukupi ya, udah bulat dan benar-benar terasa sih sebetulnya belum bisa mendentum kencang banget tapi untuk bass yang mendekati mid ini udah terdengar banget loh di sini ya lumayan rapi juga untuk sebuah OWS ini sudah termasuk hitungan kelas atas sebetulnya lalu untuk mid ini udah terasa mantap relatif bersih dan terjaga juga sementara untuk travel masih terasa sedikit kurang rapi kalau kita ada di volume yang tinggi tapi bukan sampai yang rusak juga ya dan yang penting tidak terasa tajam sampai menusuk telinga. Nah, kalau butuh fine tuning karakter suaranya, aplikasi audio connect bisa membantu dan respon OS ini terhadap pengubahan equalizer juga e lumayan bagus di sini. Separasi suara juga terbilang mantap untuk sebuah OWS ya. Volume suara terbilang relatif lantang di sini. Nah, nih bahkan di volume 50% pun kami sudah merasa suara di sekitar kita tuh sudah ketutup gitu ya. Kalau mau suara dari sekitar kita masih terdengar dengan baik, volume tuh harus dikisaran ya 35 sampai 30% lah ya. Yang jelas kalau dibandingkan dengan pendahulunya versi kedua ini jelas jauh lebih lantang. Nah, W menyebutkan kalau di OS ini ada fitur adaptif audio untuk berbagai skenario. Volume disebutkan bisa dinaikkan atau diturunkan sesuai dengan kondisi di sekitar kita. Bagaimana kalau kita atur volume secara manual ke tingkat yang tinggi? Nah, saat kami coba sampai volume di kisaran 60% pun kualitas suara itu sebetulnya masih relatif terjaga. Ya, tapi begitu nyentuh 80% ke atas, penurunan kualitas suara sudah mulai terasa. Separasi berkurang, bass dan mid terasa tumpang tindih dan di 90% midai sekali. Tapi sepertinya ini masih cukup wajar. Mengingat kemungkinan kita akan ngencengin suara sampai 80% ke atas itu untuk bisa mendengarkan pembicaraan telepon dengan lebih baik. Jadi kalau mid-nya meningkat itu udah wajar. Lagi pula kalau kita mau dengarin musik sih harusnya mentok di kisaran 70% aja karena itu udah kencang banget dan kita udah sulit mendengar suara dari sekeliling kita. Jadi saran kami kalau mau menikmati kualitas suara yang tawarkan OS ini gunakan volume maksimum di sekitar 55 sampai 70% aja. Sementara untuk menggunakan OS ini sebagai pengisi ambience musik di keseharian, saran kami sih di kisaran 30% aja. Secara umum kami merasa bahwa suara yang ditawarkan oleh si Free Clip 2 ini memang meningkat lumayan jauh kalau dibandingkan dengan pendahulunya. ini membuat Free Clip 2 terasa berada di kelas yang berbeda dibandingkan pendahulunya. Oke, sekarang kita coba juga mikrofon dari OS ini. Memang cuma ada dua mikrofon di OS ini, tapi ada VPU dan DNN yang harusnya bisa menawarkan INC yang memadai. Apalagi Huawei juga menyebutkan ada NPU yang mendukung Crystal Clear Voice Call. Oke, mari kita dengar aja hasil rekaman suaranya. Oke, saat ini kita coba simulasikan lirunya kemacetan untuk menguji kemampuan noise canceling dari mikrofon TWS Huawei yang satu ini. Suara yang kalian dengar saat ini adalah hasil dari mikrofon kamera kita. Nah, kalau yang ini adalah hasil dari mikrofon TWS Huawei yang satu ini. Menurut kalian gimana kemampuan noise canceling dari TWS yang satu ini? Suara saya masih bisa kedengar dengan jelas atau enggak? Nah, selanjutnya kita coba dengan musik yang kencang. Sebagai perbandingan, suara yang kalian dengar saat ini adalah suara mikrofon dari kamera yang kita pakai. Nah, kalian ini adalah hasil perekaman menggunakan mikrofon dari TWS gimana? Apakah suara saya masih bisa kedengaran dengan jelas atau enggak? Jadi, kurang lebih seperti itu ya kualitas hasil perekaman menggunakan mic dari TWS Huawei yang satu ini. Sekarang kita lanjut ke pembahasan berikutnya. Eh, ternyata oke juga ya. Noise bisa ditekan dan bahkan dihilangkan sementara suara kita bisa ditangkap dengan relatif cukup baik. Oke, sekarang mari kita lihat daya tahan baterainya ya. Kita coba dengan volume 50% dan kode AAC. Baterai kedua earbud ini baru habis setelah mendekati 9 jam. Ini sudah cukup mendekati klaim Huawei. Nah, itu pengujian di lab ya, nonstop ya. Nah, sekarang saya sendiri juga mencoba dengan menggunakan Free Clip 2 selama perjalanan. Jadi, saya pakai tanpa dilepas sejak jam 09.00 pagi sampai 09.00 malam. 12 jam berarti ya. Selama perjalanan liburan saya tuh saya tidak selalu menghidupkan musik, hanya sekali saja. terkadang dipakai buat telepon untuk dengerin isi konten video dan lain-lain. Intinya dipakai standby terus nonstop di situ. Nah, untuk skenario seperti ini setelah 12 jam baterai masih nyisa 20-an% ternyata ya. Nah, untuk charging kedua earbud di case itu butuh waktu sekitar 30 menit sampai baterainya penuh. Ini menghabiskan sekitar 33% batery case. Jadi memang benar ya, dia bisa sekitar tiga kali isi ulang penuh si earbud-nya. Nah, untuk charging baterai case selain lewat kabel USB, ada juga dukungan wireless charging loh di case yang satu ini. Luar biasa ya. Nah, oke untuk harganya. Nah, saat ini Huawei memang belum mengumumkan harga dari OS Free Clip 2 ini. Jadi nanti kalau harganya sudah diumumkan akan kami update di dalam deskripsi video ini. Kita langsung aja masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, volume suara yang indaskan OS ini terbilang lantang tapi jadi terasa menutupi konsep open ya. Agar bisa mendengarkan suara dari sekitar kita, volume harus diatur ke tingkat yang agak rendah di kisaran 30%. Kemudian kami berat pada fitur khusus yang membantu mengedepankan konsep open ear di OWS ini. Lalu untuk volume di atas 75% penurunan kualitas suara tuh mulai terasa. Kemudian aplikasi penggunaan TWS ini harus disal secara manual ya untuk yang Android ya. Kemudian yang terakhir untuk desain ya kalau dipakai kan seperti perhiasan di telinga. Nah, ini bisa jadi pertimbangan subjektif bagi tiap orang. Bisa jadi ada yang tidak merasa cocok dan ada yang merasa cocok. Nah, dari segi menariknya kualitas suara yang tawarkan ini mantap banget untuk sebuah OWS ya. Dan OWS ini lantang. Jadi kita bisa menggunakannya untuk ngisi audio ambient atau untuk menikmati musik secara lebih seksama lagi. Nah, lalu dia ada juga dukungan aplikasi yang lengkap dengan equalizer dan custom equalizer. Bahkan ya earbudnya dia punya IP rating di IP 57 enggak cuma aman kecipratan air kalian disiram kayaknya juga ada masalah ya. Bahkan charging case-nya punya IP 54, jadi lebih aman lagi dari kehujuran atau keceatan air. Desainnya juga berkelas. Apalagi kalau yang biru ini ya ada denimline texture-nya kan di sini. Lalu ada dukungan untuk low audio latency dan juga multiconnect. Ada juga head motion dan auto left right juga. Daya tahan baterai juga terbilang cukup bagus ya untuk nonstop itu sampai 9 jam untuk sekali isi ulang untuk muaran musik nonstop ya. Tapi bisa lebih lama lagi kalau penggunaannya banyak standby-nya seperti mau dicantel aja seharian gitu enggak ada masalah bisa 12 jam lebih. Kemudian ENC di mikrofonnya ini juga mantap. Desain case-nya ini mungil banget. Desain earbud-nya ini membuatnya nyaris tidak terasa untuk penggunaan jangka panjang. Dan desain irbat ini juga membuatnya aman menempel di telinga kami. Bahkan dipakai untuk beraktivitas 12 jam di luar ruangan pun aman. Aman tapi nyaris enggak terasa keberadaannya. Nah, kemudian dia sudah mendukung L2HC dan Bluetooth versi 6.0. Oke, pertanyaannya OS ini untuk siapa sih sebenarnya? Tentunya buat yang ingin meraskan OS Class premium dengan kualitas suar yang mumpuni. Apalagi kalau sudah pakai beberapa produk dari ekosistem Huawei akan makin cocok lagi. Untuk pengguna Android atau iPhone enggak masalah juga. Ini kompatibel dengan smartphone modern apapun kok ya. Buat pengguna free clip generasi pertama apakah cocok untuk upgrade ke free clip 2? Menurut kami kalau dananya tersedia cocok-cocok aja. OS baru ini menawarkan pengalaman dari kelas yang berada di atasnya free clip. Jadi peningkatannya akan mudah terasa. Free clip 2 ini akan cocok untuk menemani berbagai aktivitas kita mulai dari olahraga sampai pekerjaan serius karena kualitas suara dan kenyamanan pakai yang ditawarkannya. Bagi saya sendiri free clip 2 ini cocok untuk diajak traveling. Bukan yang paling cocok untuk dipakai di dalam pesawat atau kereta, tapi untuk dalam perjalanan transit ngunjungin obek wisata lagi belanja. Free clip 2 ini bisa dipakai tanpa perlu dilepas-lepas. Enggak ada tuh kejadian lagi mau iseng buka TikTok atau IG lalu kita panik ngecilin suara HP biar enggak ganggu orang di sekitar kita. Enggak usah kan suaranya langsung keluar dari OS yang standby di telinga kita. Kemudian saat mau nelepon pun kita enggak perlu nempelin HP ke telinga. Kan udah ada OS yang standby terus. Jadi secara umum kalau yang dicari adalah OWS yang berkelas, Huawei Free Clip 2 ini sangat sulit untuk dilewatkan.
Video Lainnya
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sebuah inovasi radikal lewat kehadiran lini Huawei Pura X Max yang siap menggeser dominasi iPhone dan Samsung. Kehadiran...
Perdebatan mengenai jam pintar terbaik tampaknya memasuki babak baru lewat kehadiran Huawei Watch Ultimate 2, sebuah perangkat yang berani mendobrak batas premium...
Kehadiran Huawei MatePad Mini sukses memberikan angin segar di tengah tren pasar yang dipenuhi tablet berukuran raksasa. Membawa dimensi super tipis dan panel...
Mencari gawai ringkas yang benar-benar bisa diandalkan untuk mobilitas ekstrem kini bukan lagi sekadar angan. Lewat gebrakan layar Flexible OLED PaperMatte yang...
Di tengah obsesi industri teknologi pada layar raksasa, kehadiran tablet seberat 260 gram ini menjadi anomali brilian bagi kaum bermobilitas tinggi. Ulasan HUAWEI...
Huawei kembali menggebrak pasar tablet lewat gebrakan yang membuat para kompetitornya, termasuk lini iPad Mini, harus waspada. Melalui dimensi super ringkas dan...
Kehadiran HUAWEI MatePad Mini membawa kejutan tak terduga di segmen tablet ringkas yang selama ini nyaman dikuasai oleh iPad Mini. Bersembunyi di balik dimensi...
Membuat konten liputan di lapangan sendirian tanpa bantuan kru sering kali menjadi momok bagi para kreator, terutama dalam menjaga kualitas visual dan audio agar...
Pasar ponsel lipat mendadak gempar lewat gebrakan Huawei yang sukses mencuri start dari Apple lewat lini terbarunya, Pura X Max. Kehadiran gawai futuristik ini...
Tren berolahraga luar ruangan kini memicu pergeseran minat dari TWS konvensional ke perangkat Open-Ear Headphones (OWS) demi faktor keamanan dan kenyamanan telinga....
Mencari smartwatch ideal di rentang harga 3 jutaan sering kali berujung pada kompromi antara fitur kesehatan yang akurat atau desain yang modis. Namun, Huawei Watch...
Pasar smartwatch kembali diguncang oleh lini terbaru Huawei yang berani menyematkan fitur pelacakan kesehatan tingkat lanjut, termasuk indikator risiko diabetes. Di...
Dunia wearable baru saja kedatangan standar baru lewat kehadiran lini Huawei Watch Fit 5 Series yang diklaim mampu mendeteksi risiko diabetes secara dini. Jam...
Pasar smartwatch kelas menengah kembali diguncang oleh kehadiran perangkat terbaru Huawei yang berani menantang dominasi Apple Watch dengan harga jauh lebih ramah...
Pasar smartwatch premium kini kedatangan penantang serius yang siap mengacak-acak dominasi merek besar lewat lini HUAWEI WATCH FIT 5 Series. Perangkat cerdas ini...
Kehadiran Huawei Watch Fit 5 Pro menandai babak baru dalam evolusi perangkat sandang kesehatan dengan membawa fitur pemantauan risiko diabetes langsung ke...

















