PANAS BANGET BUSET!!! - Review ASUS Zenfone 11 Ultra (YouTube Video)
Dari pertama kali saya pegang hape ini, kesan mewahnya tuh langsung berasa ya. Budinya tuh ramping. Perpaduan antara metal dan kaca berkualitas tinggi. Kenalin sob, ASUS Zenfone 11 Ultra. Hape paling premium yang pernah ASUS punya. Kalau bila jujur, nggak ada yang salah sama desain dari hape ini. Semua parameter yang wajib ada dalam sebuah smartphone flagship bisa ditemukan di Zenfone 11 Ultra ini. Tapi lain cerita, kalau kita bicara soal subjektifitas. Saya yakin akan banyak dari kita yang suka dengan desain hape ini. Tapi soalnya tuh saya pribadi. Saya pribadi nih, saya tidak mau pilih siapapun. Saya pribadi nggak begitu cocok. Saya nggak bilang desain hape ini jelek ya, saya cuma bilang desainnya nggak masuk ke selera saya. Tidak secara keseluruhan saya nggak suka, karena saya hanya keganggu dengan bentuk modul kamera yang menurut saya... Apa ya? Nggak cantik gitu lho. Garis desain hape ini tuh 11-12 dengan ROG Phone 8, yang mana saya juga nggak suka desainnya. Itu dari sisi subjektifitas saya ya, dari sisi objektif. Seperti yang saya bilang tadi, bahwa semua standar parameter dari sebuah flagship akan kita temukan di hape ini. Seperti bodi yang premium, terbuat dari kaca, terus desainnya yang super mewah, build quality-nya yang top-notch, dan punya frame metal. Bahkan port-portnya jadi yang paling lengkap di antara flagship lain yang ada di Indonesia di tahun 2024. Karena kita tahu, hampir nggak ada flagship yang masih menyertakan jack audio di smartphone mereka. Kecuali hape ini. Selain bentuk modul kamera, ternyata ada 2 hal lain yang cukup mengganggu saya di hape ini. Pertama adalah, tidak disertakan softcase yang bisa melindungi si hape secara keseluruhan. Bukan hanya bagian ujung-ujung aja ya. Saya tahu, banyak flagship yang masuk ke Indonesia yang memang tidak menyertakan softcase atau case di dalam paket penjualan. Tapi berkaca pada apa yang OPPO dan Vivo lakukan dengan selalu memberikan softcase premium pada smartphone flagship mereka. Harusnya, Asus bisa melakukan hal yang sama. Kita semua ingat bagaimana dalam paket penjualan Vivo X100 disertakan sebuah softcase yang sempurna melindungi bodinya. Softcase-nya juga nggak kayak softcase 5000an, premium banget malah. Hal kedua yang menurut saya cukup mengganggu juga tidak disertakan anti gores bawaan pada layar hape ini. Karena saya yakin, sekeras apapun teknologi layar yang disematkan di smartphone ini, pada akhirnya akan kalah sama goresan-goresan kecil yang secara tidak sadar akan terjadi selama kita menggunakan smartphone ini. Tapi oke lah, secara keseluruhan desain dari hape ini cakep. Dan 2 keluhan terakhir itu bisa termaafkan mengingat harganya yang… nggak ngotak. Layar di hape ini jadi salah satu fitur yang paling saya suka. Panel AMOLED 6.78 inch yang luas dan beresolusi tinggi bisa ngasih gambar yang tajam, detil, dan kaya warna. Panel AMOLED ini juga memproduksi warna-warna yang cerah dan kelihatan hidup gitu loh. Tingkat kontrasnya juga dipastikan tinggi dengan warna hitam yang terlihat hitam banget, dalem, deep, pekat. Gamers dan para penggemar konten multimedia akan dimanjakan banget dengan refresh rate 144Hz di hape ini. Main game itu lebih lancar dan nyenengin dengan tampilan yang mulus dan responsif. Scrolling-scrolling di media sosial atau sekedar browsing-browsing pun jadi nyaman banget gitu. Untuk sebuah smartphone yang tidak ditujukan buat main game, layar di hape ini kerasa cukup overkill dengan refresh rate setinggi itu. Secara default, refresh rate yang bisa kita pilih mentok di 120Hz. Refresh rate 144Hz hanya bisa digunakan saat bermain game melalui game genie. Kecerahan layarnya lumayan tinggi loh, sampai 2500 nits dalam kondisi peak. Layarnya sendiri udah support HDR10+, jadi buat nonton konten-konten HDR di Youtube atau Netflix ya nggak akan ada masalah gitu. Bagus banget malah, enak banget. Bezel di hape ini juga tipis, tapi bukan soal tipis yang penting, melainkan simetris. Ketipisan bezelnya simetris di semua sisi, dan ini cakep. Layar hape ini udah lapisnya dengan Corning Gorilla Glass Victus 2. Layar paling keras yang dibuat sama Corning untuk sekarang. Performa hape ini cukup bikin saya terkesan ya, karena dia salah satu smartphone yang paling ngebut yang ngerilis resmi di Indonesia. Snapdragon 8th gen 3 di hape ini powerful banget sob, dan banyak bisanya bisa disuruh ngapain aja gitu. Jangan kan cuma buat main game? Disuruh buat jaga keamanan cyber negara ini aja mungkin bisa kali. Nggak perlu angkaran 700 miliar kan? Angka-angka yang didapat dari beberapa aplikasi benchmark juga sangat memuaskan menurut saya. Bahkan skor Antutu-nya sendiri tembus di angka 2 juta. Sebuah angka yang tinggi banget untuk sebuah flagship. Zenfone 11 Ultra ini punya RAM sebesar 12GB DDR5. RAMnya sendiri adalah RAM beneran ya, bukan 6GB tambah 6GB kayak hape -hape murah gitu. Storage hape ini juga ngebut banget, dan sudah pake UFS 4.0 atau 4.0. Dia bisa membaca di kecepatan 2,19GB per second, dan menulis di kecepatan 1,02GB per second. Ini ngebut banget lho. Kita semua tau, dulu Asus dilebeli sama netizen sebagai hape setrika. Karena terkenal banget dengan panasnya yang diluar nurul gitu. Dan bersyukur lah karena sekarang mereka berhasil mempertahankan gelar tersebut. Percaya nggak sih kalau hape ini dalam load yang tinggi, panasnya luar biasa. Panas banget. Saya tadinya malah mau coba goreng telur di hape ini, tapi kayak nggak tega aja. Dual speaker di hape ini enak, nyaring dan crispy gitu, kayak sabana. Frekuensi low-nya juga kedengeran cukup jelas. Pokoknya suaranya mahal lah. Dual speakernya jauh lebih bagus daripada dual speaker-an di hape-hape menengah gitu. Padahal hape ini harganya 11-12 sama hape-hape mid-range dari OPPO sama Vivo lho. Aneh kan? Tapi ini lebih bagus. Daripada beli itu, mending beli ini. Kapasitas baterai di hape ini sedikit menyusut dari yang biasanya 6000 mAh di seri-seri sebelumnya. Kini ukurannya cuma 5500 mAh. Dan jujur, saya merasa daya tahan baterai di hape ini nggak lebih baik dari ROG versi sebelumnya. Dalam skenario normal, hape hanya bisa bertahan selama 19 jam 15 menit. Ini menggunakan profil baterai dynamic ya. Dan dalam profil full performance, hape ini hanya bisa bertahan selama 10 jam lebih aja. Baterai sebesar ini didukung sama fast charging 65W. Baterainya bisa diisi dari 0-100% dalam waktu 1 jam 22 menit. Nggak cuman itu, hape ini juga udah support wireless charging sampe 15W. Lebih lambat sih kalau dibandingkan ngecharge biasanya. Saya udah coba nyari casing yang support MagSafe, tapi saya tetep nggak nemu gitu. Seandainya saya nemu casing yang saya mau yang udah ada MagSafenya, mungkin saya akan lebih betah pake hape ini mengingat saya berada di ekosistem MagSafe. Hape ini pake antarmuka ZenUI berbasis Android 14. ZenUI ini masih mempertahankan tampilan stock Android ya. Jadi keliatan stock banget tampilannya. Pokoknya nggak norak lah, simple, nggak kayak brand-brand lain. Salah satu keunggulan dari ZenUI ini adalah komitmen ASUS untuk memberikan update software yang berkelanjutan. 3 periode. Zenfone 11 Ultra dijamin setidaknya mendapatkan 2 update OS dan security update selama 4 tahun. Jadi hape ini dipastikan tetap aman dan akan dapet fitur-fitur terbaru dari Android. Hal yang kayak gini yang sulit dilakukan oleh brand-brand lain yang pede ngejual hape mereka dengan harga yang sangat murah. Dan percaya atau tidak? Pasti nggak percaya. Menurut saya, update software bisa jadi salah satu poin yang paling krusial dalam menentukan apakah kita akan membeli hape tersebut atau tidak. Hape ini total punya 4 kamera. 3 kamera di bagian belakang dan 1 kamera di bagian depan. Kamera utamanya beresolusi 50MP dengan sensor IMX989 dan teknologi Pixel Binding yang ngasilin foto 12.5MP yang tajem dan detail kalau kondisi pencahayaannya baik. Warnanya yang ditangkap keliatan natural dan akurat. Dynamic range-nya cukup luas dan bisa nangkap detail di area terang dan gelap. Lensa kedua adalah lensa ultrawide beresolusi 13MP. Punya tingkat kelebaran sampai 120 derajat. Lensa ini bisa nangkap foto landscape yang lebih luas. Buat yang hobi moto gedung atau gunung, lensa ultrawide sih wajib ya. Kualitas fotonya juga cukup oke dengan detail yang cukup dan distorsinya minimal. Distorsi tuh melengkung bagian pinggir kalau kita moto ultrawide. Tapi kalau kondisi minim cahaya, lagi-lagi, kualitas fotonya sedikit menurun dan buri. Lensa ketiga adalah lensa telephoto beresolusi 32MP. Punya optical zoom sampai 3x. Kita bisa foto zoom tanpa kehilangan detail. Kualitas fotonya cukup oke, walaupun ya… tak setajam kamera utamanya. Tapi lensa ini kepake buat moto objek yang jauh gitu lho. Atau buat ngambil foto portrait dengan efek bokeh yang natural. Hape ini mampu menghasilkan foto portrait yang lumayan oke. Efek bokehnya halus dan cukup natural menurut saya. Pemisahan subjek dan backgroundnya keliatan lumayan rapi. Dan detail subjeknya tetap terjaga. Tapi jujur, foto portraitnya nggak bikin saya terkesan sebenernya. Karena di beberapa foto masih sering nongol bagian yang miss gitu lho. Kamera depan 32MP mampu ngasih foto selfie yang tajam dan detail. Warna kulit terlihat natural dan dynamic range-nya juga cukup luas. Setidaknya ada 2 kekurangan dari kamera di hape ini yang saya temukan. Pertama adalah tidak adanya lensa makro. Hape ini sayangnya nggak punya lensa makro. Maksudnya lensa khusus buat makro gitu. Memotret dari jarak dekat mungkin jadi lebih sulit gitu. Tapi jujur, sebenernya saya juga ragu mau masukin kamera makro sebagai kekurangan atau nggak ya. Karena saya sendiri nggak pernah pake lensa makro gitu. Kedua adalah tidak adanya autofocus di lensa ultrawide. Jadi kesimpulannya, seperti biasa, ASUS selalu ngasih harga yang menggiurkan untuk flagship-flagship mereka, termasuk hape ini yang dijual di bawah 10 juta. Flagship mana punya Snapdragon 8 Gen 3 di bawah 10 juta? Gak ada sob, iya doang. Tapi sebelum kita memutuskan membeli, perhatikan beberapa kekurangan dan kelebihan dari hape ini. Untuk kelebihannya, saya mencatat ada beberapa poin. Seperti performa yang kenceng karena Snapdragon 8 Gen 3, terus layarnya yang bagus banget walau belum sebagus layar Samsung, baterainya juga awet, mantep lah baterainya. Desainnya juga premium, mahal desainnya ini. Walaupun bagian ini subjektif banget ya. Bagus di saya kan belum tentu bagus di kalian, dan sebaliknya. Terus ada software yang clean, bersih, gak ada bloatware, tanpa iklan, dan enteng. Itu yang penting. Dan terakhir adalah kameranya yang menurut saya cukup oke. Walaupun belum sebagus flagship Vivo, Oppo, ataupun Samsung. Tapi jangan lupa, hape ini juga punya beberapa kekurangan. Pertama adalah performa kamera dalam kondisi lowlight yang... ya gitu lah, ga flagship banget menurut saya. Terus dia juga nggak punya lensa makro ya, walaupun saya juga nggak peduli kalau dia nggak punya lensa ini. Saya nggak pernah pake juga. Terus lensa ultrawidenya yang nggak autofocus. Agak aneh sih kalau flagship, kamera ultrawidenya fix focus. Kayak hape murah nih, aneh banget nih. Asus, kayaknya 3 itu doang sih yang bisa diklasifikasikan sebagai kekurangan di hape ini. Tapi, Asus Zenfone 11 Ultra, oke banget buat kalian yang pingin hape flagship terjangkau dengan desain yang premium, layar yang bagus banget, performanya ngebut banget, pokoknya oke banget lah. Saya berani bilang, hape ini worth it untuk dibeli. Apalagi kalau lihat harganya. Emang nih ya, Asus itu kalau jualan hape kayak nggak butuh duit sob. Udah kaya banget bos!
