Perlukah Kita Monitor Portable? ft. UPerfect C2 Pro (YouTube Video)
Buat anak-anak yang kerjanya di daerah Jakarta dan sekitarnya, mungkin udah gak asing lagi dengan kultur yang namanya work from anywhere. Apalagi kalau kita udah ke kafe-kafe kekinian di daerah Jakarta Selatan. Dan tiap orang yang kerjanya mobile biasanya punya setup portable mereka masing-masing. Ada yang pakai laptop, ada yang bawa tablet, ada yang dengerin lagu pakai headphone atau TWS, ada yang bawa mouse gaming ke mana-mana. Bahkan ada yang bawa setup mini PC ke kafe. Tapi pernah enggak sih kalian ngelihat orang kerja WFC pakai dua layar? Mungkin masih jarang. Tapi buat orang yang udah biasa pakai dua layar dan mau kerjanya itu mobile, pasti lebih asyik kalau bisa bawa dua layar. Biar kerjanya juga experience-nya sama dengan kerja di desktop. Kebetulan kita lagi kedatangan monitor portable dari UPerfect. Namanya adalah UFC C2 Pro. Kita bakal bahas apa aja sih kegunaan monitor portable selain dari kerja. Kita bahas barangnya dulu deh. SKU yang dikirimkan ke kita kali ini namanya adalah C2 Pro. Seperti yang kita bilang tadi, memang dia berkaitan banget dengan gaming karena ukurannya 16 inch, resolusinya udah 1440p IPS, dan dua pilihan refresh rate. Ada yang 144 Hz dan ada juga yang 240 Hz. Color gamutnya udah luas banget sampai 100% sRGB dan 100% DCIP3 sebanding sama layarnya ROG Sri yang Nebula Nebula itu. Bentuknya juga ringkas tebalnya hanya 0,6 cm di bagian tertipis dan 1,5 cm di bagian terteebal. Lagi pula beratnya itu hanya 678 gr aja. Sementara buat standnya, dia udah di-include dengan stand. Jadi tidak perlu bawa-bawa secara terpisah lagi. Basel-nya juga tipis seperti monitor-monitor laptop kekinian dan di bawah itu ada fit agar enggak slip saat di atas meja. Di dalam bok kita juga dikasih tiga kabel, ada dua kabel USB type C dan satu kabel HDMI to mini HDMI. Sesuai dengan konektivitas sportnya di mana di sini ada dua USBC yang bisa sekaligus power dan display dan satu mini HDMI. Kalau kita mau ngidupin sebuah monitor portable, biasanya kalau udah pakai koneksi USBC itu udah sekalian power. Jadi sekalian bikin setup kalian juga bisa lebih rapi dan itu tidak terkecuali dengan monitor ini. Tapi kalau misal enggak bisa ngidupin sekaligus ngirim sinyal gambar, masih ada satu USBC lagi untuk power. Sekaligus ada adapter juga yang cocok sama soket Indonesia di dalam packaging-nya. Sayangnya di dalamnya itu tidak ada seli seli slive kalau monitor ini mau dibawa ke mana-mana. Karena kalau sepengalaman gua ya, tidak wise aja sih kalau bawa monitor gamblang begini doang di dalam tas. Tapi kalian bisa-bisa aja sih cari di Tokpad misalnya sleeve laptop yang ukurannya 16 inch. Harusnya dia bisa dimasukin ke dalam sini. Enggak lupa monitor ini juga ditambah sama speaker stereo yang sayangnya buat kualitasnya itu sekedar ada aja. Jadi ya salah satu pelengkap yang bagus aja lah. By the way seperti yang kita udah bilang tadi selain buat kerja monitor portable ini juga bisa dipakai buat main game PC. Mau di USBC ataupun HDMI-nya bisa nampilin sampai 2K 240 Hz. Jadi layar utama bisa buat walkthrough atau streaming dan yang lain-lain. Tentu monitor portable ini juga punya OSD yang buat navigasinya itu pakai empat tombol yang ada di samping kanan. Ditambah ada satu audio combo jack juga. Tampilan OSD-nya default lah, informatif tapi kecil banget. Jadi susah ngelihat OSD-nya. Di sini kita bisa ganti brightness, kontras, color profile, temperature, dan HDR-nya pun bisa diatur auto agar ngikutin Windows-nya juga. Di pengujian kita saat 240 FPS, UFO test itu enggak terlalu yang blur-blur banget dan ghosting juga enggak terlalu kelihatan. Namun, kalau di 120 dan juga 60 fps ya ghosting itu pasti kelihatan. Dan karena monitor portable ini menggunakan koneksi USBC, jadinya kita bisa main game Nintendo Switch tanpa harus pakai docking. Atau kalian bisa juga mirror smartphone kalian ke sini. Apalagi kalau yang HP-nya bagus, itu bisa satu kabel aja USBC tanpa power. Dan khusus untuk user Samsung juga bisa langsung Samsung Dex. Atau kalau buat desktop user sebenarnya bisa juga sih pakai monitor ini buat hal-hal yang idle aja gitu. Tapi untuk refresh rate segini agak disayangkan aja kalau hanya dipakai buat yang enggak penting. Karena di pasaran sebenarnya masih ada layar portable 13 atau 14 inch yang mungkin resolusinya masih full HD dan enggak terlalu bagus, tapi harganya masih lebih murah dan lebih makes sense. Nah, kalau ngelihat harga dari C2 Pro kita sendiri ngerasa ini lumayan mahal ya. Ada di 3,2 jutaan buat yang 144 Hz-nya dan 4,8 juta buat yang 240 Hz-nya. Sebenarnya agak sayang kalau memang mau pakai monitor yang SKW ini hanya untuk produktif karena refresh rate-nya tersebut. Tapi sepanjang gua pakai monitor kedua saat di CFE buat kerja, jujur enak aja ya punya satu layar lagi buat workspace tambahan ketimbang hanya satu monitor. Bisa dipakai buat nonton video atau cari referensi saat lagi scripting. Ya, tergantung kebutuhan kita lah. Nah, sayangnya apabila kita pakainya itu Ultrabook, makai dua layar ini nguras baterai banget. Apalagi kalau dia benar-benar pakai 2K 240 Hz-nya. Jadi pastiin kalau kalian memang siap bawa casan. Dan lagi-lagi karena refresh rate-nya tersebut layar ini juga panas pas gaming. Kalau dimainin game selama 15 menit aja di monitornya saat 240 Hz-nya nyala, suhu bagian belakangnya itu bisa sampai 56 derajat Celcius. Dan kalau kita pakai koneksinya hanya satu USBC itu kadang-kadang suka putus-putus. Jadi enggak disarankan untuk gamingnya itu pakai satu USBC aja. Jadi butuh atau enggaknya sebuah monitor portable buat dipakai kerja ke mana-mana itu balik lagi ke workflow kalian. Emang kalian butuh bangetah sebuah monitor satu lagi kalau misalnya kalian lagi kerja di kafe atau di tempat lain gitu ya. Kalau misalnya memang kalian udah terbiasa dengan workflow seperti itu memang udah biasa dengan adanya dua workspace, sebenarnya enggak masalah juga sih kalau misalnya bawa monitor ke mana-mana secara dia ini cukup ringkas dan harganya juga enggak terlalu mahal-mahal banget. ya mungkin ya buat kalian karena enggak jarang yang di atas R5 juta. Nah, tapi balik lagi untuk monitor yang kita review kali ini C2 Pro yang bisa sampai 144 bahkan 240 Hz kayaknya agak sayang aja kalau cuma dipakai buat kerja. Bisa juga kalian bawa kalau misalnya bawa PS5 main bareng teman-teman atau misalnya bawa Nintendo Switch buat dibawa ke cafe atau lain balik lagi bareng sama teman-teman. Jadi itu aja sih sebenarnya pendapat kita tentang sebuah monitor portable. Kalau kalian sendiri sebenarnya kerja mobile itu butuh dua monitor apa enggak sih?
