Jungkat

Produk JAGO, Penjualan LOYO? Ada apa TECNO? (YouTube Video)

  • 24/07/2026

Saya mau tanya satu hal dulu ya. Kalau sekarang saya sebut nama Tekno, apa yang pertama kali muncul di kepala kalian? HP murah, HP Cina atau enggak ada sama sekali? [tertawa] Nah, itu masalahnya. [musik] Karena di tangan saya sekarang ada HP seharga R jutaan yang hampir enggak ada yang ngomongin. [musik] Dan sebentar lagi kalian bakal ngerti kenapa itu sangat disayangkan. Saya mulai dari kamera ya, karena ini alasan utama kenapa si HP ini saya bikin kontennya. Techno Comon 50 Pro punya tiga kamera belakang ya. Kamera utamanya 50 megapel dengan sensor Sony LGT700C berukuran 1/1,56 inch. Dia juga punya [musik] OIS. Kamera keduanya adalah lensa ultrawide beresolusi 8 megap dan lensa telefoto 5 megap dengan tiga kali optical zoom. Di range harga 5 sampai R jutaan, telepoto optical itu langka ya. Kebanyakan brand lain di range harga segini tuh enggak punya telefoto sama sekali. Biasanya cuma punya sensor 2 megapel yang tugasnya cuma buat gimmik doang biar set kamera belakangnya kagak sepi-sepi amat gitu. Dalam kondisi terang, lensa utamanya bisa nangkap detail yang banyak. Warnanya punchy tapi enggak lebay. Tapi begitu ada langit atau sumber cahaya yang banyak di frame dan mic range-nya mulai ketahuan agak loyo gitu. Forground-nya itu gelap, langitnya kayak putih doang gitu. Terus lensa telefoto di HP ini yang justru lebih konsisten waktu ambil foto. Exposur-ya tajam dan skin tone-nya itu kelihatan natural tanpa over processing yang bikin muka kelihatan palsu. Udah muka jelek palsu pula. [tertawa] Jadi lensael foto tiga kali di HP ini tuh bagus menurut saya. Selain bisa nangkap foto yang bagus dia juga ngasih depal alias fotonya lebih lebih dramatis gitu. [musik] Terus kualitas foto dari lensa ultrawide-nya enggak bagus-bagus amat, tapi kepakai kok. Tapi dia juga punya masalah yang sama dengan lensa utamanya. Bahkan lebih parah. Hampir semua foto dengan langit di frame itu blown out gitu. [musik] Hilang semua itu awan. Distorsi barrelnya juga lumayan terkontrol tapi bagian pinggir foto kelihatan agak soft gitu. Masih kepakai kok, tapi kualitasnya ya gitu ala kadarnya. Untuk foto low light-nya, lensa utamanya cukup oke. Di ISO 1400-an pun detailnya masih kelihatan ya dan kameranya enggak maksain beratnya terlalu tinggi. Di lensa telennya dia mulai kewalahan di atas ISO 900 karena noise-nya mulai berhamburan gitu. Jadi sebaiknya hindari penggunaan digital zoom pas kondisi low light. Pasin aja cukup pakai zoom satu kali atau tiga kali aja gitu karena di atas itu hasilnya soft dan noise-nya sangat-sangat kelihatan kalau ini foto hasil upscaling white balance di kondisi loled sukses bikin kamera bingung dia kayak bingung buat mutusin apakah mau pakai ton warna yang warm atau yang cool gitu terutama di kondisi caha yang rada campur aduk gitu terakhir kamera depannya ini yang lumayan ngagetin menurut saya smoothing kulitnya itu enggak agresif ya di ICU 1100-an pun tekstur pori-pori kulit dan detail jenggot masih kelihatan jelas Enggak ada efek plastik yang biasanya jadi ciri khas HP Cina. Dan range-nya emang terbatas waktu backlight, tapi exposure ke muka sejauh ini sih menurut saya udah oke ya. Kesimpulannya, kamera di HP ini bagus. Sumpah saya enggak nyangka kalau foto dari HP ini sebagus ini. Ternyata apa yang dibilang mi kalau foto-foto dari HP ini itu bagus? Terbukti saya kasih 8/10 buat kamera di HP ini secara keseluruhan. Terus bagian lain gimana? Apakah menarik juga? Jawabannya adalah iya. Layarnya AMOLED 6,78 inch, resolusinya 1.5K, refresh rate-nya 144 Hz, bigat-nya 4.500 nit. Spek kayak gini tuh biasanya ada di HP 7 sampai R jutaan ya atau bahkan lebih gitu. Di luar ruangan layarnya masih kelihatan jelas loh. Pokoknya brightness-nya okelah. Terus untuk performanya dia pakai SOC Dimensity 7400 Ultimate. Buat Deliu sih lancar ya. Gaming juga bisa, tapi bukan jualan utama HP ini. Karena setelah 1 jam main game berat, mulai ada anget-anget di bagian body belakang gitu. Ingat, ini bukan HP gaming. Terus baterainya berukuran 6.500 mAh. Daya tahan baterainya sendiri menurut saya bagus ya. Saya pakai seharian foto browsing, scroll TikTok masih nyala sampai malam. Charger 45 watt-nya sudah include dalam paket penjualan dan dari 5% sampai penuh itu sekitar 1 jam lebih lah. Bu quality HP ini juga bagus banget menurut saya. Udah pakai kaca corning stick 2 di dua sisi. Dia juga punya sertifikasi IP68, IP69, IP69K plus mil std 810. Untuk HP R jutaan ini jauh lebih bagus dari ekspektasi saya. Lebih bagus dari HP-HP R jutaan atau bahkan 6 jutaan yang udah saya bahas sebelumnya. Edan sih [musik] ini tekno. Software-nya juga lumayan pakai Android 16, iOS 16. Visualnya itu lumayan enak dilihat gitu ya. sangat-sangat terinspirasi sama iOS sekali. Tapi ya udahlah ya gak mau ngeluh saya soal ini. Techno juga janjiin tiga kali update versi Android dan security patch sampai 5 tahun ke depan. Harga HP ini sendiri mulai R jutaan untuk varian yang paling rendah dan di harga segitu kalian dapat layar yang di atas rata-rata. Kamera dengan telepoto optical yang surprising leh bagus, baterai yang tahan seharian dan build quality yang bagus banget menurut saya. Kalau kalian lagi cari HP di range harga 5 sampai 6 jutaan, ini layak banget jadi pertimbangan ya. Bahkan menurut saya ini salah satu yang paling bagus yang bisa kalian beli. Tapi HP bagus bukan jaminan dia akan rak. Di bagian ini saya mau coba melakukan analisa. Ceritanya ini saya lagi sotoy aja ya [tertawa] biar keren gitu kayak Fer Irwandi. [terkesiap] Ada Irwan-Iwannya gitu loh. Anjay. Tchno itu sebenarnya bukan brand kecil ya. Mereka satu grup sama Infinix dan Itel. Ketiganya dimiliki perusahaan yang sama namanya Transion Holdings. Dan grup ini kalau dilihat dari data penjualannya sebenarnya gede banget di Indonesia. Di awal 2025 mereka ada di posisi kedua penjualan smartphone Indonesia ngalahin Samsung dan ngalahin Oppo. Tapi tunggu posisi kedua penjualan tapi nama tekno enggak ada di kepala orang Indonesia. Gimana bisa? Karena yang jualan banyak itu Infinix, bukan Techno. Dan bedanya bukan soal produk, ini soal [musik] siapa yang lebih kuat marketingnya. Coba perhatiin deh apa yang Infinix lakuin. [musik] Mereka jadi sponsor utama MPL dan MDL Indonesia, dua kompetisi Mobile Legends terbesar di [musik] Indonesia selama 2 tahun ke depan. Mereka bahkan bikin gelar khusus King Phoenix untuk tim juara. Hasilnya penjualan Infinix tumbuh 45% dalam setahun. 45%. Bandingin sama tehno. Saya cari dan enggak ketemu satupun gebrakan besar yang mereka lakuin di Indonesia. Dari satu perusahaan yang sama, satu brand bisa meledak, yang satu lagi hampir enggak kerasa eksistensinya gitu. Dan jujur ini agak ironis ya. Coba tanya ke orang di sekitar kalian. Mereka itu kalau milih HP berdasarkan apa? Jawabannya enggak jauh dari harga, kamera atau nama yang udah mereka kenal dan percaya. [musik] Tekno sebenarnya bersaing di dua poin pertama. Produknya ada, harganya masuk akal. Kameranya punya sesuatu yang kompetitor lain tuh enggak punya di harga segini. Tapi nama yang bisa dipercaya itu yang belum mereka bangun. Kalau kalian tanya orang di jalan gitu, "Teno itu HP apa sih?" Jawabannya hampir pasti HP murah atau HP China. Persepsi itu yang bikin orang bahkan enggak sampai ke tahap eh coba lihat dulu deh namanya udah keskip duluan di kepala sebelum produknya sempat dicoba dan yang bikin makin lucu saya yakin sebenarnya sadar soal ini. Pimpinan marketing global mereka pernah bilang ke media bahwa Indonesia adalah salah satu pasar terpenting mereka. Rencananya mereka akan mulai masuk ke budaya lokal bikin orang ngerasa brand ini relevan buat kehidupan mereka sehari-hari. Tapi yang benar-benar ngelakuin semua itu di Indonesia ya Infinix bukan Tekno. Oke, ini pendapat saya ya. Saya bukan orang marketing tapi sebagai orang yang suka ngoprek HP aja gitu. Ada berapa hal yang menurut saya harusnya bisa tekno lakuin. Pertama mereka butuh satu kalimat yang bisa orang ingat. Sekarang kalau ditanya tekno itu HP apa, enggak ada jawaban yang jelas gitu. Padahal 50 Pro itu punya sesuatu yang jelas banget bagusnya. kamera dengan zoom optikal di harga R5 juta. Menurut saya itu langka. Itu bisa dijual. Tekno kamera serius, harga enggak serius misalnya begitu. Gampang diingat dan bisa dibuktiin langsung. Kedua, mereka bisa masuk ke komunitas-komunitas. Infinix masuk ke dunia gaming, Samsung masuk ke lifestyle, Oppo ke K-pop dan Beauty, dan Vivo ke parasineas. Techno dengan Comon series harusnya masuk akal banget kalau mereka masuk ke dunia atau komunitas fotografi atau minimal bocah-bocah Genzi sampai Gen Alpha yang suka bikin konten lah sekarang. Tapi saya belum ngelihatno ngelakuin itu ya. Dan yang paling sederhana dari semuanya, kalau brandnya aja enggak mau vokal soal produknya, kenapa orang lain harus ngomongin? Techno Camon 50 Pro adalah HP yang bagus menurut saya. Bukan bagus untuk harganya, tapi memang bagus. dengan satu kelebihan yang HP lain di harga yang sama rata-rata enggak punya. Tapi bagus doang mah percuma kalau enggak ada yang tahu. Dan itu yang paling disayangkan menurut saya bukan produk yang jelek, tapi brandnya sendiri yang belum kelihatan kerja keras buat jualan. Marketingnya masih kalah kalau dibandingin sama Infinix. Kalau kalian lagi cari HP di range harga 5 sampai 6 jutaan dan belum pernah lirik Techno Camon 50 Pro, mungkin udah saatnya kalian harus coba. Gimana menurut kalian?

Lihat di YouTube