Jungkat

Rajanya Laptop Gaming? Super Kencang & Super Mewah: Review Acer Predator Helios 18 AI (2025) (YouTube Video)

  • 25/07/2025

Menurut Acer laptop gaming ini sudah seperti PC desktop. Buat performanya emang kencang banget karena ada diskrit grafis GeForce RTX 5090 laptop GPU di dalamnya. Presornya juga enggak main-main karena punya 24 core. Jadi enteng buat multitasking yang berat-berat. Slot RAM-nya ada 4 udah seperti PC desktop dan bisa kita upgrade hingga 192 GB. Slot SSD M.2-nya ada tiga, udah seperti di PC desktop. Ukuran layarnya juga besar 18 inci dengan panel 4K 120 Hz mini LED 100% DC IP3. Jadi cocok buat main game triple A atau editing yang serius banget ya. Laptop gaming super ini adalah Acer Predator Helios 18 AI keluaran 2025. Dengan spesifikasi setinggi ini, bisa dibilang laptop gaming yang satu ini masuk dalam kategori desktop replacement alias pengganti PC desktop. Tapi tenang, ukuran dan bobot laptop gaming ini tetap lebih ringan dibandingkan PC desktop utuh lengkap dengan monitornya. Jadi laptop gaming 1 ini cocok untuk mereka yang membutuhkan alat kerja dengan performa seperti PC desktop tapi masih relatif mudah dibawa-bawa ke mana-mana. Oke, kita langsung mulai pembahasannya dari spesifikasi utamanya. Untuk disket GPU-nya dipakai Nvidia GeForce RTX 5090 laptop GPU dengan kapasitas VAM 24 GB GDDR7. Ya, ini GPU laptop paling kencang dari Nvidia untuk saat ini dengan basis arsitektur blackwell. GPU laptop ini dilengkapi dengan 10.496 kuda course dengan fourth generation ray tracing course dan fifth generation tensor course. Dengan adanya artic course, kita jadi bisa pakai fitur ray racing di dalam game tanpa membuat frame rate jadi patah-patah. Nah, rate racing sendiri sebetulnya menyimulasikan pencahayaan seperti di dunia nyata. Jadi, tampilan grafis game lebih realistis. Salah satunya bisa dilihat pada game HalfLife 2 yang pakai mod RTX ya. Nah, dengan mod tersebut, game keluaran tahun 2004 tersebut tampilannya kini jauh lebih realistis. Nih lihat ya perbedaannya saat fitur RTX-nya aktif dan tidak aktif. Nah, beda banget kan? kan. Nah, sementara tensor core terbaru itu membuat kemampuan AI dari RTX 5090 laptop ini meningkat jauh hingga 1824 tops. Jauh lebih tinggi dibandingkan RTS 4090 laptop yang hanya 686 tops. Dengan kemampuan ES tinggi itu, GPU ini bisa melipat gandakan frame rate lebih tinggi lagi saat main game dengan fitur DLSS 4 multiame generation. Nah, berbeda dengan frame generation sebelumnya yang hanya memproduksi satu frame tambahan, multi frame generation akan memproduksi hingga 3 frame tambahan untuk setiap frame yang di-render. Jadi, game triple A berat bisa dimainkan dengan frame ratusan FPS bahkan dengan setting kualitas tinggi saat multifame generation diaktifkan. Nah, sebagai pelengkap fitur multif frame generation adalah fitur Nvidia Reflex yang bisa menurunkan tingkat input latensi saat memainkan game. Jadi, saat gamer menekan tombol untuk menembak, game akan lebih cepat merespon input tersebut dibandingkan kalau tidak mengaktifkan fitur Nvidia Reflex. Buat pemain game kompetitif, fitur Nvidia Reflex harusnya bisa membantu kita menembak lebih cepat dan lebih akurat. Nah, untuk gamer yang melakukan streaming atau merekam gameplay mereka, kemampuan encoder AV1 di GPOS RTX 50 series kini juga ditingkatkan. Jadi, kontes gambarnya lebih baik dibandingkan sebelumnya. Bahkan sekarang ada mode AV1 ultra high quality agar kualitasnya bisa lebih baik lagi. Kodex F1 sendiri diklaim menawarkan kualitas gambar yang lebih baik dibandingkan H264 dengan bit rate yang sama. Jadi tentunya enggak makan banyak bandwid internet ya saat lagi streaming. Tentunya kemampuan RTS 50 series ini juga ditunjang aplikasi Nvidia App ya, penerus dari GeForce Experience. Dengan Nvidia App, kita bisa dengan mudah meng-update driver ke versi terbaru atau berpindah dari game Ready Driver ke studio driver untuk content creation. Kita juga bisa mengaplikasikan setting game yang direkomendasikan oleh Nvidia sesuai dengan tipe GPU kita. Jadi, frame rate-nya enggak patah-patah, udah pasti aja udah presisi gitu ya. Bahkan kita juga bisa memaksa game tertentu agar bisa menggunakan fitur dari DLSS4 yang terbaru. Kita juga bisa mengaktifkan fitur RTX video enhancement yang bisa melakukan upscale video resolusi rendah ke resolusi yang lebih tinggi. Nah, enggak ketinggalan, kita juga bisa mengaktifkan fitur Nvidia overlay untuk merekam sesi permainan kita, baik dalam bentuk video ataupun screenshot. Selain itu, Nvidia Overlay bisa kita gunakan pula untuk menampilkan informasi tingkat frame rate, latensi, dan juga utilisasi CPU serta GPU saat kita bermain game. Bahkan ada juga fitur automatic tuning yang secara otomatis mencari setting clock terbaik untuk GPU yang kita gunakan. Nah, RTX 5090 di laptop gaming ini memiliki nilai maksimum di GP di 175 wat. ini lebih tinggi dibandingkan standar Nvidia di 150 watt. Di laptop ini kita juga bisa mengatur apakah GPU tersebut aktif terus-menerus bergantian dengan integrated graphics atau hanya integrated graphics-nya aja yang aktif. Nah, lalu untuk prosesor dia menggunakan Core Ultra 9 275 HX. Ini punya 24 core dan 24 trad ya. Untuk integrated graphics, dia punya Intel Graphics NPU dia pakai Intel AI boost atau memori atau RAM-nya. Nah, ini langsung 64 GB DDR5 dual channel 128 bit. Laptop gaming ini sebenarnya menggunakan keping RAM yang kecepatannya 5.600 MHz. Akan tapi karena unit yang kami uji menggunakan konfigurasi 4 keping RAM, kecepatannya menjadi 4.400 MHz. Ini memang wajar terjadi di laptop kalau kita pakai empat keping RAM. Langka sekali ya 4 keping RAM ya. Jadi kalau kalian mau menggunakan kecepatan 5600 MHz, sebaiknya hanya gunakan dua keping RAM saja. Menurut Acer RAM-nya masih bisa kita upgrade hingga 192 GB. Uniknya, pada paket penjualan disartakan memori thermal pad upgrade kit yang berisikan sejumlah thermal pad dan thermal sheet untuk keping RAM-nya. Nah, untuk storage unit yang kami uji menggunakan 1 TB SSD M.2 NVM PCI Gen 5x4 dan 1 TB SSD M2 NVMi PCI Gen 4x4 ya. Kapasitas totalnya jadi 2 TB. Masih kurang tenang masih ada satu slot M2 yang kosong. Jadi kita bisa pasang total 3 SSD di sini seperti di PC desktop aja tuh ya. Nah, untuk slot M.2 SSD PCI Gen 5-nya ini dilengkapi dengan lempengan heating pendingin agar suhu kerjanya terjaga ya. Lanjut untuk wireless connectivity-nya dia menggunakan modul killer yang mendukung Wii 7 gigabit Wii dan Bluetooth versi 5.4. Untuk kapasitas baterainya ini mentok ya di 99 wat hour. Ini adalah kapasitas baterai terbesar untuk laptop yang masih bisa diizinkan untuk masuk dalam kabin pesawat. Untuk operating sistem dia menggunakan Windows 11 24 H2. Nah, body factory tentunya clam shell ya. Materialnya adalah aluminium dan warnanya adalah abisel black. Untuk desain penampilan laptop game ini memang terasa gaming sekali ya. Apalagi kalau melihat ornamen lampu RGB-nya yang menghias hampir sekujur body bahkan sampai area pamres yang kanan pula ya. Tapi tenang, kalau kita matikan lampu RGB-nya, penampilan laptop gaming ini langsung berubah jadi profesional seperti laptop workstation. Securan, laptop gaming ini punya penampilan yang gagah dan garang. Untuk dimensinya panjang 40 cm, lebar 30,7 cm, dan ketebalan di 2,95 cm. Sementara untuk bobotnya laptopnya aja di 3,46 kg. Ini tergolong berat ya. Tapi memang wajar untuk sebuah laptop gaming yang layarnya itu 18 inci. Ini bukan 16 ya. Untuk charger bobotnya adalah 1 kg. Ya memang berat, tapi wajar lagi-lagi karena ini charger 400 watt. Ini bukan charger yang 300-an watt. Total bobotnya kalau dibawa-bawa menjadi 4,47 kg. Untuk display ini adalah layar ukuran 18 inci. Ini ukuran layar terbesar saat ini untuk sebuah laptop gaming di tahun 2025. Untuk resolusinya adalah 3840 * 2400 piksel dengan aspek rasio di 16 b. Menariknya, laptop gaming ini punya fitur dual mode seperti monitor gaming. Jadi, kita bisa memilih antara mode 4K 120 Hz atau full HD tapi 240 Hz. Mode 4K 120 akan cocok untuk e content creation. Sementara mode Full HD 240 Hz akan cocok untuk yang main game kompetitif. Nah, kita bisa mengubah mode tersebut di aplikasi Predator Sense. Tapi sayangnya kita perlu mer-restart laptop untuk berpindah antara kedua mode yang tadi. Nah, kami juga menemukan kalau kita menggunakan mode full HD 240 Hz, kita tidak bisa mengubah resolusi ke 4K dan refresh rate ke 120 Hz melalui menu Windows. Sementara saat menggunakan mode 4K 120 Hz, kita memang bisa turun resolusi tapi tidak bisa mengubah refresh rate ke 240 Hz tanpa me-restart laptopnya tentunya. Nah, layar ini punya response time 3 ms dan mendukung fitur Nvidia GS. Panelnya IPS dengan mini LED untuk backlight-nya. Menurut Acer, tingkat kecerahan maksimumnya ada di 600 nits di mode SDR dan 1000 nits di mode HDR dengan ke gambut 100% dp3. Oke, kalau kami ukur dengan alat kami hasilnya kita dapat 972 nits di mode SDR dan 1221 nit di mode HDR. Ternyata Acer berbohong ya. Ini jauh di atas klaimnya. Ini sih terang banget mode SDR-nya ya. Gambut coverage-nya ada di 99,8% DC IP3 dengan gambut volume di 112,6% DC IP3. Kalau seperti ini sih cocok banget dipakai buat editing atau desain yang butuh akurasi warna tinggi. Dia juga punya sertifikasi display HDR 1000 atau 1000 ya. Jadi mantap buat streaming film atau main game di mode HDR. Layar tersebut juga punya fitur Acer convi view. Jadi permukaan layarnya minim pantulan-pantulan bayangan yang bisa mengganggu kenyamanan saat pemakaian. Bingkai layar juga sudah menggunakan desain yang tipis empat sisinya jadi terasa lapang dan kekinian. Oke, untuk kamera mikrofonnya, laptop gaming ini dilengkapi dengan kamera 1080p 30 fps. Kamera ini sebenarnya sudah mendukung fitur Windows Studio Effect. Tapi di laptop gaming ini kan ada GPU Nvidia-nya. Jadi kita bisa menginstal aplikasi Nvidia Broadcast biar fiturnya jadi lebih canggih lagi. Beberapa fiturnya seperti background blur, background remove, background replace, auto frame, eye contact, vinyet, dan video noise removal. Menariknya di NVID Pro terbaru ada fitur Virtual Key Lights yang akan membuat tampilan kita di kamera terlihat lebih terang seolah-olah disorot lampu tambahan. Oke, kita lihat deh bedanya ya. Nah, seperti ini nih antara dimatikan dan kalau dinyalakan. Perlu diperhatikan, virtual keys akan membuat GPU bekerja dengan load yang sangat tinggi. Jadi, disarkan digunakan untuk aktivitas non gaming. Tentunya Nvidia Broadcast juga punya sejumlah fitur untuk mikrofon seperti noise removal, room echo removal, dan yang terbaru Studio Voice. Saat Studio Voice diaktifkan, kualitas perekaman mikrofon laptop diklaim bisa mendekati kualitas perekaman di studio kelas atas. Studio Voice juga membuat GP bekerja dengan load yang sangat tinggi ya. Jadi lebih disarankan digunakan untuk aktivitas non gaming. Nah, mau dengar contohnya nih seperti ini nih hasilnya nih ya. Ini adalah hasil rekaman mikrofon laptop Predator Helios 18 AI tanpa menghidupkan fitur Nvidia Studio Voice. Nah, kalau ini hasil rekaman mikrofon laptop Predator Helios 18A dengan menghidupkan fitur Nvidia Studio Voice. Oke, untuk mikrofon laptop gaming ini dilengkapi dengan tiga buah mikrofon yang sudah mendukung fitur Acer Purified Voice 2.0. Dua mikrofon ada di sebelah kanan dan kiri kamera seperti biasanya. Sementara mikrofon ketiga ada pada sisi pinggir depan body laptop yang paling dekat dengan tubuh pengguna. Kualitas kamera di laptop gaming ini bisa dibilang ya sebetulnya sih biasa aja sih ya. Tapi kalau hanya digunakan untuk video call atau online meeting harusnya enggak jadi masalah sih. Nah, kalau kita mau pakai untuk streaming sebaiknya sih pakai kamera tambahan yang lebih baik lagi kualitasnya. Toah fitur-fitur tadi juga jalan kok dengan kamera tambahan. Nah, untuk mikrofon suara kami ternyata bisa ditangkap dengan jelas hanya saja terdengar sedikit mendem aja gitu ya. Tapi hebatnya mikrofon ini juga mampu menghilangkan sepenuhnya suara bising yang kami perdengarkan saat fitur noise cancellation diaktifkan. Jadi ya lumayan mantaplah mikrofonnya ya. Jadi seperti inilah kemampuan kamera dan mikrofon laptop Acer Predator Helios 18 AI yang satu ini. Jadi gimana nih kemampuan kamera dan mikrofonnya? Oke atau enggak ya? Jadi seperti inilah kemampuan noise cancellation laptop gaming Acer Predator yang satu ini. Jadi gimana nih suara bising dari kecepatan kipas 100%-nya? Apakah masih masuk ke mikrofon atau enggak? Nah, untuk audio laptop gaming ini dilengkapi dengan bukan dua dan bukan empat tapi enam buah speaker dengan lubang keluaran suara berada di bagian bawah laptop. Kita bisa mengatur profil dan equalizer suaranya melalui aplikasi DTSX Ultra. Enam buah speaker ini memang membuat laptop game ini jadi punya suara yang lantang banget ya. Tapi sayangnya untuk kontes suaranya ternyata masih berada di bawah harapan kami. Meskipun enggak bisa dibilang yang ya jelek-jelek banget juga sih. Seharusnya sih ini bukan menjadi masalah karena biasanya gamer akan menggunakan headset gaming yang kontesornya lebih baik pada saat kita lagi bermain game. Nah, untuk konektor di sebelah kiri ada satu 2,5 GBPS Ethernet, ada satu USB 3.2 gen ada SD card leader, ada 1 3,5 mm audio combo jack, lalu untuk sebelah kanan ada dua USB 3.2 Gen 2 dan Kensington lock slot. Di bagian belakang ada satu DC, ada 1 HDMI 2.1, dan ada dua Thunderboard 5 ya 5 yang mendukung transfer data hingga kecepatan 120 Gbps, power delivery hingga 240 watt, display output dan perangkat-perangkat Thunderbolt. Oke, kita pindah ke-nya. Bentuk dan tata letak tombol di laptop gaming ini bisa dibilang enggak berbeda dengan Predator Helios 18 sebelumnya. Hanya saja untuk tombol WASD dan anak panahnya kini di-upgrade dari MAC Q 3.0 menjadi MAC Key 4.0. Berbeda dengan tombol lainnya, 8 tombol MacY tersebut menggunakan mechanical switch dengan jarak aktuasi hanya 0,3 mm. Jadi sangat responsif saat digunakan bermain game. Sementara untuk tombolannya ini punya travel distance di 2 mm. Jadi terasa sangat dalam saat ditekan. Menariknya, kita bisa mengganti key cap bawaan dari tombol Mac Key ini dengan key capus yang lebih tebal. Tenang, key capusnya disertakan kalau kita beli, ya. Nah, keyboardnya juga dilengkapi dengan backlit pergi RGB. Jadi, warna setiap tombolnya bisa dibuat berbeda satu dengan yang lainnya. Untuk kecerahannya, ini punya empat tingkat yang dapat diatur dengan menggunakan tombol function plus F11 dan function plus F12. Kita juga bisa mengatur tingkat kecerahan dan efek lampu di aplikasi Predator Sense. Oke, untuk touchpad-nya ini areanya punya ukuran 15,1 * 9,1 cm ya. Lumayan lebar nih, ya. Dan posisinya memang tidak sejajar dengan tombol space bar. Dengan posisi seperti itu memang ada sebagian kecil dari telapak tangan kanan yang bisa masuk ke area touchpad saat sedang mengetik. Tapi hal ini sepertinya bukan jadi masalah karena ada fitur palm rejection. Jadi kursor mouse itu enggak gerak-gerak pada saat touchpad tersentuh telapak tangan kita. Menariknya, permukaan touchpad ini menggunakan material Corning Gorilla Glass yang membuat jari kami dapat bergerak dengan mulus dan lancar. Dan tentunya ini lumayan tahan baretan, ya. Lalu tombol klik kiri dan klik kanan juga terasa empuk saat ditekan dan nyaris tidak menghasilkan bunyi. Lanjut ke cooling systemnya. Laptop ini menggunakan sistem pendingin dengan kipas six gen Aeroblade 3D fan. Sistem pendingan tersebut dilengkapi dengan en buah heat pipe dan dua buah kipas terbuat dari logam. Masing-masing kipas kini dilengkapi dengan 100 buah bilah dengan ketebalan masing-masing hanya 0,05 mm. Kipas ini juga diklaim punya tingkat airflow 10% lebih tinggi dibandingkan pendahulunya. Sementara untuk lubang ventilasi pembangan udara ada empat titik ya. Satu ke kiri, satu ke kanan, dan dua ke arah belakang. Oke, kita sekarang masuk ke aspek performanya. Laptop game ini dilengkapi dengan empat profil performa yaitu quiet, balance, performance, dan turbo. Kita bisa mengubah profil tersebut melalui aplikasi Predator Sense atau dengan menekan tombol khusus di dekat exel kiri layar. Setelah itu disediakan pengaturan kecepatan kipas dengan pilihan auto maksimum dan custom. Untuk semua pengujian kali ini kita akan menggunakan kecepatan kipas maksimum ya. Oke, sekarang kita coba langsung pakai CBZ R23. Dalam stability tes selama 30 menit, skor tertinggi yang dapat dicapai adalah 36.797 poin di mode balance dan 39.108 poin di mode turbo. Sementara skor yang dapat dipertahankan adalah 34.000 sampai 34.200 poin di mode balance dan 38.001 hingga 38.200 1200 poin di mode turbo. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat menjalankan CB R23 stabilitas selama setengah jam di mode balance supressor terlihat dapat dijaga di bawah 90 derajat Celcius. Meskipun sekali ada lompatan sedikit di atas 90 derajat Celcius, tapi cuma sekali-sekali doang. Sementara di mode turbo, supressor itu tampak berada di kisaran 104 sampai 105 derajat celcius selama pengujian berlangsung. Ternyata tinggi juga ya suhunya di mode turbo ya. Tapi kan kita enggak pakai aplikasi Snbch buat aktivitas sehari-hari. Nanti kita coba lihat bagaimana suhunya kalau kita pakai aplikasi real world-nya. Oke, sekarang kita lihat aja Blender 4.3.2 dengan barber shop scene ini yang berat banget ya dengan CPU rendering ini dalam waktu 12 menit 9 detik. Sementara kalau kita pakai GPU Ring dengan Nvidia kuda selesai semuanya dalam waktu 1 menit 13 detik. Nah, kalau kita pakai GP Randernya dengan Nvidia Optics ini saya dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi di 47 detik saja. Oke, kita lihat suhu kerjanya pada saat melakukan GPR dengan Nvidia yang kuda tadi ya. Di sini terlihat bahwa suhu supressor dan GP Nvidia dapat dijaga di bawah 70 derajat celcius. Tuh kan aman suhunya ya padahal udah digenjot gila-gilaan tadi. Lanjut untuk Adobe Premiier Pro 2025 kita pakai video 4K60 yang 2 menit 7 detik ya. Untuk pakai software Oni semua selesai dalam waktu 3 menit 49 detik. Kalau kita pakai Nvidia kuda ini selesai dalam waktu yang kencang banget sih cuma 52 detik saja ya. 50 detik untuk sebuah video 4K60 yang 2 menit 7 detik. Ini kencang banget. Kalau videonya full HD 2 menit 7 detik dengan software only saya dalam waktu 47 detik. Kalau pakai Nvidia kuda saya dalam waktu hanya 16 detik saja. Oke, sekarang kita lihat suhu kerjanya. Pada saat melakukan 4K video export dengan kuda. Lagi-lagi suprosor dan GPU Nvidia dapat dijaga di bawah 70 derajat celcius. Oke, sekarang kita coba pakai Da Vinci Resolve 19.1 software video editing kelas profesional. Tapi ini versi gratisnya. Untuk video 4K 60 2 menit 7 detik. Selesai dalam waktu 1 menit 42 detik. Wah, ini kencang banget ya. Kalau videonya full HD 60 fps 2 menit ke detik ST dalam waktu hanya 27 detik saja. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat melakukan 4K video exporting yang tadi surat rata prosesor dan GPND terlihat masih berada di bawah 90 derajat Celcius walaupun ada dua kayu lompatan di atas 90 derajat celcius. Nah, kenapa enggak kita coba juga kalau pakai CapCut ya? Kalau videonya 4K 60 2 menit 7 detik selesai dalam waktu hanya 21 detik saja. Kalau videonya full HD 60 fps 2 menit 7 detik saya hanya dalam waktu 14 detik saja. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat melakukan 4K video export, suprosor dan GPND dapat dijaga di bawah 80 derajat Celcius. Oke, kita lanjut ke handbreak. Di sini kami melakukan konversi video 4K 60 2 menit 7 detik ke full HD dengan kodex AV1 tanpa akselerasi sesai dalam waktu 1 menit 44 detik. Wah, ini monster banget ya. Kalau kita pakai akselerasi NV Encoder sesuai dalam waktu 1 menit 5 detik saja. Kencang. Untuk syukurnya pada saat konversi dengan NV Encoder kita lihat bahwa suat rata prosesor bergerak di antara rentang 90 sampai 105 derajat Celcius. Sementara untuk GPU Nvidia-nya masih ada di bawah 60 derajat celcius. Ya, aplikasi yang satu ini memang cenderung membebani sisi prosesor. Jadi wajar kalau suhunya seperti itu. Oke, kita lanjut ke UL Prosion. Benchmark ini menguji performa AI dari RTX 5090 laptop dalam menghasilkan gambar dari input tex atau prom dengan menggunakan stable diffusion. Di stable Division 1.5 GPU membutuhkan waktu sekitar 1,7 detik saja untuk menghasilkan gambar 512 * 512 piksels. Sementara untuk stable Division XL GP membutuhkan waktu sekitar 12 detik untuk menghasilkan gambar 1024 * 1024 piksel. Ini berarti kita bisa dengan mudah menciptakan gambar yang kita inginkan hanya dalam hitungan detik dan offline ya. Oke, langsung kita coba aja nih dengan aplikasi Easy Diffusion. Pertama-tama kita masukkan prom untuk gambar yang mau diciptakan di kolom yang disediakan. Lalu kita klik tombol make image dan gambar yang diinginkan itu muncul hanya dalam hitungan detik saja di sini ya. Luar biasa. Oke, selanjutnya mari kita uji monster yang satu ini kalau main game. Hasilnya adalah seperti ini. [Musik] Oke, untuk game yang terakhir ini Assassin's Creed Mirage ya. Suhu kerjanya selama setengah jam. Kita lihat supressor bergerak di rentang 85 sampai 105 derajat Celcius. Itu berarti pas sampai ke limit ya. Sementara SU GPN videonya berada di bawah 80 derajat celcius. Tapi tenang, suhu seperti ini kan kalau pakai mode turbo aja. Kalau kita pakai mode balance suhu prosesornya turun ya dan GPU Nvidia juga suhunya turun. Lihat dong aman kan kalau kayak begini. Lanjut untuk suhu permukaan body setelah setengah jam memainkan Assassin's Creed Mirage untuk keyboard area paling panas kami temukan di tombol huruf J dengan suhu berkisar 40 sampai 41 derajat Celcius. Sementara untuk area WASD ini aman di bawah 35 derajat Celcius. Untuk area sebelah atas keyboard, suhu tertingginya ada di kisaran 52 sampai 53 derajat celcius. Tapi tenang, kalau palm rest suhunya itu aman di bawah 35 derajat celcius. Oke, sekarang kita coba kecepatan storage-nya dengan kristal diesma. Kita dapatkan kalau kita tes SSD PC Gen 5-nya, kecepatan bacanya ada di wah bukan 7.000, 10.389 MB/nya di 64.042 1042 MB/ Gen 5. Nih kalau kita uji SSD yang PCI Gen 4, kita lihat bah kecepatan bacanya ada di 4.97 MB/ dan kecepatan tulisnya ada di 4.480 MB/. Sayangnya ya kecepatan tulis dari SSD PC Gen 5-nya itu masih seperti SSD PC Gen 4 ya. Meskipun sebenarnya kecepatan dari 6000 MB/s tuh bisa dibilang sangat tinggi sih. Oke ini kan laptop jadi kita tetap harus uji daya tahan baterainya. Kita menggunakan beratnya 150 Nitz dengan volume suara di 25% dan modenya dari mode balance. Untuk 1080p local video playback. Kalau GP Nvid-nya aktif terus-menerus, baterai habis di 2 jam 55 menit kalau kita pakai mode 4K 120 Hz. Dan kalau kita pakai mode Full HD 240 Hz, baterai habis dalam waktu 2 jam 41 menit. Nah, kalau GPU Nvidia dan integrated graphics-nya aktif ya di mode 4K 120 Hz baterai bertahan di 5 jam 36 menit. Sementara untuk Full HD 240 Hz, baterai bertahan di 5 jam 34 menit. ya dengan spesifikasi CPU dan GPU setinggi ini rasanya memang wajar ya kalau daya tahan baterainya memang gak tinggi-tinggi amat ya. Nah, untuk charging kita lihat 30 menit pertama baterai terisi di 36% sementara dari kosong sampai penuh butuh waktu 2 jam 14 menit. Mengingat baterainya adalah baterai 99 wat hour, ini masih tergolong sangat-sangat normal. Oke, untuk harganya laptop monster yang satu ini harganya ada di Rp89.999.000. Selanjutnya tersisa juga varian yang pakai RTX 5080 laptop yang harganya ada di Rp79.999.000. Nah, untuk bonus sebelum ini kita akan mendapatkan Microsoft Office Home 2024 yang aktif selamanya ya dan masih ada langganan Microsoft 365 selama 1 tahun penuh. Menarikan lagi setelah masa preorder pembeli Predator Helios 18 AI juga akan mendapatkan handheld gaming PC Acer Nitro Blaze 7 senilai Rp1.999.000. Ya, luar biasa ya beli PC berhadiah PC. Lalu ada Predator Backpack senilai Rp1,5 juta dan garansinya adalah garansi 3 tahun yang sudah mencakup 3 tahun services, 3 tahun spare parts, dan 1 tahun AADP atau Acercidental damage protection. Nah, untuk ADP ini akan memberikan jaminan perlindungan untuk kerusakan yang diakibatkan oleh kelalaian pengguna. AADP dapat digunakan satu kali di tahun pertama pembelian. Oke, kita masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. pertama bodinya tentunya ini besar dan berat ini mungkin kurang cocok untuk kaum road warrior yang butuhnya laptop kecil dan ringan tapi kalau memang butuhnya laptop yang mudah dibabak tapi performanya seperti PC desktop yang monster rasanya ukuran body dan bobot seberat itu masih bisa dimaklumi. Ya jelas ya kalau kita bandingkan sama PC desktop ya laptop game ini jauh lebih mudah dibawa-bawa ya. Kemudian yang satu ini jelas akan kurang cocok untuk kau mendang-mending ya. Ya enggak mungkin dong laptop gaming pakai RTX 5090 harganya cuma belasan juta doang. Enggak mungkin ya. Wajar dong dengan spek seperti ini harganya bukan harga yang rendah ya. Kemudian untuk supressor ini agak tinggi kalau kita pakai mode turbo. Untungnya kita kan bisa pakai profil performa yang lebih rendah. Tapi memang kalau mau pakai mode turbo pastikan aja ruangannya berac ya. Lalu daya tahan baterainya ini agak kurang cocok ya untuk aktivitas mobile tanpa bawa charger. Jadi harus selalu dibawa chargernya. Kemudian untuk harga yang tawarkan, kualitas suara speakernya masih berada di bawah harapan kami. Nah, dari si menariknya ini performanya super kencang. Ini benar-benar seperti PC desktop sih ya. Lalu kemampuan upgrade-nya juga seperti PC desktop. Bisa pasang empat keping RAM dan bisa pasang tiga keping SSD. Kemudian untuk yang satu ini udah pakai RTX 5090. Siap buat gaming di resolusi 4K. Enten buat editing video 4K60 atau rendering 3D. Bahkan 8K juga harusnya masih bisa nih ya. Lalu dia udah siap jalan aplikasi yang memakai tensor core juga. Lalu untuk prosesornya udah langsung 24 core. Ini enteng buat multitasking, enteng buat jalan aplikasi berat. Dan yang satu ini siap jalanin aplikasi yang butuh penggunaan NPU. Nah, lalu suhu kerja relatif aman kalau kita pakai mode balance. Lalu kapasitas RAM-nya masif nih, bawaannya aja udah 64 GB. SSD pun langsung 2 TB. Layar juga super mewah untuk gaming ataupun editing. Konektornya juga lengkap, ada Thunderbolt 5-nya. Lalu backlit keyboard-nya tentunya sudah langsung pergi RGB. Wi-nya di Wii 7 dan ada garansi untuk kelalaian pengguna. Jadi pertanyaannya, Acer Predator Helios 18AI ini cocoknya buat siapa sih? Nah, yang satu ini harusnya cocok buat yang kerjaannya butuh komputer super kencang yang bisa dibawa dan dipakai di mana saja bahkan ke kafe sekalipun. buat presentasi desain 3D atau video 4K60 depan klien pastinya ini oke banget ya. Kita enggak perlu presentasi hasil rendernya, langsung aja presentasi di laptop ini pakai aplikasinya. Jadi kita bisa edit langsung di depan klien kita ya. Nah, buat yang kerjanya editing video pasti juga mantap ya. Apalagi kalau cuma resolusi 4K60 ah keentengan ya. Bahkan mau editing video AV1 juga bisa kan GP-nya punya encoder video AV1. Mau editing video kelas profesional dengan color format 422 bisa juga. Buat yang kerjaan butuh AI harusnya juga bisa nih asalkan aplikasinya memang mendukung si RTX 5090. Buat gamer pastinya di laptop gaming yang kalian impikan karena baik game triple A maupun game kompetitif bisa dimainkan dengan mulus dan lancar bahkan di resolusi 4K sekalipun. Jadi kalau Dana bukan menjadi masalah, Acer Predator Helios 18 AI ini adalah salah satu pilihan laptop gaming kelas atas banget yang layak dipertimbangkan. Saya Didi Irfan Jaka Rib TV.

Lihat di YouTube