Rasanya pake laptop "klasik" ditahun 2025.. (YouTube Video)
Sebelumnya gua udah pernah ng-review Asus Vivobook 14 yang pakai Snapdragon X series yang punya baterai itu super badak tahan seharian. Tapi kayaknya banyak pencita gadget yang masih pengen e pakai laptop berbasis Intel. Jadi yang sekarang gua bakal review saudaranya nih yang pakai prosesor Intel dan ini adalah Vivobook 14X1404 VAP. Secara desain ini lebih mirip dengan Vivobook dari 2 sampai 3 tahun yang lalu ya. Tulisan Asus Vivobook di back dooror-nya ini masih ada di dalam kotak yang terbelah jadi trapesium. Yang gua lagi review ini warnanya terraakota. Jujur gua suka banget sama warna ini. Kalem tapi dia punya kesan premium juga. Ukurannya juga lumayan kompact. Dia punya panjang 32,49 cm, lebarnya 21,39 cm, dan tebalnya 1,79 cm. Bobotnya masih terbilang lumayan ringan, 1,4 kg. Dan karena ini sebuah laptop dari Asus, build quality-nya terasa seperti biasa ya, solid rapi. Laptop ini juga tersertifikasi standar militer 810H. Nah, waktu kita buka layarnya, Excelnya juga terasa berat dan sangat solid. Untuk layarnya sendiri bisa direbahin sampai dengan 180 derajat. Untuk area pam-nya juga cukup nyaman walaupun memang size-nya itu enggak begitu gede. Yes, laptop ini punya lebar yang cukup terbilang minimalis. Nah, kalau kita lihat sekeliling bodinya di sebelah kiri dia ada USB A 2.0 sama LED kecil untuk indikator baterainya. Di sebelah kanan ada port charging, ada 2 USB A 3.2 gen 1, ada 1 USB C 3.2 gen 1 dan 3,5 mm combo jack audio. Yes, berbeda dari saudaranya yang port charging-nya udah pakai type C di sini dia masih pakai model lama, masih pakai pin. Nah, laptop ini dia masih gampang buat dibawa ke mana-mana karena kan ukurannya kompact ya, jadi gampang buat ditenteng pakai satu tangan. bodinya dia punya fitur Asus antirobial guard plus yang diklaim bisa tahan virus dan bakteri sampai dengan 3 tahun atau bahkan lebih. Nah, untuk jeroannya dia pakai Intel Core 520 U yang punya konfigurasi 10 core dengan 12 thre dengan pick clock speed-nya ada di 5 GHz ditandemin sama Intel Graphic. RAM-nya 8 GB DDR4 on board. Yang ini storage-nya ada di 1 TB PCI 4 SSD. WiFi 6 dengan Bluetooth 5.3 dan secara default laptop ini sudah terpasang Windows 11 yang home edition. Gua cobain beberapa benchmark. Yang pertama di Geekbench 6 berhasil dapetin skor 2.326 single core dan 5.033 untuk multiore. Kemudian di GPU benchmark dengan API Open CL skornya 8.886 dan untuk API full di 11.475 75 poin. Kemudian di PC Max 10 overall skornya di 4.75 dan dua skor paling tingginya ada di essential dan productivity. Yes, laptop ini memang didesain untuk kerja atau buat sekolah ataupun kuliah. Nah, untuk gambaran bisa apa enggak dipakai buat main game, gua juga coba benchmark pakai 3D Mark Spy. Di sini overall skornya kecil 925 poin dengan graphic skor 817 dan CPU score 3.699. Dan dari sini kelihatan memang laptop ini bukan untuk bermain game. Sebelum kita bahas performanya buat dipakai kerja, kita sedikit bahas layarnya. Dia pakai panel IPS 14 inch full HD. Rasio layarnya 16 b 9, 40% NTSC color gamut. Refresh rate-nya masih 60 Hz aja. Pick brightness-nya di 250 nits aja. Layarnya dia punya bezel yang ini masih cukup tebal ya buat ukuran layar laptop di 2025. Baselnya ini juga warnanya hitam. Jadi akan terlihat kontras banget sama body laptopnya. Dengan harganya ini Rp8 jutaan kurang lebih kualitas layarnya udah oke, terasa cukup tajam, warnanya juga cukup enak, saturasi dan ee vibrannya juga masih dapat. Layarnya memang belum support HDR di YouTube ataupun di Netflix. Nah, untuk speakernya ada di level yang cukup aja, kelantangannya cukup, kualitasnya ya ada di level yang cukup juga. buat harganya yang sekali lagi kurang lebih R jutaan, laptop ini udah bisa ngasih experience yang termasuk overall oke buat kita pakai nonton ataupun dengerin lagu ya intinya buat multimedia. Nah, menurut gua ini laptop memang sesuai peruntukannya enak pakai buat kerja. Touchpad-nya ukurannya pas, enggak gede tapi ya enggak kecil-kecil banget. Dan touchpad-nya ini cukup enak buat e dipakai sehari-hari. Akurasinya mantap, tombolnya juga clicky banget. Di bagian kanan atasnya ini ada sensor fingerprint ya. Gokil ya. Jadi kita bisa unlock laptop ini dengan menggunakan fingerprint walaupun kecil sensornya. Keyboard-nya udah pakai Asus Ergoens keyboard yang gua juga suka. Minusnya paling materialnya dia masih pakai e plastik. Selebihnya untuk F pakainya enak. Jarak antar toch-nya ada di 19,05 mm dan key travelingnya di 1,4 mm. Jadi bukan cuma pas buat ngetik, tapi feedback-nya itu kerasa clicky dan juga premium. Dan keyboard ini juga punya tiga level backlit. Untuk webcam-nya udah punya privacy shutter, tapi resolusinya masih 720p aja. Mikrofonnya juga udah dilengkapin fitur noise cancelling yang ada di aplikasi My Asus dan mode noise cancelling-nya juga lengkap, udah cukup design buat meeting online. Nah, untuk baterainya ada di 42 watt hour yang gua coba pakai untuk kerja kayak ngetik-ngetik script sambil browsing-browsing. Baterainya ini berkurang 56% selama 2 jam pemakaian. Ya, ini terbilang cukup boros. Apalagi gua baru aja pakai yang versi Snapdragon sebelumnya. Untungnya batok chargernya itu kecil. Jadi aman buat selalu kita bawa pergi-pergi ke mana-mana. So, kesimpulannya untuk sebuah laptop budget, laptop ini sudah sangat nyaman dipakai untuk kerja ringan kayak buat ngetik-ngetik atau berkutat dengan Microsoft Office. Selama gua coba experience-nya itu memang smooth, enggak ketemu ada nge-lag delay sama sekali. Tapi kalau mau jujur, gua sih sebenarnya lebih suka pakai yang versi Snapdragon-nya karena baterainya itu jauh lebih irit. Tapi buat teman-teman yang mungkin masih mau main aman aja apalagi ada aplikasi khusus yang belum optimal di ARM, yes, Asus Vivobook X1404 VAP ini adalah jawabannya. [Musik] Yeah.
