Jungkat

Review ADVAN Macha: HP 5G yang Tipis dan Bikin Kaget? (YouTube Video)

  • 07/01/2026

Advance Macha ini smartphone kedua yang dihadirkan Advance di tahun comeback mereka ke dunia smartphone di Indonesia. Posisinya ada di atas Advance X1 yang sudah dirilis beberapa bulan yang lalu. Menariknya ini smartphone 5G ya, bukan cuman 4G lagi, udah kekinian dan future proof. Layar juga udah pakai panel AMOLED, SOC-nya baru pakai Dimensity 7060. RAM dan storage-nya bakal jadi kecil enggak? Kan katanya harga lagi pada naik. Ternyata yang satu ini pakai RAM 8 gig dan storage-nya 256 gig. Ukuran terbilang pas loh untuk kelas harganya. Menariknya lagi, OS-nya udah langsung pakai basis Android 15. Oke, langsung aja kita mulai pembahasan Advan Macha ini ya. Advan Macha. Nama smartphone ini memang terinspirasi dari minuman macha atau teh khas Jepang yang disebut membawa energi, fokus, dan ketenangan. Selain itu, maca ini disebut sebagai singkatan juga nih dari masterpiece of aesthetics, clarity, and high accuracy. Jadi emang Maha ya, bukan mat. Oke, langsung aja kita kenalan dengan smartphone dari brand lokal yang satu ini. Kita mulai dari isi paket penjualannya. Di dalamnya tentunya ada unit smartphone lengkap dengan screen protektor yang sudah terpasang. Kemudian ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini ada charger 33 watt di sini. Kemudian ada kabel USB type C2C, ada case, SIM tray ejector, dan paket dokumen. Nah, untuk desain smartphone ini punya body yang terbilang relatif tipis ya ini ya. Tebalnya cuman sekitar 7,3 mm. Secara umum desainnya membuatnya terlihat minimalis tapi tetap menampilkan kesan elegan. Untuk warnanya saat ini memang hanya ada satu warna aja ya dengan warnanya hitam di situ. Sayangnya untuk yang berharap ada warna hijau khas Macahah ternyata belum tersedia di sini. Nah, smartphone ini pakai gaya serba flat. Jadi sisi belakang frame dan layarnya flat semuanya. Tapi ini bukan serba flat yang terasa kasar gitu ya. Karena area pertemuan layar dan frame itu didesain memiliki sedikit lengkungan seperti ini. Nah, untuk frame tentunya pakai polikarbonat ya. standar lah untuk smartphone di kelas menengah terjangkau ini. Nah, untuk dimensinya tinggi 164 mm, lebar 76 mm, dan tebal 7,3 mm. Untuk bobotnya sekitar 177 gr saat kami timbang. Oke, sekarang kita lihat body smartphone-nya. Di kanan ada tombol power dan tombol volume up and down. Di atas ada mikrofon, grill speaker, dan infrared blaster. Ya, di kiri itu kosong, di bawah ada SIM tray. Ini hybrid ya. Dia bisa 2 nano SIM atau 1 nano SIM plus 1 micro SD. Lalu ada mikrofon, USBC, dan grill speaker. Terlihat ya smartphone ini punya dual speaker. Saat kami coba suara yang diasikan tuh memang lebih dominan di suara mid. Memang trble mungkin enggak gitu rapi, tapi seenggaknya belum sampai terasa ada yang menyakitkan telinga lah di sini ya. Separis suara tentunya belum bisa kita harapkan yang luar biasa hebat untuk smartphone yang kelas harga relatif terjangkau seperti ini. Nah, untuk volume suara ini sudah terbilan cukup lantang, sudah sangat mencukupi untuk penggunaan pribadi. Secara umum kalian merasa bahwa speaker smartphone ini masih bisa dikatakan layak dan sangat bisa diterima untuk kelas harganya. Nah, kita beralih ke sisi depan. Ini adalah layar 6,67 inci panel AMOLED. Resolusinya full HD plus 2400* 1080 pikel. Refresh set-nya up to 120 Hz dan bisa turun secara otomatis ke 60 Hz. Kalau kita pakai mode dynamic ya adaptif nih ya refresh rate-nya ya. Kalau membatasi refresh rate sampai 90 Hz itu juga bisa. Ada opsinya di menu setting. Sayangnya kalau kita aktifkan ini refresh-nya jadi benar-benar terkunci di 90 Hz aja bukan yang bisa naik turun 60 ke 90. Oke untuk gratis-nya saat kami coba ukur untuk indoor beratnya bisa mencapai sekitar 510 nitz. Udah lumayan oke di sini. Kalau untuk simulasi outdoor ternyata dia bisa naik lagi ke kisaran 875 nit. Wah ini lumayan mantap juga ya. Udah lumayan pas lah untuk penggunaan di luar di siang hari. Nah, untuk color gamut ada mode normal dan ada vivit. Saat kami coba ukur kedua mode ini ternyata karakternya masih terbilang agak mirip sebetulnya. Gambut coverage-nya ada di 100% SRGB dengan gambut di 171% sRGB. Kalau untuk DC IP3 gambut coverage-nya 99,5% dengan gambut volume di 121%. Jadi saturasi warnanya terbilang tinggi banget. sayangnya tidak ada mode yang dioptimalkan lebih ke arah 100% sRGB aja yang akan lebih cocok untuk kita tuning warna untuk foto dan video. Jadi kalau untuk tuning warna ya itu di smartphone ini perlu diingat bisa jadi hasil tuning yang kita lihat sudah oke di smartphone ini tapi kalau dilihat di lay smartphone yang lain terasa agak kurang berwarna mungkin jadinya untuk beza layar ini bukan yang super tipis tapi enggak bisa dibilang tebal juga dan keempat sisinya ini relatif simetris sih sebetulnya lumayan nih keren juga nih Advance ya oke untuk earpiece seperti biasa ini tempatnya ada di beasel atas layar dan ada juga kamera selfie yang ditempatkan di punch hole di area tengah atas layar ini adalah kamera 8 megapel F2.0 fixed focus. Perekaman video sampai 1080 30 fps. Sayangnya belum ada opsi perekaman video sampai 60 fps di sini. Beralih ke sisi belakang. Ada kamera bump yang diposikan di bagian atas sisi belakang dengan desain memanjang seperti ini. Nah, ini agak beda ya desainnya ya dari yang rata-rata dipakai sama yang lain ya. Di sini isinya adalah kamera utama 50 megap Sony IMX 752. Iya, ini pakai Sony IMX loh ya. Bukannya F1.8 tentunya autofokus. perekaman video ada opsi sampai dengan transisi 2K alias 2560 * 1440 piksel. Ini terbatas ke 30 fps aja ya. Sementara kalau kita pakai opsi HD atau full HD, frame rate-nya itu bisa nyampai 60 fps. Sementara untuk kamera satu lagi ini disebut untuk fitur makro ya. Nah, lalu ada LED flash juga di sini dan untuk fitur-fitur dia punya night mode, eis, anti flicker, 50 megapel foto dual view video ada loh di sini ya. Lalu ada juga documen correction, grup foto, AI emoji, gift, promote, pro film, dan slow motion itu ada semua di sini. Menarik ya. Bahkan prov video juga ada di sini. Memang cuma bisa untuk kamera utama, tapi ini fitur yang terbilang langka di klasangkau. Oke, untuk spesifikasi SOC pakai Dem City 7060 Acan Macha ini jadi yang pertama kali pakai SOC 5G yang baru ini. CPU-nya ini pakai dua Cortex A78 di 2,6 GHz dan 6 Cortex A55 di 2 GHz. Untuk fabrikasinya 6 nanm. Untuk RAM dan storage hanya ada varian 8 gig dan 256 gig untuk storage. Dan RAM-nya ini pakai LPD 5, storage-nya pakai UFS 3.1 di sini luar biasa kan? Dan dia juga sudah mendukung RAM expansion sampai 8 gig. Untuk baterai 5000 mAh dan support charging 33 watt. Untuk sensor adaometer, light sensor, proximity sensor, magnetometer, dan hardware gyro ada di sini. Untuk kreektivitas tentunya 5G ya, 2G, 3G, 4G, 5G bisa semuanya. Wii-nya Wii 5. Emang bukan yang hebat-hebat banget ya, tapi ini adalah Wii yang harusnya paling banyak bisa digunakan di Indonesia saat ini. Bluetooth versi 5.2. Audio kodeknya di support SBC, AAC, dan LDAC atau LDAC itu juga ada. NFC tentunya ada di sini. USB juga bisa OTG. Lalu ada FM radio, jadi ada opsi hiburan gratis. Tapi tentunya untuk yang satu ini kita butuh pasang headset berbasis USBC untuk digunakan sebagai antena radio. Untuk sistem kameranya dia pakai Inisplay fingerprint scanner. Iya, inisplay fingerprint scanner dan face unlock. Untuk OS dia menggunakan basis Android 15. Sayangnya belum ada informasi terkait janji update versi Android yang akan tersedia untuk smartphone yang satu ini. Lalu untuk aplikasi pihak ketiga ini bersih ya. Tidak ada aplikasi tambahan dari pihak ketiga yang terinstal sebagai aplikasi yang di ya di bawaan gitu ya. Enggak ada. Iklan juga aman bersih loh ini. Nah, untuk always on display ada enggak? Ada. Bahkan ada mode always yang membuat AOD-nya selalu tampil bukan 10 detikan. Bukan. Bukan. Lalu untuk fitur bawah no ini ada beberapa juga yang menarik di sini. Ada dynamic window. Ini bisa munculkan area di kiri dan kanan punch hole kamera selfie untuk menampilkan informasi dari beberapa aplikasi. Ada netless chat ini memungkinkan kita chatting dengan beberapa pengguna smartphone lain yang mendukung fitur ini di sekitar kita tanpa lewat koneksi internet ya. Lalu ada quick tab. Kita bisa mengatur agar fitentu aktif saat kita mengetuk body belakang smartphone dua kali. Sementara itu untuk fitur AI ada juga di sini ada AI smartpad. Ini akan tampil di halaman utama home screen ya. Dan kita bisa atur yang tampil itu sebagai anjing atau sebagai kucing. Fungsinya ini mirip seperti asisten digital bisa untuk beberapa aktivitas termasuk membuka aplikasi, mengatur alarm dan jadwal bahkan hingga memesan makanan atau minuman untuk kita. Lalu ada AI hoverball. ini bisa jadi shortcut untuk mengirim screenshot layar kita ke aplikasi asisten digital yang ada di smartphone. Misalnya kalau butuh mencari info terkait objek yang tampil di layar kita dengan bantuan AI. Kemudian ada AI call summary. Ini bisa untuk mendapatkan transkrip percakapan lewat telepon yang tadi kita lakukan, ya. Lalu untuk AI foto editor juga ada. Sesuai dengan namanya, ini bisa kita pakai untuk mengedit foto dengan bantuan AI. Fungsi yang tersedia antara lain ada AI cut out, AI elimination, AI image expansion, AI generate image, serta simple sketch to drawing. Kemudian masih ada lagi AI text assistant. Ini bisa membantu kita membuat atau mengubah tulisan ke gaya tertentu sesuai dengan kebutuhan kita. Oh ya, kalau Gemini ya tentunya ada di sini ya. Oke, sekarang kita lihat benchmark-nya dengan 10 kita dapat di R76.000-an. Saat kami coba dengan dan tanpa kipas, hasil yang kita dapatkan kisaran itu sama-sama aja. Geigb 6 single core 973 multiore 2.358. Untuk terimax sling shot extreme open gik scornya di 2343. Untuk terima wild life stress test. Sayangnya ini enggak bisa dijalankan karena GPU di SOC ini tidak mendukung vulcan. Dan sayangnya lagi untuk benchmark seperti Antutu 11 dan JFX Benchz kami tidak bisa mendapatkan skor karena sepertinya koneksi ke server benchmark benchmark tersebut tidak berjalan seperti seharusnya saat pengujian smartphone ini. Oke, ya udahlah kita langsung aja test gaming ya. Subway server sekalipun refresher diatur manual ke 90 Hz atau 120 Hz. Frame rate yang didapatkan saat main game ini tetap ketahan di 60 fps. Untungnya ini masih berjalan cukup lancar dan stabil di 60 fps. PUBG Mobile frame rate-nya hanya terbuka sampai ultra saja saat kami pakai mode smooth. Jadi frame rate-nya maksimum cuma sampai 40 fps. Walaupun cukup stabil ya di dekat 40 fps ya. Untuk main game shooter ini memang mah agak kurang aja sih di 40 ya. beberapa kali kita merasa ada sedikit frame drop di sekitar 30 fps. Kita sedikit berharap bahwa setting ekstrem atau 60 fps atau mungkin bahkan lebih tinggi itu bisa diakses di sini. Lalu bagaimana dengan gyro aiming? Ini terbilang relatif lancar ya kan pakai hardware base gyurasinya juga bagus di sini. Nah, untuk Mobile Legends kalau game ini setting frame rate yang terbuka itu sampai super atau 90 fps dan kita coba dengan setting mentok kanan ya. Hasilnya frame rate yang kami dapatkan ternyata masih juga tertahan di 60 fps. Entah kenapa belum bisa dapat 90 fps. Kami bisa dapat di kesaran 55 sampai 60 FPS selama match berlangsung. Jadi game ini masih terasa cukup lancar dimainkan. Oke kita lanjut ke Gensin Impact. Game ini kita coba langsung mainkan dengan setting lowest 60. Ya, saat kami coba dengan skenario seperti biasa hasilnya frame rate yang kita dapatkan ada kisaran 30 sampai 42 fps. Saat battle frame rate akan lebih banyak mendekati 30 fps. Frame drop juga sekali terasa, tapi bukan yang sering-sering amat ya. Rata-rata frame rate yang kita dapatkan selama setengah jam ada di 35 fps. Oh, lumayan oke nih ya. Lalu bagaimana dengan suhu permukaan smartphone? Untuk sisi layar titik terpanas itu suhunya ada di kisaran 41 sampai 42 derajat celcius di dekat kamera selfie. Untuk area lain di layar, suhunya tentunya tidak setinggi itu. Masih cukup terjaga di 36 derajat Celcius ke bawah. Sementara untuk sisi punggungnya, suhu tertinggi bisa mencapai 45 derajat Celcius di area atas dekat modul kamera. Untuk area tengah suhunya dikesaran 38 derajat Celcius dan area bawah sisi belakang suhunya itu masih cukup terjaga bahkan di bawah 36 derajat celcius. Oke, kita coba lagi ya. Kita pakai kipas dan hasilnya ternyata enggak jauh berbeda. Frame rate masih ada di kisaran yang kurang lebih mirip. Hanya sedikit lebih stabil, lebih minim frame drop aja. Setelah 30 menit, rata-rata yang kita dapatkan ada di 37 fps. Masih mirip ya walaupun agak naik. Jadi untuk ranking dengan atau tanpa kipas kita bisa kasih ranking C ya. Udah lumayan oke di sini. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian kameranya. Oke, kita mulai pembesan kamera dari smartphone Advance Macha. Untuk pengujian kali ini ditereminin sama saya ya. Kita mulai dari mikrofonnya terlebih dahulu. Seperti biasa di sini kita tidak menggunakan mikrofon eksternal. Jadi suara yang kalian dengar saat ini adalah hasil tangkapan langsung dari smartphone Advance Macha. Nah, spartphone ini sudah dilengkapi dengan dua mikrofon. Jadi, kalau misalnya mikrofon salah satunya kita tutupi seperti ini, suara saya semestinya masih bisa terdengar dengan cukup baik. Nah, untuk kualitasnya sendiri gimana menurut kalian? Suaranya udah oke atau enggak? Sekarang kita lanjut ke pembahasan kamera berikutnya. Kita mulai pengujian dari kamera selfie-nya dulu. Resolusi maksimalnya hanya sampai 1080p 30 fps. Hasilnya sih masih mencukupilah untuk vlogging basic. Kamera selfie-nya juga masih fix fokus. Wajar untuk laser raganya. Untuk dynamic range standar aja di pencayaan ekstrem langit terhadap over expos tapi setidaknya wajah masih bisa terlihat terang. Untuk stabilisasi fitur Ace otomatis aktif saat kita merekam video. Efek dari Ace tidak terlihat saat merekam video. Setelah kita merekam video baru tuh efek dari ACE bisa terlihat. Untuk kualitas stabilisasinya masih di bawah harapan kami ya. video masih terlihat gempa. Ada satu hal lain lagi yang perlu diperbaiki lagi sama tim Advan di kemampuan stabilisasi smartphone ini. Ketika kita mengaktifkan AC dan merekam video selfie seperti ini, setelah kita merekam video hasilnya malah jadi agak miring seperti ini. Saran kami sih ace-nya dimatikan aja lalu distabilkan manual pakai Google Photo seperti ini. Oke, kita lanjut ke kamera utamanya. Saat pertama kali membuka kamera, resolusi default-nya ada di 1080p 60 fps. Ini jarang kita temui ya. Biasanya kalau di smartphone lain resolusi dan frameway default-nya hanya ada di 1080p 30 fps. Untuk kualitasnya sendiri agak soft tapi warna sudah mencukupi. Kalau kita ubah ke 1080p 30 fps, hasilnya jadi sedikit lebih tajam. Nih kalau di resolusi 2K30 kualitasnya sudah mencukupi. Gimana dengan autofokus? Ternyata cukup lancar ya. Meski begitu kalau objeknya berbindah dengan cepat seperti ini, kameranya sedikit kesulitan nih untuk mengembalikan fokusnya ke background. Oke, untuk dynamic range standar aja. Di kondisi pencahayaan sulit, kamera di smartphone ini masih kesulitan untuk menyeimbangkan dnamic range-nya. Jadi, hasilnya kadang terasa gelap, kadang terlihat terang. Ini berlaku untuk semua opsi resolusi ya. Untuk stabilisasi bawaannya masih belum bisa meredam guncangan dengan baik. Jiter juga masih terasa di sini. Ini berlaku baik di ketiga opsi resolusi dan frame rate. Lanjut ke low light. Hasilnya udah jauh menurun nih. Gambar udah terlihat gelap dengan noise yang bermunculan. Selain itu, gambarnya juga terlihat soft nih di sini. Untuk stabilisasi masih sama ya seperti di kondisi terang. Ace di smartphone ini belum bisa meredam guncangan dengan cukup baik. Oke, kali ini kita coba kamera utamanya di kondisi low light. Di opsi 1080p 60 fps gambar udah terlihat soft nih dan noise juga bermunculan. Saat diubah ke 1080p 30 fps, gambarnya malah terlihat lebih soft di sini. Kalau diatur ke tuke 30 fps hasilnya jadi sedikit lebih tajam nih. Untuk stabilisasi di 1080p 60 fps, ace-nya masih agak kesulitan nih untuk meredam guncangan. Terlihat kalau pergerakan gambarnya masih belum terlihat mulus. Lanjut ke 1080p 30 fps. Git masih bisa ditukumkan nih di sini. Di tukai 30 fps juga kurang lebih sama. Git juga masih berasa nih. Oke, sekarang kita lanjut ke urusan fotografi. Secara umum hasilnya udah tergolong mencukupi nih untuk berbagai kebutuhan. Saat kondisi cukup cahaya, hasil fotonya sudah tergolong baik. Secara default, HDR tidak otomatis aktif. Jadi, kita perlu aktifkan dulu secara manual. Contohnya seperti ini ya. Kalau kita bandingkan foto non HDR dengan foto HDR. Foto saat kondisi juga masih terap baik. Di sini di kameranya ada fitur night mood nih. Tapi saran kami sih dimatikan aja. Soalnya kalau kita nyalakan justru membuat warna kulit jadi terlalu terang. Kurang natural lah untuk dilihat. Sekarang kita lanjut ke fitur ekstranya. Di sini terdapat slow motion. Sayangnya resolusi maksimalnya hanya sampai 720p tanpa ada keterangan framewate yang didapat. Berikutnya ada dual view mode. Ini menggabungkan kamera utama dan selfie jadi satu frame. Di sini tidak ada opsi frame rate dan resolusi. Saat kita coba frame videonya ada di 1080p 30 fps. Lalu ada fitur promote nih baik untuk foto atau video. Di sini kita bisa atur ISO dari 100 ke 800 serta shutter speed dari 1/800 hingga 16 detik. Oke, itu tadi pengujian kamera dari Advance Maca. Terdapat beberapa hal yang masih perlu diperhatikan lagi nih di sini seperti AC yang masih perlu dibenahi lagi. Lalu kualitas di video low masih di bawah harapan kami. Kualitas fotonya juga masih standar aja ya untuk kas harganya. Terlepas beberapa kelemahan yang sudah disebutkan tadi, ternyata ada satu kelebihan yang jarang ditenui di smartphone lain di kelas harganya seperti fitur Pro untuk video. Secara umum smartphone ini masih menawarkan kualitas kamera yang masih mencukupi. Untuk fotografi, kemampuan kameranya juga masih memadai nih. Namun untuk kualitas video masih perlu diperbaiki lagi nih sama tim Advance. Jadi sekian pengujian kamera dari Advance Macha. Sekarang kita lanjut ke pembahasan berikutnya ya. Lanjut lagi. Sekarang kita lihat daya tahan baterainya dengan YouTube offline video playback 1080p. Baterai ternyata habis dalam 16 jam 42 menit. Ini bukan hasil yang terbilang luar biasa untuk sebuah smartphone dengan baterai 5000 mAh. Walaupun ini juga enggak bisa dibilang buruk untuk sebuah smartphone 5000 mAh dengan SOC 6 nanm dari Mediatek. Masih terbilang cukup wajar yang satu ini ya. Nah, lanjut untuk YouTube streaming 1080p 30 fps non HDR. Baterai berkurang sekitar 6% dalam 30 menit. Untuk tiktokan selama setengah jam baterai berkurang 5%. Oke, lanjut untuk charging-nya. Dari 0 sampai 50% butuh waktu setengah jam. Sementara dari 0 sampai penuh butuh waktu 1 jam 31 menit. Belum saya dikatakan charging yang kencang mengingat baterai smartphone ini hanya 5000 mAh. Kami berharap untuk charging dengan 33 watt bisa terisi penuh di kisaran 1 jam kecil lah gitu ya. 1 jam 10, 1 jam 5 menit gitu ya. Oke, lanjut lagi. Untuk Netflix WiFi-nya di sini L3. Jadi emang untuk streaming kualitas tinggi belum bisa. Tapi kalau mau nonton kualitas yang lebih HD, sebaiknya download dulu aja konten yang kita tonton dengan kualitas tertinggi baru kemudian nonton secara offline. Kemudian untuk YouTube streaming-nya sampai 1440p 60 dengan HDR dan HDR juga cukup rapi ya di sini ya. Untuk htic feedback ini tersedia dan ini masih terasa cukup baik untuk smartphone di kelasnya. Memang bukan yang super rapi tapi getarannya tidak terasa mengganggu. Akurasinya juga cukup bagus ya di sini ya. Lalu untuk wifi sharing bisa enggak? Ada. kita bisa aktifkan lewat menu hotspot saat kita sedang terhubung ke Wii. Nah, untuk harga smartphone ini ditawarkan Advance dengan harga kisaran Rp2.999.000. Harga ini menunjukkan kalau Advance Macha ini memang diposisikan di atas Advan X1 ya atau X1. Oke, kita langsung masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, data baterai rasanya masih belum optimal, tapi enggak buruk-buruk amat sebetulnya untuk spesifikasi SOC yang dipakai. Lalu untuk performa mungkin masih terasa standar aja untuk harganya yang udah mepet ke Rp3 juta. Kemudian ada berapa titik di mana itu agak tinggi suhunya saat kita bermain game, khususnya saat main game yang cukup berat. Kemudian untuk opsi warna saya cuma satu warna ya. Sebetulnya kita berharap satu hitem, satu lagi maca banget dong warnanya. Jadi benar-benar bisa pakai warna yang sesuai dengan inspirasi namanya. Harusnya begitu ya. Lalu Wii-nya Wii 5 ya di sini ya udah mencukupi tapi bukan yang bisa dibilang super future proof sih ya. Kemudian di sini juga belum ada kejelasan terkait ketersediaan update versi Android untuk smartphone yang satu ini dan belum ada rating ketahanan terhadap air dan debu. Dari segi menariknya dia sudah menampilkan konektivitas 5G di sini. Layar AMOLED refresh-nya 120 Hz. Tampilan layarnya juga enggak terkesan yang kurang berwarna ya. Mantap tampilannya di sini. Dia pakai in display fingerprint scanner ya di harga segini. luar biasa. Brightness juga cukup tinggi di sini untuk penggunaan di luar ruangan. Kemudian body masih relatif tipis dan bobot juga cukup ringan. Ini bukan yang bobotnya terus tiba-tiba taruh di 200 gr gitu enggak ya. Lalu dia masih punya opsi perekaman video 2K alias QHD. Setidaknya sudah lebih tinggi dari Full HD. Di sini ada mode Pro di kameranya. Ada dual speaker, NFC, infrared blaster ada loh di sini. FM radio juga ada. Dan dia punya dual mikrofon juga. OS. Nah, nih penting nih. Bebas blotware dan iklan ya. Kemudian buat yang nyari always on display yang beneran always on itu tersedia di smartphone ini bukan yang cuma beberapa detik doang ya. Kemudian dia masih punya lumayan banyak fitur AI yang disematkan di dalam smartphone yang satu ini. Oke, Advance Macha smartphone 5G dari brand asal Indonesia. Ini adalah smartphone yang menurut kami patut diapresiasi. Advance terlihat berani dalam menawarkan apa yang ada di smartphone ini khususnya dari sisi fitur dan kelengkapannya. Smartphone ini mungkin bukan yang terlihat paling menonjol di kelas harganya, tapi bukan berarti smartphone ini juga bisa diremehkan begitu saja. Nah, kalau menurut kalian bagaimana dengan si Advance Macha ini ya? Coba tuliskan pendapat kalian di kolom komentar.

Lihat di YouTube