Jungkat

Review ASUS ExpertBook Ultra (2026): Ultra Tipis, Ultra Kencang, Ultra Irit (YouTube Video)

  • 07/05/2026

Gini nih, kalau laptop bisnis dikasih prosesor Intel Core Ultra Series 3. Mau editing video 4K60 enteng. Mau bikin animasi 3D bisa. Mau main game triple A tumpah-tumpah FPS-nya. Bahkan yang satu ini pakai Intel Core Ultra X7. Jadi IGP-nya sekencang GPU di laptop gaming kelas mainstream. RAM-nya juga langsung 32 GB LPDDDR 5X. Lega dan kencang buat kerjaan berat. Menariknya lagi, laptop ini pakai panel tandem OLED. Jadi, udah kekinian banget layarnya. Uniknya lagi, dengan performa sekencang itu berat laptopnya cuma 1,1 kg aja. Enten banget ya. Laptop bisnis ini adalah Asus Expertbook Ultra keluaran 2026. Asus Expertbook Ultra ini bisa dikatakan sebagai laptop bisnis pertama di Indonesia dengan prosesor Intel Core Ultra Series 3. Ini juga mengejutkan ya, karena biasanya laptop bisnis dengan proses terbaru itu dirilisnya beberapa bulan setelah laptop consumnya keluar. Tapi yang satu ini dirilis berbarengan dengan seri Zenbook dan Vivobook. Jadi sekencang apa proses Intel Core Ultra Series 3 di laptop bisnis? Sebelum kita bahas lebih jauh, kita cek dulu spesifikasinya. Untuk prosesor Intel Core Ultra X7358Hrikasinya udah Intel 18A, i angstrom, sudah di bawah 2 nm. Base power 25 watt. Dia punya 16 core, 16 thread yang terdiri dari 4 performance core, 8 effisent core, dan 4 low power efficient core. Intel smart cas-nya 18 MB. integrate graphicsnya. Nah, ini dia nih Intel Arc B390 GPU dengan 12X e Corse. Tentunya ini mendukung fitur Intel XS3 dengan multifame generation 4 kalinya. Ini berarti kita bisa memainkan game TripleA tertentu dengan frame rate yang bukan puluhan tapi ratusan FPS. Enggak cuma itu, IGP ini juga mendukung akselerasi hardware untuk encode dan decode video AV1 serta decode video bukan H265 H266. Nah, untuk NPU-nya dipakai Intel AI boost dengan kemampuan hingga 50 tops. Jadi, laptop ini dapat menjalankan fitur copilot plus PC seperti recall, cocreator, dan live caption. Oke, untuk memori atau RAM-nya 32 GB LPD 5X 853 MHz dual channel 128 bit. Sayangnya laptop ini ternyata tidak menggunakan yang 9600 MHz nih. Padahal prosesornya itu mendukung kecepatan sekencang itu. Hal ini membuat performa IGP jadi agak sedikit kurang kencang. Sedikit aja kok. Nah, nanti kita lihat ya apakah performanya jadi turun jauh atau tidak di bagian pengujian. Tentunya ini RAM on board ya, jadi enggak bisa di-upgrade. Tapi ini tahun 2026, 32 gig itu udah gede banget. Oke, lanjut untuk stornya. Pakai 1 TB SSD M.2 and FM PCI Gen 4x4. Menariknya, slot M2 ini mendukung SSD PCI genen 5. Jadi, bisa kita upgrade ke SSD yang kencang banget kalau memang dibutuhkan. Untuk wir connectivity dia menggunakan modul Intel yang support WiFi 7 dan Bluetooth versi 6 bukan versi 5 lagi. Tentunya Bluetooth laptop ini tetap kompatibel ya dengan perangkat Bluetooth versi-versi sebelumnya. Nah, untuk absis baterainya adalah 70 wat hour. Jadi untuk laptop yang tipis ini udah cukup besar. Untuk OS-nya dia pakai Windows 11 Pro 25 H2. Untuk body phone fighternya adalah clamp Shell atau laptop classic. Materialnya body menggunakan material aerospace grade magnesium alloy yang dibentuk dengan teknik CNC. Dan seperti biasanya, laptop Asus ini juga sudah menulis standar daya tahan military standar 810H dengan 24 jenis pengujian bukan belasan 24. Jadi terjamin banget ketangguhannya. Permukaan body juga sudah menggunakan lapisan Nano Ceramic Technology dengan tingkat kerasan yang paling tinggi 9H. Ini membuat permukaan bodinya lebih aman dari kerusakan akibat goresan. Untuk pilihan warna ada Morn Grey yang kita uji ini dan ada Jet Fox. Nah, untuk desainnya walaupun laptop ini keluaran 2026, penampilan memang seperti laptop klasik Asus keluaran beberapa tahun yang lalu. Ini bisa terlihat dari penggunaan logo Asus Classic pada bagian punggung layarnya. Tapi tenang, laptop ini tetap punya bentuk yang modern di beberapa bagian body lainnya. Secara keseluruhan laptop ini punya penampilan yang profesional dan sederhana, tapi enggak kalah cakep sama laptop-laptop kelas consumer. Ini yang menarik yang datang dari laptop bisnisnya Asus di tahun 2026. Desainnya beda sekarang, ya. Nah, untuk ukuran dimensinya panjangnya 31 cm, lebarnya 21,2 cm dan ketebalan sisi paling tipisnya 1,09 cm dan paling tebalnya di 1,64 cm. Bobotnya untuk laptopnya aja di 1,13 kg. Chargernya enteng banget 264 gr. Ini adalah charger 90 watt dengan konektor USB type C. Tapi sayangnya laptop ini pakai charger klasic ya yang ada dua bagian yang ada kabel besarnya gitu. Ini membuat chargernya jadi agak kurang praktis kalau mau dibawa-bawa. Padahal laptopnya udah kecil, tipis, dan ringan. Tapi tenang, karena ini charger type C, jadi kita bisa dengan mudah menggantinya dengan gun charger 100 watt yang desainnya biasanya lebih kecil dan lebih praktis kalau mau dibawa-bawa. Nah, total bobotnya kalau dibawa dengan charger bawaannya adalah 1,39 kg. Untuk display ini adalah panel berukuran 14 inci, resolusinya 2880 * 1800 pikel dengan aspek rasio 16 b. Layar ini sudah punya variabel refresh rate dari 30 sampai 120 Hz. Response time-nya 0,2 ms. Panelnya ini adalah tandem OLED. Nah, layar tandem olet sendiri diklaim lebih terang hingga 3 kali lipat dan 40% lebih hemat daya dibandingkan layar OLED yang biasa. Menurut Asus tingkat kisaran maksimalnya ada di 600 Nit di mode SDR dan 1400 nits di mode HDR dengan kelarga Mood di 100% di CP3. Sementara kalau kami ukur hasilnya kita mendapatkan 643 nits di mode SDR dan 1470 nits di mode HDR. Ini layar laptop atau HP terang banget ini ya. Bahkan ini lebih terang dibandingkan klaimnya. Untuk gamut covers-nya ada di 97,7% di CP3 dengan gamut volume di 104,6% di CP3. Layarnya sudah pantuan validated jadi siap untuk editing kelas profesional. Buat streaming video HDR pasti juga mantap ya karena udah punya sertifikasi display HDR True Black 1000. Menariknya meskipun bukan laptop two inone, layar laptop ini punya kemampuan touchscreen juga. Ini memudahkan kita kalau mau scrolling dokumen atau kalau lagi ingin zoom in zoom out gambar itu cukup pakai jari aja. Menariknya lagi, permukaan layar ini sudah menggunakan lapisan Corning Gorilla Matte. Lapisan ini diklaim mengurangi tingkat refleksi hingga 80%. Jadi, layar lebih minim pantulan yang dapat mengganggu pemakaian seperti pantulan dari jendela atau lampu-lampu dalam ruangan. Selain itu, layarnya juga sudah menggunakan lapisan Corning Gorilla Victus agar permukanya lebih aman dari kemungkinan goresan ya. Siapa tahu kena kuku gitu ya. Nah, bingkai layar juga sudah menggunakan desain tipis pada semua sisi dengan tingkat screen to body rasio mencapai 91%. Uniknya pada bagian Excel layar ada barisan lampu LED Asus Expert Lumi yang akan mancarkan cahaya saat laptop melakukan boot login atau shutdown. Nah, laptop ini dilapih dengan kamera infrared 5 megapel. kameranya mampu mengambil gambar dan merekam video di resolusi 5 megap 30 fps dengan aspek rasio 4 b. Nah, kalau kita pakai aspek rasio 16 b 9, dia akan mengambil dan merekam gambar video itu di resolusi 1080p 30 fps. Kamera ini juga tentunya mendukung Windows Studio Effect ya, seperti automatic framing, iye contact, serta background effect. Nah, saat diaktifkan fitur-fitur tersebut akan dijalankan di NPU. Jadi, baterai akan lebih irit. Misalnya kalau kita meeting enggak pakai charger. Nah, aman tuh. Ya, laptop ini juga dilengkapi dengan dua buah mikrofon yang berada di sisi kanan dan kiri kamera. Mikrofon ini dilengkapi dengan fitur Asus AI noise cancelling untuk meredam suara bising di sekitar pengguna. Nah, dengan peneraian yang mencukupi, kamera laptop ini bisa menangkap gambar dengan jelas dan jernih. Hanya saja masih terlihat ada noise pada gambarnya walaupun cuma tipis-tipis sih sebetulnya. Mikrofon di laptop ini juga mampu menangkap suara kami dengan jelas dan jernih serta menghilangkan sepenuhnya suara kebisingan di sekitar kami. Oke, sekarang kita uji kemampuan kamera dari laptop Asus Experbook yang satu ini. Oh ya, laptop ini bisa merekam video up to 1944p 30 fps di rasio 4 b 3 seperti ini. Nah, kalau di rasio 16 b 9 resolusi tertingginya itu up to 1080p 30 fps. Dan untuk hasil perekamannya kurang lebih seperti ini. Sebagai catatan buat kalian yang mau hasil perekaman videonya itu maksimal, pastikan kalian berada di ruangan dengan kondisi cahaya yang memadai, ya. Oke, sekarang saya sedang berada di luar untuk menguji kemampuan mikrofon dan noise cancelling dari laptop Asus Expertbook yang satu ini. Seperti yang kalian lihat di belakang saya, kondisi jalanan lagi ramai kendaraan. Meski begitu, suara saya masih bisa terdengar dengan cukup jelas dan noise di belakang saya bisa diram dengan baik. Oke, untuk sistem audionya laptop dilengkapi dengan dua buah dual woover dan dua buah twitter. Untuk lubang keluaran suaranya ada dua, di sisi kanan dan di kiri keyboard. Lalu, ada dua lagi yang mengarah ke alas laptop. Speaker ini dapat diatur profil dan equalizernya melalui software Dolby settings atau My Asus. Nah, walaupun laptopnya tipis, tapi suara speakernya ternyata boleh diadu dengan laptop gaming 18 inci yang bodinya gede-gede itu. Bahkan kami belum menemukan laptop gaming 18 inci yang suaranya lebih menggelekar dibandingkan laptop bisnis yang satu ini. Kualitas suaranya juga sangat memuaskan dengan bass yang terasa bulat dan dalam untuk ukuran laptop setipis ini. Oke, untuk konektornya di kiri ada satu Thunderbolt, ada 1 HDMI 2.1 yang besar, satu USB 3.2 gen 2 type A dan 1 3,5 mm audio combo jack. Di sisi kanan ada satu USB 3.2 Gentu Type A dan ada satu Thunderbolt 4. Tentunya semua konektor Thunderbolt 4 yang tadi itu mendukung USB 4, power delivery, display output, dan juga perangkat-perangkat Thunderbolt. Nah, untuk keyboard-nya sebenarnya sih enggak ada yang benar-benar baru di sini. Bentuk tombol dan tata letaknya masih mirip seperti keyboard expertbook satu generasi yang lalu. Hanya saja untuk warna tombolnya itu bukan lagi hitam, tapi dibuat sama seperti warna bodinya. Tentunya keyboard ini sudah spill resistance. Jadi kalau ketumpahan cairan aman. Tombol keyboard juga sudah memiliki examer UV coating. Jadi tetap aman dari noda dan kotoran akibat sentuhan. Untuk travel distance-nya ini 1,5 mm ya. Jadi terasa cukup dalam saat ditekan. Keyboard ini juga dilengkapi dengan lampu backlit berwarna putih dengan tiga tingkat ceseran yang bisa diubah dengan menekan tombol function plus F7. Backlit ini juga punya mode auto ya, di mana lampunya akan otomatis menyala saat ruangan menjadi gelap atau meredup saat ruangan menjadi terang. Oke, untuk touchpad-nya ini menggunakan heptic touchpad. Iya, heptic touchpad. Ukurannya 12,8 * 8,6 cm dengan desain pinggir atas dan bawah yang tidak bertepi. Untuk posisinya cenderung center to body, tapi enggak benar-benar sejajar dengan tombol space bar. Touchpad ini punya fitur palm rejection, jadi cursor mouse itu tidak akan bergerak meskipun telapak tangan kita enggak sengaja menyentuh permukaan touchpad saat sedang mengetik. Nah, hptic touchpad ini memang terasa responsif ya saat digunakan dan tidak perlu ditekan terlalu dalam kalau mau melakukan klik kiri atau klik kanan. Permukaan yang dari kaca juga membuat pergerakan jari kami itu terasa mulus dan lancar banget di atas touchpad. Oke, untuk cooling systemnya laptop ini menggunakan sistem pendingin expert Cool Pro yang diklaim mampu menghandle TDP prosesor hingga 50 watt. Sistem pendingin ini dilengkapi dengan tiga buah heat pipe dan dua buah kipas. Untuk lubang pembuangan panasnya ada tiga buah yang mengarah ke belakang. Menariknya, desain lubang tersebut dirancang agar udara panas dibuang langsung ke belakang dan tidak mengarah ke permukaan layar. Jadi, panel tandem oletnya aman dari hembusan panas ya. Nah, untuk sistem keamanan, laptop ini dilengkapi dengan dua jenis pengamanan biometrik dengan pengendalan wajah dan juga sidik jari. Posisi sensor sidik jarinya itu menyatu dengan tombol power. Selain itu, ada juga penutup fisik untuk kamera agar kita tetap aman walaupun mungkin aja kameranya kena hack. Tidak hanya itu, chip bias yang otomatis akan memulihkan BIOS utamanya kalau terjadi kerusakan. Menariknya lagi, Asus juga mengimplementasikan sistem keamanan post quantum cryptografi ke dalam firmware laptop ini. Menurut Asus, sistem keamanan ini diklaim memastikan data kita yang dicuri pada saat ini bisa tetap aman di masa depan meskipun teknologi pertasannya makin canggih. Oke, sekarang kita masuk dalam aspek performanya. Laptop ini memiliki tiga profil performa, yaitu performance mode, standard mode, dan whisper mode. Menurut Asus saat di mode performance power limit prosesor itu naik hingga 50 watt. Ini lebih tinggi dibandingkan laptop lain yang biasanya itu power limitnya cuma 20 sampai 30-an watt saja. Tentunya makin tinggi power limitnya akan makin kencang performanya. Nah, kita bisa mengatur profil performa tersebut dengan menekan tombol function plus F atau melalui aplikasi My Asus. Oke, kita hidupkan CineBZ R23 ya sambil dicolok ke charger. Distabilitas selama 30 menit skor tertinggi yang dicapai adalah 15.784 poin di mode standar, 18.43 poin di mode performance. Sementara untuk skor yang dapat dipertahankan itu ada di 13.500 sampai 14.100 poin di mode standar atau 17.700 sampai 17.900 poin di mode performance. Nah, menurut pembacaan aplikasi HW Info, saat di mode performance power limitor itu sempat naik hingga 62 watt di awal pengujian sinb lalu turun sedikit di bawah 60 wat dan kemudian bergerak direntang 43 sampai 47 wat hingga akhir pengujian. Jadi terbukti ya klaim dari Asus yang 50 wat tadi. Sekarang kita lihat kalau kita jalankan CBS R23 tanpa colok ke charger. Nah, kalau charger dicabut, skor yang didapatkan adalah di kisaran 14.100 sampai 14.200 saat menggunakan mode standar. Jadi ternyata skornya tetap mirip saat kita pakai charger maupun tidak pakai charger. Sekarang mari kita lihat suhu kerjanya pasa menjalankan Sinabis R23 stability test selama 30 menit. Di mode standar suhu rata-rata pressure terlihat dapat dikendalikan di bawah 80 derajat Celcius dengan sesekali aja ada spike ke 90 derajat Celcius. Lalu di mode performance supressor sempat naik ke 98 derajat celcius lalu kemudian turun sedikit ke kisaran 93 sampai 96 derajat Celcius. Tapi tenang kan sehari-hari kita enggak pakai aplikasi CBCH ya. Ini cuma buat ngetes doang. Nanti kita lihat berapa suhunya di aplikasi beneran. Oke, langsung aja kita sikat pakai Blender 5.0.1 dengan file 3D BMW Car. Untuk CPU rendering sesuai dalam waktu 2 menit 50 detik. Nah, kalau kita pakai GPU rendering dengan one API ini semua sesuai dalam waktu hanya 19 detik. Ternyata keentengan ya file 3D-nya buat Core Ultra X7 ya. Jadi kita coba yang lebih berat. Kita pakai file 3D yang barber shop. Wah, ini udah kompleks banget. GPU Randing dengan 1 menyelesaikan ini semua dalam waktu 4 menit 11 detik. Ini hampir sekencang waktu rendernya RTX 4050 laptop yang 55 watt itu dapatnya di 4 menit 1 detik. Keren banget ya ini ya. Nah, untuk SU kerja pasal melakukan GPU rending dengan one API SU tertinggi prosesor tercatat hanya mencapai 80 derajat celcius saja. Tuh kan aman banget enggak ada masalah di sini. Lanjut ke Adobe Premiere Pro 2026. Kita pakai video 4K 60 fps yang 5 menit durasinya. Kita pakai open selesai dalam waktu 6 menit 28 detik. Lalu kalau videonya full HD 60 fps 5 menit pakai open sial selesai dalam waktu 1 menit 53 detik saja. Nah, su kerja pasa menjalankan 4K60 video export dengan open CL supressor dapat dikendalikan di bawah 80 derajat Celcius dengan dua kali spike aja di atas 80 derajat Celcius. Jadi lagi-lagi aman banget. Lanjut untuk Daavinci Resolve 20.3. Ini software videoing kelas profesional tapi versi gratis yang kita pakai. Untuk video 4K 60 5 menit selesai dalam waktu 8 menit 53 detik. Untuk video full HD 60 fps yang 5 menit selesai dalam waktu 2 menit 29 detik. Nah, untuk show kerja persamaan 4K video export supressor sempat naik ke 98 derajat celcius di awal pengujian sebelum akhir dia turun di bawah 90 derajat celcius dengan tiga kali spike aja ke 92 derajat celcius. Ya, software V6 gratis ini memang sering mendongkrak suhu prosesor ya, tapi di sini bisa dilihat bahwa ternyata suhunya masih bisa dikendalikan juga. Lanjut untuk capcut videonya. 4K60 5 menit itu saya dalam waktu 3 menit 38 detik. Enggak ada masalah. Kencang banget. Untuk video full HD 60 fps 5 menit selesai dalam waktu 1 menit 18 detik. Lagi-lagi kencang banget. Untuk suukernya pada saat melakukan 4K video export dengan capcut supressor terlihat dapat dikendalikan sepenuhnya di bawah 90 derajat celcius. Oke kita lanjut dengan pengujian UL Prosion ya. Kita lihat kemampuan NPU prosessor ini di pengujian AI image generation benchmark dengan aplikasi ul prosion ini. NPU di laptop ini membutuhkan waktu sekitar 10,4 detik untuk menghasilkan gambar resolusi 512 * 512 piksel. Ini lebih kencang dibandingkan NPU di Core Ultra 9285H yang butuh waktu 36 detik. Sekarang kita lihat 3mx time spy graphic skornya. Nah, kita lihat IGP-nya seperti apa. Intel Arc B90 yang di laptop ini yang pakai RAM 853 itu menghasilkan 6.600 00 poin. Nah, sementara kalau di Intel Arc B310 yang pakai RAM 9600 MHz itu dapat 7.170 poin. Jadi, selisih performanya cuma sekitar 8,6% aja. Enggak terlalu jauh sebetulnya. Oke, dengan GPU kencang ini pasti banyak yang nanyin kemampuan gamingnya seperti apa. Mari kita lihat sekencang apa laptop bisnis ini kalau dipakai untuk main game. H [musik] Nah, sekarang kita lihat suhu kerjanya. Setelah setengah jam main Cyberpunk 2077, Super terlihat berada di kisaran 80 sampai 83 derajat Celcius. Masih aman. Sementara untuk permukaan bodinya setengah jam main Cyberpang tadi untuk keyboard area paling panas kami temukan di tengah dengan suhu tertinggi mencapai 47 sampai 48 derajat celcius di tombol F8. Sementara suara keyboard lainnya tercatat berada di bawah 40 derajat celcius. Kalau untuk palmres itu aman banget di bawah 35 derajat Celcius. Tapi perlu diperhatikan ya suhu permukaan setinggi ini hanya dicapai kalau kita ngejalin aplikasi yang berat terus-terusan atau main game terus-terusan. Tapi ini kan laptop bisnis ya. Kalau cuma dipakai buat ngetik, bikin Excel banyak sekalipun ya browsing atau nonton suhunya tuh gak akan nyampai sepanas itu. Oke, kita lanjut untuk pengujian SSD-nya. Kita dapatkan dengan Crystal Dismark bahwa kecepatan bacanya ada di 7.029 MB/ dan tulisnya di 5.741 MB/s. Ini sih kencang parah ya. Kecepatan bacanya bisa tembus 7.000 MB/s. Oke, sekarang kita tes daya tahan baterainya. Untuk tes baterai kita menggunakan setting beratnya 150 nit. Volume suara 25% mode standar dengan resolusi layar di 1200p 60 Hz. Untuk 1080p local video playback ini benar-benar nyaris 20 jam atau tepatnya 19 jam 56 menit. Oh, ini sih awet ya. Terutama kalau kita lihat performanya sekencang itu dan layarnya secakep itu. Nah, untuk charging 30 menit pertama sudah terisi di 56% dari kosong sampai penuh hanya butuh waktu 1 jam 25 menit. Ini kencang banget nge-charge-nya ya. enggak nyampai 1,5 jam bahkan patokan normal kami itu 2 jam, 2 jam aja udah happy. Ini di bawah 1,5 jam. Ini udah benar-benar kayak HP pakai charger yang kencang-kencang banget itu ya. Lanjut untuk harganya. Nah, menurut Asus Indonesia unit yang kami uji ini harga resminya adalah Rp54.999.000. Nah, selain versi yang ini, ada juga versi yang lebih tinggi lagi. RAM-nya 64 GB dengan SSD 2 TB PCI GEN 5. Harganya di Rp82.249.000. Untuk bonus pembeliannya kita dapat sleff back dan untuk garansinya dapat 3 tahun dari Asus Indonesia dengan layanan onside service. Jadi kalau ada kerusakan teknisinya akan datang ke tempat kita. Lalu ada juga 1 tahun garansi accidental damage protection yang meng-cover kerusakan akibat kelalaian pengguna. Menariknya, garansi ini dapat diperpanjang hingga 5 tahun, tapi tentunya dengan menambah biaya. Ini umum ya untuk laptop kelas bisnis atau kelas komersial. Oke, kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, RAM-nya ini on board ya, jadi enggak bisa di-upgrade. Tapi kalau 32 harusnya udah cukup lah ya, udah cukup untuk peranan harian yang lumayan berat. Nah, kalau kurang ada yang 64 gig juga kan. Lalu harganya memang terasa agak tinggi, tapi ini memang disebabkan oleh faktor seperti kenaikan harga RAM dan SSD serta penggunaan tipe prosesor terbaru. Selain itu, masih ingat kan ini adalah laptop bisnis yang biasanya dirancang dengan durabilitas dan fitur keamanan lebih baik dibandingkan laptop consumer. Apalagi kompatibilitasnya terhadap software-software yang terkait dengan bisnis itu juga sudah diuji ya. Jadi sebenarnya cukup wajar harganya itu jadi lebih tinggi dibandingkan laptop yang non bisnis. Lalu untuk charger bawaannya ini terasa agak kurang praktis aja dibawah-bawah. Untungnya kita bisa ngakalin ini pakai gun charger. Dari sisi menariknya, penampilannya klasik tapi tetap elegan. Cuman ya penampilan yang barunya ini memang enggak cuman klasik doang ya, sudah lebih dekat ke laptop kelas konsumer bahkan sebetulnya. Beratnya juga enteng banget cuma 1,1 kg. Lalu dia udah pakai Intel Core Ultra X7 series 3. Ini kuat buat multitasking, kuat buat editing video sampai 4K 60 fps, kuat buat desain dan render 3D, bahkan kuat juga buat main game triple A yang lumayan berat. Bisa jalan aplikasi AI yang ringan yang pakai NPU ya. Lalu RAM juga udah langsung 32 GB LPD dari mices buat yang satu ini. Besar dan kencang buat kerja. Kalau kurang ada yang 64 kok ya. SSD bisa di-upgrade ke SSD PC Gen 5 yang lebih kencang lagi. Layarnya spesial banget, udah touch screen 2,8G, tandem OLED, panton validated pula di sini. Baterainya tergolong irit ini udah dekat-dekat 20 jam soalnya. Charging-nya bahkan di bawah 1,5 jam. Kencang banget. Dia punya dua Thunderbolt Lalu ada konektor USB dan HDMI yang besar juga. Ada pengamanan biometrik wajah dan sidik jari. Kuota speakernya luar biasa. Sangat-sangat memuaskan. Kemampuan S cancelation-nya juga sangat baik. Garansi juga panjang di 3 tahun. Bahkan ada garansi keladian pengguna yang bisa diperpanjang sampai 5 tahun. Jadi Asus Expertbook Ultra ini cocoknya buat siapa sebenarnya? Ya yang jelas dipakai untuk pebisnis, untuk pekerja kantoran. Itu pastinya cocok nih. Apalagi kalau penginnya laptop tipis dan ringan yang gampang masuk dalam tas kecil. Tapi performanya sekuat laptop gaming class mainstream yang besar dan berat. Buat yang sering kerja WFA nah pastinya mantap nih pakai ini karena baterainya bisa hampir 20 jam ya dan beratnya cuma 1,1 kg aja. Charger juga bisa ganti ke gun charger jadi lebih praktis saja. Kameranya juga udah support Windows Studio Effect dan noise cancelingnya mantap benar. Jadi cocok dipakai meeting saat di cafe atau tempat ramai lainnya. Dipakai untuk kerjaan ngedit video juga cocok. Layarnya juga udah olet, pantul validated dan speknya kuat buat editing sampai video 4K 60 fps. Mau ngedit video F1 juga bisa ya karena GPU-nya punya akselerasi hardware, punya NPU juga, jadi bisa pakai efek AI dari aplikasinya. Mau dipakai bikin materi 3D dalam bentuk gambar atau animasi juga kuat, asalkan objek 3D-nya enggak yang super super rumit banget. Enggak super rumit, tapi rumit masih bisa. Tentunya yang kerjanya programmer bisa juga pakai laptop ini selama aplikasi codingnya memang cocok dengan hardware laptop yang satu ini. Pada akhirnya kalau dicari adalah sebuah mesin penghasil uang. Performanya sekencang laptop high performance. Baterainya irit, bodinya tipis, ringan, fitur bisnisnya komplit. Asus Expertbook Ultra 1 ini bisa jadi pilihan yang sangat menarik untuk saat ini. [musik]

Lihat di YouTube