Review Infinix GT 50 Pro | Smartphone Gaming Kencang dgn Banyak Fitur Baru dan Kamera Memadai (YouTube Video)
Ini smartphone GT series terbaru dari Infinix ya. Ini Infinix GT50 Pro. Desainnya gaming banget khas GT series. Performanya tentunya lebih kencang dari pendahulunya. Sekarang udah pakai Dimensity 8400 Ultimate. Menariknya ada hydroflow liquid cooling di dalam smartphone ini ya. Pertama kalinya nih ya ada liquid cooling di smartphone Infinix. Apakah liquid cooling system ini bisa menjaga performa smartphone ini saat kita pakai main game berlama-lama? Nanti kita cek ya. Tapi tentunya bukan cuma itu aja yang menarik dari smartphone ini. Masih ada pressure Sense GT Trigger, N1 Network chip, wireless bypass charging ya wireless ya dan banyak lagi. Langsung aja kita mulai pembahasan Infinix GT50 Pro [musik] ya. Infinix GT series. Lini ini diperkenalkan Infinix sejak tahun 2023 yang lalu lewat Infinix GT 10 Pro. Nah, sejak saat itu Infinix rutin mengupdate GT series sampai di tahun 2026 ini hadir GT50 Pro. GT50 Pro ini sepertinya jadi upaya Infinis membuat GT series mereka naik clas khususnya dengan menggunakan liquid cooling system yang tadi itu. Nanti kita akan bahas kemampuan yang tawarkan oleh smartphone ini ya. Tapi seperti biasa kita coba kenalan dulu dengan Infinit GT50 Pro ini dari paket penjualannya. Nah, nah untuk paket penjualan yang kami terima dalam pengujian ini adalah paket cooling edition. Jadi boknya memang ekstra besar di dalamnya. Selain ada paket penjualan yang standar untuk smartphone ini, ada juga bonus GT Mac Charge Cooler 2.0. Sementara untuk isi dari box paket penjualan utamanya itu ada unit smartphone-nya, ada screen protektor yang sudah terpasang di layar, lalu ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 45 watt, kabel USB A2C, ada hard case dengan lempengan magnet, ada SIM tray ejector dan paket dokumen. Kemudian ada juga bonus SIM card smartfend dengan bonus kuota 48 GB. Nah, secara umum desain smartphone ini masih mengusung nuansa gaming seperti Infinitex GT series yang lain. Tapi kita bisa dengan mudah membedakan smartphone baru ini dari smartphone GT series sebelumnya. Kenapa? Karena ada area di bawah body belakang yang menampilkan ciri khas smartphone satu ini, hydrooflow liquid cooling. Kurang lebih seperti ini ya tampilannya ya saat liquid cooling-nya itu aktif. Nah, untuk si belakang ini flat ya. Frame juga flat. Lalu ada area lengkungan tipis di pertemuan sisi belakang dengan frame yang membuat smartphone ini tidak berasa terlalu flat-flat banget gitu ya. Nah, untuk opsi warna ada black abis, silver glacier, dan red blaze. Untuk dimensinya tinggi 162,4 mm, lebar 77,2 mm, dan ketebalan di 8,15 mm. Sementara untuk bobot ada di kisaran 198 gr. Belum terbilang yang berat banget ya. Mengingat smartphone ini menawarkan baterai besar dan ada sistem liquid coolin juga di dalamnya. Nah, untuk rating ketahanan terhadap debu dan air, smartphone ini punya rating di IP64 ini kedap debu dan aman dari percikan air. Jadi kalau kehujanan saat pakai smartphone ini relatif masih aman lah ya. Tapi ini bukan trading yang aman untuk dicemplungin ke dalam air. Jadi jangan sengaja dicemplungin dalam air atau diajak mandi-mandi gitu. Jangan. Ya, sekarang kita coba lihat apa yang ada di sekeliling smartphone ini. Di kanan ada 2 GT trigger, tombol power, dan ada tombol volume. Di atas ada mikrofon, infrared blaster, dan speaker. Di kiri ini kosong ya. Di bawah ada sim tray untuk dua nano sim, lalu ada mikrofon, USBC, dan speaker lagi. Jadi kelihatan ya dia punya dua speaker. Saat kami coba speakernya terkesan lebih mengandalkan mid. Bass terasa enggak gitu gede-gede amat dan travelnya juga tipis. Di sini separasi masih belum begitu hebat, tapi untungnya volume udah bisa dikatakan mencukupi di sini. Nah, melihat harga smartphone ini, kami berharap kualitas speaker sebenarnya bisa lebih tinggi lagi ya. Nah, beralih ke si depan ini adalah layar 6,78 inci panel AMOLED. Resolusinya adalah 2.64 * 128 piksel. Refresh rate-nya up to 144 Hz, adaptif. Tapi tentunya 144 Hz-nya itu memang hanya bisa dirasakan di beberapa skenario tertentu termasuk main game. Nah, untuk brightness layar dalam kondisi indoor brightness kita dapatkan itu sekitar 380 nit. Sementara untuk simulasi outdoor itu bisa naik sampai 575 nit. Nah, apakah bisa lebih tinggi lagi? Ternyata kalau high brightness mode kita aktifkan tingkat kecerahan layar ini bisa naik sampai sekitar 1120 nitz. Ini sudah terbilang cukup terang ya. Kalau yang dijanjiin sama Infinix tuh mungkin cuman part kecil doang, bukan keseluruhan layar. kita ngujik seluran layar di sini ya. Nah, untuk screen mode di smartphone ini ada dua ya, original dan bright colored. Untuk original terasa diarahkan mendekati 100% IP3. Sementara untuk bright colored ini saturasi warnanya terasa sangat tinggi. Untuk gambut coverage di mode ini 99,8% di CP3 sementara gambut volumen-nya di sekitaran 121,3% di CP3. Sayangnya di sini belum ada mode menawarkan warna mendekati 100% sRGB. Jadi kalau mau dipakai untuk editing warna di foto atau video agak hati-hati ya ngatur warnanya ya. Nah, untuk beza layar ini bukannya terbilang super tipis, cukup tipis aja. Tapi untungnya terasa cukup seimbang di keempat sisi layarnya. Untuk pelindung layar, smartphone ini menggunakan Gorilla Glass 7i. Ada juga fingerprint scanner di layar ini, ya. Oke, untuk kamera selfie-nya ini ada di punchol di area tengah atas layar. Ini adalah kamera 13 megapel F2.2 Fix Focus. Perkaman video sampai 4K 30 fps dan 1080/60 fps masih ada di sini. Beralih kei belakang. Ini adalah sistem kamera utamanya. 50 megapel main camera F1.59 PDAF dan punya optical image stabilizer. Kemudian kamera 8 megapel ultra wide f2.2 autofokus. I ini auto fokus ya. Ini bukan yang fix focus dipakai buat makro juga jadinya nih ya. Kemudian ada real dual flash juga di sini. Oh ya untuk main kameranya tadi perkaman sampai 4K 60 fps. Sementara untuk ultrawide bisa sampai QD 30 fps. Untuk fitur-fitur ada lumayan banyak di sini. Tinggal dibaca aja ya. Ada banyak juga di sini ya. Oh ya, ada juga sistem RGB lighting di body belakang smartphone ini ya. Ini disebut sebagai mechanical light waves. Ada beberapa efek yang bisa ditampilkan dengan beberapa pilihan warna. Nah, RGB lighting ini bisa aktif dan menampilkan efek tertentu di beberapa kondisi seperti saat ada panggilan masuk, saat memutar musik, saat membuka aplikasi game dan lain sebagainya. Oke, untuk spesifikasi internalnya SOC-nya pakai Dem City 8400 Ultimate. Harusnya ini SOC yang terbilang lumayan kencang ya buat gaming ya. Nah, SOC ini didinginkan oleh hydroflow liquid cooling system. Ini disebut bisa menjaga suhu SOC tetap stabil, jadi performanya tetap terjaga. Nah, kalau melihat tampilan aslinya lengkapnya itu bentuknya seperti ini ya. Kalau di dalam handphone-nya sih kelihatannya cuman separuh gitu, enggak full. Oke, untuk RAM dan storage ada opsi 12256 dan 12512. Keduanya sama-sama mendukung plus 12 GB memusion ya. Untuk RAM ini pakai LPDDR 5X dan storage-nya pakai UFS 4.1 bukan 3.1 bukan 2.2. Untuk baterai 6500 mAh dan ini support charging sampai 45 wat. Dia juga support wireless charging sampai 30 wat. Kemudian ada juga dukungan untuk reverse wireless charging. Untuk sensor-sensor ini lengkap ya, termasuk gyo, hardware juga ada yang namanya juga buat gaming. Untuk kreativitas, nah di sini ada N1 network chip yang disebut digunakan di smartphone ini. Chip ini diklaim membantu kita untuk mendapatkan stabilitas sinyal sampai 60% lebih baik di tempat-tempat yang sulit dijangkau sinyal seluler. Seenggaknya ini klaim dari Infinix. Tentunya untuk 5G dia udah bisa ya, 2G, 3G, 4G, 5G bisa juga. Cuma sayangnya di sini belum ada dukungan untuk isim. Untuk WiFi udah WiFi 6 dual band. Bluetooth-nya versi 5.4. NFC juga udah ada. Kalau USB tentunya udah OTG ya. Tapi sayangnya ini hanya menggunakan standar USB 2.0. Jadi memang belum ada dukungan display output via USBC. Infrared blaster ada juga di sini. Lalu FM radio juga ada, tapi kita harus pasang headset USBC untuk jadi antena radio kalau mau pakai fitur yang satu ini. Untuk OS dia pakai XOS 16 dengan basis Android 16. Infinit menjanjikan ada update versi Android sampai tiga kali. Jadi plus 3 ya dengan security update sampai 5 tahun. Uh, panjang nih. Ada juga untuk always on display juga, tapi memang ini bukan yang benar-benar always on terus gitu ya. Tampilnya cuma beberapa detik aja. Bypass charging bagaimana? Ada tentunya di sini kita bisa mengatur apakah ini akan selalu aktif saat layar smartphone menyala atau saat main game saja. Nah, saat setup awal ada tawaran untuk mengaktifkan beberapa layanan ekstra ya, termasuk global search dan sebagainya. Kalau diasakan tidak dibutuhkan, kita tidak perlu aktifkan enable all services. Nah, terkait aplikasi bawaan, ada beberapa yang udah secara standar diinstal di sini. Ada aplikasi yang terkait dengan Infinityx sendiri, lalu, ada juga aplikasi umum seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain. Kalau dirasa tidak dibutuhkan, aplikasi yang umum tadi bisa juga dihapus. Fitur AI tentunya juga ada di SLS1 ini ya. Ada Flex, AI assistant dari Infinix. Ada juga AI call assistant translation assist, AI writing, record summary, AI gallery, dan lain sebagainya. Untuk fitur AI dari Google tentunya ada ya, Circle to Search tersedia di sini. Oke, sekarang kita lihat hasil benchmark-nya ya. Seperti smartphone Infinix GT series sebelumnya, ada mode performa equilibrium yang merupakan mode standar di smartphone ini dan ada juga high performance. Kita akan coba efek dari kedua mode ini dalam benchmark ya. Antutu 11 dengan equilibrium. Hydroflow-nya off tanpa kipas kita dapat 2,1 jutaan. Lalu hydroflow-nya rapid tanpa kipas kita dapat 2 jutaan. Hydroflow-nya off dengan kipas kita dapat 2,1 jutaan. Hampir 2,2 di sini. Untuk hydroflow rapid dengan kipas kita dapat 2,1 jutaan lagi. Lagi-lagi ini udah hampir 2,2 juta juga. Nah, lalu untuk hydroflow rapid dengan cooler dan case terpasang ini dapat di jutaan hampir 2,1 jutaan. Lalu kalau kita pakai mode high performance un di sebelahnya kita bisa lihat hydroflow off tanpa kipas ada di 2,1 jutaan. Hydroflow rapid tanpa kipas 2,1 jutaan lagi. Hydroflow off dengan kipas 2,1 jutaan juga cuma udah hampir 2,2. Lalu untuk hydroflow rapid dengan kipas lagi-lagi 2,1 jutaan mendekati 2,2 juta. Kemudian untuk hydroflow rapid dengan cooler dan case-nya kita dapat di jutaan. Nah, untuk pengujian unut 11 kita lihat kalau skor tertinggi bisa kita dapatkan dengan menggunakan kipas sebagai pendingin smartphone. Saat menggunakan Hydroflow, skor yang kita dapatkan justru e banyak yang lebih rendah dibandingkan skor tanpa hydroflow. Kita juga menggunakan tambahan GT Max Charge Cooler 2.0. Tapi kenapa skor yang kami dapatkan agak sedikit turun di sini? Meski demikian, skor yang kita dapatkan tuh masih ada di rentang yang enggak terlalu jauh bedanya ya, bahkan tanpa pendingin apapun sama sekali. Oke, sekarang kita lihat konsistensi performanya ya dengan Trib Wl Stress Test ya. Kalau kita pakai hydroflow off tanpa kipas, stabilitynya ada di 95,1%. Kalau hydroflow-nya off dengan dikipasin, kita lihat stability-nya naik di 98,7%. Kalau hydroflow-nya rapid tanpa dikipasin, kita dapat stability di 89,3%. Hydroflow-nya rapid dengan dikipasin, kita dapat stability-nya ah ini tinggi banget di 99%. Lalu kalau hydroflow-nya rapid dan kita pasangkan cooler dan case-nya, kita mendapatkan stability di 94,8%. Ya, besarkan pengalaman kami di 8400 ini seharusnya memang tidak butuh pendingin spesial untuk bisa dijaga performanya agak tetap kencang dan stabil sebetulnya. Terbukti tanpa pendinginan tambahan apapun kita masih bisa dapat stabilitas di kisaran 95%. Menarik ya, kalau hydroflow-nya diaktifkan dan dikipasin, kita bisa mendapatkan kestabilan sampai 99% dengan SOC yang lumayan kencang ini. Tapi entah kenapa kalau case-nya kita pasang, kita mendapatkan stabilitas yang sedikit lebih rendah. Sepertinya ini case-nya membuat pelepasan panasnya jadi kurang baik karena tertutup semua ya. Nah, itu sebabnya kita jadi iseng mencoba pengujian lagi tambahannya dengan memasang GT Max Charge Cooler 2.0 ini secara langsung ke body smartphone dengan stiker magnet generic seperti ini. Kita coba jalankan lagi Antun 11 dan terima kuat life stres test-nya. Dan hasilnya untun 11 dapat 2,1 jutaan dan terima quat life stress test itu mendapatkan stability di 96%. Sayangnya efek pendinginan yang diharapkan masih belum bisa dicapai dengan optimal di sini ya dengan menempelkan langsung si GT Max Charge Cooler 2.0 ke body smartphone seperti ini. Tapi setidaknya ini lebih bagus ketimbang kalau case-nya dipasang. Lanjut dengan Geekbench 6. Kita lihat ya. Hydral flow off tanpa kipas single core di 1578 multiore di 6.396. Kalau hydroflow-nya rapid tanpa kipas kita dapat single core di 1576 dengan multiore di 6.425. Nah, untuk trimax sling shot extreme open gicornya dapat 22.000-an ya di sini ya. Lalu trimax solar bay rate racing kita dapat 6.585 poin atau 25,04 fps. Nah, dari seluruhan hasil bench smartet ada peningkatan performa kalau dibandingkan dengan GT30 Pro. Memang bukan yang jauh banget meningkatnya, tapi ya memang ini lebih kencang dari pendahulunya. Oke, kita lanjut ke punjaan gaming. Secara standar yang kami gunakan adalah mode performance ya. Untuk Genchin Impact kita mainkan di setting high 60. Pertama kita coba dulu tanpa pakai hydroflow. Hasilnya di awal frame rate bisa rata di 60 fps. Tapi setelah sekitar 22 menit frame rate tiba-tiba turun ke 50 fps dan seperti ditahan di angka tersebut. Ini terjadi saat indikator suhu di aplikasi pemantauan kami itu menampilkan 40 derajat celcius. Rata-rata yang kami dapatkan dalam 30 menit ada di sekitaran 57 fps. Untuk suhu permukaan smartphone di layar area terpanas ada di sekitar kamera selfie dengan suhu hanya sekitar 38 derajat celcius. Area lainnya di 37 derajat Celcius ke bawah. Sementara untuk sisi belakang titik dengan suhu tertinggi ada di samping modul kamera dengan suhu 41 sampai 42 derajat Celcius. Terasa agak hanget tapi belum sampai yang kepanasan banget. Untuk area lain suhunya tuh di bawah 40 derajat celcius. Lanjut. Sekarang kita coba aktifkan hydroflow. Ternyata dengan hydroflow aktif kita bisa mendapatkan frame rate rata di 60 fps dari awal sampai akhir pengujian selama 30 menit. Rata-rata yang kami dapatkan pun bisa mencapai 59,9 FPS. Nah, ini mantap nih. Mulus dan lancar. SU permukaan smartphone saat hydroflow-nya aktif untuk sisi layar itu tertinggi masih di kisaran 39 derajat celcius. Sementara di belakang suhunya tuh lebih terjaga hanya menyentuh 38 sampai 39 derajat Celcius. Lanjut lagi, kami iseng hanya menggunakan fan grip standar tanpa mengaktifkan hydroflow. Apakah akan muncul peringatan juga? Ternyata sampai punya 30 menit peringatan tadi enggak muncul ya dan game berjalan dengan mulus lancar. Kita juga mendapatkan rata-rata di 59,9 FPS. Lalu masih dengan hydroflow active kita coba pasang GT Max Charge Cooling 2.0. Saat keluarnya dipasang muncul opsi draco mode ya. Nah, ini mode yang menawarkan performa yang tidak dibatasi. Nah, saat kami coba mainkan Gin Impax selama 30 menit ya frame rate kita dapatkan terbilang rata di 60 fps. Tapi suhu body benar-benar enggak dijagain di sini ya. Saat kami coba cek di akhir 30 menit suhu body smartphone itu bisa mencapai 45 sampai 46 derajat celcius. Nah, karena alat ini juga berfungsi sebagai wireless charger, baterai smartphone juga akan diisi ulang selama 30 menit. Nah, di sini baterainya naik sekitar 4 sampai 5%. Nah, tapi menariknya di sini ada opsi wireless bypass charging kan ya. Nah, saat itu diaktifkan baterai memang tidak diisi ulang. Jadi, persentasinya tidak meningkat bahkan agak berkurang saat kita coba mainkan selama 30 menit. Sementara untuk frame didapatkan dan suhu permukaan body terbilang mirip ya saat antara wireless bypass charging ini aktif maupun tidak. Jadi untuk performa Gensin Impact kita bisa mendapatkan performa yang konsisten dengan menggunakan hydroflow, hydroflow plus GT Max Charge cooling 2.0 dengan dry commode maupun hanya pakai fan grip biasa. Nah, untuk ranking tanpa menggunakan pendingin tahan apapun kami sudah bisa berikan ranking A+ sementara untuk scan lain kita bisa dapatkan S plus di sini. Oh ya, untuk fitur khusus di dalam game Gensin Impact untuk mempercepat dialog dan untuk memungut item secara otomatis itu juga masih tersedia di sini ya. Oke, kita lanjut ke PUBG Mobile. Untuk game 1 ini setting frame rate-nya sampai 120 FPS itu terbuka di sini. Kita coba dengan setting smooth tanpa pendingin. [mendengus] Di awal frame rate bisa stabil di kisaran 120 fps. Tapi setelah su menyentuh 40 derajus, frame rate turun ke 100 fps dan kemudian tertahan di angka tersebut sampai akhir match yang kami mainkan. Seharusnya dengan mengaktifkan hydroflow atau menggunakan fan grip, penurunan frame rate ini bisa diatasi ya atau ya kita pasang aja si GT Max Charge Cooler 2.0 dan aktifkan draco mode-nya agar frame rate-nya terjaga tetap mentok atas terus. Nah, Gyoing tentunya nyaman, akurat, dan sangat responsif ya. Ini efek penggunaan hardware base gyro. Lalu kita coba juga GT trigger yang ada di smartphone ini. Ada empat input yang bisa dikenali trigger ini. Tap, hold, swipe kiri, dan swipe kanan. Untuk PUBG kita coba seperti ini ya. Typ untuk menembak, hold untuk reload peluru di senjata, swipe kiri dan kanan untuk mengganti senjata. Saat kami coba, keempat input tersebut bisa dikenali dan dijalankan dengan baik. Tapi tentunya ini akan butuh pembiasaan diri ya agar lancar menggunakan trigger ini secara optimal. Tentunya ini tidak hanya berlaku untuk PUBG Mobile ya, untuk semua game yang lain ya, terutama untuk game-game FPS itu akan bisa dimapping kayak begini juga. Lanjut untuk Mobile Legends. Kita coba juga game yang satu ini. Ternyata game ini bisa dijalankan di refresh rate mentok kanan alias 144 Hz. game ini jalankan di kualitas rata kanan ya. Kita coba mainkan beberapa match sampai total sekitar 30 menit. Pencatatan frame rate kami jalankan hanya di match terakhir dalam 30 menit yang terakhir ya. Pertama kita coba dulu tanpa pendingin ekstra. Hasilnya frame rate terbilang rata di 144 FPS. Minim sekali ada penurunan frame rate. Bahkan saat ada batil yang rameai frame rate masih terjaga tetap dekat dengan 144 fps. Setelah setengah jam untuk area layar ada satu titik di bagian bawah dekat port USB yang suya mencapai 39 derajat Celcius. Ini agak mengherankan ya. mengingat kami tidak sedang mengisi ulang daya smartphone. Su area atas smartphone ada di kisaran 38 sampai 39 derajus. Ini sebenarnya sih enggak panas ya, cuma sedikit lebih tinggi doang ya. Sementara untuk sisi belakang suhu tertinggi ada di area tengah dan itu pun hanya mencapai 39 derajat Celcius saja. Area atas dan bawah sisi belakang suhunya ada di 38 derajat Celcius. Lalu kita coba juga dengan menggunakan hydroflow. Tentunya ya frame rate-nya terjaga sekali dekat dengan 144 FPS juga. Untuk suhu permukaan dengan hydroflow aktif, sisi depan suhu terlihat lebih rendah, hanya sekitar 34 sampai 37 derajat celcius saja. Sementara untuk sisi belakang, titik tertinggi suhunya ada di kisaran 38 derajat Celcius, tapi secara umum sedikit lebih rendah daripada kalau kita tidak pakai hydroflow. Oke, setelah mencoba sistem pendingan ekstra di smartphone ini di tiga game, kita coba buat kesimpulan singkat ya untuk Hydroflow dan GT Max Charge Cooler 2.0. Pertama untuk hydroflow. Walaupun di benchmark hydroflow ini belum terasa efeknya, di game ini ternyata dia bisa membantu mencegah penurunan frame rate. Sekalipun kita tidak memasang GT Max Charge Cooler 2.0, sistem liquid cooling dalam smartphone ini bisa mencegah terjadinya penurunan performa setidaknya dalam pengujian gaming kami. Ini bisa jadi opsi yang menarik ya kalau misalnya kita sedang ada di luar rumah dan ingin main game atau mungkin mabar game kompetitif ya, aktifkan aja hydroflow-nya ini. Kita bisa dapat performa yang lebih baik dari smartphone ini untuk main game. Beralih ke GT Max Charge Cooler 2.0 Yang satu ini kami belum merasa benar-benar membantu pendinginan smartphone. Pertama ya karena pemasangannya seperti yang tidak bahas tadi ya. Kemungkinan karena casing-nya sendiri menghambat pembuangan panas. Selain itu device ini juga bisa menyalurkan daya ke smartphone lewat wireless charging. Wireless charging ini juga bisa jadi menambah potensi peningkatan suhu di body smartphone. Walaupun ada fitur bypass charging untuk wir charging, tetap saja akan ada sedikit panas yang dihasilkan saat proses transfer daya ke smartphone karena ada coilnya di situ ya. Kalau dicari adalah device yang bisa membantu membuang panas dari smartphone. Bisa jadi fan grip itu lebih tepat untuk digunakan. Sementara GT Max Charge Cooler 2.0 ini justru lebih terasa kalau kita mau memanfaatkan wireless bypass charging-nya. Jadi kita bisa main game tanpa harus nge-charge baterainya. Biar awet aja baterainya tahan lama ya. Jadi kurang lebih seperti itu, ya pengujian gaming dengan Hydroflow dan GT Max Charge Cooler 2.0. Nah, untuk game-game berikut ini kita langsung tes dengan menggunakan Hydraflow dan modenya performance ya. Untuk watering wave kita coba dengan setting quality 60 fps. Di awal frame rate yang kita dapatkan terbilang konsisten dekat 60 fps. Tapi setelah sekitar 4 menit frame rate langsung turun dan tertahan maksimal hanya sampai 50 fps aja. Mendekati menit ke-25 frame rate turun lagi dan tertahan dan mentok di 45 fps. Rata-rata yang kami didapatkan selama 30 menit adalah di kisaran 50 fps. Kemungkinan besar karena game ini memang menuntut SOC bekerja dengan lebih keras jadi panasnya lebih tinggi. Nah, sistemnya ya stereo software itu menahan frame rate-nya jadinya. Nah, bagaimana kalau kita bantu dengan fan grip? Ternyata setelah 3 menit frame rate juga turun jadi tertahan di 50 fps. Tapi setelah sekitar 15 menit frame rate-nya bisa kembali naik ke 60 fps. Setelah setengah jam rata-rata frame rate yang kita dapatkan ada di 55 frame pers. Lebih bagus kan? Oke, lanjut untuk Delta Force. Kita coba mainkan game ini di setting smooth dan game ini ternyata bisa berjalan di 120 fps. Ini sesuai janji Infinix ya. Game ini bisa kita nikmati di 120 fps. Hampir rata dekat sekali dengan 120 fps. Tapi setelah beberapa menit frame rate-nya turun dan tertahan dan mentok di sekitaran 90 fps. Frame rate sempat naik lagi ke 120 fps lagi tapi tidak bertahan lama dan kembali lagi turun di 90 fps. Oh ya kalau kelihatan ada frame drop ke 30 fps itu waktu karakter kita mati dan harus pilih ulang karakternya. Entah kenapa memang langsung dibatasi ke 30 fps saat itu. Lanjut lagi. Kalau kita pakai tambahan fine grip hasilnya game ini jadi mulus lancar dekat 120 FPS. Rata-rata kita dapatkan bisa mencapai 117 FPS. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian kameranya. Di tangan saya kali ini udah ada Infinix GT50 Pro. Untuk pengujian mikrofon kali ini sama saya antar pengujian kameranya tetap bersama Bang Kris. Untuk kualitas mikrofonnya kurang lebih seperti ini. Suara saya bisa ketangkap dengan sangat baik meskipun suara di sekitar masih bisa ketangkap juga. Jadi kalian bisa dengar sendiri ya, suara angin, suara kegiatan di sekitar itu masih bisa ketangkap di mikrofon smartphone ini. Nah, kalau misalnya ingin kualitas mikrofon yang lebih profesional, kita bisa pakai mikrofon eksternal seperti ini. Dan di Infinix GT 50 Pro ini mikrofon eksternalnya bisa tersambung dengan baik. Tapi masalahnya di UI kameranya itu tidak ada notifikasi apakah mikrofonnya benar-benar tersambung atau enggak. Jadi sebelum kita bikin konten seperti ini, coba dulu aja deh mikrofon eksternalnya apakah sudah benar-benar tersambung atau enggak. Jadi kurang lebih begitu ya kualitas mikrofon dan pengujian mikrofon eksternal di Infinix GT50 Pro. Sekarang kita lanjut ke pengujian kameranya bareng sama Bang Kris. Sekarang kita lanjut ke kamera selfie-nya. Untuk kamera selfie-nya ini bisa sampai 4K 30 fps. Kualitasnya sendiri terbilang bagus ya. Detailnya tertangkap dengan baik. Ketajamannya juga pas serta warnanya juga oke. Menurut kami. Kita juga sempat cobain di 1080p dan 1080p 60 fps. Kalau kita perhatikan lebih detail, ternyata kualitas gambar di 60 fps agak menurun sedikit ya dibanding sama 30 fps-nya. Jadi meskipun sama-sama di 1080p, tapi kualitasnya beda. Lebih maksimal di 30 fps. Dari segi dynamic range aman, area gelap dan terang bisa keangkat dengan baik. Ini berlaku untuk semua opsi resolusi dan frame rate. Kita juga sudah coba di 60 fps dan dynamic range-nya juga konsisten bagus. Stabilizer di 4K 30 fps sudah terbilang aman. Videonya terlihat rapi dan mulus saat di bawah jalan seperti ini. Di 1080 p 60 fps stabilizernya bisa bekerja juga tapi menurut kami belum serapi di 30 fps. Hentakan kaki itu masih bisa menimbulkan jedak pada videonya. Pindah ke kamera utama. Di sini kita bisa merekam sampai 4K 60 fps. Untuk kualitasnya terlihat oke banget ya. Detailnya bagus, ketajamannya juga oke dengan warna yang cenderung vibrant baik di 30 fps maupun 60 fps. Kualitas videonya konsisten bagus. Kami tidak melihat ada penurunan kualitas di sini. Dynamic range terbilang baik, area terang bisa ditangkap dengan baik juga. Untuk area gelap sedikit berharap bisa keangkat sedikit lagi sih, tapi secara umum ini udah bagus lah. Di 4K 60 fps juga aman. Dynamic race-nya konsisten bagus. Tapi untuk stabilizer kalau kita lihat nihnya belum yang super rapi ya. masih ada efek kedut-kedutnya gitu saat di bawah jalan seperti ini. Ini berlaku di semua opsi resolusi dan frame rate. Untuk kamera ultra wide resolusinya bisa sampai 2K 30 fps. Kami sudah cek dan memang 2K di sini bisa kasih detail ekstra dibanding 1080p meskipun bukan yang signifikan banget sih sebetulnya. Hasilnya sendiri sudah mencukupi dengan detail dan warna yang cukup baik. Dari Micrang terbilang oke, sisi gelap dan terang dapat diseimbangkan dengan baik. Dari segi stabilizer terbilang mencukupi dengan jater yang tergolong minim. Sekarang kita lanjut ke pengalaman multikameranya. Di sini kita bisa pindah antara kamera utama dan ultra wide saat merekam video. Untuk pindah ke kamera selfie belum bisa. Catatannya fitur ini hanya tersedia di opsi 1080p 30 fps saja. Untuk transition-nya sendiri terbilang cepat di sini. Lalu untuk konsistensi warna antar kameranya terbilang sudah cukup mendekati. Ada sih sedikit pergeseran warna, tapi enggak sejauh itu kok. Saat pindah kamera seperti ini ada proses fokus ulang. Untungnya fokusnya cepat ya. Jadi menurut kami enggak terlalu mengganggu dari sisi visual. Nah, kalau soal audionya gimana nih? Kepotong enggak pas pindah kamera? Nah, tenang di sini gak kepotong kok. Untuk contohnya bisa kalian lihat berikut ini ya. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20. Sekarang kita masuk ke low light. Kita bahas kamera selfie-nya dulu. Di 4K 30 FPS detail masih terjaga dengan noise yang mulai terlihat terutama di area gelap. Menariknya, keseluruhan gambar masih tergolong terang. Kalau di Full HD 60 fps kualitasnya belum semaksimal di 30 fps. Secara keseluruhan gambarnya terlihat lebih soft. Karakter warna juga berubah sedikit jadi lebih warm. Untuk frame rate aman ya. Enggak ada penurunan frame rate baik di 30 fps maupun full HD 60 fps. Buat stabilizer di 4K 30 fps stabilizernya bekerja dengan baik ya. Jiter ada tapi minim banget di sini. Overall udah tergolong rapi lah ini. Kalau di full HD 60 fps stabilizernya juga rapi dari cheater. Tapi masih terasa ada hentakan aja saat di bawah jalan seperti ini. Lanjut ke kamera utama. Frame rate 30 FPS hasilnya sih masih terang banget ya. Warna dan detail juga masih bisa terjaga dengan baik. Noise sih ada tapi di level yang minim. Yang penting overall gambar masih terbilang ok lah. Di 60 fps juga sama terangnya cuman kalau kita pixel pip kelihatan tuh ketajamannya agak sedikit berkurang. Tapi overall kualitas kamera utamanya impresif sih mengingat ini smartphone gaming ya. Dari segi frame rate juga aman. Enggak ada penurunan frame rate di sini. Stabilizer di 4K 30 fps masih belum terlalu rapi ya. Efek jater dan kedut-kedutnya tuh cukup terasa di sini. Di 4K 60 FPS jater bisa teredam, tapi efek kedut-kedut di videonya masih terasa di sini. Pindah ke kamera ultrawide, kualitasnya lumayan jomplang ya. Apalagi setelah melihat kamera utamanya yang mantap. Kalau kitanya bergerak akan ada artefak atau gambarnya itu terlihat agak pecah di beberapa bagian. Lalu dikombinasi juga ada motion blur-nya di sini. Setidaknya di sini Zaki masih kelihatan terbentuknya lah ya. Dan overall gambar masih cukup terang. Cuman ekspektasinya jangan berlebihan aja untuk ultrawide-nya. Nih dari segi frame rate aman, enggak ada masalah di sini. Untuk stabilizer, gambar terlihat seperti bergelombang saat di bawah jalan begini nih. Jadi buat kami EIS-nya ini belum bekerja dengan optimal. Sekarang kita coba kemampuan autofokusnya. Autofokusnya ini bisa dipakai di kamera utama dan kamera ultrawide. Untuk selfie sayangnya masih belum bisa. Kita langsung tes di low light aja. Di kamera utamanya aman ya, cepat dan responsif. Kalau di ultrawide autofokusnya bisa jalan. Cuma kadang autofokusnya bisa lari-lari kayak begini nih. Tapi kalau di kondisi cahaya cukup sih enggak ada masalah. Sekarang kita pindah ke bagian fotografi. Buat foto-foto hasilnya udah aman banget, warnanya cakep, detailnya juga dapat. Urusan dynamic ram dan selfie-nya udah bagus ya. Kalau di kamera ultra wide menurut kami masih perlu diperbaiki lagi. Soalnya area terangnya itu masih belum terekspos dengan baik. Overall kalau kondisi pencahaian cukup, kamera smartphone ini udah bisa diandalkan bangetlah untuk kamera utama ultra wide dan selfie-nya. Untuk foto low light juga aman. Foto terlihat masih terang. Detailnya juga bisa terjaga dengan baik dan noise-nya juga minim. Nah, untuk portrait di sini kita juga cobain di kondisi terang aman-aman aja portretnya rapi blurernya. Untuk kamera selfie juga bisa portret B tentunya tapi memang kalau kita perhatikan di bagian rambut belum yang rapi-rapi banget untuk bokehnya. Untuk kondisi low light foto potret aman. Bokenya bisa rapi. Untuk fitur ekstra kita cobain beberapa ya di sini. Pertama ada slow motion tidak ada opsi frame rate di sini. Jadi ketika kita merekam itu resolusi dan frame rate-nya otomatis jadi 1080p 120 fps. Secara default kamera smartphone ini hanya menangkap slowo beberapa detik aja ya. Tapi tenang, kita bisa bikin videonya jadi full slowmo lewat menu editnya. Berikutnya ada mode pro. Mode pro di sini hanya bisa dipakai untuk foto ya. Lalu untuk mode pro ini bisa kita pakai untuk kamera utama dan ultra wide. Untuk selfie belum bisa. Untuk detail ISO dan shutter speed bisa kalian cek di tabel berikut ini. Lanjut kita coba dual video. Fitur ini menggabungkan kamera utama dan selfie jadi satu frame. Terdapat dua layout yang bisa dipilih, yaitu picture and feature atau side by side. Selain itu, kita bisa ganti posisi kameranya sesuai kebutuhan kita. Ada sedikit catatan juga di mana saat kita mulai merekam video, kita tidak bisa mengganti layout-nya. Kalau mau ganti posisinya doang, itu masih bisa. Tak ketinggalan ada fitur Skyshop. Fitur ini bisa dipakai untuk mengubah suasana langit di foto kita. Di sini terdapat beberapa template yang disediakan. Mulai dari template langit cerah hingga suasana langit malam. Lumayanlah, terlebih kalau langit di tempat kita lagi kurang bagus. Oke, itu dia tadi pengujian kameranya Infinix GT 50 Pro. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki di sini. Yang pertama yaitu stabilizer videonya kurang rapi. Semoga hal ini bisa di-fix via software update. Lalu ultra wide-nya belum bisa 60 fps. Kemudian autofokus low light di kamera ultrawide tuh masih belum optimal dan sedikit berharap ada mode pro untuk video. Enggak cuman buat foto aja. Dari segi poin menariknya, kita bisa lihat dynamic range di videonya itu cukup konsisten di berbagai kameranya. Biasanya tuh di beberapa smartphone lain bisa ada belang-belang, cuman di sini cukup konsisten untuk dynamic range-nya. Lalu dia punya ultra wide autofokus. Ini juga bisa jadi makro. Menarik juga. Kamera utamanya bisa merekam 4K 60 fps udah kayak flagship aja. Kualitas kameranya juga bisa diandalkan di berbagai situasi. Kamera selfie-nya bisa merekam 4K dan kualitas kamera utamanya itu impresif di low light. Kesimpulannya memang smartphone ini bukan menjadikan kamera sebagai fokus utama, tapi kalau kita lihat pengujian tadi, sepertinya Infinix masih cukup memperhatikan kualitas kameranya deh. Enggak cuman asal ada aja, kamera smartphone ini masih bisa menghasilkan foto dan video yang terbilang oke untuk standar smartphone gaming. Kalau di kelas smartphone non gaming, kualitas kameranya juga masih tergolong cukup baik. Bukan yang paling luar biasa, tapi masih sangat bisa diandalkan untuk berbagai kebutuhan. Ya, kalau memang ada beberapa isu di kameranya, semoga bisa diperbaiki lewat software update. Sekian pengujian kameranya Infinix GT50 Pro. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian daya tahan baterainya. Untuk YouTube offline video playback 1080p, baterai smartphone ini baru habis setelah 24 jam 8 menit. Hasil yang enggak begitu hebat sebetulnya mengingat baterainya 6.500 mAh. Kita sebetulnya berharap itu sudah mendekati 30 jam. Lanjut untuk YouTube streaming 1080p 30 fps, baterai berkurang sekitar 6% dalam 1 jam. Untuk mainan TikTok ya, itu baterai berkurang 6% dalam 1 jam. Lalu untuk Gensin Impact high 60 selama setengah jam dengan hydroflow off tanpa kipas baterai berkurang 10%. Kalau hydroflow-nya on tanpa kipas, baterai berkurang juga di 10%. Lalu untuk charging untuk sampai 50% kita butuh waktu 30 menit. Untuk dari kosok sampai penuh kita butuh waktu 1 jam 3 menit. Hasilnya cukup oke ya. Mengingat baterai charge adalah 6500 mAh dengan charger 45 watt. Ini bukan yang super cepat tapi udah ok lah di sini. Lanjut lagi. Untuk Netflix dia udah langsung WF L1 support streaming sampai full HD tapi dukungan HDR belum tersedia. Untuk YouTube ini streamingnya lancar sampai 4K60 dengan HDR dan HDR-nya terbilang tampil dengan baik di smartphone ini. Untuk HPTIK feedback secara standar getaran hasilnya tuh belum terasa kuat tapi udah relatif pendek dan akurat. Ini udah mencukupi lah ya. Untuk Wii sharing ini bisa ya dengan mengaktifkan personal hotspot saat kita terhubung ke Wii. Oke, untuk harganya Infinix GT50 Pro ini dipasarkan dalam dua opsi. Ada yang 12256 harganya Rp6.999.000 dan ada yang 1251 harga di Rp7.999.000. Nah, untuk harganya ini ada harga full set box ya. Jadi seperti yang kami terima untuk pengujian ini. Jadi, sudah termasuk dengan keluar tambahan seperti yang kita bahas tadi ya. Oke, kita langsung masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. pertama daya tahan baterai terasa kurang mantap aja untuk baterai 6500 mAh. Kemudian speakernya terasa belum mantap untuk kelas harganya. Masih terasa agak mirip dengan speaker dari GT series sebelumnya yang memang diposikan di kelas yang lebih terjangkau. Kemudian sayangnya di sini tidak ada audio jack 3,5 mm ya. Padahal kalau mau gaming tuh enaknya pakai yang satu itu. Nah, di sini kita jadi terpaksa pakai adapter USBC ke audio jack untuk pengalaman audio tanpa lag. Lalu ini pakai IP64 untuk IP rating yang terasa udah agak tertinggal untuk kelas harga segini. Lalu untuk performa memang bukannya terkencang di kelas ya, tapi harusnya sudah sangat memadai. Bahkan untuk gaming ini udah mantap sebetulnya. Lalu untuk GT Max Charge Cooler 2.0 ini terasa agak kurang optimal untuk mendinginkan smartphone, terutama karena kita butuh smartphone-nya ada di dalam case kalau mau menempelkan device ini ke smartphone. Dari segi yang kami suka, performanya mantap buat gaming. Memang bukan yang terkencang di kelas harganya, tapi ini masih tetap terbilang menawarkan performa yang memadai. Di sini hydroflow liquid cooling. Nah, ternyata ini bisa membantu mendapatkan performa lebih stabil saat main game. Ini enggak kelihatan di benchmark, tapi di game kelihatan, ya. Kemudian dia punya pressure sensing GT trigger yang mendukung empat macam input. Ini lebih canggih dari pendahulunya. Lalu layarnya AMOLED 144 Hz dan ini berguna ya karena ada game yang bisa dijalankan di 144 Hz ya. Lalu game-game esports ini jalan di frame rate yang tinggi termasuk untuk PUBG Mobile, CODM dan Delta Force juga. dia juga bisa wireless charging dan reverse wireless charging. Bahkan lalu dia punya bypass charging bahkan bisa wireless bypass charging. Tapi ini memang khusus kalau kita pakai GT Max Charge Cooler 2.0 ya. Kemudian untuk kameranya perekaman video bisa sampai resolusi 4K depan dan belakang. Lalu dia punya opsi storage sampai 512 GB. Ini cocok buat yang mau nginstal banyak game. Sensor-sensornya juga lengkap. Lalu ada janji update versi Android sampai tiga kali dan seurity update sampai 5 tahun. Dan buat yang suka desain gaming, ini desainnya cukup terasa di smartphone ini. Terlebih dengan adanya area transparan untuk menampilkan liquid cooling dan RGB lighting. Lalu untuk paket penjualan, wah ini lengkap banget ya. Oke, Infin GT50 Pro. Smartphone gaming ini memang menawarkan beberapa peningkatan dibanding pendahulunya yang GT30 Pro. Peningkatan ini seakan membuat naik kelas dia terutama dengan hadirnya si Hydroflow sistem liquid cooling terintegrasi dalam body smartphone. Untuk gaming, apa yang ditawarkan smartphone ini sudah bisa dikatakan mantap. Enggak ada komplain sebetulnya ya, performance sudah mantap, player sudah oke, refresh-nya tinggi, dan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh beberapa game. Ada juga beberapa fitur ekstra pendukung gaming yang memang terbilang sangat berguna di sini. Tapi bukan cuma soal gaming doang ya, smartphone ini sebenarnya terbilang allrounder yang mumpuni. Cocok juga untuk berbagi aktivitas di luar gaming, termasuk untuk kameranya juga ya seperti yang sebelum-sebelumnya lah ya. GT ini termasuk allrounder sebetulnya. Nah, apakah pengguna Infinix GT30 Pro layak untuk upgrade ke smartphone ini? Menurut kami dari segi performa untuk gaming, Infinix GT30 Pro itu masih menawarkan performa yang mumpuni. Mungkin belum waktunya untuk upgrade kalau yang dicari adalah kemampuan melibas berbagai game dengan mantap. Terlebih lagi karena berbagai kondisi global saat ini, harga dari Infinice GT50 Pro ini terasa agak beda ya dari pendahulunya ya. Jadi secara umum kalau dicari adalah sebuah smartphone untuk gaming di kelas harganya ini, ini adalah salah satu pilihan yang sangat menarik terutama kalau yang dicari adalah smartphone gaming yang allrounder juga.
