Review iQOO Z11, Ini Baru Smartphone Baterai Badak! (YouTube Video)
Baterai smartphone kalian 5.000 mAh, udah biasa. 7.000 mAh, ya okelah. 8.000, hmm belum. Nih, iQOO Z11, 9.020 mAh. Enggak cuma gede-gedean angka aja ya, baterainya nih awet banget. Kita ngetes tuh dia bisa tahan hampir 2 hari nyala terus. Performanya juga oke ya, pakai Snapdragon 7s Gen 4. Main Genshin Impact setengah jam baterai cuma berkurang 5% aja. Layarnya juga mantap, pakai 1.5K AMOLED display. Speaker udah stereo, enggak mono lah ya, enggak mono. Oke, enggak usah lama-lama lagi langsung aja kita bahas si iQOO Z11. [musik] Ya, sejak awal kemunculannya di Indonesia lini Z series itu memang terkenal dengan kemampuan baterai yang awet dan performa yang masih mumpuni. Untuk iQOO Z11 sendiri, iQOO ini mengklaim baterai smartphone ini jadi yang paling besar dan paling awet untuk penggunaan intensif. Klaim yang cukup berani ya, tapi apakah benar seawet itu? Terus masa iya bagusnya di baterai doang? Aspek lainnya bagaimana? Langsung aja kita bahas mulai dari paket penjualannya. Di dalamnya tentunya ada unit iQOO Z11 plus screen protector yang udah langsung terpasang. Dan tentunya ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 90W flash charge. Kemudian ada kabel USB A to C, ada softcase yang transparan, ada SIM ejector dan paket dokumen. Jadi masih lengkap paket penjualannya ya. Nah, untuk desain smartphone ini mengusung desain yang serba flat, baik sisi depan, sisi samping dan sisi belakangnya. Untuk tiap sudutnya sendiri dibikin membulat ya. Nah, ini desain yang beda dari iQOO Z10 yang pakai desain serba curve. Buat yang lebih suka desain flat harusnya bakal cocok sama yang satu ini. Untuk material, body belakang dan frame-nya sama-sama terbuat dari polycarbonate tapi kokoh ini ya. Ada dua opsi warna yang tersedia, yakni Glacier Blue dan Cosmic Black. Nah, untuk dimensinya, tingginya 163,73 mm, lebar 76,18 mm, ketebalan di 8,25mm. Sementara bobotnya sendiri ada di kisaran 215 gram. Untuk sebuah HP yang baterainya 9020mAh, bobotnya sih tergolong wajar ya. Tapi memang kalau dipakein casing lagi, bobotnya itu masih bisa sedikit lebih berat. Nah, sekarang kita lihat di sekeliling body-nya. Di kanan ada tombol power dan tombol volume up and down. Di atas ada lubang mikrofon dan ada grill speaker. Di kirinya ini kosong ya. Di bawah ada SIM tray untuk dual SIM. Lalu ada lubang mikrofon, port USB-C, dan grill speaker. Kelihatan ya, ada dua speaker di sini. Ini upgrade dari Z10 yang masih pakai mono speaker. Kualitas speaker-nya juga terbilang baik. Suara mid terdengar dominan, treble juga lumayan terasa, dan bass-nya masih cukup terdengar. Keluaran suara juga masih lantang di sini. Kalau dibutuhkan, volume suaranya masih bisa ditingkatkan lagi hingga 200%. Tapi ini cocoknya untuk video call atau pas telponan aja ya. Nah, untuk perlindungan smartphone ini sudah dilapisi dengan rating di IP68 dan IP69. Yang berarti kedap debu, tahan ditenggelamkan, dan tahan semprotan air bertekanan tinggi. Jadi, kalau enggak sengaja kesiram atau kecemplung dalam air, harusnya masih aman. Tapi ini hanya proteksi, jadi jangan dipakai buat berenang, buat nyelam gitu ya. Jangan, jangan ya. Selain itu, iQOO juga melakukan military grade testing dengan berbagai pengujian ekstrem, termasuk pengujian terhadap air hujan, pengujian di suhu ekstrem, hingga dijatuhkan dari ketinggian tertentu. Jadi, soal durabilitas harusnya sudah aman yang satu ini. Oke, sekarang kita lihat di bagian depannya. Ini ada layar 6,83 inci AMOLED. Resolusinya 2800 x 1260 pixel. Secara default, resolusinya diatur ke HD atau 2400 x 1080 pixel. Tapi ini bisa diatur ke resolusi yang lebih tinggi kalau dibutuhkan. Layar ini punya refresh rate up to 144 Hz. Tapi saat kami coba, refresh rate-nya kenapa hanya nyangkut di 120 Hz ya? Saya enggak ada opsi untuk memaksakan refresh rate 144 Hz di menu setting maupun overlay ultra game mode-nya. Tapi tetap aja ya, refresh rate 120 Hz itu masih tergolong mulus ya, enggak terasa patah-patah sama sekali lah di sini ya. Mungkin nanti dengan update software bisa itu tercapai. Nah, untuk refresh rate ini adaptif bisa turun ke 60 Hz kalau tidak ada aktivitas di layar atau saat kita lagi mutar video misalnya. Untuk brightness di kondisi indoor itu bisa mencapai 625 nits. Nah, kalau kita coba simulasi outdoor itu brightness-nya bisa mencapai 1.600-an nits. Ini sudah tinggi banget. Di bawah sinar matahari juga enggak ada masalah. Nah, di sini ada tiga mode warna yang tersedia. Ada natural, profesional dan ada bright. Di mode natural warna layar itu diarahkan ke 100% DCI-P3. Kalau di mode profesional warnanya diarahkan ke 100% sRGB. Ini akan cocok kalau mau dipakai buat ngedit foto, ngedit video gitu ya. Sementara kalau mau warna layarnya lebih gonjreng kita bisa atur ke mode bright. Di mode ini warna layarnya jadi lebih dari 110% DCI-P3. Nah, untuk always on display tersedia tapi hanya bisa nyala 5 detik aja. Belum benar-benar always on. Untuk bezel-nya smartphone ini sudah terlihat tipis dan terbilang simetris di keempat sisinya. Nah, di sisi atas layar ada ear piece serta ada kamera selfie 32 MP yang ditempatkan di area punch hole di bawah ear piece tadi. Nah, bukaannya ini adalah f/2.0. Ukuran sensornya 1/3,1 inci. Ini adalah kamera fix fokus dan perekaman video up to 4K 30 fps. Opsi untuk 1080p 60 fps ada di sini ya. Beralih ke belakang. Di sini ada modul kameranya yang sekarang pakai desain baru ya. Dengan desain kotak yang sudut-sudutnya melengkung ya ditempatkan di sisi kiri atas seperti ini. Di dalam modul ini ada kamera utama 50 MP Sony IMX882 OIS. Bukaannya f/1.79. Auto fokus tentunya. Ukuran sensornya 1/1,9 inci dan ini pakai optical image stabilizer. Perekaman video itu up to 4K 30 fps dan ada opsi untuk 1080p 60 fps. Kemudian di bawahnya itu adalah kamera bonus aja. Kemudian di sisi kanannya ada LED flash serta infrared blaster yang ditempatkan di area LED flash. Untuk fitur-fitur kameranya lumayan banyak ya. Tinggal dibaca aja di list yang satu ini ya. Lanjut untuk spesifikasi internalnya, SOC-nya pakai Snapdragon 7s Gen 4. Nah, di sini ada tiga opsi RAM dan storage yang akan dijual di Indonesia. Ada yang 8128, ada yang 8256, dan ada yang 12256. Untuk yang kita uji kali ini, ini yang RAM-nya 12 GB dengan storage 256 GB. Oh ya, semua varian iQOO Z11 ini menggunakan RAM tipe LPDDR4X dan storage-nya sudah UFS 3.1, ya. Ya, jadi kencang. Untuk sistem pendingin, smartphone ini menggunakan vapor chamber yang luasnya adalah 7.000 mm persegi. Baterainya seperti yang kita bahas tadi, 9.020 mAh Ford Gen Silicon Anode Technology. Dengan teknologi tersebut, iQOO mengklaim dia bisa memberikan kapasitas baterai yang jauh lebih besar, tapi ukuran baterainya tetap terjaga supaya tidak terlalu tebal. Kalau klaimnya iQOO, ketebalan baterai smartphone ini ada di 5,87 mm. Nah, dengan kapasitas yang besar banget gini, apakah baterai beneran jadi lebih awet dari yang sebelum-sebelumnya? Nanti kita lihat di pengujian baterai. Kita lanjut lagi. Untuk charging, ada 90 W flash charge. Lalu ada dukungan bypass charging juga kalau memang dibutuhkan. Selain itu, smartphone ini juga mendukung reverse charging dengan daya up to 7,5 W. Untuk sensor, dia punya accelerometer, proximity sensor, ambient light sensor, magnetometer, e-compass, dan ada gyroscope hardware-nya. Konektivitas tentunya sudah 5G, ya. 3G, 4G, 5G bisa semuanya. Wi-Fi-nya Wi-Fi 6, Wi-Fi sharing tersedia. Gampang, cukup aktifkan menu hotspot saat smartphone-nya terhubung ke jaringan Wi-Fi. Untuk Bluetooth-nya di versi 5.2 dan codec-nya ada SBC, AAC, keluarga aptX aptX ada di situ, dan LDAC atau LDAC juga ada. NFC-nya sudah langsung multi function, USB-nya juga OTG. Untuk display output via USB-C belum, belum bisa di sini, ya, dan ini wajar untuk kelas harganya. Untuk fitur keamanannya, dia punya optical in-display fingerprint scanner dan face unlock. Untuk OS, dia pakai Origin OS 6 berbasis Android 16. Ada janji tiga kali Android update dan lima tahun security patch untuk smartphone yang satu ini. Untuk pengalaman pakai Origin OS 6 ini sudah terbilang mulus dan lancar ya. Bahkan IQ mengklaim kalau OS di smartphone ini bakalan akan tetap mulus hingga 60 bulan pemakaian atau gampangnya 5 tahun ya. Jadi kalau mau dipakai untuk jangka panjang harusnya enggak ada masalah. Untuk iklan aman, kami tidak menemukan iklan di aplikasi bawaan. Paling yang kita temukan itu adalah penawaran dari app market bawaan dalam bentuk notifikasi, tapi kalau notif kan gampang ya bisa dimatiin saja. Untuk fitur khas Origin OS tentunya tersedia di sini seperti Origin Island, flip card sampai Office kit juga ada. Singkatnya Office kit ini bisa kita pakai untuk menghubungkan smartphone ke PC Windows atau ke Mac. Nah, kalau terhubung kita bisa melakukan banyak hal seperti transfer file dengan mudah, screen mirroring layar smartphone kita ke PC, remote PC dari smartphone dan lain-lain. Selain itu fitur AI khas Origin OS juga ada di sini ya mulai dari AI call translation, AI erase hingga AI creation juga ada. Sekarang kita masuk ke pengujian performanya. Kita benchmark dulu ya dengan AnTuTu 10 kita dapat 878.000-an. Sementara AnTuTu 11 kita dapat 1.171.000-an. Untuk Geekbench 6 single core ada di 1.249, multi core 3.136. Untuk 3DMark Sling Shot Extreme Open GL ES 3.1 graphic score-nya 6.026. Untuk 3DMark Wild Life Stress Test, nah kita lihat ya tanpa dikipasin base score di 4.347, lowest score di 4.270. Jadi stability-nya ada di 98,2%. Sudah bagus jadi enggak perlu kita tes pakai kipas ya. Lanjut ke pengujian gaming. Supaya performanya maksimal kita atur dulu mode performanya ke monster mode lewat overlay ultra game mode atau kita juga bisa mengaktifkannya lewat quick setting seperti ini. Kita mulai dari Subway Surfers ya. Secara default game ini jalan di 60 FPS. Ini karena refresh rate layar terkunci di 60 Hz. Solusinya kita atur refresh rate-nya ke 120 Hz lewat overlay ultra game mode-nya. Setelah diatur secara manual game ini bisa jalan di 120 FPS tanpa ada masalah. Masuk ke Mobile Legends. Opsi frame rate terbuka bisa sampai ultra atau 120 FPS. Dengan setting graphic tertinggi game ini bisa berjalan di 120 FPS lancar baik saat jalan-jalan maupun lagi ada battle ya. Lanjut untuk PUBG Mobile. Ini settingan terbuka itu sampai ekstrem atau 60 FPS. Jadi, kita coba dengan grafis smooth dan frame rate-nya itu bisa jalan di 60 FPS lancar. Ya, memang keentengan ya buat smartphone ini. Kita cek untuk gyro aiming-nya bagaimana? Ternyata lancar banget, enggak ada masalah kan gyro-nya pakai hardware. Lanjut ke Genshin Impact. Langsung aja highest 60 FPS. Di menit awal frame rate yang didapatkan itu fluktuatif di kisaran 30 sampai 40-an FPS. Lalu setelah berapa menit dimainkan, frame rate turun sedikit mendekati 30-an FPS. Tapi menjelang 30 menit, frame rate-nya bisa naik lagi mendekati 40-an FPS. Setelah setengah jam dimainkan, rata-rata frame rate didapatkan itu ada di 38 frame per second. Nah, untuk suhu di sisi belakang titik terpanas ada di dekat modul kamera dengan suhu 39 derajat Celsius. Untuk bagian lain ada di kisaran 34 sampai 37 derajat Celsius, masih adem. Sementara di sisi depan, titik terpanas ada di sisi atas layar dengan suhu di 38 derajat Celsius. Sementara bagian lainnya ada di kisaran 35 sampai 37 derajat Celsius. Nah, kalau dikipasin, frame rate-nya itu naik sedikit ya dengan fluktuasi yang berubah jadi 40 sampai 50-an FPS. Dan rata-rata frame rate-nya jadi ikutan naik di kisaran 41 FPS. Lanjut untuk Wuthering Waves. Setting-nya ultra performance 60. Di menit awal frame rate-nya itu ada di kisaran 35 sampai 45 FPS. Uniknya, setelah 5 menit dimainkan, frame rate-nya justru naik dengan fluktuasi frame rate di antara 35 sampai 55 FPS dan ini berlaku sampai pengujian berakhir. Untuk suhu di body belakang, titik terpanasnya ada di area LED flash dengan suhu tertinggi cuma 40 derajat Celsius. Untuk bagian lainnya di kisaran 36 sampai 38 derajat Celsius. Di area depan, titik terpanas terletak di area atas layar dengan suhu tertinggi di 39 derajat Celsius saja. Sementara di bagian lainnya 36 sampai 38 derajat Celsius. Jadi, aman ya, adem. Oke, kita lanjut untuk pengujian kameranya. Oke, kali ini kita uji kemampuan mikrofonnya terlebih dahulu. Untuk kualitasnya kurang lebih seperti ini ya. Suara pengguna bisa ketangkap dengan baik meskipun suara di sekitar masih bisa sedikit masuk ke mikrofonnya. Eh, solusinya kita bisa pakai vocal enhancement ya, seperti ini. Nah, kalau pakai vocal enhancement suara pengguna bisa ketangkap dengan lebih baik dan suara di sekitar bisa sedikit teredam. Jadi, kurang lebih seperti itu ya kualitas mikrofonnya. Nah, kalau misal kalian pengin kualitas mikrofon yang lebih oke, kita bisa pakai mikrofon eksternal seperti ini. Dan di UI kameranya iQOO Z11 ini udah ada indikatornya tuh terkait penggunaan mikrofon eksternal. Jadi, kita bisa langsung colok aja mikrofon eksternalnya, langsung kita pakai tanpa perlu ngetes apakah mikrofonnya udah bener-bener tersambung atau enggak karena di UI kameranya udah dikasih tahu tuh. Jadi, kurang lebih seperti itu ya pengujian mikrofon dan pengujian mikrofon eksternal di iQOO Z11. Sekarang kita lanjut ke pembahasan kameranya. Kita bahas kemampuan kamera selfie-nya terlebih dahulu. Untuk kualitasnya sendiri udah terbilang mencukupi. Warnanya oke, detail juga ketangkap dengan baik. Untuk dynamic range standar aja, area terang bisa keangkat dengan cukup baik meskipun masih ada beberapa bagian yang over expose. Sayangnya di 60 FPS dynamic range di area terang jadi lebih over expose. Untuk stabilisasi di 1080p 30 FPS hasilnya udah terbilang rapi dengan jitter yang minim. Sayangnya efek stabilisasi ini hanya bisa berjalan di 1080p 30 FPS. Kalau di 1080p 60 atau 4K 30 FPS gambarnya jadi terasa shaky. Pindah ke kamera utamanya. Hasilnya udah terbilang bagus ya, detail ketangkap dengan baik, ketajaman bagus, dan warna yang ditangkap juga oke. Untuk dynamic range area langit bisa ketangkap dengan baik namun di area wajah masih agak sedikit gelap. Ini berlaku di semua opsi resolusi dan frame rate. Kalau untuk stabilisasi di 4K 30 FPS stabilisasinya masih belum yang super rapi. Efek jitter dan kedutan masih terasa. Kalau di full HD 60 FPS hasilnya sedikit lebih rapi tapi efek kedutan masih cukup terasa. Sekarang kita lanjut ke pengalaman multi kameranya. Di sini kita bisa berpindah kamera dari kamera utama ke kamera selfie atau sebaliknya. Menariknya, fitur ini bisa dipakai di semua opsi resolusi. Mau di 4K bisa, di full HD 60 fps juga bisa. Meski begitu, audio yang terpotong saat pindah kamera juga masih terjadi. Solusinya, kita bisa jeda sebentar saat berpindah kamera. Untuk contoh audio yang terpotong saat pindah kamera, bisa kalian cek di video berikut ini. Langsung aja kita tes berhitung. Langsung aja kita langsung aja kita tes berhitung. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30. Oke, lanjut ke bagian low light. Untuk pengujian kali ini, kita matikan fitur auto fps-nya ya, biar frame rate video tetap stabil. Kita bahas mulai dari kamera selfie-nya dulu. Di 4K 30 fps, kualitasnya udah mulai menurun, detailnya juga agak turun dengan noise yang bermunculan. Tapi, setidaknya gambarnya masih kelihatan terang. Kalau di full HD 60 fps, agak sedikit lebih gelap. Tapi, bukan yang sampai gelap banget kok. Area wajah masih bisa ketangkap dengan jelas. Untuk stabilisasi di full HD 30 fps, efek jitter stabilisasinya masih terlihat ya, kalau dipakai jalan seperti ini. Kalau di full HD 60 atau 4K 30 fps, gambarnya masih terlihat shaky. Sepertinya efek EIS hanya bekerja di 1080p 30 fps saja. Pindah ke kamera utamanya. Di 4K 30 fps, surprisingly gambarnya masih terlihat oke. Gambarnya terang, detail terjaga, dan warna juga ketangkap dengan baik. Untuk noise sih masih ada ya, tapi ini masih bisa dimaklumi. Di full HD 60, gambarnya juga kelihatan oke. Meski kalau dipakai gerak kayak gini, efek motion blur-nya masih cukup terasa. Untuk stabilisasi di 4K 30 fps, masih belum begitu rapi ya, dengan efek jitter yang cukup terasa. Kalau di full HD 60 fps, efek stabilisasinya jadi lebih rapi. Untuk auto fokus, ini hanya bisa dipakai di kamera utamanya aja ya. Auto fokusnya sendiri udah terbilang cepat dan akurat. Untuk foto, overall hasilnya udah terbilang baik di sini. Di kondisi pencahayaan cukup, kamera smartphone ini bisa menangkap gambar dengan baik dengan karakter utama yang cenderung vibrant. Lalu kita coba untuk foto portrait. Untuk background yang rumit seperti ini, hasil portrait-nya masih belum yang super rapi. Ada beberapa bagian yang miss, seperti di area background yang belum kena efek Kalau di area selfie udah terbilang oke. Cuma kalau kita lihat lebih detail, efek bokeh-nya belum yang luar biasa rapi. Kalau di low light juga bisa diandalkan, detail-nya masih terjaga dengan noise yang minim. Tapi memang ketika low light, auto night mode-nya otomatis aktif. Jadi kalau mau ambil foto, pastikan tangan kita benar-benar stabil, biar hasil fotonya enggak ngeblur. Tapi ini bisa dimatikan dengan mudah kalau enggak dibutuhkan. Sekarang kita pindah ke fitur ekstranya. Di sini kita coba slow mode terlebih dahulu. Opsi yang disediakan bisa sampai full HD 120 fps atau 720p 240 fps. Untuk slow mode-nya sendiri bekerja dengan baik, enggak kerasa seperti interpolasi frame rate. Berikutnya kita coba pro mode. Untuk fitur ini hanya bisa dipakai di foto aja ya, kalau di video belum bisa. Di sini kita bisa atur ISO dari 72 hingga 3200 dan shutter speed dari 1/12000 detik hingga 30 detik. Itu tadi pengujian kamera dari iQOO Z1 Tentu ada hal yang perlu diperhatikan di sini. Yang pertama tentunya enggak ada kamera ultra wide. Ya, sedikit berharap sih di generasi selanjutnya iQOO mau kasih kamera ultra wide ke lini Z series. Berikutnya stabilisasi video masih belum maksimal. Lalu fitur kameranya belum selengkap yang ada di Vivo. Wajar ya, iQOO memang bukan menjadikan kamera sebagai fokus utamanya. Lalu dynamic range di selfie 60 fps masih belum maksimal. Dari segi menariknya, pertama dia bisa merekam video 4K depan belakang. Lalu dia juga ada opsi 1080p 60 fps di depan belakang. Lalu kita bisa pindah kamera saat merekam video, bahkan di resolusi 4K sekalipun. Lalu hasil fotonya masih bisa diandalkan untuk berbagai kebutuhan. Lalu hasil video low light di kamera utamanya masih terlihat terang. Nah, yang enggak kalah penting ada indikator untuk mikrofon eksternal. Ini langka ya, bahkan di kelas flagship sekalipun masih belum banyak yang punya fitur ini. Kalau lihat pengujiannya tadi, kelihatan ya kalau aspek kamera bukan jadi prioritas utama smartphone ini. Tapi bukan berarti kameranya enggak bisa diandelin ya, masih kepakai banget kok untuk berbagai kebutuhan. Buat foto sampai konten basic, kamera smartphone ini masih kepakai banget. Tinggal sesuaikan saja ekspektasi kalian sama kameranya. Sekian pengujian kamera dari iQOO Z7 11, kita lanjut ke pembahasan berikutnya. Oke, kita lanjut ke pengujian yang paling menyebalkan untuk smartphone yang satu ini, pengujian baterai. Karena baterainya besar, pasti pengujiannya lama. Dengan YouTube offline video playback 1080p non HDR, baterai baru habis setelah 40 setengah jam atau tepatnya 40 jam 28 menit. Ini super awet banget. Bahkan ini jadi smartphone dengan baterai paling awet yang pernah kami uji sampai sekarang. Tapi memang hasilnya enggak terlalu beda jauh dibandingkan Z7 yang kemarin bisa bertahan di 39 jam lebih ya. Dengan kapasitas yang naik sih sebetulnya kami berharap bahwa baterai si iQOO Z7 11 ini bisa lebih awet lagi, mungkin 42, 43 gitu ya. Ya, semoga saja dengan update software ini akan bisa meningkat lagi. Tapi sebetulnya enggak di-update juga ini sudah awet banget sih. Lalu lanjut untuk YouTube streaming selama 1 jam, baterai berkurang hanya 3% saja. Scrolling TikTok ya, mainan TikTok tuh zoom scrolling 1 jam, baterai berkurang hanya 2% saja. Main Genshin Impact 60 FPS selama 30 menit, baterai berkurang hanya 5% saja. Lalu main Mobile Legends, kita dapat satu match sekitar 15 menit dan baterai berkurang cuman 3%. Kita pakai main tiga match itu baterai berkurang cuma 9% saja. Jadi terlihat ya untuk pemakaian normal seperti nonton, zoom scrolling, bahkan buat main game berlama-lama, baterai smartphone ini sangat-sangat bisa diandalkan. Sekarang kita lihat untuk charging-nya bagaimana. Untuk mencapai 50% itu butuh waktu 35 menit, sementara dari 0 sampai penuh butuh waktu 1 jam 4 menit. Untuk baterai dengan kapasitas 9020 mAh, ini sudah kencang banget sebetulnya ya. Oke, untuk pengujian lainnya kita lihat Netflix sudah L1, support streaming full HD plus dan support HDR 10. Untuk YouTube streaming sampai 4K 60, dukungan HDR juga tersedia. Untuk haptic feedback secara umum getaran yang dihasilkan itu masih agak kasar saja, membuat mengetik jadi terasa agak kurang nyaman saja sebetulnya, tapi bisalah ya diatur-atur dikit. Nah, selain iQOO Z11 yang satu ini, iQOO juga merilis iQOO Z11X. Smartphone ini juga diunggulkan kapasitas baterainya ya, katanya besar. Di sini 7.200 mAh. Kalau dari pengujian kami, baterai itu bisa bertahan 31 jam 23 menit untuk nonton video. Dipakai untuk main sosmed atau main game, baterai smartphone ini sudah bisa diandalkan sekali. Soal performa, SOC-nya pakai Dimensity 7.400 Turbo. AnTuTu 11 saya bisa nyampe 980 ribuan. Dipakai main game berat masih terbilang memadailah. Genshin Impact highest 60 itu bisa jalan dengan rata-rata frame-nya 39 FPS. Smartphone ini bisa jadi pertimbangan kalau budget kalian memang belum nyampe ke Z11 yang versi yang satu ini ya. Lanjut lagi untuk harganya. Kita balik ke iQOO Z11. Untuk yang 8128, itu harganya di 4.999.000. Untuk 8256 di 5.699.000. Sementara untuk yang 12256, harga di 6.899.000. Nah, kalau untuk yang iQOO Z11X tadi, 6128, itu harganya 3.699.000. 8128 di 4.199.000. Sementara untuk yang 8256 di 4.799.000. Nah, di masa pre-order mulai dari 25 Mei sampai 2 Juni 2026, akan ada beberapa bonus menarik seperti ada free iQOO Buds 1i. Lalu ada garansi baterai selama 4 tahun. Uh, ini panjang garansinya. Setelah itu ada bonus 12 month extended warranty dan ada student promo cashback 150.000 untuk pembelian di masa pre-order serta pembelian di periode first month mulai dari 3 sampai 30 Juni 2026. Oh ya, promo tadi itu berlaku untuk pembelian iQOO Z11 dan Z11X juga ya. Oke, sekarang kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan untuk iQOO Z11. Harganya ini memang lumayan naik dibandingkan pendahulunya ya, tapi ya smartphone apa yang enggak naik harganya tahun 2026? Semua juga naik, jadi ini sebetulnya hanya untuk mengingatkan saja bahwa tahun 2026 ini karena harga RAM-nya dan harga storage-nya meningkat jauh dan komponen juga meningkat, wajar harganya naik. Kemudian, performanya ini mungkin bukan yang paling kencang di kelas harganya, tapi bukan berarti lemot ya, enggak juga. Lalu di sini belum ada kamera ultra wide. Lalu bobotnya jelas terasa agak berat ya, tapi wajar mengingat kapasitas baterainya yang besar banget. Nah, untuk poin menariknya jelas baterai besar dan sangat awet, bahkan jadi smartphone dengan baterai terawet yang pernah kami review. Layar AMOLED-nya pakai bezel tipis dan simetris, jadi mantap juga nih. Speaker-nya sudah stereo, sudah enggak mono lagi. Paket penjualannya juga masih lengkap. Dia punya IP rating di IP68 dan IP69, aman banget. Punya janji update Android tiga kali dan ada lima tahun security patch. Fiturnya juga banyak ya, khas Origin OS yang baru. Kemudian, kameranya itu depan belakang bisa 4K 30fps dan bisa 1080p 60fps. Jadi, pertanyaannya smartphone ini cocoknya buat siapa? Tentunya ini akan cocok untuk semua orang yang nyari smartphone dengan kemampuan baterai yang super awet yang bisa dibeli saat ini. Sudah lihat kan sekuat apa baterainya? Dipakai buat nonton bisa tahan hampir dua hari, dipakai buat main game berat pun baterai tetap awet. Tentunya kemampuan baterai yang awet plus performa mumpuni enggak cuma oke buat dipakai nge-game doang ya, bahkan menurut kami smartphone ini lebih cocok buat kerja sebetulnya. Misalnya nih buat kontraktor, event organizer mungkin ya, atau orang kantoran yang sering eh WFH ya, atau siapapun yang kerja di lapangan dan jarang ketemu colokan buat nge-charge ya, akan cocok banget nih sama HP yang satu ini. Buat kerja dalam ruangan yang harus standby depan smartphone ini mungkin cocok juga ya buat telemarketing, host online shop, admin sosmed dan lain sebagainya juga harusnya cocok. Karena baterai besar dan awet banget ya, jadi kita enggak perlu mikirin nge-charge handphone yang satu ini. Pikirin HP pertamanya aja. Yang HP kedua ini nge-charge-nya kapan-kapan aja deh, pas mau tidur aja. Dan dia sekaligus memastikan bahwa pasti paling tidak ada satu HP yang masih hidup ya. Karena baterainya awet ya. Ya, nah pertanyaan sekarang untuk pengguna iQOO Z10, apakah cocok upgrade ke sini? Menurut kami belum ya. iQOO Z10 itu baterai juga masih luar biasa. Peningkatan signifikan itu lebih di sisi desain, layar, dan speaker-nya. Tapi kalau dirasakan memang butuh ya silakan aja upgrade enggak apa-apa juga. Intinya, kalau kalian carinya smartphone dengan kemampuan baterai yang super awet plus performa yang udah oke, iQOO Z11 ini masih jadi opsi yang sulit dilawan bahkan di kelas harganya sekarang.
