Jungkat

Review itel CITY 200 | Hape Sejutaan Kok Bisa Begini?! (YouTube Video)

  • 01/01/1970

Smartphone sejutaan dari Itel ini desainnya premium, enggak kelihatan seperti smartphone cluster jangkau. I ini adalah Itel City 200. Lihat nih desainnya mirip smartphone kelas atas kan. Lahirnya juga pakai desain punch hole modern dan kekinian banget. Kapasitas storage-nya 128 GB. Di kondisi 2026 ini, kami udah khawatir bahwa HP 1 jutaan seperti ini akan kembali ke 64 gig. Tapi ternyata Itel masih bisa ngasih 128 gig. Menarikan lagi dia udah punya NFC ini cukup langka ya di kelas R jutaan. Oke langsung aja kita bahas Itel City 200 [musik] ya. Itel City 200 ini adalah smartphone pertama Itel untuk pasar Indonesia di tahun 2026. Buat yang belum tahu, lini City ini sendiri diposisikan Itel sebagai lini smartphone terjangkau dengan desain yang stylish dan modern. Walaupun terjangkau tapi kelengkapan dimiliki smartphone ini enggak bercanda loh. Kita lihat dari paket penjualannya ya. Di sini kita dapatkan unit Itel City 200 plus screen protektor yang udah terpasang. Kemudian ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 18 watt. Lalu ada kabel USB A2C, ada hard case magnetic ala-ala MaxF gitu ya. Dan ada SIM ejector serta paket dokumen. Nah, lengkap kan? Yang agak mengejutkan buat kami case bawaannya sih ya biasanya itu pada ngasih clear case biasa ini hard case magnetic ya. Nah, untuk desain smartphone ini menggunakan desain yang disebut itel sebagai metallic deco. Body belakangnya dan frame-nya ini mengusung gaya yang flat dengan tepian sudut yang dibuat melengkung. Kalau dilihat sih desain smartphone ini memang terlihat mewah ya. Enggak kayak smartphone sejutaan. Malah sebetulnya desainnya mirip seperti yang Edge itu enggak sih? Dari bentuk modul kamera, warna backover. Mmm. Iya enggak sih? [tertawa] Body smartphone ini juga terasa cukup solid dan kokoh saat dipegang ya. Lalu frame dan body belakangnya ini sama-sama pakai bahan polikarbonat sebenarnya untuk dimensi 167,62 * 78,62 * 7,45 mm. Untuk bobotnya ada di kisaran 192 gr jadi enggak berat juga. Untuk varian warnanya ada vi purple, melody pink, best black, dan eco silver seperti yang kita uji kali ini. Smartphone juga punya IP rating loh di IP65 yang berarti kedap debu dan tahan cipatan air dari segala arah. Jadi kalau cuma kehujanan-kehujanan aja sih harusnya masih aman ya. Tapi jangan dicemplungin ke dalam air ya. Apalagi diajak berenang jangan ya. Untuk body smartphone ini juga sudah lolos uji ketahanan militer standar 810H. Jadi soal durabilitas udah terjaminlah yang satu ini. Sekarang kita lihat sekeliling body smartphone nih. Di kanan ada tombol power yang merangkap sebagai fingerprint sensor serta tombol volume up and down. Di atas ini kosong ya. Di kiri ada sim tray triple slot ya. Triple slot jadi bisa menampung 2 nano SIM card plus 1 micr SD. Berali ke bawah ada 3,5 mm headphone jack, lalu ada microfone, ada port USBC, dan ada grill speaker. Terlihat ya smartphone ini punya single mikrofon dan single speaker. Untuk ku speakernya sih sekedar mencukupi aja lah ya. Ya, jangan langsung berharap bahwa suaranya itu kayak HP-HP yang R7 juta, R juta gitu ya. Jangan gitu ya. Tapi setidaknya volume suaranya menurut kami udah terbilang lantang yang satu ini. Kita lihat sekarang si depannya ini adalah panel 6,78 inci IPS. Resolusinya HD Plus 1576 * 720 piksel. Walaupun layarnya IPS, di sini ada opsi untuk mengaktifkan always on display di menu settings. Mungkin ada yang bertanya, "Emang layar IPS sudah dipakai buat AOD?" Ya, nah karena ini fitur software, jadi harusnya bisa-bisa aja ya selama produsennya ini memberikan opsi always on display di menu setting. AOD ini bukan yang always on juga sih sebetulnya ya, ini yang cuma 5 detikan aja. Nah, kalau dilihat kasat mata seperti ini memang warna hitamnya tuh lumayan cukup pekat di sini. Oke, lanjut lagi. Untuk refresh set layarnya ini udah 120 Hz adaptif bisa turun ke 60 Hz saat tidak ada aktivitas di layar. Secara standar refresh layar itu hanya jalan sampai 90 Hz, baik di home screen dan saat buka aplikasi. Untuk mencapai 120 Hz, kita harus atur refresh rate di high terlebih dahulu, lalu pilih aplikasi mana yang diizinkan jalan di 120 Hz. Setelah itu baru kita bisa menikmati refresh rate sampai 120 Hz di smartphone ini. Nah, dalam pengujian kami untuk brightness di kondisi indoor itu bisa mencapai maksimum sekitar 386. Dan karena tidak ada auto brightness, jadi kita tidak bisa menguji kecerahannya untuk simulasi outdoor di sini. Setidaknya di sini ada opsi high brightness mode. Nah, saat dicoba hasilnya sebetulnya enggak terlalu jauh beda ya kalau dibandingkan dengan brightness maksimalnya yang tadi. Di sini juga tidak ada opsi mode warna yang bisa dipilih. Jadi kita uji apa adanya saja. Hasilnya warna yang dihasilkan itu mendekati 90% sRGB. baik itu gamut coverage maupun gamut volume-nya. Memang ini bukan warna layar yang luar biasa cemerlang, tapi mengingat harganya masih okah ya, sama sekali jauh dari yang bisa kita bilang sebagai burik gitu ya. Enggak, ini enggak kok ya. Layarnya juga sudah mendukung hingga lima sentuhan jari. Memang belum sampai yang 10 jari, tapi harusnya bukan masalah untuk mayoritas pengguna. Untuk bezel-nya ini memang bukan yang super tipis dan simetris, tapi masih wajarlah untuk kelas harganya. Terlebih desain layernya udah pakai. Ada loh HP yang harganya hampir Rp3 juta tapi layarnya pakai notch gitu. Masih ada kan? Ya menariknya lagi kalau diperhatikan ya komponen layarnya udah rata dengan frame body-nya. Biasanya nih smartphone class budget itu masih pakai panel yang menonjol yang membuat body smartphone jadi kelihatan tebal. Tapi di smartphone ini layarnya tuh rata dengan body. Membuatnya terasa seperti smartphone kelas menengah bahkan yang menengah atas ya. Oke, sekarang kita bahas kameranya. Ee kita lihat di sisi atas layar ini ada earpiece untuk nelepon serta kamera selfie 8 megapel yang ditempatkan di area punchol. perekaman itu videonya sampai 2K 30 fps. Beral kei belakang ini ada modul kamera yang kalau dilihat sih kayak ada dua modul kamera ya, tapi kamera yang fungsional sini cuma ada satu, tepatnya yang paling atas aja. Ini adalah kamera utama 50 megapel dengan perekaman video up to 2K 30 fps. Lalu di bawahnya ada kamera bonus dan di bawahnya lagi ada infrared blaster. Jadi ini bisa dipakai buat remote ya. Waduh 1 jutaan loh ini ya. Untuk fitur ekstra kamera di sini ada slow motion, ada timelapse, ada dual video, super night, ada pro untuk foto ultra HD, street snap, dan portrait. Untuk spesifikasi internal, SOC-nya menggunakan Uni SOC T7250. Untuk RAM-nya 4 GB dan storage-nya adalah 128 GB IMMC. Memang kalau dilihat dari sisi spesifikasi ini masih sama dan mungkin sedikit downgrade ya dari City 100 ya. RAM 8 gig turun jadi 4 gig dan storage UFS jadi IMMC ya. Selamat datang ke 2026 lah ya. Perlu diperhatikan juga kalau di boksnya tertulis RAM 8 gig. Yang lebih akurat itu tulisan kecil di bawahnya sebetulnya 4+ 4. Jadi RAM bawaannya 4 GB plus memusion 4 GB yang ngambil dari storage. Jadi kalau ada penjual yang bilang ini RAM-nya 8 gig. Nah itu hati-hati ya. Untuk baterai 5.200 mAh dan chargernya ada di 18 watt. Bypass charging ya sayangnya belum ada. Padahal di versi sebelumnya tuh udah ada loh sebetulnya ya. Nah, untuk sensor dia punya accelerometer, proximity, magnetometer, dan virtual gyro ya. Untuk kontivitas dia 4G tentunya untuk WF-nya bisa WF 5. Bluetooth-nya versi 5, bluetooth codx-nya bisa SBC atau AAC. Dan untuk NFC ya tersedia di sini NFC-nya. Nah, ini upgrade dari pendahulunya yang tidak punya NFC. Dengan fitur ini, kita bisa cek saldo sampai top up imani kita langsung lewat smartphone ini. Kemudian FM radio tersedia di sini. Jadi, ada sarana hiburan gratisnya lah ya di sini ya. Lalu dia juga ada support USB OTG. Untuk display output ya keterlaluan kalau nanya di harga segini ya tentunya enggak ada. Untuk keamanannya dia ada side mounted fingerprint scanner yang tadi kita bahas. Lalu ada face unlock juga. Untuk OS dia pakai Itel OS 15 berbasis Android 15. Untuk update menjanjikan update security patch selama 1,5 tahun. Untuk update OS sayangnya belum ada info resmi dari Itel. Meskipun demikian, Itel menjamin kalau smartphone ini tetap mulus lancar selama 48 bulan pemakaian. Buat pengalaman pakainya sih rahasia terbilang mulus ya. Baik untuk navigasi di home screen atau buka tutup aplikasi seperti ini. Tapi kalau buat aplikasi e-commerce mesti agak sabar ya, belum yang mulus-mulus amat. Nah, ITLOS di sini punya beberapa fitur yang menarik. Ada dynamic bar, ini bisa dipakai untuk menampilkan notifikasi cepat layaknya dynamic island. Lalu ada landscape display. Jadi ketika smartphone dalam kondisi charging akan muncul jam digital di layar. Seperti ini nih ya. Fitur ini bakal muncul saat smartphone diposikan secara landscape. Mirip seperti yang buah-buahan itu ya. Mirip banget ya. Selain itu, ada juga beberapa fitur AI yang disematkan seperti Solar Voice, document assistant, writing assistant hingga AI wallpaper generator. Oke, sekarang kita masuk dalam pengujian performanya. Kita pakai Antutuut 10, tapi 3D-nya yang light yang jalan ya di sini ya itu dapat R267.000-an. Sementara kalau AnTutuut 11 dengan 3D yang light kita dapat Rp371.000-an. Untuk Geig Base 6 core di 436, multiore di 1440. Untuk trimx sling shot extreme open GLIS graficnya ada di 959. Sementara untuk trim wildlife stress test best scor-nya 581 dengan lowest score di 571. Jadi stabilitynya ada di 98,3% udah cukup bagus. Untuk gaming di sini enggak ada opsi game tools atau mode performa apapun di smartphone ini. Jadi kita tes apa adanya saja. Kemudian entah kenapa FPS counter yang bisa kita gunakan tidak bisa mendeteksi frame rate di HP yang satu ini. Tapi ya enggak apa-ap l ya kita coba narasikan pengalaman saat kita main game di smartphone ini aja. Oke, untuk Mobile Legends setting frame rate yang terbuka itu bisa nyampai high atau 60 fps. Kalau di pakai jalan-jalan sih masih aman ya. Tapi kalau udah war yang gede sih jangan ekspektasi gameennya jalan di 60 fps mulus. Sesekali memang terasa ada frame drop. Kalau bukan untuk main kompetitif sih harusnya masih amanlah satu ini. Untuk PUBG Mobile setting frame rate terbuka itu bisa nyampai high atau 30 fps aja. Karena frame rate terkunci di 30 fps game ini jadi bisa sekedar dimainkan aja lah ya. Jadi ya buat casual play aja. Buat Groing gimana ya? karena pakai virtual Gyro, jadi ya terasa delay tentunya di sini. Lalu untuk Free Fire Max kita langsung coba aja di setting tertingnya yaitu graphic max dan untuk FPS-nya kita atur ke high. Kita coba mainkan satu match dan kita masih lihat bahwa pergerakan gambarnya masih belum yang terasa mulus-mulus lancar amat di sini. Tapi kalau buat main casual dan bukan kompetitif harusnya masih ok lah di sini. Untuk Genin Impact, nah kita iseng nih kita main Gensin Impact di sini ya kan kita pakai setting graphics lowest 60 hasilnya ah kurang playable sayangnya ya. loading game terasa agak lama dan saat dimainkan juga enggak gitu mulus. Kurang pas lah untuk main G Impact ini. Setelah setengah jam dimainkan, titik terpanas di body itu ada di kisaran 37 sampai 40 derajat Celcius, tepatnya di dekat modul kamera. Untuk sisi lainnya ada di kisaran 30 sampai 36 derajat Celcius. Kondisi depan titik terpanasnya ada di sisi kiri atas layar dengan suhu tertinggi 36 sampai 39 derajat Celcius. Sementara untuk sisi lainnya ada di 29 sampai 31 derajat Celcius. Oke, sekarang kita lanjut lagi ke pengujian kameranya. Di tangan saya kali ini sudah ada Itel C200 nih. Langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Kemudian kali ini saya dibantu sama Robin sama Robin. Jadi sampel kameranya dan scripnya juga entar dia bikin. Ini saya bantu mantau aja lah. Bantu ya bantu analisa dikit-dikit aja. Di sini saya mau cari tahu kemampuan mikrofonnya. Di sini cuma single mikrofon, Bin. Ya. Iya cuma single mikrofon. Cuma single mikrofon dan hasilnya kurang lebih seperti ini untuk video sehari-hari atau vlogging. Menurut kalian gimana suaranya? Udah cukup bagus belum? Nah, kalau ngomongin mikrofon itu kan subjektif banget ya, Teman-teman. Iya. Eh, jadi tergantung selera kalian juga, tergantung kalian dengarnya pakai speaker apa juga. Cuman kalau menurut pendapat kita pribadi, gimana B menurut lu? Ya, untuk kelas R jutaan sih yang penting mikrofonnya bisa menangkap suara kita dengan baik aja sudah lebih dari cukup. Oke, jadi Masar R jutaan lah ya. Enggak bisa ngaruh banyak juga. Oke, lanjut ke pembahasan berikutnya yuk. Selanjutnya kita bahas kamera selfie-nya terlebih dahulu. Di sini resolusi maksimalnya bisa sampai 2K 30 fps ya. Hasilnya sendiri udah tergolong oke. Detailnya lumayan, warnanya juga lumayan kencang di sini. Dari micrange-nya standar aja, langit over expose tapi area wajah masih bisa tertangkap dengan baik. Buat stabilizer, sayangnya belum ada di sini ya. Membuat hasilnya jadi goyang kayak begini. Solusinya bisa pakai tripod kecil atau diedit pakai Google Photo saja. Nanti hasilnya jadi lebih stabil seperti ini. Lanjut ke kamera utamanya. sama ya, resolusinya juga bisa 2K 30 FPS. Untuk detail dan warna masih aman. Kalau dibuat panning seperti ini ya. Kalau teman-teman lihat gambarnya agak goyang ya itu karena enggak ada stabilizernya ya. Sama seperti kamera selfie-nya tadi. Untuk dynamic range juga masih agak kurang ya. Langinnya off dan area wajah masih terkesan agak gelap di sini. Lagi-lagi kalau misalnya mau dibawa jalan karena enggak ada stabilizer tentunya hasilnya gempa ya. Kalau mau lebih stabil edit aja pakai Google Photos. Untuk autofokus di kondisi terang enggak ada masalah. Kamera utamanya aman-aman aja. Kita lanjut ke kondisi low light. Untuk kamera selfie hasilnya masih oke nih. Ternyata gambarnya masih bisa terang dengan detail yang mencukupilah di sini. Soal frame rate ini jadi catatan ya. Soalnya kalau kita cek frame rate-nya itu bisa turun ke belasan FPS di sini. Mau itu di full HD atau di 2K frame rate-nya sama-sama bisa turun ke belasan FPS. Ini bikin gambarnya jadi agak patah-patah tapi setidaknya masih terlihat terang lah di sini. Sayangnya kita juga enggak bisa mematikan fitur auto FPS ini ya. By default udah nyala begini aja. Ada sedikit catatan juga kalau dulu kan di Itel CT 100 ada LED flash di kamera selfie-nya. Kalau yang sekarang kalau mau pakai flash itu dia pakai layar smartponya yang dijadiin warna putih gitu. Untuk kamera utamanya hasilnya seperti ini. Detailnya udah menurun jadi gambarnya agak soft dan terasa noisy juga. Tapi untungnya gambarnya masih bisa terlihat terang. Untuk frame rate agak sedikit turun juga bukan 30 fps di sini. Saat kita cek frame rate-nya turun jadi 24 fps. Pindah ke fotografi. Hasilnya udah terbilang lumayan bagus ya. Prosing fotonya di sini bisa meningkatkan kualitas foto yang ditangkap. Processing saat HDR juga oke. Foto di kondisi pencahayaan yang sulit seperti ini bisa dibikin bagus hasilnya. Buat low light, kualitas fotonya masih bisa dipakai lah ya. Enggak burik-burik banget. Untuk kelas jutaan sih hasilnya tergolong memadai untuk berbagai kebutuhan. Lanjut ke fitur ekstra. Kita bahas beberapa. Pertama ada mode ultra HD yang bisa ditingkatkan detail di foto. Kita coba bandingkan kualitas foto menggunakan mode ultra HD dengan mode auto. Terlihat ya bedanya foto dengan mode ultra HD terlihat lebih tajam di sini. Berikutnya kita bisa zoom in dan zoom out pakai tombol power ya. Lalu fitur yang lucu lainnya kalau kita lagi wifi ramai-ramai begini kamera selfie-nya akan otomatis ngezoom out seperti ini ya. Kemudian ada fitur pro untuk foto di sini. ISO kita bisa atur dari 100 sampai 6.400 dan shutter speed dari 1500 sampai 30 detik. Tak ketinggalan ada dual video mode juga di sini. Untuk modenya ada dua juga ada mode picture in picture dan mode side by side seperti ini. Oke itu tadi penggujian kamera Itel CT 200. Ada beberapa hal yang masih kurang di sini ya. frame rate video saat low light itu masih drop sampai belasan FPS. Jadi, videonya itu patah-patah. Kemudian, LED flash untuk kamera selfie malah dihilangkan di sini. Mungkin untuk nekan cost juga kali ya. Kemudian stabilisasinya sayangnya belum ada di sini. Dari segi kelebihannya, hasil fotonya sudah tergolong bagus di kelasnya. Lalu fitur kameranya cukup beragam. Menurut kami, kemampuan kamera dari smartphone ini sudah mencukupi untuk kebutuhan standar ya, kebutuhan dasar banget. Setidaknya untuk fotografi masih lumayan bisa diandalkan lah. Kalau buat video ya masih standar R jutaan aja lah. Sekian pengujian kameranya Itel City 200. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, sekarang kita masuk ke pengujian daya tahan baterainya dengan YouTube offline video playback ya. Kita putar terus sampai baterainya habis. 1080p resolusinya non HDR. E baterai habis setelah 24 jam atau tepatnya 23 jam 56 menit. Jadi nyaris 24 jam. Ya udah lumayan ok lah ya. Untuk YouTube streaming 1 jam baterai turun di 7%. Scroll TikTok selama 1 jam, baterai turun 7% juga. Sementara Gensin Impact lowest 60 selama 30 menit, baterai turun 9%. Nah, untuk charging mencapai 50% itu butuh waktu 48 menit. Sementara dari kosong sampai penuh itu butuh waktu 2 jam 5 menit. Untuk kecepatan charging-nya sebetulnya ya sudah sesuailah ya mengingat dia cuma bisa ngisi 18 watt doang. Tapi memang harapan kami dari kosong sampai penuh itu ada di 1 jam lebih dikit lah ya paling enggak ya. Nah, untuk pengujian lainnya kita lihat untuk Netflix dia udah white f L1 support streaming Netflix sampai full HD tanpa dukungan HDR. Untuk YouTube dia bisa streaming up to 1080 60 fps tanpa HDR. Untuk hptic feedback gitarnya masih terasa entry level lah di sini ya. Agak kurang nyaman buat ngetik. Kalau enggak dibutuhkan sebaiknya mungkin dimatiin aja di sini. Untuk Wii sharing sayangnya enggak bisa ya. Jadi smartphone ini cuma mendukung hotspot dengan seluler doang ya. Nah, untuk harga varian 4128 ini SRP-nya ada di Rp1.599.000. Untuk 300 pembeli pertama nanti akan ada free gift berupa Itel Buds R5i ya 5i ya. Selain ituel juga bakal bagi-bagi c2 gift box di periode khusus. Kalau tertarik langsung aja cek sosial medianya Itel Indonesia untuk info lebih lanjut. Sekarang kita masuk ke hal yang perlu dipertikan. Pertama storage-nya masih EMMC. Jadi bukan yang kencang-kencang amat tapi di harga segini masih ok lah sebetulnya. Kemudian tidak ada auto brightness, jadi harus atur brightness secara manual dan brightness layarnya cenderung kurang terang kalau dipakai di kondisi outdoor. Gyonnya juga masih virtual di sini. Dan spesifikasinya itu sebagian ada yang turun dari Itel City 100. Sementara harganya agak naik ya sebetulnya. Untungnya di sini ada upgrade signifikan di mana kita diberikan NFC. Jadi fungsinya bertambah ya. Dari si menariknya ya tadi itu dia udah support NFC. Jadi e function-nya udah lumayan sekarang ya. Desain juga terlihat premium di sini. Baterai juga ya udah lumayan awet lah di sini. Refresheted layar tuh sampai 120 Hz. Layarnya juga pakai desain punch hole jadi udah kekinian. Lalu dia punya fitur kamera yang terbilang cukup lengkap. Infrared blaster juga ada di sini. Dan dia masih support 3,5 mm headphone jack. Support FM radio juga support WiFi 5 juga di sini ya. Jadi pertanyaannya Itel City 200 smartphone ini cocoknya buat siapa? Ya, tentunya cocok buat yang mencari smartphone basic dengan desain yang cakep. Di sini untuk anak sekolah mungkin SD sampai SMP atau bahkan orang tua dengan budget terbatas harusnya ini bakal cocok dengan smartphone yang satu ini. Lalu dia juga cocok buat yang sering dalam perjalanan ya. Terlebih kalau sering bolak-balik jalan tol ya. Karena kita bisa langsung cek atau isi saldo Imani e lewat smartphone ini. Kan ada NFC di sini ya. Apakah pengguna ITEL City 100 perlu upgrade ke sini? Kalau yang kalian cari adalah NFC silakan aja. Tapi kalau NFC enggak terlalu terpakai, rasanya belum pas untuk pindah karena speknya yang tidak ada peningkatan signifikan kecuali NF tadi ya. Pada akhirnya kita harus bilang selamat datang 2026. Kami paham produk Ital tahun sebelumnya itu bisa jadi lebih menarik tapi mengingat semua harganya akan naik ya rasanya di kelas R jutaan ini sih Ital City 200 masih layaklah untuk dilirik. [musik]

Lihat di YouTube