Review "Singkat" Samsung Galaxy Z Fold7: Apakah Ini Smartphone Foldable Terbaik 2025? (YouTube Video)
Rp30 juta. Mending beli ini atau beli yang lain? Nah, kalau itu yang ada dalam pikiran kalian, simak video ini secara detail. Tenang, kami kan enggak bilang HP kalian jelek dan harus banget beli ini, gitu ya. Jadi, kalian enggak perlu tersinggung, terutama karena harganya. Video ini dirancang untuk bisa mempelajari Samsung Galaxy Z4 ini secara objektif. Siapa tahu kan mungkin aja di masa depan kalian bisa punya smartphone canggih seperti ini. Amin. Keren lah ini ya sebetulnya ya. Lihat deh saking tipis dan ringannya saat dilipat ini benar-benar terasa seperti smartphone non foldable yang lain. Layar covernya udah lebih lebar enggak sekurus pendahulunya. Ngetik benar-benar kerasa pakai HP biasa. Saat dibuka layarnya jadi seperti tablet untuk kerja jadi lebih asik lagi nih. Kamera upgrade-nya jauh banget dibandingkan pendahulunya. Fitur AI-nya segudang, langsung dapat One UI 8, Android 16, update 7 tahun. Nah, dalam video ini kita juga akan menjawab pertanyaan pertanyaan dari kalian seperti kok enggak support Sn? Kok enggak pakai under display kamera lagi? Kok baterainya enggak di-upgrade? Kok katanya enggak pakai vaper chamber? Suhunya gimana? Lalu apa benar kameranya selevel ultra? Nah, semua akan kami jawab dalam video ini ya. Samsung Galaxy Zfold 7 kita sudah buat video preview-nya ya. Spesifikasi, desain, harga, sebagian udah dibahas di video yang itu. Video 8K 30 fps juga udah di-upload supaya bisa cek resolusi benerannya kalau 8K 30 fps seperti apa. Kalau yang ini dibuat 8K 30 fps, wah gede banget upload-nya ya. Lalu video 4K60 juga sudah ada. Bahkan itu diedit pakai V7 juga loh. Itu sekali ngetes kemampuannya dan ngasih sampel video 4K benerannya. Nah, untuk kalian yang udah subscribe harusnya udah nonton ya. Kalau belum sih keterlaluan atau mungkin ketinggalan karena belum subscribe tahu dong harus ngapain ya. Oke, buat yang belum tahu, ZFT itu adalah smartphone lipat terbaiknya Samsung dan sekarang sudah masuk ke generasi keet7uh ya. Di sini ada 567 ya. Samsung Indonesia cukup konsisten menghadirkan F series mereka dan polanya memang setahun. upgrade satu generasi. Di luar yang tiga ini sebetulnya di kantornya juga masih dipakai ZFT 3 dan ZFT 4 ya itu dipakai juga dipakai semua sama tim kami dan semuanya masih hidup. Nah, untuk para pengguna Volt 6 ya Vol 6 agak hati-hati ya karena video ini berpotensi membuat kalian jual smartphone kalian terutama yang belum lama beli dan tidak sadar akan timeline launching-nya Samsung. Nah, kenapa begitu? karena upgrade-nya sadis benar yang satu ini. Kita mulai aja dulu dari pembahasan isi paket penjualannya. Oke, seperti kebiasaannya Samsung ya, dia value for money tertingginya adalah ketika di dalam momen pre-order. Benefit yang didapatkan tuh sangat sayang kalau dilewatin ya. Bisa dapat gratis double storage ya. Beli yang 512 dapat 1 tera. Lalu cashback-cashback-nya sampai ada Z premiere service-nya yang bisa nyampai 3 tahun perlindungannya. Semua kerusakan termasuk yang disebabkan oleh klien pengguna juga ditanggung di 1 tahun pertama. Lalu kerusakan layar dicover penuh 2 tahun gitu ya dan bisa dapat maksimum penggantian dua kali ganti layar. Ada juga penggantian screen protektor tanpa batas di 3 tahun pertama. Makanya kita bilang ya benefitnya sangat bermanfaat dan sangat sayang kalau dilewatkan. Nah, kalau untuk box smartphone-nya sendiri ini standar Samsung ya. Enggak ada chargernya hanya unit, kabel type C dan dokumen. Tapi biasanya pengguna Samsung kelas segini sih paling enggak udah punya charger sebelumnya bahkan mungkin udah punya banyak charger. Jadi kita langsung masuk aja ke desain. Menurut kami Samsung sudah di tahap desain foldable yang matang di sini ya. Saat tertutup terasa seperti smartphone biasa, tapi saat dibuka bisa kasih layar ekstra-ekstra besar. Hanya karena desain ini membuat kalian merasa bahwa Vol 6 sebelumnya langsung ketinggalan dua generasi apa tiga ya rasanya ya. Terlalu jauhlah peningkatan dari segi desainnya ya. Kalau ditutup zfol 6 itu tebalnya di 12,1 mm. Yang ini cuma 8,9 mm doang. Sebagai gambaran, 8,9 mm itu tebalnya S23 Ultra. Iya. Nah, di generasi sebelumnya tujuan Samsung membuat layar cover lebih kurus itu adalah supaya mudah untuk pengoperasian satu tangan. Sekarang layar covernya dibuat lebih lebar, tapi untungnya penggunaan satu tangan tetap bisa dan tetap nyaman ya. Dan yang lebih luar biasanya lagi bahkan yang satu ini lebih ringan ketimbang S25 Ultra ya. S25 Ultra itu 218 gr. ini 215 gr ya. Tapi desain ini bukan berarti tanpa masalah. Ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh pengguna. Pertama kalau kita letakkan di atas meja ini akan wobel goyang-goyang gitu ya kalau mau digunakan ya. Nah ini karena modul kameranya yang tebal. Kedua, saat membuka layar utamanya di awal kita tuh merasa agak kesulitan terutama kalau kita enggak pakai casing ini. Karena armor flex hint-nya yang membuatnya tambah solid dan bodinya yang luar biasa tipis. Jadi untuk membuka hanya dengan jempol aja itu agak sulit ya. Kadang-kadang harus sedikit-sedikit pakai kuku gitu ya. Nah, solusi kedua masalah ini adalah sederhana pakai case aja. Nah, karena ini Samsung pilihan case sangat berlimpah di pasaran walaupun dia baru aja launching. Oh ya, kalau tertarik mau beli casing resminya Samsung bisa aja langsung cek ke samsung.com ya. Kalau ini masih skeptis yah HP lipat begini mah layarnya gampang rusak. Nah, jawaban dari Samsung adalah Z Premiere Service yang tadi ya. Layar covernya ini juga udah pakai Gorillaag Glass Seramic 2 ya yang bagian luar ya yang seharusnya lebih tahan gores dan pecah dibandingkan Victus dan ini jelas lebih rigid. Lalu untuk layar utamanya yang bagian dalam sudah pakai plate titanium dipadukan dengan armor flex hingch dan baru aja ini ya layar lipatnya Samsung ini sudah lolos pengujian lipat sebanyak 500.000 kali oleh Biro Veritas. Ini adalah sebuah perusahaan di Paris yang bergerak di bidang pengujian inspeksi dan sertifikasi sejak tahun 1828. Udah sepuh nih ya di industri ya. Apa artinya lolos uji lipat 500.000 kali ini? Nah, artinya untuk rata-rata pengguna layarnya bisa bertahan hingga 10 tahun bahkan lebih ya. Kalau untuk pengguna berat yang buka tutup volti 200 kali sehari bisa bertahan 6 tahun. Masih lama ya 200 kali sehari itu siapa yang mau ngerjain ya 200 kali sehari itu mungkin iseng pamer-pamer ini bisa buka tutup buka tutup buka tutup gitu ya. Kayaknya lebih ke arah iseng sih sebetulnya. Nah, hasil pengujian ini mengindikasikan kalau layar Samsung terbaru ini sudah 2,5 kali lebih kuat dibanding pendahulunya yang lulus uji lipat hingga 200.000 kali. Bahkan kalau kalian lihat video Jerry Rick yang terkenal streim matahan HP itu, dia enggak berhasil matahin Volse 7 ini. Jadi seharusnya kalau memang penggunanya adalah penggunaan normal dan bisa merawat barang, ZFT 7 ini akan bertahan lama. Kalau penggunanya barbar enggak ngerawat barang, sering jatuh, kayaknya sih itu lebih cocoknya pakai raget seriesnya Samsung aja dah. Dan sebetulnya sih ya dengan melebarnya layar luarnya itu juga membuat kita sebetulnya akan jarang masuk ke dalam kalau mau ngetik-ngetik kan. Oke, untuk warna unit yang kami uji ini adalah yang blue shadow. Untuk warna lainnya ada jet black dan ada silver shadow. Ada juga warna mint tapi ini eksklusif di samsung.com aja. Oke, untuk body seperti biasa dia punya sertifikasi IP rating di IP 48. 4 artinya bisa terlindung dari benda padat sampai 1 mm ukurannya ya. Jadi kalau lebih dari 1 mm enggak bakal bisa masuk. Jadi tempat penyimpanannya harap diperhatikan juga. Jangan sampai terlalu kotor atau ya banyak pasir, tapi mesti pasir halus banget sih ya. Kalau pasir 1 mili enggak bakal masuk juga ke dalam. Sedangkan angka di belakang itu sudah tahan kalau enggak sengaja tercebur ke dalam air. Tapi ingat ya, bukan untuk diajak berenang. Jangan ya. Oke, lanjut kita lihat sisi-sisinya dalam kondisi terbuka. Kita lihat di sisi kanan dulu. Di sini ada tombol power yang sekaligus jadi fingerprint scanner. Lalu tombol volume up and down. Di atas ada dua buah lubang mikrofon, slot dual SIM, lalu ada grill speaker di sebelah kiri ini kosong. Di bawah ada dua lubang mikrofon, port USB C 3.2 yang terlihat besar sekali karena HP-nya tipis ya dan ada grill speaker. Nah, tipis-tipis gini kuata speakernya tetap oke loh, suaranya tetap detail dan jernih. Bukan yang paling lantang, tapi kalau untuk keperluan nonton dan gaming ini udah mencukupi. Kalau dibandingin sama fold-fold lain sih ini ngelawan lah ya. Masih tap salah satu yang paling bagus lah kalau di antara foldable. Sekarang kita lihat bagian layar utamanya dari si Kris atau lipatan pada layar apakah makin samar untuk saat ini kalau kondisinya baru beli, lipatannya sih nyaris enggak kelihat apalagi kalau benar-benar baru beli itu enggak ada sih sebetulnya enggak kelihatan tapi seiring pemakaian krisnya akan muncul dan ini wajar semua HP lipat yang bilangnya katanya Krisnya enggak kelihatan krisisnya enggak kelihatan itu kelihatan kok yang penting sih sebetulnya adalah tidak sampai mengganggu ketika lagi nonton dan memang rata-rata kalau udah biasa pakai kita udah enggak lihat lagi tuh krisisnya seperti apa. Untuk brightness, diklaim Samsung ini bisa mencapai 2.600 nits untuk peak brightness. Nah, saat kami uji di indoor maksimum brightness-nya ada kisaran 426 nits. Sementara untuk simulasi outdoor dia bisa hampir mencapai 1400 nitz. Nah, kalau klaim yang 2600 nit biasanya tuh yang titik kecil doang gitu untuk pengujian khusus ya. Nah, kalau kami ngujinya full screen brightness ya yang kelihatan di semuanya gitu ya. Nah, apakah ini aman untuk outdoor siang trik matahari? Nah, meskipun 1400 nit kami mendapati kalau siang trik panas banget ternyata layarnya itu kalau kepanasan bisa meredup ya. Bisa meredup. Ini sengaja enggak dipaksa terang terus kalau misalnya kejemur ya. Ini untuk kejemur doang ya. Kalau cuman nyebrang dari kantor satu ke kantor lain terang banget itu masih tetap nyala terang banget dia. Enggak ada masalah. Tapi kalau kalian misalnya dijemur enggak tahu kenapa kalian jemur di lapangan ya di bawah trek matahari nanti dia akan meredupkan diri supaya tidak terjadi burn in sepertinya. Nah, untuk warna layar dian opsi natural dan juga ada vivit. Nah, saat kami uji setting natural gambut coverage itu lebih diarahkan ke 100% sRGB dan volume sedikit berlebih di 117% sRGB tapi masih sangat cocok untuk editing konten. Yang perlu diperhatikan adalah opsi viviting default-nya menurut kami sih udah cukup gonjreng ya, tapi saat kami uji ternyata color gamut coverage-nya itu masih di kisaran 86% di CP3 dengan gamut volume di 93,6% di CP3. Nah, ini kalau dirasakan kurang ada caranya supaya setting Vivitynya terasa lebih gonjreng lagi ya. Masuk ke advance setting lalu slider vivit-nya digeser ke kanan sampai mentok. Nah, kalau settingnya seperti ini, color gambutnya bisa mencapai 100% di CP3 atau tepatnya coverage di 99% di CP3 dengan volume di 117% DC IP3. Untuk refreshed layer ini up to 120 Hz, adaptif dari 1 sampai 120 Hz. Fitur always on display tersedia dan beneran bisa diatur selalu menyala. Nah, di sisi kanan atas layar itu ada kamera selfie 10 megapel. Ini F2.2 Fix Focus. Yang menariknya kamera selfie-nya nih ultra wide ya. Jadi dia punya sudut pandang yang sangat lebar tepatnya 100 derajat. Sebagai perbandingan kamera selfie pada umumnya itu ada di kisaran 85 derajat. Sementara kalau kamera belakang yang ultrawide itu biasanya 110 sampai 120 derajat. Jadi ini udah lebar sebetulnya. Untuk perekaman videonya up to 4K60 dong. Ini peningkatan yang signifikan ketimbang pakai UDC atau under display kamera. Kalau disuruh pilih UDC demi layar bersih atau selfie seperti ini tapi jadi terlihat ada tompelnya, bagaimana? Kami sih akan pilih selfie yang sekarang ya jauh-jauh lebih fungsional dan kepakai kameranya. Nah, memang saat digunakan untuk nonton video yang aspek rasionya adalah 16 bing 9 atau 21 b 9, kamera selfie-nya ini malah jadi masuk ke dalam videonya. Seandainya Samsung meletakkan posisi kameranya di pojokan kanan ya menurut kami akan lebih oke lagi. Oke, sekarang kita bahas dulu pertanyaan besar mengenai layar utamanya. Ini kok udah enggak support S Pen lagi? Nah, pertama dari pengalaman pribadi saya sendiri sih sebagai pengguna fault ya. Hm. Tuh ya, ada sebelah ya. Saya entah kenapa default jadi jarang pai S Pen. Sederhananya karena satu S P-nya terpisah dari bodinya. Ini beda dengan S25 Ultra karena Sen-nya ada di dalam. Ketika mau nulis atau tanda tangan itu jadi lebih praktis ya. Tarik tulis tanda tangan gitu bisa gitu ya. Kan bisa pakai casing ada slot S P-nya itu Bang. Bisa sih dan saya pakai tapi entah kenapa mungkin ya ee karena kalau dibuka layarnya udah besar saya udah enggak butuh pen lagi gitu untuk banyak kebutuhan. Nah, kedua dari sisi Samsung, pihak mereka menyatakan berdasarkan studi pengguna SEN Default memang ternyata jarang digunakan. Secara global mereka mencatat ada hanya 3% dari total pengguna yang memakai S Pen-nya. Ini untuk yang foldable ya angkanya ya. Menurut Samsung mayoritas penggunanya itu meminta body yang lebih tipis ketimbang ada S P-nya atau stylusnya itu ya. Dari hasil studi berikutnya adalah pengguna yang udah punya Vol itu juga biasanya punya smartphone Samsung lain juga. Jadi mungkin udah punya S25 Ultra, S24 Ultra, S23 Ultra, S22 Ultra yang semua udah punya S Pen. Nah, kalau yang ini adalah alasan dibalik keputusan yang diambil oleh Samsung ya. Lagi pula kalau emang butuh banget pen ya, kita masih bisa sebetulnya pakai universal stylus. Jadi bukan berarti enggak bisa pakai stylus sama sekali. Bisa dilihat nih ya untuk mencatat masih bisa. Kalau mau bikin koreksi-koreksi melingkar atau mencoret seperti ini bisa. Untuk bikin tanda tangan bisa juga ya. Kalau pakai universal stylus bisa kita pakai untuk layar cover dan layar utamanya. Dan karena ini universal memang tidak hanya untuk zpot aja ya. Layar smartphone lain juga bisa yang pakai universal kayak begini. Memang kalau untuk menggambar yang serius ini belum cocok karena dia enggak ada tebal tipisnya. Nah, pertanyaan sih yang enggak terima dengan keputusan Samsung ini dan kelar-kelar di internet ini beneran pengguna bukan sih? Kayaknya kalau memang pengguna dengan adanya universal stylus tuh bisa juga terjawab kebutuhannya ya. Jadi sebetulnya yang benar yang mana sih? Ya udahlah ya kita lanjut aja ya. Kita lanjut ke sisi belakang. Ini adalah layar cover screen-nya ya. Ini adalah layar 6,5 inci. Resolusinya sekarang udah tinggi nih 2520 * 1080 piksel. Akhirnya 1080 juga tuh ya. Aspek rasionya sekarang lebih ke arah 21 b 9. Jadi waktu nonton film cinematic enggak terlalu banyak sisi hitam di atas bawahnya. Dari segi kecerahan layar dan color gamut, hasil tesnya mirip dengan layar utamanya tadi. Bahkan refresh rate-nya pun mirip ya. Di tengah atas layar ini ada kamera selfie 10 megapel yang sepertinya sensornya sama dengan yang dalam ya. Bukannya F2.2 fix focus dan nah kalau yang ini selfie biasa yang sekitar 80-an derajat itu ya. Perekaman videonya juga up to 4K 60 fps. Lalu kalau kita lihat di sisi sebelahnya, nah ini nih ada modul triple kamera dan satu LED flash. Kamera yang ini terdiri dari kamera ultrawide 12 megapel F2.2 field of view-nya 120 derajat dan ini auto fokus. Ini beda dari pendahulunya walaupun sama-sama 12 megapel. Ini autofokus. Fol 6 masih fixed focus. Perekaman videonya up to 4K 60 fps. Kemudian, nah ini kamera ultranya nih ya. Kamera utamanya 200 megap f1.7 pakai optical image stabilizer. Perkaman video up to 8K 30 fps. Oh ya udah naik ya videonya. Jadi kalian sudah tahu ya. Nah, ini adalah kamera yang serupa dengan yang ada di S25 Ultra dan ada di S25 Edge ya. Paling enggak resolusinya mirip lah, ya. Kemudian ada kamera tele juga 10 megapel, tiga kali optical zoom F2.4, ada OS-nya juga di sini dan perekaman video juga lagi-lagi sampai 4K 60 FPS. Kalau fitur sih ekstra melimpah ya dari Pro dan lock itu bisa dipakai di semua kamera termasuk dua kamera selfie-nya tadi ada expert raw, dual ra, portret video 4K dan segudang fitur lainnya. Apalagi kalau kalian instal kamera assistant dari Galaxy Store nambah banyak lagi fiturnya nih. Terlalu banyak dan kayaknya enggak bisa dibahas satu-satu ya kalau enggak nanti videonya mau jadi berapa jam ini ya. Oke, lanjut ke spesifikasi internalnya. SOC dia pakai Snapdragon 8 Elite for Galaxy. Untuk unit yang kami tes ini RAM-nya 16 GB dengan storage 1 TB. Jadi ini adalah varian yang paling tingginya. Kalau kalian beli yang 256 atau 512, nah itu RAM-nya 12 GB. Nah, tapi kalau kalian beli di masa PO, beli yang 512 dengan RAM 12 GB itu dapatin tera dengan RAM 16 gig ya. Nah, untuk baterai 4.400 mAh. Dari sisi kapasitas mungkin enggak berubah dari pendahulunya tapi jangan lupakan kalau bodinya sekarang jadi jauh lebih tipis ya. Pada akhirnya harusnya kita enggak terlalu terpaku pada angka kapasitas. Kita lihat dulu aja deh nanti hasil tesnya ya. Lalu untuk charging dengan kabel support sampai 25 watt. Ini 25 watt bukan berarti pasti lambat ya. Biasanya 25 watt-nya Samsung itu kelakuannya beda sama yang lain. Bahkan kadang-kadang lebih kencang daripada yang 33 watt. Wireless charging support sampai 15 watt dan reverse wir charging juga bisa sampai 4,5 watt. Untuk sensor ah udah enggak usah dibahas ya lengkap. Ini udah kelas flagship dan semua sensor yang dibutuhkan ada di sini. Kalau mau dicari-cari banget ya, sebetulnya ada satu sensor flagship yang enggak ada di sini ya. Itu adalah laser focus sensor ya untuk kamera ya. Dulu sih untuk banting autofokus tapi semakin canggihnya si sensor kamera sendiri sekarang auto fokus di smartphone ini udah baik-baik aja. E harusnya enggak ada masalah di sini ya. Kita sudah lihat di S25 enggak ada masalah ya dengan autofokus. Lanjut untuk fitur keamanannya. Dia punya fingerprint scanner dan face unlock. Untuk konektivitas tentunya dia sudah 5G, 2G, 3G, 4G, 5G bisa semua ya. dan support dual SIM dan dual ISIM bisa ya. Wii-nya WiFi 7, Wii sering tersedia, Bluetooth versi 5.4, Bluetooth kodex-nya SBC, AAC, ATX, LDAC, dan SSC tentunya ada. Jadi kalau kita menghubungkan TWS Samsung seperti Galaxy Buds ini otomatis akan pakai kodex yang SSC. Untuk USB tentunya OTG bisa, NFC juga ada. Untuk display out via USBC jelas bisa. Tinggal colok aja ke monitor eksternal atau ke e TV gitu ya atau ke proyektor gitu ya. layar nanti bisa di mirror atau kita bisa aktifkan mode Dex ya. Jadi e mode desktopnya Samsung ya. Udah tahulah kalian harusnya ya. Dan mode desktopnya seperti ini. Ini sangat mudahkan ketika butuh terhubung ke layar yang lebih besar dan butuh multitasking yang lebih banyak lagi. Kemudian dia juga punya ultra white band untuk S dia pakai One UI 8 berbasis Android 16 ya. Nah yang di awal tahun ribut-ribut bilang, "Wah, Samsung lambat, Samsung lambat, OneU 7-nya telat." Nah, ini OneU8 langsung nih. Kayaknya balas dendam dia ya. Kemarin tujuhnya telat, delannya cepat. langsung Android 16. Kayaknya ini salah satu HP pertama yang pakai Android 16 langsung ya. By default nih 16. Nah, untuk update-nya standar Samsung ya 7uh kali Android update tapi startnya dari 16 bukan dari 15 ya dan dapat 7 tahun security update. Dari si tampilan ini enggak banyak perubahan dibandingkan OneU 7 sebetulnya. Jadi pengguna enggak perlu khawatir untuk adaptasi ulang lagi. Nah, untuk mengetahui apa yang baru di One UI 8 ini enggak perlu kita bahas di sini sebetulnya. Kita tinggal masuk aja ke settings dan pilih menu tips and user guide. Kita akan langsung bisa lihat apa yang baru di OneUI 8 ini dan tutorial memanfaatkan fitur-fitur One UI yang baru ini. Untuk hal yang baru katanya ada lima fitur. Pertama call caption untuk mengubah suara saat lagi telepon menjadi teks. Lalu ada fitur best face yang memperbaiki foto kalau ternyata ada yang merem atau ekspresi kurang bagus. Tapi ini di OneU Y7 juga ada sebetulnya ya. Kemudian ada rekomendasi wallpaper. Ada juga fitur untuk mengedit angka jam pada lock screen ya. dan ada update dari si penggunaan Galaxy Buds. Jadi kita enggak perlu masuk ke varable app untuk mengatur Galaxy Buds. Kita menunya sekarang udah masuk ke dalam settings. Jadi praktis aja. Nah, untuk fitur AI jelas ini masih yang terlengkap. Update yang menarik di sini ada mungkin di sisi audio eraser-nya. Sekarang sudah ada mode auto. Jadi ada opsi yang lebih praktis kalau misalnya enggak mau ngatur secara manual. Dengan mode auto, kita bisa merapikan audio konten kita dengan lebih cepat. Lalu Gemini AI juga sekarang makin canggih dan nyaman dipakai defoldable. Mau nanya sesuatu tinggal ketik atau ngomong langsung, enggak perlu pindah-pindah aplikasi lagi. Nah, kita juga bisa menggunakan screen sharing atau kamera ya. Jadi kita tinggal kalau pakai kamera tinggal buka aja kameranya terus ngobrol deh tuh sama Gemini AI-nya ya. Langsung aja ee tanya ke dia ini apa, tunjukin aja ini apa, ini apa, ini apa. Nah, jawabannya muncul secara instan dan kontekstual. Dan untuk screen sharing itu enggak cuma screen biasa doang ya, bahkan in game juga bisa. Dari semua lcon yang aku punya bagusan yang mana ya untuk Linon? Dari semua light yang kamu punya, On adalah pilihan terbaik untuk final. Light ini meningkatkan attack setiap kali karakter menyerang yang sangat cocok dengan Kin Fin apa kamu punya light bintang lima lainnya? Tidak ada. Oke kalau begitu on the fall of and Eon tetap jadi pilihan terbaik. Light bintang 4 atau bintang tiga yang kamu punya mungkin tidak akan seefektif itu, tapi tetap bisa jadi pilihan situasional. Mau coba kita lihat LC bintang empat atau tiga milikmu. Lanjut kita masukmasuk ke pengujian performa ya. Untuk benchmark kita menguji kedua sisi untuk si layar cover dan layar utamanya juga nih. Untutu 10. Untuk layar cover kita bisa dapat 2,3 jutaan. Untuk layar utama kita dapat 2,1 jutaan. kita iseng coba kita kipasin dan ternyata bisa naik lagi skor jadi 2,5 juta nih ya lumayan tinggi juga nih ya walaupun memang enggak mencapai 2,8 atau 2,9 gitu ya. Lanjut ke Geekbch 6 untuk layar cover single core di 2.970 multiore di 9.460. Untuk layar utama dia single core di 2882 multiore di 9.343. Kami pernah dapat multicore sampai 10.000-an benar. Tapi itu unit yang kami uji waktu di unpack kemarin dan itu adalah versi yang 256 bukan versi Sutera. Ini kita tes yang sautera ya. Untuk yang 256 sih kita dapatnya ya di R.000 tapi kita sayaknya belum tes untuk unit resmi di Indonesia apakah yang 256 juga dapat Rp10.000. Tapi ya 9.000-an dan 10.000 kecil itu ya sudah mirip banget sih sebetulnya ya. Intinya adalah multitasking-nya kencang gila-gilaan. Lanjut untuk JFX Bench Carsreen 1080p di layar cover dapat 125 FPS. di layar utama dapat 179 FPS. Lalu 3max sling shot Extreme Unlimited graphic skornya itu layar cover 31.986. Di layar utama dapat R.221. Lalu untuk trimmarx solar Bay ini untuk yang rate racing di layar cover dapat 43 fps. Di layar utama dapat 42 fps. Sekarang coba kita stress test dengan terima qul stress test. Di layer cover base score 20.351, lowest score 8.816. Stability di 43,3%. Saat kami coba dengan kipas, stability-nya bisa naik signifikan jadi 80%. Nah, untuk layar utama base scor-nya di 19.345 dengan lowest score di 9.702. Ini stability-nya ada 50,2%. Saat kita coba dengan kipas, stability-nya bisa naik sedikit jadi 63%. Overall ini adalah hasil yang masih normal untuk Snapdagon 8 elite. Tetap terhitung sangat kencang. Stress test pun enggak sampai overheat terus berhenti gitu ya. Jadi manajemen suhu dan performanya ini tergolong baik untuk benchmark. Nah, kalau untuk gaming bagaimana? Ya, udah kita tes gaming lah ya. Supaya dapat performa maksimal, kita menggunakan mode baterai performance pada setting game booster. Kita mulai dari Mobile Legends. Setting grafisnya bisa sampai ultra dan refresh juga di super artinya 90 fps. Entah kenapa enggak kebuka 120 fps. Ya, mungkin masih butuh update dari developernya. Kalau cuma 90 fps kentengan lah untuk SWC sekencang ini ya. Mau dicover screen maupun main screen dia lancar 90 fps. Lanjut Subway server. Kalau game ini bisa jalan di 120 FPS, lancar, enggak pakai nyangkut-nyangkut refresh rate-nya. Lanjut untuk Real Racing 3. Game ini juga lancar, 120 FPS. Tinggal buka aja game-nya dan langsung jalan di 120 fps. Enggak perlu ngatur macam-macam lagi. Oke, PUBG Mobile setting maksimum yang terbuka dan kita bisa pilih adalah smooth ultra extreme 120 fps ya atau extreme plus 90 fps atau ultra HDR ultra ini 40 fps. Untuk game shooter menurut kami setting 120 fps yang lebih asik ya. Saat dimand juga aman. 120 FPS lancar, enggak ada masalah. Gyo aing juga aman, mulus, responsif. Lanjut ke watering waves. Kita coba di setting rata kanan. Frame rate-nya lancar 60 fps. Enggak terasa ada frame drop yang mengganggu. Nah, karena gameennya cukup berat, ketika sudah panas dia bisa turun juga sih ke 40-an FPS saat dimainkan pakai layar cover maupun layar utama. Hasilnya sih mirip-mirip aja. Jadi kalau mau dimainkan lama-lama tetap butuh pendinginan ekstra lah di sini ya. Lanjut ke Gensin Impact. Kita coba mainkan di setting highest 60 fps dengan layar cover dulu. Untuk sen pengujian seperti biasa, traveling 30 menit. Frame rate yang kami dapatkan itu 60 fps sampai sekitar 24 menit. Setelah itu ada fluktuasi sedikit di kisaran 55 sampai 60 fps sampai pengujian selesai. Ini hasil yang sebetulnya melampaui ekspektasi kami karena body setipis ini enggak bisa turun signifikan itu sudah sangat baik. Biasanya sih kalau tipis-tipis gini udah turun gitu ya. Nah, suhu di sisi layar cover itu paling panas di 40 derajat Celcius. Sementara suhu di body belakang itu paling panas di 45 derajat Celcius. Nah, ini meskipun tanpa vaper chamber, penyebaran suhunya masih tergolong lumayan baiklah. Dan memang frame yang dari aluminium ini sangat membantu penyebaran panasnya juga. Nah, tadi itu gaming untuk cover screen, sekarang kita pakai layar utamanya. Ternyata frame rate-nya udah lumayan oke di sini ya. Bisa 60 fps lancar sekitar 15 menit. Setelah 15 menit terlihat ada fluktuasi di 50 sampai 60 fps sampai pengujian selesai. Nah, untuk suhu di sisi layar terpanas 44 derajat Celcius, di sisi back cover terpanas di 46 derajat Celcius. Ini sudah tergolak enggak panas tapi setimpal dengan performa yang diberikan. Penyebaran suhunya terlihat dominan di area back cover. Tapi ini ya hal yang wajar ya karena sisi layar cover kan secara struktur itu terpisah dari back cover. Nah, dan overall ini masih cukup nyaman ketika digenggam karena 46 derajat itu hanya di satu titik. bagian body yang lainnya bisa dilihat dari hasil pengujiannya itu tidak nyampai 46 derajat celcius. Nah, untuk ranking untuk pakai layar cover dia di S, sementara layar utama dia S-US. Nah, meskipun performanya sudah memuaskan, tapi kami tetap akan menyarankan kalian pakai kipas ya kalau mau dipakai main berjam-jam. Overall untuk sebuah smartphone super tipis seperti ini dan sudah tidak pakai vaper chamber, pengalaman gamingnya termasuk yang impresif menurut kami. Kami udah pernah nyoba lain dengan spesifikasi yang mirip. Performanya sih hmm enggak sehebati ini sih ya. Oke, kita lanjut tes kameranya kali ini bareng sama Kris ya. Oke, belum lama Mas Dedy sudah upload sampel video langsung dari Samsung Galaxy Zolt 7 ini. Jadi kalau mau lihat hasil mentahannya seperti apa bisa cek aja di video yang itu. Di sini saya akan melengkapi pengalaman penggunaannya aja. Apa aja sih menurut saya masih perlu ditingkatkan, lalu kelebihannya yang sulit dilawan tuh apa aja. Dan untuk pengguna ZFT 6 mungkin pengen tahu ya sejauh apa sih peningkatan kameranya. Kita mulai bahas dari apa yang menurut saya masih kurang atau masih perlu diperbaiki lagi. Yang pertama itu video selfie low light-nya. Ini masih perlu ditingkatkan. Saya tetap mengapresiasi Samsung sudah mengganti UDC jadi kamera ultrawide. Ini sangat-sangat jauh lebih fungsional. Tapi ketika masuk ke low light, bisa saya bilang ini sekedar mencukupi aja untuk video. Dan sebaiknya hindari penggunaan 60 fps di selfie saat low light ini belum pas. Kemudian video tele tiga kali zoom-nya. untuk kondisi low light masih perlu ditingkatkan. Gambarnya terasa soft kalau untuk 60 fps. Sebetulnya untuk kelas flagship sekalipun masih sangat wajar kalau kemampuan 60 fps-nya belum oke untuk kamera selain kamera utamanya. 60 fps itu memang butuh cahaya yang lebih banyak, tapi beda cerita kalau kita tes kamera utamanya. Kalau untuk kamera utamanya mah kelas flagship udah pada jago 60 fps sekalipun bukan masalah. Lalu berikutnya kamera selfie-nya belum autofokus, tapi ini masih ada solusinya. Pakai aja mode selfie dengan kamera utamanya. Lalu di sini kan ada fitur base face ya, yang bisa memperbaiki ekspresi yang kurang pas seperti ada rekan yang merem misalnya. Tapi dari pengalaman saya pribadi, ada sedikit catatan entah kenapa di beberapa situasi tidak semua wajah orangnya tuh bisa terdetect. Kalau dicoba untuk tiga orang, saya coba sih masih aman. Tapi saat dicoba berlima, antara satu atau dua orang tuh bisa enggak terdetect. Ini semoga bisa ditingkatkan lagi. Terakhir saat low light, saya menemukan hal yang aneh sih. Lihat deh gambar yang ini. Apakah kalian melihat noise dan overall gambar yang cenderung kemerahan? Nah, saya juga melihatnya nih. Jadi, setelah saya cari tahu, penyebabnya adalah fitur HDR10 Plus recording-nya. Kalau fitur ini dimatikan, gambar bisa lebih bersih, tapi keseluruhan gambar memang jadi lebih gelap. Fitur ini nyala by default ya. Jadi sebagian besar pengguna akan mendapatkan hasil video yang kemerahan seperti sampel awal tadi. Tapi di satu sisi, benefit fiturnya ini adalah saat kondisi siang. Di kondisi cahaya yang sulit seperti ini, Dynamic Rac-nya jadi luar biasa. Saya pribadi belum yakin apakah ini normal seperti ini. Tuning HDR10 Plus video recording-nya. Harapannya sih karena ini nyala by default, semoga Samsung bisa tuning fitur ini lebih baik lagi. Dari segi kelebihannya, pertama ini adalah contoh smartphone dengan tuning dynamic range yang baik dan merata untuk semua kameranya. Mau pakai kamera yang manapun, hasilnya bagus-bagus saja. Setidaknya di kondisi banyak cahaya ya. Lalu untuk foldable ini bisa dibilang yang paling oke untuk overall balance-nya. Enggak hanya untuk foto dan video, audionya pun mantap di sini. Kemudian di sini EIS-nya tergolong rapi meski di low light sekalipun. Lalu-nya bisa jalan di berbagai resolusi dan frame rate. Dan yang paling sulit dilawan adalah fitur kamera bawaan plus kamera assistant. Kombinasi yang darare door ini. Untuk pengguna Vol 6, sejauh apa sih peningkatannya? Saya pilih beberapa aja ya yang menurut saya signifikan. Pertama, ini contoh kamera selfie layar utama versus kamera selfie UDC de Vol 6. Aduh, bumi langit, coy. Lalu peningkatan berikutnya di ZF 7 bisa loh pindah-pindah kamera saat merekam di 4K 60 fps. ZF 6 enggak bisa loh, harus di bawah 4K60 seperti 4K 30 atau 1080p 60. Peningkatan berikutnya ada di ultrawide-nya yang sudah autofokus. Teks-teks kecil begini jadi bisa jelas. Si kemarin kan fix focus ya, blur doang kalau mau cek detail-detail kecil kayak begini. Jadi, ultrawide-nya memang sudah seperti kelas S Ultra. Nah, kalau kamera utamanya gimana nih? Apakah sensor 50 megapel ke sensor 200 megapel itu jauh banget hasilnya? Perlu diingat ya, hasil kamera enggak cuma bergantung pada megapel. Dari hasil pengujian saya, ternyata Vol 7 lebih unggul tapi belum unggul secara mutlak. Saat low light, kamera Vol 6 masih bisa lebih terang tapi lebih noisy. Volt 7 cenderung lebih gelap tapi overall gambar lebih bersih. Ya, intinya kualitas kamera Vol 7 ini udah siap banget sih diajak ngonten yang serius. Tinggal kalian tanyakan aja pada diri kalian sendiri seberapa butuh kalian sama telefoto. Sering nonton konser enggak? Karena kalau dibandingkan dengan S25 Ultra, kalian enggak dapat tele 5 kali zoom yang 50 megapel itu. Tapi kalau kalian jarang zoom sampai sejauh itu, menurut saya sih kalian enggak akan ngerasain kameranya ini jauh beda dengan S25 Ultra. Oke, sekian pengujian kameranya Samsung Galaxy J4. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, sekarang moment of terus kita tes baterainya ya. Untuk YouTube local video playback 1080p yang kita download dulu itu seperti biasa ini pengujiannya sama di semua handphone yang kita uji. Kalau di cover screen ini nyaris 30 jam loh bertahannya tepatnya 29 jam 46 menit. Sementara untuk layar utamanya, layar besarnya itu baterai bertahan 23 jam 47 menit. Nah, ini sesuai dengan janjinya Samsung yang 24 jam. Udah mirip banget ya. Tapi menariknya Samsung menjanjikan 24 jam itu untuk video 720p. Ini videonya 1080p loh. Nah, untuk baterai 4400 mAh ini adalah hasil yang tergorong bagus ya. Coba deh kalian cek video kami yang lain. HP-HP yang pakai baterai 6.000 aja itu ada yang cuma bisa tahan 21 jam loh. Dan ada juga foldable lain. Baterainya lebih besar tapi hasilnya mirip-mirip aja sama yang satu ini. Jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan cuma dari angka mAh-nya aja ya. Nah, kalau butuh versi SOT ya dari penggunaan e saya kemarin e sempat jalan setelah dia udah stable. Setelah stable ya setelah 2 hari ya di hari ketiga dites itu bisa mencapai 7 jam lebih dan ini dipakai buat Instagram, Netflix, kamera, dan heavy di kamera ya karena lagi jalan-jalan bahkan sempat ngedit tipis-tipis pakai Capcut ya. Bukan 5 menitan bukan bukan cukup lama kok ngedit pakai CC-nya. Lanjut untuk YouTube streaming 1080p selama 30 menit. Di cover screen baterai turun 3%, di main screen baterai turun 4%. Ini hasilnya normal. Lalu 30 menit mainan TikTok ya, di cover screen itu baterai turun 3%, di main screen turun 4%. Lagi-lagi ini hasilnya normal ya. Lalu untuk Gensin Impact 30 menit highest 60 fps di cover screen dan di main screen sama-sama turun 13%. Ini hasil yang normal. Sebentar. Sebetulnya enggak normal karena biasanya kita bilang normal itu kalau baterainya 5.000. Ini kan baterai 4.400 ya. Jadi sebetulnya ini lebih irit gitu ya sebetulnya ya. ya. Jadi terlihat kan ya 4400 mAh-nya itu punya performa yang oke. Kemampuan seperti ini masih dalam kategori awet sebetulnya. Oke, sekarang kita lanjut untuk charging. Nah, untuk charging HP Samsung, kami pakai charger asli Samsung yang 45 watt sebagai standar kami. Tapi tenang, 45 watt itu tidak akan ngenjot 45 watt ya. Dia akan tahu kok, oh ini HP-nya bisa 25, jalannya 25 aja gitu ya. Nah, sampai 50% butuh waktu 28 menit. Sementara dari kosong sampai penuh itu butuh waktu 1 jam 22 menit. Ini adalah hasil yang khas Samsung banget. Mau baterainya berapapun, hasil yang kita dapatkan tuh biasanya 1 jam 10 sampai 1 jam 20-an menit. Ya memang ini bukan yang terkencang, tapi kami belum bisa bilang ini lambat banget juga ya. Ini masih dalam batas yang bisa ditoleransi atau normal menurut kami. Dan seharusnya ini juga akan bisa memperpanjang umur baterai. Bicara memperpanjang umur baterai, kalau mau lebih panjang lagi umur baterainya ada settingannya kok. Nah, yang ini nih. Lihat yang ini nih ya. Setting aja di sini. Oke, lanjut. Untuk pengujian ekstra, Netflix sudah bisa L1, support Full HD, HDR1 dan AV1 juga. Untuk YouTube playback bisa sampai resolusi 4K 60 HDR. Untuk Happtic feedback ya udahlah ya namanya kelas flagship buat ngetik, untuk navigasi, untuk kamera. Hepticknya empuk, presisi, dan sangat nyaman. Nah, kita masuk ke harga. Untuk yang 12256 harganya resminya di Rp28.499.000. Untuk yang 12512 harga resminya ada di Rp31.999.000. Sementara untuk yang 16 gig 1 TB ini harganya adalah di Rp34.999.000. Sejujurnya ini harga yang masih pantas untuk inovasi yang ditawarkan. Saran kami sih manfaatkan promo pre-ordernya kalau mau dapat benefit terbaik ya. Atau kalau kalian nonton setelah pre-order, cek deh promo-promonya. Biasanya sih masih ada L tipis-tipis promonya. Oke, kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan ya. Perhatikan yang ini ya. Seperti biasa, paket penjualannya minim, tapi kalau kita jelisan beli, kita suka dapat bonus charger atau dapat cashback yang bisa dipakai untuk beli charger sebetulnya. Lalu kemudian meskipun kekuatan layar dan bodinya sudah teruji tapi kami tetap menyarankan pakai casing karena dia akan jadi lebih nyaman untuk buka tutupnya dan penggunaan casing bisa mengatasi wobel atau goyang-goyang karena modul kameranya yang tebal tadi. Kemudian layarnya udah enggak support S Pen tidak perlu beli S Pen versi sebelumnya karena sudah kami uji enggak bisa dipasang di sini, enggak bisa dipakai di sini ya. Kalau butuh banget stylus, solusinya adalah stylus yang universal ya dan itu masih bisa dipakai di sini. Kemudian untuk kemampuan kameranya memang bisa dibilang sekelas S ultra tapi bagi kami itu lebih untuk kamera utama dan ultra wide-nya. Untuk kualitas selfie dan telenya mengiat ini R30 juta harusnya sih masih bisa lebih baik lagi. Terutama untuk kondisi low light. Kemudian untuk posisi kamera selfie-nya menurut kami tuh akan lebih bagus kalau ada di pojok kanan tuh ya harusnya ya supaya lebih nyaman waktu kita nonton dengan layar utamanya. Dan yang terakhir adalah baterainya. Ya memang daya tahan baterainya terbukti bisa ngelawan yang ukurannya lebih besar. Tapi seandainya Samsung sudah pakai baterai silikon karbon, mungkin kalau pakai yang 5000 mAh aja gitu ya dan bisa super irit. Harusnya ini bisa jadi lebih asik lagi deh tahan baterainya. Oke lanjut untuk kelebihannya. Sebentar kebanyakan Kris, kebanyakan. Kebanyakan. Kita singkat aja ya part kelebihannya ya. Saya dan Kris sudah pusing gitu ngesor part kelebihannya ya. Pertama, ini adalah contoh smartphone foldable yang bagi kami udah di tahap matang. Fisik beres, OS beres, kamera beres, baterai beres, performa beres. Kombinasi yang masih sulit ditemukan untuk e kancahnya foldable ya. Kemudian di sini banyak keluhan pengguna yang dijawab di Vol 7. Ini bukti bahwa Samsung dengerin banget. Lalu untuk kamera upgrade-nya ini jauh banget sampai mendekati S Ultra di sini. Lalu dia udah enggak pakai kamera UDC lagi di layar dalam. Ya, itu permintaan pengguna fault sebelumnya loh. Ya, kalau ada yang bilang, "Wow, kenapa enggak UDC? Kenapa?" Mungkin kalian enggak pakai fault. Mungkin ya. Mungkin. Karena kalau pakai faolt itu selalu berharap kamera dalamnya ini bisa lebih bening lagi seperti yang sekarang ini. Lalu untuk desainnya ini upgrade banget. Ketahanan Exel-nya juga upgrade banget. IP48 masih ada di sini. Ada Z Premiere service juga ya. Lalu SOC-nya flagship. Ini pakai snap 8 Elite 4 Galaxy kan. Desain premium. RAM tersedia sampai 16 gig, storage sampai 1 TB. Update OS 7+ 7 dan start-nya dari 16 bukan 15. Fitur OS juga berlimpah termasuk AI-nya. Ini yang paling lengkap yang ada sekarang ya. Lalu speaker stereya juga mantap. Wireless charging. NFC ada, 5G ada. Bisa display out plus Dex, support dual eim. Dan ingat untuk keamanan ini masih ada Nox-nya loh yang ya bahasanya tipis-tipis aja L ya. Kalau bahas panjang-panjang nanti kelamaan ya. Oke. Lalu smartphone ini cocoknya untuk siapa? Sultan. Jelas. Ini bukan untuk tim mendang-mending sih ya. Kalau kalian sultan dan memang mencari teknologi smartphone yang beda, ini akan jadi opsi yang menarik ya. Kemudian pekerja profesional. Nah, ternyata di Indonesia sudah banyak loh pekerja profesional yang pakai ini. Saat meeting yang dikeluarin udah bukan buah-buahan lagi. Pakai foldult dong, Bos. Ya, biar jelas isinya, ya. Terutama kalau penggunanya udah 40 tahun ke atas ya, mata masalahnya ya. Lalu pertanyaan lagi, apakah pengguna ZFT 6 layak upgrade ke sini? Wah, kali ini kita harus bilang sangat layak upgrade ke sini ya. Biasanya ketika pengguna versi sebelumnya nanya sama kami, kalau cuma beda satu generasi, kita akan bilang, "Ya, kayaknya enggak terlalu perlu upgrade lah, ya." Kalau di sini beda, ya. Dalam satu generasi peningkatan yang diberikan sudah terlalu jauh sampai kami merasa volt 6 itu sudah seperti ketinggalan zaman. Jadi enggak perlu tanya apakah pengguna volt 5 dan volt 4 itu layak upgrade atau enggak. Itu sih udah wajib ya. Kalau emang kalian nyari foldable lagi udah wajib banget nih ya. Nah kemudian untuk yang cari alat produktivitas ini jelas cocok. Layar besarnya kan sangat membantu untuk buka dokumen PDF atau sekedar browsing supaya informasinya lebih jelas tampilnya ya. Bahkan untuk kalian yang ngonten secara serius pun kameranya juga udah bisa jadi pilihan yang bagus di sini ya. Belum lagi kalau ngomongin fitur-fitur profesionalnya seperti log, pro video dan lain-lain. Akhir kata bisa dengan mudah kami bilang ini adalah smart label terbaik yang bisa kalian beli saat ini. Memang untuk kamera mungkin akan ada yang bisa ngelawan di beberapa aspek fotografinya. Baterai mungkin terlihat kecil, tapi coba deh buka-buka review foldable lain yang pernah kami buat sebelumnya. Bandingkan daya tahan baterainya. Volt 7 ini ternyata masih ngelawan loh. Kalau ada yang mau mendang-mending, ingat bahwa kita harus bahas semua aspek. Enggak bisa pakai satu, dua atau tiga aspek doang ya, bahas semuanya. Karena kalau bicara penilaian keseluruhan dari kombinasi fitur yang lengkap, upgrade yang signifikan, hardware mumpuni, dan kenyamanan pakai software atau UI-nya ini rasanya ZF 7 sulit dilawan foldable lain di tahun 2025 ini. Saya Did Irfan Jaka Tib TV. [Musik] Oh ya, kalau tertarik mau beli casing resminya Samsung bisa aja langsung cek ke samsung.com ya. Yeah.
Video Lainnya
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sebuah inovasi radikal lewat kehadiran lini Huawei Pura X Max yang siap menggeser dominasi iPhone dan Samsung. Kehadiran...
Bayangkan jika smartphone andalan Anda tiba-tiba kehilangan sinyal akibat masalah IMEI yang diblokir di Indonesia. Situasi tak terduga inilah yang memaksa seorang...
Ketika hampir semua produsen ponsel berlomba-lomba menyematkan emblem 'Ultra' pada produk andalan mereka, sebuah pertanyaan besar muncul: apakah sang pionir masih...
Persaingan di pasar ponsel pintar kembali memanas setelah sebuah perangkat baru hadir dan langsung mengguncang dominasi merek yang selama ini dikenal sebagai raja...
Tecno Camon 50 Pro 5G sempat dipandang sebelah mata saat pertama kali meluncur karena label harganya yang menyentuh angka 5,5 jutaan terasa terlalu mahal. Namun,...
Samsung tampaknya mulai mengubah strategi di pasar kelas menengah dengan meluncurkan Galaxy A37 dan Galaxy A57 di pertengahan tahun 2026 ini. Langkah berani raksasa...
Pasar ponsel kelas 9 jutaan sedang memanas, dan Bestindotech turun tangan untuk menguji tuntas tiga kontestan yang paling banyak diperbincangkan: Xiaomi 17T, Vivo...
Memulai bisnis laundry sering kali terlihat sebagai ladang uang yang mudah dan menjanjikan, namun realitas di lapangan kerap kali berbicara sebaliknya. Berangkat...
Pasar perangkat audio nirkabel premium bersiap menghadapi guncangan besar lewat kehadiran lini Soundcore Liberty 5 Pro Series. Di tengah dominasi merek-merek mapan...
Pasar ponsel flagship premium baru saja diguncang oleh perangkat Android seharga 32 juta rupiah yang digadang-gadang sebagai daily driver mutakhir. OPPO Find X9...
Perdebatan panjang mengenai takhta kamera smartphone terbaik tampaknya telah mencapai titik balik yang mengejutkan. Di tengah dominasi raksasa seperti iPhone,...
Memilih ponsel kelas menengah terbaru sering kali berujung pada dilema antara performa gaming yang buas atau kenyamanan ekosistem perangkat yang matang. Samsung...
Sistem operasi robot hijau kembali membawa lompatan besar lewat kehadiran Android 17 yang kali ini tidak sekadar bersolek di sektor visual. Google tampak sangat...

















