Review Sony BRAVIA 9 II - Gambar Super Cemerlang dgn True RGB, Premium, dan Kaya Fitur (YouTube Video)
Ini TV Sony dengan warna yang paling utentik. Ini Bravia 9 Mark 2 dengan true RGB ya. RGB backlight TV ini pakai LED tiga warna utama yang dikendalikan RGB Backlight Master Drive Pro. Tampilannya terasa lebih hidup dengan warna yang lebih dalam. Mantap ya. Apalagi yang satu ini pakai RGB 3 Luminous Max dan Luminous Booster. Tampilannya jadi super terang. Warna juga terasa lebih rapi dengan smooth color gradation. Konsisten juga dilihat dari berbagai sudut karena adanya X white angle Pro gangguan karena pakai immersif black screen Pro. Bukan cuma tampilan, audio juga bikin TV ini jadi lebih imersif dengan akustik multi audio plus with beam Twitter. Suara jenis akan datang dari berbagai arah sesuai tampilan di TV. Premium sekali ya. Oke, langsung aja kita mulai pembahasan si Sony Bravia 9 Mark 2 [musik] ya. Bravia 9 Mark 2 keluaran 2026. Ini Google TV premium terbaru dari Sony. Kita sekarang nyobain TV ini yang ukuran layarnya 85 inci. Ini satu-satunya ukuran yang dibawa Sony ke Indonesia. Kodenya adalah K5XR90 M2. Nah, kita akan coba lihat segemilang apa tampilan ditawarkan oleh TV 1 ini. Tapi pertama-tama kita kenalan dulu ya sama TV-nya ya. Kita lihat dari paket penjualannya. Untuk isinya tentunya ada unit TV Sony Bravia 9 Mark 2, lalu ada Mirage stand-nya, kemudian digital audio connector adapter, Bluetooth remote control, kabel USB A2C untuk charging remote ya. Nah, untuk kabel power ini sudah terpasang permanen di body TV. Kemudian ada kabel Tes untuk kabel management dan ada paket dokumen. Nah, untuk desain Sony menggunakan konsep harmonic presence. TV ini disebut akan terasa menyatu dengan ruangan kita. Ini dimungkinkan karena desain yang minimalis dan penggunaan miras standnya ya. Nah, stand ini membuat TV seakan terlihat mengambang di udara karena panel transparan di bagian leher stand. Menariknya panel transparan ini juga membantu kita menyembunyikan kabel-kabel yang terpasang ke TV. Ya, desain panel ini membuat kita tidak melihat kabel yang ditempatkan di bagian belakang panel. Ini membuat area TV jadi terkesan rapi aja terus gitu ya. Nah, untuk TV-nya sendiri bezel layar terbilang cukup tipis ya untuk ukuran layar sebesar ini. Tebal bezel plus frame itu cuma sekitar 9 mm sampai 9,5 mm untuk sisi kiri atas dan kanannya ya. Sementara untuk frame bagian bawah itu memang sedikit lebih tebal di 13,5 mm ya. Karena di sini tentunya ada area yang berisikan sensor, mikrofon, dan lampu indikator. Lalu di dasar TV ada lubang ventilasi, ada juga tombol power dan switch untuk build inin mikrofon di area kiri. Nah, beralih ke sisi belakang. Di area tengah itu ada empat lubang mounting sesuai dengan standar V 400* 400 mm. Ini tentunya untuk pemasangan dengan bracket ke dinding, ya. Nah, ada juga beberapa lubang speaker di area kiri dan kanan. Untuk kabel AC input dari TV ini terpasang di area kiri bawah. Sementara untuk konektor IO semua ditempatkan di area kanan bawah ya. Semua kolektor ini menghadap ke samping ya. Enggak ada yang ke belakang ya. Bagus nih ya. Nah, untuk dimensi itu sekitar 189,2 * 107,6 * 42,2 cm tanpa stand. Sementara kalau dengan stand tingginya jadi 115,8 cm. Jadi stan ini mengangkat TV sekitar 8,2 cm. Ini udah cukup ya untuk menempatkan soundbar di kolong TV. Nah, untuk tapak standnya ini ukurannya kurang lebih 44,1 * 44,3 cm. Jadi kalau kita mau tempatkan TV ini di meja berukuran yang tidak terlalu besar bisa juga asalkan pastikan aja mejanya kokoh ya. Nah untuk spesifikasinya untuk layarnya 85 inci ini 4K UHD ya 3840 * 2160 pikel. Backlight-nya pakai RGB LED dengan local diming. Untuk refresh rate itu up to 120 Hz. Untuk HDR-nya ada HDR10, HLG, dan ada Dolby Vision. Untuk video processor dia pakai XR processor. Fitur pendukung kualitas tampilan tentunya ada banyak sekali sini ya. Ada XR clear image, XR motion clarity, ada RGB 3 Luminous Max, ada XR Contrast booster 40 dan ada banyak lagi. Untuk audio, dia ada akustik multi audio plus 2.2.2 channel ya dengan struktur yang sudah diperbaharui. Nah, sistem ini terdiri dari dua upfiring beam twitter, dua X balance speaker, dan dua sound positioning twitter, serta ada dua subwover dengan total daya 80 watt. Nah, untuk fitur-fitur ada Dolby Audio, Dolby Atmos, DTS Digital Surround, DTS Express, DTS HD Master Audio, DTS HD resolution audio, DTSX Voice Zoom 3 dan lain sebagainya. Nah, untuk smart feature-nya OS-nya ini pakai Google TV with Gemini AI ya. Ada Google Assistant lengkap dengan Build-in microphone-nya. Dia punya fitur Chromecast yang built-in, tapi tentunya dia juga bisa Apple AirPlay dan Apple Home Kit juga. Untuk aplikasi streaming, Sony Picture Core juga tentunya tersedia di sini. Untuk kreektivitas dia ada WiFi 6e. Iya 6 benar udah bukan 5 lagi. Ada Bluetooth versi 5.3, ada Ethernet juga. Lalu untuk TV digital tentunya udah support TV BT2 siap untuk seran TV digital lokal tanpa perlu nambahin STBSB lagi. Bisa dilihat ya ada banyak se TV digital Indonesia yang kepasang ya. Gampang kok ini tinggal pasang antena standar TV digital aja udah beres ya. Lanjut untuk konektor atau IO-nya. Untuk konektor dari atas ke bawah di sini ada 2 USB lalu ada digital audio out ini sekaligus untuk S center speaker input ya. Lalu ada 2 HDMI 2.0 mendukung input sampai 4K 60 fps. Lalu ada 2 HDMI 2.1 ya 2.1 yang mendukung untuk 4K 120 Hz. Selain itu untuk fitur seperti VRR kita juga harus menggunakan port HDMI 2.1 ini ya. Untuk port HDMI 3 ini juga bisa digunakan untuk arc atau ERC ini untuk koneksi ke soundbar. Kemudian ada Ethernet, ada antena in juga ya. Oke, karena TV ini pakai Google TV untuk setup awal kita akan diminta menghubungkan TV ini ke internet dan masuk ke akun Google. setup ekstra untuk fitur-fitur grafia tentunya juga ada di sini ya. Nah, setelah itu TV kita langsung bisa digunakan. Kalau kita mau nonton langsung dari aplikasi streaming sudah ada shortcut ke Netflix, Prime Video, video, video vision plus dan lain sebagainya. Dan tentunya ada Sony Picture Score yang berisi udah banyak konten di sini. Butuh aplikasi lain? Tinggal cari aja di Google Play Store ya. Ada banyak sekali yang tersedia di sini. Oke, bagaimana kalau kita memakai TV ini sebagai output dari perangkat yang lain? Di sini ada 4 HDMI. Nah, ini khas Bravia kelas atas ya, port dengan label HDMI 1 dan 2. Support input sampai 4K 60 Hz atau full HD 120 Hz. Sementara untuk yang labelnya HDMI 3 dan 4 itu support input sampai 4K 120 Hz. Fitur-fitur modern bawaan standar HDMI 2.1 tersedia di kedua port ini. Jadi, kalau mau pasang game konsol modern atau PC desktop dan laptop lebih pas di kedua port yang ini ya. Nah, HDM di TV ini secara standar berjalan di mode standar ya. Jadi kalau mau pakai 4K 120 Hz dan fitur-fitur modernnya, jangan lupa ubah mode HDMI atau HDMI-nya ke enhance terlebih dahulu. TV ini juga support HDMI Earc untuk yang butuh pakai soundbar tambahan. Nah, ini tersedia di port dengan label HDMI 3. Setelah HDMI ER untuk sistem audio tambahan juga ada opsi untuk pakai digital audio out dan Bluetooth juga bisa. Lanjut ke navigasi. Kita bisa pakai remote bawaan yang desainnya seperti ini ya. Sudah pakai desain modern dengan tombol-tombol penting dan shortcut aplikasi saja. Nah, untuk remote ini menggunakan bahan daur ulang nih. Dan backlight juga ada di tombol-tambah remote ini. Dan ini juga pakai baterai yang rechargeable sekarang. Jadi, kita bisa isi ulang dayanya lewat port USBC yang ada di bagian bawah ini ya. TV ini juga mendukung voice comand bahkan bisa hands free dengan build-in microphone. Bahkan mau ngobrol sama Gemini AI juga bisa. Nah, contohnya seperti ini. Hei Google, kasih aku rekomendasi film aksi di Netflix. Oke, masih untuk navigasi. Kita juga bisa pakai keyboard nih. Ini bisa membantu untuk ngetik alamat email untuk login ke aplikasi streaming atau searching judul video atau judul film di aplikasi. Sementara untuk USB selain bisa untuk keyboard, kita juga bisa pakai untuk storage eksternal. Jadi kita bisa muter langsung beberapa jenis file audio, video, serta gambar atau foto yang tersimpan dalam storage. Nah, untuk casting atau memindahkan tampilan dari smartphone, tablet, dan beberapa perangkat lain ke TV ada Chromecast Buildin. Sebentar kalau kalian pakai perangkatnya Apple, ada juga Apple AirPlay serta Apple Home Kid. Oke, sekarang mari kita coba pakai TV ini untuk menikmati berbagai konten untuk melihat kualitas tampilan seperti apa yang ditawarkan. Ya, umumnya karena ini Sony Bravia kelas atas, kualitas tampilan ditawarkan akan terasa berkelas. Saat kami coba ini memang terasa menawarkan tampilan yang berkelas dan relatif bersih. Sepertinya efek dari true RGB dan RGB 3 Luminous Max memang benar-benar bisa mengangkat kualitas tampilan TV ini. Saat kami coba cek mode standar itu menawarkan gamut coverage di 97% SRGB dengan gambut volume di 130% sRGB. Sementara untuk di DC P3 itu volumenya ada di 85,4% dengan coverage di 92,5%. Secara umum saturasinya udah terbilang tinggi sama sekali enggak bisa kelihatan pucat di sini ya. Nah, ini memang terlihat belum dioptimalkan mendekati 100% sRGB atau 100% dp3. Tapi kami masih merasa bahwa tampilan warnanya tidak terasa terlalu berlebihan. Masih cukup natural di sini. Nah, kalau untuk model Vivit gambut coverage-nya ada di 98,4% di CP3 dengan gambut volume di 124,4% di CP3. Wah. Ya, jadi saturasi wara di mode ini terasa tinggi banget. Ada kemungkinan Sony sudah mencoba mengarahkan tampilan warna di mode ini untuk color space BT 2020 standar yang lebih modern untuk konten HDR. Lalu untuk mode sinema ini terlihat diarahkan menekati 100% sRGB tapi sepertinya dengan sedikit tuning dari Sony. Jadi untuk tampilan warna ini sudah terbilang sangat madai, sangat berwarna tapi enggak sampai terasa yang terlalu berlebihan sampai enggak natural sama sekali ya. Oke, ada model lain enggak? IMAX Enhance tentunya tersedia. Ini akan cocok untuk nonton konten IMAX. Lalu Studio Calibrated ini fitur khas Bravia. Ini juga tersedia untuk konten dari Netflix, Prime Video, serta Sony Picture Score. Ini seharusnya akan membuat konten yang ditonton di platform-platform tersebut tampil sesuai dengan yang diharapkan oleh penyedia layanan. Apakah ada yang baru? Ada. Sony menjadikan mode baru My Cinema. Ini adalah mode yang sudah sepenuhnya disiapkan untuk menikmati konten film. Secara umum ada dua preset yang tersedia di mode ini, yaitu directors cut dan daytime. Director Cut itu dioptimalkan untuk kondisi menonton sesuai dengan pandangan dari kreator film. Ini mencakup brightness yang memang diturunkan karena disiapkan untuk menonton di ruangan yang redup atau gelap. Karakter warnanya jadi mirip dengan mode cinema biasa ya. Sementara untuk daytime ini lebih disiapkan untuk nonton di ruangan yang terang. Nah, saat My Cinema ini aktif, frame rate konten juga dijaga agar sesuai dengan konten aslinya. Jadi fitur untuk membuat konten tampil seakan-akan dengan frame rate tinggi. Nah, itu tidak aktif di sini. Sony juga terlihat mengoptimalkan my cinema ini untuk mengatasi gangguan umum yang biasanya terjadi kalau kita lagi mutar konten 24 atau 30 fps di layar 120 Hz ke atas. Jadi, gangguan jader dan starter benar-benar bisa diminimalkan di My Cinema ini. Lalu, bagaimana kalau kalian sukanya tampilan yang frame rate-nya tinggi? Ya, gampang cukup keluar dari My Cinema. Berbagai model lain tetap akan menawarkan efek tersebut. termasuk di mode standar dan vivit ya. Untuk mode cinema biasa pun efek ini masih agak terasa walaupun memang tidak membuat frame rate jadi setinggi mode standar dan vivit. Jadi sebaiknya kita pilih mode apa saat nonton film ya sesuaikan aja dengan selera masing-masing. Personally saya sih lebih suka kalau untuk film-film yang layar lebar aslinya itu taruh di mode my sih nama aja. Jadi benar-benar kayak nonton di bioskop gitu ya. Oke lanjut lagi. Untuk kedalaman warna yang gelapnya ini terbilang baik ya dengan hitam yang terlihat pekat sekali. penggunaan RGB mini LED alias True RGB dengan full array local diming ditambah dengan XR RGB Backl Master Drive Pro tentunya ini membantu mendapatkan kedalaman warna gelap seperti ini ya. Kemudian ada juga smooth color gradation. Nah, saat kami coba tampilan gradasi warna TV ini memang tidak terasa kasar atau menimbulkan area peralihan warna yang enggak rapi kayak berpulau-pulau gitu ya. Lalu untuk brightness layar kita coba di mode Vivit nih ya. Untuk konten SDR brightness-nya itu bisa mencapai 1000 nits. Benar, 1000 nitz. Ini sangat-sangat terang untuk layar yang besar banget ini ya. Sementara untuk HDR bisa naik lagi sampai 4.500 Nit. Ini terang sekali. [tertawa] Bahkan ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan Bravia 9 generasi sebelumnya yang disebut Sony sebagai salah satu TV dengan tampilan paling terang mereka. Nah, ini seharusnya efek dari penggunaan luminous booster di backlight through RGB karena ini menggunakan tiga LED terpisah untuk warna merah, biru, dan hijaunya. Jadi harusnya emang ini bisa lebih terang ketimbang hanya pakai satu LED saja. Nah, dengan kedalaman warna gelap yang baik serta brightness yang tinggi, kontras juga jadi tinggi nih ya. Enggak heran kalau Sony menawarkan XR Contrast booster 40 untuk TV ini. Nah, bagaimana dengan HDR-nya? Brightest tinggi ini memang terasa mendukung banget untuk tampilan HDR yang cemerlang. Terang tapi detailnya tetap bisa dipertahankan semua. Menariknya untuk area gelap detailnya juga bisa dijaga supaya enggak hilang. HDR di TV ini terbilang mantap benar ya. Dolby Vision juga tentunya tersedia. Sat ada konten yang mendukung Dolby Vision diputar ada beberapa mode tampilan khusus yang tersedia seperti Dolby Vision Vivit, Dolby Vision Bright dan Dolby Vision Dark. Oke, sekarang kita lihat kerapian tampilannya. Secara umum ini udah rapi ya area gelap di sudut-sudut layar tuh hampir enggak ada di sini. Udah bersihlah rasanya ya. Sementara untuk viewing angle, wah ini sih luas ya. Kami baru merasakan ada sedikit pergeseran saturasi warna saat melihat ke layar dari sudut yang sangat-sangat miring sekali. Ya, ini memang bukan sudut yang umum digunakan untuk penggunaan TV sehari-hari sih. Nah, kalau dari sudut-sudut yang umum memang tampilan layar masih belum bisa dikatakan sangat-sangat konsisten. Tapi pergeseran yang terjadi memang sangat minim dan e sama sekali tidak mengganggu kualitas tampilan. Ini harusnya efek dari X White Angle Pro-nya ya. Nah, TV ini juga menawarkan immersive Black Screen Pro yang mengarah ke permukaan TV yang tidak banyak menentukan bayangan dari apa yang ada di sekitarnya. Ini memang menghadirkan pengalaman nonton yang lebih bebas gangguan. Jadi, enggak salah sih kalau Sony nyebutnya imersif, ya. Nah, secara keseluruhan tampilan ditawarkan Bravia 9 Mark 2 ini memang terbilang berkelas sesuai dengan posisinya di kelas premiumnya Sony. Lanjut lagi untuk fitur kita coba up scalernya ya. Ini memuaskan. konten resolusi rendah sampai 720p itu masih bisa diangkat dengan sangat baik. Tidak terasa seperti konten resolusi rendah di TV dengan layar yang sebesar ini. Nah, untuk menu setting ini H Sony ya. Semua tampil sebagai overlay. Ada menu quick setting yang muncul sebagai bar di bagian bawah seperti ini. Lalu ada juga menu setting yang lebih lengkap yang juga muncul sebagai overlay di sisi samping. Ini sih TV banget ya. Kita jadi bisa merasakan langsung efek pengaturan yang sedang kita lakukan. Lanjut lagi kita coba audionya. Secara umum suara yang dihasilkan itu rapi. Mie terbilang cukup menonjol dengan bass yang cukup terasa. Bass di sini memang terasa belum sampai terdengar kencang dan mendentum bulat serta dalam ya. Tapi seidaknya terasa lebih dari sekedar cukup. Untuk trble kami merasa ini agak kurang menonjol tapi setidaknya udah cukup rapi. Separasi sudah terbilang baik suara jadi tidak terasa tercampur-campur. Udah berkelas yang satu ini seperti biasa tidak ada present untuk audio. Tapi untuk yang butuh fine tuning ada equalizer manual yang bisa kita gunakan. Nah, untuk sound speaker yang ada di TV ini, ini udah terasa bisa membuat suara seakan datang dari berbagai arah. Apakah bisa sampai melingkupi kita ya sampai dari belakang sekali? Itu rasanya sih belum terlalu bisa ya, khususnya untuk area belakang nih. Tapi setidaknya ini udah cukup efektif. Jadi suara tuh enggak cuma terasa dari kanan kiri doang gitu. Oke, kita lanjut lagi untuk gaming. Kita pakai apa? PlayStation 5. Yuk, kita pakai ya. Untuk kita pakai PS5 ya. Nah, TV akan merekomendasikan kita masang PS5 ini ke port HDMI 2.1. Beberapa fitur pendukung game juga secara otomatis akan aktif ya, jenis konten itu langsung diatur ke game. Lalu ALLM dan auto HDR tone mapping otomatis hidup juga. VRR tentunya juga bisa kita gunakan. Jadi saat kita main game, kita bisa dapat tampilan yang lebih bebas gangguan startering dan tiering. Di sini mau main game sampai 120 FPS bisa juga di sini. Seperti biasa, ada juga menu gaming khusus yang tampil sebagai game menu. Ada beberapa fitur gaming ekstra yang juga ditawarkan dan bisa diakses dari game menu ini. Kurang lebih bentuknya seperti ini ya. Oke. Lalu bagaimana kalau [berdehem] kita pakai PC? Nah, saat kami coba TV ternyata juga GSing compatible. Tapi memang ada berapa hal yang harus diperhatikan terlebih dahulu. Kita harus pakai port dengan label HDMI 3 atau HDMI 4. Jenis konten harus diatur manual ke game ya. Moda VRR juga harus kita aktifkan di situ [berdehem] ya. Secara umum Bravia 9 Mark 2 ini terbilang memuaskan untuk gaming. Ukuran layar ekstra besar dengan seround speaker yang mantap ini akan menghadirkan pengalaman yang imersif. Selain itu, kalau tampilan ditawarkan juga bisa membuat main game ini jadi lebih mantap lagi. Apalagi kalau punya PlayStation 5. Ini enggak perlu repot setting apa-apa ya. Cukup pasang konsolnya dan kita langsung dapat setting optimal untuk main game dengan puas. Oke, sekarang kita lihat konsumsi dayanya. Berbagai teknologi yang ditatif ini tentunya membuat konsumsi dayanya bisa naik turun sesuai dengan tampilan yang ada di layar. Untuk tampilan non HDR dengan mode standar, konsumsi dayaya itu ada di kisaran 80 sampai 200 watt. Sementara untuk mode Vivit rentang konsumsi dayanya bisa lebih luas kisarannya 90 sampai 400 watt. Nah, untuk tampilan yang dominan gelap konsumsi daya-nya bisa turun lebih jauh ke kisaran 60 watt. Nah, kalau kita beralih ke konten HDR untuk mode standar dan vivfit, konsumsi daya ada di kisaran 280 sampai 360 watt. Konsumsi daya seperti ini masih terbilang wajar ya untuk TV dengan layar yang sebesar dan seterang ini. Bahkan menariknya ini masih di bawah yang kami perkirakan loh sebetulnya ya. Apakah bisa lebih hemat lagi? Tentunya bisa. Sony menyediakan fitur power saving. Saat kami coba dengan konten HDR di mode Vivit, konsumsi daya bisa ditekan ke kisaran 100 watt sampai 190 watt. Ini pakai setting power saving low ya. Dan kalau kita pakai setting power saving high, kita bisa tekan lagi ini sampai di bawah 100 watt. Tapi perlu diingat ya, power saffic ini membuat tampilan tentunya jadi tidak secemerlang biasanya. Nah, jadi kualitas tampilan secara umum akan terasa turun. Oke, untuk harganya Sony Bravia 9 Mark 2 ini TV kelas atas nih ya. Dia ditawarkan di harga kisaran Rp82.999.000 untuk yang layarnya 85 inci yang kami coba ini. Saat ini memang ukuran 85 inci adalah satu-satunya yang tersedia di Indonesia. Oke, kita lihat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, hanya ada dua port HDMI di TV ini yang mengusung standar HDMI 2.1. Sementara yang dua lagi itu cuman HDMI 2.0. sedikit berharap bahwa semuanya udah 2.1 aja ya, apalagi untuk TV kelas Bravia 9 Mark 2 ini. Lalu untuk gaming dengan PC ada berapa pengaturan manual yang sebaiknya harus dilakukan dulu supaya game-nya lebih optimal. Ini termasuk juga mengatur mode HDMI ke enhance dan beberapa hal yang tadi kita sudah bahas. Kemudian tidak ada preset audio. Jadi untuk mengubah karakter suara itu harus dilakukan melalui pengaturan yang manual. Kemudian untuk power saving yang ditawarkan mungkin terasa terlalu agresif bahkan di mode yang low sekalipun. Ya, kami sedikit berharap bahwa ada mode yang bisa menurunkan daya tapi tidak terlalu jauh mengorbankan kualitas. Kemudian mungkin ada yang sedikit bingung dengan mode tampilan cinema dan ada juga mode My Cinema. Ini adalah dua hal yang terpisah ya. My Cinema bisa diakses dengan mengganti jenis tampilan konten ke movie. Sementara mode tampilan sinema justru hanya bisa dipilih kalau jenis tampilan konten tidak diatur ke movie. Pusing enggak? Oke, tapi terlepas dari itu, sisi kelebihannya kualitas tampilan TV ini memang terasa premium. Saturasi warnanya tinggi tapi enggak karena berlebihan. Kedalaman warna hitam atau gelapnya juga sangat mantap. Kontrasnya tinggi, tampilannya rapi. Seharusnya True RGB memang jadi kunci utama di kualitas tinggi ini ya. Nah, brightness atau kecerahan layar itu juga sangat-sangat tinggi membuat konten bisa tampil benar-benar cemerlang. Resolusinya 4K dan pakai refresh rate 120 Hz. Ini mantap buat gaming triple A ya. Lalu ada My Cinema. Ini buat konten film bisa tampil optimal di TV dengan mudah sekali. Lalu upscal-nya. Wah, ini sih mantap banget upsalernya. Lalu tampilan generasi warna TV ini juga terbilang rapi sekali. Lalu di sini ada empat port HDMI dan port HDMI yang 2.1 sudah menurkan fitur modern termasuk VRR dan ALLM untuk gaming. Ada juga game mode untuk optimalisasi input lag rendah saat kita main game dan akses ke game menu. Lalu untuk gamer PlayStation 5 itu bisa auto main game dengan puas tanpa harus nyeting-nyeting manual lagi. Navigasi TV juga terbilang sangat nyaman, mulus, hampir bebas lag ya di sini ya. Lalu karena ini bukan pakai panel OLED, resiko burn in di TV ini juga terbilang rendah dan tentunya dia siap untuk TV digital Indonesia ya. Sony Bravia 9 Mark 2 ini memang terasa sebagai penerus yang layak sekali untuk Bravia 9 yang pernah kami coba sebelumnya. Ini memang TV yang berkelas premium dan teknologi baru yang membuatnya benar-benar naik kelas. Menariknya harganya tidak jadi melambung terlalu tinggi. Ini memang bukan harga yang akan terasa terjangkau untuk semua orang, tapi kami rasa ini layak untuk apa yang ditawarkan. Itu yang paling penting. Yang satunya akan cocok untuk yang ingin mencari atau ingin punya Google TV kelas premium ukuran besar untuk menggantikan smart TV lama mereka. Atau untuk yang ingin bangun home theater modern dengan layar besar ini juga cocok ya. Secara umum Bravia 9 Mark 2 ini adalah TV premium yang sangat menarik dan sangat layak dipertimbangkan.
