Review Zyrex D-Tech: 6 Jutaan, AMD Ryzen Quad-Core, Bisa Upgrade, Tapi... (YouTube Video)
Harga RAM naik, SSD naik, harga laptop jelas naik. Emangnya ada laptop terjangkau yang speknya masih lumayan? Ya, tenang dulu ya. Kalau yang butuhnya seperti itu, laptop 6 jutaan ini mungkin masih bisa dilirik sih ya. Dia pakai prosesor quad core AMD Ryzen dengan basis Zen Plus. RAM-nya masih 8 giga, enggak dipangkas jadi 4 giga. Setidaknya sekarang masih belum. Bisa di-upgrade pula yang satu ini. Menariknya lagi, dia punya konektor yang lumayan lengkap untuk harganya. Ini adalah Zyrex Ditect. Perhatikan ya, ada yang namanya Zyrex Ditect dan ada Zyrex Ditect Pro. Nah, yang kedua itu pernah kami review ya sebelumnya ya. Bisa dibilang Zyrex Ditect ini adalah versi yang lebih terjangkau dibandingkan varian Pro-nya. Nah, pertanyaannya, [berdehem] sekencang apa versi terjangkaunya ini? Ini terjangkau 2026 ya. Mari kita mulai dari spesifikasinya. Untuk prosesor, dia pakai AMD Ryzen 5 3500U. Fabrikasi 12 nanometer. Default TDP 15 watt. Dia punya 4 core 8 thread dengan L3 cache di 4 megabyte. Integrated graphics, dia pakai AMD Radeon Vega 8 graphics dengan 8 compute unit. Dalam kondisi default, IGP ini memiliki kapasitas VRAM sebesar 2 gigabyte. Tentunya ini pakai RAM sistemnya, jadi kapasitas RAM yang dipakai oleh Windows otomatis turun. Tercatat jadi tersisa 5,9 gigabyte. Tapi tenang, di BIOS kita bisa mengubah kapasitas VRAM-nya ya. Dan kita bisa memperoleh sampai 7,4 gigabyte untuk Windows. Jadi lebih lega. Nah, untuk memori RAM misteri yang terpasang adalah 8 gigabyte DDR4 2400 megahertz single channel. Laptop ini punya dua slot SODIMM. Jadi kita bisa tambah kapasitasnya dan membuatnya jadi lebih kencang dengan konfigurasi dual channel. Untuk storage, ini 256 gigabyte SSD M.2 PCIe Gen3 by 4. Di sini hanya ada satu slot M.2. Jadi kalau mau upgrade itu harus ganti bawaannya ya. Untuk konektivitas, dia menggunakan modul Realtek yang sudah support Wi-Fi 5 dan Bluetooth versi 5 juga. Kapasitas baterainya ada di 45,6 watt hour. Untuk OS pakai Windows 11, ya sudah ada Windows 11 bawaannya. Kemudian untuk body form factor-nya adalah clamshell atau laptop klasik. Materialnya adalah polikarbonat. Pilihan warna adalah blue, ini yang diuji, lalu ada rose gold juga. Nah, untuk desainnya laptop ini punya penampilan yang low profile dengan punggung layar polos yang ada logo Zyrex di pojok atasnya. Sementara warna biru tuanya itu membuat laptop ini tampak beda saja dibandingkan laptop-laptop lainnya yang biasa kan abu-abu hitam gitu ya. Nah, untuk ukuran panjangnya 32,1 cm, lebar 20,6 cm dan ketebalan di 1,89 cm. Untuk bobotnya laptopnya saja di 1,38 kg dengan charger 142 g. Inilah charger 45 watt dengan konektor USB type C. Jadi dia enggak pakai charger dengan colokan bulat ya, ini sudah konfigurasi baru berarti ya. Total bobot kalau dibawa-bawa semuanya adalah 1,52 kg. Untuk display atau layarnya ukurannya 14 inci dan sayangnya sih laptop ini pakai panel TN dengan resolusi 1366 x 768 pixel. Ini bukan panel TN yang biasa kami temukan. Panel TN itu biasa punya masalah adalah kita harus ngepasin ya menunduk dan menengadahnya dan kita harus ngepasin kanan-kirinya juga ya. Nengok kanan jadi gelap, nengok kiri jadi gelap gitu harus tegak lurus. Yang ini tidak berubah kalau kita tengokkan ke kanan dan ke kiri. Jadi kita hanya perlu nyetel atas-bawahnya doang. Jadi ini lucu ya panel TN ini konsisten dilihat dari samping bahkan dari sudut yang lumayan ekstrem pun lumayan konsisten tampilannya. Jadi ini enggak bisa disamakan sama layar TN yang mungkin ada di dalam benak kalian yang hancur banget itu ya. Kemudian resolusinya yang namanya HD ready 1366 x 768. Ini juga membuat ruang kerja di layar jadi terasa kurang luas saja. Tapi di satu sisi ini akan membuat kerja IGP jadi lebih ringan karena enggak perlu handle resolusi yang terlalu tinggi seperti 1080p. Kalau misalnya kita butuh resolusi lebih tinggi dan warna lebih akurat seperti untuk editing gitu ya misalnya, ini bisa diakalin dengan menghubungkannya ke monitor eksternal. Oke, sekarang kita ukur layarnya. Untuk tingkat kecerahan maksimalnya ada di 255 nits untuk dalam ruangan. Gamut cover-nya di 56,5% sRGB dengan gamut volume 56,5% sRGB juga. Ini wajar untuk sebuah panel TN. Permukaan layar yang bersifat non-glare jadi minim pantulan dari lampu atau jendela yang mungkin mengganggu kenyamanan pemakaian. Lalu untuk bingkai layar sudah menggunakan desain yang cukup tipislah untuk sisi kanan dan kirinya. Sementara untuk engsel ini sudah bisa dibuka lurus 180° seperti kelas profesional. Lanjut untuk kamera dan mikrofonnya. Laptop ini menggunakan sensor 2 megapixel dan dilengkapi dengan penutup fisik supaya lebih aman. Dia bisa mengambil foto dan merekam video di resolusi 1600 * 1200 pixel kalau aspek rasionya dipasang di 4:3. Sementara kalau aspek rasionya dijadikan 16:9, resolusinya turun ke 720p. Untuk modul mikrofon, di sini ada dua di sisi kanan dan kiri kamera. Untuk kualitas kamera dan mikrofonnya kurang lebih seperti ini. Oke, sekarang kita lagi di studio untuk menguji kualitas kamera dari laptop Zyrex di Tech yang satu ini. Untuk resolusi maksimalnya ini sampai 1200p ya di aspek rasio 4:3. Untuk aspek rasio 16:9 itu sampai 720p. Oh ya, untuk skenario pengujiannya kali ini kita menggunakan lampu studio jadi pencahayaannya lumayan terang dan untuk hasil gambarnya ini juga sudah cukup terang. Noise-nya masih terkendali meski memang detailnya bukan yang paling tinggi. Tapi ini sudah mencukupilah untuk kebutuhan video call atau meeting online sehari-hari. Oke, sekarang saya sedang berada di luar untuk menguji kualitas mikrofon dan dari laptop Zyrex yang satu ini. Bisa dilihat ya kalau kondisi jalanan di belakang saya sedang ramai. Untuk hasilnya, noise dari background memang masih bisa terdengar tapi setidaknya suara saya juga masih bisa terdengar dengan jelas di sini. Lanjut lagi untuk audionya. Laptop ini memiliki dua speaker yang mengarah ke alas laptop. Kualitas suara laptop ini memang bukan yang paling hebat untuk kelas harganya tapi enggak bisa dibilang yang jelek-jelek amat juga ya. Ingat untuk kelas harganya. Ya. Untuk karakternya cenderung agak bright dengan bass yang tampil tipis-tipis banget ya. Lanjut untuk konektor. Di kiri ada satu USB 2.0 type C untuk ngecas laptopnya. Lalu ada satu USB 3.2 gen 1 ya. Kemudian ada satu HDMI, ada satu USB 3.2 gen 1 type C. Nah, yang ini mendukung output ke monitor dan untuk power delivery. Jadi bisa dipakai buat ngecas laptop ini juga. Di sisi kanan ada micro SD card reader, ada satu USB 2.0 dan ada satu USB 3.2 gen 1. Kemudian ada satu 3,5 mm audio combo jack dan Kensington lock slot. Nah, untuk keyboardnya [berdehem] ternyata keyboard dari laptop 6 jutaan ini lumayan enak juga dipakai buat mengetik ya. Tombolnya lumayan empuk jadi nyamanlah dipakai. Menariknya di sini ukuran tombol anak panahnya dibuat sama seperti tombol lainnya jadi enggak kekecilan saat kita pencet ya. Disediakan juga tombol khusus untuk home, end, page up dan page down di pinggir kanan. Jadi tidak perlu menekan tombol function kalau mau dipakai. Menariknya lagi dia sudah punya lampu backlit warna putih di sini dengan dua tingkat kecerahan yang bisa diubah dengan menekan tombol function plus F4. Nah, untuk touchpad areanya itu 12 kali 6,3 cm dengan posisi sejajar dengan tombol space bar. Ini posisi touchpad paling ideal yang kenyamanan mengetiknya jadi paling optimal ya. Untuk pergerakan jari atas touchpad ini terasa lumayan muluslah. Untuk tombol klik kanan dan kiri juga solid saat ditekan. Oke, untuk cooling system sistem pendingin laptop ini memiliki satu heat pipe dan satu kipas. Lubang pembuangan udara panasnya itu mengarah ke belakang ya. Nah, untuk aspek performanya kita lihat di sini pengujian kali ini dilakukan dengan dua konfigurasi. Pertama, kami pakai RAM 8 GB bawaannya. Kedua, kami tambah lagi satu keping RAM tapi bukan 8 GB namanya ya, 4 GB saja. Jadi kapasitas totalnya jadi 12 GB dual channel. Kenapa 4 GB Bang? Ya, karena kalau pakai 4 GB upgrade-nya lebih murah ya. Saat video ini dibuat harga RAM SODIMM 4 GB termurah itu masih ada di bawah 500 ribu rupiah ya. Tapi ya kalau sudah naik lagi jangan salahkan kami ya karena harga memang naik terus. Kita langsung lihat untuk Cinebench R23 dengan charger. Di stabilitas selama 30 menit skor tertinggi yang dicapai adalah 2.993 poin dengan skor yang dapat dipertahankan di 2.900-an poin. Untuk Cinebench R23 tanpa di-charge, skornya itu jadi 2.600 sampai 2.700 poin. Ya, agak turun tapi enggak jauh-jauh amat sih sebetulnya. Lumayan modern setting-annya. Nah, untuk suhu kerja dengan Cinebench R23 stabilitas selama setengah jam, kita lihat suhu prosesor itu terlihat bergerak di rentang 71 sampai 75 derajat Celsius saja. Lanjut untuk Adobe Premiere Pro 2026. Untuk video full HD 60 FPS yang durasinya 5 menit yang bisa kita pakai kalau pakai OpenCL, single channel selesai dalam waktu 17 menit 18 detik sementara dual channel selesai dalam waktu 19 menit 39 detik. Ini waktu ekspornya masih melar panjang ya dibandingkan durasi videonya ya. Oke, sekarang kalau kita pakai full HD 30 FPS yang 5 menit deh hasilnya gimana? Single channel 7 menit 23 detik, kalau dual channel 5 menit 2 detik. Nah, harusnya kayak gini nih ya. Waktu ekspornya mirip dengan durasi videonya atau ya yang lebih bagus sih kalau lebih cepat ya. Nah, kalau di full HD 30 jadi bisa tuh ya. Nah, untuk suhu kerjanya pas melakukan full HD video exporting dengan OpenCL, suhu tertinggi prosesor hanya mencapai 74 derajat Celsius. Lanjut untuk CapCut ya, video full HD 60 FPS selama 5 menit single channel 9 menit 11 detik, dual channel 7 menit 15 detik. Hampir mendekati durasi videonya, tapi masih lebih lama dari durasi videonya. Kita coba lagi versi full HD 30 FPS yang 5 menit. Full HD 30 FPS seperti apa Bang? Seperti yang kalian tonton ini ini full HD 30 FPS ya. Oke. Single channel 5 menit 1 detik. Eh, udah kencang. Dual channel 3 menit 57 detik. Nah, ini mantap nih. Waktu ekspornya udah jadi mirip atau bahkan lebih cepat dibandingkan durasi videonya. Jadi kayaknya lebih pas pakainya CapCut kalau mau ngedit di laptop ini ya. Lanjut kita lihat suhu kerjanya pada saat melakukan full HD video ekspor, suhu tertinggi prosesor tercatat hanya menyentuh sekitar 73 derajat Celsius saja. Oke, sekarang mari kita coba kemampuan gaming laptop ini. Tentu saja konfigurasinya langsung kita pakai RAM 12 GB dual-channel ya. Gimana? Masih bisalah ya main game ya. Nah, sekarang mari kita coba kerjanya main GTA V selama 30 menit. Suhu prosesor masih bisa terkendali di bawah 80 derajat Celsius. Untuk suhu permukaan bodinya setengah jam main GTA V terlihat bahwa hampir seluruh area keyboard itu suhunya di atas 40 derajat Celsius. Hanya dari tombol paling bawah dan yang ada di pinggir kanan saja yang suhunya ada di bawah 40 derajat Celsius. Lalu untuk palm rest ini suhunya masih aman, masih di bawah 35 derajat Celsius. Tapi tenang saja, suhu setinggi ini hanya tercapai kalau beban kerjanya memang tinggi banget ya pada saat lagi main game seperti ini. Kalau dipakai buat ngetik, nonton, browsing website gitu atau pekerjaan ringan lainnya gitu ya suhunya ya jelas rendah sih, enggak akan setinggi ini. Sekarang kita lihat kecepatan SSD-nya dengan Crystal Disk Mark kita dapatkan bahwa kecepatan bacanya ada di 2059 MB/s dan tulis di 1458 MB/s. Lanjut untuk daya tahan baterainya, kita pakai setting brightness 150 nits dengan volume suara 25% untuk 1080p local video playback, baterai habis setelah 4 jam 40 menit. Tentunya hasil ini terasa agak di bawah harapan kami untuk tahun 2026 ya. Harapan kami harga segini itu bisa dapat 6 sampai 8 jam gitu ya. Tapi ini harusnya ya bukan dimaklumi tapi dimengerti gitu ya, bahwa memang dengan prosesor tipe yang sudah agak lawas ini ya daya tahan baterai tidak akan bisa hebat amat. Selain mutar video, kami itu juga menguji daya tahan baterai dengan Procyon Office Productivity Benchmark. Pengujian ini akan mensimulasikan aktivitas buka tutup serta bekerja dengan aplikasi Word, Excel, PowerPoint dan Outlook tanpa henti sampai baterainya habis. Hasilnya laptop ini bisa bertahan selama hampir 4 jam. Ya mirip-mirip ya, 3 jam 52 menit. Enggak jauh beda dengan hasil tes video playback kami. Tentunya kalau aktivitas Office yang dilakukan dengan diselingi istirahat setelah berapa waktu kerja, daya tahan baterainya akan lebih lama ya. Oke, sekarang kita lihat untuk charging-nya. Setengah jam pertama baterai terisi di 36% untuk dari 0 sampai penuh butuh waktu 2 jam 1 menit. Nah, ini sesuai dengan harapan kami, 2 jam pas nge-charge-nya. Oke, untuk harga menurut Zarex Indonesia harga resminya adalah 6.500.000 untuk versi RAM 8 GB, 7.600.000 untuk versi RAM 16 GB. Nah, kalau kalian tertarik laptop ini bisa didapatkan di Zarex Official Store dan di sejumlah online marketplace juga. Eh, untuk garansi ada 1 tahun dari Zarex Indonesia. Nah, sekarang mari kita lihat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dia pakai tipe prosesor keluaran lama dengan RAM 8 GB single channel. Ini buat pengalaman pakai agak sedikit kurang responsif karena dipadukan dengan Windows 11 yang baru. Sebaiknya sih mungkin nambah RAM satu keping lagi, minimal 4 GB lah ya. Jadi kapasitasnya naik dan dua channel-nya langsung aktif di situ. Tapi kalau butuh alternatif lebih ringan, bisa juga pakai alternatif OS lain seperti pakai Zorin OS atau ya yang lainlah yang berbasis Linux. Kemudian, kapasitas SSD-nya ini hanya 256 GB. Sebenarnya ini sudah oke buat harganya, tapi agak kurang kalau kita butuh instal banyak aplikasi dan simpan file ukuran besar. Lalu, yang perlu diperhatikan adalah layar TN 1366 * 768 pixel-nya, ya. Ya, mungkin kalau Zyrex mau naikin dikit harganya biar bisa pakai IPS full HD bisa lebih nyaman lagi dipakai. Tapi, paling enggak untuk TN-nya, ini adalah salah satu TN yang enak untuk dilihat. Karena paling enggak untuk diputar kanan kiri itu tidak hampir lah, hampir tidak ada perubahan tampilan. Lalu, kemudian untuk daya tahan baterainya, ini memang di bawah harapan kami untuk tahun 2026. Tapi, ya tentunya ini karena pengalaman kami di 3 tahun terakhir. Jadi, harapan kami memang seperti itu. Tapi, ini kan prosesornya sebetulnya, ya, ramai dipakai di 2019-2020, gitu ya. Kalau diingat-ingat, zaman dulu segini ya, ya, oke lah, sudah lumayan lah, gitu ya. Lanjut untuk garansi normal memang cuma 1 tahun dan memang tidak ada Microsoft Office. Tapi, sekali lagi ini wajar untuk yang terjadi di kelas harganya saat ini. Dan tentunya kita bisa instal sendiri Microsoft Office kalau mau, tapi setelah beli lisensinya. Nah, dari sisi menariknya, performanya ternyata masih cukup kencang untuk kelas harganya saat ini. Lalu, kalau kita cek, ternyata dia masih kuat ngedit video di 1080p 30 fps, ya. Bahkan kalau naik ke dual channel cuma dengan nambah 4 GB saja, itu sudah cukup kencang dia kalau pakai CapCut. Kemudian, untuk gaming tipis-tipis juga masih bisa ternyata di sini, ya. Kuat juga buat ngetik-ngetik, bikin Excel atau presentasi, dan RAM-nya paling enggak sudah 8 GB. Bukan yang 4 GB juga. RAM-nya juga SODIMM, jadi bisa di-upgrade. Dan karena ini RAM DDR4, ini jauh lebih terjangkau buat nge-upgrade ketimbang kalau dia tiba-tiba pakai RAM DDR5, gitu ya. Lalu, untuk kapasitas VRAM-nya, untungnya ini juga masih adjustable, bisa diatur. Kemudian, kualitas kameranya cukup oke untuk laptop 6 jutaan. Keyboard, nah, ini ada backlight-nya. Konektornya juga lengkap, ya, di sini ya. Lalu untuk [mendengus] charger sudah USB type C. Yang jadi pertanyaan nih, Zyrex Ditect ini cocoknya buat siapa? Ini seharusnya cocok buat untuk pelajar atau mahasiswa mungkin yang dananya terbatas dan harus belinya sekarang gitu ya. Selama tugas sekolah atau kuliahnya bukan yang berat kayak render 3D sih harusnya bisa sih pakai laptop ini buat sekolah atau kuliah. Harga juga masih 6 jutaan jadi enggak terlalu memberatkan keuangan sih harusnya ya. Lalu untuk pekerja harusnya juga lumayan cocok selama pekerjaan memang pas dengan spek laptop ini. Ngetik, bikin Excel, bikin presentasi masih lumayanlah di sini. Pastinya ini juga cocok buat yang pengin punya laptop dengan dana yang 6 jutaan ya tapi enggak mau yang bekas. Ya, kami juga tidak menyarankan yang bekas sih sebetulnya. Atau enggak mau yang garansinya enggak jelas gitu ya. Ya, tahu kan kalau beli laptop bekas kita enggak tahu orangnya pernah dulunya pakai seperti apa gitu ya. Apakah pernah jatuh? Apakah pakainya dia pernah di atas kasur sampai overheat gitu? Atau pakainya sering kebentur-bentur gitu ya? Bahkan mungkin yang menjual ke kita pun enggak sadar bahwa laptopnya sudah punya masalah. Intinya kita enggak tahu apa yang akan terjadi gitu ya. Itu untuk kondisi kita beli laptop bekas. Pada akhirnya kalau memang dananya hanya ada di 6 jutaan dan butuh laptop yang performanya masih lumayan, RAM-nya langsung 8 giga dan masih bisa di-upgrade serta garansinya juga jelas, Zyrex Ditect ini bisa jadi salah satu pertimbangan untuk kelas harganya.
