RUDY SALIM SHOCK IFAN SEVENTEEN JIWANYA DI MUSIK! PFN MAU DIBAWA KEMANA?! | MTP (YouTube Video)
Pak. Aduh. Engak. Mana tahu mogok nih. Enggak mau nyala. Ada teknisi ya? Baru baru ada-ada aja nih. Bisa mogok ya. Nebeng orang aja. Nebeng kamu. Saya udah di mana lagi ya? Kamu udah dekat lagi katanya. Cuma kalau emang terpaksa mah nebeng aja kali Pak. Enggak apa-apa sekali-kali. Iya. Jalan kaki masih jauh ya. Lagi bisa mogok. Aneh-aneh aja. Pak, ada yang kakson, Pak. Eh, waduh kenapa, Pak? Mogok. Enggak, lagi foto-foto, syuting buat gaya-gaya, action-action gitu. Masa super car mogok? Ah, bisa aja. Oh, bukan mogok. Bukanlah. Halo, Pak Rudi. Ah, lagi foto-foto aja, action-action. Masa superc mogok. Bisa aja, Mas. Udah kepanasan enggak lagi foto-foto biasa. Enggak, maksudnya kalau mogok tadinya mau ditawarin, udah numpang di sini aja gitu. Oh, mau ya? Kalau ditawarin mah saya ikut aja enggak apa-apa saya ikut aja. Sini ya namanya juga ditawarin ya kebetulan lah. Iyalah masuk masuk masuk Pak. Iya Pak I kita jalan. Oke. Oke, selamat datang Mas Ivan 17. Terima kasih Korudi. Terima kasih. Sekarang kita udah nganggilnya Mas Ivan 17. Udah Mas Ivan PVN berubah ya? Iya berubah. Terima kasih nih sudah hadir di Meet the people hari ini di e showroom Prestis. Pertama-tama saya mau mengajak Mas Ivan untuk e menjawab fast question. Ini harus dijawab cepat ya. Oke. Baru duduk langsung fast question. Iya dong biar langsung mikir langsung. Enggak pakai mikir langsung jawab. Oke siap. Musik atau film? Musik. Tapi kan di perusahaan film. I. Oke. Drama romance atau drama komedi? Komedi. Komedi. Suara hati atau suara publik? Hah? Suara hati. Suara hati. Kreativitas tanpa anggaran atau anggaran tanpa kebebasan? Ah, susah. Oke, yang berlaku di Pfn aja. Kreativitas tanpa anggaran. Jadi legenda musik atau pionir perfilman? C langsung kelar nafas. Ini berarti nih dua kali legenda musik. Legenda musik. Jadi tetap nyawanya tetap di musik ya. Iya. Luar biasa. Nah, Mas Ian kan sekarang lagi sibuk banget jabat sebagai direktur perusahaan film negara PFN. Nah, mungkin boleh dicerita ini gimana rasanya jadi pengalaman mimpin PFN sejak mungkin dilantik pada 10 Maret kemarin ya. 10 Maret 2025 nih. Gimana nih? Udah hampir mau bentar lagi 6 bulanan lagi setahun lah kurang lebih. 6 bulan setahun. Iya, benar. Iya. Ya. Eh, ya. Pertama-tama pasti ee penuh challenge, penuh challenge, penuh tantangan, ee penuh penyesuaian gitu. Cuma memang ya searing dengan berjalannya waktu ee banyak orang-orang baik yang berdatangan termasuk kemarin salah satunya ada dari Prestij mungkin kenal. Oh, iya iya iya mungkin kenal ya. I orang untung orang baik bukan orang jahat. Itu baik banget. tiba-tiba juga menawarkan bantuan untuk kerja sama ya termasuk ee ee Mas Rudi Salim. Oke, luar biasa. Ini sesuai dengan fast question tadi memang banyak sekali mispersepsi memang yang terjadi di publik terutama ee kayak ee orang tuh nganggap saya itu nganggap aku itu itu ee kira-kira apa ya ee ekspektasinya tuh terlalu besar, terlalu tinggi gitu. Jadi seolah-olah kayak, "Oh, sekarang Evan 17 adalah bapak industri perfilman Indonesia begitu." Seolah-olah begitu kan perusahaan film negara. Padahal maksudnya begini, padahal kalau menurutku PFN ini ini nih PH PH milik negara. Kalau bidang perfilman memang di bawah Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Ekonomi Kreatif gitu. Tapi kalau si PFN ini memang secara ee substansinya ya memang ini hanya PH. Jadi yang aku pimpin lebih ke korporasi sifatnya lebih ke perusahaan. kebetulan di bidang film kebetulan memang ee saya dulu pernah punya PH. Dan ya kebetulan ya memang bidang audio dan visual memang enggak terlalu jauh Oke. Jadi ini memang adalah PH milik negara BUMN dong ya berarti jadi bukan aneh-aneh bahwa perfilman itu ini bukan organisasi atau apa, bukan ya. Tapi ini adalah PH milik negara yang lokasinya juga ada di ada lokasinya ada apa, ada studionya dan sebagainya ya. I-benar PH murni. Benar-benar PH murni, perusahaan lah, company. Compan. Iya, company. Oke. Nah, dulu kan heboh nih pas baru masuk tuh heboh. Banyak yang menghujat ketika awal-awal menjabat ya. Namanya walaupun PH tapi karena punya negara jadi menjabat. Eh, pejabat juga. Gimana cara Mas Ivan menghandle pressure tuh atau kritikan bahkan hujatan? Iya. Iya. Ee sampai ee Mas Sifan juga bisa memimpin PFN ini untuk semakin produktif. gimana di tengah tekanan-tekanan itu gimana tuh? Ee kalau aku sih selalu selalu lihat begini, maksudnya begini, in everything pro dan kontra itu pasti selalu ada in everything in every case, in every moment pasti selalu ada pro, pasti selalu ada kontrak. Cuman yang lebih aku lihat gimana cara mengambil momentum atau gini, gimana cara mengambil nilai positifnya sih. Nah, nilai positifnya pada saat itu adalah orang yang tidak tahu PFN jadi lebih tahu PFN. Iya. No publicity is badity, ya. Jadi mau publisitas seperti apapun kalau jelek, oh kan tapi orang jadi tahu paling enggak. Paling itu dia. Neither good or badity, still good publicity pasti. Dan itu yang aku manfaatkan. Jadi jadi jadi pertama kali rapat direksi sehari setelah aku dilantik waktu itu aku ngomong sama beberapa direksi yang lain, sama beberapa head off yang lain ikut nghujat juga enggak. Oh enggak. Jadi jadi mereka ee tegang waktunya karena pertemuan pertama ya. Karena karena rapat pertama. Jadi ee saya bilang begini, mungkin ini tidak pernah Bapak dan Ibu rasakan sebelumnya gitu ya, pressure-pressure ini ya eh pressure ee terus exposure gitu ya. Ee terus ada beberapa yang menjawab, "Iya, Pak, saya sampai ditanya tetangga saya gitu kira-kira." Terus saya bilang begini, "Ya, tapi berita baiknya adalah sekarang all eyes on us." Iya, betul. Jadi, ya, mari kita manfaatkan momentum baik ini. Yang tadinya enggak mengenal PFN, yang tadinya enggak tahu PFN, sekarang jadi tahu dan kenal dan bahkan memperhatikan. Ayo kita memanfaatkan momen terbaik ini dan mari kita bekerja dengan lebih baik dan lebih semangat lagi gitu. Seb luar biasa. Bayangin nih pimpinan PFN sebijaksana ini. Tepuk tangan luar biasa. Tepuk tangan. Beneran. Jadi hebat sekali ya. Jadi ternyata Mas Ian ini bukan cuman pemusik, tapi ya kalau kita lihat ini orangnya sangat bijaksana dan saya rasa sanggup untuk memimpin PFN menjadi lebih baik lagi saya rasa. Nah, terus ada projek terdekat apa nih kira-kira dari PFN nih? Iya, projek terdekat ee kebetulan memang tanggal 16 Oktober ini. 16 Oktober iya PFN akan merilis filmnya baru menjabat Maret Oktober sudah ada film yang diproduksi oleh PFN akan rilis di 16 Oktober. 16 Oktober. Oke, boleh diceritain Mas Ian kira-kira film apa nih? Filmnya menuju pelaminan tentang apa? Oke, jadi filmnya tuh ee ini kayaknya biar lebih biar lebih afdol bro. Biar lebih e spesifik ini kayaknya saya mau undang cas-nya. Oh, cas-nya ada. Boleh. Ayo kita panggil langsung aja setelah klik berikut ini. Alah tahu donak niko kalau keluarga Jogja tuh katibo tapi kok talambe orang-orang nanka malu nak jar ojo nganti nek ketemu keluarga Pariaman kowe ngisini-isini kowe kudu duwe simpati awake dewe iki keluarga adoh sing suwe ketemu. Bak alah keluargane dari Jogja ko alham tunggu ndak jo datang. Rahma pun heran pul mak aku alin jua mereka tuh sampai la aku gor pengen keluarga iki du simpati oke sekarang sudah ada Mizura di sini selamat datang boleh tolong dong tadi Mas Ian enggak mau ceritain diceritain film menuju pelaminan ini tentang apa oke jadi film menuju pelaminan ini bercerita tentang dua pasangan Fajar seorang anak laki-laki dan juga Rahma perempuan Minang. Mereka sudah berpacaran kurang lebih ada 8 tahun sudah lama sekali dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Jadi Fajar bersama dengan keluarganya melakukan perjalanan darat dari Yogyakarta menuju ke Padang. He. Nah, dari sinilah kita akan melihat konflik-konflik yang muncul di dalam perjalanan menuju Padang itu. Oke. Di film ini ee Maizura berperan sebagai apa? Di sini aku berperan sebagai Rahmah. Oh, bukan sebagai fajar ya? Bukan. Oh, bukan. Kalau Maizura mau berperan sebagai fajar harus pakai kumis dan jenggot kayak Oh. Nah, mini fan yang dinaikin tadi itu properti e milik film ya. Gimana itu syutingnya Mazura? Rasanya syuting di minifan yang bisa dikatakan tergolong agak jadul untuk generasi kita. Kita kita generasi kita. Apa aja tantangannya? Ee kebetulan aku enggak begitu banyak scene bareng di dalam minan. Sebenarnya lebih banyak experience-nya itu Bisma yang berperan sebagai Fajar. Aku sempat di akhir-akhir emm perasaannya panas karena AC-nya udah enggak ada sih AC-nya tapi yang keluar tuh udara panas. Oke, itu yang pertama. Terus emm kalau enggak salah minnya tuh udah enggak bisa begitu panjang perjalanannya. Jadi kayak cuman 1 kilo aja udah. Heeh. Karena rusakang terus mesti take lagi ulang begitu. Iya. Dan kebetulan sebenarnya kita enggak banyak syuting di jalan sih karena kita pakai Iya. Jadi ee di film ini dikarenakan road movie sebenarnya. Jadi eh kita menerapkan konsep virtual production. Jadi kita pakai extended reality jadi buat memudahkan di studio PFN. Keren. Saya tahu tuh. Iya tuh keren tuh kayak yang dipakai Mandalorian di luar negeri ya. Keren tuh makanya Indonesia juga punya nih. Emang hebat nih Mas Ian nih. Nih pengetahuan saya ini kan produksi ee PVN pertama ya setelah sekian purnama mungkin ya. Saya juga sempat baca-baca mengenai PFN nih. Ini produksinya mana nih? Oh, setelah Masan datang langsung ada produksi nih. Apa yang membuat Pakn tertarik untuk memproduksi film pertamanya ini? Ee drama komedi romantis gitu seperti menuju pelaminan ini? Kenapa nih? Oke, jadi sebenarnya film ini sudah diproduksi itu mulainya dari direksi yang sebelumnya sebenarnya. Jadi sebenarnya yang berjasaoke itu direksi yang sebelumnya sebenarnya direktur utama yang sebelumnya. Saya hanya meneruskan saja. Oke. Tapi memang saya tahu lahirnya film ini sebenarnya dari sebuah program milik PN yang judulnya Indonesian Film Financing. Di mana PN tuh jadi kaya managing fund, manager fundingnya sebenarnya. Jadi khusus perfilman tapi enggak bisa tuh perusahaan IT gitu bukan ya? Bukan Danantara berarti ya. Ini Danantara khusus filmus filming film. Oke. Jadi kita managing danan film misalnya. Jadi ee ya ya itu Indonesia film financing. Nah dan itu memang mengkurasi dalam tanda kutip dari sekian banyak script writer maupun sutradara sebenarnya. Jadi kalau enggak salah mostly ada sampai 140 waktu itu yang ngajuin. 140 dan terpilihlah ee salah satunya adalah menuju menuju e pelaminan gitu. Dan untuk yang saya tahu memang secara cas-nya sendiri juga sangat dipilih gitu. Oh, makanya ya maksudnya duduk di sini pada hari ini ya karena she's one of the best dari seluruh keren banget. Nah, Mas Ian nih, apakah ada inovasi atau pendekatan baru yang membuat ee film ini ee beda dari film lainnya gitu? Oke, pertama ini road movie. Jadi ini menarik buat dilihat karena e scene-nya pasti berbeda-beda kira-kira begitu. Kedua, perjalanan. ketiga ini sangat relate ee kalau kalau misalnya begini, kalau misalnya K Rudi sering nonton misalnya gitu ya, ada beberapa film-film dalam tanda kutip yang film e ambience-nya Jawa misalnya begitu. Tapi dialognya dialognya tuh yang cuman ditambahin medok dan ditambahin e di belakang. Contoh, contoh, aku mau mandi e, aku mau beli balone, aku mau naik mobil e ini bukan. Oke, ini benar-benar mengangkat kearifan lokal. Bahasa Jawa ya benar-benar bahasa Jawa ada subtitle-nya. Oh, gitu. Bahasa Minang benar-benar bahasa Minang ada subtitle-ennya. Jadi tidak t maksudnya begini ee tidak menggeser keutentikan dari bahasa itu sendiri, tapi ceritanya sangat ringan. Oke. Very light, very fresh gitu. Kalau kalau misalnya ee aku mau ngomong begini, ada film yang ee gini, enggak harus menangis buat membuktikan kalau film ini sedih. Kira-kira begitu atau enggak harus tertawa buat nonton kalau film ini adalah film happy. Karena di film ini tuh ee teman-teman bisa menangis meanwhile happy. Karena haru banget. Keren banget. Luar biasa sih. Nah, gimana Pak Even memfasilitasi semua kebutuhan ee syuting yang saya perhatikan nih cukup tricky kan? Perlu alat dan sebagainya. Ini Pak FN ee bagaimana mensiasatinya? Ya, balik lagi eh in technical sebenarnya aku enggak berada di situ. Cuman memang e proses jadi aku menyelesaikan sekitar 20% proses lah sebenarnya finishing. Cuman ya sedikit banyak aku tahu ya karena kebantunya mungkin karena virtual production itu sendiri. Virtual production ini kan memperbolehkan kita untuk berproduksi di dalam studio dengan set apapun yang teman-teman mau. Lihatnya misalnya begini, kalau sekarang kita setnya di jalan gitu ya di film ini kalau misalnya besok misalnya tiba-tiba ee menuju pelaminan tapi saatnya pengin di Mars, perjalanan ke Mars atau perjalanan ke matahari pun itu bisa gitu. Nah, tidak terpengaruh sama kondisi cuaca misalnya overlight atau underlight. Kan kita kadang-kadang kalau lagi syuting mataharinya turun dikit aja udah wah udah udah gusar atau hujan misalnya gitu. Nah, ini enggak gitu. Jadi ee ini memang yang teknologi yang pengin kita terapkan di PF gitu kalau Suting memakai virtual production. Karena pertama secara cost predict. Kedua secara tenaga kerja jam kerjanya lebih sehat. Ee ketiga ya segala macam kondisi jauh lebih gampang terselesaikan. Iya. Luar biasa ya tuh Mas Ian nih benar-benar memahami produksi dan perfilman loh. Jadi don't play loh. Jadi kalau yang bagi yang sempat menghujat-menghujat nih kita bisa tahu bahwa nih benar-benar memahami sekali. Nah Maizura untuk karakter Rahma ini katanya kan berhadapan dengan dilema, budaya dan cinta ya. Apa tantangan yang paling besar memerankan sosok Rahma ini menurut kamu? Mungkin yang paling challenging itu karena di sini aku harus memerankan karakter perempuan Minang untuk pertama kalinya. Aku aslinya orang Bugis, lahiran besar di Makassar. Jadi emm budaya Minang itu adalah sesuatu yang baru sekali buat aku gitu. Em dan aku harus mempelajari dialek Padang dan bahasa Minang dalam waktu yang cukup singkat. itu sangat-sangat challenging buat aku. Tapi beruntung banget karena salah satu talent koordinator di projek kemarin itu ada asli dari orang Padang. Jadi menjadi dialek coachku selama persiapan dan juga ada pemain-pemain dari Padang yang berperan sebagai ibunya eh ibu tantenya Rahma di ee film. Mereka sangat-sangat membantu menjaga dialek sampai dibikinin notes, voice notes, audionya, cara pengucapannya seperti apa. Dan mereka sangat-sangat menjaga selama persiapan, selama reading. Kalau semisal ada pengucapan dialek atau bahasa yang salah itu dibenerin. Emm, dari cara intonasinya dan juga emosinya di setiap dialog juga sangat-sangat dijaga sama mereka gitu. Itu yang tersulit buat. And she did it with very well, bro. Gila luar biasa. Eh karena di band 17 itu tuh manajemennya mostly dari Padang, orang Minang, Minang gitu. Jadi gua tuh kurang lebih sering dengar orang-orang e Minang gitu loh ngobrol gitu dan pas sama percis. Karena gua pikir tadinya ee Maizura Rahma itu dari aslinya Maizura aslinya dari Padang bahkan. Oh, ternyata aslinya Bugis. Wah, makanya beda banget. Eh, and also budayanya juga sangat berbeda ya. Di sini em Rahma menjadi perempuan Minang yang notab itu berada dalam sistem matrilineal di mana perempuan itu sangat ee dominan dan sistem matrilin itu kalau enggak salah memegang garis keturunan ibu. Iya. Jadi dari segi kepribadian dan sifat juga Rahma ini cenderung lebih dominan, lebih bold dan lebih vokal dan cenderung lebih aktif sebenarnya di hubungannya gitu daripada pasangannya. Iya. Iya. itu menarik sekali buat aku pelajarin dan ternyata baru tahu juga kalau di Pariaman itu sendiri ada sistem uang Japui di mana perempuan yang memberikan uang mahar gitu kepada laki-lakinya. Iya iya iya. Jadi yang ngasih maharin mahar ceweknya. Nah itu kontra banget sama budaya Jawa sendiri kan ya. Budaya manapun kebiasaan lainnya ya pada umumnya ya. Luar biasa ya. Hebat sekali kamu mempelajari sampai seperti itu ya. Nah, kalau bicara soal pernikahan beda budaya, banyak orang pasti bisa relate lah mungkin ya. Nah, seberapa dekat pengalaman pribadi kamu Maizura dengan konflik yang dialami Rahma misalnya. Kebetulan saya belum punya pasangan ya. Jadi, Oh, belum punya pasangan ya. Kebetulan saya empat saya kebetulan saya anak 64 Kirain kalau mau cobain dibayar pakai mas kawin enggak Oh, gitu. Oh, belum punya pasangan. Jadi belum bisa ya. IG-nya bisa dimunculin mungkin nomor telepon. Jadi siapa tahu ada yang berminat untuk bersama dengan orang Bugis. Tapi kalian percaya enggak kalau cinta itu cukup kuat untuk menembus ee perbedaan budaya dan restu keluarga misalnya di dunia nyata terlain dari ee film ini misalnya. Aku setuju banget sih. Menurut aku cinta itu harus menjadi fondasi utama dalam sebuah hubungan. Kalau enggak ada itu kayaknya akan sulit ya. Dan kita akan melihat nanti di film ini bagaimana cinta itu bisa enggak tahu bisa apa enggak ya berusaha untuk menyatukan semuanya. Cinta itu menjadi sebuah fondasi di mana membuat dua pasangan ini berusaha berjuang untuk menyatukan ee dua budaya yang sebenarnya sangat kontras satu sama lain gitu. Sangat bertolak belakang. Iya. Jadi harus ada itu. Oke. Nah, kamu sendiri ada enggak adegan yang paling berkesan atau menantang selama proses syuting film ini? Ee mungkin pas berbahasa Minang sama orang tua. Iya. Berbahasa Minang. Panjang dialognya? Ee ada enggak begitu panjang sih sebenarnya cuman takut salah ngomong aja. Oh, karena ya itu lumayan. Tapi kan ada coach dialek-nya jadi kan diperhatikan juga kan. I cuman tetap ya karena saya bukan asli Minang, bukan bahasa ibu saya. Jadi rasanya tuh ada sedikit pressure ini bisa diterima enggak sama masyarakat Minangnya sendiri gitu. Oke. Iya. Luar biasa, Mas Ian. Nah, film ini kan saya perhatiin juga memotret keindahan dan keberagaman budaya Indonesia. Apakah ada misi khusus mungkin dari PFN untuk memperkuat narasi budaya lewat film ini atau ya enggak? emang kebetulan aja film yang dipilih atau kalau setahu saya Indonesiaan film financing ini sendiri adalah film yang memang dibangun ee program yang dibangun untuk perfilman ee Indonesia khususnya buat PN memang didasari empat pilar kebangsaan satu-satunya kebudayaan. Oke. Cuma ee dalam artian begini, ini bukan maksudnya begini, ini bukan bukan film tentang kebudayaan istilahnya begitu ya, tapi film yang menampilkan kebudayaan gitu. Jadi oke ee dan menurut saya gitu idealnya PFN itu ya memang harus punya nilai di setiap filmnya. I karena balik lagi ini PHnya negara ini representatif dari negara gitu yang hadir di ee produk film harus ada nilai kehidupannya, nilai sosial, nilai keagamaan, nilai kebangsaan, nilai budaya gitu. Jadi harus ada poin positifnya. Oke. Yang pasti ini film enggak ngebosenin dong karena kan targetnya anak muda. Jadi kalau mempelajari budaya dan sebagainya kan orang takut nonton tuh. Tapi itu jadi jadinya dokumentari kalau jadi dokumentari ya. Nah, Mas Ian kan ee selain pelaku industri film juga merupakan seorang seniman nih. Sudah pasti nih penyanyi penyanyi top nomor satu. Jadi pengin nyanyi ni bercanda bercanda. Soalnya RPV bagus ini. Kalau creator kan cari heroan kayak begini nih. Nah, gimana cara Mas Ivan ee menyeimbangkan nih idealisme seniman dengan tantangan di bisnis film? Eh, I don't know. Duh, tapi secara teori, secara teori ya maksudnya begini. secara teori sebenarnya kurang lebih antara antara industri musik maupun industri film gitu. Ini adalah jadi industri musik maupun industri film ini adalah sama-sama bisnis yang dalam tanda kutip unpredictable. Ini bisnis yang enggak ada formulanya. Tadi tadi Maizuri juga sempat bilang ya sama mau itu lagu karena kebetulan Meizura juga penyanyi. E jadi kita paham ee industri musik dan film. Enggak ada satu formula yang bisa mengel e maksudnya gini bisa menjamin 100% kalau film ini 100% akan laris. Enggak ada. Begitu pun dengan lagu enggak ada. Ini ini so un unpredictable ya. Spekulasinya tinggi gitu. Tapi balik lagi probability-nya aja yang kita bisa besarkan. Kemungkinan film ini laris karena aktrisnya aktingnya bagus. Betul. Kemungkinan film ini laris karena jalan ceritanya menarik. Iya, kemungkinan besar film ini laris karena produksinyaality banget. Iya, betul, betul. Memang e saya setuju itu karena saya juga udah invest di satu lusin film yang e oke e dikeluarin boleh enggak usah, enggak usah, enggak usah kalau keluar mau nangis juga air mata air mata kering juga tidak mengembalikan saya. Terakhir kita pernah membahas ini di Pfn Iya, tapi saya sangat setuju ya benar-benar jadi Mas Ian ini sangat-sangat mengerti sekali bahwa film itu tidak bisa dimengerti. Iya. Kita mengerti bahwa film itu tidak bisa dimengerti. Kalau kita bikin restoran paling kita tahulah oke ya ini makanan ini, ini daerah sini orang suka makan nasi goreng dan sebagainya. Okelah kita jualan nasi goreng paling enggak bisa mungkin ada kemungkinan laku. Walaupun restoran juga merupakan suatu usaha yang 80% 2 tahun pertama tutup. Iya. Makanya restoran kalau kita ke daerah Kemang, daerah Jakarta Pusat atau ke sini Pantai Dakap 2 tahun lagi nih biasa 70% 80% sudah berganti sudah berbeda karena memang rentan sekali film lebih parah dari itu ya kan bisa aja yang kadang investasinya mungkin cuman 4 miliar tiba-tiba bisa box office nyampai dapat 90 miliar ada yang investasinya R miliar baliknya R juta. Ah, enggak tahu kok. Jadi, Bapak yang nanya saya, saya kan cuma ngasih tahu. Iya. Jadi maksud saya di sini adalah Mas Ivan ini sangat mengerti dunia film. Jadi kalau bagi yang menghujat atau apa itu tak kenal maka tak sayang. Ya menurut saya ya. Kalau sekarang dengan adanya sosialis seperti ini atau penjelasan-penjelasan seperti ini, saya ee sangat yakin bahwa perusahaan film negara ini saya yakin pasti pasti itu sudah confirm pasti pasti jauh lebih berkembang. Amin. Tanpa perlu spoiler ya setelah nonton keluar dari bioskop nanti, apa satu hal yang mungkin ee Mas Ivan dan Masura ingin ee masyarakat rasakan tentang film ini ee menuju pelaminan. Apa yang ingin ee dirasakan untuk itu penonton? Mungkin harapannya setelah nonton film ini seperti yang Mas Ian bilang juga, after effect-nya itu akan membuat hati kita akan lebih hangat. Iya. Lebih menghargai lagi ee proses menuju perkawinan itu eh perkawinan pernikahan itu ee ternyata enggak sesimpel itu, tapi penuh makna dalam setiap perjuangannya dan hubungan. Oh, ternyata penting sekali komunikasi bukan hanya dengan pasangan, tapi juga sama keluarga. Itu penting banget. Penting sekali. Luar biasa. Nah, dari Mas Ian sendiri apa yang diinginkan dari film ini? Oke, untung untung untung untung. Oke, cuan pertama yang kedua cuan. Iya. Sebenarnya begini, maksudnya ee kan ada beberapa film ya, misalnya film drama misalnya begitu ya, sedih sekali ya. Jadi kita keluar maksudnya begitu begitu kita keluar dari e ruangan bioskop itu rasa rasa sedih banget gitu ya. Iya, masih begitu tuh overing. Atau misalnya film horor gitu yang kita pulang ke rumah sampai takut sendiri. I yang ke kamar mandi habis. Aduh takut sendiri ya. Nah film ini itu bukan bukan film yang seperti itu. Ini bukan film yang over feeling kan begitu. Ini film yang light yang fres viesnya enak vi-nya enak ringan gitu. Jadi kayak after you guys watch this movie itu feelingnya akan enak banget. Itu akan good moodnya all day. Oke. Ringan, menyenangkan terang gitu. Jadi kalau istilahnya begini, kalau teman-teman butuh e teman-teman masyarakat Indonesia di luar sana kalau butuh tontonan yang like menyenangkan keluarga, habis itu fresh gitu, e tonton film ini. Luar biasa. Oke, pokoknya kita ayo semuanya nonton film menuju pelaminan di tanggal 16 Oktober. 2025 mulai di bioskop-bioskop kesayangan Anda. Luar biasa. Nah, boleh SP enggak nih, Mas Ian? Habis film ini ada proyek lain lagi enggak dari PFN? Film panjang, musik video atau music videonya 70 atau apa gitu? Kayaknya itu pasti segitu. Enggak, enggak, enggak. Ee kebetulan kemarin kan kemarin kita baru habis syuting music video yang e pop star itu keren banget. Jadi ada Raffi, ada Andre, ada D ada Desta itu music video. E theest. Pertanyaan saya, kenapa music video tidak menghadirkan orang musik seperti Mas Ivan enggak ikut nyanyi? Oh, karena sudah ada Dikta. Dikta Andre juga ada loh. Heeh. I dulu vokalis. Oh, iya. Yang bukan menyanyi kan Raffi. Kenapa? Bentar lagi dia WhatsApp WhatsApp, Bro. Iya. Ee itu pertama. Kedua, memang PVN ini selain produksi ke depannya tuh kita juga sebagai distribution channel sebenarnya. ada beberapa teman-tak bisa ngos gitu atau OT itu lewat PFN. Nah, di depan ini sudah ada tiga film yang akan keluar distribute by PFN. Oke, luar biasa. Nah, ini pertanyaan yang selalu saya tanyakan ke narasumber saya. Saya mau nanya ke Mas Ivan. Kira-kira sebelum atau mungkin nanti jabatannya periode ini selesai, apa tiga hal yang sudah harus dicapai oleh PFN? Nanti akan saya play berapa tahun kemudian? 5 tahun ke depan. Apa kira-kira tiga hal? First of all, kesejahteraan karyawan. Kesejahteraan karyawanjahteraan karyawan. Oke. Oh, tadinya enggak sejahtera? Ee kurang no. Tapi memang faktanya Iya, ini fakta ya. Ya, memang udah beberapa kali saya bicarakan kok. Sebelum saya masuk 2 tahun kebelakangan itu teman-teman di PN karyawan itu beberapa ada yang dibayar gajinya secara proporsional. Oh oke. Tidak 100%. Iya. Alhamdulillah di zaman saya semua 100% paling sudah berubah kesejahteraan karyawan satu. Oke. Kedua, sebagai korporasi harus harus financial sustainability. Harus sustain. Balik lagi project film itu enggak bisa menjadi sumber pemasukan dasar sebuah perusahaan. Karena spekulatifnya terlalu tinggi. Jadi ya konyol menurut saya kalau bisa itu. Itu kedua. Ketiga, kebermanfaatan. Oke, udah saatnya PN harus lebih bisa lagi ya dalam tang kutip kalau dia sudah selesai secara internal kepada dirinya PN berarti sekarang saatnya bersumbangsi untuk masyarakat khususnya industri film. Gila nih direktur utama rasa presiden nih. Keren banget. Jangan gitu langsung deg keren banget nih visi misinya luar biasa lah. Mas Ivan dan Maizura terima kasih sudah nyempetin hadir di Meet the People kali ini di tengah kesibukannya. Semoga film menuju pelaminan, sukses menjangkau banyak penonton dan dapat memberi impact positif. Amin. Pada masyarakat. Luar biasa. Mantap. Selesai sudah ngobrol kita hari ini. Kalau ada request untuk saya berbincang dengan siapapun Meet the people, silakan ketik di kolom komentar. Saya pamit undur diri dulu. Sampai jumpa di episode berikutnya.
