Rumah Adem Milik Keluarga Arsitek! InspiArsi: djuhara + djuhara (YouTube Video)
Selamat datang kembali di channel Wicak Mifta. Episode inspirarsi kali ini menarik banget. Kita akan berkunjung ke rumah G764 ini milik sekeluarganya arsitek. Yuk, langsung kita ketemu aja sama Bu Wendi dari keluarga Juhada. Let's go. Ibu, selamat pagi. Apa kabar, Ibu? Ibu kita terima kasih banget sudah boleh datang ke sini untuk membahas rumahnya sekaligus kantor juga ya, Bu ya, berarti ya. Oke. Nah, ini aku mau naik-nik dulu, Bu, tentang desainnya. Tapi sebelum kita bahas desain, luas tanahnya berapa? Luas bangunan berapa? Luas tanahnya 240, luas bangunannya 217. 217. Oke. Dan ini sebenarnya kalau kita pas baru datang ini kayak kelihatannya dominasinya tanamannya gitu ya, Bu ya? Iya. Sebenarnya hanya karena kita sekeluarga suka tanaman ya, kita ngerasa penting sekali adanya ee area hijau gitu di rumah itu dan dia bantu untuk menggerakkan udara gitu. Heeh. Karena dia bikin bayangan. Jadi kita ini sih apa namanya teori arsitektur ya. Biasanya kalau udara itu bergeraknya dari yang tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah gitu ya. Jadi dari yang panas ke yang dingin gitu. Jadi kita mesti bikin ada yang panas di luar, di dalam harus adem supaya udaranya bergerak gitu. Oke. Dan dia tanaman-tanaman ini juga membantu proses itu ya, Bu ya. Nanti bahkan sampai kita di bagian dalam yang taman belakangnya juga buah tanamannya juga banyak juga ya, Bu ya. Nah, mungkin ada lagi Ibu yang ingin disampaikan nih. Ini seperti apa sih desain keseluruhan konsep rumahnya? Sebenarnya sih tadinya ini kan rumah apa ee real estate biasa kita beli dulu lalu baru kita renovasi setelah beberapa tahun gitu. dari rumah lamanya kita bongkar atapnya aja kita pertahankan supaya bawahnya simpel seperti dasarnya aja lalu rumah barunya kita tambahkan di atas bawahnya jadi yang untuk ee area publiknya gitu. Area publiknya juga kantornya ya Bu ya. Oke. Dan tadi aku sempat ee di balik layar kita cerita-cerita juga dari tahun '90-an ya Bu ya berarti rumahnya. Iya tahun '95 kita pindah ke sini eh sori '96. 96 kita pindah ke sini ya. Oke. Dan proses untuk pembangunnya juga beberapa tahap ya, Bu ya? Beberapa tahap ya. Oke. Boleh kita sambil masuk ke dalam, Bu. Silakan. Berarti sini area karpotnya ya, Ibu ya. Karpotnya aja. He. Oke. Terus kemudian ini ada satu bangunan juga ini terlihat sangat masif ya. Tapi di atasnya juga masih ada tanaman-tanaman lagi ya, Bu ya? Iya. Supaya sebisa mungkin ada area hijau gitu di sini gitu. ee soalnya lebih sehat, banyak apa burung, serangga segala macam gitu dan mendinginkan karena kita enggak pengin selalu ee harus bergantung sama ee AC. Iya. Jadi bisa udara segar sebisa mungkin gitu kan. Sini carport-nya berarti area masuknya lewat sini ya, Bu ya. Tapi k lihat pun ada beberapa pintu sebenarnya di situ ada, di sini ada, di situ ada ya, Bu ya. Iya. Sebetulnya kita enggak enggak suka konsep ada harus ada pintu utama atau apa. Orang bisa masuk dari mana aja gitu ya. mau jalur kalau lagi hujan kita masuk terus dari sana tapi kalau lagi cerah sini gitu dan silakan masuk aja gitu kita selalu terbuka jadi kayak kalau orang lain punya rumah terasnya di luar kalau kita terasnya ke dalam jadinya gitu silakan masuk gitu oke ok boleh kita sambil ke situ tuh Bu sil mari oke berarti sini ketika kita masuk sini langsung ke area ini ya living dining-nya gitu ya Bu ya cuman di situ ada area ke mana tuh, Bu? Kalau yang sebelah situ. Oke. Jadi kalau yang ke sana adalah ke kantor gitu. Jadi ini ada terasnya sedikit. Awalnya ini kadang-kadang kita pakai untuk meeting gitu ya, kadang-kadang terus tapi karena kadang-kadang panas sekali sekarang ada ee tempat meeting di dalam juga atau kita justru kadang-kadang meetingnya di meja makan. Oh, jadi rumah ini meang ee kita seperti enggak ada batas gitu antara ee ruang kantor sama tempat tinggal kita ini kita blur semua karena kebetulan kita sekeluarga kan bekerja di satu perusahaan yang sama gitu. Jadi, I dari Ibu, dari almarhum Bapak juga sama anak Ibu juga semuanya sekarang arsitek ya, Bu? Iya, tadinya sempat di balik layar kita sempat cerita tadinya sempat dilarang juga ya, Bu ya. Jangan jadi arsitek ya, tapi malah pada malah pengin pada pengin dan pada penasaran. Tapi keren-keren karyanya. Nah, ngomongin soal karya-karya ini, Bu, berarti dari Juhare ini ee lebih seringnya mendesain apa tuh, Bu? Ee hunian atau area publik atau gimana? Jadi, kita tuh dulu awal karirnya saya dan Pak Johara dulu kerja di perusahaan besar. Lalu kita keluar, kita bikin sendiri ee dan kita kayak pengin mulai dari nol aja. kita waktu itu banyak ee dapatnya justru e rumah kecil dari saudara, dari teman, terus lama-lama berkembang. Akhirnya kita bahkan ee dari apa tantangan itu ee mengerjakan macam-macam. Ada sekolah, ada haltebis, ada Heeh. Ada kantor. Sekarang kita juga banyak mengerjakan FnB gitu. Jadi restoran atau apa gitu. Jadi kita enggak berusaha membatasi diri di satu ee tipe arsitektur, tapi macam-macam kita coba. Maacam. Nah, boleh kita masuk nih, Bu. Berarti di dalam sini ini area ya itu tadi ya, Bu ya? Masih area publik juga ya? Heeh. Jadi sebetulnya yang yang e bangun apa ruang yang kotak ini dulunya adalah rumah inti utamanya gitu. Tadinya di sini ada dua kamar tidur, kamar mandi gitu ya dengan apa ruang makannya yang kecil dan ee living room-nya juga kecil. dapur di sana em sebetulnya ukurannya hampir sama, tapi karena layout-nya kita efisiensikan jadi kerasa lebih luas aja sekarang gitu. Tadinya kecil sekali gitu. Oke, oke, oke. Gitu. Lalu ee pas kita renovasi, kita bongkar semua kamar-kamar di dalam sini ya. Struktur-strukturnya dihilangkan jadi ke pinggirkan karena saya pengin sekali punya satu ruang terbuka yang enggak ada batasnya gitu. Jadi dan kita sambungkan dari taman belakang ke taman depan bahkan sampai ke jalan gitu. Iya sih ya. Terasa nyambung semua ya, Ibu ya. He. Tapi ee privasynya kita bikin lapisan-lapisan dengan tanaman aja gitu supaya orang enggak langsung lihat gitu. Hm. Oh iya. Ini ya kalau kita dari dalam sini ketika melihat keluar ternyata tuh kita masih bisa melihat keluar ya Bu ya. Tapi pas kalau kita dari luar enggak terlalu kelihatan masuk ke dalam. Enggak terlalu. Heeh. Nah kalau untuk dari desainnya ini, Bu. Kalau aku lihat kan berarti semuanya lebih apa ya kayak material-material yang dipakai tuh natural semua gitu ya, raw material gitu ya. Heeh. He. Emang seperti itukah konsepnya atau ada kelebihannya atau gimana tuh? Iya. Kalau menurut saya karena material mentah itu punya keindahannya sendiri tinggal gimana cara kita mengeluarkan keindahannya itu gitu. Jadi menurut saya sih kayak orang kadang-kadang mungkin enggak terlalu suka ya kalau semen kelihatan gini kayak ee kok kayak belum selesai. Tapi justru ada warna-warna gelap terangnya itu itu yang yang menurut saya indah gitu. Dan kayu kayu itu enggak pernah bisa 100% sama semua gitu ya. Pasti ada gelap terang, ada apa, ada matanya, ada apa. Itu justru keindahannya menurut saya. Iya sih. Dan ini memang ketika aku melihat dari si perabutnya juga banyak sekali juga yang pakainya kayu asli kah ini Bu? Iya betul. Makanya semuanya ada kayak polanya, motifnya gitu ya yang tidak terulang. Dan terus ketika aku melihat juga ke atas juga enggak ada lampu yang direct langsung dari atas ya, Bu ya? Iya. Ee ini tuh memang karena kita pengin ee suasana di ruang ini kayak e tenang kayak untuk istirahat karena ini kan rumah tinggal ya gitu. Jadi em kita lampunya sengaja disembunyiin di dinding gitu ya atau di ee perabot gitu warna yang hangat gitu. Ini juga sebetulnya lampu yang ini dulu tadinya kita bingung ee mau beli lampu apa mau desain lampu gimana terus udah gantung aja dulu biar terang terus lama-lama udah ya kayak gini gini aja deh gitu. Ini padahal cuman lampu LED biasa kita gantung aja Iya sih tapi masuk semua dengan keseluruhan desainnya ya Bu ya. Dan ini kuliah juga oh di meja makannya ini emang kursinya tidak sama ya Bu ya? Tidak sama. Heeh. Oke. Jadi karena dari awal tuh saya saya dan suami senang e melihat ee desain kursi ini. Ada beberapa kursi yang didesain oleh arsitek dan ada juga yang desainer kursi yang bagus dan kita sangat mengapresiasi karena kita pengin belajar tentang e ergonomi. Ergonomi itu jadi nyaman di tubuh orang gitu. Nah, selain yang kursi di sini aku juga lihat ya situ juga banyak yang bentuknya pun juga beda-beda ya, Bu ya. Tapi tetap satu seiramah semua ya. Iya. Nah, terus kalau di belakang sini kalau k lihat ini ceritanya apakah ini Bu? Karena K lihat ada buku, ada beberapa pajangan dia ada maketnya ya. Nah, ini ceritanya apa nih, Bu? Satu dinding sini, Bu. Kenapa gitu? Iya. Jadi ee kita tuh udah memang saya dan suami tuh sering sekali beli buku. He. Ee koleksi kita kayaknya bertambah terus terus kayaknya ee enggak habis-habis. Jadi kita waktu itu bikin satu rak lagi di sini antisipasi untuk nanti bertambah lagi. Terus waktu itu kita taruh-taruh aja dulu barang di sini ee sarapan kita segala macam ya. Terus ini adalah kehidupan kita lah gitu. Mungkin dulu tuh ee waktu desain konsep awalnya tadi kan saya cuma pengin kayak ada ruang terbuka ini. Lalu ada boks kayu di sana yang jadi dapur sama boks kayu di sini yang jadi ee ruang kerja gitu. Eh, terus ternyata pas ee ini oh ada sisa panel kayu. Oh, ya udah kita tempel aja di sini. Dan ternyata tadinya yang abu-abu semua jadi langsung hangat. Teorinya tuh adalah sesuatu yang pernah hidup itu kalau e kita sentuh tuh rasanya lebih hangat gitu. E hangat secara feeling dan hangat secara ee suhu juga mungkin ya gitu. Oh, aku baru dapat. Iya, ya. Karena kan kayu dari pohon yang tadinya memang dia hidup ya, Bu ya. He. Ketika diaplikasikan, woi ilmu baru. Oke. Terus boleh kita geser ke situ nih, Bu, ke area dapurnya. Ini tuh sengaja em apa namanya? Saya selalu pengin kalau ada yang lagi masak siapapun itu, apakah e art ngangetin apa atau anak-anak mau ini sambil bisa ngobrol dengan yang lagi makan gitu. Heeh. Jadi selalu selalu begini kalau tempat cuci piring selalu di sana. Karena saya juga dulu senang kalau misalnya saya harus nyuci piring sendiri sambil lihat siapa yang lewat di depan gitu kayak gitu gitu. Saya ingin dapur yang enggak biasa-biasa aja. Biasanya kan dapur ya udah kompornya di sana ada keramiknya. Nah, ini saya penginnya semua berantakan kita kita masukin di dalam lemari gitu. Jadi sebetulnya dapur ini adalah gudang kita. Kita enggak punya gudang, tapi semuanya ada di sini gitu ya. dan ee apa semua piring kita di bawah sini. Jadi dari bawah sampai atas semuanya adalah tempat storage kita gitu. Segala yang kita butuhkan di situ. Oh iya iya iya ya. Jadi terkesannya semuanya rapi tertutup ini ya, Bu ya? Iya. He. Jadi kalau lagi ee habis capek-capek masak masukin aja dulu enggak kelihatan berantakannya gitu. Oke. Dan ini seperti yang Ibu bilang aku baru merasakan ya karena baru kelihatan. Oh iya bisa sambil lihat. Oh iya ada orang lewat gitu. Oh, dan memang dari awal sepertinya memang semua ruangan dominasi abu-abu terus warna kayu itu ya, Bu ya? Iya. Jadi sebenarnya sih warna-warna natural ya, warna tanah, warna semen ee besi juga gitu. Jadi apa adanya kayak Oke. Oke, Ibu. Sekarang kita lanjut ke area tamannya ya. Karena kalau misalnya aku lihat di sini nih area tamannya cukup besar ya, Bu. Emang dari awal direncanakan ya udah sebesar ini buat taman atau seperti apa ceritanya? Ya, jadi sebetulnya waktu kita dulu beli rumah ini tuh kita cari minta kepada pengembangnya tanah yang tipe paling besar tapi rumahnya sekecil mungkin. Jadi dulu tanahnya 240 tapi rumah aslinya tadinya cuma 60 gitu. Karena kita tahu karena kita arsitek kita akan nambahnambah nambah. Tapi kita dari awal selalu ingin menyisakan. Enggak boleh dibangun semuanya harus tetap ada area hijaunya gitu. Tapi ini ternyata membantu untuk meresapkan kalau hujan. Jadi enggak akan becek. Enggak ini ke sini gitu. Jadi, dan kita tanahnya punya ee apa namanya? Kandungan air. Jadi, musim panas tuh kita enggak kehabisan air gitu di sini gitu. Oke. Tapi tadi aku dengar dari Mas Fikra juga ini ada yang menarik. Oh, iya. Tentang pohonnya nih. Iya, pohonnya ini tuh pohon jati. Dulu kita dikasih ee sebagai paket lebaran Heeh. Dari parsel lebaran dari teman kita dikasih dua pohon. Waktu itu masih di pot kecil gitu karena dulu ada ada pohon mangga di sana. terus e diaakumb pohon mangganya mati terpaksa kita tebang tiba-tiba dia naik terus jadi gede banget gitu dan ini pohon jati emas gitu nih e saya suka sekali karena daunnya gede gitu ya udah berapa tahun berhenti ini mungkin pohon jatinya 10 tahun kali ya sampai sekarang tuh udah sebesar ini ya dan subur sekali ya Bu di sini happy kayaknya di sini dia. Iya. Iya. Katanya kalau pohon banyak temannya tuh jadi dia lebih happy kayaknya gitu. Kalau ini area apa ini, Bu? Jadi ini adalah teras belakang dulunya. Ini adalah tempat ee apa ee staf kantor kalau makan siang dulu di sini. Tapi e sekarang akhirnya karena kita punya meja makan besar di dalam, kita makannya di dalam semua. Jadi anggota keluarga sama orang kantor ya kita barengan aja makan di situ gitu. Di sini jadi satu ya. Jadi satu. Heeh. Tapi kalau misalnya kita lagi ada ee mengundang saudara atau apa arisan sini mereka jadi ada kelompok sana, kelompok sini tempatnya bisa dipakai semua. Ada kelompok bapak-bapak, Ibu-ibu. Terpisah ya, Bu ya. Jadi ya udah ini jadi multifungsi juga. Multifungsi. Kadang-kadang kita pakai buat kerja juga apa gelar-gelar ee apa ee gambar dan sebagainya di situ gitu. Oke. Dan suasananya di sini enak banget loh. Maksudnya asik aja gitu kerja di sini mandang hijau-hijau ya, Bu ya? Iya. Iya. tenang, banyak angin. Heeh. Iya. Saya harap sih kalau yang kerja di sini juga enggak stres gitu. Makanya mereka lihat hijau terus gitu. Jadi lebih lebih tenang gitu. Iya sih, tenang banget di sini. Nah, ini juga ini buat tempat duduk ya pada airnya ya. Iya. Ee ini dulu pohon mangga yang dulu. Jadi pohon mangganya dulu kita tanamnya awalnya dari biji cuman ternyata dia kena hama mati. Jadi terpaksa kita tebang lalu udahlah jadi bangku aja di sini gitu. Wah menarik sih di sini. Dan itu aku ngelihat tangga ke arah mana ya? Oke, tangga itu adalah akses untuk ke jemuran di atas. Jadi, Heeh. Ada area service untuk jemuran dan ee lain-lain di atas. Oke. Entar kita lihatnya dari atas saja kali. Oh, ini ya, Bu, yang di atas ini? Heeh. Iya. Ada jemurannya di atas. Jadi, kita tutup supaya enggak terlalu kelihatan. Tapi ee ART kita kalau lagi nyetrika atau nyuci ee ininya udaranya masih enak gitu. Jadi enggak kepanasan juga dia gitu. Oke, kayaknya unik banget tuh. Nanti kita bahas di atas. Oke, sekarang kita gantian sama Mas Fikra. Mas Fikra ini anaknya Bu Wendi karena sekeluarga yang tadi kita sudah cerita arsitek semua ya, Teman-teman. Nah, kita sebenarnya mau lanjut ke sana, Mas. Tapi sepertinya ada yang terlewat di sini. Iya. Jadi sebenarnya ee karena kita nyisain sedikit gitu antara pintu dengan ee siling. Jadi sebenarnya di atas ini kita punya storage juga gitu untuk rumah ini. Terutama untuk kayak karpet kalau misalkan kita mau rotasi gitu. He. Oke. Terus ngebukanya ini entar ngebukanya kita harus pakai tangga sih. Jadi entar kita bisa buka gitu. Oke. Nanti ada kan di sini. Set. Tuh. Nah, sekarang kita ke sini nih, Mas. Ini ada apa? Ini sebenarnya ada sisa ruangan dari ee bawah tangga itu daripada kita jadiin kosong aja kita putusin untuk jadi e powder room di sini. Jadi untuk anak-anak kantor sama kita yang di bawah itu enggak harus ee terlalu banyak sharing ee kamar mandi yang di atas. Jadi kita bisa pakai yang di sini aja. G yang di sini aja. Dan kalau sisi sini ada wasatunya dan cerminnya. Oke. Dan ini adalah kantor. Kantor. Nah. Oh, lagi pada kerja. Enggak apa-apa nih, Masaka. Nah, kalau untuk kantor ini gimana ceritanya nih, Mas? Jadi sebenarnya dari 2004 kita udah mulai pindah ke sini gitu. Waktu saya masih kecil sebenarnya. Jadi dulu sebenarnya kita dijanjiinnya sebagai anak itu ini mau jadi kolam renang. Oh. Tapi sama waktu pulang naik ojek gitu kok tiba-tiba yang datang tukang las. Ternyata ini jadi kantor gitu. Terus ya dari situ berjalan ee sampai di 2013 kita mulai ee nandem struktur untuk rumah yang di atas. Terus dari situ ee kita tetap kerja di bawahnya. Terus waktu 2021 pas kita mulai renovasi ini lagi, kita mulai berbenah sedikit. Tadinya di sana itu e di sebelah sini tuh ada e kaca biar skylight apa e cahaya itu bisa masuk tapi turn out itu lebih susah untuk kita bersihinnya karena gapnya kecil sekali kan. Akhirnya kita putusin kita bikin dinding lagi aja dan ini kita pentokin gitu. Tapi biar enggak terlalu bosan lihat dinding, kita tambahin ambalan di atasnya untuk ee kita bisa personalize masing-masing eh anak kantor itu bisa taruh kayak foto-foto atau apa notes dari proyek gitu. Dan ya udah jadi sebelah-sebelahan aja ya bekerjanya ya. Enggak ada yang-adepan ya Mas ya. Iya. Enggak. Karena kita ngerasa kalau samping-sampingan rasanya lebih enak gitu tektokannya. Sementara kalau misalkan kita ada yang ee misalkan belum pernah satu proyek gitu, kalau kita pindah apa switch aja itu kan lebih enak rasanya apa untuk sharing satu proyek Benar. Oke. Nah, sekarang sisi sininya nih. Kalau ini apa nih Mas Fikra? Ini sebenarnya benda paling mahal di rumah ini. Yaitu buku-buku gitu. Jadi ya kita enggak terlalu suka ngumpulin barang yang gimana-gimana. Jadi mungkin harta yang paling berharga ya buku-buku ini sih di rumah ini. Kayak mau nyanyi tadi Mas harta yang paling berharga adalah keluarga. adalah buku-buku berti ini semua koleksinya ada di sini. Iya, kurang lebih dari ya mungkin dari sebelum kita lahir ini sudah ada. Oke. Nah, kita ngelihat sedikit ke bawah nih, Mas. Kalau untuk lantainya nih, lantai ini itu ee sebenarnya beton yang dicetak di di cetakan gitu terus kita balik sebenarnya gitu. Tapi cetaknya di sini. Oh, oke. Ukurannya juga cukup besar ya. Berapa ini, Mas? Kurang lebih mungkin seali sat satu kali sat. Iya 1 kali S. Makasih, Kak. Karena dia lebih bawel biasanya. Ha loh, Mas. Mau diperkenalkan enggak? Ee ini kakak saya. Halo. Lagi sibuk, Teman-teman. Mungkin mukanya lebih tua saya, tapi dia yang lebih tua. Nah, ke sini dulu nih kita. Oke, sini dulu ya. Jadi ini sebenarnya ruang komunal kecil buat anak kantor. Kalau misalkan baru sampai ke sini biasanya mereka nunggu dulu di sini suhu tubuhnya turun dulu, mereka nyantai dulu baru mereka masuk gitu. Nyantai-nyantai. Sama kadang kalau nerima paket atau cuma tanda tangan biasanya kita di sini aja sih. Tapi kalau misalkan untuk meeting kita lebih banyak sekarang gunain yang belakang atau yang di dalam gitu. Banyak ya tempatnya ya. Tergantung mood. Kalau bosan di mana ya? Lagi mood di sini di sini gitu. Dan ini nembus ke yang tadi depan lagi, Teman-tem. He. Jadi biar kalau misalkan anak kantor datang itu enggak harus ngeganggu e ruang privat yang di dalam. Jadi kalau kita masih belum siap, ya mereka langsung ke sini aja gitu. Oke. Dan ini ternyata cukup menarik juga, Mas. Ceritanya seperti apa nih, Mas Fikra? Eh, jadi sebenarnya rumah ini strukturnya itu rangka baja. Eh, dan tadinya kita sebenarnya pakai lantai kayu di atas ini, tapi karena ini outdoor jadi ya mau kita waterproofing kayak giman pun rasanya akan akan tetap kalah juga ya sama cuaca. Dan ya itu kan lumayan parah. Jadi ya akhirnya kita putuskan untuk ee dicor aja bagian ini untuk jadi teras di atas. Tapi untuk yang di dalam kita tetap pakai lantai kayu. Jadi ya kita karena banyak mencoba material si versi sel ini, kita coba bikin bungkusan untuk si AC ini gitu. Jadi ya udaranya bisa tetap jalan. Nah, kayak gitu. Jadi kalau lagi servis kita bisa buka ini aja. Tapi kalau misalkan mau ganti ini bisa tetap kita angkat ya. Beda emang ya kalau sekeluarga arsitek ya. Iseng semuanya bisa. Biasa kan cuman bapaknya aja atau anaknya. Ini semuanya arsitek soalnya, Mas ya. Tapi gimana tuh Mas? Aku pengin tahu deh. Kan sekeluarga arsitek nih. Pasti punya egonya masing-masing dong. Apalagi ini di rumah ini kan semuanya arsitek nih. Itu seperti apa pas lagi ngedesain kah atau kalau lagi ngedesain kita jelas pasti kita bagi-bagi part masing-masing ya. Misalkan ee kakak saya sama saya pasti proyeknya selalu beda. Ayah saya sama ibu saya proyeknya selalu beda gitu. Tapi kalau misalkan kita lagi ngobrol, kita bisa saling ngasih insight ke masing-masing gitu. Kayak gitu sih. Seru ya. Tapi kalau untuk rumah ini kan berarti Mas Fikra kan ini kan rumahnya sudah ada sebelum Mas Fikra lahir. Berarti Mas Fikra hanya bisa komplain pas sisa-sisanya aja ya? Oh jelas. Tapi dari situ kan justru challenge buat kita semua gimana caranya kita bisa berdamai dengan ruang-ruang ini gitu. Berdamai satu satu sama lain dengan kebutuhan dan keinginan kita masing-masing gitu. Iya. Lanjut ke sini. Boleh, boleh. Tapi ini sebenarnya ee kalau kita ceritain dulu ini tuh sebenarnya enggak kita rencanain pas e masih gambar gitu. Kita rencananya pas ini sudah mulai konstruksi. Oh. Kita ngerasa mungkin ya dengan bertambah umurnya anak-anak ini kita ngerasa kayaknya Bu Edi tuh perlu ruangan sendiri agar dia bisa lebih rileks gitu. Heeh. Sebenarnya pintu ini kita tuh awalnya expectnya ee si teman kita tuh beli si handelnya itu yang dua arah, tapi ternyata yang datang adalah satu arah. Tapi menurut saya itu challenge baru juga buat kita. Gimana caranya kita bisa berdamai dengan itu. Solusinya adalah saya tambahin pita aja di sini. Wah, akhirnya lebih simpel kan kalau rusak ya udah pita kita bisa beli di manapun. Dari hampers pun banyak gitu. Oke, jadi solusinya pita ya, Mas. Dan ternyata kepakai sih sampai sekarang gitu ya. Kepakai. Ini sebenarnya akal-akalan gara-gara banyak ngelihat ya foto-foto mobil balap itu banyak yang handlennya kan biasanya diganti tuh jadi strap kayak gini kan. Ya udahlah iseng-iseng saya ee bisa dijamah gitu dengan di rumah ya, di pintu rumah. Keren banget sih itunya. Oke gitu. Nah, ini adalah ruang kerjanya Bu Endi. Kalau anak kantor biasanya nyebutnya ini bukan ruang principal, tapi ini ruang BK. Karena tiap kita datang ke sini pasti kita bawa masalah. Berapa kali berapa nih ukurannya? Kurang lebih 2 * 2. Bisa jadi ruang kerja atau ee misalkan kita butuh ee quiet room untuk zoom. Kalau misalkan sendirian biasanya kita tukeran sih sama Bu Endi di sini kayak gitu. Oke. Dan ini masih ada buku-bukunya? Masih buku-buku semua. sini situ. Jadi kalau kita traveling sebenarnya kita jarang beli yang ya fashion mungkin satu dua barang oke gitu tapi biasanya setengah dari koper kita itu emang kita sengaja kosongin untuk beli buku-buku gitu terutama yang kalau kita cari di sini mungkin agak susah gitu jadi ya biasanya oleh wow dan itu timeless ternyata benarbenar oke kita lanjut lagi ke tempat lain boleh makasih ibu masik kita lanjut ke mana lagi nih kita lanjut ke e ruangan di atas Lantai dua berarti. Yes. Nah, kita ke atas. Tapi aku mau menaikkan tangganya juga nih. Ini berarti tangganya tiap orang lewat pasti tahu ya, Mas ya. Ada yang lewat. Gimana nih, Mas? Cerita tangganya pasti tahu. Karena kita juga berapa kali datang ke rumah desain teman kita ee Rahmat Indrani dari SPA. Kita juga suka banget sama cara dia pakai si tangga plat besi ini gitu. Jadi bisa enggak sih kita di rumah ini pakai juga plat besi ini gitu. dan turn out. Kita suka banget di rumah ini dengan anggap plat besi ini jadi penanda gitu. Kalau misalkan kita lagi tidur dan ada yang ke datang ke atas kita tuh bisa tahu gitu ada orang nih gitu ya. Kalau relingnya nih Mas kalau riling ya ini adalah hasil berantem kita sekeluarga. Ceritanya kenapa ada dua reling di sini. Jadi waktu itu saya kan yang gambar terus saya tanyalah ke orang-orang rumah. Ibu bilang kotak, kakak bilang bulat. Ya udahlah, saya hadirkan dua-duanya di sini. Dua-duanya enggak apa-apa. Malah tadinya saya pengin bikinnya. Cari aman, Guys. Karena saya paling paling muda di sini. Jadi, ya saya ikut aja dua-duanya. Akhirnya di kombinasi kayak gini juga oke ya ternyata. Oke. Jadi pas di atas ini kita bisa gini juga megangnya. Dan mungkin cerita sedikit kenapa kita biarin kosong kayak gini karena kalau misalkan kita isi full rasanya mungkin ruangan ini akan lebih kebek gitu. Iya. Dan juga kita juga punya pengalaman e tinggal di rumah nenek kita di Bandung, teling yang kosong kayak gini. Karena dulu waktu saya kecil, saya suka turunnya tuh langsung lompat dari sini Nah, itu teman-teman berarti tergantung menghuninya. Karena nih Mas, kita harus bahas Mas, orang banyak yang komen ini nih pasti emang enggak bahaya ya? Tenang Mas Pikra tuh dari kecil udah akrobat. Jadi diaak enggak masalah tadi Bu Wendy udah loncat aja dari sini gitu ya. Jatuh sakit. Tapi so far aman lah ya. seperti ini. Nah, tapi aku tuh salf sama ini, Mas. Ternyata di atas kita langsung ada area terbuka lagi dan cukup luas. Rasanya seperti di mana gitu, Mas? Nah, kalau misalnya aku lihat kan di rumah ini banyak sekali area terbukanya. Tadi ada di depan, di belakang, terus sama di sini. Untuk fungsinya beda-bedakah atau seperti apa? Sebenarnya kita enggak terlalu naruh fungsi yang pasti juga ya. Kita pengin rasanya sisa ruang hidup kita itu kita gunakan secukupnya aja. Sisanya kita ee kasih untuk alam lagi gitu. Jadi, ya membangun itu kan sebenarnya intinya juga merusak ya. Jadi gimana caranya kita memberi kembali ke alam tuh ya dengan nambahin tanaman-tanaman ini sendiri gitu. Dan menurut saya secara psikologis ee dengan banyak ketataan ini kita yang stres sama kerjaan itu begitu kita ee nyiram atau kita cuma duduk ngelihatin itu tuh udah bisa ngasihuksi stres. Iya mereduksi stres. Benar banget. Benarbenar ngelihat yang hijau-hijau alam kayak gini secara enggak langsung seperti itu emang ya. Oke. Dan di sini emang cukup luas juga ya. Tapi kalau misalnya kita lihat dari sisi sini seperti tidak di lantai du begitu Mas Fikra. Iya. Mungkin karena bangunan fing room-nya lumayan besar gitu jadi banyak banyak yang kita cukup-cukupin di bawah. Di atasnya kita bisa bikin ruang yang lebih lega gitu. Kalau di atas itu untuk istirahat aja. Kalau di bawah ya itu ruang produktif kita gitu. Tapi emang kalau misalnya tiap harinya kan ini buat ini kamar ya, jadi kita selalu ngelewatin ini gitu ya dan ngelihat ke arah luar ini karena semuanya full kaca juga di sini. Oke, sebelum lanjut ke sana kayaknya situ ada tersembunyi yang tadi udah sempat keion sih, Mas pas di bawah cuma kita belum lihat nih laundry area. Benar ya, Mas? Betul. Heeh. Ini tuh ee area ini sebenarnya bawahnya tadinya adalah ee kamar tidur ART. Sekarang kita convert jadi kamar nenek kita dan di atasnya itu memang dari dulu udah dipakai jadi ruang jemur ini gitu. Tadinya lebih terbuka tapi karena sekarang kita berhadapan langsung dengan e kamar tidur utama akhirnya kita e coba gunakan si versi sel ini nih. Versi sel ini kan biasanya dipakai untuk ee alas dari rumput di tetis gitu. Ternyata kalau mbak kita lagi nyetrika siang-siang di sini, dia tuh tanpa harus ada kipas lagi ini udah adem gitu. Karena ya balik lagi si versi S ini tuh ngasih ventilasi yang cukup baik gitu untuk usernya di sini. Oke, lanjut lagi kita. Jadi kalau ini kan sekarang sebenarnya tampak besar gitu kelihatannya seamless kan. Jadi ya kita sengaja sih penginnya kayak orang yang enggak tahu rumah ini tuh jadinya kayak menebak-nebak nih mana pintunya. Kalau lagi malam, kalau kita udah capek, kadang kita bingung nih, nih pintunya yang mana. Iya, benar ya? Benar juga. Gintung dulu kali. Satu, dua. Nah, itu benar Iya, tapi ini kalau dibuka yang bagian pertama ini adalah kamar mandinya. Oh, oke. Kayak gitu. Jadi, kamar mandi ini ee kita penginnya kecil aja sih. Karena kan balik lagi rumah ini kan lantainya pakai kayu. Jadi, akhirnya kita harus bikin race floor di sini. Oke. Dan itu kita waterproof ulang pakai membran itu area yang bisa basah. Jadi kalau kita turun ke sini itu udah harus kering sebenarnya. Nah, itu sebenarnya jadi apa ya perubahan cara hidup yang menurut kita sih baik banget ya karena kita jadi disiplin gitu untuk selalu ini bikin ini selalu kering kayak gus kering. Yes. Oke ini. Jadi yang sebelah kiri ini adalah shower. Benar dong shower. Jadi kurang lebih ini cuma 1 m * 1,5 m ya. Cukup untuk satu orang mandi aja gitu. Mirip-mirip sama kalau kita masuk ke toilet di pesawat. Oh kita enggak bisa komplain kan? Benar sih. Begitupun di sini dan cukup sih buat mandi satu orang. Berarti kalau yang ini cukup yang ini adalah WC-nya. Oh oke. Dipisah ya area kering dan basahnya juga. Yes. Walaupun ya sehari-harinya satu ruangan besar ini dipakai hanya satu orang gitu dalam satu waktu. Ee ya tapi kita pengin punya rasa yang berbeda lah kayak gitu. Terus juga ini yang bikin kenapa kita memutuskan untuk pakai mirror finish ini. Jadi ini sebenarnya cuma kaca biasa kita kasih kaca film yang mirror biar kalau lagi di dalam itu rasanya tuh enggak terlalu kebek gitu. Ee seolah-olah ruangannya jadi ada dua. Dan di sini ya udah dikasih cermin yang besar aja ya sama buat baik lagi biar ee cahaya yang masuk ini dari atas itu bisa ngasih pantulan sehingga cahayanya tuh bisa lebih ee spread gitu Benar. Kita ngomong cahaya dari atas nih. Kayaknya kalau dari mana ya bisa kelihatan semuanya ya? Jadi tuh nyambung Iya nyambung semua. Ada jendela tapi enggak semuanya bisa dibuka. Enggak semuanya bisa dibuka. Satu jendela dulu gitu. Karena ini kan balik lagi ini coba-coba kan. Nah, karena ini rumah sendiri akhirnya kita bisa leluasa nih. Cobacoba lah. Benar. Dan cara cara membukanya juga sepertinya cukup unik ya. Iya. Mau dicoba? Bisa dipraktikin di mana tuh? Bisa ee mungkin mungkin nanti di kamarnya Ibu kali ya. I nanti aja berarti karena aku lihat itu cara bukanya gimana ya. Sangat tricky. Mbak sebelumnya di sini ngerasa agak lebih panas enggak daripada di bawah? Iya sih. Iya sedikit lebih panas itu sebenarnya intentionally. Karena kita ee pengin di atas ini tuh kita pakai untuk istirahat waktu malam aja. Kalau mau istirahat e siang-siang mungkin ya kalau lagi sakit aja gitu. Jadi selebihnya kita emang dipaksa untuk ke bawah untuk kerja. Oke, ini kita mencari pintu lagi. Perjalanan mencari pintu ya. Ini bukan masih bukan ini. Iya, betul itu. Oke. Jadi baik lagi ini ee pintunya handless karena kita ngerasa yang perlu ngunci itu cuma orang dari dalam aja. Jadi kalau lagi istirahat aja ya, kalau misalkan kita lagi enggak istirahat memang sehari-hari ee sewajarnya kita buka aja gitu. Jadi biar udaranya tuh bisa sirkulasi dengan baik. Ini adalah kamar kakak saya. Jadi dia yang tidur di sini. Nah, sebenarnya karena ruangan ini tuh ruangan di tengah, jadi kan sebenarnya jendela dia tuh cuma di atas kan. Kita gak enggak kalah akal nih. Kita punya trik sebenarnya. Kalau dia lagi tidur siang, dia tinggal buka pintu ini aja. Jadi kalau dia tidur siang di sini sebenarnya dia punya view yang lebih luas daripada ruangan lainnya Oh, wow. Ternyata bisa dibuka juga ya. Padahal ini ukuran kamarnya berapa? Kurang lebih 2,5* e 3. Enggak terlalu besar ya? Cukup untuk satu kasur dan lemari. Udah cukup banget untuk sebuah kamar dan satu orang di sini. Oke. Nah, yang sebelah berarti kamarnya Mas Fikra sama berarti ukurannya juga ya? Sama. Ee dua kamar ini tuh e mirror sebenarnya. Oke. Warna spraynya aja guys yang beda ya. Personalityya beda ya. Cara menyusun bantalnya juga beda Oke. Kalau di sini ada cerita apa? Karena sedikit berbeda nih kalau ngelihat ke arah sini pun lain. Kalau di sini mungkin emang saya ya mau enggak mau emang didorong jadi satam gitu. Jadi saya harus punya jendela yang besar gitu. Curhat, Guys. Oke. Jadi kalau di sini ee siang-siang itu saya bisa buka ini ya. Kalaupun panas biasanya saya penginnya buka juga sih. Nah, ini tuh bisa dibuka jadi Oh, ya kita bisa minjam tamannya juga. Jadi kayak ee rasanya ruangan ini bisa lebih luas. Benar. Aku baru apa ngah nih pas dibuka beda ya rasanya ya langsung luas gitu langsung kamarnya tuh berasa sampai sana curang nih kamarnya langsung luas mungkin kalau tempat AC-nya juga kayak gitu ya Mas ya mungkin ini netizen ngelihatnya bakal aneh iya karena ada AC di atas kepala kan iya benar AC ini kan dia ngarahnya ke kaki kan di kaki itu kita pakai selimut gitu jadi kalau dia enggak kena kepala sebenarnya itu aman-aman aja kita enggak akan pusing gitu lebih pusingama kerjaan sebenarnya pada Mas. Oke, Mas kita lanjut ke depan sini nih. Yes. Nah, kalau di luar ini sebenarnya ini teras sisa gitu karena kita kan ee pengin patuh sama peraturan gitu. Jadi emang kita paksain ee enggak lebih dari GSB-nya. Jadi, ya sisanya itu balik lagi kita pakai untuk komunal yang ee mungkin suatu saat kita bisa pakai gitu. Tapi karang ini sih saya lebih suka untuk pakai berkebun ya. Jadi ee kayak ini kan ada bekas ada rak bekas rumah kita dulu. Nah, ini fungsinya sebenarnya agak agak samar-samar. Jadi sebenarnya kita bisa pakai itu untuk taruh tanaman gitu yang kecil-kecil untuk kayak ini kan ada kayak telang. Nah, ini bisa kita rambatin sebenarnya ke sini. Tapi sementara belum ada tanaman yang banyak di sini, ini tuh bisa saya pakai untuk akses kalau mau servis ke area talang. Oh, jadi bisa buat tangga. Bisa. Oke. Walaupun mungkin cuma saya doang mau ceritain sedikit dulu. Boleh. Ini tuh ee kita Kamboja ini sebenarnya yang sana itu kita udah punya dari dari saya lahir tuh. Tadinya ada di belakang terus kita pindahin ke depan. Tadinya itu tuh kita pakai sebagai ee alternatif tangga untuk ke servis gitu. Oke. Terus ya karena satu dan lain hal akhirnya kita harus pindahin dan kita tambah satu pohon di sini yang kita harapkan nantinya ini bisa jadi akses tangga saya kalau mau ke kamar. Lewatnya pohon ya, Mas ya. Kan beda emang kan aku tadi udah bilang dari kecil anaknya alem banget. Iya. Ang udah udah dia bisa lewat mana aja gitu loh. Oke ada lagi enggak? Aku mau tanya tadi belum sempat kebahas. Berarti sekat antar ininya loh. Sekat antar ruangnya seperti apa? Oh iya. Oh, i sekat antar ruang ini kalau bagian bawah itu kita pakai e multiplex. Multiplex kan rata-rata ee ukurannya 2,4 * 1,2 ya. Jadi ini kita tambahin mungkin tambahin sedikit gitu biar agak pas di 3 m. Multiplex ini 20 mili * 2 kita jadiin satu ee jadi 4 cm. Jadi sebenarnya semua ini tuh kayak pintu ee yang dijadiin dinding dan pintu yang jadi pintu aja gitu kan. Yang di atasnya kita pakai kaca. Kaca biasa, kaca transparan. E kurang lebih 10 mili. Jadi biar yang di atas itu tuh bisa ngasih cahaya. Karena sana kan utara ya. Jadi kalau matahari siang kan sebenarnya dia agak miring sedikit ke utara di waktu-waktu tertentu. Jadi dia bisa ngasih ee cahayanya tuh bisa sampai sini gitu. Jadi dia balik lagi kita enggak pengin rasanya dengan ruangan yang sekecil ini kita enggak pengin kerasa kebek gitu. Oke menarik ya. Oke kita gantian lagi sama Bu Wendy karena ini kamarnya Bu Wendy ya. silakan silakan masuk. Seperti apa ini, Bu? Cerita kamarnya beda sih sama kamarnya Mas Fikra tadi ya. Kalau di sini iya. Jadi saya ee selalu apa namanya? Sering jalan-jalan terus misalnya kayak ke Bali atau ke mana tuh kamarnya itu kayaknya menyatu dengan alam gitu. Jadi selalu lihat hijau. Nah, di sini saya justru ee pengin tahu saya sanggup enggak sih misalnya tinggal di apa namanya ee punya kamar yang hampir semuanya transparan ee dan bisa maksimum lihat ijaunya tapi enggak harus gede-gede gitu. Jadi ini juga kamarnya cuman ukurannya cuman 4* 4,5. Mungkin kalau di rumah developer itu kamar anak malah yang segede gini Benar, benar, benar. Tapi gimana caranya supaya maksimum? Jadi ini cuman ada tempat tidur, lalu lemarinya. Tadinya tuh kita mau ee pintu kayaknya jadi sempit gitu, sayang banget. Jadi sementara kita gantung aja dulu di sini terus dan sebagian besar yang itu di ditaruh di bawah. Oke. Jadi dibiarkan terbuka aja ya, Bu ya. Tapi salah fokus Bu, maaf. Aku hitam semua ya, Bu bajunya. Iya, itu ee karena malas mikir biasanya itu kalau hitam udah pasti cocok gitu warnanya. Enggak usah dimatching-macing lagi. Oke. Terus ada apa lagi nih? Oke, ini jadi ini ee bisa dibuka karena memang kita sisain masih ada teras sedikit di belakang supaya suatu saat kalau tetangga kita tiba-tiba bangun, kita masih punya jarak dan udaranya masih lewat gitu. Kalau tiba- udah dinding jadi rasanya sempit lagi gitu. Nah, ini karena dia hadap timur ee jadi kalau pagi di sini lumayan panas. Jadi kita biasanya tutup-tutup dulu tapi nanti kalau udah sore udah naik ke atas lebih adem ya. kayak gitu. Jadi ini semuanya kita pakai blind aja. Karena saya paling suka kalau malam itu nanti ditembak lampu dari bawah itu si daun-daunnya itu kelihatan jadi Oh, ada bayang-bayangnya gitu ya. Iya. Heeh. Dia dia e mantulin cahayanya dari bawah. Beberapa orang ngelihat ini kayak ngerasanya seram katanya gitu ya karena kelihatan semua. Saya malah justru kalau kita bisa ngelihat apa yang ada di luar, kita tahu dong kalau ada apa-apa gitu di luar itu lebih ini gitu. Karena ini blinds-nya juga enggak yang 100% tertutup gitu ya. Kalau dari sekarang aja ini tertutup tapi masih kelihatan tuh tertutup samar-samar. Sengaja dipilih yang kayak gitu. Ee tapi kalau malam kita udah udah tes ee kelihatan enggak sih dari luar samar-samar gitu ya ee siluet tapi karena dibantu sama pohon jadi lumayan privy. Heeh. Gitu kayak gitu. Tapi si sini full kaca, situ juga full kaca ya, Bu ya. Dan ini bisa dibuka semua kan? Bisa dibuka semua sebetulnya jendelanya. Jadi kalau kita kita buka full, kita lihatnya pohon-pohon aja semuanya gitu. Cita-citanya kan dulu selalu pengin tidur siang, enggak usah pakai AC bisa enggak sih gitu ya. Pakai pohon-pohon gini aja gitu. Adem ya, Bu ya? Adem. Maaf. Misalnya karena dari kecil saya dulu tinggal di Bandung selalu selalu ada hijaunya gitu. Jadi saya enggak enggak pernah bisa hidup di tempat yang enggak ada pohonnya Dan ini pohonnya tuh sampai atas di bawah dia ngasih view di atas juga ya daun-daunnya udah timbun. di lantai kita ke bagian daunnya kalau di bawah batangnya kan. Oke, kita mau closing sambil duduk santai di bawah. Oke, mari yuk. Oke, Teman-teman sekarang kita udah duduk bareng bareng Bu Wendi dan Mas Fikra. Wah, kita wah masih cukup terkagum ya dengan rumahnya ini dengan konsepnya yang beda banget dari yang pernah kita datangin juga. Sekali lagi kita terima kasih juga. Sama-sama. Nah, ini proses merancang atau mendesainnya ini seperti apa sih, Mas, Bu? Dari awalnya dulu itu kan karena tadi juga sudah sempat kita bahas bertahap ya. Ya, udah. Jadi, ee tadi mungkin seperti kita ceritain dulu tadinya ini rumah ee dari developer biasa gitu. Terus kita hidup bertahun-tahun em ketika anak-anak mulai gede, kayaknya mereka butuh space lebih banyak. Dulu kita pikir gimana caranya supaya bisa kita tetap tinggal di sini. Makanya waktu itu kita e kupas sedikit gentengnya, lalu kita e buat boks kayu itu di atas gitu. Karena kita udah tahu mau bikin kamarnya di atas dari situ. Tapi ternyata berhenti terus em setelah pandemi baru kita pikir lagi. Kayaknya sekarang saatnya ya karena kita pandemi semua pekerjaan ee apa berhenti atau slow down. Ee kayaknya rumah kita yang perlu kita pikirin ya. Ya udah kita kita kerjain deh sekarang gitu. Dan sempat juga kan ee karena keluarga arsitek semua dan tadi sempat dibahas sekilas gitu ya proses proses mendesainnya akhirnya membikin semuanya sepakat udah seperti ini aja itu kayak gimana tuh mungkin dari Mas Fikra deh mungkin enggak enggak banyak kayak kita harus ee sepakatin untuk gol gitu jadi kita selalu berujung di pertanyaan segini cukup enggak gitu jadi kalau semua udah merasa cukup oke udah langsung aja eksekusi gitu tapi kalau misalkan ada satu yang belum merasa cukup, biasanya kita ee oke mau di-improve kayak gimana lagi nih? Kayak gitu kurang lebih kayak gitu. Jadi kuncinya udah cukup atau belum gitu Yes. Karena seberapa cukup adalah cukup. Oh ya ya. Oh iya sih. Iya sih mikir dulu ya. Tapi iya benar benar benar. Karena kalau mau memaksakan salah satu kemauannya pasti kan enggak akan ketemu ya pasti ya. Iya mungkin tambahin aja seperti kamar-kamar yang di atas itu ya. Kita sengaja buatnya sekecil mungkin karena dulu budget pertama-tama terus kedua kita e mikir kalau orang tuh biasanya ngedesain kamar kadang-kadang dia pengin semua yang dia suka ada di dalamnya. Kalau kita kita balik jadi kamar itu cuman buat tidur atau istirahat. Kegiatan lain kita kerjain di luar. Jadi kamarnya enggak perlu gede-gede amat gitu. Karena kita justru kerja di luar dan justru jadi ketemu sama anggota keluarga lain gitu. Jadi enggak diam-diam di kamar semua gitu ininya. Oh iya ya. Ya. Ternyata di situ salah satu core-nya kenapa dibikin secukupnya itu aja ya, Bu? Ya, betul. Mungkin itu kenapa ee living room-nya jadi kita blongin ya. Karena kita ngerasa ee semenjak 2020 mungkin ee ruang tamu itu tuh mulai bergeser gitu, enggak lagi di rumah. Tapi banyak kalau kita perhatiin teman-teman kita itu ee mereka menjamu tamunya tuh di coffee shop terdekat gitu. Iya. Iya. Iya. Iya. Benar. Benar. Kayak gitu kan. Terus juga kita mikirin lagi sebenarnya inti dari rumah tuh apa. Kita ujungnya sepakat bahwa rumah itu bukan soal bentuknya, tapi meja makannya itu kita mau masak apa, siapa yang masak, dan siapa yang akan makan gitu. Itu yang sebenarnya ee esensi dari rumah kita tuh sebenarnya itu, gitu. Makanya makanya kalau dilihat si meja ini tuh kita bikin panjang gitu. Keren. Keren. Jadi intinya kita pengin ya rumah ini tuh sehangat mungkin bukan cuma buat kita, tapi mungkin buat teman-teman kita juga gitu. Keren, keren. Wah, keren filosofinya, Teman-teman. Wah, oke. Oke. Panjang tapi aku juga menangkap intinya dan ya udah karena juga sekaligus kantornya arsitek. Nah, ini misalnya ada teman-teman nih yang pengin didesainkan entah rumahnya atau mungkin e bisnisnya, dia punya apa aja, bisa ngontaknya ke mana tuh? Ee bisa DM ke Instagram kita di e juhara @juhara. Gitu. Oke, itu e Instagram mungkin ada apa lagi? TikTok apa? E mungkin website aja sih. website kita di juhara.com. Oke, jadi teman-teman cek aja di situ lengkapnya. Ee terus kalau mau tanya-tanya langsung juga bisa ya, Mas ya. Di situ juga ya bisa. Oke, e cukup sekian episode inspirasi kali ini. Terima kasih banyak sekali lagi sama udah boleh kita datangin dan teman-teman jangan lupa subscribe channel kita Wicak Mifta dan follow Instagram kita juga Wicakon Muftajana dan Instagram Inspiraum juga TikTok kita juga ada Wicak Mufta dan Inspira. Dadah terima kasih sudah nonton bikin pintu kaca aja dan langsung terlihat juga ya semuanya. Eh, Mas sor sor sor ya. Mungkin ini netizen ngelihatnya bakal aneh. Iya. I karena ada AC di atas kepala kan. Tapi saya masih hidup sampai sekarang entar entar aku tadi [Musik]
