Jungkat

Rumah Tropis Dengan Sejuta Kenangan | Inspirahoms: Rumah.Deana (YouTube Video)

  • 28/11/2025

Halo teman-teman, kembali lagi di channel Ucak Miftah. Hari ini aku lagi ada di Sel Bintana Sukabumi berkunjung ke rumahnya Ibu Deana Rianti. Nama saya Diana Rianti, lahir di Sukabumi dan ee menghabiskan sisa waktu saya di Selain Tana. balik [musik] ini tuh bukan rumah biasa karena menyimpan banyak sekali memori di atas lahan 3.000 m² dan kebagi di lima bangunan yang berbeda-beda fungsinya. Entrance masuknya benar-benar menarik banget karena kita harus naik ke atas sana dulu. He. Jadi ini ada berapa anak tangganya? Ee kurang tahu. Saya belum menghitungnya. Jadi pas kita masuk di sini aja udah disambut kan sama tanaman-tanaman yang megah ini. Nanti di dalam juga ada taman yang luas banget dan itu emang benar-benar berbagai macam tanaman. Tanaman kongea ini jadi salah satu ciri khas di rumah ini juga. Ini tuh yang menyarankan katanya arsiteknya Buimar tadi. Jadi ini tuh cantik banget tanamannya teman-teman. Lihat warnanya agak pink-pink gitu ya. Jadi menghiasi pintu masuknya. Dan semakin kita masuk ke dalam rasanya tuh enggak tahu ya makin tenang aja gitu kayak di belahan dunia yang berbeda gitu. Kalau aku ngerasanya di sini, ini kan sela bintana. Buat teman-teman yang belum tahu, posisi ada di daerah Sukabumi yang daerah atasnya juga. Di rumah ini benar-benar tanamannya itu banyak sekali. Semuanya masih tertata dengan rapi dan dengan baik. Dan bukan cuma rumahnya, tapi tanamannya tuh di sini juga banyak menyimpan memori. Jadi, tiap tanamannya tuh ada ceritanya gitu rata-rata. Nanti kita lihat cuplikannya dari Ibu Yanti ya. Rumah ini penuh kenangan ya. Kalau barang-barangnya itu kan barang-barang dari dulu yang saya kumpulin. Terus bunga-bunganya juga kalau saya ulang tahun tuh saya selalu sama anak saya bilang, "Mama minta bunga, bunganya mau bunga ini." Jadi kalau karangan bunga kan nanti layu ya. Nah, ditempel. Jadi saya ingat nih, oh itu bunga dari si itu, bunga dari si ini, bunga si ini. Gitu. Nama latin bunganya saya lupa, tapi siapa yang memberi dan pada waktu apa itu saya ingat penuh kenangan. Bahkan ada sampai sekarang itu ada wajan yang udah sompel. Terus orang-orang tuh selalu bilang, "Ih, kamu itu kok enggak dibuang?" Enggak, enggak akan saya buang. Karena ini dari mulai orang saya ngebangun yang kerja itu masak pakai ini. Saya ngebayangin mereka saya bisa punya rumah sebagus ini. Walaupun saya bayar mereka gitu ya, tapi mereka juga ngerjakannya dengan cinta. Jadi itu kenangan buat saya gitu. Berarti Ibu juga ee pecinta tanaman juga nih. Karena kita lihat semuanya tertata sangat bagus tamannya. Itu gimana, Ibu ceritanya? Karena saya dulu tinggal di puncak ya, dari mulai buka mata tuh udah yang dilihat tanaman. Nah, sekarang tanaman itu jadi keseharian saya ngurusin ngurusin tanaman itu untuk mengisi waktu. Tapi ada tanaman favorit enggak, Bu? Favorit saya kayaknya semua favorit ya, terutama saya suka tanaman yang bunganya warnanya putih. sekarang lagi tren bunga ini atau tren bunga ini? Enggak pernah ikut tren sih [tertawa] untuk saya semua bunga itu lihat dia tumbuh tunas, daunnya sehat, belum berbunga pun itu udah bikin senang gitu. Ternyata pas sudah sampai atas sini ngelihat ke arah sana tuh juga cantik banget ya. Kanan kiri tanaman terus tanaman di sini tuh subur semuanya rasanya kayak makin adem gitu. Ini kalau misalnya kalian lihat di sebelah sini kan ada kayak masuk gitu, ada kayak labirin itu tuh masuk ke area servis karena kayak yang tadi aku bilang di sini tuh ada lima bangunan yang berbeda. Apa aja tadi? Rumah utama, ada paviliun, ada ruang makan, ada apartemen studionya Bu Yanti, dan ada area servis bagi lima. Tapi pas waktu kita masuk ke sini belum kelihatan bangunannya di mana, belum. Nanti di kanan kiri. Jadi, pas masuk langsung disambut. Ini ada gerbang besar ya. Kalian akan menemukan banyak material alami seperti batu alam, kayu-kayu, semuanya nanti kita lihat di dalam ya. Heeh. Gerbangnya aja pintu gerbangnya gede banget nih. Wow. Welcome. Dan yang paling menariknya tahu enggak, Un, apa ini? Kan ada cerita dari Bu Yanti. Ternyata beliau pun tinggal di sini dari tahun 2009. Iya. Dan dari tahun 2009 sampai sekarang kalau kalian lihat semuanya masih sangat terawat tanamannya, rumahnya dan suasananya tuh masih ini loh kebawa gitu karena banyak ceritanya tadi itu. Ya, tinggal di sini dari tahun berapa berarti, Bu? Saya dari tahun 2004. Waktu itu sudah ada satu rumah kecil dalam proses pembangunannya itu sampai 2011. Karena saya memang senang jadi mandor, senang prosesnya, melihat prosesnya yang lama itu cut and fill tanah dan finishing ya. Kalau dikerjainnya semua rumah ini bersamaan karena memang tadinya ini kontur tanahnya tidak seperti ini ya, Bu ya. Dulu kebun sekarang benar-benar disulap jadi rumah juga. Tapi ada beberapa bangunan nih ya, Bu ya? Ada lima. Saya memang waktu itu maunya bangunan itu terpisah karena ee ritme saya dengan anak-anak itu beda, tidak saling mengganggu gitu. Kalau mereka bawa teman pun tidak harus di rumah utama begitu dulu. Oh, makanya ada bangunan-bangunan yang terpisahnya ini. Iya. Jadi dengan luas lahan 3.000 m² itu menurutku nih Bu Yanti jadi punya privilege khusus karena bisa punya area seluas ini yang menenangkan. yang katanya beliau juga ini jadi salah satu area favoritnya ketika lagi Padang Bulan. Kenapa? Karena di sini kan cenderung tidak terlalu crowded, tidak terlalu ramai. Beliau bilang salah satu yang dia suka itu ketika berdiri di sini melihat pantulan dari air, melihat rembulannya terpancar jelas dari bawah sini. Dan di sini kan juga enggak yang terlalu padat. Polusi cahaya dari luar sini tuh enggak banyak juga. Nah, makanya F-nya pun juga pasti akan syahdu banget sih. Aku mencoba membayangkan walaupun belum mengalami di sini ya. Dan terus ternyata ini kan ada kolam air untuk ikan dan teratai tapi di sini juga ada kolam renang. Jadi infonya Bu Yanti juga di selab tanah ini tanahnya cenderung kering sehingga ketika musim kemarau, musim kering yang panjang, air itu benar-benar cepat masuk ke bawah tanah sehingga tanaman-tanamannya bisa kering. Nah, makanya salah satu fungsi lain dari si kolam air ini untuk menampung air. Jadi kalaupun air lagi susah, tetap masih bisa diseramin, masih bisa si tanaman-tanaman ini jadi subur seperti yang teman-teman lihat sekarang. Dan ini di belakang ini kalau kita bilang belakangnya berarti ya. Belakangnya ini yang tadi Mifta bilang sebelah sini adalah area servisnya. Sebelah situ adalah apartemen studionya Bu Yanti. Itu benar-benar asik banget. Kenapa aku bilang asik? Karena kalau kita mau masuk ke dalam bangunannya disambut lagi sama kolam air. Jadi ada jembatannya dulu sebelum kita masuk ke dalam rumahnya. Terus ini kan memang lahannya 3.000 m per dan Bu Yanti sendiri juga cerita ya, beliau tuh suka tanaman-tanaman. Makanya di sini teman-teman bisa melihat tanaman yang sebanyak itu. Ada kamboja bahkan ada kelapa juga. Ini juga ada tanaman yang kembangnya putih benar-benar secantik itu semuanya termaintenance dengan baik. Rumput-rumputnya tidak ada yang terlalu tinggi. Oh ya, karena ada Mang Hendra yang membantu memaintenance rumah seluas 3.000 m² ini juga. Terus ternyata teman-teman, lahan 3.000 m² ini kan orang-orang cenderung bilang, "Wah, itu enak banget lahannya. Luas banget, tapi ternyata ada enggak enaknya." Ya nih ceritanya kayak gini nih. Kalau konsep rumahnya model jengki karena curah hujan yang tinggi. Kalau istilah Sundanya tuh model kandang kebo gitu kan. Jadi air hujan tuh langsung tercurah gitu, langsung turun. Kemungkinan untuk bocornya jadi kecil gitu. Karena rumahnya luas, otomatis kita perlu tenaga ekstra ya. Kaca-kacanya tinggi perawatannya itu kalau kita mau bersihin kaca itu harus pakai stagger banyak kaca. Nah, itu juga memang usaha ekstra. Dan ketika pertama kali lahan ini dibeli, sebenarnya pun kontur tanahnya tidak langsung berundak seperti ini. Butuh proses cut and fill yang katanya juga memakan waktu yang cukup lama. Cuman proses cut and fill-nya dan pemisahan zonasinya seperti ini tuh jadi bikin satu keseluruhan rumah ini tuh punya experience yang berbeda. Ketika kita masuk bahkan dari pintu depan tadi, Teman-teman kan mengalami nih naik dulu satu terus sampai ke area tamannya ini yang luas. Bahkan ini kita sebelum ke area pavilion dan rumah utamanya naik tangga lagi. Nanti naik tangga lagi. Dan itu memang dari awal sudah direncanakan sama arsiteknya Burin Mar tadi. Sehingga walaupun bangunannya terpisah-pisah kayak gini itu kasih apa ya pengalaman ya. Pengalaman benar-benar berbeda ketika kita mau masuk ke masing-masing bangunannya. Di belakang kita ini ada satu bangunan yang menarik. Ini adalah pavilionnya. Jadi di antara lima masa bangunan ini salah satu yang buat beristirahat ya seperti namanya ya. Oke sekarang kita berdua dan kita akan turin pavilionnya. Ini dia pavilionnya. Kalau kalian lihat di sini tuh kusennya semuanya pakai kayu merbau. Jadi agak kemerahan gitu. Dan ini tuh kan udah belasan tahun ya rumahnya dibangun tapi masih benar-benar kokoh, kuat, bagus. Cakep banget sih. Terus selain kita masuk ke dalam sini, ternyata di depan memang dibikinin ada area untuk duduk-duduknya. Heeh. Jadi bisa menikmati suasana di sekelilingnya ini ya. Iya. Dan karena ini emang temanya kan alam banget. Jadi kalau misalnya dari tadi kalian lihat tuh pasti ada perpaduan batu, batu alam, kayu. Bahkan sampai masuk ke dalam sini. He. Ini plafonnya juga pakai kayu. Kayu bengkirai. Kayu bengkirai. Dan di bagian dinding itu ada batu alam Karangem dari Bali. Dan emang cukup unik juga ceritanya karena di tahun segitu tuh masih boleh gitu batunya ini keluar dari Bali. Iya. Karena sekarang sudah enggak boleh ya batu Karang Asem yang dari Bali itu enggak boleh keluar dari Bali. Hanya boleh boleh [tertawa] hanya boleh dipakai untuk di Bali aja. Iya gak boleh. Saya kan suka Bali ya. Terus saya bilang sama arsiteknya Ibu Rini Maradi, "Rin, saya pengin pakai yang batu-batu itu loh, batu paras yang ada ukir-ukirannya." Terus Ibu Rini bilang gini, "Ah, jangan itu." Katanya, "Coba cari yang lain. Itu mah udah banyak yang pakai." Katanya gitu kan. Akhirnya Bapak tuh bilang, "Saya pernah lihat batu kuning." Katanya itu batu ternyata batu karang asem. Kita pakai batu karang asem sebelum batu karang asem dari Bali itu udah enggak boleh keluar lagi. Terus untuk layouting-nya di pavilion ini karena kan namanya juga pavilion, tempat untuk beristirahat sejenak dari rumah utama. Padahal rumah utamanya juga di situ ya. Cuman ini ditata cakep banget. Sini area untuk duduk-duduk, area seating aja, ngobrol-ngobrol, chatting di sini. Terus di situ juga ada lagi untuk area ngeteh ya, Bun ya, bersantai. Dan yang paling enak tuh walaupun udah masuk ke dalam ruangan tetap feel-nya tuh tetap outdoornya tuh dapat gitu. Jadi kalau kalian lihat di sekeliling kita ini emang kan full kaca ya. Jadi ke mana pun kita ngelihat itu tetap ketemunya hijau-hijau lagi, tanaman lagi, hijau hijau lagi. Sini juga hijau-hijau lagi. Dan menurutku ini kan banyak banget bukaan ya, jendela-jendela banyak banget. Cahayanya juga masuknya maksimal. Tapi enggak panas sih di sini karena kan adem juga, Teman-teman. Jadi pas gitu loh di sini tuh dipakaiin banyak kaca ya kan? Betul. Oke, sekarang kita ke sini nih. Ada apa nih? Layaknya area istirahat pasti ada area kamar dan juga kamar mandi untuk mendukung semua kegiatan kita di sini. Kita ke area kamarnya dulu deh. Waduh, masyaallah. Ini sih asik banget sih. Betah banget sih di sini kamar tidurnya. Jadi kasurnya ditaruh tengah-tengah. Hah? Kamu tahu enggak apa yang aku dalam ada dalam pikiranku ketika melihat kasur yang serapi ini? Rasanya pengin tidur terus dikelilingin sama taman kayak gini ya? Seperti yang di ruangan situ juga. Ini lagi-lagi dikelilingin jendela ya. Jendela dan pintu itu sebenarnya pada bisa dibuka semua loh. Bisa enggak usah dibuka aja udah adem. Kebayang kalau semuanya dibuka. Terus kalau misalnya sisi sini itu juga cukup menarik loh karena dia kan ini ngikutin bentuk atap ya plafonnya. He, jendelanya tuh juga yang bagian atas jadi enggak kayak persegi panjang gitu loh jendelanya. Ngikutin juga dikasih setset kain ini ya untuk aksen. Kain dari mana itu coba? Ee aku kurang tahu sih. Kain batik nih Lemarinya juga rapi banget karena emang udah cuma nyatu sama dinding sih. I dindingnya rata. Heeh. Rata jadi enggak ada enggak menemunin ruangan gitu. Apa? Sebentar. Apakah kamu notice juga untuk lampu-lampunya di sini pun juga diperhatikan sekali. Heeh. Tidak ditempelin di plafon, tapi dia dibikin menggantung. I kan karena plafonnya juga cukup tinggi sih. Yap. Jadi benar-benar ya rapi semuanya walaupun diekspos pakai kayu kayak gitu Bagus banget ya. Ini kayak Bu Yanti cerita beliau pun juga senang mandarin. Beliau sendiri yang mandarin semua proses pembangunannya dan jadinya makanya seantik ini. Tadi kan Ibu cerita suka mandarin ya. Berarti kalau untuk pemilihan materialnya apakah Ibu juga ikut memilih atau Iya? Send. Contohnya apa aja nih Bu yang dipakai materialnya di sini? Materialnya misalnya batu dari Padang untuk tangga itu saya sendiri yang pergi ke sana terus ada untuk ee kamar mandi pakai marmer Citat. Tapi marmernya itu bukan bukan marmer utuh. Sengaja saya beli marmernya yang pecah-pecah gitu karena nanti di sini pun akan dipecah. Untuk kayu memang dulu ada rekanan waktu di Kalimantan. Nah, saya minta sama beliau yang kualitasnya bagus e supaya tahan lama. Udara Selabintana tuh kan sangat dingin ya, jadi mudah mudah lembab. Kayunya itu yang betul-betul bagus. Saya senang lihat kayu itu gitu. Kalau boleh tahu kayu apa aja, Bu, yang dipakai? Kalau untuk kusen merbau Irian. Untuk atap Bengkirei. Kalau untuk lantai meranti. Kalau untuk deking kolam pakai kayu kayu ulin. Dan kalau kamar mandinya kalian masuk juga lihat lantainya itu kan semuanya juga pakai kayu di sini. Karena tadi ceritanya tuh biar enggak dingin. Y pagi-pagi masuk kamar mandi kalau misalnya pakainya keramik atau HT gitu kan dingin. Kalau kayu adem gitu. Ini juga cukup unik loh lewat kamar mandinya. Jadi dia ditutup pakai ini di tengah-tengahnya. Pemisa antara area basah dan keringnya. Coba kamu lihatin area situnya deh. Nih untuk area basahnya benar-benar ini semuanya pakai kayu ulin kan nih. Area showernya handle-nya pun di sini. Unik banget. Dan yang menarik juga ini dindingnya pakai marmer yang sengaja dipecah-pecah. Bentuknya seperti irreguler, tidak teratur. Tapi kalau udah dipasangin kayak gini terkesannya alami. Oke, kita lihat lagi rumah yang lainnya, bangunan yang lainnya. Oke. Oke, ini sekarang kita mau menuju ke ruang makan. Ruang makan. Kalau di sini mak. Halo, Teman-teman. Ini kita mau ngajakin Teman-teman tour lagi masa bangunan yang berbeda. He. Ini benar-benar didedikasikan untuk area makan. Nah, kalau yang tadi di pavilionnya itu kan di terasnya itu batu alam. Kalau ini apa? Ini plesteran aja. Plan aci bed. Tapi finishnya itu benar-benar halus banget. Dan walaupun udah sekian tahun itu semuanya masih terpreserve dengan baik. Dan untuk di area ini tadi kita dipersilakan untuk menggunakan sepatu ya, Teman-teman. Nah, ini yang menariknya ini walaupun kusennya udah dari yaitu tadi sekian tahun yang lalu semuanya masih mulus banget pergerakannya, flow-nya ya. Iya. Padahal biasanya kalau misalnya kayu itu tuh benar-benar agak tricky sih [musik] ya yang kita temui ya di rumah-rumah atau di vila-fila yang kita datangin. Ada aja kek yang seret, yang susah dibuka. Ini enggak ini smooth banget. Ini tadi kata ibunya udah dari dipasang itu enggak pernah diapa-apain. Masih kayak gini, Teman-teman. Nih mulus banget. Dan kalau kamu perhatiin nih, ini bukaannya tuh besar banget loh pintunya. Lihat. sebelum era modern seperti sekarang ya sebenarnya enggak yang terlalu jauh banget juga. Tapi ternyata arsitektur itu sepening itu ya. Kalau tidak direncanakan se ini pasti rumahnya ini juga beda hasilnya. Dan ini di area ruang makan ya ini dibikin memang cukup lega ya. Cukup untuk seating en orang. Dan ini ada lukisan-lukisannya Bu Yanti juga bahkan ada lukisan beliau di sini karena beliau juga salah satu penyuka art. Dan sebenarnya kalau di area makanan itu salah satu favoritku juga. Jadi pas tadi baru pertama kali datang kan kita diajak ke sini ya. Aku langsung merhatiin gitu. Kalau dari sisi sana lihat ke sini itu cantik, dari sisi sini ke sana juga cantik gitu. Perpaduan material yang dipakai itu tuh kayak paduadannya tuh cocok banget gitu di ruangan ini. Menatu gitu dengan nuansa alamnya juga menurutku. Dan kalau kita perhatiin selain ini area ruang makan juga ada pianonya di sini. Heeh. juga ada area karaokenya di situ. Berarti kalau bisa kita simpulkan ini salah satu area publik yang buat bersantai bersama, berkumpul, sharing, hangout bareng-bareng sama keluarga. Terus ada yang menarik tah, dari material tadi kan kamu udah bilang. Tadi aku pikir ini adalah batu alat, ternyata enggak. Ternyata ini adalah bata merah yang dipecah-pecah kemudian disusun lagi seperti ini. Sepertinya random, tapi tetap pas sudah jadi itu cakep banget. Untuk penyusunannya juga butuh waktu yang cukup lama dan ini salah satu mungkin yang memakan waktu lumayan lama juga dalam pemasangannya karena tukangnya juga harus jago dan telaten. Bu Rini itu bilang ini kan bagus katanya apa bata merah kelihatannya mudah tapi ternyata tidak semua tukang itu bisa sampai empat kali ganti tukang itu baru baru sesuai gitu dan sehari itu paling bisa selesai 1 m. Jadi ada di bagian sini, di situ, dan di bagian itu tuh yang areanya cukup besar. Jadi kalau misalnya kita lihat dari sini, dia kan full ya, tapi kayak disobek gitu. Di sini ada bukaannya menuju ke dapur belakang. Oke. Nah, ini area kamar mandinya. Toilet sih ya lebih tepatnya tuh cantik banget ya. Walaupun kecil tapi ya udah sesuai fungsinya aja. Biasanya kenapa ini dibagi dua? Karena ini ruangan yang terbatas gitu. Jadi kalau pintunya satu doang entar nabrak ke sana. Akhirnya dibagi dua gitu. Dan ini area belakangnya. Tuh kan dia langsung salf nih. Benar-benar menikmati enak bukan kayak gini dapurnya. Heeh. Ini untuk dapur bersih ya. Ini enggak juga kayak coffee corner gitu sih. Ada untuk baking-nya di bawah. Dan terus untuk sininya untuk yang masa besarnya ada kompornya, sinknya dan di belakang situ juga kelihatan ada area untuk laundringnya. Nah, ini kita masih ada satu masa bangunan lagi yang mau kita tunjukin nih ke teman-teman. Kalau ini rumah utamanya ya. Jadi kayak berundek-undek gitu. Tadi kan dari bawah banget tuh dari carport naik ke sini naik ini naik lagi. Kita lewat mana? Kok kamu lewat situ? Aku lewat sini. Lewat situ. Ya udah kita [tertawa] akan bertemu di atas nih di bagian terasnya. Lihat. Wah cakep banget. Nah ini dia rumah utamanya. Bangunan rumah utamanya. Jadi kalau diperhatiin dari tadi di setiap bangunan itu pasti ada sisi teras ya kan. Jadi ada emang yang area outdoor-nya lagi emang yang buat sitting areanya duduk-duduk menikmati taman area hijaunya. Oke, terus kemudian kita masuk dulu nih ke dalam sini. Ternyata pas masuk ke dalam sini kita masih terimpres lagi ya. Ini kan rumah tuh sebenarnya bangunannya memang tidak terlalu luas ya kalau kita bilang. Tapi lagi-lagi bukaannya tuh berada di sekeliling dari rumah ini. Kayak terasa luasnya tuh karena ada bukaan-bukaan ini sih. Jadi area dalamnya, area luarnya maaf kayak dibawa ke dalam. Iya. Wah, luar biasa. Dan yang paling bikin salah satunya yang bikin aku terpesona tuh ini loh. Semua materialnya itu material alami. Jadi nuansa naturalnya, nuansa alamnya benar-benar terasa masuk ke dalam sini. Heeh. Memang feelnya seperti kayak pulang ke rumah nenek gitu ya. Benar, benar, benar, benar. Kayak kita lagi ada di desa gitu, adem yang buat healing lah. Tapi emang di sini buat healing banget sih, menghilangkan stres. [tertawa] Dan di sini tuh kalau misalnya masuk langsung ketemu sama area satu area komunal besar juga di sini ada living ya ini ya. Ini area living. Ini area reading corner sebenarnya. Sama bisa dining juga sih sebenarnya di sini. Tapi diningnya di sana sebenarnya. Iya. Tapi kalau kita mau di sini juga enggak apa-apa kayak boleh. Kenapa aku bilang reading corner? Karena di belakangmu ini, H ini adalah rak-rak buku di dalam sini. Tuh, makanya bisa buat reading corner. Ini juga udah disediain. Ada satu buku, The Ultimate Container Garden. Tuh, bahkan bukunya juga garden. Tentang garden. Terus ada apa lagi? Nah, area sini ini kalau kita lihat juga untuk beberapa perintilan yang mempercantik rumahnya pun juga poteri seperti ini. Ini koleksinya juga cakep sekali. Mungkin kalau kita tanyain asalnya dari mana aja dijawab semua tuh entar sama Bu Yanti ya. [tertawa] Nah, kalau di sini ini tuh ada kamar tidur utama. He. Nah, di sini ada kamar mandinya. Tapi kamar mandinya ini tuh sebenarnya bisa dimasukin enggak dari kamar. Jadi pintunya ada dua. Ada dari sini sama dari sini. Yap. Nah, kalau dari sini langsung nembusnya ke kamar. Kalau untuk layout kamar mandinya tuh mirip-mirip sama yang tadi di pavilion sih. Nah, kalau untuk kamar tidurnya sendiri sebenarnya juga tipikal ya. Kalau ini tuh seperti yang tadi sudah kita review. He. Sama kurang lebih banyak penggunaan kayu. Sealingnya juga memang dibikin tinggi lagi. Ada kain batiknya lagi di belakang sini. Walaupun jendelanya hanya ada di sini sama sini. Cuman tetap kasih kesan luas sekali. Jadi ternyata pintunya yang di kamar ini pun juga menarik ya. Ini pintu kayu solid full. Sininya juga ada lis-lisnya, tapi yang di sininya divariasi sama ini kaca yang diwarna seperti ini dan ada kayak polanya, bentuk-bentuknya di dalam sini nih. Jarang kita lihat nih di rumah-rumah zaman sekarang ya. Kaca apa coba itu? Aku lupa nama kacanya mungkin teman-teman. Kaca patri bukan sih, Teman-teman? Nah, coba. Oke, sekarang kita langsung ke lantai duanya aja yuk. Ini kita memasuki area tangganya. Area tangganya aja tuh kayak udah area yang terpisah sebenarnya karena lantainya juga beda [musik] nih langsung dibedain kan dia pakai batu alam di sini tapi di sini tuh ada yang menarik juga lewatnya karena sebelum kita ke atas ke bawah itu ada gudang ya satu lantai yang agak diturunin ke bawah itu untuk gudang dan area tangganya ini tuh tangganya dibikin floating floating sehingga tidak terkesan penuh cuman ini aku suka sekali karena lagi-lagi ya bukaan-bukan di atas itu, di atasnya lagi. Yang bikin menarik itu ada aksen kisi-kisinya, baik jalusi di atas maupun di kisi-kisi di kanopi yang di luar tuh. Sehingga coba aku mendekat sehingga ketika waktunya sudah mulai berganti dari jam 09.00 pagi sama jam 12.00 siang pasti [musik] cahaya yang mantul ke dalam sini juga akan berbeda-beda. Sekarang kita sampai di lantai du. Satu-satunya lantai du di satu komplek rumah ini. Heeh. Nih aku udah memegang ini. Yuk kita buka. Apa ini, Teman-teman? Eh, tapi sebelum masuk ini loh. Iya, udah mau dibuka. Areanya juga cakep ya. Tetap didekorasi kayak gini ya. Ada cerminnya juga di sini. Oke, kita buka. Tada. Wow. Ini kamar tidur. Tapi ini adalah kamar tidur yang terluas. Terluas. Karena dari ujung sini sampai ujung sana. Entar kalau kalian lihat kamar mandinya pasti kalian wow gitu. Iya. Ternyata memang semua kamar atau semua ruangan lah ya di rumah di sini 3.000 m² ini semuanya punya bukaan semua Sana sini sana. Dan ini tuh feel-nya juga kerasa luas. Selain yang tadi kamu bilang luas secara area. Tapi secara ketika kita ngelihat ke atas juga sangat tinggi dan ke mana pun masuk ruangannya tuh rasanya tetap adem ya. Sama kayak di luar gitu loh. Jadi di dalam sini pun juga adem rasanya. N. Dan kalau misalnya kita lihat ke luar sini agak sedikit beda nih. Walaupun dia hijau-hijau, tapi dia udah kayak di bagian atas tanamannya gitu loh. Kayak lebih tinggi kita di Silakan coba kita lihat dari atas ini ke bawah. Wih, ternyata ini view kolam renang, Guys. Iya, kalau di sini dan tanaman-tanaman yang memang tumbuh subur semua. Bahkan nih kaktusnya. Ini kaktusnya dari bawah situ tahu sampai atas sini. Iya. Ya Allah. Udah dari tahun kapan itu? Heeh. Cakep banget. Enggak cuma di bawah ya, ternyata di atas ini juga ini ya. Kalau ini balkon ya, ada balkonnya. Jadi teknik kanopi yang dikasih kisi-kisi ternyata udah ada dari lama nih. Tuh. Iya benar. Dan di sini ininya batu. Itu juga batu. Ini kayu. Ininya kayu. Perpaduan materialnya tuh loh. Sama besi yang memang sudah mulai berkarat. Dibiarin aja. Bahkan yang di situ si penyangga kanopinya dari ini ada dari kayu ini tebal banget kayunya. Masyaallah sininya besi dan sengaja juga di tumbuhin sama tanaman-tanaman merambat. Ini salah satu contoh ini ya. Rumah yang tak lekang oleh waktu ya. Weh, kayak judul lagu entar. Nah, kalau di sini area untuk istirahatnya, tidurnya, terus di situ ada kayak sedikit area apa ya? Kayak living-nya ya Duduk-duduk untuk tempat bersantainya ada sofanya. Nah, ini kita masuk dikit ke sini ada koridor. Kalau ke sini itu ada walin closet. Dan ini sebenarnya enggak langsung bukaan gini, dia pakai sliding. D Oh. Dan dua pakai tinted semuanya double door ya di sini. Rata-rata double door tuh. Dan kalau kalian dari tadi perhatiin ini handel-nya tuh dari tadi loh, dari awal itu dipakai terus konsisten sampai di pintu ini pun dipakai. Ini handlennya namanya apa ya? Ini tembaga enggak sih? Tapi enak gitu dipegangnya gini pas sama tangan. kalau berarti kalau di sini emang khusus untuk lemari menyimpan menyimpan pakaian ya di area ini. Nah, tapi di sini nih yang fantastis ini bagus. Ini bagus banget sih. Kayak ini kayak kamar mandi kerajaan. Double door juga. Di sini ada dua pakai kayunya sama masih kayak tadi nih. Kalian kita house ini kayak house tour ya. [tertawa] Padahal ini kamar mandi, tapi di sisi sini pas masuk lurus dulu ke depan itu ada wasffel. Kebagi lagi areanya ke kanan sama ke kiri. Kamu yang ke sana. Oke. Kalau ke kiri sini kebagi dua juga. Di sini ada area showernya. Bahkan ini ada bukaannya gede banget. Jadi enggak tahu ya kalau misalnya Oh, tapi bisa dilihat orang sih. Mungkin kalau enggak diintip. Ya udah kita mandi aja di sini [tertawa] karena adem banget. Masih sama sih material yang dipakai. Showernya juga masih mirip-mirip lah. Nah, kepisah sama di sebelah sini ada area toiletnya nih. Kloset duduk di sini semuanya ada bukaannya ya yang sangat besar. Dan area sana ada apa tuh? Ada spesial banget sih menurutku di situ. Sini, Mas. Nih. Ternyata ini yang salah satu sumber suara yang dari tadi kita dengar nih. Lampu ternyata. Terus bawahnya ini yang istimewa. Ini adalah area jacuzi. Ini benar-benar dinaikin dulu ya lantainya. Dinaikin dulu untuk bisa naruh satu jagusi yang cukup besar seperti ini. Wow. Waduh. Itu aku ngebayangin enak banget He di situ berendam suasana temaram lighting kan terus ada bunyi-bunyi ini tinginging gitu. Pasti syadu banget sih teman-teman. Terus tahu enggak ini kan ada sekatnya yang aku kayaknya emang sengaja dibuat enggak terlalu tinggi sih. Biar misalnya kita masuk ini kan namanya kam tidur utama ya. Jadi misalnya kan mungkin sepasang suami istri gitu. Jadi bisa sambil ngomong ini, "Hei, lagi mandi ya gitu." [tertawa] Iya ya. Lagi mandi juga di sini ya. Siapa tahu lagi ngelamun di situ. Dan ada satu cermin besar di sini. Oke, keren banget sih kamar tidur utamanya jadi ruangan terfavoritku deh. Makna rumah buat Ibu apa? Rumah itu kalau untuk saya sekarang apa ya? Legacy saya untuk anak-anak nanti kalau saya jadi kalau saya misalnya udah enggak ada, dia lihat, "Oh, ini dulu mama lagi jalan di sini, mama lagi nyabutin rumput, mama lagi nyiram, mama lagi nyapu, gitu. Kenangan untuk [musik] anak saya. Oke, Teman-teman terima kasih sudah menonton videonya di house tour kali ini yang cukup berbeda ya. Y, semoga kalian menikmati videonya [musik] dan semoga dapat inspirasi. Ciao rolling action. Halo, Teman-teman. Kembali lagi diha ulangin-ulangin ada semut-semut. Oh, ya San. Habis ini diinsert aja yang pas ee Bu Yantinya cerita ee rumahnya dari 2009 terus historinya seperti apa, pembangunannya seperti apa gitu ya. Heeh. Oke.

Lihat di YouTube