RYZEN Z2 EXTREME NIH BOS | Unboxing MSI Claw A8 Indonesia (YouTube Video)
Ini dia sih paling tiba-tiba nongol handheld baru UMPC resmi baru yang ada di Indonesia ini dari MSI dan kabar baiknya chipsetnya juga udah pakai yang terbaru AMD Z2 Extreme. [Musik] Bismillah alhamdulillah kita ketemu lagi bareng gua Rom ya. Jadi kemarin gua iseng-iseng aja ya lagi ngelihat di e-commerce. Terus tahu-tahu ada nih nongol di depan gua lagi scroll-scroll ada MSI Cloud yang tipe A8 ini pakai AMD Z2xtreme. Nah, ini harganya kemarin pas gua beli itu ada di angka 14 jutaan. Ya, kalau teman-teman lihat ini udah versi resmi ya di sini tuh diimpor oleh PT Galva Teknologi. E, jadi garansinya harusnya kalau enggak salah MSI itu 2 tahun ya. Nah, boksnya biasa aja enggak yang mewah-mewah gimana gitu ya. Nah, dalamnya seperti ini ya. E, warnanya hijau nih benar-benar apa ya mentereng banget gitu ya. Tapi kita lihat nanti belakangannya. Selain warna hijau, dia juga ada warna ee polar ya, warna putih. Nah, di sini di paket penjualannya kita akan mendapatkan ini ada charger ya. Chargernya ini dayanya 605 watt. Oke. E, gua enggak usah buka plastiknya ya. Tapi di sini ada 65 watt dan enggak terlalu gede ya, cuman dia nyambung aja sih sama kabelnya USB C. Kemudian ada udah simpel banget sih, cuman ada ini doang. Start up guide dan quick guide. Ini dia device-nya nih. Btw gua tadi udah pasang anti gores ya. Ini gua pakai yang custom. Nah, jujur first impression gua megang si MSI Clow A8 ini menurut gua ini enak gede karena kan dimensinya 8 inci ya layarnya. Gua biasa pakai Ayo 3 e 6 bulan terakhir ya 6 bulan 3 bulan terakhir gua pakai Ioneo 3 nih. Kita coba bandingin ya. Nah, ini perbandingannya ketika dibandingin dengan Aya Neo 3 yang layarnya 7 inci tuh ya. Jadi bedanya lumayan jauh. Dan enaknya lagi rasio layarnya ini si MSI Clow A8 16 bing 10. Jadi lebih tinggi ya, kelihatannya lebih lega, lebih lebar, lebih luas. Tapi secara dimensi e handeld-nya sendiri sebenarnya enggak terlalu beda-beda jauh banget sih size-nya gitu ya. Paling beda sekitar paling banyak 35 cent lah gitu ya. Terus juga yang gua notice ini enggak terlalu berat ya, mungkin sekitar 700 gr bobotnya. Terus untuk materialnya sejujurnya menurut gua plastik yang dipakai ini kayak plastik yang feel-nya tuh rada-rada chep gitu ya. Kayak kesannya murah gitu ya. Makanya dia juga enteng. Terus juga kayak kalau diketok gini kayak rada-rada kopong gitu makanya enteng juga. Nah, logo MSI-nya di belakang nih ditaruh di sini naganya gitu. Untuk bagian belakangnya sih desainnya sih ya lumayan ee sangar ya. Terus dia juga ada tombol tambahannya di sini ya, di punggungnya. Grip-nya nah ini juga enggak terlalu gede ya gitu. Jadi ini gripnya tuh bisa dibilang kecil dan ee cukup mengotak. Jadi kalau kita pegang seperti ini tuh area megangnya itu sempit. Nih, area megangnya ini sempit. Biasanya kan kayak kalau kita megang stik itu kan ee cenderung membulat ya. Nih gua bandingin lagi deh sama Ayo ya. Nah nih kayak gini tuh ya. Ini membulat dipegangnya relatif lebih enak gitu di telapak tangan tuh lebih enjoyable. Nah kalau si MSI ini dia lebih kaku tuh lebih mengotak gitu ya dan juga lebih sempit lah gitu. Nah kayaknya sih kita harus terbiasa ya biar megangnya itu nyaman. enjoy gitu. Kipasnya ditaruh di belakang nih kanan kiri ya. Dibuangnya lewat atas. Kemudian di atas ini ada tombol power ya, ada di sebelah kiri ini nyatu dengan sensor fingerprint. Kemudian ada dua port USBC Thunderbolt dia support 40 GBPS tuh ya keterangannya. Terus ada slot micro SD di sini. Ada jack audio. Ada tombol volume. Ini tombol start. Tombol select. Ini untuk shortcut. ini untuk ee MSI Center dan ini tombol-tombol yang lainnya dia. Oh ya, btw udah pakai h effect ya untuk analog-nya dan juga untuk triggernya. Nah, triggernya juga relatif kecil nih tuh ya tombolnya. Jadi ini mirip kayak tombol stickbox series S atau Series X ya. Terus untuk tombol dipad-nya kalau menurut gua tombol dipad-nya ini rada keras ya. Dan bagian pinggir-pinggirannya tuh dia kan agak agak apa ya keluar gitu ya. Nih teman-teman bisa lihat ya. Nah ini terlalu tinggi sih menurut gua mungkin maksudnya biar film mencetnya itu berasa banget ya. Tapi ya ini balik lagi butuh adaptasi ya. Karena sebelumnya gua kan pakai Ay Neo 3. Nah, tombolnya seperti ini nih. Enak banget, empuk banget. Nah, sekarang harus pakai tombol yang seperti ini. Nah, tombolnya ini lebih keras dan lumayan tinggi. Kemudian speaker ditaruh di sini. Nah, sekarang kita e pengen lihat dulu ya. Ini kan dapat UI-nya eh UI dapat OS-nya itu Windows 11 ya yang home. Nah, di sini tadi pertama kali gua udah diminta untuk e update ada BIOS, ada firmware gitu udah di-update semuanya. Nah, ini kelihatan enggak ya warnanya hitam kayak gini. Jadi ini versi AMD software adrenalinnya itu versi 24.30.6. Btw, ini versinya lebih rendah dibandingo 3 gua tadi. Itu udah versi 25 kalau enggak salah. Padahal GPU-nya sama ya, Radion 890 M. Kalau dibanding Z Z Z Z Z1 ekstrem, Z1 ekstrem itu kurang lebih performanya itu naik sekitar 25%. Jadi memang enggak terlalu banyak banget ya. Kita lihat di sini ya, e di mode di menu performance kemudian di menu tuning. Di sini kita eh dedicated graphic memory-nya maksimalnya kita cuma bisa milih ee sampai dengan 8 gig. Jadi pilihannya ada 0,5, 1 gig, 2 gig, 4 gig, dan maksimal di 8 gig. Jadi enggak bisa lebih. E karena RAM-nya sendiri ini kan yang terinstall 24 gig ya, gitu. Jadi share-nya cuman bisa 8 gig aja. Nah, perbandingan di Ayaneo gua ya, Ayano 3 itu RAM-nya 64 gig dan gua bisa share sampai dengan 32 gig untuk V RAM-nya. Kemudian untuk MSI Center nih tampilannya seperti ini. Gua juga baru ngeh ya, baru ngelihat lah, baru nyobain tampilannya kayak gini ya. Menurut gua cukup oke, cuma bukan yang bagus-bagus banget ya. Lebih enak ngelihat tampilannya Steam Deck sih sebenarnya kalau menurut gua. Tapi ya not bad lah. Di sini ada modenya. Kita bisa pilih menu user scenario ini untuk nyeting TDP ya. Pilihannya itu ada tiga, AI engine. Jadi ini otomatis akan fluktuatif naik turun TDP-nya sesuai dengan kebutuhan si ee chipsetnya. Sesuai dengan disesuaikan dengan apa yang lagi kita jalanin. Apa kita main game, game enteng, game berat gitu ya. Kemudian ada mode endurance ini buat kayak utamain TDP-nya serendah mungkin dah gitu biar baterainya bisa awet. Kemudian ada manual. Nah, kalau manual di sini kita ada pilihan SPL, SPPT, dan FPPT. Nah, kalau mau kita set di sini SPL sih biasanya ya. Eh, paling mentoknya tuh paling rendahnya cuman bisa di 15 watt, tidak bisa lebih rendah lagi. Dan paling tingginya itu ada di 35 watt. Terus kita bisa atur eh fans speed-nya juga ya. Bisa atur advance di sini tuh bisa ngatur sama kayak yang ada di ROG Ali kurang lebih. Kemudian ada mode control. Ini ada dua pilihan aja. Gamead mode atau desktop mode. Kalau gamepad mode berarti kita mode yang akan siap main lah main game gitu ya kalau udah masuk ke dalam game. Sementara kalau desktop mode ini yang kita bisa e gerakin kursor mouse-nya itu pakai analog gitu. Terus ada news and update. Nah, ini buat ng-update ee kayak BIOS, firmware, ee software ya, VGA dan lain-lain. Kemudian di sini di menu setting ada pilihan AI engine kita mau aktifin atau enggak. Kemudian ada pilihan Mystic Light. Nah, Mystic Light ini buat lampu. Nah, kelihatan enggak ya? Mungkin kelihatan dikitlah ya. Ini karena di sini lampunya terang G jadi enggak terlalu kelihatan. Kita bisa pilih modenya steady, braid, color cycle, wave, dan info mode. Warnanya juga bisa kita setting, terus speed-nya bisa kita setting. Di sini total ada tiga profile untuk ngatur, tapi kayaknya kita enggak bisa ngatur ee tingkat kecerahannya, ya. Bisa ngatur, enggak bisa dikurangin atau ditambahin tingkat brightness dari si lampunya. Kemudian ada noise cancellation. Ini untuk mic ya. Oke, mikrofon dan juga speaker. Kemudian baterainya di sini ada fitur baterai master. Kita bisa set, 80, atau 100% untuk maksimum nge-charge-nya. Biasanya sih di 80 ya kalau mau aman gitu. Jadi biar baterainya awet. Terus ada fitur baterai calibration juga. Kemudian ada menu service. Ee kemudian ada menu general setting. Ini enggak terlalu penting-penting amat sih. Oke, kemudian untuk shortcut-nya di sini kita bisa lihat yang tombol yang sebelah kanan yang bawah. Nah, di sini kita bisa atur brightness, atur speaker, terus di sini ngatur TDP, e control mode-nya yang tadi desktop atau gamepad, terus bisa nge-limit FPS, bisa munculin keyboard, terus bisa munculin eh copilot. Terus bisa aktifin AMD, AFMF, ada fitur CPU boost, free memory. Nah, ini juga ada real time monitor yang mana ini biasanya kita pakai untuk ngecek suhu, ngecek eh TDP, ngecek frame rate gitu ya. Di sini pilihannya kita bisa naruh. Oh, ini ada di bawah ya. Oh, bisa kita atur tuh mau di kiri bawah, di di tengah, bawah, kanan, bawah, kiri, atas, tengah, atas, kanan, atas. Oh, oke. Ini misalkan gua taruh di kiri atas ya. Oke. Terus ini size-nya nih. Mau large, mau small, mau medium. Oh, ada yang di atas, ada yang ee ada yang horizontal, ada yang vertikal. Oke, sekarang waktunya kita main game. Kita coba yang pertama pakai EAFC 25. Ini di resolusi natif 1200p. Dynamic resolution-nya gua onin, cut scene quality-nya full, eh rendering quality, dan grafis yang lain-lainnya itu high semua. Oke, ini lagi loading. Sekarang kita set TDP-nya ya. Kita set manual eh di 18 watt deh. Nah, FYI karena ini drivernya mungkin belum yang terbaru, jadi F mainnya juga mungkin ya belum optimal. Biasanya kan kayak gitu. Harus nunggu benar-benar matang dulu. Nah, ini kita aktifin. Kelihatan enggak ya, Teman-teman? Nih, di sebelah kiri ya. Tuh, bisa ngelihat frame rate-nya. Oke. Oke. Ini frame rate-nya sih kalau main di resolusi natif terus dengan serba high ini frame rate-nya ada di 30-an. Yang mana buat main game bola ini kurang nyaman, kurang enak ya 30-an. Sekarang kita akan coba TDP-nya. Kita pakai yang AI engine. Nah, biar dia ng-set sendirilah. Oke. Tuh, langsung naik ya frame rate-nya. Tapi naiknya juga enggak tinggi-tinggi banget sih. Ini masih ada di eh 40-an dan power-nya itu ada di 20 watt gitu. Jadi kayaknya 20 watt ini buat IFC ini memang kurang nendang gitu ya. Sekarang kita coba lagi deh. Kita naikin lagi manual. Nah, kita naikin di 20 5 ya. Tuh, bahkan sekarang 20 di atas 25 watt ya. Ini frame rate-nya mentok masih di 40 fps aja. Jadi kemungkinan ya untuk game EFC 25 ini harus ada yang di-setting-setting lagi. Karena biasanya di Z1 Extreme aja enggak se rendah ini frame rate-nya ya. Ini kenapa bisa cuman 40 gitu? Padahal frame rate-nya juga enggak gua limit. Oke. So, eh mungkin nanti gua akan coba utak-atik lagi di video berikutnya. Nanti gua akan update, ya. Yang jelas untuk saat ini dengan driver tadi versi 24 sekian-sekian di main EAFC ini belum optimal ya frame rate-nya itu belum nyampai 60 fps. Selanjutnya ini gua coba game yang baru ya triple A nih Mafia Old Country. Ini game yang lumayan cukup melelahkan, merepotkan kinerja CPU dan GPU. Ini kita pakai eh resolusi natif 1200p. Kemudian grafisnya kita set di medium. Eh, upscaling kita pakai FSR yang performance. Frame ga-nya ini kita belum pakai ya, kita offin aja dulu. Oke, sudah masuk ke game-nya. Ini dapat 40 ya, 42, 39, 37 turun 34, 35. BTW, ini gua pakai ee TDP-nya set manual ya. Ini di 20 watt itu dengan 1200p. Oh, turun nih frame rate-nya ke 3028. Nah, sekarang kita akan coba nyalain frame gen-nya, ya. Oke, dengan frame gen yang nyala, langsung naik tuh frame rate-nya 40-an, 49, 47. Okelah, lumayanlah. Walaupun enggak tetap enggak sampai 60 ya, tapi di angka 40-an itu masih termasuk oke. Dan ngomong-ngomong untuk ee motor vibrasinya menurut gua ini biasa aja ya. E tadi sempat berasa itu agak sedikit sember gitu ya. Ya, kalau kalau gua bandingin sama e si Ay Neo 3 itu salah satu heptic feedback yang paling enak itu empuk, lembut. Kalau ini ya agak-agak kasar tapi bukan yang jelek banget gimana gitu ya. Menurut gua masih ya masih termasuk okelah sesuailah dengan harganya. Kemudian fannya RPM-nya ini ada di 6.300 ya gua set otomatis. Cuma ini enggak kedengar enggak kedengaran berisik sih gitu. Suara kipasnya ini masih aman banget. Sekarang game ketiga. Gua coba lagi-lagi game triple E ya. Ini Assassin Creed Shadow ya. Ini gua pakai resolusi natif di 1200p. Kemudian frame rate targetnya di 60 fps. Upsceller-nya gua pakai FSR yang mode performance. Terus untuk grafisnya gua setting-nya low aja. Nah, sekarang kita akan running untuk benchmark-nya. Kita akan pakai tdp-nya di ee AI engine ya. dia akan menyesuaikan. Nanti kita akan coba dua kali deh. Oke, nih udah selesai ya. Kita dapat average-nya di 29 FPS. Jadi ini batas aman ya. Sekarang kita akan coba lagi. Kita set manual ya. Kita set manual di coba di 25. Oke, udah selesai tuh average-nya naik ya dari 29 sekarang jadi 32 fps. Karena memang pada dasarnya game-game yang gua coba ini adalah game-game baru, game triple A yang memang berat gitu ya, mengutamakan grafis gitu. Jadi memang wajar. Ditambah lagi menurut gua ini harusnya drivernya nanti akan lebih matang lagi seiring dengan e makin banyaknya device dengan e Z2 Extreme itu bermunculan. Karena sekali lagi gua pakai di 3 itu pakai HX370 Ryzen 9 itu sudah versi 25 ini masih versi yang 24 gitu. Jadi, gua belum bisa ee menyimpulkan untuk saat ini karena gua yakin performanya belum benar-benar keluar, belum benar-benar optimal. Gua pengen coba untuk speakernya ya, kita setel di YouTube. Kita naikin lagi ya. Ini 80. Sekarang kita coba maksimal 100. Oke, menurut gua speakernya ini termasuk enak ya gitu. E cukup detail cuma memang volume maksimalnya itu enggak yang lantang banget, yang enggak gede-gede banget gitu ya. Tapi dari yang gua coba barusan, kalau kita set ke 60% aja volumenya itu udah cukup banget buat kita main sendirian ya. Terus satu lagi info terakhir yang mungkin mau gua sampaiin di sini adalah ini kan baterainya gede ya, enaknya 80 watt hour. Jadi kurang lebih sama kayak ROG Lix. Dengan baterai 80 wat hour ini kalau kita main di tdp antara 17 sampai 20 watt 1 jam itu berkurang sekitar 30 sampai 35% untuk main game triple A dengan brightness eh layarnya itu sekitar 50% lah kurang lebih di setengah ya. Jadi kalau kita main game triple A dengan TDP tersebut 17 sampai 20 kurang lebih ya kita bisa main 3 sampai 3,5 jam yang mana udah enak banget sih menurut gua itu udah cukup banget ya ee durasi segitu. Kalau seandainya kita main di TDP lebih rendah lagi di 15 watt itu harusnya apalagi kalau game-nya game-game ringan, game indie itu harusnya bisa nyampai 4 seteng atau bahkan 5 jam kali ya.
