Jungkat

Samsung Seri A Terbaik 2025: Review Galaxy A56 5G (YouTube Video)

  • 01/04/2025

Ini adalah Samsung Galaxy A series terbaik di tahun 2025. Iya, Samsung Galaxy A56 tentunya kalau enggak tiba-tiba Samsung ngeluarin lagi Samsung Galaxy A7 series ya. SOC-nya lebih kencang, lumayan jauh dibandingkan pendahulunya. Charging sekarang enggak cuma sampai 25 watt, ini udah seort 45 watt. Body jadi lebih tipis, bobotnya lebih ringan, sementara layarnya sedikit lebih besar. Fitur AI-nya juga meningkat ya. Jadi lebih banyak lagi sekarang nih ya. Update Android jadi enam kali. Enggak cuman empat kali seperti yang dulu ya. tentunya berbagai fitur unggulan Samsung di OneUI7 juga tersedia langsung di Galaxy A56 ini. Frame-nya tetap metal, back cover tetap pakai Gorilla Glass. Oke, langsung aja kita kupas tuntas smartphone yang satu ini. Hei, stop dulu. Sebelum kalian tulis komentar, ya. Biasa kan cepat banget tulis komentar, ya. Sebelum kalian tulis komentar, nanti cek dulu hasil pengujian performance-nya seperti apa. Lalu cek juga harga benarnya di toko online itu berapa. Karena kita akan main harga resmi di sini. Tapi kalian cek harga benerannya berapa dan perhatikan detail kecepatan charging-nya. Oke. Nah, sekarang kita mulai. Galaxy A56 ini adalah smartphone yang pasti diposikan sebagai senjata andalan Samsung untuk kelas menengah atas. Biasanya A5 sekian itu bisa dikatakan allrounder yang sangat menarik dengan kemampuan yang oke banget dan kamera yang mumpuni. Jadi emang cukup sulit untuk tidak merekomendasikan Samsung Galaxy A5 series ya. Tapi apakah itu berlaku juga untuk Galaxy A56 ini? Nah, coba kita langsung mulai aja bahas mulai dari paket penjualannya yang seperti biasa tentunya enggak ramai-ramai banget isinya ya. Di dalamnya itu ada unit smartphone, lalu ada kabel USB C2C, sim tray ejector, dan paket dokumen. Ini standar Samsung banget. charger pasti enggak ada di sini ya. Dan sayangnya di sini enggak ada bonus charger juga untuk melihat smartphone ya seenggaknya di awal rilisnya. Tapi ya kalian cek aja promo-promonya seperti apa dan ya untuk pastinya cek tuh entar harganya di belakang ada kok ya beserta promo-promonya juga. Tapi sekarang kita lanjut ke desain ya. Smartphone ini juga pakai desain key island yang terlihat di area yang cembung di sekitar frame itu ya, di sekitar tombol, power, dan volume. Jadi ini bukan yang benar-benar bisa dibilang serba flat ya. Nah, untuk frame ini pakai metal ya. Ini pakai metal. Sementara untuk body belakang ini pakai kaca glass. Ini Gorilla Glass Victus Plus. Iya. Untuk warna ada awesome pink, awesome gravite, awesome light gray dan yang kami pakai ini awesome olive ya. Agak kejau-hijauan gitu. Dimensinya tuh tinggi 162,2 mm, lebar 77,5 mm, dan ketebalan di 7,4 mm. Ya, bobotnya ada di kisaran 198 gr. Masih terbilang cukup tipis dan enggak berat juga karena udah di bawah 200 gr. Ini kalau dibandingkan dengan Samsung Galaxy A55 ini lebih tipis 0,8 mm. Ini lumayan jauh ya dan lebih ringan 15 gr lumayan ya. Nah, untuk rating ketahanan dia pakai IP 67 yang berarti kedap dari debu itu enamnya ya dan tujuh berarti dia tahan kecemplung dalam air. Memang bukan IP68 yang tahan kecemplungnya lebih lama tapi sebetulnya enggak jauh beda lah antara 67 dengan 68. Yang penting kalau kita kehujanan gitu ya atau lagi megang HP diceburin teman ke dalam kolam renang masih aman yang satu ini. Tapi jangan disengajain dipakai berenang ya atau ah saya mau underwater photography jangan. Atau wah saya mau browsing sambil e mandi gitu ya. Jangan. Bukan untuk itu sebetulnya tujuannya. Oke sekarang mari kita cek body smartphone-nya ya. Di kanan ada tombol power dan volume up and down. Di atas ada mikrofon. Di kiri itu kosong. Di sisi bawah ini adalah SIM tray dengan dua nano SIM. Heeh. tidak ada slot micro SD di sini. Lalu ada mikrofon, USBC, dan speaker ya. Sini terlihat ada beberapa tab plastik ya di antena ini. Ini merupakan area tempat antena. Ini ciri khas smartphone yang frame-nya metal. Nah, untuk speaker memang sekilas cuma ada satu, tapi sebenarnya kan ini ada dua yang kita bahas nanti speaker keduanya di mana ya. Kita beralih ke sisi depan. Ini adalah layar 6,7 inci panel Super AMOLED. Berarti ini lebih besar sedikit dibandingkan Galaxy A55 yang pakai 6,6 inci. Ya, jangan komplain. Kenapa? Semua orang bilang bahwa di pasaran itu yang diminta adalah layar yang lebih besar lagi. Untuk yang minta aduh dikecilin dong, dikecilin dong, mohon maaf. Ternyata berdasarkan survei pasar yang minta layar lebih kecil tuh terlalu sedikit. Yang paling banyak adalah yang minta layar lebih besar lagi. Resolusinya full HD plus 2340 * 1080 piksel, ya. Enggak burik. Sama sekali enggak burik. Aduh, jangan mengada-ngada l ya. Beda-beda tipis doang sama yang lain tuh enggak terlalu jauh beda rasanya. Refresh rate up to 120 Hz dan ini adaptif. dia pakai Corning Gorilla Glass Victus Plus sebagai pelindungnya juga ya. Jadi depan belakang pakai Corning Gorilla Glass Victus Plus. Untuk brightness diklaim sampai 1200 nit. Nanti kita lihat biasanya tuh enggak pernah nyampai ya di HP-HP lain tuh enggak nyampai. Nah, kita coba dulu untuk indoor. Brightness-nya itu sekitar 450. Ini indoor ya. Kalau untuk outdoor kita ukur ternyata memang nyampai 1200 nits. Luar biasa. Ini sesuai dengan klaimnya Samsung. Jadi Samsung ngeklaim bukan cuma satu titik kecil doang ternyata ya. dia ngeklaim sesuatu yang bisa terukur dengan mudah. Lalu untuk color gamut ada pilihan natural dan vivit dengan opsi pengaturan tingkat vivitness untuk mode vivit. Ya, kenapa ada itu? Karena Samsung tuh sebetulnya sekarang menawarkan standar yang sedikit lebih natural bahkan di mode vivit. Tapi banyak pengguna lama yang protes maunya tuh lebih vivit lagi. Kalau enggak ngerti vivit berarti warnanya lebih keluar lagi, lebih genjreng lagi warnanya. Jadi ada slider. Kalau mau warna seperti Samsung zaman dulu, silakan geser ke kanan. Nah, nah sekarang kita coba lihat ya. Kalau di mode natural itu gamut coverage-nya ada di 98,8% sRGB dengan gambut volume di 111,1% sRGB. Nah, kalau di model Vivit di kondisi standar ya atau vivitnessnya di paling rendah, Gambut Covers ada di 99,6% SRGB dengan volume di 125,8% sRGB. Nah, kalau vivit listnya diatur manual ke tingkat paling tinggi, gamut covers ada di 100% sRGB atau 93,5% DC IP3 dengan gambut volume di 150,9% sRGB. tinggi banget ya atau 106,9% dc3. Nah, untuk bezel layar ini bisa dikatakan belum yang super tipis lah untuk kas harganya ya. Basel bawah layar juga sedikit lebih tebal dibandingkan yang atas. Tapi secara umum kanan kiri ini simetris. Kalau yang nanya kenapa, ya jelas ini untuk melindungi layarnya sendiri. Karena semakin tipis itu basel, layarnya akan semakin tidak terlindungi. Oke, lanjut. Ada fingerprint scanner juga di layar sini ya. Lalu ada earpiece di basel atas layar. ini juga berfungsi sebagai speaker kedua dari smartphone ini. Jadi emang dua speaker ya. Kalau suara yang tawarkan memang udah terasa kelas atas ya. Udah mantap nih. Ada sedikit bass walaupun bukan yang mendentum ya, tapi ah mencukupi udah kedengaran ya. Mid dan trble jelas dan rapi. Volume suaranya juga bukan yang super lantang banget tapi udah oke banget. Nah, lalu untuk kamera selfie itu 12 megapel. Nah, loh turun dong dari A55. Kan kalau A55 pakai selfie 32 megap. Tapi menurut Samsung, justru kamera ini yang ditingkatkan kemampuannya cukup jauh. Nanti kita bahas lebih lanjut ya. Kamera ini untungnya ditempatkan di punch hole. Punch hole ya, di area tengah atas layar bukan pakai notch. Perkaman video sampai 4K 30 fps. Tapi sayangnya enggak ada opsi untuk 1080p 60 fps. Dan yang satu ini racanya turun sih dibandingkan A55 yang bisa 1080p 60 fps. Menariknya kamera sat ini sudah mendukung perekaman video HDR. Jadi dia mirip seperti yang seri S. Kalau yang SS itu udah pasti bisa HDRHDR. Oke, kita beralih ke sisi belakang. Kamera utamanya itu punya setup triple kamera yang disusun secara vertikal dalam satu kamera bump ya. Yang jujur aja kalau menurut saya ini terinspirasi. Bukan sama persis tapi terinspirasi harusnya kalau Samsung terinspirasi dari fault-nya sendiri karena bentuk bumpnya ya siluet bumpnya seperti fault walaupun kalau fault memang ada ringnya. Kalau ini ringnya enggak ada. Nah, kamera pertama adalah 50 megapel main kamera bukan 1,8 auto optical image stabilizer. Standar lah ya. Pasti ada. Berekaman video ada 10860 dan ada 4K 30 fps. 60 fps belum ada untuk 4K ya. Dia mendukung perekaman video HDR10. Wah mantap. Lalu ada 12 megapel ultra wide bukan F2.2 berkembali video sampai 4K 30 fps. Dan ada kamera bonus. Untungnya ini bukan 2 megapel makro ya, ini 5 megapel makro. Masih lumayan lah yang satu ini. Kemudian ada LED flash di sebelah kanan kamera bump ya untuk fitur-fitur. Nah, ini sih banyak banget ya. Dibaca deh dibaca aja deh. Jangan sampai saya yang bacain. Kelamaan nanti videonya. Oke, kita lanjut lagi ya untuk spesifikasi internal SOC menggunakan Exyos 1580. Bu, jangan, jangan. Perhatiin dulu nanti performance-nya ya. Jangan protes dulu. 1480 aja. Kami sebetulnya udah cukup happy. 1580 nanti ah nanti nanti kita lihat ya. Nanti kita lihat. Ini adalah tentunya penerus dari Xnos 1480 yang dipakai di Galaxy A55 tahun sebelumnya ya. Fabrikasi sudah 4 nanomet. CPU-nya itu ada satu Cortex A720 di 2,9 GHz, ada 3 Cortex A720 di 2,6 GHz dan ada 4 Cortex A520 di 1,9 GHz. GPU-nya pakai Xlips 540. Sebentar. Xlipse. Berarti ini masih pakai RDNA juga ya yang dari AMD itu ya. Hmm. Nanti kita lihat performanya seperti apa ya. Untuk RAM dan Sorus ada tiga pilihan 8128, 8256, dan 12256. Nah, yang kita tes ini yang 8256. Jadi, ada kemungkinan kalau kalian pakai yang 12256 performance-nya bisa sedikit lebih tinggi. Oke, untuk RAM dia pakai LPDDR5 dan storage-nya tentunya sudah UFS 3.1 ya, bukan 2.2 ya, 3.1 udah lebih modern. Dia sudah support RAM plus sampai dengan plus 8 gig walaupun menurut saya enggak usah dipakai, enggak usah, enggak usah, biarin aja, biar normal aja. Matiin aja tuh RAM plus-nya ya. Dan di sini tidak ada dukungan penggunaan micro SD ya untuk smartphone ini seperti kita sudah bahas tadi yang sebenarnya adalah satu hal yang sudah wajar ya karena HP-HP kelas atas yang sampai 2 pan juta juga laris manis laku keras sampai ngantri-ngantri tanpa micro SD. Kemudian untuk baterai 5000 mAh dan mendukung charging sampai ya akhirnya 45 watt. Ya memang belum setinggi charging di HP lain di kelas harga ini tapi dia paling tidak sudah menawarkan yang paling kencang yang dimiliki oleh Samsung saat ini. Untuk sensor ini sudah seperti flagship ya, lengkap banget. Dibaca aja ini ya. Lengkap banget. Ini udah kayak flagship banget sih ini ya. Untuk kontivitas tentunya udah 5G, 2G, 3G, 4G, 5G bisa semua. Dan eIM tentunya bisa juga. Wii-nya udah bisa WiFi 6. Bluetooth-nya versi 5.4 udah support audio Codex SBC, AAC, APX Audio, LDAK, dan SSC tentunya bisa ya. USB tentunya udah dan karena ini seri mid ya tentunya standarnya USB 2. Jadi jangan minta ada dukungan display output dari USBC ini. Walaupun tidak menutup kemungkinan kalau kalian pakai kabel-kabel spesial tertentu ini bisa untuk menampilkan display di layar. Untuk keamanan dia pakai inisplay fingerprint scanner dan ada face unlock juga. Untuk paket keamanan. Nah, ini sih aduh capek banget nih kalau mesti dibahas semuanya. Ini ini lengkap banget ya karena dia punya Samsung Nox yang lengkap ya. Ada Nox F, ada Nox Matrix, ada Secure Folder, ada auto blocker juga ya. Nah, kalau secure folder itu biasa untuk ngamanin file atau aplikasi jadi enggak bisa dibuka dengan sembarang orang ya. intinya itu ada sistem di dalam sistem ya, sebuah folder yang disure yang kalian bisa nginstal aplikasi atau naruh file di situ. Jadi kalau toh HP kalian dicolong untuk buka folder itu dan melihat apa isi dalamnya harus ngisi password lagi. Cocok nih buat menyelamatkan e-banking, e-commerce ya atau file-file tertentu kalian. Paham dong? Lalu untuk auto blocker ini bisa diaktifkan untuk menjaga smartphone dari ancaman keamanan. misalnya untuk blokir instalasi aplikasi file lewat APK ya yang biasa dilempar-lempar di WhatsApp itu. Nah, cocok tuh buat yang enggak paham-paham amat hidupin aja nih ya. Jadi nanti kalau tiba-tiba muncul HP tek diingetin, "Hei, jangan di-instal gitu ya." Bahkan dia bisa blokir akses lewat USB ya. ya kan kadang-kadang ada tuh ya banyak nge-charge-ngechars main colok aja USB gitu ya untuk nge-charge sementara gitu ya supaya tidak terjadi penyalahgunaan dari perangkat yang ngecharge kalian yang mungkin aja bisa mengakses itu bisa diblok. Kemudian ini menarik ya ada color ID dan spam protection. Ini tersedia juga di sini untuk filter panggilan telepon yang masuk. Jadi kita enggak usah nginstal aplikasi pihak ketiga ya. Lalu ada juga namanya private share. Jadi kalau kita mau nge-share file itu bisa lebih aman. ada perlindungan supaya file-nya tidak bisa dibagikan ulangi. Iya. Jadi, kita bisa ngasih ke orang itu, tapi orang itu enggak bisa bagi ke tempat lain dan kita juga bisa ngasih ke orang itu dalam jangka waktu tertentu doang. Jadi, orang itu bisa ngelihat cuma dalam jangka waktu tertentu bisa. Nah, untuk OS dia udah One UI7 dengan basis Android 15 dengan update-nya itu dijanjikan 6 kali. Kepanjangan enggak sih? Tapi enggak apa-ap ya. Security update juga 6 tahun ya. Nah, untuk always on display atau AOD tentunya ada dan ini ya tentunya always on bisa ya benar-benar always on. Untuk intelligent features tentunya ada banyak di smartphone ini dan ini katanya lebih banyak dibandingkan yang ada di Galaxy A55. Ada circle ters object eraser, AI select, ada best face juga ya. Ya, itu yang memotret beberapa gambar sebetulnya. Lalu kalian bisa milih muka yang mana yang lebih beres di situ ya. Mungkin ada yang ngedip, ada yang enggak ngedip. Tinggal dipilih aja angin seperti apa. Lalu ada auto trim yang bisa memotong video yang kita rekam secara otomatis untuk mendapatkan bagian-bagian terbaiknya. Jadi langsung jadi video tuh jadi tuh. Lalu ada juga fitur seperti custom filters dan read allow. Bixby dan Gemini juga tersedia di sini ya untuk asisten digital di smartphone yang satu ini. Nah, secara standar ada beberapa aplikasi bawaan juga yang turun dan diinstal di smartphone ini. Tapi ini merupakan aplikasi milik Samsung sendiri. Sementara kalau ada aplikasi pihak ketiga ini kalau dirasa tidak dibutuhkan dengan mudah bisa kita hapus kok. Aman. Lalu fitur baru dari OneUI 7 seperti now bar itu juga udah ada di sini tampilannya keren banget ya. Kita bisa manfaatkan ini untuk penampilan notifikasi dari beberapa aplikasi tertentu di lock screen dalam bentuk seperti ini. Buat Google Maps ini bisa untuk informasi navigasi ya. Jadi bisa tetap lihat petunjuk arah walaupun ada di dalam lock screen. Jadi lagi terkunci kita tetap bisa ngelihat. Bahkan saya pernah nyoba ya waktu itu ya naik kereta e kebetulan MRT di Jepang ee saya bisa lihat berapa stasiun lagi tanpa harus ngebuka lock screen-nya. Nah, untuk clock ya ini juga bisa buat tampilan waktu pakai fitur timer atau stopwatch. Sementara kalau lagi pakai media player ini juga akan bisa jadi tombol pengendali media player dari lock screen. Tentu saja fitur-fitur khas One UI line juga masih ada di sini yang kalau kita bahas semuanya ini video akan jadi terlalu panjang. ada modes and routin, ada edge panel, separate app sound, dan ada banyak lagi. Oh ya, satu yang penting pause USB PD charging ya atau yang katanya bypass charging buat gaming itu tersedia di sini. Oke, langsung aja kita masuk ke hasil benchmark ya sekarang ya. Kita mulai dari AntTutu 10 kita dapat Rp914.000-an. Wow, gede banget. Kami berharap sebetulnya bisa nyampai Rp1 juta. Tapi ya seharusnya kalau bisa nyampai Rp900.000 seperti ini udah terbilang kencang ya. Ini peningkatan yang jauh dibandingkan Galaxy A55 yang pakai Exonos 1480. Lumayan di atas 25% naiknya loh. Lalu untuk Geig Band 6 single core di 1354 dengan multiore di 3.878. Lalu untuk 3x sling shot Extreme unlimited open GL graphic sword di 9.814. Sementara kalau kita tes kestabilan ya 3D Mark Wildlife stress test tanpa kipas. Best score di 4.936 low score di 4.267 ya. Tanpa kipas masih bisa dapat 86,4%. Udah lumayan ya. Nah, kalau kita pakai kipas, kita bisa dapatkan best score di 5020 dengan low score di 4.996. Jadi, stability-nya bisa naik ke 99,5%. Jadi, kepengaruh sama kipas. Mantap. Lanjut untuk JFX Benchata 3.1 1080p offsreen dia dapat 82 fps. Carse 1080p offsreen dapat 46 fps. Oke, sekarang kita masuk ke gaming ya. Nah, di sini kita hanya mengatur game optimization dalam gaming hub ke performance ya. Ingat, kita masuk ke performance. Kalau kita gak masuk ke performance tentunya performanya tidak akan segitu dilepasnya oleh Samsung. Tapi gak ada setting lain yang ber dirubah. Kalau sekarang Samsung lebih to the point. Oke, untuk SAP server ini gerakannya mulus banget ya karena frame rate-nya rata di 120 FPS. Jadi memang ya kebuka nih. Kita bisa dengan bebas main 120 fps di sini. Lancar banget. PUBG Mobile setting frame bisa sampai ekstrem atau 60 fps dan kat smooth hasilnya ya terbilang rata banget ya sama 60 fps ya. Kita sebenarnya berharap bisa dijalankan di 90 atau 120 di sini. harusnya masih bisa lah ya, tapi paling enggak masih dapat 60 lah ee lebih mending daripada terkunci di 40 fps. Untuk Gyro aiming ini ya terasa kelas atas banget. Gerakan mulus, akurat responnya juga oke banget. Lanjut untuk Mobile Legends. Setting frame itu terbuka sampai super atau 90 fps. Sayangnya belum nyampai 120 dan kami coba appe juga ternyata belum kebuka untuk saat ini. Saat dicoba dengan setting ultra HD itu kita bisa dapat rata-rata di 90 fps. Saat ada battle berat pun frame rate itu enggak terganggu. masih cukup nempel dengan 90 fps. Jadi harusnya sih kebuka di 120 fps itu masih bisa naik lagi. Tapi ya settingnya belum kebuka aja ya. Nah, kita coba mainkan tiga match berturut-turut tidak terasa ada penurunan frame rate yang mengganggu sama sekali. Mantap. Lanjut ke wering waves. Nah, ini kita coba dengan setting balance 60 ya. Kalau cuma jalan-jalan kita bisa dapat di kisaran 40 sampai 50 fps. Ini cukup nyaman ya. Sementara kalau ada battle frame rate bisa turun ke kisaran 33 sampai 40 fps. Cukup jarang tapi sebetulnya turun di bawah 30 fps. Rata-rata frame rate selama kami coba mainkan game ini ada di kisaran 45 fps. Mantap yang satu ini. Kita lanjut ke Gensin Impact. Langsung aja kita hajar setting high 60 ya. Secara standar efeknya itu langsung ditaruh di low ya untuk preset-nya ya. Jadi kita pakai standarnya aja ya. Nah, kita bisa dapat frame rate konsisten di kisaran 36 sampai 53 fps. Ini konsisten banget. Mau ada battle atau jalan-jalan frame rate-nya diisaran situ-situ aja ya. Sangat jarang terjadi penurunan frame rate di bawah 38 fps walaupun memang bukan yang tidak pernah terjadi sama sekali dan ini masih cukup normal kok sebetulnya. Rata-rata selama setengah jam kami mendapatkan di 44 frame pers. Nah, sekarang untuk suhu permukaan smartphone ini sudah cukup berasa ya di jari kami ya. Saat kami ukur sisi depan titik terpanas itu bisa di kisaran 43 sampai 44 derajat celcius di area di mana jempol kiri kami menyentuh layar. Sementara untuk di belakang SHnya bisa menyentuh 45 sampai 46 derajat Celcius. Dan ini memang sudah mulai terasa panas di tangan kami. Sepertinya Samsung memang sengaja melepas performance dari smartphone ini saat main game berat. Dan kalau kita setting di mode performance, seperti yang kami sering bilang bahwa panas atau enggaknya itu harusnya dosanya di dosa smartphone. Untungnya di sini settingannya ada ya kan. Ada tuh smartphone yang enggak bisa di-setting jadi kepanasan banget. Oke, sekarang coba kita turunkan dari performance turunkan ke balance. Kita mau lihat apakah panasnya bisa terjaga. Ternyata itu membuat smartphone kita jadi tidak melepas performance setinggi kalau di mode performance. Di awal frame rate bisa dari kisaran 38 sampai 53 fps. Lalu setelah 10 menit frame rate-nya jadi agak sedikit turun ke 30 sampai 43 fps dan ini terus bertahan sampai akhir pengujian. Rata-rata frame selama setengah jam jadi 37 fps. Agak turun ya, tapi sebetulnya masih oke. Menariknya di mode ini suhu body smartphone jadi lebih terjaga. Hanya sampai 40 derajat celcius untuk layar dan 4142 derajat celcius di sisi belakang. Itu berarti moda balance mempertimbangkan bahwa skin temperature tidak boleh lewat dari kisaran 4142 derajat celcius. Nah, kalau kita mau lepaskan, nah pakai mode performance. Jadi, kita punya pilihannya. Jangan buru-buru nyalain SOC ya. Itu masalah smartphone-nya bisa atau tidak. Sekarang kita coba lagi balik lagi ke mode performance tapi kita dinginkan. Nah, di mode ini secara umum frame rate yang kita dapatkan masih mirip juga sebetulnya dengan tanpa kipas tadi. Rata-rata frame rate di mode performance dengan kipas selama setengah jam ada di kisaran yang sama 44 fps. Jadi, kipas ini ternyata hanya membantu membuat smartphone kita jadi tidak terasa panas saat kita pegang saat main game berat dalam jangka waktu yang lama. Di sini juga terlihat bahwa mode performance sebetulnya masih punya limit. Jadi, mau dikipasin pun dia masih limit-stitu aja. Oke, secara umum untuk smartphone ini kita bisa kasih ranking A dengan mode performance dan B untuk mode balance. Ayo, kapan coba Samsung punya A5 series dapat A? Jarang-jarang nih, kencang nih satu ya. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian kameranya. Tapi sekali ini bareng dengan Kris ya. Oke, di tangan saya kali ini sudah ada Samsung Galaxy A56. Jadi, langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Nah, yang lagi teman-teman lihat sekarang ini adalah video kamera selfie-nya di 4K30 dan yang mau saya cek pertama kali adalah kemampuan mikrofonnya. Suara yang kalian dengar sekarang ini adalah suara langsung dari mikrofon smartphonenya. Saya enggak pakai mikrofon untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging. Hasilnya seperti ini. Gimana menurut kalian? Kalau menurut saya sih kualitas mikrofonnya ini adalah salah satu yang terbaik di kelasnya. Untuk vlogging tanpa mikrofon eksternal pun saya berani sih karena memang sebagus itu kualitas mikrofonnya Samsung. Nah, bahkan kalau kalian mau pakai mikrofon exernal pun di Samsung ini menarik sebetulnya di OneUI spesifiknya ya. Karena ini bisa saya lihat di semua smartphone Samsung memang ada fitur ini di mana kalau kita pakai mikrofon lalu kita merekam video akan ada notifikasinya sumber suaranya dari mana? Recording through USB microphone kalau enggak salah tulisannya. Ini penting banget loh karena dengan fitur ini kita semakin yakin sebagai kreator atau yang mau vlogging itu sumber suaranya dari mana? Di beberapa smartphone memang ada yang belum support mikrofon dan enggak ada tandanya juga. Kan enggak lucu ya kalau misalnya kita bikin video, harapannya suaranya dari mikrofon eksternal, ternyata udah bikin video panjang-panjang, udah ngomong panjang-panjang, eh enggak masuk suaranya. Oke, kita lanjut bahas kamera selfie-nya. Ternyata kamera selfie-nya ini cukup mengejutkan ya. Dynamic range-nya luar biasa. Belum banyak nih smartphone di kelas harga segini yang bisa sebagus ini videonya. Sisi gelap, terang dapat diseimbangkan dengan baik. Ini biasanya cuman flagship yang bisa meng-handle situasi seperti ini. Smartphone midrange kebanyakan masih bisa over expose atau undpos di beberapa bagian. Gokil sih ini. Video selfie-nya A56. Stabilizer juga aman. 4K 30 FPS stabil. Masalah yang saya temukan cuman tidak adanya opsi frame rate 60 fps. Sayang banget nih. Padahal A55 dulu bisa. Saya kurang setuju sih ini dihilangkan. Saya pengguna 60 fps soalnya. Kenapa juga dari yang tadinya bisa, tahu-tahu jadi gak bisa. Apakah HDR processing-nya gak bisa jalan di 60 fps? Hm. Oke, lanjut dulu ke kamera utamanya. Untuk kualitas gambarnya sendiri udah bagus banget ya. Detailnya tinggi. Dynamic range juga luar biasa. Tapi ini kan di 4K 30 fps. Bagaimana kalau kita coba di 1080p 60 fps? Ternyata bisa bagus juga nih dari midrange-nya. Hmm. Jadi teoritis harusnya ini bukan keterbatasan SOC-nya. Kira-kira alasan apa ya tim software Samsung tidak memberikan 60 fps di selfie? Masa iya sensor kameranya enggak support 60 fps? Menurut kalian gimana? Ya udah kita lanjut dulu deh. Stabilizer kamera utamanya aman. Mau 4K 30 fps atau 1080p 60 fps bukan masalah. Ini menarik nih. Stabilizernya enggak banyak SKB-nya. Kalau di smartphone lain kadang ada aja nih salah satu opsi videonya enggak bisa stabil. Kalau di sini rata. Nice. Sekarang kita lanjut ke kamera ultrawide. Di sini agak sedikit aneh sebetulnya. Saat saya cek dynamic range-nya belum sebaik kamera utama atau selfie-nya. Sudah lumayan, tapi seringkiali videonya jadi gelap terang sendiri. Coba deh kalian perhatikan background-nya. Kadang putih, kadang benar, kayak kurang konsisten aja. Semoga ini bisa diperbaiki lewat software update. Tapi yang jelas kalau di kondisi cahaya ideal ini sih aman-aman aja. Detailnya oke kok. Yang agak disayangkan cuma dua hal sih terkait pengalaman multi kameranya. Pertama, warna antar kamera utama dan ultrawide terlalu jauh pergeseran warnanya. Kamera utamanya cenderung kekuningan, sedangkan kamera ultrawide-nya lebih mirip warna di keadaan aslinya. Kemudian untuk pindah-pindah antar kameranya juga belum smooth, masih patah-patah. Di video pun juga sama, terasa patah-patah. Tapi menariknya kita bisa pindah langsung ke kamera selfie-nya. Dan ini masih belum banyak yang bisa. Oke, sekarang kita lanjut ke low light. Kamera selfie-nya masih cukup bisa diandalkan. Gambarnya masih terang dengan noise yang cukup bersih. Tapi detail di wajah juga berkurang sih. Terasa agak pixelated dikit gambarnya. Giter stabilizer ada, tapi di level yang minim. Overall masih cukup bisa diandalkan lah untuk kondisi seperti ini. Untuk kamera utamanya sih aman ya. Detailnya mantap. Low light bukan masalah. Untuk mode 60 fps memang jadi lebih gelap dan ini wajar karena 60 fps butuh cahaya lebih banyak. Tapi yang jelas ini sudah tergolong bagus kok kamera utamanya. Untuk stabilizer, sayangnya kalau di 30 fps giternya masih kelihatan jelas ya. Kalau mau lebih rapi kita bisa pakai mode 60 fps. Meskipun gambarnya memang jadi agak lebih gelap sedikit sih. Sekarang kita cek kamera ultra white-nya. Hmm, saya enggak nyangka sih kamera ultrawide-nya begini. Videonya sangat terasa noisy, terlalu gelap, dan detailnya minim. Ketika ada pergerakan, motion blurnya bisa lebih merusak gambarnya. Ini sudah waktunya Samsung A5 series upgrade sensor sih. Kemampuan low light ultrawide-nya ini di bawah harapan kami. Oke, lanjut foto-foto. Kalau foto sih sejauh saya tes aman-aman aja. Udah cukup bagus untuk berbagai kondisi. Ultra wide-nya saat low light juga masih tertolong night mode. Jadi, gambarnya bisa lebih terang. Yang menarik di mode portrait sekarang ada opsi untuk zoom digital dua kali. Jadi, kita bisa dapatin perspektif yang lebih oke. Kalau untuk foto orang pakai mode satu kali juga oke-oke aja sih sebetulnya. Tapi kalau untuk foto orang hati-hati agak kepang aja bentuk wajahnya. Menurut saya lebih proporsional di zoom dua kali atau biasanya dibilang di sekitar fokal leng. Catatannya sebaiknya dipakai di kondisi terang aja. Untuk low light itu masih mencukupi asal jangan di pixel pip aja. Sudah terlihat agak pecah soalnya kalau di pixel pip. Overall pengalaman fotonya cukup bagus. Meskipun untuk kelasnya kita sebetulnya sudah boleh berharap ada faktor wow atau sesuatu yang lebih spesial. Sejauh ini Samsung masih terlihat main aman aja. Nah, sekarang kita lihat fitur ekstranya. Yang pertama saya coba slow motion-nya. Di sini tidak ada opsi resolusi dan frame rate. By default langsung terekam di 720p 240 fps. Hasilnya sendiri masih lumayan oke. Cuma sedikit berharap paling tidak ada opsi 1080p 120 fps juga. Lalu ada fitur promote di sini. Untuk yang mau setting manual fotografi bisa pakai fitur yang ini. Untuk setting ISO dan shutter speed bisa kalian lihat di layar aja. Oke, sekarang kita bahas apa yang menurut saya masih kurang atau paling tidak perlu diperbaiki lagi oleh Samsung. Yang pertama itu kamera ultrawide-nya. ini sudah harus upgrade sensor sih. Dan dynamic range ultrawide-nya seperti yang kita lihat di kondisi siang tadi itu masih perlu diperbaiki. Kemudian selfienya downgrade dari sisi frame rate. A55 bisa kok 60 fps. Kalau memang bukan keterbatasan hardware, harusnya bisa diberikan lewat software update. Ya, itu kalau Samsung-nya mau sih. Dari sisi kelebihan yang sulit dilawan ada di kemampuan dynamic range video selfie dan kamera utamanya. Ini memang mantap banget sih. Lalu kualitas mikrofonnya ini salah satu yang terbaik. Kemudian kestabilan video di semua opsi dan frame rate itu juga hal yang baik. Enggak banyak SKB-nya. Lalu, pengalaman software yang menyenangkan. Salah satunya seperti fitur mikrofon yang saya sebutkan tadi. Lalu, UI-nya juga dioptimalkan untuk penggunaan satu tangan. Akhir kata, nice try untuk Samsung. Kalau memang kalian mencari smartphone midrange dengan kamera yang oke, yang satu ini tetap jadi opsi smartphone yang aman untuk direkomendasikan untuk mayoritas orang. Sekian pembahasan kameranya Samsung Galaxy A56, kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, kita lanjut untuk pengujian baterainya. Untuk YouTube offline video playback 1080p dia bisa bertahan sampai 25 ke 26 jam. Ini hasil yang sangat baik. Ingat kan ini baterai 5.000 bukan yang 5.500, 5.700 atau 6.000 bukan. Smartphone di kelas performa ini dengan baterai 5.000 ini sudah luar biasa. Kita biasanya membayangkan bahwa dia harusnya dapat di kisaran 2021 jam itu udah oke banget sebetulnya karena kita ah pernah lihat yang pakai baterai 5.000 di bawah 20 jam. Oh, kita udah lihat. Tapi ternyata di sini bisa bertahan 25 sampai 26 jam hanya dengan pakai baterai 5000 mAh. Jadi kita enggak bisa bilang bahwa wah itu baterai 5.000 itu pasti lebih boros dari yang 6.000. Belum tentu. Lanjut untuk YouTube streaming 1080p 30 fps non HDR baterai berkurang 3% selama setengah jam. Sementara untuk TikTok baterai berkurang 4% selama setengah jam. Lanjut untuk Gensin Impact. Kita coba di highest 60 dengan dua mode performa ya. Untuk balance, baterai berkurang 12% saja dalam 30 menit. Jadi, mode balance membantu ya supaya lebih irit. Lalu untuk performance, baterai berkurang 16% dalam 30 menit. Nah, ini bisa nih kalau mau dijos aja gitu ya. Kalau mau pakai kipas silakan pakai mode performance. Jadi kita punya opsi di sini. Nah, untuk charging kita coba pakai charger 45 watt dari Samsung sendiri. Untuk dari 0 sampai 50% ini butuh waktu 21 menit saja. Ini cukup cepat loh sebetulnya ya untuk 45 watt. Tapi sayangnya dari kosong sampai penuh itu butuh waktu 1 jam 15 menit. Ahah. Kok mirip-mirip aja ya seperti pakai charger 25 watt. Nah, kalau diperhatikan sebenarnya dalam waktu 30 menit baterai sudah kisi 65%. Ini kencang sebetulnya tapi setelah dia mencapai 85% charging jadi di remet gitu ya. Jadi butuh lebih dari 1 jam untuk mengisi baterai sampai penuh. Katanya di sini perbedaan antara charger 25 watt dengan 45 watt yang paling besar adalah kecepatan mengisi sebelum 80%. Tapi setelah 80-an ia akan melambat lagi kecepatan mengisinya. Sebenarnya kami sedikit berharap ya Samsung membuat settingannya paling enggak ya jatuhnya di 55 menit gitu, 57 menit gitu biar lebih enak aja dengarnya dan jadi lebih terdengar modern aja lah hasil akhirnya ya. Oke, lanjut lagi. Untuk Netflix, dia udah white fan L1 dan tentunya udah support streaming sampai dengan full HD. Untuk YouTube streaming bisa sampai 4K60 dengan HDR dan streamingnya lancar, HDR-nya juga tidak aneh-aneh di sini. Untuk haptic feedback, nah ini berkelas mirip seperti smartphone yang seri S ini udah mantap banget getar-getarnya pada saat kita mengetik. Lalu untuk Wii sharing ini bisa ya, tapi kami menemukan masalah serupa seperti kita pakai WiFi sharing di Galaxy A36. Jadi di awal akan muncul keterangan kalau kita tidak bisa pakai Wii sharing. Tapi setelah dibiarkan beberapa saat, smartphone akan terhubung lagi ke Wii dan Wii sharing otomatis aktif. Tapi ini memang hanya terjadi saat pertama kali kita pakai fitur ini. Nah, untuk harga ya, Galaxy A56 5G ini harga resminya untuk yang 818 adalah Rp6.199.000, 8256 di Rp6.699.000 dan 12256 ada di Rp7.199.000. Harga resminya ini benar-benar beda Rp1 juta dibandingkan yang Galaxy A36. Tapi ingat itu harga resmi. Kalau cek langsung di online marketplace kita lihat harganya itu enggak setinggi itu sebetulnya ya. Malah ada beapa yang jual 8256 itu sedikit di bawah Rp6 juta. Nah, sebentar kalau bonus penjualan kabarnya ya kalau timingnya tepat ya akan ada free memory upgrade. Jadi kalau beli yang 8128 dapatnya itu yang 8256 dengan harganya 8128 tadi. Iya. Jadi 6,199 dapat 8256. Sementara kalau beli yang 8256 itu yang sekitar 6,7 tadi dapatnya yang 12256. Kemudian ada juga bonus lain seperti isim aksis dengan bonus kuota internet sampai 6 bulan, ada cashback dan ada potongan untuk Samsung Care Plus. Nah, mungkin cashback-nya tadi yang bisa dipakai untuk charger kalau dibutuhkan. Oke, kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. Kami rasa sebetulnya Vario 128 itu harusnya enggak perlu lah ya di sini ya. Bahkan yang kami pertanyakan adalah kenapa enggak ada varian 512-nya? Jadi saran kami sih sebetulnya kalau mau nyari yang satu ini ambil yang 256 aja deh. Kemudian kemampuan kamera ultrawide-nya ini agak di bawah harapan kami sebetulnya ya. Harapan kami sih ada peningkatan juga di kamera ultrawide-nya enggak gitu-gitu aja ya. Kemudian untuk kelas harga ini daripada pakai kamera bonus yang tadi yang 5 megapel makro itu harapan kami tuh ada kamera-kamera fungsionalnya tuh ditingkatkan aja ya. Kalau misal ada tele misalnya wah itu lebih bagus lagi ya. Karena di kelas ini memang sudah mulai banyak yang menawarkan kamera tele juga. Atau mungkin enggak usah pakai kamera tele, enggak usah pakai yang makronya tadi, tapi ultrawide-nya dibikin lebih bagus lagi. Kemudian sayangnya dia belum support perekaman video 1080p 60 fps di kamera selfie. Sangat berharap bahwa ini cuma masalah software doang karena ini pernah terjadi dulu di Samsung A7 sekian kalau enggak salah ya. tiba-tiba muncul firmware untuk menghidupkan 1080 OP 60 fps. Tapi ya kalau emang enggak bisa ya sudahlah ya mau gimana lagi. Kemudian pasti banyak yang ini dan saya sebutin aja sini di sini tidak ada slot micro SD walaupun bagi kami pribadi sebetulnya ya enggak terlalu penting banget sih ini ya karena kalau sering pakai yang kelas-kelas atas ya bahkan ini 256 pun kita enggak pakai slat micro SD. Problem dengan salat micro SD ini adalah sering banget orang awam itu mendapatkan micro SD yang kurang baik. hasilnya nanti e sistemnya berjalan dengan tidak baik, melamban, dan lain-lain yang disalahkan HP-nya. Nah, ini salah satu alasan kenapa banyak produsen yang menghilangkan slot micro SD. Lalu kalau mau nit picking sebetulnya kami berharap bahwa charging sampai 100% itu bisa dibuat 1 jam dikit. A jadi buat 1 jam. Udah bagus sebetulnya ya ee untuk 50% tercapai dengan sangat cepat. Tapi ya tolonglah di 100%-nya juga sedikit lebih cepat aja. Kita enggak minta 30 menit 100% kok. 55 menit aja udah enak gitu bacanya. Lalu suhu body, kalau kalian hidupkan mode performance memang akan terasa sedikit hanget. Jadi hati-hati ya kalau ada yang ketipu bilang, "Wah, ini panas banget nih." Gini gini gini. Itu pasti di mode performance. Sebetulnya kalau T mode balance dia akan normal-normal aja suhunya. Jadi di A56 ini kita punya opsi mau dilepas performance-nya atau mau ditahan supaya tangan kita nyaman tinggal pilih sendiri. Tapi san kami sih kalau benar-benar mau main game pakai fan grip aja atau kipas pendingin aja terus lepas performance-nya. Enak tuh mainnya tuh. Dan yang terakhir ya yang mesti diperhatikan adalah seperti biasa paket penjualannya masih minim dan ini sepertinya memang tidak bisa diubah ya karena hal-hal tertentu ya. Ya jadi memang kita hanya bisa mengandalkan bonus-bonusnya seperti misalnya cashback cashback-nya itu mungkin bisa dipakai untuk membeli charger atau mungkin kalian bisa perhatikan siapa tahu ada toko-toko yang sudah membandling chargernya. Oke kita lanjut ke kelebihannya. performanya ini meningkat dibandingkan pendahulunya dan ini selisihnya cukup jauh dan berasa banget ya. Nah, memang ini tetap bukan yang paling kencang di kelas menengah tapi ini sudah tidak tertinggal untuk kelas performanya masih layak banget di sini. Di sini kelihatannya ya Xinos 1580 ini bisa e setara atau bahkan sedikit lebih kencang dibandingkan Mediatek yang 8.200 ya dan mungkin Snapdragon 8 Gen One bahkan. Jadi ya untuk kelas harga segini ini udah mantap banget performance-nya. Kemudian layarnya Super AMOLED 120 Hz. Ini sih mantap ya. Lalu udah pakai Corning Gold Glass Viictus depan belakang mantap. Kamera utama udah pakai Ois dan udah dukung perekaman video sampai 4K30. Walaupun kami berharap sampai 4K60 tapi rasanya sih di kelas harga segini sih jarang akan ada yang pakai 60 di 4K ya. Dan video juga stabil di semua resolusi. Lalu udah support video HDR 10 bit. Iya udah kayak seri S ini ya jadinya ya. Nah untuk kamera utama dan selfie hasil foto dan video ini terbilang bagus ya. Lalu dynamic range untuk video ini mantap. Ini luar biasa banget dynamic range-nya ini. Lalu ini kebalikan dari yang tadi ya. Charging 45 watt ya. Ternyata membantu 30 menit awal langsung kisi 65%. Dan untuk daya tahan baterai ini oke banget ya. Kita enggak bisa baca cuma oh ini 5000 mAh doang gitu ya. Ternyata daya tahan baterainya bisa panjang banget. Ini bersainglah dengan yang di atas 5000 mAh. Kemudian IP67 sudah ada di sini walaupun kita sedikit berharap biar naik sedikit ke IP68 ya. Lalu ada AI, kalau di sini namanya awesome intelligence. AI-nya awesome intelligence ya. Dan di sini fiturnya itu lebih banyak dibandingkan pendahulunya yang A55. Kemudian speaker seronya ini kualitas suaranya mantap di sini. NFC juga ada di sini. Untuk support ISIM juga udah ada di sini. Haptik feedback udah kelas atas, rapi, nyaman banget ya. Body juga udah lebih tipis dan ringan dibandingkan A55. Desain juga udah cukup modern mirip smartphone kelas premium dari Samsung dengan sedikit pembeda di bagian kameranya. yang membuat desainnya jadi fresh ya, jadi beda aja gitu ya. Kemudian dia udah dapat OneU 7 dengan basis Android 15. Fiturnya banyak banget sampai kita enggak bisa bahas di sini. Kalau kita bahas nanti kebanyakan banget ya. Mulai dari keamanan, kenyamanan pakai, semuanya ada di sini ya. Jelas yang Onei ini memang salah satu kelebihannya dari Samsung. Lalu ada enam kali update versi Android dan security update sampai 6 tahun juga. Ini harusnya salah satu yang paling panjang ya di kelas harganya. OS juga terbilang bersih dari iklan. Dan ini enggak kalah pentingnya bahwa aksesoris-aksesoris untuk Samsung Galaxy A series itu biasanya berlimpah, baik dari Samsung-nya sendiri maupun third parttinnya itu banyak banget ya. Kalau butuh casing, nyari yang murah pun ada. Tapi saran kami janganlah ya dilindungi. Ini bukan HP yang murah-murah banget juga. Dilindungi aja dengan casing yang lebih proper. Kami yakin pasti ada casing yang lebih proper. Oke, jadi smartphone ini memang bukan yang punya performa paling kencang di kelas harganya, bukan yang kameranya luar biasa paling lengkap dan bukan yang RAM dan storage-nya paling besar, tapi apa yang ditawarkan smartphone ini tetap membuatnya jadi allrounder yang sangat menarik di kelas menengah atas. ini tetap menjadi sebuah smartphone yang sangat mumpuni. Fiturnya lengkap ya, terutama dari software-nya luar biasa lengkap banget. Kameranya udah mumponi. Kamera selfie-nya udah di-upgrade. Performanya memadai banget. Bahkan buat game berat pun masih bisa di sini ya. Bukan mentok kanan full, tapi udah nyaman untuk berbagai game. Smartphone akan cocok untuk yang butuh satu smartphone kelas menengah atas yang mumpuni untuk menemani berbagai macam aktivitas sehari-hari. Karena baterai juga udah lumayan oke di sini. buat kerja bisa, buat foto video udah bisa banget, buat hiburan juga asyik, buat main game udah oke juga. Nah, pertanyaan apakah pengguna Samsung Galaxy A5 series sebelumnya harus upgrade ke A56? Nah, kalau buat pengguna Galaxy A55 mungkin belum terlalu banyak alasan ya untuk pindah ke A56 ya. A55 masih mantap banget sih ya. Kecuali kalau memang kalian rasanya aduh saya pengin performa ekstra nih. Aduh saya pengin desain yang beda nih, yang baru nih. Atau pengin lebih ringan nih, lebih tipis nih. Bisa bisa bisa terserah kalian. Duit-duit kalian terserah kalian. Ya, sementara untuk pengguna Galaxy A54 harusnya peningkatannya signifikan sekali. Pengecualiannya cuma satu, kalau kalian memang sukanya layar 6,4 inci yang ada di Galaxy A54 itu ya, karena ini sudah naik ke 6,7 inci ya. Secara umum Samsung Galaxy A56 ini adalah smartphone yang sangat layak dipertimbangkan untuk yang mencari smartphone kelas menengah atas yang allrounder dan mumpuni. Sed Irfan Jaga TV. [Musik] H

Lihat di YouTube

Video Lainnya

HP Android 32 Juta...
Oleh GadgetIn
15m 11s

Pasar ponsel flagship premium baru saja diguncang oleh perangkat Android seharga 32 juta rupiah yang digadang-gadang sebagai daily driver mutakhir. OPPO Find X9...

Brand Terkait

Samsung Galaxy A56 5G

Samsung Galaxy A56 5G merupakan smartphone kelas menengah atas yang secara resmi hadir di pasar Indonesia dengan perombakan desain, performa, layar premium, dan kemampuan kamera yang komprehensif. Ponsel ini cocok bagi pengguna yang menginginkan perangkat modern untuk kebutuhan sehari-hari, produktivitas, serta konten multimedia.Dari segi desain, Galaxy A56 5G hadir dengan...

Samsung

Samsung menghadirkan smartphone Galaxy, tablet, wearable, TV, dan perangkat rumah tangga dalam satu ekosistem terintegrasi. Samsung dikenal dengan teknologi layar terbaik, performa tinggi, dan inovasi global untuk kebutuhan modern.