Jungkat

Sensasi Punya Bioskop Pribadi, Gambar Terang & Tajam, Cocok utk Berbagai Konten - Review BenQ W4100i (YouTube Video)

  • 20/08/2025

Proyektor ini disebut bisa memindahkan teater atau bioskop ke rumah kita. Ini adalah BQ W4100i. Andalan terbaru BQ ini bisa hadirkan proyeksi ekstra besar sampai 150 inci dengan resolusi native 4K UHD dan dukungan refresh sampai 240 Hz. Ini menjanjikan pengalaman yang imersif. Nah, sebagai proyektor home cinema premium W4100 ini tentunya menawarkan kualitas tampilan tinggi dengan dukungan beratas hingga 3.200 ANC lumens. Ada juga HDR Pro untuk kualitas tampilan HDR yang ideal untuk konten HDR 10 dan HDR10 Plus. Proyektakor ini juga mendukung cinematic color dengan janji 100% di CP3. Tapi bukan cuma itu aja keunggulan dari proyektor premium ini. Pengen tahu? Ah, simak video ini ya. Oke, sebelum kalian teriak mahal skip, coba kita luruskan dulu di sini. Ini proyektor Home Cinema class premium. Jadi memang harganya bukan yang akan terasa terjangkau oleh banyak orang, tapi proyektor seperti ini tentunya punya banyak teknologi menarik yang sangat layak buat dibahas. Kalau misalnya kalian memang belum punya rencana beli proyektor seperti ini, enggak ada salahnya kan? Kenalan dulu dengan teknologinya. Oke, B 4100i ini tentunya merupakan penerus dari BQ W 4000i yang pernah kami bahas beberapa tahun yang lalu. BQ menghadirkan beberapa peningkatan di proyektor ini kalau dibandingkan dengan pendahulunya tadi yang membuatnya jadi proyektor home cinema yang lebih mumpuni. Kali ini kita akan coba langsung kemampuan BQ B4100i. Tapi seperti biasa kita mulai dari paket penjualannya. Tentunya di dalamnya ada unit proyektor BQ W4100i. Lalu ada dongle QS02. Ini adalah dongle Android TV untuk dipasang ke dalam proyektor W4100i ini. Lalu ada juga Unified remote untuk pengendalian proyektor dan dongle QS02-nya. Kabel power ada di sini. Lalu ada landscap yang sudah terpasang ke body proyektor. Kemudian tentunya ada paket dokumen termasuk di annya ada kartu hasil kalibrasi atau pengujian color gamut yang dilakukan BQ di pabrik mereka. Untuk desain ini mirip dengan pendahulunya ya. BQ B4100i ini juga hadir dengan body yang warnanya hitam. Dimensinya adalah 420,5 * 312,1 * 135,3 mm. Sementara bobotnya di 6,1 kg. Walaupun agak besar dan agak berat ini tetap proyektor yang relatif mudah dipindahkan. Di sisi depan ada lensa proyektor di area kiri. Nah, lensa ini bisa ditutup dengan landcap yang sudah terpasang ke body proyektor saat proyektor sedang tidak digunakan. Lalu di sini ada infrared receiver dekat lensa ya. Sementara di area kanan ada lubang ventilasinya. Nah, kita beralih ke sisi kanan. Di sini terlihat ada area tempat tombol-tombol pengendalian proyektor. Di sini ada tombol power, eco blank, lalu ada tombol navigasi empat arah, lalu tombol oke. Yang di tengah-tengah tombol navigasi itu ada back dan ada menu serta ada source juga. Nah, ada juga tiga lampu indikator di area tersebut. Ini indikator untuk power, temp, dan light. Lalu ada juga lubang ventilasi dengan kipas di dalamnya. Nah, beralih ke sisi kiri, hanya ada lubang ventilasi di sini. Lagi-lagi dengan kipas di dalamnya. Nah, untuk sisi atas di area depan itu ada rotating wheel untuk pengaturan zoom dan fokus untuk lensa. Ada slider yang bisa digunakan untuk menutup mekanisme pengaturan tersebut. Ada juga dua knop putar untuk mekanisme lens shift. Satu untuk pengaturan vertikal dan satu lagi untuk pengaturan horizontalnya. Ini tentunya memudahkan kita mendapatkan hasil proyeksi yang lebih pas tanpa harus mengubah posisi proyektornya. Nah, di sini juga ada infrared receiver ya. Nah, lanjut lagi ke sisi belakang. Deretan konektor IO proyektor ditempatkan di sini. Dari kiri kanan terdapat konektor 12 volt trigger RS 232, mini USB type B untuk service port, USB 2.0 type A untuk media reader, analog audio out 3,5 mm, digital audio out atau SPDIF, dan ada 3 HDI 2.1. Nah, port dengan label HDMI 2 itu mendukung E-RC atau audio return plus untuk koneksi ke soundbar. Sementara port dengan label HDMI 3 itu mendukung 4K 120 Hz. Kemudian ada USB 2.0 type A dengan dukungan output 2,5 amp. Di bawah area konektor IO di sini ada canon lock dan konektor AC input. Lalu ada juga bagian yang bisa dibuka. Di dalamnya ada satu konektor mini HDMI dan satu kabel dengan konektor micro USB. Ini adalah tempat masang dongle Android TV bawaan proyektor ini. Ada juga satu speaker terintegrasi ini ada di area kiri sisi belakang proyektor. Oke, sekarang kita beralih ke sisi bawah. Di area depan ada dua buah kaki depan proyektor yang bisa diubah ketinggiannya dengan cara diputar. Di dekat kaki depan ada tempat untukemasang pengait landscape-nya. Ada juga empat tempat baut untuk memasangan proyektor di bracket. Ini akan berguna kalau kita ingin memasang proyektornya di langit-langit ya. Biasanya kan kalau buat ee teater atau e home theater itu pasangnya di langit-langit. Lalu di area belakang ada bantalan karet sebagai kaki belakang proyektornya. Jadi secara umum desain dari W4100i ini terbilang sangat mirip dengan W4000i. Tapi memang terlihat ada beberapa perbedaan termasuk di konektor IO yang tersedia. Nah, untuk spesifikasi proyektornya sistem proyeksinya adalah DLP. Light source-nya adalah 4 LED. Brightness-nya itu sampai 3.200 ansilum. Natif aspect rasionya 16 b 9 ya. sangat teater banget ya. Lalu native resolusinya adalah 4K USD 3840 * 2160 pikel. Refresh rate-nya bisa nyampai 120 Hz di 4K dan 240 Hz di full HD. Optical zoom-nya itu bisa 1,3 kali. Untuk build-in speakernya itu 1* 5 watt. Untuk fitur pendukung ada 2D keystone, manual zoom and focus, dan manual land shift. Ini bisa untuk vertikal dan horizontal. Umur lampu kalau sesuai klaim dari BQ di mode normal itu nyampai 20.000 jam. di mode ECO itu nyampai 30.000 jam. Sekarang kita lihat spesifikasi Android TV dongle QS02-nya ya. Nah, Band W4100 ini dilengkapi dengan dong QS02 sama seperti yang ada di paket penjualan W4000i. Dongol ini punya spesifikasi CPU-nya itu 4 Cortex A35. GPU-nya pakai Mali G31 MP2, RAM 2 gig, internal storage-nya 16 GB. Untuk konektivitas, dia bisa pakai WiFi 6 ya, bisa 2,4 atau 5 GHz dengan Bluetooth versi 5.0. OS-nya itu adalah Android TV. Untuk fitur dia punya Google Assistant dan Chromecast Buildin tentunya. Nah, agar bisa digunakan sebagai sebuah smart projector, kita harus masang dongle Android TV yang ada di paket penjualan ke dalam proyektor ini. Jadi ingat kan tempat khusus yang sudah disediakan di sisi belakang proyektor. Nah, kita bisa buka penutup tempat tersebut lalu pasang dongle ke konektor mini HDMI yang tersedia. Jangan lupa pasang juga kabel micro USB ke dongle. Setelah itu tutup lagi penutupnya tadi. Nah, saat pertama dinyalakan akan ada setup singkat untuk proyektor. Isinya antara lain apakah proyektor ditempatkan di meja atau dipasang di langit-langit serta arah proyeksi apakah dari depan layar atau belakang layar. Nah, seperti proyektor pada umumnya kita harus mengatur posisi hasil proyeksi. Ada mekanisme zoom sampai 1,3 kali. Ini untuk membantu mendapatkan hasil proyeksi yang lebih besar. Kemudian kita juga harus mengatur fokus agar tampilan hasil proyeksi terat tajam. Lalu ada keystone. Ini penting ya karena kita bisa mendapatkan hasil proyeksi yang lebih pas di sini. 2D auto kistone bisa membantu kita mendapatkan itu dengan sangat mudah kalau dibutuhkan. Ada juga pengaturan kiston secara manual. Ada juga dua knop putar untuk land shift ya. Jadi di sini posisi hasil proyeksi bisa dengan mudah lebih disesuaikan lagi. Misalnya kalau posisi hasil proyeksi itu kurang ke kiri sedikit atau kurang ke atas sedikit kita bisa sesuaikan tanpa harus menggeser posisi proyektornya. Ini memudahkan sekali kan. Berikutnya ada juga setup awal untuk Android TV. Ini terbilang sederhana aja ya seperti membukan dong ke internet serta masuk ke akun Google. Nah, secara standar saat dinyalakan proyektor akan masuk ke Android TV dari Dongle tadi. Berbagai aplikasi streaming sudah tersedia juga di Android TV ini. Nah, kalau dirasa masih kurang, kita bisa cari aplikasi yang dibutuhkan di dalam Play Store tentunya ada banyak tuh. Nah, navigasi di Android TV ini bisa dilakukan dengan remote yang ada dalam paket penjualan. Selain untuk Android TV, remote ini juga bisa mengakses menu pengaturan proyektor. Jadi, praktis ya. satu remote langsung untuk dua-duanya. Oh ya, remote ini juga punya backlit untuk tombol-tombolnya ya. Jadi cocok digunakan di ruangan yang gelap. Oke, sekarang kita lihat pengalamannya bagaimana. Nah, kita coba pakai si Band KBY 4100i ini untuk skenario home cinema. Jadi kita fokus ke menikmati konten film dan video. Kita coba langsung dengan Android TV dari dongal QS02 yang terpasang di dalam proyektor. Sayangnya di sini kita lihat karena ini masih dong yang sama dengan proyektor yang dulu ya, performanya terasa agak kurang untuk sebuah proyektor kelas premium. kami masih merasakan navigasi tuh belum yang mulus gitu ya dan konten pun kadang masih terasa belum yang super-super lancar saat diputar. Kalau diresakan kurang tentunya kita bisa saja masang STB tambahan atau perangkat pemutar konten lain seperti Blu-ray Player ke proyektor yang ini. Kan tadi ada tiga port HDMI yang bisa dipakai ya. Nah, kalau kita mutar konten dari dong Android TV, ada beberapa mode tampilan yang bisa dipilih, yaitu HDR AI Cinema, HDR10, dan filmmaker mode. Filmmer mode akan lebih pas untuk konten film 1080p dengan kelar gambut diatur ke R709 atau sRGB. HDR10 akan cocok untuk konten 4K HDR dengan color gambut yang lebih luas dari R709. Bahkan menurut BenQ kalau white color gamut diaktifkan ini bisa mendekati 100% DCI IP3. Nah, mode baru yang tersedia di sini adalah HDR AI Cinema. ini disebutkan BQ menawarkan kualitas tampilan yang lebih baik dengan bantuan AI. Salah satunya adalah peningkatan kualitas tampilan konten streaming. Nah, di sini termasuk peningkatan ketajaman atau sharpness video yang sedang kita putar, noise reduction, serta peningkatan dynamic kontras dan saturasi warna. Menurut BQ ini memungkinkan kita merasakan kualitas true 4K. Mengeliminasi penurunan kualitas yang disebabkan oleh kompresi saat proses streaming. Nah, fitur ini yang jadi salah satu pembeda W4100i dengan pendahulunya. Nah, kalau memang rasanya suka tuning warna supaya lebih sesuai dengan selera pribadi, di sini ada opsi advanced color temperature tuning dengan 11 level white balance. Nah, beberapa opsi tuning kualitas tampilan lain juga tersedia untuk lebih menyesuaikan hasil proyeksi W4100i ini dengan selera kita. Oke, untuk proyektor ini kami mencobanya di ruangan gelap sesuai dengan rekomendasi BQ. Kami mencoba mencari hasil proyeksi sekitar 136 inci dan ini kami dapatkan dengan menempatkan proyektor sekitar 3,45 m dari bidang proyeksi ini. Pakai zoom maksimal ya di 1,3 kali. Langsung aja kita putar film 4K HDR dari Netflix. Hasil proyeksinya memang terlihat berkelas tajam dan warnanya terasa mantap. Saturasi warna terbilang baik, enggak kurang tapi tidak berlebihan juga. Ini memang sesuai dengan yang bisa diharapkan dari sebuah proyektor Home Cinema class premium dengan native resolution 4K. Oke, saat kami coba mode HDR1 ini bisa menawarkan kelar gambut di atas 90% DCIP3. Tapi ini kami hanya menggunakan tembok sebagai bidang proyeksi ya. Ini bukan yang pakai layar khusus proyektor home cinema. Jadi bisa saja dengan layar yang tepat color gambut hasil proyeksinya bisa lebih sesuai dengan klaim BandQ. Nah, walaupun pakai tembok selama mencoba proyektor ini kita tidak merasa ada kekurangan warna sama sekali. Sudah sangat mencukupi dengan gradasi warna yang terasa baik juga. tembok doang. Ini terkait kontras ini memang bukan yang super dalam tapi bisa dikatakan sudah oke ya mengingat ini adalah sebuah proyektor. Secara umum kami sangat menikmati pengalaman menonton film 4K HDR dengan proyektor yang satu ini. Nah, bagaimana dengan tingkat kecerahan hasil proyeksi? Saat kami coba ukur di konfigurasi standar proyektor ini bisa menawarkan sekitar 2.100 sampai 2.500 ansi lumens. Sementara saat diatur manual ke tingkat beratas paling tinggi, kecerahannya sudah di atas 3.100 ansi lumens. Ini sudah sesuai dengan klaim dari BandQ. Ini memang belum sampai yang membuat proyektor ini cocok digunakan di ruangan dengan banyak jendela ya. Terang-terang begitu. Enggak. Memang enggak. Tapi kita juga tidak perlu ruangan yang benar-benar gelap untuk menikmati konten dengan proyektor ini. Oh ya, kalau dibutuhkan di sini ada juga mode low dynamic, high dynamic, dan echo untuk light source. Ketiga mode tadi membuat lampunya bisa diturunkan tingkat kecerahannya membuat proyektor ini jadi lebih hemat daya kalau memang ruangan digunakan tidak butuh tingkat kecerahan yang tinggi-tinggi amat. Nah, untuk mendukung kualitas tampilan Band kembali menawarkan Cinema Master. Ada beberapa fitur seperti color enhancer, Pixel enhancer 4K, global contrast enhancer, local contrast enhancer, dan dynamic tone mapping. Secara standar BenQ sudah mengatur fitur-fitur ini ke setting yang menurut mereka sesuai dengan preset tampilan yang digunakan. Sementara untuk motion enhancer 4K tentunya tersedia juga, tapi secara standar memang tidak diaktifkan oleh BQ. Mereka pernah menyebutkan kalau konten film tuh harusnya dinikmati dengan frame rate yang sebenarnya. Jadi enggak usah dipaksa diubah jadi frame rate yang lebih tinggi. Nah, benar tuh kayak gitu tuh. Ya, bahkan untuk memastikan film ini bisa ditampilkan dengan baik di proyektor, mereka juga menyediakan 24pinema. Tapi kalau memang ada yang suka tampilan ala-ala frame rate tinggi ya, fitur motion enhancer 4K bisa diaktifkan secara manual. Oke, sekarang kita beralih ke audionya. sayangnya masih seperti W4000i hanya ada satu speaker aja di proyektor yang satu ini. Jadi kalau untuk menikmati film ya rasanya masih agak kurang ya walaupun suaranya bagus sih sebetulnya. Nah tapi kami lebih menyarankan untuk menambahkan sistem audio yang lebih mumpuni untuk pengalaman terbaik menikmati konten dengan proyektor ini. Oke itu tadi kan untuk menikmati konten video. Sekarang iseng nih kita coba pakai proyektor ini untuk main game ya. Ini kan proyektyektor yang mendukung refresh sampai 120 Hz di 4K atau 240 Hz di 1080p. Oke, langsung aja kita coba hubungkan laptop gaming ke proyektor ini. Saat kami coba cek, opsi refresh-nya sampai 240 Hz memang tersedia dan bisa digunakan di sini. Resolusi akan otomatis beralih ke 1080p kalau kita pakai opsi 240 Hz. Jadi untuk main game tampilan hasil proek ditawarkan memang bisa terlihat mulus. Terlebih lagi kalau kita pakai PC yang mumpuni untuk frame rate tinggi di 1080p. HDR untuk input HDMI tentunya juga tersedia. Nah, kalau kita tingkatkan resolusi ke 4K, refresh rate maksimal itu adalah 120 Hz. Tapi menurut BQ ini didapatkan dengan down scaling ke 1080p. Jadi ketajaman tampilannya memang sedikit berkurang. Tapi ini bukan yang bikin tampilan jadi berantakan ya. Masih terbilang tidak terlalu berbeda dari native 4K. Oh ya untuk input HDMI pilihan picture mode yang tersedia ini berbeda dari kalau pakai dongle Android TV. Jauh lebih banyak dan beragam filmmaker mode tetap tersedia juga di sini. Nah, bagaimana dengan fitur tambahan untuk gaming? Saya memang belum banyak ya, hanya ada ALM saja. Tapi ya wajar ya, ini memang proyektor Home Cinema. Jadi lebih disiapkan untuk menonton konten bukan untuk main game. Oke, sekarang kita lihat konsumsi dayanya ya. Nah, untuk lampu di setting normal itu rata-rata 220 sampai 245 watt. Kalau settingnya echo itu sekitar 175 sampai 185 watt. Sementara untuk low dynamic dan high dynamic konsumsi itu bisa bervariasi tergantung dari ambient yang tengah diputar. Saat kami uji itu ada di kisaran 130 sampai 245 watt. Oke, untuk harganya proyektor BQ W4100 ini dipasarkan di harga kisaran Rp54.500.000 lengkap dengan Android TV Dongle KS02-nya. Langsung aja kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan sekarang. Pertama, dongle Android TV QS02 ini agak kurang ya rasanya untuk disandingkan dengan proyektor kelas premium banget seperti ini. Lalu hanya ada satu speaker terintegrasi. Jadi kalau mau lebih mantap saat menikmati konten, lebih baik pasang sistem audio tambahan. Mungkin ini sistem audio dipasang untuk ngetes di awal aja kali ya. Kemudian proyektor ini butuh ruangan yang cukup luas untuk mendapatkan hasil proyeksi ukuran besar. Proyektor ini memang bukan tipe yang short throw soalnya ya. Kemudian proyektor ini tidak punya mode standby dan di remote itu tidak ada ecoblank. Jadi kalau cuma mau stop nonton sebentar, kalau mau lebih hemat proyektor ini harus dimatikan dan dinyalakan ulang kalau mau lanjut nonton. Lalu hanya ada 2D vertical auto key saja. Jadi ini hanya bisa membantu mendapatkan tampilan yang lebih pas kalau proyektor ditempatkan tegak lurus dengan bidang proyeksi. Kemudian memang kalau dibandingkan dengan TV OLED kontrasnya belum bisa dibilang yang super-super tinggi. Tapi untuk kebanyakan orang ini harusnya sudah mencukupi sih. Pastikan saja ruangan kalian memang gelap ya. Namanya juga peminda bioskop ke rumah yang menada bioskop pakai jendela kan. Dari si menariknya resolusinya udah langsung 4K native 4K ini mendukung tampilan tajam dengan resolusi tinggi. Mendukung sekali untuk proyeksi ukuran besar ya. Tampilan warnanya udah mantap dengan saturasi warna tinggi tapi enggak berlebihan. Akurasi warnanya juga dijamin sudah dikalibrasi oleh BQ dan ya terasa sih memang. Lalu ada support HDR10, HDR10 Plus dan HLG juga di-support. Kemudian ada optimalisasi ekstra berbasis AI untuk meningkatkan kualitas konten streaming. Brightness juga udah relatif tinggi di sekitar 3.200 Ansil Lumens. Ini bukan yang super terang sampai cocok dipakai di ruangan berlampu atau yang penuh dengan jendela di siang hari. Tapi untuk pengunaan standar sih gak perlu ruangan yang gelap total juga untuk menampilkan hasil yang berkualitas. Meski demikian, kalau kita taruh di ruangan yang gelap total hasilnya mantap. Luar biasa sih memang ya. Lalu tersedia donggol Android TV setidaknya membuat proyektor ini bisa digunakan menikmati konten tanpa perlu dihubungkan ke perangkat yang lain. Ya udah ada tersedia di situ. Tapi kalau butuh menghubungkannya ke perangkat lain, di sini ada tiga port HDMI ya. bahkan bisa support sampai 4K 120 Hz atau 1080p 240 Hz. Lalu untuk opsi konektivitas untuk sistem audio tambahan juga melimpah di sini bisa pakai analog out, digital out, dan audio return plus atau E arc ya. Kemudian dia punya lens shift vertikal dan horizontal untuk mengaturan posisi tampilan hasil proyeksi. Selain itu walaupun cuma 2D key stone ini sebenarnya udah sangat membantu kalau proyektor sudah tegak lurus dengan bidang proyeksi. Kemudian banking juga sepertinya udah paham sekali bagaimana mengoptimalkan tampilan agar sesuai dengan tujuan utama proyektor ini, home sinema. Ya, fitur-fitur pendukung kualitas tampilan yang diartikan memang cocok untuk membantu meningkatkan kualitas tampilan film. Sementara fitur yang jasa kurang pas untuk film seperti Motion Enhancer 4K secara standar enggak diaktifkan, tapi kita masih bisa aktifkan secara manual. Ya, BQ 4100i proyektor home cinema premium ini memang menawarkan beberapa peningkatan kalau dibandingkan pendahulunya yang W4000i. Menariknya, peningkatan tawarkan BQ terlihat sudah disesuaikan dengan kebutuhan spesifik home cinema ya, termasuk HDMI yang lebih banyak serta optimalisasi tampilan untuk konten streaming. Kekinian banget kan tuh ya. Frakor seperti ini pastinya akan cocok untuk yang ingin merasakan pengalaman imersif alat teater atau bioskop di dalam rumah sendiri. Ya, kami tahu ini memang bukan untuk semua orang, tapi proyektor Home Cinema Premium seperti ini tetaplah perangkat teknologi yang menarik untuk dibahas. Kan terlihat peran teknologi seperti BandQ ini tetap bisa menghadirkan peningkatan menarik untuk proyektor Home Cinema Premium W4100 ini. Padahal apa yang ditawarkan di pendahulunya udah mantap banget. Jadi, buat kalian yang rasanya sudah kepengin membuat bioskop kecil di dalam rumah ya atau mungkin punya pojokan rumah yang gak kepakai, pengin dirancang buat spesial nonton film, yang satu ini bisa jadi senjata andalan yang membuat hasil tampilan besar dan kualitasnya mantap. Saya D Irfan Jaka DP TV.

Lihat di YouTube