Sepenting Apasih Screen Time Anak? (YouTube Video)
Di era serba digital kayak gini, sebagai orang tua kadang itu saya juga merasa dilema. Apalagi buat yang baru banget punya bayi umur 6 bulan terus dia sudah mulai MPASI dan yang suka lari-larian. Kenapa dilema? Karena bayi kita baru lahir saja dia sudah dikepung [mendengus] sama yang namanya layar. Lagi nyusuin tengah malam orang tuanya sambil scrolling HP di sebelah kepala bayi, terus di ruang tengah TV nyala terus buat nemenin suasana rumah. Pas masuk umur 6 bulan dan mulai susah makan, kita godain lagi pakai video-video biar anak kita itu ya mau disuapin. Sampai bahkan [berdehem] saya sendiri pun kalau lagi makan di luar terus anak saya itu rewel, biasanya langsung saya kasih HP karena saya enggak enak sama orang-orang sekitar kalau mengganggu mereka dengan suara tangis anak saya. Pertanyaannya, di zaman digital di mana semuanya sudah nempel sama layar, apakah anak memang harus dijauhkan sepenuhnya dari layar? Seberapa gede dampaknya anak kalau terlalu terpapar dengan layar? Dan sebenarnya baiknya gimana? Ngatasinya gimana? Di video kali ini kita coba kupas. Kalau kita ngomongin screen time anak, di pikiran kita langsung tuh anak duduk pegang HP nonton Cocomelon, Baby Shark, ILC. Kita rehat sejenak. Siapa tahu dari kecil memang dia sukanya politik, kan kita enggak tahu. Padahal masalah screen time ini bisa dimulai jauh sebelum anak itu sudah bisa nonton layar dari TV. Contoh paling sederhana ya TV yang nyala seharian di ruang keluarga meskipun bayinya enggak benar-benar nonton, suara dan gambar dari TV tetap bisa mendistrak otak bayi. Dan ada penelitian yang menarik soal ini. AAP punya konsep yang disebut dengan crowding out. Sederhananya layar mulai jadi masalah ketika menggantikan aktivitas yang sebenarnya lebih dibutuhkan sama anak. Misalnya waktu tidur, main, gerak atau ngobrol sama orang tuanya. Dan buat bayi sebenarnya interaksi sederhana itu penting buat perkembangan otak mereka. Kalau bayi sering nonton TV, sering nonton Bunda Tedy, kan bahaya lebih mengenal Bunda Tedy dibanding bundanya sendiri, itu bahaya loh. [tertawa] Jadi sebenarnya bukan semata-mata karena screen time TV ataupun HP, tapi apa yang anak-anak kita itu lewatkan ketika mereka kedistract sama TV dan juga HP. Nah, sekarang pertanyaannya sebenarnya dari umur berapa sih mereka itu boleh nonton layar? Kalau kita mengacu dari rekomendasi WHO dan juga dokter organisasi anak, aturan screen time itu sebenarnya dibedakan berdasarkan usia. Dan semakin kecil usia anak, semakin ketat juga rekomendasinya. Pertama, untuk bayi 0 sampai 18 bulan. Di usia ini rekomendasi umumnya adalah menghindari screen time pasif. Mau itu dari TV, tablet, atau smartphone. Karena untuk bayi, mereka tuh butuh pengalaman langsung, interaksi langsung. Tapi ada pengecualiannya di sini ketika video call. Kenapa pengecualian? Karena video call itu ada interaksi. Ada kita kayak mancing bayinya, "Oh, halo." Kayak gitu. Kalau misalkan pasif, itu ya tontonan yang dia enggak ngerespon ke bayinya, itu namanya pasif. Kedua, umur 18 sampai 24 bulan. Di usia ini yang disarankan harusnya masih menghindari screen time. Cuman kalau orang tua mulai ngenalin tontonan, orang tua wajib banget buat ngedampingi, ngasih konten yang berkualitas. Dan sebisa mungkin masih ada interaksi. Kalau untuk durasinya berapa, saya sudah riset-riset jurnal dan sayangnya saya enggak nemu jurnal yang ngasih rekomendasi batas screen time-nya itu berapa. Tapi banyak artikel-artikel, intinya harus didampingi. Ketiga, usia 2 sampai 5 tahun. WHO merekomendasikan maksimal 1 jam sehari untuk tontonan pasif dan lebih sedikit lebih baik katanya. Perlu digarisbawahi dan dibold juga ya. 1 jam screen time itu maksudnya totalnya ya. Mau lihat dari tablet, TV, atau smartphone, itu total 1 jam. Bukan tablet sejam, TV sejam, smartphone sejam gitu, enggak. Terakhir, anak usia sekolah. Nah, di fase ini lebih fleksibel. Tapi yang perlu diperhatikan di fase ini bukan cuma durasinya, tapi juga konten yang dia lihat apa aja, anak main HP ngapain aja, dan apakah aktivitasnya ganggu tidur, belajar, atau hubungan sosial mereka. Nah, kalau dari rekomendasi ini kita lihat bayi itu ketat banget, tapi kenapa bayi [musik] itu rekomendasinya seketat itu? Karena saya punya anak ya, jadi saya sudah dengar narasi-narasi anak tuh dikasih video edukatif yang warna, terus huruf, gitu-gitulah yang sensorik. Tapi ternyata cara belajar bayi itu enggak sesimpel itu. Ada fenomena yang namanya video deficit effect. Intinya, bayi dan anak yang masih kecil cenderung lebih sulit belajar dari video dibanding pengalaman langsung. Contohnya, bayi ngelihat orang nyusun balok lewat TV atau HP, belum tentu dia langsung bisa menirukan aktivitas itu di dunia nyata. Tapi ketika diajak main langsung, sensoriknya itu jalan semua. Jadi, tangannya megang baloknya, terus kita arahkan pakai tangan, itu lebih interaktif. Proses kayak itu tadi lebih kayalah buat proses belajarnya bayi. Penelitian dari Seri Medigen, dia itu meneliti 2.400 anak di mana anak yang punya screen time tinggi, itu biasanya punya perkembangan yang lebih rendah di usia berikutnya. Belum lagi masalah common yang saya lihat, kadang pun saya juga melakukan ya, layar itu jadi kayak empeng digital. Karena tiap anak tantrum nangis, langsung kita kasih layar biar dia tenang. Ya, emang kadang langsung berhasil ya, tapi kalau terlalu sering dijadikan cara utama untuk menenangkan anak, mereka bisa kehilangan kesempatan berlatih ngeregulasi emosinya. Karena regulasi emosi atau manajemen emosi ketika mereka enggak pakai layar, itu juga penting buat perkembangan mereka. Tahun 2011, Angelina Lailer dan tim ngelakuin eksperimen pada 60 anak usia 4 tahun. Mereka membandingkan tuh anak yang nonton kartun cepat, kartun edukasi, dan anak yang menggambar dengan durasi cuma sekitar 9 menit. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang menonton kartun cepat dan colorful punya performa lebih rendah dalam beberapa tes fungsi eksekutif saat setelah mereka nonton. Makanya kalau misalkan kita nonton video apapun sebenarnya itu ada kayak regulasinya. Ini untuk umur 18 plus, ini untuk balita, ini untuk semuanya. Ada tuh pasti label-label kayak gitu. Terus kalau buat anak sebenarnya tontonan apa sih yang direkomendasikan? Kalau kita lihat dari rekomendasi AAP ya, salah satu yang perlu diperhatikan adalah pacing atau seberapa cepat sebuah tontonan itu berjalan. Sederhananya ada konten yang lebih tenang yang disebut slow pace konten dan ada konten yang ritmenya lebih cepat. Nah, kalau YouTube Tech Reviewer itu YouTuber cupu tuh ritmenya cepat banget. Tak tek tak tek tak tek tak tek. Tapi ritme cepat itu enggak cocok buat anak-anak karena ya dia terlalu cepat menyerap informasinya. Nah, kalau tontonannya apa yang direkomendasiin sih yang pertama ada Kinder Flick ya. Itu isi kontennya interaktif dan ngajak anak buat kenal data, benda atau aktivitas lewat komunikasi langsung ke kamera. Ada juga Bing kalau kalian pernah nonton, Bing ini sering banget ngadepin masalah sederhana yang mungkin juga dialami anak kecil mulai dari rebutan mainan, kecewa, marah sampai belajar berbagi. Dan biasanya ada Flop yang ngebantu Bing untuk memahami situasinya. Kenapa saya tahu? Karena saya juga nonton Bing, nonton Cocomelon sama anak saya bareng biasanya. Contoh lainnya ya Danusa, Rara, Upin Ipin atau Bluey. Konten kayak gini punya cerita tentang keluarga, pertemanan dan kebiasaan sehari-hari yang bisa jadi obrolan sama anak-anak. Dan biasanya kalau kita nonton jangan cuma nonton aja ya tapi dikasih interaksilah. Kalau misalkan Bing-nya marah kita bisa tanya ke anak kita tuh, kenapa ya kira-kira Bing-nya marah ya? Kenapa Flop-nya seperti ini ya? Jadi interaksinya itu bisa dua arah gitu. Jadi anak bisa tahu, langsung bisa cepat memahami karena ya namanya anak-anak proses perkembangannya itu beda sama yang udah dewasa. Semakin cepat semakin bagus. Kalau dari chapter-chapter tadi ya seolah-olah kayak wah screen time ini berarti bahaya ya buat anak saya ya. Sebenarnya enggak juga karena kita enggak bisa hindarin itu screen time di dunia digital, di dunia AI, di dunia teknologi kayak gini enggak bisa dihindari. Yang penting kita harus bisa membedakan antara screen time buat bayi dan buat anak yang sudah lebih gede karena aktivitasnya, penyerapan informasinya juga berbeda. Nah, sekarang kita masuk ke chapter sebagai orang tua, kita harus gimana dong? Kalau saya rangkum ya dari panduannya WHO dan juga AAP, pertama jangan buru-buru ngenalin tontonan saat anak masih bayi terutama di usia 0 sampai 24 bulan, entah itu TV, smartphone atau tablet. Kedua, jangan terlalu mengandalkan layar untuk menenangkan anak. Ketiga, pilih konten yang sesuai sama umurnya dan juga batasi durasinya. Empat, ketika anak lagi nonton dampingi, kalau bisa tetap ada interaksi. Dijelaskan itu di layar, "Oh, itu dia lagi kayak gini, kenapa dia marah?" Jadi ekspresinya marah itu kayak gitu, jadi perkembangan bayi bisa lebih cepat, perkembangan anak itu bisa lebih cepat. Dan yang kelima, menurut saya ini lebih ke saya sendiri sih ya evaluasi ke diri saya sendiri karena screen time saya sehari itu bisa banyak banget. Jadi gimana saya bisa membatasi screen time anak saya kalau screen time saya sendiri aja udah tinggi. Jadi pelan-pelan memang sekarang saya lagi belajar juga mengurangi screen time biar saya bisa tetap bisa interaksi sama anak saya karena takutnya ya kalau terlalu nonton apa gitu screen time saya, tiba-tiba anak saya udah umur 17 tahun saya enggak sadar gitu kan. Enggak lucu ya. Jadi kalau kita tarik dari kesimpulan semua chapter itu tadi, menurut saya screen time ini bukan sekedar persoalan boleh atau enggak boleh karena kenyataannya jadi orang tua di era digital emang punya dilema sendiri. Kita hidup di dunia yang hampir semuanya terhubung dengan layar. Dan ya saya rasa enggak adil aja ya kalau misalkan kita langsung judge, "Wah, ini keluarga ini langsung ngasih layarnya ketika tantrum." Karena kita enggak tahu masalah mereka gimana atau perlakuan mereka sama anaknya gimana. Kita kadang itu terlalu nge-judge terlalu cepat. Tiap keluarga pasti punya kondisi dan tantangan yang berbeda-beda, tapi di sisi lain anak juga punya masa perkembangan yang enggak bisa kita ulang dan enggak bisa kita sepelekan. Ada waktunya mereka perlu belajar menelai wajah kita, mendengar suara kita, bermain, bergerak, ya nyoba hal baru dan memahami dunia nyata. Dan semua eksperimen itu enggak bisa sepenuhnya digantiin oleh layar. Jadi pertanyaannya coba dibalik tuh, bukan berapa lama ya anak saya boleh nonton di depan layar ya, tapi dibalik aja kira-kira apa yang anak saya lewatkan kalau misalkan dia terlalu melihat layar. Karena kan teknologi itu seharusnya ngebantu kehidupan ya, bukan menggantikan peran kita sebagai orang tua. Dan pada akhirnya, menurut saya kita enggak harus jadi orang tua yang sempurna. Yang penting kita mau belajar dan tetap memberikan yang terbaik buat anak. Makanya kalau misalkan kalian ditanya, "Kapan punya anak?" itu suruh diam aja. Karena mereka enggak tahu punya anak itu gimana beratnya ya. Punya anak itu bukan sekedar ya, mainan. Punya anak itu harus komitmen dan kita juga harus pintar membagi waktu. Nah, buat teman-teman sekalian yang sudah punya anak mungkin juga bisa share gimana sih kalian ngatasin screen time di anak kalian. Sandy Kusuma Widhi and see you on the next video. Bye bye.
