Serius Laptop Gaming Sekenceng ini Cuma 12 Juta ?! Acer Nitro Lite 2025 Review (YouTube Video)
Acer rilis laptop gaming 12 jutaan yang bakal ngegoda iman. Punya tampang cakepsiran, bodinya ramping dan tergolong ringan. Spek dan performanya pun meskipun bukan rata kanan udah bisa jadi laptop idaman. Mau buat main game sambil liburan, kerja sambil jalan, atau bahkan flexing di kulian. Beh, bisa banget ini, Gan. Ya udahlah ya, enggak usah melawan. Selamat menonton. Yang seenaknya bikin kebijakan itu ya. Warmindo sebelah saya itu kalau bikin kebijakan emang suka seenaknya. Hai Andika guys di sini. Jadi kenalin ini adalah Acer Nitro Lite. Wah kalian pasti udah enggak asing ya dengan kata Acer Nitro yang biasanya jadi laptop entry levelnya Acer. Jadi kan ada predator terus ada nitro. Nah, sekarang di bawah nitro ada kata light lagi yang seharusnya berarti memang dia lebih entry level dibandingkan dengan Acer Nitro. Tapi yang menarik walaupun dia ada kata light-nya di harga R jutaan, dia udah pakai prosesor yang kencang dengan Intel Core i7 13620 H ya, terus ada GPU diskritnya. Layarnya 100S sRGB, SSD-nya super kencang, RAM-nya juga gede. Nah, sekarang kata light-nya ini ada di mana? Padahal kalau kita lihat dari speknya enggak ada light-nya sama sekali. Apakah dari desain? Hmm, coba deh kita lihat desainnya dulu. Serius, Nitro Light 16 ini cakep sih buat ukuran laptop gaming budget yang ada kata light-nya. Jadi, menurut saya desainnya juga enggak light-light banget. Bodinya ramping, bobotnya itu cuma 1,95 kg dan ketebalannya cuma 2,29 cm. Jarang loh ya ada laptop gaming seramping ini di harga R jutaan. Warna dari laptop ini juga enggak noraka, warna putihnya itu kelihatan elegan berasa kayak laptop gaming flagship. Jadi kalau misalkan kita bawa meeting ke kampus, ke kafe atau kerja kelompok, kita tuh enggak kayak kelihatan mau ikut turnamen esport gitu karena gamingnya enggak terlalu kelihatan. mungkin yang agak diade off atau dipangkas di build quality-nya sih karena big quality-nya ini overall dia pakai bahan material plastik yang light-nya tadi yang kalau kita pegang feel plastiknya masih kerasa beberapa area juga masih ada area yang kopong ya tapi namanya juga laptop gaming budget ya jadi masih bisa kita maklumin finishing-nya pakai mid yang enggak gampang nempel fingerprint jadi enggak gampang kotor tapi tetap harus sering dibersihin juga ya karena warnanya putih karena kalau kena noda dikit ya putih pasti kelihatan tapi overall Kalau soal desain 1 sampai 10 saya kasih 7,5 lah. Karena desainnya untuk laptop gaming budget. Cakep sih, enggak kelihatan. Salah satu yang bikin saya emiss lagi itu layarnya ya. Layarnya walaupun ada kata light tapi layarnya ini juga kalau dibilang light enggak juga. Di kelas harga R jutaan refresh rate-nya udah 180 Hz pakai panel IPS 16 inch. resolusinya itu Wuxga atau ya mirip 2K dan diklaim color gambutnya itu ada di 100% sRGB. Walaupun memang ketika kita tes enggak sampai 100% sih, tapi tipis banget bedanya dengan sRGB-nya. Ketika kita tes 98,8%, adob RGB-nya ada di 83,2% P3-nya 77,9% ya. melesetnya cuma sekitar 1, sekian persen. Yang ketika saya gunain untuk editing, untuk preview foto, preview edit di sini masih terlihat natural sih, aman. Jadi warnanya itu enggak meleset jauh. Desain dan juga layar menurut saya enggak ada kata light-nya. Nah, sekarang kita ngomongin spesifikasi dapur pacunya yang seperti di intro tadi juga saya enggak nemu kata lab-nya ini ada di mana karena ya prosesornya udah pakai Intel Core 7 generasi 13 13620H yang emang segmennya buat gaming atau kebutuhan kinerja tinggi yang secara performa emang udah kencang. RAM-nya 16 GB DDR5 ya bukan DDR4 dengan speed 4800 MHz dan storage-nya 1/2 TB SSD M.2 NVME yang pas kita tes speed-nya itu hampir 5000 Mbps untuk read. W-nya di 2600 Mbps. Sekali lagi kata LED-nya itu saya enggak nemuin. Nah, GPU-nya mungkin kalau kalian ngerasa wah ini GPU-nya jadul karena untuk GPU-nya dia pakai RTX 2050. Sedangkan sekarang udah zamannya RTX 50 series. Tapi kalian gak bisa ngeremin RTX 20 series di Acer Nitro Light ini. Karena pintarnya Acer, dia naikin MGP-nya atau maksimum graphic power yang biasanya kalau di laptop itu 45 watt. Nah, sama Acer dinaikin jadi 55 watt. Habis ini kita cobalah gimana performa GPU-nya. Senjata lainnya di sektor gaming untuk GPU-nya dia punya DLSS 3.5 bukan 4.0 seperti yang RTX 50 series ya. yang fungsinya kalian udah pada tahulah yang intinya untuk merekonstruksi resolusinya biar seperti natif. Tapi sebenarnya enggak. Jadi resolusinya kecil yang bikin FPS-nya lebih gede seolah-olah natif. Ya udahlah ya, enggak usah banyak teori daripada kalian bingung. Langsung aja kita sikat gimana performanya. Tapi seperti biasa kita coba dulu di Ceb R15. Dan untuk performa core-nya ketika ini plugin ya dengan skenario rata kanan single core-nya itu dapat di 264. Multicore-nya running pertama itu hampir 2000 poin, tapi sisanya baru tuh kayak fluktuatif di 1800 dan 1500, 1600 dan juga 1700 juga ada. Dan kalau kita lihat CPU package power-nya dengan skenario rata kanan ini ya spike spek-nya di 55 watt dan untuk suhunya masih relatif aman sih di 85 derajat celcius. Dan kalau kita lihat seharusnya sih dia bisa ditarik lagi ke 60 watt ya. Mungkin karena memang Acerasi di sini karena kalau misalkan kita unplug atau tidak diplugin hasilnya itu mirip-mirip dengan di plugin ya dengan single core-nya itu 265 dan multiore-nya di kisaran 1700, 1500 dan 1600. Kalian bisa lihat di tabel ini aja. Kalau unplug TDP-nya prosesor itu ada di 45 watt, tapi kalau untuk suhunya ya turun sih sekitar 5 derajat Celcius dengan spek-speknya di 80 derajat Celcius. R23 dengan skenario reta kanan. Single core-nya di 1700-an poin, multi core-nya 9.000 sampai 10.000 poin. Dan kalau kita lihat tdp dan juga suhunya itu mirip-mirip dengan SBZ R15 tadi. Skenario R23 unplug atau tanpa charger juga mirip-mirip dengan R15. Jadi kalau kita lihat TDP-nya itu di spike-spek-nya 50 watt. Suhunya juga di kisaran 90-an derajat celcius. Nah, yang menarik dites 3D Mark-nya karena biasanya laptop gaming itu jarang ada yang lolos ya. Tapi Nitrol ini dengan RTX 2050-nya lolos stability test dengan time spice test di skor 98,7%. Solar B-nya juga tinggi di 18.000-an poin. Dan kalau kalian perhatikan GPU power-nya ya, dia spek speknya di 55 watt. Yang biasanya laptop entry level kayak gini di 45 watt. Jadi naik sekitar 10 watt. Nah, sekarang langsung aja kita tes main game. Main game ini kita tes jadi dua versi ya. Jadi ada yang DLSS-nya on dan ada yang di LSS-nya off. Karena saya pengin tahu original performance-nya kalau DLSS-nya off kayak apa. Tapi sebelum itu kita tes di game casual dulu ya. Kayak gameita 2 graphic base looking resolusinya full HD. Average FPS dia dapat 84, maksimumnya di 104 FPS. Drop-dropnya juga masih angka aman 72 fps. Valoran juga aman dengan graphic high resolusi full HD, average FPS 143, maksimumnya bisa tembus 158. Drop-dropnya cuma 120 fps. Watch doc kita coba di resolusi full HD. Grafiknya medium, DLSS-nya performance, retracing-nya medium, average FPS dia bisa dapat 33, maksimum bisa tembus 52. Tapi kadang dropnya ya sekali-sekali bisa turun di bawah 30 fps. Nah, sekarang kita coba game DLSS-nya di game Cyberpunk. Kalau DLSS-nya off dengan retracing low full HD, average FPS dia gak dapat ya, enggak playable dengan 22 FPS maksimumnya ya cuma 28. Tapi kalau DLSS-nya on kalau kita lihat di sini average FPS-nya langsung naik dua kali lipat. Average-nya 40-an FPS maksimum bisa tembus 50 fps. Dropdopnya cuma di 29 FPS. Jadi Cyberpunk juga masih playable asal di LSS-nya nyala. Ya, gimana kalau kita gunain dia untuk editing yang berat? Wah, ini sih gaming tadi aja udah oke, apalagi editing ya. Premiere Pro kita coba export 4K dengan template yang memang biasa kita pakai. Xort 4K-nya selesai dalam waktu 2 menit 37 detik. Ken apalagi kalau mainan full HD aja 1 menit 35 detik. Blender dengan CPU render dia selesai dalam waktu 4 menit 59 detik. Kalau untuk GPU rendernya walaupun RTX 2050 ya enggak bisa dianggap spele sih karena dia selesai dalam waktu 1 menit 5 detik. Dan kalau kita lihat dari performance-nya tadi, combo antara Intel Core i7 Gen 13 sama RTX 2050 plus AI-nya jadi booster visual banget sih untuk FPS. Jadi kombinasi ini bikin Nitrolite jadi paket lengkap yang cukup menarik di harga R jutaan. Tapi ada sedikit catatan ya, kalau misalkan kalian pengen main game dengan durasi yang lama, colokin charger aja biar mainnya itu lebih playable ya. Hampir semua laptop gaming kayak gitu sih. Untuk suhunya sendiri pas kita tes pain game Cyberpunk selama 30 menit tertingginya lumayan 54,2 derajat Celcius. WASD-nya juga lumayan hanget 46,4 derajat Celcius. Nah, mungkin light-nya ada di bagian sini ya, karena dia enggak ada software kayak di nitro yang non light yang bisa kita atur fan cooling-nya gimana. Karena ini fan cooling-nya otomatis sih, jadi langsung disesuaiin sama dia. Dan kalau dibilang berisik atau enggak, enggak sih berisik tapi enggak yang sampai ngeganggu. Terus kalau digunain untuk kerja gimana, Bang? Wah, kalau laptop gaming dipakai buat kerja pasti kencang sih. Contohnya kalau misalkan kita mau explore PowerPoint 150 slide ke PDF selesai cuman dalam waktu 8 detik aja. Excel randomiz data large selesai dalam waktu 36,26 detik aja. Lanjut kita bahas input device kayak keyboard dan juga trackpad-nya. Keyboard masih cukup nyaman buat ngetik-ngetik atau buat main game. Travel distance-nya juga udah cukup dalam. Fel ngetiknya ini soft. Key caps-nya juga cukup nyaman, ukurannya pas buat tangan saya, tapi feel plastiknya masih berasa sih. Sama kayak di bagian touchpad-nya juga, tapi untungnya touchpad-nya ini udah lumayan cukup responsif, enggak ada komplit lah. Lanjut kita bahas webcam-nya. Wah, webcam-nya juga enggak ada kata light-nya ya. Karena webcam-nya ini punya resolusi full HD, walaupun cuma 30 fps tapi full HD. Dan kalau kalian lihat ini temanya video saya ini agak-agak dramatik gitu ya. Jadi, lighting-nya enggak yang rata gimana gitu, tapi kulit masih ada kelihatan jerawat-jerawatnya, bopengnya, jadi enggak langsung soft gitu. Detailnya masih cakep. Noise juga masih ada, tapi enggak kayak laptop yang malah enggak ada kata LED-nya ya. Ini LED light tapi kayak enggak ada light-nya untuk urusan webcam-nya masih cukup cakep. Jadi, kalau misalkan kalian gunakan untuk meeting online enggak perlu webcam eksternal sih. Masih. Oke, lanjut ke konektivitas. Walaupun light dia pakai Wii-nya Wi6 jadi udah yang futurproof. Bluetooth-nya pakai Bluetooth versi 5.3. Portnya sendiri juga udah lengkap. Bisa kalian lihat aja di sini. Tapi yang paling penting dia udah ada satu port Thunderbolt 4. Gokil. R juta ada kata light-nya. Tapi punya Intel Thunderbolt 4 40 GB/s. Yang fungsinya ya buat transfer data yang lebih cepat. Dan saking cepatnya kalian bisa extend monitor kalian sampai 8K tiga monitor dan bisa extend pakai eGPU juga. [Musik] Terakhir kita bahas baterai. Nah, kalau baterai sih kalau dibilang LED enggak juga standar, tapi ya biasanya kalau laptop-laptop gaming inter level itu 48 wat hour. Tapi Acer Led ini ngasih kita baterai 53 wat hour. Adapternya kita dapat yang 90 wat dan udah kita tes di PCM modern Office juga dan dia bisa bertahan sekitar 4 jam 49 menit. Untuk laptop gaming segitu itu masih ukuran kalau dibilang awet banget enggak, tapi standar lah 4 jam hampir 5 jam laptop gaming untuk kerja masih oke. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Acer Nitrol Light 16. Kalau misalkan kita rangkum kelebihan dan kekurangannya, kita bahas kekurangannya dulu ya yang mungkin bisa kalian jadiin poin pertimbangan ya. Fitur-fitur printilan khas gaming-nya light banget sih karena backlit pun enggak ada. Jadi kalian kalau tanya, "Bang, keyboard-nya RGB enggak?" Nah, kalau backlit-nya aja enggak ada, gimana mau RGB? Jadi, ti off-nya di situ. Terus aplikasi khusus buat setting mode kayak Nitro Sense juga enggak ada yang mungkin karena versi LED tadi ya, printilan kayak gitu enggak dikasih buat nekan cost production-nya. Tapi kalau saya pribadi kalau disuruh milih RGB backl hilang tapi harga murah, saya pilih ini sih. Karena saya pribadi jarang pakai RGB backlet. Terus pertimbangan lain ya, GPU-nya ini GPU yang launchingnya lumayan jadul lah ya, RTX 2050. Tapi kalau kita lihat performanya tadi masih capable untuk beberapa game-game berat saat ini. Tapi kalau kita lihat lagi karena harganya 12 jutaan, kelebihannya lebih banyak sih. Contohnya port USBC aja dia udah Thunderbot. Jarang loh ya laptop gaming yang harga segini ada Thunderbolt 4-nya biasanya ya USBC biasa aja. Terus layar kita juga dapat cakep hampir 100SR RGB kalau tes kita. Terus 180 Hz juga refreshernya. Performance di harga R jutaan mennya juga kencang L ya. Intel Core S7 generasi 13 plus RTX 2050 dan RAM 16 GB storage 512 Rp2 juta. Itu racikan yang mahal banget untuk harga Rp2 jutaan. Desainnya juga cakep putih kayak jarang yang punya ya. Pokoknya gaming warna putih itu menurut saya kayak cakep gitu karena biasanya kan hitem dan mainstream ya. Overall sih dengan harga R jutaan, Acer Nitro Light 16 ini bisa menjadi rekomendasi yang menarik banget buat kalian yang budgetnya benar-benar mepet tapi pengen performa kencang dengan desain yang cakep. saya and see you on the next video.
