SERU !! Ketika Brand Lokal Legendaris ikut ramein Laptop | Polytron Luxia (YouTube Video)
Kalau kita dengar kata Polytron di otak kita itu pasti oh TV, kulkas, AC atau home appliance lainnya. Dan ada mobil listrik, motor listrik juga yang bulan kemarin baru launching. Tapi gimana kalau Polytron ngeluarin laptop? Agak aneh enggak sih? Wah, laptopnya bakal dingin nih kayak kulkasnya, layarnya bakal awet nih kayak TV-nya. Atau kalau laptopnya panas ya tinggal masukin kulkasnya Polytron aja. Hm, menarik. Jadi pertanyaannya gimana kalau brand legendaris asal Indonesia Polytron yang biasanya bikin Home Appliance bikin laptop juga? Apakah cuma gimmik atau hype aja karena brand lokal lain juga ngeluarin laptop? Yuk kita bahas. Hai Andika guys di sini kenalin ini adalah Politron Luxia. Luxia. Wuh. Dari namanya aja udah kayak anak orang kaya. yang di lesin piano gitu. Luxia, luxury, intelligent, dan affirmation. Beh, dari nama aja udah filosofis banget ya. Kayak pengguna yang speknya mid tapi cita-citanya high. Ekosistem Polytron juga lengkap banget mulai dari AC, TV, kulkas, motor, dan mobil listrik. Saya curiga, bentar lagi mereka masuk ke ranah kosmetik karena laptop mereka aja udah glowing kayak gini. Spesifikasinya dia pakai Intel Core i3 Gen 12150U 6 core 8 trad yang clock speed-nya bisa sampai 4,4 GHz. RAM-nya 8 GB DDR4 dan kalau dirasa multitasking-nya mulai ngos-ngosan, dia masih bisa di-upgrade kok sampai 64 GB. SSD-nya 256 GB dan masih bisa di-upgrade lagi. Jadi kalau kalian tanya perihal upgrade ability-nya, wah udahlah aman. Untuk speed SSD-nya juga lumayan kencang. ng rit-nya itu sekitar 3.000-an Mbpsps. W-nya di sekitar 1300 Mbps. Untuk desain Poltrron Luxia yang i3 ini tampilannya agak beda ya. Sekali lagi agak beda kalau dibandingin sama brand lokal yang lain. Dia itu punya bentuk yang lebih kalem dan clean. Kalau dilihat dari samping bentuk bodinya makin mengecil ke arah depan yang mau ngasih kesan slim dan profesional. Bahan yang dipakai untuk bagian punggung layar udah cukup mewah pakai bahan metal. Logo poitornya juga kecil, enggak leb, enggak norak. Di brand sebelah itu ada tuh logonya yang wah domble banget bahasa Indonesia. Domble itu gede banget gitu. Penginnya biar kelihatan tapi ya jatuhnya kurang fashionable. Frame layar-nya juga tipis di hampir semua sisi dan logo Polytron di bawah layar pun kecil aja, minimalis, modern, enggak ada drama, gila branding gitu di laptop ini. Feel dipegangnya juga solid karena dia pakai bahan material metal. Dan untuk exelnya ini dia juga udah bisa dibuka sampai 180° L untuk fitur presentasi keyboard-nya. Sayangnya belum ada backl tapi yang bikin saya kaget feel-nya enak banget. Finishingnya bagus, key travelnya itu pas, enggak terlalu dalam, dan ukuran tiap key-nya juga lega. Cocok buat jari lentik saya yang suka bikin caption estetik. Terus touchpad-nya juga udah solid ditekan kanan kiri bawah atas itu enggak kayak yang biasanya kan kalau laptop murai itu kan kayak oblak ya, kayak kurang kerasa mahal gitu. Tapi ini udah pas, nyaman, enggak ada komplit. Ukurannya juga cukup gede. Belit quality-nya itu kerasa kayak laptop 7 sampai R jutaan gitu kalau untuk urusan touchpad. Sekarang kita bahas performanya ya. Jadi dia pakai Intel Core i3 1215U yang kira-kira sekitar 40% lebih kencang dibanding Core i3 generasi 11 1115 G4 generasi sebelumnya. Dan kalau dibanding sama Intel Core i3 generasi ke13 1315 selisih performanya itu sekitar 10% aja. di tes benchmark kita sintetis CBZ R15 dia dapat rata-rata di 767 poin dan single core-nya di 204 poin kalau mode plugin dan turun cuma sekitar 3% saat mode baterai only dengan single core performance di 162 poin dan multiore-nya rata-rata di 770 poin. Kalau di R23 rata-rata multior-nya itu ketika mode plugin di 4800-an poin. Dan kalau baterai only performanya itu mirip-mirip aja. Paling turun sekitar cuma 1,6% dibanding mode plugin. Jadi performanya lumayan nyenangin ya. Ketika kalian pakai adapter atau kalian enggak pakai adapter, turunnya itu cuma sekitar 1% aja. Sintetis lain di 3D Mark surprisingly dengan body tipis kayak gini dia lolos uji stres-stes yang hasilnya enggak main-main 99,2% yang artinya suhu dan performanya konsisten saat digeber terus-terusan karena kan 3D Max Stres Test itu diloop sebanyak 20 kali. Untuk time spck dan f stack hasilnya bukan yang gede ya karena ini murni pakai epu Intel UXD bukan VGA discrpt. Tapi kalau kalian tanya, "Bang, kalau buat rendering masih aman enggak?" Ya aman kalau kalian mau agak nunggu ya. Karena ketika kita tes pakai Adobe Mi Pro dengan template yang memang biasanya kita pakai export ke 4K dia di 12 menit 20 detik. Tapi kalau pengin lebih cepat bisa main di full HD aja. Dia selesai di 8 menit 21 detik. Kalau mau pakai blender dengan template BMW bisa juga, tapi ya itu tadi harus agak sabar ya, karena untuk CPU rendernya itu di 9 menit 54 detik. GPU rendernya mirip-mirip juga 9 menit 45 detik. Kalau untuk main game gimana, Bang? Sebenarnya laptop ini bukan laptop untuk main game, ya. Dia laptop kerja yang minimalis, clean, modern. Prosesornya juga masih seri O. Tapi enggak apa-apa, kita cobain game tipis-tipis kayak game Dota 2 dengan graphic fastest. average FPS dia masih dapat 67, maksimumnya di 84, dropdrop-nya di 51 fps dengan resolusi XD yang itu tadi ya. Tapi kalau misalkan kita mau naikin resolusinya ke full HD masih bisa ngangkat juga dengan average FPS di 56, max-nya tembus di 68 dan dropnya masih di angka yang cukup label untuk dimainkan di 39 fps. GTA 5 kita coba juga ya dengan resolusi full HD ini grafiknya ada di normal. average FPS dia masih dapat 58, maksimum bisa tembus 62 dan drop-dropnya di 54 fps aja. Kalau untuk su bagian dalamnya ketika kita coba main game dan juga rendering tadi masih di angka aman ya dengan di 75 derajat celcius. Dan kalau kita lihat CPU package power-nya wuh efisien banget. Dia awalnya naik ke 20 watt terus distabilkan lagi di kisaran 15 wat. Di game GTA 5 juga sama suuhunya itu di kisaran 75 derajat Celcius. Kalau untuk package power-nya juga ditahan di 15 watt biar enggak panas dan lebih efisien baterainya. Dan ngomongin panas untuk super permukaannya juga di angka yang masih aman juga ya. Suhu tertinggi sih masih tetap di atas keyboard karena itu tempatnya ekha di 41,6 derajat celcius. Tapi di area keyboard yang bakalan kita pakai terus itu termasuk dingin dengan 37,1 derajat celcius. Nah, kalau laptop ini diperuntukkan sesuai kodratnya untuk Office ya malah aman-aman aja ya. Contohnya kalau misalkan kalian pengen export PowerPoint 150 set ke PDF itu selesai cuma dalam waktu 12 detik aja. Dan Excel randomis data yang large banget itu di 56 detik aja. Salah satu hal yang mungkin biar harga laptop ini murah atau komprominya ada di layar sih. Layarnya ini color akurasinya pas kita tes sRGB-nya itu enggak sampai 60%. Adop RGB-nya di 45%. NTSC juga di kisaran 46,7%. yang agak membingungkan malah brightness-nya ya. Brightness-nya untuk ukuran laptop yang entry gede banget. Itu kita dapat di 46 unit. Untuk ukuran laptop sebenarnya ini gede banget. Jadi kalau kalian pakai outdoor enggak bakal ada masalah apapun. Tapi untungnya walaupun color akurasinya enggak sampai 100 sRGB, dia udah pakai IPS dan juga rasionya ini 16 bing 10. Jarang-jarang ya laptop lokal kayak gini pakai golden rasio 16 b kalau misalkan kita gunain untuk browsing itu lebih nyaman karena dia lebih memanjang. Buat kameranya juga lumayan oke. Nah, ini kira-kira hasil kameranya. Dia pakai resolusi 1080p 30 fps. Cuman karena dia seri entry ya, jadi belum ada Windows Studio Effect untuk ganti background. Kalau kalian tanya, "Bang, bisa ganti background di Zoom?" Kalau bawaannya sih enggak ada, tapi kalau kalian pakai aplikasi terpati harusnya bisa dan untuk kualitasnya mm cukup oke aja lah karena masih ada beberapa noise dan delay-nya juga lumayan. Saran saya sih kalau misalkan kalian jadi pembicara di Zoom ya pakai webcam eksternal. Kalau mau streaming juga pakai webcam eksternal, tapi kalau cuma digunain untuk meeting kalian pesertanya aja segini udah cukup oke kok. Untuk port-nya kalian enggak perlu cemas. Dia enggak ngasih cuma sekedar untuk formalitas atau asal ada gitu. Enggak. Port-nya lumayan lengkap. Port type A-nya ada tiga. Terus ada HDMI, ada micr SD reader juga sampai USB type C yang full function, support power delivery dan display port juga ada. Yang absen mungkin RJ45 ya. Kalau RJ45 kayaknya enggak bisa masuk karena memang laptop ini tipis. Jadi, ya kalian harus pakai dongle tambahan. Konektivitas lain kayak Wii, sayangnya masih pakai Wii 5 dan Bluetooth-nya versi 5.2. Tapi di Indonesia Huavei 6 juga percuma ya. Karena provider saya contohnya Busisnet ini dia modemnya pakai modem WiFi 5 belum Wii 6. Jadi sebenarnya kalau kalian punya router WiFi 6 pun juga jatuhnya speed-nya di WiFi 5 aja. Jadi ya enggak apa-apa sih sebenarnya WiFi 5 ya. Di pengujian PC Mark 10 modern Office yang berarti dia mensimulasikan laptop kita untuk kerja. Baterai dari Luxia Polytron yang Core i3 ini bisa tahan sampai 9 jam 19 menit. Itu cukup gede untuk laptop entry yang artinya kalau kita gunain untuk kerja pagi sampai pulang jam 5.00 sore masih aman tanpa colokan. Dan kalau di real use pengetesan kita pakai YouTube dengan Wii Microsoft Edge YouTube 10 menit dia berkurang 4% kalau buat ngetik-ngetik aja 10 menit berkurang cuma 2%. Kalau untuk gaming tadi, Dota 2 10 menit dia berkurang sekitar 6%. [Musik] Dan ngomongin soal laptop lokal, satu hal yang bikin biasanya orang ragu untuk beli laptop lokal itu adalah after seal. Jadi, warranty-nya gimana, service centernya gimana. Nah, untuk meng-counter overthinking dari customernya, Polytron cukup berani juga ya. Karena bisa dibilang ini kan launching-nya pertama kali untuk ngeluarin laptop si Luxia ini. Tapi dia udah ngasih kita ADP atau accidental damage protection selama 2 tahun. Bayangin ya biasanya brand-brand internasional itu kalau harganya i3 itu biasanya enggak dapat. Premium warranty atau ADP enggak dapat. Tapi Polytron i3-nya aja entry-nya aja dapat ADP. Jadi kalau suatu saat gak sengaja pakai laptopnya terus ketindian di kasur atau kena cairan di kasur atau lagi kena cairan kalian di kasur itu laptopnya enggak masalah. Aman aja semuanya bakal dico-cover sama Polytron. Dan kalau kalian tanya service centernya Poltrron di mana? Wah dari dulu Polytron itu service centernya udah banyak ya karena home appliance-nya itu udah kayak episode TV tersanjung. Banyak dan panjang brand Polytron ini. Dan memang kalau kita akses website list center-nya mereka itu banyak banget sih listnya ya. Saya coba dari Malang, kota saya ada Pasuruan, kota yang lumayan kecil ada juga. Apalagi kayak kota besar Manado, Jakarta, Surabaya yah pasti ada. L okelah, jadi mungkin cukup segitu aja review dari Polytron Luxia i3 yang menurut saya enggak bisa dianggap remeh walaupun dia termasuk brand baru di laptop untuk lokal ya. Dia ini termasuk laptop lokal yang mulai berani unjuk gigi di kelas entry level. Desainnya juga enggak malu-maluin, malah bisa dibilang di atas rata-rata laptop lokal lain yang entry lah. Karena memang untuk AMRES dia pakai plastik polikarbonat, tapi di bagian punggungnya ini dingin. Dia pakai metal yang look-nya masih kelihatan signature-nya Polytron gitu. Udah kayak kulkas tutup kulkasnya gitu kalau kita lihat dari back covernya. Performanya juga kencang dan stabil. Apalagi RAM dan SSD-nya masih bisa di-upgrade. Ini nilai yang lumayan plus banget. Layarnya IPS dengan golden ratio. Walaupun color gambutnya memang bukan buat kalian yang color critical ya atau professional editing, enggak. Tapi untuk harga segini harusnya sih masih oke. Untuk harga laptop ini dibandrol R jutaan, tapi saya belum tahu pastinya berapa ya. Entah 599 atau 5499 itu jujur saya belum tahu. Tapi katanya bakal ada di R jutaan dan kalian bisa secara eksklusif pre-order di Blib tanggal 5 sampai 15 Agustus nanti. Tapi menurut kalian harga Rp5 juta dengan bahan metal terus Core I3 ADP-nya 2 tahun, kira-kira laptop ini pantesnya dijual berapa? Coba deh tulis di kolom komentar. Oh ya, Polytron ini nanti bakalan launching SKU lain juga ya. Jadi bukan hanya satu produk ini. Nanti bakalan ada Intel Core FF. Dan yang paling tinggi nanti bakalan ada SQU yang core ultra 5 juga. Beh, langsung digas aja sama Polytron ya.
