Setup Mini PC + Monitor Portable!! (YouTube Video)
Kalau kita mau kerja di satu tempat doang, setupnya itu paling gak jauh-jauh dari monitor, keyboard, mouse, headphone atau speaker. Ya, enggak jauh-jauh dari itulah dan hanya bisa di satu tempat itu aja. Tapi kalau mau punya setup yang bisa dibawa ke mana-mana ya pasti jawabannya laptop karena tinggal dibawa ke kafe atau ke mana tinggal buka dan bisa langsung kerja. Tapi gimana kalau kita bisa bawa sebuah desktop tapi ke mana-mana? Kali ini gua mau bikin sebuah setup yang ada mini PC-nya dan portable monitor. Jadi kalau lagi di rumah itu kerasanya kayak desktop experience, tapi kalau dibawa ke mana-mana desktop experience-nya juga ikutan. Buat otak dari setupnya, gua memilih Asus NUC dengan SKU NUC 15 CRK. NUC ini hadir dengan ukuran yang sangat mini, hanya seukuran telapak tangan aja tapi portnya itu masih lengkap. Ada dua Thunderbolt 4, ada HDMI 2.1, LAN 2.5G juga ada, dan USBA itu ada dua di bagian belakangnya. Sementara bagian depannya itu masih ada USBC yang sampai 20 Gbit/s dengan dua lagi USBA. Saat unboxing sih kelengkapannya hanya ada adapternya yang cukup mungil, padahal kapasitasnya sampai 120 watt dan kartu garansi aja. Ya, buat spesifikasinya NUC ini sendiri menggunakan prosesor Intel Core Ultra 5 225H dengan RAM yang berkapasitas default itu di 16 gig tapi bisa di-upgrade sampai 48 gig DDR5. NVM SSD-nya sendiri berkapasitas 512 gig PCIEN 4X4 dan ada satu lagi slot M2 2242 yang bisa diisi. Ngebukanya juga gampang banget, tinggal ditarik aja penguncinya di bagian bawah dan dia bisa dibuka secara tooles layaknya pintu. Sementara buat layar portable-nya gua memilih Asus Zen Screen OLED MQ16 FC yang berukuran 16 inch dengan resolusi Full HD plus 1920 * 1200. Akurasi warnanya udah sampai 95% di CP3 plus ada fitur power pass through yang bisa sampai 65 watt. Layar ini juga punya koneksi 2 USBC dan 1 mini HDMI. Tapi koneksi yang paling kita rekomendasiin itu adalah yang pakai USBC. Karena cukup dengan satu kabel aja NUC itu bisa langsung terhubung dengan zen screen tanpa harus pakai adapter layar lagi. Walaupun sih memang ya setup seperti ini itu lebih ribet daripada laptop karena kalau misalnya dibawa ke cafe NUC-nya harus dicolok ke dinding terlebih dahulu. Tampilan OSD-nya juga simpel dan gampang dimengerti. sRGB mode ada, tapi mekanismenya itu agak ribet karena memakai metode swiping. Dan sayangnya di sini brightness itu tidak bisa tersimpan. Alias kalau kita matiin dan nyalain monitornya lagi, brightness-nya bakal balik ke default-nya di 65%. Dan kalau misalnya kalian mau bikin setupnya itu lebih rapi lagi, kalian bisa nyembunyiin kabelnya pakai adapter seperti ini. Ini tuh namanya kayak U Style USB adapter gitu. Nah, itu harganya cuma Rp30.000. Tapi perbedaan antara pas dipakai dan enggak dipakai itu beda banget. Buat kerapihannya kita lebih rekomendasi pakai ini. Keyboard-nya sendiri kita bisa pakai keyboard apa aja sebenarnya. Bisa pakai keyboard gaming yang estetik atau pakai folded keyboard saat dibawa ke mana-mana. Contohnya folded keyboard yang harganya Rp300.000-an ini. Kalian enggak akan dapat pengalaman keyboard kelas atas ataupun yang senyaman Logitech ya. Karena ini juga brandnya enggak terlalu jelas alias OIM paling. Namun ya ini get the job done aja gitu. Di sebelah kanannya ada touchpad jadi kalian enggak perlu bawa mouse kalau enggak perlu. Tapi experience memakai touchpad-nya juga tidak terlalu nyaman sejujurnya karena dia tidak memakai Windows precision driver dan kliknya juga ya enggak enak-enak bangetlah. Nah, sekarang visual udah ada, input udah ada. Gimana dengan audionya? Karena monitor portable ini juga gak punya speaker, jadi kita menyarankan pakai TWS aja yang lebih praktis. TWS-nya bisa apa aja. Tapi, di sini kita pakainya itu adalah CMF Buds Pro 2 dari Nothing. Gua pakai TWS ini udah hampir setahun dan ini adalah TWS yang paling good for value menurut gua karena ANC-nya itu rapi, bentuknya simpel, dan karakter suaranya juga mantap. signature-nya dia tuh lebih ke low pass dan ngatur-ngatur equalizernya sekalipun juga enak banget karena UI-nya simpel ya, nothing bangetlah UI-nya. Tapi kalau kalian budgetnya hanya sekitar R200.000-an aja buat audio, kita rekomen sound core. Itu banyak yang kere hore tapi bagus-bagus. Lalu esensi memakai setup kayak gini tuh apa sih sebenarnya? Bukannya udah ada laptop ya? Dan lebih praktis kan? Jawabannya ya sederhana, fleksibilitas. Karena laptop itu emang praktis, tinggal buka nyalain dan semuanya udah ada. Tapi justru karena semuanya udah jadi satu, kita juga dipaksa nerima semua komprominya. Layarnya udah ditentuin, keyboard-nya udah ditentuin, RAM-nya juga ya bisa aja solder. Dan ketika salah satu komponennya udah enggak sesuai kebutuhan, ya solusi satu-satunya ya beli laptop baru. Sementara dengan mini PC kita itu bisa milih sendiri komponen yang memang kita butuhin di rumah. kita tinggal colok ke monitor yang gede, keyboard dan mau sudah ada dan kita dapat full experience desktop yang di rumah. Tapi ketika mesti bepergian, mini PC ini tinggal kita cabut, bawa portable monitor, keyboard dan mouse yang lebih portable juga ada. Lalu kita punya komputer yang secara fungsi masih sama dan file-file-nya juga enggak perlu dipindahin. Emang setup kayak gini tuh jelas ya enggak sepraktis laptop. Kabelnya lebih banyak, barang yang dibawa juga lebih banyak. Tapi sebagai gantinya, kita juga dapat sesuatu yang laptop itu gak bisa kasih dengan mudah, yaitu modularitas. Monitor bisa diganti tanpa harus ganti komputernya. Storage juga bisa di-upgrade, RAM bisa diganti-ganti. Dan kalau nanti suatu hari ya mini PC-nya udah enggak relevan lagi, monitor portable yang kita beli hari ini itu bisa dipakai buat mini PC yang lain. Jadi, ya setup mini PC plus portable monitor ini bukan buat menggantiin setup laptop dan jadi lebih praktis. justru malah jadi kebalikannya. Dengan setup seperti ini, kalian itu mendapat experience full desktop baru dibuat seportable mungkin tanpa mesti ngorbanin fleksibilitasnya. Karena beberapa orang ada yang kerja di satu tempat tapi sesekali harus bawa full desktopnya pas dinas keluar kota. Nah, file-file yang ada di dalam PC itu udah enggak perlu dipindah-pindah lagi walaupun ya setup kayak gini masih ada kekurangannya juga. Karena kita cuma pakai mini PC yang tanpa diskrit GPU, jadi performanya terbatas banget. Terutama di pekerjaan yang melibatkan 3D. Performa CPU-nya sih lumayan oke ya. Bahkan kalau di Cine Bch Core Ultra 5225 ini hampir keep up dengan Ryzen 7 7800XD dan 8700F. IGP-nya pun ya walaupun tadi gua bilang kureng tapi masih kehitung lumayan. Designless Zone Zero kita masih dapat sampai 62 fps. Forza Horizon 6 juga masih bisa dapat 50 fps. CS2 bahkan dapat sampai 112 FPS. Dan Cyberpunk itu dapat loh 63 FPS walaupun ya harus ngaktifin XS dan frame game-nya juga. Kalau kalian butuh sebuah PC yang lebih modular lagi, di mana bisa ganti CPU atau ganti deskrip GPU atau butuh yang performanya lebih kencang, bisa ganti mini PC-nya ke PC Mini ITX yang di mana itu masih make sense kalau mau dibawa ke mana-mana. Dan buat kektivitasnya kan mini PC ini lumayan terbatas ya. USBA-nya cuman ada empat, terus audio combo jack tidak ada dan SD card reader juga tidak ada. Jadi kalau kalian masih merasa kurang buat konektivitasnya, kalian bisa aja colokin USB hub ke mini PC ini. Yang kita rekomendasiin sih dari Netak ya di sini dia desainnya tuh bagus banget dan elegan. Dia ada SD card reader juga, micro SD card reader, ada audio combo jack, ada, dan bisa menambah USBA-nya juga. Sebenarnya kalau kita ngomongin soal practicality, setup kayak gini jauh lebih tidak praktis daripada sebuah setup laptop. Dan kalau kita ngomongin setup laptop enggak desktop experience, sebenarnya ultra book aja kalau dikonnein ke monitor, connect ke keyboard, dan mouse yang eksternal ya bisa-bisa aja dapat desktop experience gitu. Ini setup kayak gini itu cuma menang di modularity-nya karena dia beda e monitornya beda, keyboard-nya sama TWS mini PC-nya juga beda-beda. Jadi kalian bisa prioritasin budget kalian ke hal yang kalian butuhin aja. Contoh kayak mini PC yang kita pakai sekarang itu harganya cuma Rp8 jutaan, tapi bebond enggak ada RAM dan SSD. Nah, RAM-nya kalian bisa cicil, bisa beli 8 gig dulu, bisa beli SSD yang 256 dulu sesuai dengan budget kalian. Dan kalau misalnya monitor mungkin enggak butuh yang OLED dan ya mereknya enggak harus hasus, itu bisa juga ada yang lain yang mungkin 100% sburah-murah tuh banyak. Dan keyboard-nya seperti yang gua bilang tadi, harganya ini Rp300.000-an ribuan karena ini adalah sebuah foldable keyboard atau kalau kalian mau ganti yang ke mechanical juga bisa. Jadi bisa dipilih-pilih dan kalau misalnya ada salah satu yang rusak itu tinggal langsung ganti. Beda sama laptop yang kalau misalnya beli langsung jadi dan harganya itu pasti langsung mahal gitu loh. Dan kalau misalnya nih ada apa-apa sama keyboard-nya ya berarti otomatis laptopnya yang harus diganti atau harus diservis gitu. Nah, melihat ke kondisi komponen sekarang lagi naik-naiknya, sebenarnya setup kayak gini menjadi alternatif yang bagus kalau budget kalian itu mepet-mepet. Kira-kira kalian udah mulai tertarik sama setup ini atau masih memilih setup laptop?
