Si Paling Eksklusif ! Lenovo Legion Pro 7i FIFA World Cup 2026™ Edition ! (YouTube Video)
Hai Andika, guys. Di sini kenalin ini adalah Lenovo Legend Pro 7i FIFA World Cup [musik] 2020 Edition. Laptop gaming spesial dari Lenovo yang lahir dari hasil partnership mereka sebagai official tech partnernya FIFA World Cup 2026. Dan kalau kita ngomongin World Cup ya World Cup ini di tahun ini khususnya untuk angkatan saya ya, feel-nya itu ada senangnya tapi juga ada sedihnya. Kenapa? [musik] Karena ini bakal jadi e last dance-nya para living legend ya tahun ini. Sayangnya karena keterbatasan waktu dan juga faktor lain itu yang utama dan jadi saya enggak bisa nonton langsung World Cup tapi sepertinya Tuhan punya cara lain untuk menghibur saya ya. Jadi di depan saya sekarang udah ada Lenovo Legend Pro 7i FIFA World Cup Edition. Seenggaknya saya bisa ngebahas laptop yang jadi partner FIFA-nya walaupun saya enggak bisa nonton langsung. Dan coba kita lihat apakah mereka ini cuman bayar lisensi untuk jadi official tech partner atau ada gimmik lain FIFA World Cup Edition. Dan [musik] harganya jadi berapa nih kalau misalkan jadi sponsornya VIFA? Yuk kita bahas. Kalau kita lihat dari kotak kemasannya aja ya jujur saya langsung jatuh cinta sama pandangan pertama. Apalagi laptopnya tolong kalian lihat deh. Beh, cakep kan ya tampangnya? Di backover layarnya ini ada Accent World Cup 2026. Di house-nya ada RGB-nya. Dan di bagian depan juga ada light bar RGB-nya juga. Beh, menyala laptopku. Jujur menurut saya cakep sih, tapi enggak yang terlihat lebai gitu. Ditambah lagi warnanya ini pakai Eclipse Black yang saya enggak tahu gimana Lenovo bikinnya. Tapi ini sebenarnya mid, tapi mid-nya ini enggak bikin nempel fingerprint. Ini lumayan sakti sih. Saya gak tahu finishing apa yang dipakai tapi gak bikin cepat kotor. Ngelihat mood kayak gini jadi ngerasain vi-nya World Cup sih. Lumayan lah ya buat ngobati Indonesia yang enggak lolos kemarin. Bodinya ini full aluminium tapi finishingnya pakai metode anodizing sand blasting. Mungkin ini ya yang bikin enggak nempel fingerprint dan finishingnya ini khusus FIFA edition. Beda treatment sama Lenovo Legend Pro 7i versi reguler yang nghasilin tekstur mid dan pas dipegang itu feel mid-nya ini kayak halus gitu. Dimensinya lumayan gede bobotnya ya standarnya laptop gaming ya 2,5 kg itu tanpa [musik] charger. Jadi kalau misalkan di bawah harian kalian bawa kuliah, kalian bawa mobile mungkin agak berat ya karena memang bukan segmentasinya. Kalau kata Lenovo aja marketnya ini bisa buat alternatif desktop ya. Jadi bayangin aja kalian bawa power full desktop di laptop ya wajar sih kalau misalkan [musik] berat. Tapi menurut saya pribadi kayak agak sayang aja gitu kalau misalkan laptop ini gak dibawa ke mana-mana masa special edition apalagi FIFA ya. Enggak kita pamerin ke teman-teman kita yang suka bola itu kayak mubazir enggak sih? Sombong itu perlu loh kadang-kadang. Salah satu upgrade besar di laptop ini dibandingkan generasi sebelumnya itu ada di bagian layarnya. Di generasi sebelumnya Legend Pro 7 Gen 9 ya layarnya pakai IPS. Sedangkan di Gen 10 atau di Gen 10 ini dia pakai oled dong. Gokil. Gak cuma itu, oled-nya ini 16 inch, resolusinya 2,5K, refresh rate-nya 240 Hz. Beh, gila. Dan respon ST-nya diklaim kurang dari 0,5 ms. Ya, favorit gamers banget sih ini layarnya ya. Belum lagi layarnya ini udah support XDR True Black 1000. Dolby vision juga ada dan udah ada anti burn in [musik] teknologinya buat merangin musuh utama dari panel OLED burn in. Dan pas kita cek color akurasinya, P3-nya ini hampir di 100% sRGB. AntiC-nya juga gede, 92% sRGB. Kalau ngomongin sRGB udah nyentuh di 100%. Brightness tipikalnya dapatnya itu di 417 nitz. Dan buat yang masih parno dengan teknologi OLED, karena mungkin teknologi OLED apalagi yang dulu-dulu ya, itu memang sering banget atau rawan sama burn in. Tapi Lenovo udah mengantisipasi hal ini. Lenovo udah ngasih proteksi otomatis. Jadi, sistemnya bakal ngegeser pikel secara berkala sama ng-refresh layar pas idle. Jadi, buat jangka panjangnya lebih aman dan enggak was-was bakal muncul ada bayangan di layar. Karena musuh utama dari panel OLED itu burn in. Dan burn in itu dihasilkan [musik] dari gambar statik yang muncul terlalu lama. Kalau untuk visualnya sendiri udahlah kalian coba lihat aja footage ini visual layarnya cakep parah. Warnanya itu stand out, kontrasnya dalam, khas OLED dan hitamnya pekat. Dan yang paling saya suka baselnya tipis. Jadi experience-nya itu berasa lebih mantap. Layarnya ini juga bisa dipakai di dua market ya, dua segmentasi. Gamers iya, entertainment iya, color critical editing juga iya. Uh, tiga berarti. Dan layar yang sebagus itu tadi diimbangi dengan spesifikasi yang menurut saya match banget yang bisa memaksimalkan potensi dari layarnya. Karena kan layarnya 240 Hz ya. Kalau enggak diimbangi dengan prosesor dan juga GPU yang mumpuni ya mubasir. Untungnya Lenovo ngasih prosesornya itu Intel Core Ultra 275 HX. Jadi prosesor 24 core 24 red yang clock speed-nya bisa tembus 5,4 GHz. Dia juga udah ada integrated NPU-nya, ada Intel AI boost 13 tops. Ya, kalau cuma buat ke noise cancellation atau kegiatan AI ringan udah cukup, tapi buat AI yang lebih berat tetap harus dibantu sama GPU-nya ya. Untungnya GPU-nya pakai Nvidia GeForce RTX 5070 Ti. VAM-nya itu yang 12 GB dengan TGP 140 wat. Wah, gila. Dan kalau kita maui 57 Ti, tops-nya itu udah ada di 992 tops. Dan karena dia RTX 50 series, jadi udah support sama fitur-fitur barunya kayak di LSS4, MFG, dan lain-lain yang punya pengaruh gede feel-nya ketika kalian main game atau streaming game. RAM-nya kita juga dikasih 32 GB DDR5, 6400 me transfer pers dual channel storage SSD M22 NVMI PCI Gen 4 1 TB dan masih ada slot M22 NVMI kosong lagi kalau misalkan mau upgrade storage. Dan enggak usah lama-lama lah ya langsung aja kalian pasti juga udah penasaran gimana performanya si laptop yang embel-embelnya FIFA World Cup Edition 2026 ini. Tapi tipis-tipis dulu kita coba untuk speed SSD-nya ini berapa sih dengan NVMe-nya ya dan rate-nya itu di hampir 7.000 Mbps w-nya di 6.400. 00 Mbps. Nah, sekarang kita coba untuk di Cinebandch R23 sintetis dulu lah ya. Kita coba dengan skenario ratakan. Jadi kondisi laptopnya dicolok dan hasilnya single core dia dapat di 2.214. Kalau untuk multiore-nya bisa stabil di range antara 36.000 sampai Rp38.000. Dan dengan skor itu tadi kalau kita lihat TDP-nya dia bisa ditarik CPU-nya itu ditarik sampai 200 watt. Gila, ini laptop apa PC sih ya? Terus untuk dapat DP 200 tadi memang temperaturnya bisa spek-spek di 105 derajat celcius ya. Nah, yang menarik kalau kita coba cabut adapternya karena ini memang leb gaming apalagi seri HX ya prosesornya ya. Ya memang ada penunan performa tapi turunnya itu masih kencang sih. Dengan multior-nya dapatnya di 22.000 poin. Dan dengan tanpa adapter ini kalau kita lihat TDP-nya dia spek-speknya itu cuma di 50 watt dan temperaturnya itu di antara 65 derajat celcius awal-awal. Terus dia spike di 80 derajat celcius. Laptop gaming tebal kayak gini. Apalagi dia pakai GeForce RTX 5070 Ti. Biasanya itu kalau kita stress tes biasanya enggak lolos ya. Karena TGP dari GPU-nya aja 140 watt. Tapi si Lenovo Legion Pro 7i ini lolos lu ya ketika kita tes time Spice test dapatnya 99,2%. Ini jarang banget terjadi di laptop gaming [musik] apalagi yang alternatif desktop kayak gini. Kalau untuk skor lain kayak Time Spy, Firestrike solar B-nya, uh, solar B-nya gede banget ya, R8.000 sisanya kalian bisa lihat di footage ini. Oke, sekarang kita coba lihat gimana kalau misalkan kalian ngedit [musik] dan juga rendering di laptop ini. Premiere 4K render ya. Kita coba di template yang memang biasanya kita pakai. Dia selesai cuma dalam waktu 42,15 detik aja enggak sampai semenit. Apalagi kalau misalkan kalian mau ng-render di full HD cuman 25,69 detik aja. Nah, kalau dibuat rendering 3D bisa enggak, Bang? Terlalu bisa sih ya karena kalau kita lihat CPU rendernya CPU-nya ya itu di 58,62 detik. GPU rendernya malah lebih kencang lagi cuman 12 detik aja. Wah gokil mantap. Nah sekarang kita tes dia sesuai dengan kodratnya. Di sini kita udah tes beberapa game dan untuk tes game-nya langsung aja deh kalian bisa lihat chart berikut ini. Jadi kalau kalian tanya ini 240 Hz buat apa layarnya? ya. Kalian tinggal centang-centang frame gen-nya aja. Kalau empat kali pasti bisa dapat di atas 240 FPS. Jadi lebih kepakai si layar yang punya 240 Hz-nya. Terus apalagi kalau misalkan kalian menggunain untuk Office deh PowerPoint 150 slide export ke PDF cuman selesai dalam waktu 8 detik aja. Excel randomis data yang laret selesai dalam waktu 32 detik aja. Kalau kalian buat AI karena dia punya 992 tops AI yang on devices ya, stable diffusion. Kita coba di Jagernut itu 1,6 detik. Stable diffusion XL Turbo cuman 0,5 detik ajain kayak kalian pencet langsung kelar gitu jadinya. Jadi kalau kita lihat dari hasil keseluruhan tesnya ya, ini angka-angka yang biasanya bisa kita dapat power-nya itu ketika kita pakai PC. Nah, PC itu kan ya kayak di belakang sini kan ribet ya kalau mau dibawa ke mana-mana. Cuman kalau misalkan kalian pengen bawa alat se powerful itu ke mana-mana, mungkin kalian kerjanya itu arsitek atau kerjanya itu yang butuh 3D rendering yang gede banget, Unreal Engine. Nah, kalian bisa nih bawa laptop ini ke mana-mana untuk nunjukin ke klien kalian kalau kalian itu red card-nya mahal. Tapi sekencang apapun laptop kan pasti dia butuh sistem cooling yang mantap ya biar jaga performanya, biar enggak throttle, biar stability-nya itu aman. Kalau dari 3D Mark-nya tadi sih aman, tapi coba kita lihat ya. Coolingnya di Lenovo ini dia pakai yang namanya Legend Cront seperti biasa yang ada integrated hyper chamber technologinya juga. Simpelnya di dalam sistem coolingnya ada vaper chamber yang kapasitasnya 250 watt dan dipaduin sama ruang vacuum tambahan yang fungsinya buat nyerap dan nyebarin panas dari CPU dan GPU-nya biar enggak numpuk di satu titik. Dan kipasnya ini bisa otomatis nyesuaiin sama suhu laptopnya. Dan hasilnya ketika kita tes suhu flir permukaannya ya suhu tertingginya sih ada di 54,1 derajat Celcius tapi di bagian ekha seperti biasa ya bagian ekha itu memang letak yang paling panas tapi untuk tombol-tombol WASD suhunya itu sekitar 43,5 derajat Celcius. Tapi itu dengan tes yang sangat estafet tadi ya. Kalau dibilang dingin sih enggak ya. Hanget-anget kukulah enggak sampai yang mengganggu karena standar kita untuk anget itu biasanya di 42 ini 43,5 derajat celcius. Jadi 1,5 derajat Celcius lebih anget. Tapi kalau boleh jujur di mode performance-nya kalau kita nyalain skenario rata kanan mode performance kipasnya itu lumayan kencang ya. Jadi agak mengganggu kalau misalkan kalian main game. Saran saya kalau main game yang full loot, game yang berat banget ya pakai headset aja ya. Karena apalagi di kondisi misalkan kalian main game-nya dekat sama laptop, itu kayak pesawat kencang. Lanjut kita mainin baterai. Baterainya sih seharusnya bisa lebih gede lagi sih menurut saya ya. Karena ini cuman 80 wat hour. Untuk laptop yang powerful segede ini harusnya bisa dikasih mentoknya lah 99,99 wat hour. Karena itu batas atas untuk laptop bisa dibawa terbang di pesawat. Emang aturannya seperti itu. Jadi kalau lebih dari itu enggak bisa enggak bisa dibawa terbang pesawat. Nah, Lenovo cuma ngasih 80 watt hour. Yang sebenarnya kalau dipakai untuk laptop ultra book atau laptop yang tipis sih gede banget, tapi karena dipakai untuk alternatif desktop, jadi pas kita tes pakai PCA modern Office cuman dapat 3 jam 30 menit. Ya, tipical laptop gaming yang high performance pada umumnya lah ya. Yang dia bergantung banget sama power. Karena untuk power-nya aja ya, untuk adapternya aja itu di 400 watt yang ukurannya gede dan lumayan berat juga. Jadi kalau kalian tanya kenapa bisa sampai 200 watt CPU-nya, GPU-nya bisa 140 watt kan 340 watt total ya karena dibantu powernya tadi yang 400 wat. Nah, kalau misalkan kalian nge-game rendering tanpa adapter ya enggak bisa dapat performa seperti yang kita demoin tadi karena dia butuh banget adapter. Ibaratnya kalau di PC apa ya? Adapternya itu PSU-nya lah. Geser ke bagian keyboard. Laptop ini udah punya per key RGB yang artinya kalian bisa set keyboard-nya itu per tombol untuk RGB-nya, bukan per zona lagi. Kalau untuk F-nya jujur Lenovo adapad aja saya suka ya. Apalagi ini yang Legion feel-nya sih buat yang ngikutin DK ID pasti tahulah. Saya salah satu penggemar keyboard-nya Lenovo dan ini saya gak ada komplain ini malah lebih enak. Jadi F ttil-nya itu kayak dia langsung nendangnya ttailnya itu nyaman banget lah. Dan satu hal yang unik di bagian key cap-nya itu karena dia versi FIFA edition ya, jadi tombol WASD-nya dikasih warna beda. Warnanya khas World Cup 2026. Jadi meskipun kelihatan garang, tapi masih ada kayak part lucunya gitu dengan warna-warna pastel. Geser ke bagian bawah. Di sini ada touchpad yang ukurannya lumayan lebar. Jadi space kita buat nge-tracking mouse pointernya bisa lebih leluasa. Touchpad-nya ini juga udah responsif. Kliknya juga enggak keras dan enggak berasa plastik banget lah. Enggak ada komplin lah. Oh ya. Satu lagi yang menarik juga kalau misalkan kalian tekan tombol Fn sekarang tombol yang bisa dikombinasikan [musik] dengan Fn itu bakalan nyala semua kayak contohnya Fn+q, Fen spasi, wah pokoknya pek down itu bakalan nyala. Jadi kalian bisa tahu FN-nya ini kombinasinya apa aja ya. Untuk webcam kira-kira kualitasnya seperti ini. W ini sih oke banget ya. Dengan resolusinya 1440p 30 fps. Jadi bukan full HD, lebih tinggi dibandingkan full HD. Dan untuk kualitasnya kira-kira seperti ini, Guys. Pov-nya juga lebar ya. cakep sih. Jadi kalau misalkan kalian meeting online atau streaming dengan lighting yang proper, harusnya udah enggak butuh yang namanya webcam tambahan. Dia juga ada Windows Studio Effect, misalkan background effect-nya nyala kayak gini, auto framing kayak gini, contact kayak gini. Nah, bisa putar dulu juga seperti ini. Lanjut ke bagian speaker. Karena laptop ini gede, harusnya sih speakernya oke banget ya, karena dia punya banyak ruang untuk naruh speaker. Dan benar, jadi dia ini punya empat speaker yang terdiri dari dua wover dan dua twister. yang total powernya itu ada di 8 watt dan dituning samaic audio. Sejauh saya cobain sih kayak nonton film, dengerin musik atau main game, suaranya sih cukup lantang ya. Kira-kira seperti ini suaranya. Konektivitasnya dia pakai Wii 7, Wii yang paling baru tentunya. Dan Bluetooth-nya sayangnya bukan Bluetooth 6 ya, Bluetooth versi 5.4. Tapi it's ok lah ya, Bluetooth aja karena ya bedanya antara 5 dan 6 itu juga enggak kerasa banget sebenarnya. Port-nya juga lumayan banyak. Ada Thunderbond 4, USBC, power delivery [musik] sampai 100 watt. HDMI 2.1 yang support output hk plus internet 2,54 GB ada. Konektivitasnya udah kelas desktop lah, bukan kelas laptop biasa. Terakhir laptop ini udah include dengan Windows 11. Tapi sayangnya kenapa Lenovo ya biasanya udah ada OHS-nya, tapi untuk seri FIFA World Cup ini saya [berdehem] lihat sih belum ada stiker OHS-nya ya. Dan karena ini laptop gaming tentunya dia ada software bawaan buat nge-optimize apa yang ada di laptopnya. Nama software-nya itu Legend Space dan di dalamnya banyak fitur macam-macam. Kita bisa otak-atik performance smooth-nya bahkan bisa custom [musik] juga. RGB tadi juga di sini ada library game-nya juga dan lain-lain lah ya. Kayak dashboard-nya kalau misalkan kalian mau main game bisa ke situ dulu untuk otak-atik dan juga tuning-tuning dikitlah. [musik] Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Lenovo Legend Pro 7i FIFA World Cup Edition 2026 kali ini. Untuk harganya ya, apakah kalian siap untuk dengar harganya? Harganya itu ada di murah kok, setara motor second lah. Tapi motor second-nya itu harga Rp jutaan dan ada 10 unit. Jadi harganya R0 jutaan. Sebenarnya kalau ngomongin R0 jutaan, kita ngerakit PC R jutaan itu dapat apa ya? Coba deh. Saya udah lama banget enggak rakit PC. R juta kira-kira kalau kita ngerakit PC bisa dapat spek kayak gini enggak ya? Bisa dapat spek kayak di laptop gini enggak ya? Yang sering ngerakit PC coba tulis di kolom komentar deh. Tapi kalau kita lihat dari harganya jelas kelebihannya ya performanya yang keencang bara ya. Dari benchmark sintetisnya aja udah bisa kita lihat kalau laptop ini ngejos banget. CPU-nya bisa dapat 200 watt, GPU-nya bisa 140 watt, total 340 watt itu udah kencang banget untuk sebuah laptop. Layernya juga cakep. OLED 2,5K 240 Hz dengan respon time yang kencang. Intinya ini layarnya enggak ada kompromis sama sekali. kita dikasih spesifikasi yang mentok rata kanan. Keyboard-nya nyaman, RGB-nya udah pergi, portnya lengkap, Wii udah pakai WiFi 7. Dan terakhir desainnya cakep parah. Buat para kolektor barang limited sih mungkin ini masih oke banget C. Tapi kalau saya lihat harganya menurut saya ya mungkin di kondisi harga RAM dan SSD kayak gini ya. Karena dulu kalau misalkan kita dapat laptop harga Rp0 jutaan contohnya ya, pasti dapat RAM-nya itu yang 64 GB. SSD-nya bisa 4 TB gitu kalau misalkan udah harga Rp0 jutaan. Tapi karena ini mungkin ya harganya gunjeng-ganjing, apalagi rupiah per saya syuting ini 17.800. Hah mungkin ya itu ya penyebabnya kenapa harganya Rp60 juta cuma dapat 32 [musik] dan 1 TB. Tapi overall meskipun ini laptop hasil partneran antara Lenovo dan FIFA World Cup 2026, jujur laptop ini ngisinya enggak cuma gimmik ya, nge-build-nya emang benar-benar niat. Tuningnya, coolingnya juga bagus dan emang bisa difungsikan sebagaimana laptop gaming, editing, dan juga entertainment. Sebenarnya laptop ini enggak gaming aja sih. Buat kalian yang misalkan mau ngetik-ngetik aja juga bisa di laptop [musik] ini. Tapi ya ngetik-ngetik aja bayar Rp0 juta kayak kalau bukan yang punya dapur MB [musik] kayak susah enggak sih? Tapi menurut kalian gimana? Coba tulis di kolom komentar ya. saya and see you on the next video.
