Smart TV 4K dgn QLED+, Gaming 120 Hz, Pakai Google TV - Review Coocaa 50" Q66H (YouTube Video)
Ini Kuka Q6H smart TV dengan Qlet Plus. Menariknya ini disebut sebagai gaming TV yang berarti seharusnya ada banyak fitur gaming di sini. Ada 120 Hz turbo motion, VRR dan ALLM. Ada juga dashboard khusus gaming yang disebut gameol. Fitur syuting assistan dan frame rate display juga tersedia di sini. Kualitas tampilan dijanjikan tinggi dengan Gen 5 QL Plus ini disebut Cuka. menawarkan brightness dan saturasi warna yang lebih tinggi. Sementara untuk audio ada Dolby Audio juga terkait fitur-fitur smart TV-nya ada voice control, multiple screen cast, dan masih banyak lagi. Oh ya, ini pakai Google TV loh ya. Jadi dukungan aplikasinya melimpah di sini. Oke, langsung aja kita mulai pembahasan Smart TV yang satu ini. Akhirnya Smart TV Kuka datang lagi untuk kami cobain ya. Ini Kuka Q6H. Ya, lini Q6H ini hadir dengan tiga ukuran layar. Yang kita uji kali ini adalah varian yang 50 inci, ukuran layar paling kecil di lini yang satu ini. Kita akan lihat kualitas seperti apa yang ditawarkan oleh Smart TV ini, termasuk juga untuk gaming. Tapi sebelum itu kita coba kenalan dulu ya dengan si KukaQ6H ini mulai dari paket penjualannya. Nah, di dalamnya tentunya ada unit smart TV, lalu ada dua buah stand lengkap dengan bautnya. Kemudian ada kabel power, lalu ada kabel converter AV to 3 RCA di situ ya. Lalu ada remote Bluetooth, ada set baterai untuk remote dan paket dokumen. Isi paketnya terbilang wajar ya untuk sebuah smart TV ya. Nah, untuk desain Smart TV Kuuka ini hadir dengan desain modern dengan bezel tipis di sisi kiri atas dan kanan layar. Tebal bezel di ketiga sisi ini hanya sekitar 7,5 mm saja. Basel bawah layar tentunya lebih tebal ya sekitar 18 mili dan ini wajar untuk sebuah TV. Nah, di dasar TV terlihat ada area yang menonjol. Ini merupakan tempat untuk beberapa sensor dan mikrofon untuk handsf voice command. Tentunya ada switch untuk menonaktifkan build-in microfon ini kalau tidak dibutuhkan. Ada juga satu tombol untuk pengendalian TV ini yang secara umum berfungsi untuk tombol power. Nah, speaker juga ditempatkan di dasar TV nih di kiri dan di kanan area tempat mikrofon yang tadi. Oke, beralih ke stannya. Ini desainnya V terbalik ya seperti ini ya. Dan posisinya agak sedikit ke tengah. Stan ini terbilang cukup kokoh dan ini mengangkat TV sekitar 5,7 cm dari permukaan meja. Kuka juga menyediakan bridge untuk kedua stand ini yang membuat tampilan stand ini jadi terlihat menyatu di depan seperti ini ya. Nah, bridge ini memang fungsinya lebih ke arah penampilan aja sih. Desain dan posisi stan ini sayangnya membuat kita harus menempatkan soundbar itu di depan stan kalau butuh pakai soundbar tambahan. Oke, untuk dimensinya tanpa stan adalah 111 * 65,8 * 8 cm. Kalau dengan stannya adalah 111 * 7,5 * 26,5 cm. Oke, beralih ke sisi belakang. Ada area yang sedikit menonjol ya di area tengah bawah. Di sini ada lubang mounting Vesa 200* 200 mm di area yang satu ini. Ini lubang mounting untuk kita masang dia bisa ke bracket mungkin atau ya biasanya sih ke dinding ya. Di sebelah kiri area tadi ada konektor AC input. Kita bisa pasang kabel power dari paket penjualan ke konektor yang satu ini. Kemudian di kanan area tersebut ada konektor IO. Semua menghadap ke samping kanan. Oke, sekarang mari kita bahas spesifikasinya. Untuk layar tentunya ini yang ukuran 50 inci. Resolusi tetap 4K di sini ya, 3840 * 260 piksel. Refresh rate-nya up to 120 Hz. Tapi untuk resolusi 4K kita hanya bisa dapat sampai 60 Hz. Untuk teknologi layar dia pakai Gen 5Q Plus dengan Safire Crystal Optics dan self develop reflector sheet. Lalu videonya dipakai SAI Engine. Untuk HDR dia ada Dolby Vision dan HDR 10 Plus. Ini dilengkapi juga dengan fitur penunjang tampilan seperti AI skin detection, AI motion clarity, MEMC 120 Hz turbo motion, dan untuk audio dia 2* 12 wat ini udah support Dolby Audio. Nah, menurut Kuka TV ini juga mendukung audio dari DBX TV nantinya ya dukaan ini akan muncul di Q66H ini lewat update OTA yang akan diberikan oleh Kuka. Untuk OS seperti bahas tadi ini adalah Google TV. Nah, untuk RAM-nya TV ini ada di 2 GB dan untuk storage internalnya adalah 32 GB. Untuk Google Assistance tentunya ada di sini ya. Nah, TV ini juga sudah mendukung multiple screen cash dengan protokol Google Cash, Mira Cas, Casplay, dan Aircas. Jadi mau casingnya pakai Android, pakai Windows, pakai Apple bisa ya. Untuk aktivitas dia ada Wii, ada Bluetooth, dan ada Ethernet juga. Nah, untuk TV digital dan analog ya tentunya ya dan sudah mendukung DVBT2 yang TV digital untuk Indonesia. Nah, jadi kalau buat nonton siaran TV digital lokal itu cukup pasang antena aja, enggak perlu nambah-nambah STB lagi. Oke, sekarang kita lihat konektor atau IO-nya dari atas ke bawah. Ini adalah analog audio out 3,5 mm, lalu ada AV in 3,5 mm, ada antena in, ada 2 USB 2.0 yang type A, ada 3 HDMI di sini. E port dengan label HDMI 1 itu mendukung arc atau ERc. Lalu semua port HDMI ini e mendukung input sampai 4K60 atau full HD 120 Hz. Lalu kemudian di sini ada digital audio out dan ada port Ethernet. Oke, dalam penggunaan karena kita pakai OS Google TV, saat pertama dinyalakan akan ada setup awal yang khas banget Google TV termasuk untuk menghubungkan TV ke Wii, lalu login akun Google, serta instal aplikasi streaming yang dibutuhkan. Setelah itu TV ini sudah langsung bisa digunakan untuk menikmati konten. Nah, kalau butuh aplikasi tambahan terdet ya, kita bisa milih sesuai dengan kebutuhan. Lengkaplah kalau di sini. Nah, di sini ada tiga HDMI yang bisa digunakan untuk menghubungkan TV ini ke perangkat lain seperti konsol game, laptop, dan sebagainya. Nah, saat kami coba hubungkan dengan laptop, kami bisa langsung mendapatkan resolusi 4K dengan refresh rate 60 Hz tanpa ada masalah baik di mode SDR maupun HDR. Sementara kalau refresh diatur 120 Hz, resolusi layar otomatis diturunkan ke full HD atau 1920 * 1080 piksel. Ada juga opsi input AV in kalau betul mengubungkan perangkat yang agak tua ke TV yang satu ini. Nah, seperti kita bahas tadi, kalau mau casting konten ini juga sudah mendukung banyak protokol cast ya, bisa pakai multiple screen cast. Ini bisa diakses dari app Castplay TV yang tersedia di TV 1 ini. Sementara kalau pakai standar Google Cast alias Chromecast ya kita tinggal aktifkan aja dari smartphone, tablet atau laptop kita dan kita langsung bisa menikmati konten dengan ukuran tampilan lebih besar pada TV yang satu ini. Nah, kalau butuh mutar file dari storage USB, kita bisa pakai port USB tentunya. Ini bisa untuk file video, audio, dan gambar. Nah, untuk navigasi terdapat sebuah tombol fisik di bagian dasar TV ini yang juga merangkap sebagai tombol power. memang agak kurang praktis ya. Jadi memang lebih baik kita pakai remote TV bawaannya. Nah, remote TV ini menggunakan koneksi Bluetooth dan desainnya modern serta minimalis. Hanya ada tombol-tombol penting aja di remote yang satu ini. Nah, remote ini dilengkapi oleh buzer. E bukan buzer yang suka jawab-jawab komen. Bukan, bukan, bukan. Ya, buzer itu bunyi di sini maksudnya ya. Jadi kalau misalnya remote ini tidak bisa kita temukan di TV itu ada fitur find my remote. Nah, sering kan keselip remote-nya ya. Nah, ini akan membuat buzer mengeluarkan suara. Jadi kita bisa dengan mudah mencari remote-nya. Contohnya seperti ini. Oke, remote ini juga mendukung voice input ke TV. Ada tombol yang harus tekan dan ditahan saat kita menyebutkan perintah ke Google Assistant. Contohnya seperti ini. Show me for Jakarta today. Today in thundermed with thunderstorms. Sementara itu, kalau mikrofon di TV ini kita aktifkan, kita juga bisa pakai voice com tanpa harus nekan tombol diemote. Nah, jadi seperti ini nih. Oke, Google turn off television. Oke, Smart TV ini memang terbilang memadai ya untuk menikmati konten ya. Ukuran 50 inci juga terbilang udah cukup besar. Memang bukan yang paling besar atau terlalu besar. Jadi tidak sampai makan tempat terlalu banyak juga sih sebetulnya. Untuk kualitas tampilan secara umum ini udah relatif baik dengan gamot coverage mendekati 100% sRGB berdasarkan hasil pengujian kami. Nah, untuk mode standar dan vivit gambut volume ada di kisaran 140% SRGB yang menunjukkan kalau warnanya agak dilepas. Jadi saturasinya itu bisa lebih tinggi. Nah, itu kalau butuh nampilin konten yang mau yang gonjreng itu bisa tuh pakai begini ya. Nah, sementara untuk mode movie gamut volume terbilang cukup dekat dengan gamut coverage dikisaran 97,9% sRGB dan gamut volume di 102,7% sRGB. Jadi kualitas tampilan TV dari Kuka ini memang udah mantap ya. Bukan yang menawarkan saturasi super tinggi tapi sudah cukup banget untuk menikmati konten. Sementara untuk tingkat cerahannya ada di kisaran 355 nits untuk mode SDR dan untuk mode HDR juga mirip-mirip aja di kisaran 369 nitz. Untuk HDR ini memang bukan tampilan yang superuper terang, tapi tampilan HDRnya udah cukup baiklah di sini ya. Oke, sekarang bagaimana dengan Dolby Vision? Saat kami coba dengan Netflix ini bisa bekerja dengan baik ya, ada beberapa preset khusus Dolby Vision yang tersedia di TV ini termasuk Dolby Vision Vivit, Dolby Vision Bright, dan Dolby Vision Dark. Nah, kalau bicara soal viewing angle gimana nih? Ya udah lumayan oke juga di sini ya. Ada sedikit pergesaran warna dan kontras yang terasa saat tampil warna yang terang ya. Tapi ini sedikit aja sih, masih belum sampai terasa mengganggu banget ya. Tentunya ini akan lebih terlihat kalau kita melihat dari sudut miring gitu ya, bukan tegak lurus terhadap TV-nya. aja kalau tidak sih enggak terasa nih ya. Lanjut untuk fitur MC. Nah, ini ee membuat konten dengan frame rate rendah tampil seakan-akan punya frame rate yang tinggi. Nah, ini tersedia juga di TV ini. Secara standar ini akan aktif di berbagai perisa tampilan. Kalau kalian merasa ini tidak dibutuhkan, kita sebaiknya matikan fitur ini secara manual. Lalu karena ini TV 4K tentunya dia butuh upscaler ya supaya tampilan dari konten yang resolusinya di bawah 4K akan bisa dinaikkan supaya jadi kelihatan lebih mantap aja lebih ee detail gitu ya. Nah, di sini kualitasnya terbilang memadai di sini dan kita coba muar konten di 720p dan kontennya ternyata tampil dengan masih cukup tajam di TV ini. Oke, beralih ke audio. Kita coba dalam kondisi standarnya alias kita pakai Dolby Audio aktif. Speaker TV ini bisa menawarkan kualitas suara yang mencukupi untuk berbagai kebutuhan di sini. Ternyata memang belum yang bisa sampai melingkupi kita dengan efek surround gitu ya, tapi suara yang dihasilkan tuh cukup rapi dan bassnya juga masih lumayan terasa di sini. Nah, kalau dirasakan masih kurang kan TV ini juga mendukung sistem audio tambahan. Kita bisa pakai output digital audio, analog audio, ec atau pakai Bluetooth juga bisa. Jadi tinggal dipasangkan aja ke speaker eksternal biar lebih mantap. Nah, untuk navigasi di Google TV dan di dalam aplikasi streaming ini belum terasa yang super-super mulus ya. Kadang terasa nih agak nyendat memang ya. Nah, terkait untuk menu shortcut untuk pengaturan picture dan sound ini tersedia di menu standar Google TV. Untuk menu pengaturan untuk picture juga tampil sebagai overlay ya. Jadi kita bisa melihat langsung efek perubahan dari setting yang kita lakukan. Penting banget yang satu ini karena ini berarti TV-nya benar-benar ngerti bahwa TV itu harusnya begini gitu. udah agak capek menerima TV-TV yang kalau mau nyetting di sini tuh harus keluar dulu dari kontennya. Jadi, kita tidak bisa lihat apa yang kita sedang setting. Nah, kalau yang ini sih enggak ada masalah. Lanjut untuk quick menu tambahan ini bisa diakses dengan menekan tombol input di remote. Tentunya di sini ada pilihan input apa yang ingin kita aktifkan. Setelah itu ada juga beberapa pengaturan lain termasuk pengaturan cepat untuk ke MEMC. Oke, sekarang kita coba Smart TV ini untuk main game. Bagaimana ya? Kita coba langsung pakai laptop gaming. Anehnya saat laptop kami pasang, TV ini secara otomatis malah masuk ke periset tampilan energy saving. Nah, saat kami coba jalankan game di laptop, preset ini tidak otomatis beralih ke game. Kami juga tidak melihat bahwa game mode secara otomatis aktif dan MEMC pun tetap aktif. Ini umumnya bisa membuat input lag jadi meningkat. Jadi kalau mau main game dengan laptop pakai TV yang satu ini sebaiknya kita atur preset secara manual pindah ke game. Nah, TV ini sendiri terdeteksi sebagai GSC compatible. Ternyata iya, gsing itu bisa digunakan di sini dan berjalan dengan baik. Walaupun kalau kita pakai di 4K ini memang hanya bisa dari 48 sampai 60 fps aja. Ini harusnya akan lebih optimal kalau kita pakai resolusi full HD dan refresh rate-nya di 120 Hz, rentang refresh rate-nya akan jauh lebih terasa. Nah, kalau kita pakai game konsol gimana? Oke, kita tancep aja PlayStation 5. Konsol ini langsung bisa dikenali dengan baik oleh TV. Game mode juga otomatis langsung dijalankan nih kalau di sini ya. Tapi secara standar TV ini akan masuk ke peret tampilan energi saving terlebih dahulu. Jadi memang kita tetap harus mengubah peret tampilan ini secara manual kalau memang dibutuhkan. Nah, masih terkait fitur gaming, ada gaming dashboard yang oleh Kuka disebut sebagai game konsol di TV ini. Fitur ini bisa diakses dari quick menu yang muncul saat menekan tombol input pada remote. Ada akses ke beberapa fitur khas gaming, termasuk untuk menampilkan virtual cross hair. Sayangnya fitur lain seperti black equalizer itu belum ada di sini. Secara umum Kuka Q66H ini terbilang cukup madela untuk gaming baik dengan PC maupun kalau kita mau pakai konsol khususnya untuk gaming triple A resolusi 4K dengan karga untuk mendekati 100% sRGB membuat kita bisa mendapatkan tampilan terbilang baik di sini seharusnya ini sudah memadai ya untuk banyak orang input lag ini juga enggak terasa tapi khususnya memang kalau game mode-nya sudah aktif memang untuk gaming dengan PC bisa jadi akan butuh sedikit setting manual tapi kalau pakai konsol kita tidak perlu melakukannya oke sekarang kita lihat konsol Konsumsi dayanya di preset standar TV ini alias mode energy saving. Untuk konten non HDR konsumsi daya ada kisaran 53 sampai 55 watt. Sementara di preset lain rata-rata konsumsi daya ada di kisaran 77 sampai 80 watt saja. Untuk konten HDR dan Dolby Vision konsumsi dayanya di sebuah preset itu masih ada di kisaran yang sama sekitar 78 sampai 80 watt. Ini udah terbilang wajar untuk sebuah smart TV 50 inci. Oke, smart TV Kuka Q6H ini yang ukurannya 50 inci ini dipasarkan dengan harga kisaran R jutaan. Nah, selain ukuran yang 50 inci ini ada juga varian yang 55 dan 65. Berdasarkan informasi dari Kuka ini memang tipe yang lebih fokus dipasarkan secara offline. Jadi kalau tertarik dengan TV ini, langsung aja cek ke toko elektronik terdekat. Oke, kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. Pertama dia sudah support refresh rate sampai 120 Hz. Tapi harus diingat bahwa ini supportnya ada di resolusi Full HD. Kalau kita pakai 4K memang hanya nyampai 60 Hz aja. Ini bukan hal yang buruk karena ini sebetulnya cukup umum ya. Lalu ada VRR di sini atau variabel refresh rate. Tapi karena batas bawah VRR itu ada di 48 Hz, jadi rentangnya memang jadi kebatas di 48 sampai 60 Hz aja kalau kita pakai resolusi 4K. Nah, jadi kalau mau nyaman langsung aja setting ke 1080p 120 Hz biar dapat tuh efek VRR-nya yang mantap ya. Nah, kemudian di sini ada dukungan untuk ARC atau EARC di HDMI 1. Tapi sayangnya tuh tidak ada label penanda fitur tersebut di port 1. Jadi diingat-ingat aja, Arc E-Rc-nya ada di HDMI 1. Itu kalau mau nyambungin ke soundbar ya. Lanjut. Untuk fitur gaming di Smart TV ini terasa masih butuh dioptimalkan lagi, termasuk untuk game mode yang belum otomatis aktif saat kita main game dengan PC atau tadi kita coba pakai laptop ya. Nah, lalu untuk navigasi rasanya masih agak kurang mulus aja baik di Google TV maupun di aplikasi streaming. Lalu untuk MEMC juga terkesan terlalu dipaksakan aktif di berbagai mode yang tersedia. Ini terkadang membuat nonton konten film jadi agak kurang menyenangkan. Terutama kalau filmnya ya model-model yang movie gitu ya, film layar lebar gitu. Itu kan cocoknya di 24 atau 30 fps. Kalau dibuat jadi mulus licin rasanya agak aneh. Tapi ya gampang kan tinggal diganti aja settingannya. Kemudian untuk desain stand ini membuat kita agak sulit mendapatkan soundbar tepat di bawah maupun menempel di depan TV ini. Dia harus agak sedikit lebih maju lagi di depan kakinya. Oke, dari segi kelebihannya dia punya fitur multiple screen cast yang mendukung berbagai protokol casting. Ada duka untuk HDR 10 Plus dan DualB Vision. Lalu dia support VRR dan juga sudah gsing compatible. Ada fitur penunjang gaming seperti game mode, game konsol, dan ALLM juga ada ya. Lalu dia punya tiga port HDMI masih ada AVIN juga. Jadi total ini bisa dihubungkan ke empat perangkat sekaligus. ER juga sudah di-support seperti kita bahas tadi ya. Lalu refresh rate bisa mencapai 120 Hz. Walaupun memang harus diturunin ya, tapi lumayan udah nyampai 120 Hz. Kualitas tampilan juga udah terbilang oke di sini. Lalu karena di pakai GUL TV, jadi dukungan aplikasinya banyak banget. Mungkin yang paling lengkap kalau kita bicara sebuah smart TV ya. Kemudian dia mendukung hands free voice command dengan build-in microphone. Resiko terjadi bern layarnya juga kecil banget ya. Ya, tenang susah nih buat burn in karena bukan pakai layar OLED yang satu ini dan tentunya dia udah siap untuk TV digital di Indonesia ya. Smart TV dari Kuka ini seharusnya cocok untuk mencari TV modern dengan layar cukup besar tapi tidak terlalu besar sampai butuh tempat ekstra banget ya. Ukuran 50 inci memang seharusnya pas untuk di apartemen studio, rumah kluster atau tempat-tempat lain yang memang ukuran ruangan itu tidak terlalu luas-luas banget. Kualites tampilan dan audio yang ditawarkan terbilang cukup layak untuk harganya. Jadi seharusnya sudah cukup memuaskan untuk kebanyakan orang. Sementara fiturnya terbilang layak untuk sebuah smart TV di era saat ini. Apalagi tersedia juga beberapa fitur ekstra spesial buat gaming. Jadi kalau sedang mencari smart TV 50 inci yang modern rasanya Kuka 50Q66ah ini bisa jadi salah satu pilihannya. Saya Did Irfan Jaka TV. [Musik]
