Smartphone 1.2 JUTAAN TERBAIK? Baterai Awet 5200 mAh, Layar berkualitas 90Hz : Review itel CITY 100 (YouTube Video)
Jumpa lagi Jibo TV dan kali ini kita akan mer-review sebuah smartphone dari Badan Amal Terkenal kita ya. Ini adalah smartphone kelas 1 jutaan dari Itel yang akhirnya datang lagi. Ini adalah Itel City 100. SOS-nya pakai Uni SOC T7250 yang baru namanya ya. Lalu sudah pakai storage UFS. Baterainya sangat awet. Desainnya keren. Punya IP rating IP64. Masih ada fingerprint di sampingnya ya. layar 90 Hz. Dan yang unik, smartphone ini punya Always On Display. Bisa kami bilang untuk sekarang ini adalah opsi paling menarik buat kalian yang cari smartphone dengan budget terbatas di R jutaan kecil. Tapi, tapi ada satu hal yang penting banget buat kalian perhatikan. Bahaya nih kalau enggak hati-hati. Nah, biar jelas apa yang penting itu, simak review kita kali ini. Oke, City 100 ini merupakan lini produk Itel terbaru. Sebagian dari kalian mungkin kenalnya Itel S23, S25 atau Itel P series atau mungkin Itel RS4 kemarin ya. Nah, kami sudah tanyakan ke pihak Itel nih, kenapa sekarang ada lini yang namanya City? Nah, City ini lebih ditujukan untuk penamaan baru aja. Soalnya kalau dari yang sebelum-selumnya Cendro mirip seperti nama smartphone dari brand lain, kan. Nah, dan untuk kelasnya sendiri tetap sangat terjangkau. Yang ini di kelas 1 jutaan kecil. Karakternya City disebut Itel sebagai smartphone yang fun, slim, dan practical. Hebatnya di debut pertamanya aja ternyata banyak sekali kejutannya. Di sini kita mulai dari paket penjualannya dulu aja ya. Ya, di sini tentunya sudah ada unitnya dengan screen protektor yang langsung terpasang. Lalu tentunya ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 18 watt dan tersedia juga kabel USB A2C di sini. Lalu ada hard case dengan ring Max saave di sini ya. Lalu ada sim ejector tentunya dan dokumen dalamnya. Nah, selain itu untuk 3.000 pembeli pertama kalian akan mendapatkan sebuah speaker Bluetooth yang bisa ditempel ke case MaxSave tadi ya. Lumayan bermanfaat ya ini ya. Karena kalau dibandingkan dengan speaker bawan jelas suaranya lebih lantang dan bassnya juga lebih berasa untuk speaker Bluetooth-nya. Ini sudah berasa badan amalnya kita lanjut ke desainnya. Bagi kami desainnya termasuk cakep ya dari si belakangnya sama sekali enggak kelihatan murahan. Frame dan back cover-nya ini memang dari polikarbonat. Tapi saat pertama dipegang kami malah mengira ini kaca karena back covernya ini terasa solid. Ya, mungkin yang akan kalian protes dari sisi layarnya aja nih yang masih ada notch-nya. Tapi mengingat ini kelas 1 jutaan kecil ya menurut kami ini bukan hal yang perlu diprotes. Lagi pula ada sesuatu di situ ya. Nah, nanti kita bahas untuk varian warna ada very purple seperti unit yang kami pakai ini. Tapi kalauasa terlalu cantik atau katanya mungkin ini feminin banget, cewek banget, ada dua opsi warna lagi. Ada pure titanium. Nah, yang ini lebih polos. Dan ada juga yang navy blue. Untuk dimensinya itu di 167,69 mm * 77,47 mm * 7,65 mm. Cukup tipis ya. Untuk bobotnya juga di kisaran 185 gr ya. Saat digenggam memang terasa ringan. Smartphone ini juga sudah punya IP rating di IP64. Artinya 6 itu sudah artinya tahan debu dan empat artinya tahan cipratan air tipis-tipis dari segala penjuru. Jadi kalau cuma kehujanan-kehujanan aja sih harusnya masih aman. Tapi yang jelas ini enggak cocok mau diajak berenang gitu ya enggak cocok. Enggak cocok. Jangan dicemplungin ke dalam air. Nah di sisi kanan kita lihat ada tombol power sekaligus fingerprint scanner dan ada tombol volume up and down. Atasnya ini kosong. Di kiri ada sim tray triple slot. Jadi bisa dual SIM dan masih bisa nambah pasang 1 micr SD ya. Lalu di bawah ada headphone jack 3,5 mm, ada mikrofon, ada port USBC, dan ada grill speaker. Speakernya jadi mono ya di sini ya. Dan kualitas suaranya masih sesuai harganya aja lah. Masih wajarlah kalau di kelas harga segini pakai speaker yang belum stereo. Nah, beralih ke S depan. Ini adalah layar 6,75 inci. Ini pandelnya IPS. Setidaknya ini info yang kami dapatkan dari pihak Itel. Yang unik di sini ada always on display. Tapi ya belum benar-benar bisa always on ya, cuma sekitar 10 detik bakal mati AOD-nya. Tapi IPS punya AOD emang bisa ya namanya fitur software ini bisa-bisa aja ya. Tapi jujur nih, jujur di awal kami sempat bingung karena hitamnya itu pekat banget ya saat lagi di AOD ya. Layar sekitar itu tetap terlihat seperti hitam yang solid. Seakan-akan ini AMOLED atau OLED, tapi apa jangan-jangan ini OLED ya? Tapi harganya cuma 1,2 jutaan dan pihak ITEL juga tidak mengklaim bahwa ini OLED atau AMOLED. Nah, karena penasaran kami coba tes sendiri dan ternyata kontrast rasinya masih di 2.700-an banding 1 dengan nilai area hitamnya atau black luminance ada di 0,15 alias belum infinity. Jadi ini hasilitas yang menunjukkan bahwa layar ini masih IPS sebetulnya tapi ini IPS yang kontrasnya tinggi banget berkualitas. ini. Nah, untuk resolusinya memang ada di HD Plus 720 * 1600 pikel. Masih ingat harganya kan? Enggak masalah dong. Untuk refresh rate- ini upus 90 Hz, adaptif dari 60 ke 90 Hz. Pengalaman scrolling, geser-geser menu memang terasa licin dan mulus di sini. Brightness diclaim bisa nyampai 700 nits di mode HBM. Kalau kita tes di indoor itu ada di kisaran 530-an nitz. Kemudian saat kami aktifkan fitur HBM-nya angkanya naik ke kisaran 650-an nitz. ini sudah sangat terang dan mendekati klaimnya ya. Jadi memang untuk outdoors yang terik banget belum yang super jelas itu butuhnya mungkin sekitar 850 sampai 1000-an nits ya di situ ya. Tapi lagi-lagi ingat harganya dulu sih sebetulnya ya kelas 600-an nits ini itu udah di kelas flagship loh sebetulnya jadi masih bisa kebaca di bawah sinar matahari udah bagus banget. Oke, untuk color gamut kita lihat, kita tes apa adanya aja karena di sini belum ada setting warna layar ya. Untuk gamut coversnya ada di 97,2% SRGB dengan volumenya di 114,8% sRGB. Sedikit melebih 100% sRGB. Nah, untuk editing foto tipis-tipis ini masih cocok lah ya sebetulnya ya. Nah, belum ada info atau klaim mengenai touch sampling rate-nya ya di sini tapi kita uji di berbagai kondisi. Jadi untuk pengoperasian keseharian masih cukup responsif lah layarnya ya. Tapi kalau untuk game itu beda cerita. ini terasa delay-nya tapi ya masih bisa dimaklumi yang penting kan penggunaan umumnya itu masih aman lah di sini untuk layar tentunya ini juga udah support sampai 5 jari sekaligus belum sampai 10 jari tapi harusnya mayoritas pengguna itu enggak terlalu terganggu ya dengan yang satu ini. Nah, untuk beza layar memang bukan yang super tipis tapi lagi-lagi bukan hal yang layak untuk diprotes. Masih ada banyak smartphone yang di kisaran 3 sampai 4 jutaan yang desainnya seperti ini. Bahkan mungkin lebih tebal dari ini. Nah, untuk kelebihan yang jarang dimiliki smartphone di kelas segini adalah komponen layarnya ini sudah rata sejajar dengan frame-nya ya. Biasanya smartphone yang terjangkau itu masih pakai panel layar yang nonjol yang membuatnya jadi ekstra tebal. Tapi kalau di sini sudah rata dan membuatnya jadi terasa seperti smartphone-sartphone kelas menengah ya, menengah modern tepatnya. Oke, kita lanjut lagi ke atas layarnya. Di sini ada earpiece untuk nelepon dan kamera selfie 8 megap fix focus. Perekaman videonya up to 1080p 30 fps. Ada juga LED flash untuk selfie di beasel atas layarnya. Ini bisa berguna untuk notifikasi dan untuk foto atau video di low light. Ini lumayan membantu ya. Sebentar ini sejutaan kan benar kan ya? Dikasih flash di sini. Oke lanjut untuk sisi belakangnya. Di sini ada modul kamera terlihat ada tiga tapi yang fungsional itu cuma satu ya yang paling atas saja. Ini adalah kamera utamanya 13 megapel dengan perekaman video hingga 1080p 30 fps. Sedangkan di bawahnya yang terlihat seperti kamera ternyata itu adalah infrared blaster. Iya, masih ingat harganya? Itu infrared blaster di situ. Luar biasa ya. Enggak apa-apa deh kalau kayak begini-begini dipasang yang berguna enggak apa-apa ya. Dan kami sudah coba untuk jadiin dia remote AC dan memang bekerja dengan baik-baik saja ya. Sedangkan yang paling bawah, nah itu baru pajangan aja. Kita udah tes ini bukan kamera makro, bukan sensor ya. Kami tutup juga enggak ada pengaruh apa-apa. Enggak apa-apalah ya kalau R jutaan ya. Yang R jutaan juga begitu kok ya. Ya udahlah enggak apa-apa. Nah untuk fitur ekstra kameranya masih ada beberapa ya seperti ada dual video, ada slow motion, prom mode, docums, night mode, dan portrait mode juga ada di sini. Untuk spesifikasinya untuk SOC-nya pakai Uni SOC T7250. Iya benar namanya nyebutnya Uni SOC. Kita udah nanya langsung ke Uni SOC-nya sendiri nyebutnya bagaimana? UniSOC atau Uni SOC? Dengerin nih. Mari kita tanya namanya tuh nyebutinnya gimana sebetulnya. So, how do we really eh pronounce that name? Uni SOC. So, it's Uni SOC, not UNISOC. Yeah, UniSOC. You right. Alright. Alright. Thank you. Ya, udah jelas ya. Uni SOC ini bisa dibilang eh rebrand dari Uni SOC yang T615. Tapi nanti kita lihat ya kemampuannya apakah benar-benar sama. Lalu untuk RAM itu 8 GB dan sourus-nya 128 GB. UFS 2.2. Enggak salah 128 enggak ya? Enggak salah ya? Benar benar benar sih benar ya. Ini varian tertingginya. Kalau mau lebih hemat ada juga yang RAM-nya 6 gig. Storage-nya sama-sama 128 gig. Oh ya, kami juga udah tes kecepatan storage-nya dan kecepatan seperti ini mengindikasikan kalau ini memang UFS ya. Terasa juga pada saat pakaian sehari-hari. Instal aplikasi, pindah-pindah app terasa cukup cepat dan responsif. Untuk baterai ini 5.200 mAh. Lalu untuk chargernya 18 watt. Bypass charging ada enggak? Ada di support enggak cuma untuk gaming, tapi untuk nonton juga bisa bypass charging. Ayo yang lain contek. Yang satu ini bagus nih ya. Sayangnya untuk penggunaan lainnya dia belum bisa misalnya mau live streaming bisa berjam-jam. Harusnya tuh asyik ya kalau bisa bypass charging. Tapi untuk sekarang itu baru untuk gaming dan untuk nonton. Udah bagus kok. Yang lain kan buat nonton aja enggak bisa. Ya, ayolah Ital sekalian lah dipakai buat live streaming. Bisalah dikit lagi nyeting software doang nih kayaknya nih. Lanjut untuk sensor dia punya akselerometer, ada light sensor jadi ada fitur auto brightness di sini ya. Ip jutaan loh ini ya. Lalu ada proximity sensor, ada geomnetic sensor, ada virtual gyroscope ya yang masih cukup wajarlah untuk kelas harganya ya. Lalu untuk konaktivitas tentunya ini 4G. Wii-nya adalah Wii 5. Nah, biasanya di kelas harga segini nih kita sudah banyak yang nemu pakai WiFi 4 ya dan kecepatannya ya lambat. Nah, di sini kita sudah tes ya kecepatan Wii 5-nya dan ee ini ternyata lumayan kencang ya. Kalau kita e sambungkan ke ASP kami, kita masih bisa dapat 200 sampai 300 MB/s. I beneran ini Wii 5 beneran ini ya. Lalu Bluetooth-nya Bluetooth versi 5. Untuk Bluetooth kodecnya ada SBC. Untuk USB-nya tentu sudah bisa OTG dan dia punya FM radio. Untuk display output via USBC bisa atau enggak? Siapa yang nanya? Hah? Siapa? Mana ada yang bisa ini di harga segini belum ada yang bisa ya? keterlaluan. Belum saatnya belum belum saatnya ya. Nah, nah kalau untuk NFC ada atau enggak? Nah, ini sayangnya belum ada di sini. Ayolah Itel tambahin NFC aja di sini nambah Rp100.000 kayaknya enggak apa-apa deh. Enggak ada yang komplain ya. Lanjut untuk keamanan dia punya fingerprint scanner dan face unlock. Untuk OS dia pakai Itel OS 14.5 dengan basis Android 14. Nah, sini belum ada janji terkait update versi Android tapi janjinya Itel dia akan maintain security dan fix bug itu selama 1,5 tahun. Nah, untuk fitur-fitur OS ini sebetulnya ada banyak ya. Ada dynamic bar untuk tampilan notifikasi ala dynamic island. Nah, jadi notch-nya enggak gitu kelihatan tuh di atas itu ya. Jadi mirip seperti buah-buahan ya, enggak? Lalu ada juga fitur landscape display yang berfungsi untuk menampilkan jam ketika dalam kondisi lagi di charge. Mungkin untuk taruh di samping kita kalau lagi tidur lagi-lagi mirip seperti buah-buahan. Ya, tentunya fitur ini akan aktif kalau diposikan secara landscape. Nah, untuk AITEL punya AI assistant yang namanya AI fana atau Ivana ya gitulah kurang lebih ya. AI-nya ini bisa menerima perintah seperti pasang alarm, menaikkan volume, membuka app yang sudah terinstal itu juga bisa ya. Buat yang penasaran kok tampilan menu AI-nya mirip dengan saudaranya ya namanya juga saudaranya. Saudara yang baik itu harusnya memang berbagi ya enggak ya? Tapi untuk fitur-fiturnya memang belum kebagian semua kalau di sini. mungkin terkait harganya kalau di situ. Nah, untuk pengujian performa kita langsung mulai aja dengan UnT2 ya. UnTutu 10 tapi yang light ya tentunya ya. Kita dapat skor di Rp300.000-an. Untuk Geekbench 6 single core 437, multiore di 1463 untuk JFX Band 1080p TX offscreen dapat 28 fps. Sementara untuk 3max sling shot graphic skornya ada di 1099. Sekarang kita coba stress test ya dengan 3maxel life stress test. B score-nya 570, lowest score-nya di 564. Jadi stability-nya ada di 99%. Overall memang ini bukan performa yang kencang banget gitu ya, tapi bukan yang lemot parah juga yang buka aplikasi sampai delay-delay enggak ya. Lagi pula ini masih cocok untuk kelas harganya. Mungkin itu juga terima kasih kepada UFS-nya ya. Nah, langsung kita masuk ke dalam gaming. Tapi sebelumnya kita aktifkan dulu nih profil performa. Jadi performance mode lewat overlay game assistant panel yang satu ini ya supaya game-nya bisa berjalan maksimal. Kita mulai dari Mobile Legends dulu. Setting frame rate bisa sampai super, artinya bisa nyampai 90 fps. Pengaturan grafis lainnya juga bisa kita maksimalkan di sini. Dengan setting seperti ini, game bisa berjalan di kisaran 60 sampai 80 frame pers. Kalau lagi sepi bisa 80 fps. Kalau lagi battle ada di kisaran 60 fps. Overall ini lumayan lancar dan untuk frame rate seperti ini sebaiknya pakai kipas kalau mau performanya lebih tahan lama ya. Lanjut untuk Real Racing 3. Game ini bisa berjalan di kisaran 50 fps ketika mobil sedang ramai dan maksimalnya bisa nyampai 80 FPS ketika sudah rank 1 di depan. Lumayan juga nih ya, refreshnya tuh enggak nyangkut di 60 Hz aja. 1 jutaan kecil bisa ngerasain gaming di atas 60 fps. Keren ya satu ini ya. Lanjut untuk PUBG Mobile. Nah, di sini setting frame rate maksimumnya di ultra artinya emang 40 fps. Kalau dimainkan dengan setting smooth ultra gameennya berjalan di 25 fps. Belum level kompetitif cocoknya buat casual gaming aja. Untuk GO aiming juga masih delay karena Gonya kan memang virtual. Tapi kalau kalian bukan pengguna fitur ini harusnya ya bukan masalah lah ya. Oke, sekarang Kris iseng karena dia ngetes Gensin Impact ya. Jadi ya kita lihat aja kita coba mainkan di setting lowest 60 selama setengah jam hasilnya frame rate-nya cuma dapat di 20-an FPS. Untuk traveling ini masih oke, tapi kalau untuk battle ini kurang disarankan ya. Tapi ya lumayanlah bisa jalan-jalan menikmati pemandangan Gensin Impact ya. Nah, sekarang kita cek suhunya. Nah, suhu sisi layar paling panas di 44 derajat Celcius. Sementara di body belakang paling panas di 45 derajat Celcius. Nah, ini udah agak panas sih sebetulnya ya. Ya, agak maksa memang. Nah, suunya masih dominan di area samping kamera di mana SOC berada. Overall rasanya emang belum pas untuk game berat, tapi untuk game ringan sih ini meemang masih oke. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian kamera. Oke, di tangan saya kali ini sudah ada Itel C1. Jadi, langsung aja kita lihat kemampuan kamera ini seperti apa. Yang lagi teman-teman lihat sekarang adalah kamera selfie-nya di sebuah 40p 30 fps dan suara yang lagi kalian dengar sekarang juga suara langsung dari mikrofon smartponya. Saya enggak pakai mikrofon nasional. Untuk video sehari-hari atau vlogging hasilnya seperti ini. Kalau untuk vlog, kalau untuk vlogging sih menurut saya belum pas ya. Karena kualitas suaranya sendiri menurut saya sih masih sesuai harga aja lah. Ditambah lagi mikrofonnya ini cuma satu ya. Hati-hati aja ketutupan sama tangan kalau enggak bisa hilang suaranya. Kalau memang kalian butuh banget suara mikrofon yang bagus, saran saya pakai mikrofon eksternal aja. Untuk kualitas gambar kamera selfie-nya sendiri termasuk yang lumayan oke nih untuk kelas R jutaan. Detailnya oke, cukup tajam juga. Urusan dynamic range standar aja. Area highlight over expos dengan area wajah masih sedikit kurang keangkat sih. Tapi ini bukan hal yang perlu diprotes. Pintar-pintar memposisikan arah cahaya aja. Untuk stabilizer sayangnya belum ada ya. dibantu aja pakai tripod kecil saat rekam video atau stabilkan lewat Google Photos. Nanti hasilnya bisa jadi seperti ini. Sekarang kita tes kamera utamanya. Detailnya juga lumayan nih. Lebih baik ketimbang kamera selfie-nya tadi. Warna juga lebih keluar. Damic range standar aja. Stabilizer juga masih sama. Belum ada eis karena gyiroskop hardware-nya itu enggak ada. Tinggal pakai Google Photos saja ya. Terkait autofokus, selama masih di ruangan dengan cahaya yang cukup, autofokusnya lancar-lancar aja. Tapi kalau udah di situasi yang gelap, autofokusnya memang kurang lancar. Tapi ini masih wajarlah untuk kelasnya. Solusinya tinggal tap manual aja ke objeknya. Untuk hasil video low light, tidak saya sangka-sangka masih cukup bagus loh hasilnya. Gambar masih cukup terang, detailnya juga masih lumayan enggak sampai yang habis banget. Tapi memang kompensasinya ada di frame rate. Videonya hanya berjalan di kisaran 19 FPS. Jadi untuk sebagian orang mungkin videonya akan terasa patah-patah. Tapi ada juga loh sebagian orang yang gak masalah dengan video kayak begini. Yang penting kan gambarnya masih kelihatan. Untuk kondisi low light yang ekstrem, asyiknya selfie-nya ini punya LED flash. Lumayan membantulah supaya muka lebih terlihat. Nah, kalau kamera utamanya seperti ini. Gambar terlihat sedikit noisy, tapi detail masih bisa dipertahankan. Dan yang saya enggak sangka-sangka kalau kamera utamanya ini frame rate-nya masih stabil di 30 fps. Masih cukup bisa diandalkan ternyata. Nice. Oke, untuk foto juga masih lumayan ya. HDR processing-nya masih ada. Jadi kalau di kondisi cahaya yang sulit masih bisa diseimbangkan sisi gelap dan terangnya. Fitur portrait mode juga ada untuk bok-boke. Dan sekilas sudah lumayan rapi. Cuma ya untuk low light ekspektasinya juga disesuaikan aja. Ya memang belum yang bagus-bagus amat di low light tapi ya ingat harga. Saya sih R1,2 juta dapat kamera kayak begini udah happy banget. Enggak banyak smartphone lain yang bisa kayak begini di kelasnya. Kalau ditanya apa sih yang bisa saya protes, cuma satu hal aja sih. Kalau untuk resolusi masih wajar lah ya. 1080p 30 fps. 60 fps kalau ada syukur. Kalau enggak ada juga masih maklum. Tapi kalau stabilizer video saya sudah mulai berharap nih ada di kelas harga segini. Ini bukan keterbatasan SOC-nya soalnya, tapi lebih akibat dari tidak adanya jarescop hardware 1,2 juta kalau misalnya dapat perekaman video yang langsung stabil bakal lebih mantap sih. Udah itu aja sisanya mah good job buat Itel. Kameranya udah bisa sebagus ini. Sip. Sekarang kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Nah, sekarang kita lanjut untuk tes baterainya. Wah, kan biasanya kalau pakai unit si baterainya wah parah deh. Udah biasanya dapat 18 jam udah syukur. Tapi ternyata di sini YouTube video local playback-nya yang kita download itu terus kita putar ya sampai baterainya habis untuk 1080 Penon HDR itu baru habis setelah 26 jam 33 menit. Ini hasil yang sangat sangat baik dan jauh di atas ekspektasi kami. Yang bilang Uni SOC itu boros mikir lagi deh. Kayaknya ini ada perbaikannya di sini. Lalu untuk YouTube streaming 1080p 30 fps non hadir selama setengah jam baterai turun 3%. Ini normal banget. Mainan TikTok setengah jam 4% baterainya turun. Wajar banget ya. Gensin Impact lowest 60 fps selama 30 menit 11% baterainya turun. Lagi-lagi ini wajar walaupun memang Gensin Impactnya belum yang mantap-mantap banget jalannya. Overall baterai memang tergolong awet dan melebihi ekspektasi kami untuk baterai 5.200 mAh. Oke, sekarang mari kita tes untuk charging. Ingat, charger 18 wat, baterai 5200 mAh. Dia ngisi dari kosong sampai penuh itu butuh waktu 2 jam. Masih lumayan wajarlah ya untuk kelas harganya ya. Belum tergolong yang lambat-lambat banget. Kalau 2 seteng sampai 3 jam mungkin kami baru protes. Tapi kami menemukan kalau suhunya ternyata cukup tinggi ya saat nge-charge ya. Setelah sekitar 20 menit charging, suhu itu bisa mencapai 46 derajat Celcius tepat di posisi prosesornya. Terlihat juga dari grafic charging tadi di sekitar 30 menit voltasinya naik turun mungkin akibat terlalu panas di sini padahal hanya 18 watt. Kalau 60 watt ke atas sih kita ngertilah ya, pahamlah kalau dia panas. Jadi usahakan jangan nge-charge di tempat yang panas ya, nge-cas lah di tempat yang adem. Oke, lanjut lagi untuk Netflix. Wow, ini sudah L1, sudah support streaming dengan resolusi HD. Kenapa HD, Bang? ya karena layarnya HD kan HD plus ya. Lalu untuk YouTube streaming nyampai 1080p 60 fps tanpa fitur HDR. Untuk Haptic feedback ini masih ada ya, tapi kontesnya masih sesuai harganya aja. Getarannya panjang, enggak gitu presisi. Dipakai ngetik cepat juga kurang pas lah di sini. Tapi kalau kalian enggak wajib pakai getaran, harusnya matiin aja getarannya. Ini enggak ada masalah kok buat ngetik masih lancar. Oke, untuk harga yang 6128 ada di Rp1.299.000. Sementara yang 8128 harganya di Rp1.309. Rp399.000 itu harga resminya tentunya ada harga flash sale ya bisa lebih murah. Dan menurut info dari Itel akan ada giveaway lima produk ya. Ada satu MAC speaker, ada satu smartphone, ada satu Mac holder, ada satu TWS Buds Neo 3 dan ada satu smartwatch O20 ya. Detailnya langsung cek aja di kolom deskripsi ya. Oke. Nah, kita langsung aja masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dia belum punya NFC. Kemudian gyroskopnya itu virtual. Jadi ya otomatis ya perekaman video juga belum pakai stabilizer ya. Lalu saat charging entah kenapa suhu bodinya itu bisa cukup panas padahal dia cuma charging pakai 18 watt aja. Kemudian suhu untuk gaming ini cukup tinggi kalau untuk game-game yang berat ya. Jadi ya harusnya dibantu dengan kipas pendingan yang ekstra lah. Kemudian untuk speaker ini masih mono. Lalu untuk layarnya ini kurang responsif untuk gaming tapi untuk aplikasi yang lebih ringan untuk sehari-hari ini masih aman. Dan yang terakhir dan ini adalah poin penting yang perlu kalian perhatikan yang saya bilang di awal. Apa itu ya? Coba kalian bayangkan kalau di tongkrongan kalian teman kalian nanya itu HP apa? Nah, sebelum jawab pastikan bahwa teman kalian enggak ada yang namanya City. Takutnya entar marah ya. Ini HP-nya City gitu ya. Bukan gitu ya harusnya ya. Oke. Oke, kita lanjut untuk poin kelebihannya. Pertama, baterainya sangat awet ya. Kami aja kaget kok, batternya awet. Kualitas layarnya ini tergolong oke banget dari segi warna maupun kecerahannya. Lalu dia punya fitur AOD walaupun belum benar-benar always, tapi ya sudahlah ya di harga segini. Lalu refresh rate-nya 90 Hz. Performanya masih cukup oke untuk kelas harganya dan kenyamanan pakainya ini hadir berkat storage yang udah pakai UFS juga. Kemudian dia sudah punya IP rating, IP64, punya bypass charging. Desainnya juga keren, masih punya fingerprint scanner, ada FM radio. Wii-nya juga Wii 5. Jadi kecepatan Wi-Fi-nya normal, kencang gitu ya. Dan terakhir dia punya infrared blaster. Masih ada infrared blasternya di sini ya. Jadi bisa dilihat ya, kalau smartphone ini jauh melebihi ekspektasi kami. Terlalu murah untuk apa yang ditawarkan. Pada akhirnya kalau pertanyaannya smartphone ini untuk siapa? ya mungkin ya mungkin untuk anak sekolah SD sampai SMP ini cocok nih terutama yang butuhnya untuk komunikasi dasar tapi mau desain dan layarnya yang cakep juga ya orang tua dengan budget terbatas akan terbantu dengan smartphone terjangkau seperti ini. Yang jelas ketimbang beli HDC atau HP abal-abal yang banyak beredar di e-commerce yang suka pr nama-nama HP terkenal, ya jelaslah Itel City 100 ini jauh lebih bagus ya. Bahkan untuk siapapun yang nyari smartphone di bawah R,5 juta, menurut kami ini akan jadi pilihan yang cocok banget. Ini mungkin kurang cocoknya buat kalian yang butuh NFC buat mungkin top up Imani ya yang sering bolak-balik jalan tol. Nah, itu kurang pas ya mungkin ya. Tapi kalau memang kalian gak butuh-butuh banget sama Gro dan NFC ya, HP satu ini untuk harganya adalah pilihan yang sangat mudah. Belum banyak smartphone lain yang bisa memberikan kelengkapan sebaik Itel City 100 nih. Terutama di kelas harga R jutaan kecil nih. Akhir kata, terima kasih ya Itel. Berkat kalian smartphone kelas R jutaan kecil jadi ada standar baru lagi nih. Persaingan jadi semakin menarik. Saya Dad Irfan Jak TV. [Musik]
