Smartphone Rasa Sound HOREG! - Review Nubia Music (YouTube Video)
Jujur aja nih, pas pertama kali liat Nubia Music, saya langsung inget sama piringan hitam jadul ya. Bentuknya yang kotak, dengan lingkaran yang gede itu loh. Berasa kayak lagi megang vinyl recorder player gitu. Unik banget sih, beda dari hape kebanyakan yang bentuknya gitu-gitu aja. Lingkaran gede di belakang bodi Nubia Music ini bukan cuma hiasan loh. Di dalamnya ada speaker gede yang bikin suara hape ini lumayan powerful. Nanti kita bahas lebih lanjut soal speakernya di belakang. Tapi yang bikin Nubia Music stand out dari segi desain adalah pilihan warnanya. Gak cuma warna-warna standar kayak hitam atau putih, Nubia Music juga punya varian warna kuning, biru, dan ungu yang cerah banget. Jadi kesannya itu youthful dan playful gitu anjay. Cocok banget buat kalian yang nggak mainstream gitu, pengen kelihatan beda. Nubia Music juga tergolong hape yang compact dengan enteng. Dimensinya 163x74x8mm, dan beratnya cuma 190 gram. Jadi enak banget digenggam dan nggak bikin pegel waktu dipake lama-lama. Oh iya, Nubia Music ini punya dual headphone jack yang posisinya di atas. Pertama saya liat dua jack audio ini, saya agak bingung gitu. Ini jack audio sampe dua begini buat apa anda? Di saat brand lain beramai-ramai ngilangin jack audio, brand ini malah ngasih satu lagi. Emang Nubia ini beda coy. Soal fungsi sejauh ini yang saya pahami, paling buat dengerin musik pake earphone kabel secara berbarengan ya. Itu pun akan lebih asik kalo sama pacar. Kalo sama temen cowok agak awkward nggak sih? Material bodi Nubia Music terbuat dari plastik polikarbonat yang solid dan durable. Tombol power dan volumenya ada di sisi kanan hape. Gampang dijangkau pake jempol. Ada sensor fingerprint yang nyatu dengan tombol power. Saya suka bagaimana Nubia ngasih warna merah di tombol powernya. Kelihatan lebih mewah gitu. Layar Nubia Music ini sebenernya nggak wah banget ya kalo dibandingin sama hape kekinian lainnya. Hape ini punya layar 6.6 inch, ini selayarnya IPS LCD. Jadi warnanya acceptable atau lumayan oke. Viewing angle ini juga lumayan luas. Resolusinya cuma HD plus aja atau 720px x 1612px. Jadi detail gambarnya not bad lah buat hape sejutaan ya. Kerapatan pikselnya sekitar 267ppi. Kalo diliat dari jarak normal sih nggak keliatan piksel-pikselnya gitu. Tapi kalo kita liat lebih dekat gitu, nah baru keliatan tuh agak gede-gede gitu pikselnya. Refresh rate layarnya 90hz, scrollingnya smooth, ya lumayan lah. Nubia Music punya fitur yang mirip sama dynamic island-nya iPhone, yaitu Live Island. Jadi punch hole kamera depannya itu bisa berubah-ubah bentuknya dan nambilin notifikasi atau informasi-informasi lainnya. Ya lumayan lah. Bisa ke Apple-Applean dikit. Untuk brightness ya so-so lah. Lumayan aja, nggak terlalu terang-terang amat gitu. Kecerahannya cukup buat di dalam ruangan gitu, tapi kalo dipake buat di luar ruangan atau kena matahari langsung ya agak susah gitu, nggak bisa keliatan. Sedangkan untuk performa... HP ini tuh nggak ngebut ya. Dia pake SoC Uni SoC SJ9863A yang masih pake fabrikasi 28nm. SoC ini jujur adalah SoC jadul. Itulah kenapa performanya nggak smooth-smooth amat. Berbagai macam perintah yang masuk HP ini akan direspon dalam waktu yang cukup lama. Angka-angka yang didapet dari aplikasi benchmark sintetis juga nunjukin hasil yang relatif kecil. Angka AnTuTu-nya ada di 100 ribuan. Performa single core-nya nggak nyampe 200 di Geekbench. Performa multi core-nya juga nggak nyampe seribu. Pokoknya beneran nggak ngebut-ngebut amat lah performanya. Ada ya HP masih 28nm dijual? Yah, lumayan lah. RAM di HP ini juga cuma 4GB. Pertanyaannya adalah RAM 4GB itu cukup nggak sih? Kalo menurut saya sih nggak ya. Kecepatan SoC yang terbatas diperparah dengan ketersediaan RAM yang minim juga. Walaupun RAMnya bisa di-extend sampe 8GB. Kenyataannya nggak bikin performa HP ini jadi lebih baik. Untungnya, storage di HP ini lumayan gede. 128GB dengan opsi storage tambahan melalui slot microSD. Storage di HP ini juga sepertinya masih memakai eMMC. Terlihat dari kecepatan baca tulisnya yang nggak cepet-cepet amat. Nggak nyampe 200MB per second malah. Untuk fitur kelengkapan masih aman. Kita akan temukan NFC di HP ini. Coba bayangin deh, HP 1.2 juta punya NFC. Kurang ngasih gimana coba? Nah sekarang saya akan bahas soal speakernya. Yang jadi nilai utama HP ini. HP ini cuma punya 1 speaker ya. Bukan di bagian atas, bukan di bagian bawah, tapi ada di bagian belakang. Sakit di gigitin Tutu! *ketawa* Lu ngapa dah? HP ini cuma punya 1 buah speaker, bukan di bagian atas, bukan di bagian bawah, tapi ada di bagian belakang. Kalo kita lihat bagian belakang itu kayak sebuah lingkaran yang sangat besar ya, dengan grill gitu. Dan di tengah grill itu ada tulisan DTS X gitu loh. DTS itu singkatan dari Digital Theater System. Sebuah teknologi yang memang khusus mengembangkan audio, sama seperti Dolby dan sama seperti Dolby dan lain-lain. Saya akui suara yang keluar dari speaker ini sangat kencang untuk sebuah HP 1 jutaan. Saya coba setel musik di sebuah ruangan, dan suaranya itu beneran nyebar gitu loh. Untuk volumenya dia memang oke, bisa sampe 600% di boostnya gitu. Tapi tidak dengan sound quality-nya ya. Kalo boleh jujur, satu-satunya frekuensi yang saya dengar dari suara yang keluar dari speaker ini hanyalah frekuensi high. Dimana suaranya berasa kayak treble doang gitu loh. Dalam posisi kencang dan dengan jarak di bawah 1 meter, suaranya cukup memekakan telinga. Suaranya itu keras piercing dan pedes banget lah di telinga gitu. Kalo saya pribadi, nggak bisa menikmati musik yang keluar dari speaker ini. Tapi untuk sebuah HP dengan harga 1 jutaan, dan punya suara sekencang ini, ini tentu jadi HP yang menarik gitu. Dan sebenernya nggak cuma speaker aja yang bikin HP ini terlihat berbeda dari HP lain melalui kan adanya dual port audio dibagian atas. Ini agak nggak mainstream karena kita semua tau brand-brand lain berlomba-lomba untuk menghilangkan port audio, sementara HP ini nambahin sebuah port audio lagi. Jadi total udah ada 2 port audio. Dalam promosinya, mereka bilang bahwa port ini berguna untuk mendengarkan musik secara bersamaan. Skenario idealnya adalah kita bisa mendengarkan musik dengan pasangan kita. Sedangkan skenario tidak idealnya adalah kita mendengarkan musik dengan teman kita. Saya bilang ini nggak ideal karena kondisi tipe masyarakat Indonesia agak unik. Di mana kita masih mentoleransi dua manusia berjenis kelamin perempuan duduk bersamaan sambil mendengarkan musik. Tapi kalo laki sama laki... Saya mau bilang istilah itu tapi saya takut diserang. HP ini punya baterai sebesar 5000 mAh dan hadir tanpa dukungan fast charging. Daya tahan baterai di HP ini juga terasa tidak spesial. Di mana dalam pengujian, dia hanya bisa bertahan sampai 10 jam aja. Sementara waktu yang dibutuhkan untuk mengisi baterai dari 0-100% adalah 1 jam 46 menit. Sektor baterai ini yang mungkin bisa menjadi sebuah trade off di HP yang dijual dengan harga 1 juta lebih sedikit ini. Untuk software, Nubia Musik ini pake Android versi 13 dengan antar muka MyOS 13. OS di HP ini cukup responsif, cukup compact, tampilannya nggak norak dan cukup nyaman menurut saya. Movement dan transisinya cukup responsif dengan fitur yang menurut saya cukup dan nggak berlebihan tapi juga nggak terlalu sedikit gitu. Setidaknya fitur favorit saya tetap ada di launcher HP ini seperti manajemen shortcut yang tentunya jauh lebih baik daripada XOS punya Infinix bersaudara. Sekarang kita bahas soal kamera di HP ini. Kamera di HP ini totalnya ada 3 ya. 2 di bagian belakang dan 1 di bagian depan. Sementara kamera utamanya beresolusi 50MP misalnya sedangkan kamera keduanya… saya nggak tau ini kamera apa ya. Kemungkinan ini adalah kamera depth. Tapi saya berkesimpulan begitu karena sepertinya ini bukan kamera makro. Karena saya tidak menemukan ada opsi makro di UI kamera di HP ini. Kualitas kamera utama di HP ini menurut saya… lumayan lho. Karena dalam kondisi yang ideal, fotonya lumayan tajam. Detilnya masih bisa terlihat cukup oke. Warnanya lumayan akurat dan tidak melihat adanya pergeseran warna untuk beberapa warna yang gonjreng seperti hijau, biru atau kuning. Yang saya nggak suka adalah dynamic range-nya yang menurut saya sempit banget sih. Mengambil foto dalam kondisi sumber cahaya yang terlalu banyak bikin banyak bagian yang gagal di highlight. Kemampuan low light-nya menurut saya juga lumayan. Mode night-nya lumayan bisa membantu untuk menangkan intensitas noise yang normalnya gampang banget muncul. Tapi mengambil foto low light di HP ini menggunakan mode night cukup merepotkan mengingat HP ini tidak dilengkapi dengan optical image stabilization. Ditambah lagi raw power dari HP ini yang sangat rendah sehingga proses foto itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Oke kesimpulannya, menurut saya HP ini terasa cukup unik karena nawarin hal yang sama sekali berbeda dengan HP-HP lain di kelasnya. Punya speaker yang super kencang dengan 2 buah jack audio adalah hal yang nggak akan mungkin kalian temukan di HP lain. Untuk desain, jujur saya suka. Terutama motif comic strip kayak gini ya. Performanya yang terasa biasa aja baterainya juga ngawet-awet amat terus layarnya juga kelihatan mainstream. Nggak lantas bikin saya bilang kalau HP ini nggak layak untuk dibeli. Pertama dijual, HP ini dibanderol dengan harga 1,2 jutaan. Tapi terakhir saya lihat di marketplace harganya sekitar 1 juta lebih sedikit gitu. Yang mana menurut saya ini sangat worth it. Punya 1 juta dan pingin nyari HP Android yang nggak terlihat biasa aja? HP ini juaranya. Closed Caption by @subbox.id
