Smartphone Terbaik Motorola 2026: Review Motorola Signature (YouTube Video)
Persaingan smartphone flagship tahun 2026 jadi makin seru. Ini adalah Motorola Signature smartphone flagship terbarunya Motorola. Namanya HP kelas atas atau flagship tentunya hadir dengan kemampuan yang spesial. Bodinya tipis dan ringan. Kameranya bersaing diah flagship. Software-nya bersih tapi kayak fitur. Update OS-nya ini banyak nanya kemarin sampai 7 tahun dia punya fitur display out yang beda dari yang lain juga nih ya. Dan walaupun dia tipis dan ringat tapi performanya bisa kencang dan adem. Ada privilege pick up and return service se Jaboretabek. Dan harganya [berdehem] nah penting nih. Sangat menarik untuk apa yang ditawarkan. Enggak percaya? Simak review kita kali ini. Ya, Motorola Signature ini adalah sebuah lini baru dari Motorola ya. Dulu flagship-nya Motorola tuh ada di Edge series. Bahkan ada yang namanya Edge Ultra, tapi itu enggak hadir resmi ke Indonesia, ya. Nah, signature ini diposisikan di atasnya Edge dan menurut Motorolla ini adalah ultra premium flagship. Fokusnya ke desain, kemewahan, dan pengalaman pakai yang premium. Apa iya? Kita akan bahas mulai dari paket penjualannya. Di dalamnya tentunya ada unit smartphone-nya, lalu ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 90 wat. Lalu ada kabel USB type C, ada case, ada SIM tray ejector dan paket dokumen. Untuk screen protektor bawaan enggak ada di sini ya. Jadi kita harus cari sendiri kalau memang dibutuhkan. Nah, untuk desain kami selalu mengapresiasi langkah Motorola untuk terlihat beda dari kompetitornya ya. Yang menonjol menurut kami ada di back covernya. Ada tekstur yang terasa seperti bahan jeans ya kayaknya ya. Rasanya unik di tangan. Jarang ada smartphone selain moto yang punya back cover seperti ini. Frame dari metal. Nah, ini bikin kesan premium itu nambah ya di sini ya. Opsi warnanya itu ada panton Martini Olive yang jadi hero colornya. Ini pernah kita perlihatkan waktu di CS ya. Dan ada panton karbon seperti unit yang kami pakai ini. Adanya nama panton memang karena motor L ini bekerja sama dengan panton terkait pemilihan opsi warna ya. Selain desain yang unik yang membuat impresif adalah bodinya yang tipis dan ringan. Tingginya 162,1 mm, lebar 76,4 mm, dan tebalnya sekitar 7 mm. Nah, dipadukan dengan desain layar dan back cover yang kuat curved alias ada lengkungan di seluruh sisinya. Ini menambahkan kesan kalau bodinya ini jadi ekstra ekstra tipis. Bobotnya itu diklaim di 186 gr. Kalau kami timbang itu bobotnya ada kisaran 188 gr. Ya, enggak jauh beda lah nih ya. Yang jelas untuk ukuran layar sebesar ini dia jauh dari 200 gr yang rasanya berat itu ya. Nah, untuk dataan terhadap debu dan air, dia punya IP rating di IP68 dan IP69. Ini cukup tangguh ya, tapi bukan untuk diajak berenang atau snorkeling tentunya. Nah, di sisi kanan kita lihat ada tombol power, ada tombol volume up and down. Di atas ada mikrofon dan glis speaker stereo bagian atas di kiri ada AI key, sebuah tombol khusus untuk memanggil moto AI. Di sisi bawah ada SIM tray dual SIM tanpa micro SD. Lalu ada port USB 3 ya 3 ya, sekaligus display port 1.4 di sini. Artinya kecepatan transfernya emang kencang dan dia punya kemampuan display out ke monitor atau projecttor. Di sebelah port USB ada grill speaker bagian bawah. Untuk sebuah smartphone tipis, kualitas audionya tuh impresif ya menurut kami ya. Suaranya lantang, jernih, dan rapi walaupun mendengarkan musik yang ramai sekalipun. Di sisi depan ini adalah layar 6,8 inci. Resolusinya 2780 * 1264 piksel. Refresh rate-nya up to 165 Hz. Menariknya dia benar-benar bisa adaptif dari 1 Hz sampai 165 Hz. Nah, untuk brightness-nya Moto mengkclaim up to 6.200 nits untuk peak brightness ya. Saat kami uji kondisi indoor itu bisa dikisaran 380 nitz untuk simulasi outdoor ada di kisaran 1600 nitz. Ini udah cukup terang untuk standar flagship dengan full screen brightness. 6 nit itu hanya untuk pengujian khusus aja ya, bukan menggambarkan kondisi umum. Nah, untuk color gambutnya ada beberapa mode warna, ada natural, radiant dan ada vivit. natural diarahkan ke 100% SRGB. Ini cocok untuk editing konten. Radian ini diarahkan mendekati 100% di CP3. Ini lebih pas untuk nonton film dan main game mungkin ya. Nah, untuk vivit itu juga mendekati 100% di CP3 dengan perbedaan di gambut volume itu bisa nyampai 110% DC IP3. Secara kasat mata Vivit memang terasa lebih gonjreng aja warnanya. Nah, untuk beza layar ini terbilang tipis dan simetris di seluruh sisinya. Karena layarnya quad curve ini membuatnya sangat nyaman waktu dipakai untuk navigasi gesture. Swipe dari bawah maupun samping itu terasa natural. Oh ya, sebenarnya Motorola Signature ini support khusus dari Motorola ya. Kami udah pernah tes saat DCS. Sayangnya saat ini stylus tersebut belum masuk resmi ke Indonesia. Nah, di atas layarnya ada earpace ya untuk speaker dan untuk nelepon. Lalu ada kamera selfie 50 megapel. Sensornya itu Sony Lia 500 bukannya F2.0 ya. Ini adalah kamera autofokus berkaman videonya up to 4K 60 fps. Nah, kita beralih kei belakang. Ada LED flash dan 3 kamera belakang yang berada dalam satu modul. Kameranya sendiri terdiri dari kamera utama 50 megapel. Sensornya lagi-lagi Sony Lia 828. Ukurannya 1/1,28 inci, bukannya F1.6. Ini autofokus dan perekaman up to 8K 30 fps. Lalu ada kamera ultrawide lagi-lagi 50 megapel, field of view-nya 122 derajat ya. Jadi ini lebar banget. Ultra wide-nya nih ya. Ini bukannya 100 belasan derajat, ini 122 derajat bukannya F2.0. Autofokus juga loh. Lalu perekaman videonya up to 4K 60 fps. Dan ada kamera telefoto tiga kali optical zoom lagi-lagi 50 megapel. Sensornya lagi-lagi Sony Litian. Ini adalah Litia 600 bukannya F2.4 autofokus dan berkamera video up to 4K 60 fps. Optical image stabilizer tentunya ada dong. Ini kan kelas flagship ya. Nah, untuk fitur kamera ekstranya itu ada banyak ya, tapi mungkin yang bisa dibilang spesial di sini. Dia juga punya fitur stabilizer Horizon lock. Nah, nanti kita cobain lebih lanjut ya dalam pengujian kameranya. Untuk spek internalnya SOC-nya pakai Snapdragon 8 gen 5. Iya, ini yang kencang itu ya. Lalu RAM 12 GB LPD dan 5X dan storage-nya 256 GB UFS 4.1. Sayangnya nih untuk saat ini versi 512-nya tuh belum hadir resmi ke Indonesia. Nah, untuk baterai 5200 mAh silikon carbon charger 90 watt. Untuk sensor-sensor ya ini lengkap lah ya. Jaroskopnya juga ada di sini dan itu hardware. Dia juga punya SAR sensor untuk regulator sinyal dan ada sensor hub yang membuatnya bisa punya fitur gesture chop untuk nyalain flashlight dan gester twist untuk buka kamera. Ini fitur yang khas Motorola banget. fitur-fitur yang kalian harus hati-hati ya karena kalau kebiasaan pakai susah pindah ke HP lain. Untuk kamaran dia punya inisplay fingerprint dan ada face unlock. Untuk kektivitas tentunya 5G ya, 2G, 3G, 4G, 5G bisa semuanya. Sayangnya dia belum support eIM nih ya untuk versi yang masuk ke Indonesia masih harus mengadakan SIM fisik. Kalau kita cek spesifikasi di negara lain itu ada yang versi ESIM. Sayangnya di sini belum aja. Untuk Wii udah Wii 7 ya. Wii sharing juga tersedia. Bluetooth-nya versi 6. Bluetooth kodex-nya wah segudangnya SBC, AAC, LDAC, LHDC dan semua keluarga Qualcom Adx bisa di sini ya. USB OTG tentunya bisa. NFC ada display out via USBC bisa juga. Bahkan kamu bisa bilang bahwa ini adalah salah satu smartphone dengan fitur display out paling canggih yang bisa diperoleh saat ini. Nanti kita bahas sekalian dengan OS-nya ya. Nah, untuk OS-nya dia pakai Hello UI dengan basis Android 16. Update OS-nya ini banyak yang nanya dari kemarin ya, 7 tahun ini Android update-nya ya. dan dapat 7 tahun security update. Apa itu 2 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun, enggak ada apa-apanya. 7 tahun yang satu nih luar biasa panjang. Dari segi tampilan sekilas seperti vanila Android ya ini bentuknya ya atau Android polosan. Aplikasi bawaannya ada tapi sedikit sekali. Sebagian ada yang bisa diuninstal, sebagian ada yang enggak bisa. Setidaknya sejauh ini UI-nya bersih sekali dari iklan. Tapi menariknya ini kalau kita bedah ya di dalamnya tuh banyak fiturnya. Fitur yang paling unik ada di kemampuan display out-nya nih ya. Nah, ini harus diperhatikan ya. Karena smartphone yang punya display out itu banyak yang cuman bisa mirroring. Nah, yang ini bukan cuma mirroring ya. Saat dihubungkan ke layar eksternal, kita akan masuk ke menu yang namanya Experience Hub. Nah, di situ bisa pilih mode mobile desktop, TV, video chat atau game. Jadi, layar eksternal ini bisa menampilkan konten yang berbeda dari smartphone. Di mode ini by default di sisi smartphone akan masuk ke mode navigasi, bisa jadi trackpad dan juga bisa mode remote. Yang unik, dia bisa menjadikan smartphone sebagai air mouse. Apa itu air mouse? Jadi, kursor mouse ini bergerak mengikuti gerakan smartphone kita. Untuk scrolling tinggal pakai gesture swipe aja. Tapi dari pengalaman kami ini agak kurang pas ya untuk navigasi ya. ini lebih berguna sebagai pointer saat lagi meeting. Oke, sekarang kita bahas detail fitur display out-nya. Pertama, kita mau kasih lihat mode mobile desktop. Dengan fitur ini, layar kedua kita bisa menampilkan UI yang mirip seperti Windows ya, seperti desktop gitu ya. Setiap app yang kita buka akan terbuka dalam bentuk floating window. Di bagian bawah juga akan ada tas bar dengan fungsi ala-ala Windows juga. Bisa jadi shortcut aplikasi, menampilkan ikcon pengaturan internet, notifikasi, indikator baterai, dan lain-lain. Kalau mau desktopnya ganti wallpaper juga bisa. Tinggal pilih icon di samping WiFi ini yang namanya desktop settings. Jumlah aplikasi yang bisa dibuka bersamaan itu juga sangat banyak ya. Kita sudah nyoba lebih dari 10 app dibuka bersamaan, semuanya masih bisa terbuka. Luar biasa diajak komunitas gila-gilaan. Sanggup nih enggak cuman empat doang ya, bisa banyak kalau di sini. Sekarang kita coba pindah ke mode berikutnya yaitu TV. Pada dasarnya mode ini akan menyaring aplikasi streaming yang ada, misalnya YouTube, Google TV, Vision Plus dan lain-lain. Jadi layar kedua ini akan didedikasikan untuk menampilkan video saja. Kemudian ada lagi mode video chat. Ini lebih untuk aplikasi seperti Zoom atau Google Meet. Layar kedua ini akan didedikasikan untuk menampilkan grup meeting supaya tampilannya lebih jelas dan tanpa perlu nginstal app tambahan. Kita bisa jadikan smartphone ini sebagai webcam. Tapi saat kami coba fitur ini, sepertinya masih ada sedikit bug ya, di mana tampilan video call dari kamera kita enggak muncul saat meeting. Padahal sebelum masuk ruang meetingnya itu bisa muncul di preview kameranya. Ya, semoga ini cuma bug kecil aja yang bisa segera diperbaiki oleh moto. Update-nya kan dapat kali ya, 7 tahun pula ya. Nah, untuk mode game kita bisa mendapatkan game-game yang terinstal dan layar kedua akan didedikasikan untuk menampilkan game. Tinggal hubungkan HP dengan Bluetooth controller. Kita bisa jadi main game di layar yang lebih besar. Kita juga sempat iseng jalankan Honkai Starrail di HP dan jalankan Gensin Impact di layar kedua dan dua-duanya bisa aktif bersamaan. Pengguna normal sih mungkin bingung ya ngapain main dua game sekaligus kayak begini. Tapi buat Jogi game sepertinya ini berita yang menyenangkan ya. Nah enggak selesai sampai di situ aja ya. Kita bahkan punya kendali lebih yang jarang bisa dilakukan di smartphone lain. Contohnya kita bisa mengatur resolusi layar eksternal kita. Ini spesial nih ya. Jarang banget ada kayak gini. Kita bisa mengatur saat dicolak monitor eksternal seperti ini mau langsung menampilkan mode apa. Bisa pilih antara experience hub, Mirror Display, mobile desktop, atau kita bisa mengikuti yang terakhir dipakai ya. Lalu kita juga bisa mengatur agar aspek rasio layar kedua disesuaikan secara otomatis. Hal-hal kecil terkait produktivitas yang sangat dipikirkan oleh Motorola di sini masih jarang loh kita nemuin yang seniat ini ya. Nah, oke kita lanjut ke fitur AI. Ini ada beberapa di sini ya. Bisa kita lihat di menu Moto AI. Sejauh ini fitur EA-nya masih mirip seperti yang ada di Edge Series kemarin. Kami belum nemu fitur AI yang eksklusif yang hanya ada di signature ini. Untuk garwaan motor menggunakan Google Photos. Jangan protes dulu, ya. [tertawa] Jadi untuk yang cari-cari fitur editing AI itu adanya di sini. Nah, sejauh yang kami uji fitur seperti AI Eraser itu bekerja dengan sangat baik. Di sini bisa dilihat ya hasilnya rapi banget ya. Perlu diingat walaupun semua Android bisa nginstal Google Photos, tapi kemampuan fitur AI ini bisa beda-beda di semua smartphone. Di Motorola ini termasuk yang rapi banget editan AI-nya nih ya. Kalau ada yang butuh transkrip, nah kita bisa pakai aplikasi recorder suara bawaan. Sudah ada fitur deteksi bahasa otomatis. Misalnya kita pakai bahasa Indonesia nanti AI-nya akan bisa mengenali dan dari rekaman suara yang kita buat akan ada versi teksnya juga. Overall kami suka banget sih dengan pengalaman software di Motor Signature ini. Tampil seakan-akan polos dari luar, tapi kalau dilihat dalamannya, wah ini kayak fitur ya. Oke, kita lanjut lagi untuk benchmark sekarang ya. Antutu 10-nya kita dapat 2,3 jutaan. Lalu untuk AnTutu 11 kita dapat Rp3 jutaan ya. Nah, untuk Geigbench 6 single core 2.923 multiore di 9.573. Oh, ini tinggi sih ya, sudah hampir Rp10.000 ya. Lalu untuk trimax sling swat ekstreme grafic skornya ada di 35.01. Lanjut untuk 3 trimax white life stress test ya. Best score di 20.920, lowest score di 14.043. Stability-nya di 67,1%. Nah, kalau kita pakai kipas bas score di 20.902 dengan lowest score di 18.192. Stability-nya naik ke 86,8%. Skor benchmarknya memang kelas flagship ya. tipis-tipis gini performanya kelas monster ternyata ya. Lanjut untuk gaming saway server. Game ini bisa jalan di ei bukan 60 bukan 120 bukan 144 165 fps langsung langsung ngikutin refresh rate layarnya aja. Tapi memang ada syaratnya ya. Kita harus atur refresh rate-nya ke 165 Hz lewat overlay game tools yang satu ini. Saat yang dibuat memang caranya harus seperti ini. Kalau cuma lewat menu setting dari layar itu masih belum bisa ya. Walaupun ada triknya ya, tapi masih belum banyak loh yang bisa kayak begini ya. Kebanyakan tuh masih nyangkut di 120 fps aja. Udah syukur-syukur enggak nyangkut di 60 fps aja. Lanjut Mobile Legends 120 fps lancar tanpa penurunan performa. Walaupun tipis nih performanya sadis ya. Mobile Legends masih terasa enteng banget. PUBG Mobile sayangnya di game ini setting frame rate-nya masih mentok di ekstrem artinya masih nyangkut di 60 fps. Belum kebuka tuh 90 sama 120 fps-nya. Ini belum terjadi ya. SOC yang tergolong baru ya biasanya dari developernya belum buka aja steing update harusnya sih entar kebuka juga untuk saat ini. Kalau cuma 60 FPS sih keentenganlah untuk HP yang satu ini. Lanjut Gensin Impact ya dengan setting high 60 frame rate-nya itu rata di 60 fps enggak turun-turun. Yang bikin kami kaget itu suhunya itu apa 40 enggak 35 derajat celcius di bagian layar 35 dan body belakangnya terpanas di 39 derajat celcius. Dengan bodies tipis ini bisa dapat performa suhu seperti ini. Itu pencapaian yang luar biasa banget. Untuk ranking Gensin Impact itu langsung otomatis S plus enggak pakai kipas enggak perlu lah ya ngeras pakai kipas lagi. Kita langsung aja ke watering wave dengan setting high quality frame rate-nya itu fluktuatif dikesaran 55 sampai 60 fps. Overall ini terkurang lancar ya. Enggak ada masalah selama setengah jam pengujian ini. Enggak kelihatan ada penuran performa yang berarti. Suhu memang tergolong agak panas karena bebannya memang seperti biasa ini lebih tinggi ketimbang Gensin ya. Lalu layar ini terpanas di 44 derajat celcius dan body di belakang terpanas di 43 derajat Celcius. Untuk watering wave ini tergolong ada di level aman. Tapi kalau khawatir suhunya berlebih, saran kami ya seperti biasa pakai kipas pendingin. Yang jelas ini adalah hasil tes gaming yang impresif untuk sebuah smartphone yang tipis, ringan, dan bahkan tidak dirancang benar-benar buat gaming loh sebetulnya yang satu ini ya. Ternyata performanya mantap banget dan fitur-fitur gamingnya itu lumayan membantu. Frame rate monitoring ada, blok notifikasi ada, matiin auto bratisnya spesifik start di game itu ada, pengaturan refresh rate per game itu juga ada dan jangan lupa fitur display out yang tadi ya, kita bahkan bisa jalankan beberapa game secara bersamaan. Ini fitur-fitur yang terkesan sepele ya, tapi sebenarnya esensial dan jaranglah ada smartphone lain yang punya. Oke, sebelum saya kebablasan ngebahas ini terlalu jauh lagi ya, [tertawa] kita lanjut aja deh sekarang ke pengujian kameranya. Tangan saya kali ini sudah ada Motorola Signature. Langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Seperti biasa yang kita mau cek pertama kali adalah suara mikrofon bawaannya. Yang kalian dengar sekarang ini suara langsung dari mikrofon smartphone-nya ya. Kita enggak pakai mikrofon eksternal di sini. Untuk kebutuhan sehari-hari atau vlogging hasilnya kurang lebih seperti ini. Ngomongin kualitas mikrofon itu subjektif banget ya, Teman-teman. tergantung selera dan tergantung kalian dengarnya dari speaker apa juga. Tapi kalau menurut saya pribadi, kualitas mikrofonnya ini udah bagus banget. Jadi kualitas suara saya tuh terdengar sangat jernih. Meskipun kalau diperhatikan noise sekitar masih agak masuk sih, cuman buat saya sih enggak terlalu masalah. Yang penting kalau kita vlogging suara kitanya itu jelas tentunya. Kalau kita mau bikin video yang lebih serius, terutama dari sisi suaranya, kita tetap rekomendasiin pakai mikrofon. Nah, menariknya di Motorola Cacher ini kita bisa pakai mikrofon eksternal dan suaranya bisa masuk dengan baik. Ditambah lagi kalau kita cek menu kameranya ada indikator mikrofonnya, Teman-teman. Jadi, kita tahu nih kalau sumber mikrofonnya itu dari mana. Karena di beberapa smartphone masih ada loh yang pakai mikrofon exal enggak bisa masuk suaranya. Kalau ini ada indikatornya jadi jelas. Meskipun saat kita cek enggak tahu kenapa ya indikatornya kok logonya logo TWS ya. Tapi yang jelas suara mikrofon SNL bisa masuk dengan baik ya tentunya. Kenapa kita perlu pakai mikrofon? Jadi kalau misalnya jarak kita dengan smartphonenya terlalu jauh misalnya seperti ini nih kita coba zoom out suaranya tetap bisa masuk dengan jernih. Kalau misalnya kita pakai mikrofon sparphone bawahnya kan kalau jaraknya segini terlalu jauh ya. Sekarang kita lanjut ke kamera selfie atau kamera depannya. Dari segi kualitas gambar di kondisi cahaya ideal sih hasilnya mantap ya. Detailnya tinggi, ketajamannya juga pas. Kamera selfien-nya ini juga sudah support 4K 60 fps dan kualitasnya juga konsisten bagus. Dari segi dynamic range kalau menurut kami ini belum tergolong oke ya. Area wajah bisa txpos dengan baik tapi area terangnya terlihat off expos di sini baik di 4K 30 fps maupun 4K 60 fps. Hasilnya mirip-mirip aja. Dari segi stabilizer di kamera selfie ini udah cukup bagus ya. Di bawah jalan seperti ini videonya rapi dan stabil. Kita coba di 4K 60 fps juga mirip hasilnya konsisten dan-nya bekerja dengan baik juga di sini. Nice. Sekarang kita pindah ke kamera utamanya. Untuk detailnya sih luar biasa ya. Boke naturalnya juga mantap. Karakter gambar cenderung oversharpen di sini dan over contras juga. Bayangan area wajah dibuat rasa lebih pekat dari aslinya. Dari segi warna menurut kami ini bukannya natural sih hitungannya ya. Skin tone cenderung agak kecoklatan. Ini tergantung selera sih sebetulnya. Tapi kalau memang semua kameranya dituning seperti ini, artinya ini adalah tuning warna yang sengaja dirancang oleh Motorola untuk kita. Kita juga cobain di 4K 60 fps dan kami enggak ngenemuin perbedaan signifikan sih. Di kondisi terang, detail, dan ketajamannya terlihat tidak menurun. Untuk dynamic range kamera utamanya ini tergolong oke ya. Sisi gelap terang dapat diekspos dengan baik. Di 4K 60 fps juga tidak banyak perubahan. Hasilnya mirip-mirip aja. Mantap nih. Sayangnya kami menemukan kalau di 8K 30 fps dynamic range-nya jadi kurang oke nih. Area terangnya jadi over expose. Jadi kalau lagi di pencahayaan yang sulit saran kami mainnya di resolusi di bawah 8K aja. 4K itu aman. Berikutnya stabilizer. Kalau di 4K 30 fps kita cobain videonya stabil dan overall gambarnya sudah tergolong rapi. Mantaplah stabilizernya. Kita juga coba di 4K 60 fps dan stabilizernya bisa bekerja dengan baik. Hebatnya lagi di 8K30 fps stabilizernya tetap bisa bekerja dengan baik. Sip lah ini. Sekarang kita pindah ke kamera ultrawide-nya. Untuk kamera ultrawide-nya hasilnya seperti ini ya. Kualitasnya termasuk lumayan oke, tapi ekspektasinya tetap perlu disesuaikan. Jangan dibandingkan dengan kamera utamanya ya, karena sensornya memang beda kelas. Menariknya ultrawide-nya juga bisa merekam 4K 60 fps ya. Dan kualitasnya juga lumayan oke di sini ya. Ini udah standar industri lah ya. Kalau flagship tuh minimal ultrawide-nya juga bisa 4K60. Enggak cuman kamera utamanya doang. Nah, terkait tuning gambarnya sendiri di kamera ultrawide-nya ini masih mirip ya seperti kamera utamanya tadi. Karakter gambarnya tuh agak oversharpen dan over contras. Kalau kita lihat di contoh yang ini, wajah Isan juga terlihat agak over expos ya. Berikutnya kita uji dari micrange-nya. Hasilnya udah oke nih untuk area terangnya bisa diekspos dengan baik. Tapi area gelapnya menurut kami agak kurang keangkat nih. Ini kami uji dengan point and shoot aja ya. Tentunya kalau butuh lebih terang tinggal tap ke objek utamanya aja. Kita juga udah cobain di 4K 60 fps. Hasilnya tetap mirip. Jadi frame rate tidak terlalu mempengaruhi kualitas gambar di sini. Berikutnya, kamera telefoto. Tiga kali optical zoom-nya. Setelah diskusi dengan tim, kami sepakat nih kalau karakter gambarnya sama, over contras dan over sharpen juga. Muka Robin aslinya enggak sedekil ini kok. Ini efek dari tuning gambarnya yang over kontras. Baik di 4K 30 fps maupun di 4K 60 fps. Hasilnya mirip-mirip aja. Kami sudah tes di berbagai lokasi yang berbeda dan karakter gambarnya tetap sama ya. Over sharpen ini bikin gambar terlihat agak kasar dan perlu diingat kalau tajam itu tidak sama dengan detail. Harapan saya sih semoga moto bisa lebih tone down tuning, sharpening dan kontrasnya. Ini dari segi dynamic range untuk kamera teleya nih udah lumayan oke ya. Area gelap bisa terekspos dengan baik. Untuk area terang masih ada beberapa bagian yang agak over expos tapi sedikit aja. Kita juga cobain di 4K 60 fps dan dynamic race-nya mirip-mirip aja. Jadi meskipun beda frame rate kualitasnya mirip lah. Next kita cobain stabilizernya. Kalau untuk kamera tele wajar ya kalau masih ada jatiter-jiternya sedikit nih. Tapi menurut kami ini masih oke kok hitungannya. Kamera tele itu memang lebih sulit untuk distabilkan. Kita tidak bisa bandingkan stabilizernya dengan kamera utama atau ultrawide-nya. Setidaknya IIS-nya bisa nyala semua di berbagai resolusi dan frame rate. 4K 60 FPS Tele juga masih aman nih. Berikutnya kita bahas pengalaman multi kameranya. Dari segi transisi antar kamera, menurut kami ini sudah cukup mulus. Meskipun memang bukan yang paling mulus yang pernah kami coba. Harusnya moto bisa ditingkatkan lagi nih animasinya. Kita bisa pindah kamera langsung saat merekam video di 4K 60 fps antara kamera ultrawide, kamera utama sampai kamera telenya. Tapi untuk kamera selfie belum bisa di sini. Kita juga tes saat pindah kamera seperti ini, apakah rekaman suara kita akan putus atau lancar-lancar aja. Apakah saat pindah-pindah kamera audionya kepotong atau enggak, saya akan sambil berhitung dari 1 sampai 20. Dan apabila ada angka yang kekip berarti bagian itu kepotong ya. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24. Nah, dari segi konsistensi warna antar kamera menurut kami sudah lumayan oke sih. Tentunya sangat sulit ya membuat warna antar kamera mirip karena sensor yang dipakai juga beda-beda. Paling tidak di sini pergeseran warnanya itu tidak terlalu jauh. Sekarang kita masuk ke kondisi low light. Kamera selfie-nya masih tergolong bagus nih. Gambarnya cukup terang dan bersih dari noise juga. Detail juga masih bisa terjaga dengan baik. Tapi kami menemukan ada sedikit artefak nih ketika kita lagi bergerak seperti ini. Kami menguji dengan auto FPS dimatikan ya. Dan hebatnya meskipun auto FPS dimatikan, gambarnya masih tetap oke kok di sini. Dan frame rate-nya stabil di 30 fps. Kita juga coba di 4K 60 fps. Gambarnya jadi sedikit lebih gelap ya di sini. Tapi masih sangat bisa dipakailah hitungannya. Di sini gambar gak terlihat ada artefak, lebih rapi. Tapi memang noise jadi lebih bermunculan nih. Enggak sebersih di 30 fps. Detailnya masih bisa terjaga dengan baik loh di 60 fps ini. Dari segi stabilizer udah lumayan oke. Jaternya kalau diperhatikan ada sih, tapi masih di level yang wajar menurut kami. Kalau mau lebih rapi tinggal pakai mode 60 fps aja. Meskipun ada sedikit catatan nih entah kenapa di mode 60 fps lampu taman kami jadi terlihat flicker. Biasanya di smartphone lain masih aman 60 fps. Entah kenapa di sini flicker. Beralih ke kamera utama, videonya tergolong bersih dari noise. Detailnya juga masih bisa dipertahankan dengan sangat baik. Menariknya, meski kita stel ke 4K 60 fps, videonya masih cukup terang loh. Kualitas sensor sangat menentukan kalau di situasi seperti ini. L 828, cuy. Cuma ya flickernya aja nih. Semoga bisa diperbaiki lewat software update. Kita juga iseng coba di 8K 30 fps dan kualitas gambarnya konsisten bagus. Soalnya kita pernah nemu nih di HP flagship lain. Pas di 8K spik di low light, kualitas gambarnya malah menurun. Kalau di sini aman. Dari segi stabilizer untuk kamera utamanya bisa bekerja dengan sangat baik. Jaternya nyaris enggak kelihatan. Salut nih. Ini adalah salah satu smartphone yang stabilizernya rapi di low light. Biasanya di smartphone lain butuh 60 fps untuk lebih rapi. Ini 30 fps-nya aja udah bagus. Kita juga coba di 4K 60 fps dan juga sama rapinya di bawah jalan tuh aman. Gambarnya juga masih terang kan. di 8K 30 FPS juga hasilnya aman-aman aja. Menurut kami ini udah tergolong rapi juga kok. Aman untuk dibawa vlogging di kondisi low light. Nah, masuk ke kamera ultra whiteide. Hasilnya seperti ini. Langsung terasa jomplang ya setelah lihat kamera utamanya yang luar biasa. Gambarnya memang lebih gelap dan saat bergerak seperti ini ada artefak di gambarnya yang membuat gambarnya tuh terlihat agak pecah. Tapi kalau kameranya kita diamin itu enggak ada masalah kok. Dari sisi baiknya videonya ini tergolong bersih dari noise. Detail juga masih bisa terjaga dengan baik. Kameranya itu enggak maksa terang. Oh, ini tempat kita syuting memang gelap banget sebetulnya. Di ultrawide 4K 60 FPS gambarnya sudah terlalu gelap ya. Jadi kalau butuh ultra white di kondisi seperti ini rekam di 30 FPS aja. Dari segi stabilizer sayangnya belum serapi kamera utamanya ya. Jiternya masih cukup terlihat saat di bawah jalan seperti ini. Saat kita coba di 4K 60 fps memang bisa lebih rapi videonya, tapi gambar sudah terlalu gelap. Pintar-pintar atur pencahayaan aja kalau memang mau vlogging pakai kamera ultrawide. Berikutnya kita cek kamera telefotonya. Untuk video kamera telennya tergolong masih oke nih untuk low light. Gambar masih cukup terang, detail masih bisa dipertahankan dan noise-nya juga tergolong minim di sini. Untuk mode 60 fps gambarnya sudah terlalu gelap sih. Masih bisa kita maklumi karena ini bukan sensor tele kelas tertinggi seperti is HP9 dan kawan-kawannya. Ini beda ya. 4K30 detailnya tadi aja. Ini udah cukup bagus kok sebetulnya. Untuk autofokus mari kita tes satu persatu ya. Karena semua kamera di sini itu autofokus. Kita mulai dari kamera utamanya. Autofokusnya aman, mulus, lancar, dan transisi fokusnya kami suka nih karena tergolong smooth. Tapi lagi-lagi entah kenapa nih flicker kalau kena lampu. Kalau enggak mau flicker, solusi sementara pakai 30 FPS aja. Kami sudah coba dan aman di sini. Berikutnya kamera ultrawide. Autofokus di kamera ultrawide-nya aman. Ternyata autofokusnya lancar dan cepat juga enggak ada masalah. Jadi kita lanjut aja ke kamera t-nya. Untuk kamera tele-nya autofokusnya ini ternyata super dekat ya. Asik nih untuk bikin konten makro. Tapi sayangnya kami menemukan autofokusnya agak kurang responsif. bahkan bisa nyangkut autofokusnya. Kami sudah coba di 4K 30 FPS juga dan hasilnya sama aja nih. Autofokusnya kurang responsif. Semoga bisa diperbaiki lewat software update ya. Sekarang kita tes kamera selfie-nya. Asik nih selfie-nya udah autofokus saat kami coba di 4K 60 fps. Sayangnya agak kurang responsif ya. Bahkan bisa nyangkut juga. Kabar baiknya saat kita coba di 30 fps autofokusnya jalan lancar enggak ada masalah. Sekarang kita bahas fotografinya. Nah, kalau untuk foto sudah bagus bangetlah. Semua kameranya sangat bisa diandalkan. Mau kondisi terang maupun low light. Hasil fotonya bagus, pakai banget. Nah, yang agak unik kalau kalian lihat watermark-nya ini warna-warni. Ini bukan karena kami atur manual ya. Warna watermarknya ini bisa mengikuti warna objek yang lagi difoto. Kalau dari segi kualitas gambarnya sih overall kami enggak ada protes lah. Yang perlu diperbaiki cuman mode portrait-nya aja. Entah kenapa di mode portrait tidak ada opsi untuk mengatur aspek rasio. Hanya bisa di mode auto aja. Misalnya kita mau 9 bing 16 gitu. itu hanya bisa di mode auto. Padahal di Motorola H60 Pro kami cek bisa kok portrait mode aspek rasionya diatur. Itu aja sih paling sisanya kami puas kok sama hasil fotonya. Sekarang kita masuk ke fitur ekstra. Ada banyak nih, tapi kita coba beberapa aja yang menurut kami menarik. Pertama ada slow motion. Di sini kita bisa merekam 4K 120 fps. Hasilnya mantap ya. Kalau butuh lebih lambat, kita tinggal pilih opsi 1080p 240 fps. Hasilnya juga masih bagus di sini. Untuk saat ini slow motion-nya baru bisa di kamera utamanya aja. kamera ultra wide dan telenya sayangnya belum bisa. Berikutnya kita cobain promote. Untuk ISO dan shutter speed bisa kalian lihat aja di layar. Kita bisa pakai ketiga kamera belakang, bahkan kamera selfie-nya juga bisa. Sayangnya nih, ini cuman untuk foto, untuk video belum bisa. Kita masih perlu menginstal aplikasi pihak ketiga kalau mau manual video. Berikutnya yang kita cobain ada fitur horizon lock. Ya, kalian enggak salah dengar, Moto juga punya nih. Hasilnya sendiri sudah sangat bagus. Cara kerjanya itu dia pakai kamera ultra wide yang dizoom mendekati jarak zoom satu kali. Jadi ini bukan pakai kamera utamanya. Hasilnya sendiri udah impresif. Mau diputar-putar kayak begini horizon-nya tetap ngunci. Cuman memang ada catatannya ya, horizon lock ini kurang pas untuk kondisi low light karena dia pakai kamera ultrawide yang dizoom lebih jauh. Lalu saat video ini dibuat, horizon lock ini belum bisa kita pakai untuk kamera utamanya. Padahal mungkin kalau bisa pakai kamera utamanya akan lebih mantap lagi ya. Berikutnya ada fitur dual capture. Ini fitur di mana kita bisa merekam video dari kamera belakang dan kamera depan sekaligus kita juga bisa mengatur nih kamera belakangnya mau yang mana. Mau ultrawide, mau kamera utama, mau telennya bisa. Dengan syarat kita harus mengaturnya sebelum merekam. Setelah merekam, kita tidak bisa pindah ke kamera lain untuk kamera belakangnya. Tapi menariknya kamera selfie-nya ini bisa kita pindah-pindahin langsung saat merekam seperti ini ya. Oke, tentunya tidak ada kamera smartphone yang sempurna ya. Kameranya ini masih butuh perbaikan di beberapa bagian. Yang pertama itu video ultra wide di e-condisi low light. Menurut kami ini masih belum kelas flagship nih. Lalu pengalaman multik kameranya belum yang smoot-sot banget. Lalu autofokus kamera selfie dan telen-nya itu kurang responsif. Bahkan bisa nyangkut fokusnya. Lalu belum ada fitur pro video di sini. Entah kenapa portrait mode-nya belum ada aspek rasio 9 b 16. Horizon lock-nya hanya bisa pakai kamera ultrawide, belum bisa pakai kamera utama. Lalu dynamic rage video belum maksimal untuk beberapa situasi terutama selfie-nya. Dan kami berharap tuning gambar untuk video di kamera utama. kamera ultrawide dan telinnya itu masih bisa diperbaiki lagi dari segi kontras dan ketajamannya. Dari segi kelebihan kameranya, kualitas fotonya sih ini tergolong memuaskan di berbagai situasi. Low light juga bukan masalah. Kemudian kamera utamanya itu memang mantap banget ya. Lytuy ini biasanya baru kita temukan di kelas R5 juta ke atas. Lalu, stabilizer videonya bisa aktif sampai 8K dan rapi juga videonya. Telefotonya punya jarak fokus yang dekat. Kemudian semua kamera autofokus ada horizon lock dan punya indikator mikrofon eksternal. Dari segi kesimpulan menurut kami videografi masih ada PR, autofokus masih ada PR, software experience juga masih ada PR, fotografinya memuaskan, fitur mikrofon yang esensial juga sudah ada, fitur ekstra banyak juga di sini. Nah, dengan harga yang ditawarkan ini sudah layak kok bersaing di kelas flagship. Fitur autofokus di semua kamera masih belum semua flagship punya loh. Terutama flagship flagship yang varian dasarnya. Kemudian L828 di kelas harga segini gokil sih menurut saya. Stabilizernya juga lengkap apalagi kamera utama pas low light itu mantap. Pemilihan hardware kameranya sudah bagus menurut kami, tapi software experience itu juga gak kalah penting ya. Kami tunggu ya Moto update-update untuk perbaikan kameranya. Sekian penghujian kameranya Motorola Signature. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, kita masih dalam pengujian baterainya sekarang. Ini baterainya 5.200 mAh. Ini banyak yang komplain ya cuma R.000. Tapi ingat ini tipis dan ringan. Tujuannya kan untuk bikin si smartphone ini tipis dan ringan ya. Oke, YouTube offline video playback 1080p. Ingat baterai 5200 mAh ya, bisa bertahan 29 jam 21 menit. Uh, ini sih awet banget untuk baterai di 5.000-an mAh bahkan di bawah 5.500 ya. Untuk streaming YouTube 1080p30 non HDR dalam 1 jam baterai berkurang hanya 5% saja. Mainan TikTok 1 jam ya, swipe-swipe 1 jam itu baterai hanya berkurang 6% saja. Gensin Impact HS 60 fps ya dengan performa yang luar biasa tinggi tadi setengah jam baterai turun 11% aja. Kemampuan baterainya bisa dibilang ini luar biasa untuk kapasitasnya yang mungkin pakai tanda kutip ya sekecil ini ya. Ini enggak kecil sih sebetulnya ya. Ini bersaing dengan yang baterainya 6000 mAh ke atas loh. Jadi jangan cuma lihat ukuran mAh-nya doang. Lihat apa yang bisa dilakukan dalam kesehariannya. Ini luar biasa. Oke, sekarang kita lihat chargingnya. Ini kita pakai charger bawaan yang 90 watt. Untuk mencapai 50% kita butuh waktu 15 menit. Dari kosong sampai penuh butuh waktu 41 menit saja. Kalau mau dihitung di 30 menit pertama ya baterainya udah terisi di 86% hanya setengah jam. Ini luar biasa kencang. Oke, lanjut lagi. Untuk Netflix ada white fan L1 dan bisa streaming Full HD, support everyone tapi untuk HDR atau Dolby Vision sayangnya belum ada di sini. Untuk YouTube streamingnya bisa sampai 4K 60 dan sudah HDR kalau ini ya. Untuk HT feedback ini udah standar flagship, standar kelas atas. Hapt-nya empuk, presisi, dipakai ngetik cepat juga nyaman banget. Nah, untuk harga Motorola Signature ini bisa dibeli di e-commerce dan retail stores dengan harga spesial. Harga resminya ada di Rp12.999.000. Ya, kalian yang bilang harganya bisa Rp1 juta? Enggak, ini 12,999 dan dalam masa promosinya ini jadi Rp11.990. Rp999.000. Lalu ada lagi partner benefit hingga Rp2 juta dari XL, Vision Plus, Mr. Aladin di MS Plus dan Motion Pay. Lalu ada juga privilege pick up and return service se Jabo Detabek. Jadi di wilayah Jabo Detabek kalau ada masalah dengan smartphone ini kita enggak perlu ke service center. Staff mereka yang akan jemput HP-nya dan kalau sudah selesai juga akan diantar balik ke rumah. Luar biasa bukan? Oke kita masuk masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, case bawaannya. Ini terasa agak kurang protektif ya di si layar dan kamera juga agak kurang terlindungi di sini. [mendengus] Dan case ini juga adalah fingerprint magnet menurut saya ya. Kemudian screen protektor bawaan ini enggak dikasih ya. Ya kan tinggal beli asor third start party aja Bang. Itu adalah masalah berikutnya. Sejauh ini case yang ada di pasaran Indonesia itu belum banyak opsi untuk HP-HP-nya Motorola. Dari smartphone R jutaan sampai 6 jutaan kemarin kami agak kesulitan mencari case dan screen protektor yang oke ya. Bukannya enggak ada sama sekali, tapi pilihannya aja yang kurang ramai ya. Dan kemudian ini pasti banyak yang protes, ya. Banyak protes karena sebetulnya banyak yang suka. Tapi sayangnya di sini tidak ada storage 512-nya untuk versi resmi Indonesia setidaknya untuk saat ini. Jadi kalau kalian suka banget sama yang satu ini, pastikan aja 256 MB itu cukup untuk kalian. Kemudian di sini juga enggak ada ISIM ya. Ini agak disayangkan karena flexif zaman sekarang tuh rata-rata udah pakai ISIM ya. Ya, biasanya untuk dibawa traveling dan mau nginstal ISIM tambahan gitu ya. Tapi sebetulnya untuk penggunaan sehari-hari sih isim tuh enggak ngaruh-ngaruh amat ya. Toh kita masih pakai SIM card juga yang fisik biasanya di sini. Kemudian untuk kemampuan kameranya masih butuh perbaikan di beberapa bagian. Nah, dari si kelebihannya baterainya tahan lama. Lagi-lagi jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa ya cuma 5.000 mAh gitu aja gitu. Jangan 5.200 mAh yang ada di sini yang membuat HP ini bisa jadi tipis ini ya. Bisa bersaing dengan HP-HP yang 6000 mAh ke atas ya. Lalu charging-nya ini sangat kencang. Kemampuan fotonya itu impresif untuk semua kameranya. Desainnya unik banget. Bodinya sangat tipis dan ringan ya untuk sebuah flagship. Performanya sangat-sangat kencang di sini. Syukurnya juga masih aman ya. Game berad lancar di sini. UI-nya bersih banget tapi kayak fitur. Update OS-nya panjang banget. Tujuh kali dapat update OS-nya dan dapat 7 tahun security update. Konektivitasnya udah modern di sini. Bahkan fitur display out-nya ini rasanya masih susah dilawan lah yang satu ini ya. Ya, pada akhirnya smartphone ini cocoknya untuk siapa sih? Ya rasanya dia akan cocok untuk siapapun yang butuh smartphone flagship anti mainstream saat ini. Terutama kalau mau dipakai buat kerja. Wah, ini cocok banget sih ya. Software dirancang sedemikian rupa untuk menunjang produktivitas sampai banyak detail-detail kecil yang dipikirkan ya sampai kami enggak berani bahas semuanya kepanjangan nanti videonya. Lalu kameranya ini juga punya kemampuan yang mumpuni, terutama di sisi fotografinya. Untuk semua kameranya ini rata kemampuan fotografinya. Kalau kalian cari smartphone flagship yang tipis, ringan, rasanya ini adalah opsi yang menarik saat ini dan harganya juga tergolong sangat menarik untuk persaingan antara smartphone flagship di tahun 2026. Back covernya itu rasa unik saat digenggam. Enggak banyak yang punya material backover seperti ini. Jadi, seperti aku bilang di awal ya, persaingan smartphone kelas flagship itu jadi makin seru. Motorola berhasil bersaing lewat desain dan fitur software-nya yang sangat jarang dimiliki oleh smartphone lain. Dipadukan dengan kemampuan yang serba bisa membuatnya menjadi salah satu opsi yang sangat-sangat layak untuk dipertimbangkan. Yeah.
