Jungkat

Snapdragon 7 Gen 4 Pertama di Indonesia, Kamera ZEISS, Telephoto, IP68 & IP69: Review vivo V60 (YouTube Video)

  • 28/08/2025

Vivo V series buat nonton festival emang bisa. Nah, ini dia Vivo V60. Sekarang udah pakai kamera 50 megapel Ziz Super telefoto kamera pertama nih di V series ya. Ini kamera yang sama seperti di Vivo X200. Jadi untuk keperluan foto atau video jarak jauh begini udah oke. Enggak cuma itu, desain bodinya keren. Tahan air dan debu. IP68 plus IP69 baterai naik jadi 6.500 1500 mAh Bluf Batery. SOC-nya Snapdragon 74 pertama di Indonesia dan segudang kelebihan lainnya yang bikin smartphone ini begitu menarik. Langsung aja kita bedah lebih dalam. Ini dia Vivo V60. Oke, Vivo V60. Buat yang belum tahu dalam 1 tahun Vivo V series itu dirilis dua kali ya tiap tahun tuh ya. Makanya mungkin akan banyak yang merasa perasaan kemarin baru list V50 kok sekarang udah ada V60 lagi. Enggak kerasa ya Vivo V50 udah sekitar 5 bulan yang lalu diluncurkannya tepatnya di bulan Maret 2025. Jadi wajar kalau sekitar 5 atau 6 bulan kemudian akan ada versi barunya. Kalau yang sudah subscribe kita pasti sudah paham ya. Kalau yang belum paham mungkin belum subscribe jadi tahu udah harus ngapain. Oke kita langsung mulai pasangan si VX60 ini dari paket penjualan terlebih dahulu. Di dalamnya tentunya ada unit smartphone dengan screen protektor yang sudah langsung terpasang. Kemudian ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini charger 90 watt flash charge. Kemudian tentunya ada kabel USB type C, ada case SIM trajector, serta paket dokumen. Jadi isi paket penjualannya terbilang cukup lengkap. Oke, dari segi body Vivo masih menggunakan rounded edge design. Perubahan paling signifikan yang bisa kita lihat adalah pada modul kameranya. Kali ini Vivo menggunakan desain yang lebih minimalis. Di versi kemarin ada ruang khusus hanya untuk naruh aura light-nya. Nah, di sini Aura LED dibuat lebih menyatu dengan body dan ukurannya dibuat lebih kecil. Susunan modu kameranya juga lebih terpisah. Beda dari VVT kemarin di mana kedua kameranya dimasukkan ke dalam satu ring. Overall menurut kami, kami lebih suka dengan desain yang V60 kali ini ya. Nah, kalau dari feel di genggaman itu masih mirip-mirip aja dari yang sebelumnya. Dimensin-nya juga enggak berubah banyak. Tinggi 163,5 mm, lebar 77 mm, dan tebalnya sekitar 7,5 mm. Sementara bobotnya ada di kisaran 200 gr. Ini bobot yang normal. Mingat di dalamnya sekarang ada kamera tele dan baterainya naik 500 mAh lagi dibandingkan pendahulunya. Untuk material frame ini menggunakan polikarbonat ya. Sementara buat di belakangnya ini pakai kaca. Opsi warna yang tersedia itu ada spotlight gry, dancing blue, dan festive purple. Nah, untuk ketahanan terhadap air dan debu, smartphone ini sudah punya rating di IP68 dan IP69. Angka 6 itu menunjukkan kalau debunya tidak akan masuk dalam perangkat, ya. Jadi, kedap debu. Delapan menunjukkan kalau smartphone ini aman kalau kecemplung air ya. Bukan dicemplungin terus-terusan ya. ada waktu dan kedalaman tertentu dan itu untuk air bersih. Sementara IP69 menunjukkan ketahanan terhadap semprotan air bertengaran tinggi dan suhunya ada di kisaran 80 derajat Celcius maksimum. Perlu diingat angka IP rating itu makin tinggi bukan jaminan pasti lebih bagus, beda di skenario pengujiannya aja. Oke, sekarang kita lihat di sisi kanan ya. Ada tombol power dan tombol volume up and down. Lalu di atas ada mikrofon dan ada infrared blaster di sini. Di kiri ini kosong polos ya. Di bawah ada sim tray dual sim. Mikrofon USBC grill speaker stereo bagian bawah. Ya, speakernya stereo ya dengan speaker satu lagi ada di bagian earpiece. Suaranya udah tergolong lantang, jernih, dan separasi suaranya juga udah lumayan oke nih. Untuk mendengarkan berbagai jenis lagu atau main game, speakernya udah tergolong oke ya. Minimal udah stereo lah ya di sini ya. Oke, beralih ke sisi depan. Ini adalah layar 6,77 inci resolusi 2.392 * 1080 piksel. Refresh rate-nya upus 120 Hz dan ini adaptif 60 sampai 120 Hz. Layernya menggunakan pelindung yang Vivo namakan sebagai Scott Sensation Core. Lalu kemudian dari segi brightness, kita uji sekarang ya untuk indoor dan simulasi outdoornya. Di kondisi indoor, brightness maksimumnya itu bisa mencapai 600 nits. Sementara untuk simulasi outdoor saat kami coba itu bisa dikisaran 1300 nitz. Ini udah sangat terang. Untuk kebutuhan outdoor pun enggak ada masalah ya. Terang banget sebetulnya. Vivo mengklaim berarti saya bisa nyampai 5.000 nit untuk local pick brightness. Nah, kalau yang satu ini biasanya hanya untuk skenario tertentu seperti konten HDR dan pengujiannya itu pakai kotak yang kecil putih gitu ya. Ini mungkin hanya untuk titik-titik tertentu yang warnanya terang banget. Nah, sementara kalau kami ngujinya tuh kondisi full screen brightness-nya. Nah, untuk color gamut Vivo menyediakan beberapa mode warna ada standar, profesional, dan bright. Sekarang kita lihat hasil tes color gamutnya, ya. Untuk mode profesional, gamut coverage dan volume-ya diarahkan mendekati 100% sRGB. Sementara untuk mode standar ini mendekati 100% DCIP3. Nah, kalau mau warna dan saturasinya lebih tinggi, ada juga mode bright yang memang buat warna layar terlihat lebih gonjreng lagi di sini. Untuk beza layar udah sangat tipis di seluruh sisinya dan udah cukup simetris di sini. Cris approve di sini ya. Lalu ada screen touch ID atau fingerprint scanner di layar ini. Nah, untuk fitur always on display tersedia tapi saynya belum yang benar-benar bisa nyala. Terus saat kita coba AOD-nya itu baru bisa nyala selama 5 detik aja. Kemudian di atas layar ada earpiece nih untuk speaker dan nelepon ya. Lalu ada juga di sini kamera depannya 50 megap ziz front camera f2.0 autofokus field of view-nya 92 derajat termasuk yang lebar ya. Cocok nih buat selfie rame-rame. Perekaman video up to 4K 30 fps atau 1080p 60 fps juga bisa. Sekarang kita beralih ke sisi belakangnya. Ini adalah kamera utamanya. 15 megapel Z OIS main camera. Sensornya udah pakai Sony IMX76 bukannya F1.9 9 dan tentunya udah autofokus dilengkapi dengan optical image stabilizer. Perekaman video juga up to 4K 30 fps dan 1080p 60 fps juga tersedia. Lalu ada 8 megapel Z ultra wide angle camera bukannya f2.2 2 fixed focus per kamaman video up to 1080p 30 fps. Sayang ya di sini Vivo memutuskan untuk downgrade kamera ultrawide-nya ini. Lalu ada kamera 50 megapel Ziz Super telefoto camera dilengkapi dengan optical image stabilizer. Perekaman video juga up to 4K 30 fps dan 1080p 60 fps juga tersedia. Adanya nama Zeiz di setiap kameranya seperti untuk menunjukkan kalau semua kamera ini e udah berkualitas tinggi sesuai dengan standar Zize. Tapi di sini tidak ada logo Zice T Star. Ya, itu baru ada untuk flagship-nya Vivo aja ya. Kerja sama dengan Ziz di sini lebih ke arah tuning untuk hasil foto dan filter-filter yang bisa menghasilkan foto sesuai dengan karakter lensa-lensa legendarisnya Ziz. Nah, untuk fitur aural light tetap ada di sini di mana kita bisa mengatur warna lampunya jadi putih, kekuningan, atau kemerahan bahkan ya. Nah, kalau dari segi ukuran memang ukurannya mengecil dibandingkan Vivo V50 yang kemarin. Fitur kamera juga ada banyak dan bisa dilihat aja nih di menu kameranya nih ya, banyak fiturnya. Vivo kan nih ya. Oke, kita lanjut ke spesifikasinya. Untuk SOC-nya, dia pakai Snapdragon 7 gen 4 dengan fabrikasi 4 nanm dan ini yang pertama kali hadir di sebuah smartphone di Indonesia. Untuk RAM 12 GB LPDDR 4X dengan fitur extender RAM hingga 12 GB lagi. Untuk storage, dia menggunakan 256 GB UFS 2.2. Ada juga varian lebih tinggi dengan storage 512 GB kalau kalian butuh penyimpanan yang lebih banyak. Perhatikan kebutan storage kalian karena di sini memang tidak ada slot micro SD ya. Oke, kalau bicara soal UFS 2.2 ini perlu diuruskan nih ya, kita udah lihat banyak sekali komentar yang ngawur sih sebetulnya beredar di sosial media. Apalagi ada yang sampai membandingkan dengan perangkat beda SOC atau beda chipset ya, scan testingnya kurang pasti bisa langsung menyimpulkan kalau UFS 2.2 itu tidak worth mendinggal ambil smartphone yang pakai UFS 3.1. Yang perlu diruskan di sini adalah ketika ada tes perbandingan buka aplikasi di HP A versus HP B. Kalau ternyata HP B lebih cepat, tahu dari mana kalau itu murni karena storage-nya lebih kencang. Kalau diukur dari aplikasi benchmark storage memang terlihat UFS 3.1 itu lebih kencang. Tapi yang tidak boleh dilupakan adalah penggunaan sehari-harinya seperti apa. Ini lemot enggak sebetulnya? Dalam satu proses menggunakan aplikasi yang bekerja itu tidak hanya storage loh, tapi merupakan kombinasi dari berbagai komponen lainnya. CPU ya, RAM juga, bahkan layar juga bisa ada pengaruhnya ya. UI wah bisa banget ada pengaruhnya. Pada akhirnya kalau penggunaan harinya lancar-lancar aja kenapa harus dipermasalahkan banget sih? Ya mau dia pakai yang lain juga kalau kencang sebetulnya kan enggak ada masalah sebetulnya ya. Ya, yang penting hasilnya seperti apa. Jadi kalau kalian lihat ada netizen yang terlalu ngeributin perkara UFS ini sebaiknya lebih kritis dalam menyikapinya ya. Kalau tidak nanti berpotensi jadi salah paham. Yang jelas UFS 2.1 saja sudah menjanjikan bahwa ee smartphone-nya tidak jadi lemot seiring dengan waktu dan udah kencang ya. 2.2 ya udah jelas pasti seperti itu juga. Oke, kita lanjut lagi. Untuk sistem pendingin dia pakai VC cooling system lalu baterainya 6.500 mAh blue fold batery. Ini naik 500 mAh dibandingkan pendahulunya yang udah gede sebetulnya di 6000 mAh. Menariknya untuk pertama kali fitur bypass charging hadir di Vivo V series. Jadi, kita bisa gunakan fitur ini ketika lagi gaming sambil nge-charge. Fitur ini membuat charger langsung melalikkan daya ke board-nya dan enggak nge-charge ke baterainya. Mirip-mirip kayak di laptop lah. Kemudian untuk chargernya ini adalah 90 watt flash charge ya. Untuk sensor ada banyak dibaca aja di dalam tabel yang satu ini. Yang jelas gyonnya udah hardware dong di sini. Untuk konektivitas ya tentunya 2G, 3G, 4G, 5G bisa semuanya enggak ada masalah. Tapi di sini belum ada dukungan untuk eIM ya. Untuk Wii-nya ada Wii 6 dan Wii SH-nya juga tersedia. Bluetooth 5 ada di sini. Bluetooth Codex. Nah, nih dibaca dalam daftar ini. Wah, banyak juga nih supportnya ya. Lengkap lah yang satu nih. Lalu NFC-nya NFC multifunction khas keluarganya Vivo nih. Bisa digunakan juga untuk emulasi akses card. USB-nya bisa OTG tentunya dan output display via USBC itu memang sayangnya belum bisa. Untuk keamanan dia pakai fingerprint atau screen touch ID dan ada face unlock juga. Untuk OS dia pakai Fun Touch OS 15 dengan basis Android 15. Untuk update OS-nya, Vivo menjanjikan update Android 4 kali dan security update-nya terjamin sampai 6 tahun. Nah, saat pertama nyalakan ada beberapa aplikasi tambahan yang memang langsung terinstal. Tapi untungnya bukan aplikasi yang aneh-aneh ya, bukan. Dan ini semua bisa di-uninstal kalau tidak dibutuhkan. Untuk fitur, OS FIFA juga sudah menyedikan fitur AI. Di sini ada CC to search, AI live text, AI transcript assist, AI Live call translation, AI caption, dan ada juga AI Era 3.0. Nah, AI ini ada tambahan fitur ya, di mana sekarang kita bisa menghapus reflection atau pantulan-pantulan cahaya. Misalnya nih, foto lagi di samping kaca, terus kameraman foto dari luar ruangan. Biasanya ini skenario mungkin di cafe gitu ya. Nah, hasil fotonya dari yang banyak pantulan itu bisa jadi lebih bersih. Lumayan kan? Nah, mantap nih. Oke, sekarang kita lanjut ke hasil pengujiannya. Kali ini bareng sama Kris ya. Oke, berhubung saya yang ngetes HP-nya, kali ini untuk pembahasan hasil pengujian bareng sama saya ya. Kita mulai dari benchmarknya dulu. Untuk Antutu 10 kita dapat skor di jutaan. Wah, udah kencang nih hitungannya. Untuk Geig 6, single core di 1240 dengan multiore di 3.573. GFX bed 1080p card offsreen di 56 fps. 3D Mark sling shot unlimited graphic score-nya di 11.335. 3D Mark White Life Stress Test base scor-nya di 6.365, low score-nya di 6.342. Stability-nya di 99,6%. Beh, tanpa kipas pun kestabilannya sudah sangat baik. Skor benchmark tadi mengindikasikan kalau level performanya memang ada di kelas menengah atas. Kami tahu ini bukan yang paling kencang, tapi masih terhitung layak untuk kelas harganya. Untuk pengujian gaming, kita coba aktifkan boost mode yang ada di overlay berikut ini. Ini supaya performa game-nya bisa maksimal. Untuk game kita coba mulai dari Subway server dulu. Game ini bisa berjalan di 120 FPS, mulus dan lancar. Tapi catatannya kita harus setting refresh rate ke highke dulu. Kalau di mode smart switch layarnya jadi turun ke 60 Hz yang otomatis frame rate-nya juga jadi terbatas di 60 fps. Jadi jangan lupa diatur dulu refresh rate-nya ke high. Untuk game berikutnya Mobile Legends. Setting tertinggi yang terbuka adalah grafis ultra dengan frame rate di super artinya mentok di 90 fps. Seharusnya performa SOC ini udah sanggup sih untuk 120 fps. Cuman memang dari developernya aja yang belum buka. Kalau cuma di setting super seperti ini mah game bisa dimainkan dengan sangat lancar tanpa frame drop di 90 fps terus-menerus. Lanjut untuk PUBG Mobile. Setting tertinggi yang terbuka masih terbatas di frame rate ekstrem aja yang artinya mentok di 60 fps belum bisa lebih. Tapi menariknya setting grafis bisa kita setel HDR. Jadi paling tidak walaupun frame rate-nya 60 fps grafiknya masih bagus. Nah, di mode HDR Extreme game berjalan lancar di 60 fps. Untuk Giro Ming enggak ada masalah terbilang mulus dengan akurasi yang cukup baik juga. Lanjut ke Genin Impact. Kita coba di setting highest 60 fps. Dan di sini setting preset highest-nya membuat visual effect-nya jadi low. Kita coba tes dengan seperti ini tanpa terlalu banyak ngutak-artik settingannya. Untuk average frame rate-nya ada di 40 fps dengan fluktuasi di kisaran 35 sampai 45 fps. Sampai akhir pengujian juga segitu-segitu aja. Performanya tergolong stabil untuk dimainkan berlama-lama. Suhu juga aman banget di sini. Sisi layar terpanas cuma di 40 derajat celcius dan sisi belakang juga terpanas cuma di 42 derajat celcius. Segini mah anget-anget doang. Saat kami uji dengan kipas, frame rate-nya bisa naik sedikit. Rata-ratanya dari 40 jadi 42 fps. Di awal memang kita bisa dapat di kisaran 50 fps sih, tapi searing berjalannya game, fluktuasinya jadi kisaran 40 fps juga. Nah, fluktuasi frame rate seperti ini memberikan pengalaman yang mirip-mirip aja sebetulnya, terutama kalau kita enggak terlalu memperhatikan angka FPS-nya. Tapi kami akan selalu menyarankan pakai kipas atau pendingin ekstra lainnya kalau mau dimainkan berjam-jam. Itu lebih sehat untuk smartphone-nya. Kalau untuk ranking performa seperti ini layak dapat ranking A baik pakai kipas maupun tanpa kipas. Nah, lanjut ke game berikutnya. Woodring wave. Kita coba dengan setting preset balance dengan frame rate di 60. Game bisa berjalan di kisaran 35 sampai 45 fps. Ini sudah tergolong nyaman dimainkan untuk game seberat ini. Nah, tadi itu pengujian game-nya. Sekarang kita lanjut ke pengujian kameranya. Di tangan saya kali ini sudah ada Vivo V60. Jadi, langsung aja kita mulai pengujian kameranya. Yang pertama saya mau cari tahu adalah kemampuan mikrofonnya. Suara yang kalian dengar sekarang ini adalah suara langsung dari mikrofon smartphone-nya. Saya enggak pakai mikrofon exal untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging hasilnya kurang lebih seperti ini. Kalau dari segi mikrofon, menurut saya ini udah oke. Suara vokal juga udah jernih. Inpel-nya juga udah pas menurut saya. Di sini juga tersedia indikator mikrofon. Jadi saat kita lagi menggunakan mikrofon exal tandanya di menu yang ini. Ini fitur sederhana yang belum semua smartphone punya loh. Dengan ini kita akan lebih yakin sumber audio video kita akan diambil dari mana. Lanjut ke kamera selfie atau kamera depannya. Dari segi kualitas gambarnya sendiri sudah mantap. Detailnya tinggi, ketajamannya juga pas. Dynamic rangech masih tergolong standar aja. Wajah cukup jelas dengan area background yang masih terlihat over expos. Dari segi stabilizer, videonya juga sudah cukup bagus. Di bawah jalan seperti ini, videonya tergolong stabil. Tapi seperti biasa, Vivo masih tidak mau memberikan stabilizer untuk 1080p 60 fps dan 4K 30 fps. Ini seperti sengaja enggak dikasih oleh tim software Vivo. Karena ini harusnya bukan keterbatasan dari SOC-nya dan bahkan ini sudah jadi hal yang saya protes sejak V30 yang lalu. Jadi untuk kamera depan ini hati-hati aja kalau mau dibawa merekam sambil jalan. Stabilizernya efektif baru di 1080p 30 FPS saja. Lalu kamera depannya ini juga masih khas Vivo V series ya, ada autofokusnya. Jadi smartphone ini akan cocok sekali untuk kebutuhan presentasi atau talking head seperti review produk ataupun live streaming. Masih jarang nih ada kemampuan seperti ini di smartphone midrange. Bahkan yang aneh di flagship Vivo sekalipun malah enggak dikasih selfie autofokus. Kita lanjut ke kamera utamanya. Nah, kalau kamera utamanya nih juga sudah oke. Enggak ada protes soal detail warna dan ketajaman udah oke banget lah. Dari micrange lumayan oke. Area terang bisa terekspos dengan cukup baik. Tapi menurut saya area gelapnya kurang terangkat sedikit. Tentunya kita tetap bisa atur manual pakai slider exposure seperti ini. Tapi pengujian kami menggunakan standar point and shoot aja ya. Kalau soal stabilizer di kamera utamanya ini aman. Seperti yang saya bilang tadi, di resolusi 1080 p 60 fps videonya bisa stabil. di resolusi 4K 30 FPS, videonya bisa stabil juga. Jadi jelas ya, ini bukan keterbatasan ESOC-nya. Kamera utamanya bisa kok stabil di semua resolusi. Udah gitu yang saya suka stabilizernya ini tergolong rapi, enggak berasa kedut-kedut gitu. Dibah lari pun masih aman. Nah, kita lanjut ke kamera ultrawide-nya dulu. Sayangnya kamera yang ini downgrade nih dibandingkan V50 yang kemarin. Di sini cuma 8 megap dengan perekaman video mentok di 1080p 30 fps aja. Enggak bisa lebih dari ini. Dari segi dari micrange sudah lumayan oke. Area terang bisa txpos dengan baik, tapi sisi gelap agak underpose. Stabilizer aman. Video ultrawide-nya bisa stabil dan sudah tergolong rapi juga stabilizernya. Terlepas ultrawide-nya downgrade, Vivo memberikan upgrade yang luar biasa di kamera telefotonya. Ini sensor kamera tele yang sama seperti di Vivo X200 yang kemarin yang flagship-nya itu. Ini adalah kamera tele dengan sensor Sony IMX 882. Tapi tentunya ekspektasi kalian juga jangan berlebihan ya. Sensor boleh sama, tapi SOC-nya kan beda. Jadi, kemampuannya pun bisa beda. Setidaknya ada dua poin yang menurut saya terlihat jelas bedanya. Yang pertama itu videonya mentok di 4K 30 fps. Kalau di X2 kemarin kan bisa sampai 4K60 ya. Lalu di V60 ini telenya tuh bukan tele makro. Jadi jarak fokusnya itu belum bisa terlalu dekat. Dari segi detail kamera telennya ini udah mantap banget. Tapi memang dynamic range belum yang luar biasa ya. Area wajah bisa diekspos dengan baik dengan area terang yang over expose. Dari segi stabilizer sudah cukup baik. Meski memang kita belum bisa berharap kamera tele itu bisa sesabil kamera utama atau kamera ultrawide-nya. Ini masih wajar untuk kelasnya. Dengan kualitas kamera tele seperti ini sudah cukup untuk nonton festival atau konser. Sedikit catatan aja kalau untuk videografi fleksibilitas terbaik itu ada di 1080p 30 fps. Kita bisa pindah langsung antara kamera ultrawide sampai telefotonya. Kalau kita merekam di 1080p 60 fps atau 4K 30 fps, kita belum bisa pindah langsung ke kamera yang lainnya. Tapi di sisi menariknya, saat kita merekam video seperti ini, kita juga bisa pindah langsung ke kamera selfie-nya. Nah, sekarang kita tes kameranya untuk low light. Kita mulai dari kamera depannya dulu. Gambarnya sendiri masih cukup terang dengan detail yang masih terjaga di sini. Gitter stabilizer masih cukup terlihat, tapi masih di level yang wajar. Dari segi frame rate, masih aman. Saya enggak mengalami frame drop di sini, jadi videonya tetap mulus. Dan yang hebatnya saat kita setel di 60 fps ternyata videonya masih bisa cukup terang loh. Cuman ya catatannya stabilizernya belum bisa aktif ya. Di satu sisi saya menemukan satu masalah sih di mana saat kita panning atau geser kiri kanan seperti ini ternyata videonya jadi patah-patah. Ya, pas siang saya enggak ngalamin sih. Ini baru terjadi saat low light aja dan spesifik di 1080p 30 fps. Semoga bisa segera di-fix ya. Kita beralih ke kamera utamanya. Videonya tergolong sangat bersih dari noise. Detail juga masih bisa dipertahankan dengan sangat baik. Hebatnya, meski kita setel di 1080p 60 fps, videonya masih terang dengan detail yang terjaga juga. Biasanya kan 60 fps, saya selalu bilang wajar kalau gambarnya lebih gelap. Tapi di sini kemampuan sensornya itu luar biasa ya. 60 fps itu bukan masalah. Dari segi stabilizer videonya juga terlihat rapi. Giternya nyaris tidak terasa. Sekarang kita lanjut ke kamera ultrawide-nya. terlihat jomplang ya setelah melihat kamera utamanya yang luar biasa tadi. Gambarnya memang lebih gelap di ultrawide, tapi kalau saya perhatikan ternyata detailnya tuh masih bisa dapat lah. Enggak sampai level yang burik parah. Saya pernah kok ketemu kamera ultra wide 8 megapel yang lebih buruk dari ini. Kalau kita lihat dari segi noise juga minim. Jadi ya masih cukup bisa digunakan lah. Stabilizernya pun bekerja dengan baik. Gaternya juga minim. Nah, sekarang kita ke kamera telefoto tiga kalinya. Untuk video kamera telen-nya masih oke. Untuk low light sangat bisa diandalkan bahkan di 60 fps sekalipun. Keren. Catatannya adalah di beberapa situasi kamera telen-nya ini bisa jadi tidak terpakai. Sistem bisa secara otomatis mengganti tiga kali optical zoom-nya menjadi digital zoom pakai kamera utamanya. Kalau kita mau memastikan kamera telenya yang dipakai itu harus ditrigger dengan cara tertentu baru dia mau pakai dedicated telefotonya. Di kondisi seperti ini saya mendapati telenya itu baru terpakai di zoom 10 kali. Padahal kan harusnya tiga kali ya. Vivo sudah kasih opsi mematikan auto switch lens-nya ini. Tapi entah kenapa dikasihnya cuma untuk foto aja. Untuk video belum bisa. Padahal ketika telefotonya beneran terpakai hasilnya juga masih bagus banget kok. Ngapain dipaksa digital zoom dah. Semoga ada update dari tim software Vivo soal ini. Nah, kita lanjut bahas autofokusnya. Hasilnya sendiri aman ya. Kamera utama lancar autofokusnya. Kamera depan atau selfie-nya juga lancar. Kamera telenya juga aman, enggak ada masalah. Nah, sekarang kita lanjut bahas fotografinya di mode auto siang hari. Ya udah gak ada komplain lah. Hasilnya luar biasa, tinggal jepret aja beres. Pokoknya yang baru di sini sekarang ada Zeiz multiocal portrait, terutama untuk vocal leng. Ini tentunya bisa dicapai berkat kamera telenya ya. Asli saya pribadi suka banget foto portrait pakai telenya. di comombo dengan model boke Kazis bikin fotonya makin keren lagi. Personal favorit saya, saya suka yang Biotar sih. Meskipun kamera ultra white-nya downgrade, tapi untuk fotografi masih terbilang mencukupi ya. Karena ini statusnya masih kelas menengah, kita masih belum bisa berharap semua kameranya itu luar biasa. Masih ada yang harus dikorbankan atas nama segmentasi pasar. Ya, kalau mau kameranya bagus semua ya ambilnya Xeries dong yang flagship. Tapi meskipun begitu kemampuan foto V60 ini tetap jadi salah satu yang impresif di kelasnya. Nah, sekarang kita coba fitur ekstranya. Ada banyak. Saya coba yang menurut saya menarik aja. Yang pertama itu slow motion. Di sini bisa up to 1080p 120 fps seperti yang kalian lihat sekarang ini. Gambar yang dihasilkan sudah cukup bagus. Kalau mau lebih lambat bisa setel ke 720p 240 fps. Berikutnya ada fitur Pro di sini untuk kebutuhan fotografi yang manual. ISO bisa kita atur dari 50 sampai 3.200 dan shutter speed bisa kita atur dari 1/12.000 detik sampai 32 detik. Sayangnya fitur pro untuk video belum tersedia ya, baru untuk fotografi aja. Lalu ada fitur dual view di mana kita bisa merekam video dari dua kamera sekaligus kamera utama dan kamera depannya. Keduanya bisa langsung merekam dengan resolusi up to 1080p 27 fps. Kita bisa pakai layout kiri kanan seperti ini atau salah satu kameranya jadi floating window seperti ini. Opsi layout dan posisi kameranya ini hanya bisa diatur sebelum merekam ya. Kalau setelah merekam tidak bisa diatur lagi. Lalu fitur berikutnya ada AI for seasons. Ini fitur yang seru banget sih menurut saya. Untuk menggunakan fitur ini, kita perlu masuk ke mode portrait, lalu pilih ikon yang bertuliskan AI. Nanti kita bisa pilih mau foto kita jadi musim apa. Setelah dijepret, foto kita akan diproses secara online. Jadi kalau mau pakai fitur ini, pastikan sudah terhubung ke internet. Nah, foto yangin dari normalnya begini kita bisa buat jadi kayak begini. Ini saya sering banget pakai pas lagi jalan-jalan sih. Oke, jadi itu dia kameranya Vivo V60. Kalau ditanya apa yang masih kurang atau hal yang masih perlu ditingkatkan sama Vivo tentunya ada ya. Pertama, stabilizer videonya. Tolong dong, Vivo, kamera depan 60 fps dan 4K 30 fps-nya dibuat stabil juga. Kemudian dynamic range pada video harusnya masih bisa ditingkatkan lagi, terutama kamera selfie-nya. Lalu, fitur pro terbatas untuk fotografi aja. Kemudian ultrawide-nya downgrade ketimbang V50. Terakhir, semoga video selfie-nya yang patah-patah tadi bisa segera di-fix. Untuk saat ini baru itu aja sih yang bisa saya protes. Overall kameranya termasuk yang luar biasa di kelasnya. Kamera telefoto tiga kali zoom-nya yang 50 megapel di combo dengan optical image stabilizer. Ini masih langka ada di kelasnya. Ada yang punya tele tapi enggak ada O-nya. Ada yang bisa kasih tele tiga kali periscope, ada OIS juga tapi enggak dilanjutin. Ada yang punya tele tiga kali optical tapi sensornya enggak sebagus di sini. Jadi bisa dibilang kamera telenya ini belum banyaklah yang bisa ngelawan. Kemudian kelebihan berikutnya adalah kamera depannya salah satu yang terbaik. 50 megapel autofokus masih jarang ada yang punya. Lalu fitur boke halaiz-nya juga jadi keunikan tersendiri dan stabilizer videonya terbilang sangat rapi. Hampir gak berasa efek kedut-kedutnya. Jadi overall untuk kelas harganya masih mudah untuk saya merekomendasikan Vivo V60 ini. Terutama untuk kalian yang kebutuhan utamanya adalah kamera yang bagus. Vivo tinggal bebenah dari sisi software-nya sedikit lagi aja. Soalnya kan ini saya nguji kameranya sebelum tanggal launching ya. Jadi bisa aja enggak lama setelah launching akan ada perbaikan-perbaikan lagi. Kalau sudah lebih matang bakal lebih mantap lagi ini kameranya. Sekian pengujian kamera Vivo V60. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Untuk YouTube offline video playback 1080p itu kita dapat di kisaran 25 jam. Ini hasil yang udah oke, tapi sedikit turun dibandingkan dengan V50 yang kemarin. Karena yang itu tuh bisa 28 jam. Sepertinya karena SOC baru Vivo masih perlu waktu untuk tuning baterainya lagi. Lalu streaming YouTube sebuah pampul p 30 fps non HDR selama setengah jam baterai berkurang 2%. Untuk TikTok setengah jam baterai berkurang 2%. Gensin Impact High 60 selama setengah jam baterai berkurang cuman 10%. Overall kalau kita enggak pedulikan angka mAh-nya berapa, ini baterainya sudah terbilang sangat awet. Tapi untuk 6500 mAh, kami rasa Vivo harusnya bisa mencapai lebih baik dari ini ya. Soalnya kan secara kapasitas naik 500 mAh dibanding pendahulunya. Tapi hasil tesnya masih mirip-mirip aja. Lanjut ke charging. Mengisi dari 1 sampai 50% butuh waktu 29 menit. Dari 1 sampai 100% kita butuh 57 menit. Mengingat kapasitasnya 6500 mAh ini tergolong charging yang kencang. Mantap nih. Bisa di bawah 1 jam. Untuk penghujian lainnya Netflix sudah bisa WiFine L1 mendukung streaming sampai full HD. HDR10 juga sudah tersedia di sini. Dan untuk streaming YouTube kita bisa streaming sampai 4K 60 fps dan sudah mendukung HDR juga. Lalu untuk happy feedback, nah ini nih. Ini masih jadi PR untuk Vivo V series sampai sekarang. Getarannya itu lemah, panjang, dan kurang presisi. Mengganti keyboard dan mengatur settingan getarannya itu bisa membuat pengalaman sedikit lebih baik sih. Tapi untuk kelas harganya kami berharap bisa lebih baik dari ini. Oke, itu dia pengujian labget review untuk Vivo V60. Kita lanjut lagi ke Mas Didi. Oke, untuk harganya saat video ini dibuat sayangnya kita belum tahu dengan pasti harganya berapa. Tapi mengingat kamera tele atau tepatnya penambahan kamera tele itu biasanya lumayan hahal ya. Rasanya wajar kalau ada kenaikan harga sedikit dibandingkan Vivo V50 yang kemarin ya kan. Sekarang jadinya lengkap ya ada ultra white, white dan tele juga meskipun harusnya masih masuk dalam rentang 6 sampai 8 juta di awal diperkenalkannya. Tapi untuk lebih detailnya kalian cek aja langsung di deskripsi. Oke, kita langsung masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. pertama performa SOC-nya bukan yang paling kencang meskipun ini sudah peningkatan lah dibandingkan pendahulunya tapi ini masudang performa yang layak sebetulnya untuk kelas harganya sih perlu diingat kita harus mulai secara keseluruhan ya all round ya yang dipikirin ya jangan cuma SOC-nya doang ingat baterainya gimana gede loh nih baterainya nih ya kameranya bagaimana lengkap nih kameranya nih kemudian Haptic Feedback ini belum ada upgrade sayangnya dan belum bisa pakai ISIM juga di sini lalu always on display juga belum bisa selalu menyala terus-terusan. Ultra wide-nya di sini meskipun ada tapi dia downgrade jadi 8 megapel fixed focus. Kemudian ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan dari software kameranya seperti yang sudah dijelaskan dalam pengujian tadi ya yang bernama Kris. Nah, lalu untuk perkara UFS 2.2 Dua bagi kami ini bukan masalah dan sudah dijelaskan ya tadi panjang lebar disimak lagi kalau belum kesimak tadi mungkin kekip ya disimak dulu lanjut ke sisi apa yang kami suka di sini ya pertama kameranya khas Vivo V series fotografi cakep banget sekarang ditambah dengan tele membuat lebih asyik lagi untuk nonton festival selfie autofokus ini juga masih fitur yang lumayan langka di midrand saat ini ya kemudian ada professional portret di sini jadi mantap tuh hasilnya tuh ya fitur kamera juga berlimpah, performa stabil dan dia enggak mudah panas di sini ya. Ya, enggak usah ngomong UFSUFS mudah panas enggak? Kalau yang ini enggak mudah panas ya. Baterai juga tergolong awet. Desain keren, charging-nya juga kencang. Speakernya udah stereo, layar AMOLED 120 Hz. Ratingnya ada IP68 dan ada IP69. Konektivitas lengkap, ada NFC multifunction juga. Update OS-nya 4 kali dan security update-nya panjang juga di sini. Pada akhirnya smartphone ini cocoknya buat siapa sih sebetulnya? Nah, ini jelas ya untuk content creator yang ngandalin HP untuk bikin konten terutama yang model persentasi yang kayak talking head gitu yang ya kayak begini kurang lebih gitu yang talking head seperti gini ya. Ya kamera depan otomokus ini akan jadi sangat-sangat bermanfaat tentunya. Nah, kemudian untuk yang mencari smartphone dengan prioritas fotografi ini akan cocok banget. Lalu hadirnya kamera telefoto berkualitas tinggi ini juga membuatnya cocok untuk yang suka nonton festival di situ ya atau dalam kehidupan seharian juga bisa dipakai untuk berbagai macam penggunaan lah. Enggak cuma konser doang. Mungkin untuk foto produk bisa juga ya. Intinya detail informasi dari jarak jauh bisa jadi makin jelas sekarang. Nah, kemudian berkat kemampuan serta kelengkapannya yang allrounder, sebenarnya ini cocok untuk siapapun yang mencari smartphone dengan budget kisaran 6 sampai R juta. Baterai oke, layar oke, kamera oke, performa enggak malu-maluin, game berat pun juga masih bisa lancar di sini. Lalu pertanyaan sekarang, apakah pengguna Vivo V50 cocok buat upgrade ke sini? Kalau kalian merasa kemampuan zoom di V50 tadi kurang ya, ya, telennya kurang nih, upgrade ke sini akan cocok ya. Tapi kalau udah cukup rasanya enggak perlu maksa upgrade juga sih. Ini eh kurang lebih sama juga berlaku untuk pengguna V40. Nah, kalau kalian pengguna V30 atau yang ke bawahnya kami bilang, "Ya udahlah itu upgrade aja lah." Ini bedanya lumayan signifikan. Dan kalau memang kalian punya budget ya dan memang mau selalu beli apa yang paling baru ya terserah kalian sih kalau itu sih bebas-bebas aja sebetulnya kita enggak maksa. Jadi bagaimana kalau menurut kalian menarik enggak si Vivo V60 kali ini? Bagian mana yang kalian suka? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya. Saya Did Irfan Jaka TV.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Vivo

Vivo menghadirkan smartphone dan perangkat pintar dengan kamera canggih serta desain stylish. Vivo dikenal dengan teknologi fotografi inovatif, performa andal, dan fitur modern untuk kebutuhan komunikasi, hiburan, dan produktivitas.

Vivo V Series

Vivo V Series adalah smartphone keren dengan kamera jernih untuk foto dan video berkualitas tinggi. Vivo V menghadirkan desain mewah, performa andal, dan fitur modern untuk kebutuhan konten, hiburan, dan aktivitas harian.

Vivo V60

Vivo V60 hadir di Indonesia sebagai smartphone kelas menengah yang membawa desain modern, kamera berkualitas, serta performa yang stabil untuk berbagai aktivitas digital. Perangkat ini dirancang untuk pengguna yang membutuhkan smartphone seimbang untuk komunikasi, hiburan, fotografi, dan produktivitas ringan. Vivo menempatkan perangkat ini sebagai pilihan yang menggabungkan teknologi kamera ZEISS...